Anger

Hari ini cukup melelahkan baginya. Anak muda berumur 10 tahun, yang sudah menyandang gelar pahlawan. Boboiboy. Yang sejak beberapa menit tadi, menatap pantulan dirinya di cermin.

"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya. Ada sirat kekhawatiran dari nada lelaki itu.

Boboiboy tidak berbicara sendiri. Kini di depannya ada Halilintar. Walau hanya sekedar bayangan, namun Boboiboy tahu. Bahwa ia juga hidup dalam tubuhnya.

"Maaf. Karena aku berpecah, semuanya jadi kacau."

Bibir Boboiboy bergetar. Alih-alih menahannya, ia menundukkan kepala.

"Maaf karena takut balon, kau jadi begitu marah."

Ia terisak, bahunya bergetar.

Akibat Petir yang diculik dan disiksa Adudu, kuasa tingkat dua muncul. Dengan sosok bermata merah dan topi hitam beraksen senada. Yaitu Halilintar.

Ada keheningan yang cukup lama sebelum akhirnya pecah, oleh suara. "Tidak"

Boboiboy mendongak. Terkejut mendengar seseorang berbicara secara tiba-tiba.

"Semua gara-gara Adudu."

Boboiboy melongo. Walau ia memiliki sisi yang garang ini, tapi nyatanya Halilintar juga bisa bersikap lembut.

"Jangan salahkan dirimu, Boboiboy."

Kemudian ia pergi. Dengan meninggalkan sebuah senyuman.

...

Blacklist Name Present :

Fine

Boboiboy c to Monsta

For #BBBMonthlyChallenge , #CanonJuly

Prompt : Lost Control

...

Happy

"Tak kusangka, biskuit Yaya dan cairan emosi X yang membuatku seperti ini! Hahaha!"

Masih diumur yang sama. Disebabkan karena berpecah tiga dan emosi tak terkendali, maka kuasa elemental tingkat dua yang selanjutnya muncul, adalah Taufan. Evolusi dari Angin.

Perangainya sangat ceria. Ia tidak bisa berhenti tertawa di dalam cermin, nampak sekali Taufan begitu gembira. Wajahnya berseri ketika menceritakan betapa lucunya, hal-hal yang telah ia lewati.

"Berarti, makanan tadi benar-benar buruk ya. Eeeek," lidahnya setengah keluar. Membayangkan biskuit yang sempat ia makan membuat bulu kuduk merinding. Apalagi, bila ia harus memakannya dua kali. Taufan penasaran, apa ia jadi bisa melayang? Karena baginya, rasa khas dari makanan itu sendiri begitu ajaib.

"Hey! Kenapa kau mondar-mandir terus, sih?"

Menghiraukan perkataan sosok yang memakai pakaian serba biru, Boboiboy mondar-mandir di dalam kamarnya.

Ia pun tak pasti. Panik, khawatir, takut(?). Atau bahkan perasaannya saja yang sedang tak menentu saat ini. Tidak hanya kuasa, tapi batinnya juga sulit ia terka.

Boboiboy punya satu pertanyaan yang mengganggunya sekarang. Bagaimana, bila selanjutnya akan lebih banyak kuasa yang tiba-tiba muncul diluar kendali?

Sebab, diagnosis Taufan saja sama seperti Halilintar. Mereka muncul gara-gara pengaruh jahat Adudu. Walau dengan cara yang berbeda, namun yang Boboiboy tahu, ia tlah menciptakan kekacauan.

Memunggungi cermin, Boboiboy bergumam. "Tidak mungkin bila nanti aku memperburuk keadaan lagi," ucapnya resah.

Boboiboy mendengus pasrah, kedua bahunya turun.

Ditemani oleh dentingan jam, membuat perasaannya semakin kalut.

Sore ini rumah sepi. Karena ia pulang lebih dulu, sesuai dengan titah sang Atok untuk segera beristirahat. Dan meninggalkan kakek tua itu, dengan Ochobot untuk membereskan kedai.

Hatinya tak karuan.

Aku harus apa?

"Alah, tak payah bersedih," suara dari belakang terdengar.

