MARK X RENJUN
.
HUGGY
.
AUTHOR SIDE
.
.
Balet adalah salah satu teknik menari yang Renjun tekuni. Membuat beberapa penggemar bertanya-tanya apa yang Renjun siapkan dengan hal itu. Renjun tersenyum cerah saat membahas balet kepada penggemar. Dan kini Renjun berada di tengah ruang latihan temaram, memutar tubuh berkali-kali dengan tumupuan satu kaki.
Mata indah itu terpejam, ada earphone yang menyumbat telinganya. Raut wajah pemuda manis itu seakan tak terbaca. Benar adanya, terkadang Renjun lelah untuk berpura-pura di depan kamera. Terlihat seolah semuanya baik, tidak ada yang dipikirkan. Renjun si anak rantau yang memasukan semua hal ke dalam kepalanya.
Renjun berhenti berputar dengan lutut menyentuh lantai lebih dulu. Keringat sudah membuat wajahnya begitu berminyak dan rambutnya basah.
TAK
"Hei! Masih ada seseorang di ruangan ini!" Renjun berdiri dan membuka mata saat merasakan gelap ruangan.
Renjun memicingkan mata mencoba mencari seberkas cahaya untuk melihat sosok yang mendekatinya. Kakinya tanpa sadar melangkah mundur.
Seseorang itu memberikan cahaya yang membuat mata Renjun berkedip cepat. Mencoba mencari tau siapa seseorang yang semakin mendekatinya.
"Simba?" lirihnya saat menemukan penglihatan yang cukup jelas.
Ini semua ulah Mark. Mematikan lampu ruang latihan dan menyalakan senter dari ponselnya. Renjun melihat dengan samar wajah tak bersahabat kekasihnya.
Mark mematikan senter dari ponselnya, menyimpan benda itu di dalam saku. Sebelah tangannya terulur di sisi kepala Renjun, menarik tengkuk si manis untuk membuat kepala itu mendongak. Mata Renjun kembali terpejam saat merasakan napas Mark begitu dekat dengan wajahnya.
"Kau tau aku tak menyukai perasaan khwatir? Terlebih jika aku mengkhatirkanmu.."
Renjun mendorong tubuh Mark dan bergerak menjauh. Renjun merogoh saku celan olahraganya, mengambil ponsel dan berjalan mendekati saklar lampu ruangan.
Seketika ruangan latihan yang semula gelap kini menjadi terang benderang. Renjun menoleh kembali ke arah Mark dengan wajah tak bersalah. Menarik earphone di telinganya dan menggulung pada ponsel.
Tidak ada yang membuka suara di dalam ruangan itu. Renjun mendekati tas nya yang terletak di atas sofa.
"Kau akan diam seperti ini?" suara Mark terdengar lebih dalam dan berat sekarang.
Renjun meninggalkan tasnya. Berjalan mendekati Mark yang masih berada di tengah ruangan. "Apa yang harus kita bicarakan? Sekarang aku yang bertanya apa yang kau lakukan di sini? Besok pagi kau ada keberangkatan ke Tokyo.."
Mark ingin membuka suara tapi seolah tertahan. Pada dasarnya, tidak ada yang pernah melihat Mark marah. Jika marah yang dimaksud adalah mengamuk. Mark lebih memilih meradam segala letupan emosinya di dalam kepala.
"Kembalilah ke asrama. Aku juga akan kembali.."
"Apa aku melakukan kesalahan sampai kau seperti ini?"
Renjun lebih memilih memunggungi Mark dan kembali membereskan barang bawaannya.
"Renjun, kau tau hubungan ini tidak akan berjalan sesuai kemauan kita jika kau TAK MEMBERI TAU APA KESALAHAKU!" Mark lepas kendali saat ini.
Renjun manarik napas kesulitan saat ini. Tangannya terkepal di sisi tubuh. "Kau tak melakukan kesalahan apapun. Kau tau" Renjun berbalik dengan bibir terkulum. "Aku hanya memikirkan beberapa hal. Jangan khawatirkan apapun. Aku sudah lebih baik.."
Mark melihat tubuh kecil itu bergetar, kepalanya kini tertunduk seolah memperhatikan ujung kakinya. Mark mendekat, menarik kepala itu untuk bersanda pada pundaknya. Mengusap kepala belakang Renjun pelan. Tanpa perintah Renjun melingkarkan lengannya di pinggang Mark.
"Aku selalu menunggu kau datang kepadaku saat seperti ini. Tapi yang kau lakukan justu menjauh dariku.." Mark menjatuhkan satu kecupan di atas kepala Renjun.
Kalimat Mark membuat lengan Renjun semakin erat memeluk kekasihnya. "Itu bukan sesuatu yang penting. Aku hanya terlalu memikirkan semuanya.." Renjun menarik kepalanya dari dada Mark.
Mark memperhatikan mata indah itu kini berkaca-kaca. Tangan Mark terangkat dan mengusap pipi Renjun dengan ibu jarinya. "Hal tak penting apa yang kau pikirkan hingga membuatmu menjauh dariku?" Mark tidak tahan untuk tak mengecup kelopak mata Renjun.
Renjun mencoba menarik satu senyum dari bibirnya. "Aku baik-baik saja.."
"Aku yang tak baik melihatmu seperti ini sebelum bekerja ke belahan bumi lainnya.."
Renjun langsung menenggelamkan diri dalam pelukan Mark. Segaris senyum tergambar diwajah Mark. Kini dia tau apa yang membuat Renjun nya seperti ini.
"Jika bukan karena Winwin hyeong, aku tidak akan bisa kabur dari asrama. Dia akan melakukan segala cara jika itu menyangkut dirimu.."
Seolah semua kata yang Mark keluarkan, satu persatu mengikis pertahanan Renjun.
"Beruntung Doyoung hyeong juga menyayangimu. Jadi dia akan menyembunyikan keberadaanku dari pemeriksaan malam maneger.."
Menghadapi Renjun yang mengurung diri seperti ini bukan pertama kali bagi Mark. Mereka yang mengenal Renjun, hingga memberikan pemuda itu pure boy tau hal ini. Jangan memaksa Renjun untuk membuka diri, karena si manis akan hanya semakin bertahan dengan keras kepalanya.
"Bisa kita duduk? Kakiku sedikit lelah berdiri seperti ini.."
Renjun ingin melepas pelukannya, tapi Mark sudah menahan lebih dulu.
"Tetap seperti ini. Aku belum ingin melihat wajahmu.."
Renjun menarik kembali kepalanya "Aku tidak seburuk itu.." melihat mata Mark yang tertutup membuat Renjun melayangkan satu pukulan pada punggung Mark. "Buka matamu!"
"Tidak mau!" Mark mengayunkan tubuh ringan itu untuk melingkarkan kakinya di pinggang Mark. "Mooby kenapa kau semakin berat?"
"MARK JALAN YANG BENAR! BUKA MATAMU!" Renjun duah memeluk erat leher Mark karena jalan tak benar kekasihnya dengan mata tertutup. Mark membuka mata saat kepala si manis sudah bersembunyi di pundaknya.
Renjun seperti koala menggemaskan yang meringkuk di pohonya. Mark bukan pohon. Mark mendudukan diri di atas sofa dengan Renjun dipangkuan. Keduanya saling membenamkan kepala pada pundak pasangan masing-masing. Menghirup lama aroma tubuh itu.
"Aku bisa mendapatakan penjelasan sekarang? Kau sudah bisa meneriakiku tadi.."
Renjun memberi jarak dirinya dan Mark. Tangannya dengan jahil memainkan surai rambut Mark yang sudah berubah warna. "Kau menyebalkan.."
"Terima kasih kembali.."
Renjun terkekeh. "Baiklah. Terima kasih.."
"Bukan masalah.." Mark tersenyum lebar. "Indah. Senyummu indah.."
"Jika kau masih tetap menjadi keju, aku tak akan bercerita.."
Bahu Mark terkulai, kedua tanganya ditarik dari pingang Renjun. "Kapan kau akan membiarkan aku membangun suasana romantis? Kapan?!" Mark mengajukan protes.