"Kau bisa atasi semua itu. Kau kan hebat!"

Karena senyum merekah dari Taufan buktinya. Bagian dari Boboiboy yang paling bahagia, dan selalu menunjukkan bahwa; aku baik-baik saja.

Boboiboy berbalik, bibirnya mengulas lengkungan tipis. "Terima kasih."

Dan bayangan Taufan pun menghilang.

...

Responsible

Boboiboy selalu siap membantu orang disekitarnya. Melindungi keluarga sekaligus teman, ia juga tak keberatan untuk menyelamatkan mereka semua bila dalam kesulitan.

Sebelum libur sekolah berakhir dan kembali pulang meninggalkan Pulau Rintis. Kuasa elemental tingkat dua kembali muncul, yaitu Gempa. Dari rupa yang awalnya Tanah ini, merupakan sisi Boboiboy yang dikenal sangat bertanggung jawab. Ia dapat mengontrol diri, dan bijak dalam membuat keputusan. Gempa muncul sebab tak tahan melihat kawannya tersakiti. Ketika Robot Pemusnah Mukalakus menembakkan laser, Golem Tanah juga ikut membantu menghabisi.

Boboiboy anak yang baik. Patuh kepada orang tua, juga merupakan teman yang setia. Dan yang paling penting, ia tidak akan pernah menyerah kepada siapapun, untuk siapapun.

Di pertarungan kali ini ia menang. Setidaknya itu yang Boboiboy tahu sebelum kedua matanya tertutup, serta badan yang jatuh di atas rumput.

Ia pingsan.

Tidurlah, tubuhmu sudah melakukan hal hebat.

"Hey."

Entah, apa namanya. Hanya sebuah ruangan serba putih yang menggantikan pemandangan, kosong tanpa ada benda satupun. Boboiboy ingat ia di depan kedai Tok Aba tadi. Sementara tempat aneh ini bukan rumahnya. Bukan juga ruangan medis di dalam Rumah Sakit. Sepertinya ia berhalusinasi. Atau mungkin, bermimpi.

"Aku disini."

Boboiboy mencari sumber suara. Berputar-putar sebentar, sampai akhirnya ia menemukan seseorang. Gempa dihadapannya.

"Kau."

"Iya, ini aku."

Melihat wajah itu sangat tenang. Matanya berwarna kuning cerah dan senyum yang hangat.

Boboiboy melangkah lebih dekat.

Tiada cermin yang menghalangi mereka. Sekarang Boboiboy dan Gempa satu dunia, walau tidak dalam waktu yang lama.

"Apa ini nyata?" ia bergumam.

Boboiboy meraih tangannya, ternyata bisa ia genggam. Namun tidak. Ini terlalu gila dibilang nyata.

Gempa diam. Seraya tangan satunya diambil alih Boboiboy, tangan yang lain melayang untuk mendarat di pundak lelaki itu.

"Bagaimana kabarmu?"

Boboiboy menatapnya. Kini kedua mata saling bertemu.

Melepaskan genggamannya, Boboiboy menjawab. "Baik. Kau?"

Gempa mengangguk. "Baik juga."

"Terima kasih. Kau berjaya tadi."

Boboiboy tidak bisa menyembunyikan kebanggaan serta haru yang bersamaan. Karena kali ini, ia tahu elementalnya tidak terluka atau harus melewati masa pahit terlebih dahulu sebelum muncul.

Gempa menggeleng. Boboiboy sempat bingung, namun akhirnya terjawab. "Kita berjaya," katanya. Yang kemudian berbalik, lalu berjalan menjauh.

Ciri-ciri seorang pemimpin, yang dimana akan selalu dibutuhkan untuk mengarahkan elemental lain.

"Gempa!"

Yang dipanggil berhenti.

"Tolong jaga Halilintar dan Taufan untukku!"

Berbalik, Gempa mengancungkan jempol.

Lalu Boboiboy bangun dari tidurnya.

"Boboiboy sudah sadar!" Itu suara Gopal.

...

to be continued

[Next : Api, Air, Daun, Cahaya]

...

Based On :

Boboiboy Season 1 : Ep.6, 11, and 13.