Renjun membekap mulut Mark dan mencium punggung tangannya sendiri. "Kapan pun jika waktu yang kuinginan.." Renjun menarik tangannya.
"Cium aku dengan benar.." Mark mendorong tubuh Renjun dengan sebelah tangannya.
DUK
Bukan bibir yang bertemu, tapi dahi yang beradu. Mark mengusap dahinya, Renjun pun melakukan hal yang sama, mengusap dahi Mark sambil tertawa kecil. "Sakit?" tanyanya dan meniup dahi Mark.
"Haruskan aku melukai tubuhku dulu agar bisa membuatmu tertawa?"
Renjun menatap Mark dengan mata sengit. "Jangan membahas Dream Concert lagi.." Renjun mencubit gemas pipi Mark.
Mark membiarkan sesaat dan menarik tangan itu dalam genggamannya. "Sudah lebih baik?"
Renjun mengangguk, membawa tangan Mark mendekati bibir untuk dikecup. "Boleh aku mengatakannya?"
"Tentu saja. Aku disini agar kau mengatakannya.."
"Aku tidak ingin kau ke Jepang.."
"HAH?!"
"Jangan berteriak di depan wajahku!"
"Tidak bisakah kau memberikan perlakuan fisik seperti ciuman bukan memukulku?" Mark mengusap lengannya yang dipukul Renjun.
"Itu salahmu.." dia yang bertindak kasar dan dia juga kini yang mengboati. Renjun terbaik.
"Aku harus ke Jepang, Mooby.."
"Aku tau. Sudah ku katakan itu tidak penting.."
Mark kembali merapatkan tubuh keduanya sekarang. Lebih dekat dari sebelumnya. "Bukan itu yang ingin kau katakan.."
Renjun mengerucutkan bibirnya. Jarinya memainkan tali hoodie Mark. "Aku malu mengatakannya.."
"Lihat siapa yang seperti perempuan sekarang.."
CHOKE
"AKU BERCANDA! LEPAS! MOOBY INI SAKIT!"
Renjun melepas choke nya dari leher Mark. "Sekali lagi kau menyebutku seperti itu, kau yang kujadikan perempuan.."
Mark yang menahan gemas mencuri satu kecupan dibibir merah Renjun. "Lanjutkan. Kau tak perlu malu mengatakannya. Hanya padaku.."
Renjun turun dari pangkuan Mark, memeluk kekasihnya dari samping, memjamkan mata, dan merebahkan kepala di pundak Mark. Tangan Mark pun sudah merambat memainkan helaian rambut Renjun. "Aku merindukan rumah.."
Mark mengecup puncak kepala itu.
"Aku tau, baba dan mama baru saja kemari. Aku hanya merindukan mereka dan itu membuat semuanya kacau.."
Jari Mark menggapai pipi Ranjun, mengusap pelan di sana merasakan lembutnya kulit Renjun. "Sebentar lagi kau tidak akan merindukan rumahmu.."
Renjun mengangkat pandangan. Memandang Mark dari bagian rahangnya. Renjun mengecup di sana. "Aku akan kembali ke rumah baba dan mama. Tapi aku akan meninggalkan rumahku di sini.."
Mark menunduk. "Kau punya rumah di sini?"
Renjun mengangguk lucu. Jarinya menunjuk dada Mark. "Rumahku yang lain di sini.."
Mark tidak bisa menahan senyum lebarnya. Tangannya mencubit pelan pipi Renjun. "Sekarang siapa yang pecinta keju?" kembali satu kecupan jatuh di bibir Renjun.
"Aku serius.." lirih Renjun. "Itu yang kufikirkan. Mengapa aku tidak bisa membawa dua rumahku bersamaan?" bibir itu melengkung ke bawah.
"Sayang.." Mark merubah sedikit posisi duduknya. "Aku pernah berjanji akan selalu bersamamu, kan?"
Renjun mengangguk pasti. "Aku ingat. Hanya saja aku sedang merasa takut meninggalkanmu.."
Mark tersenyum "Tidak ada yang akan meninggalkan siapapun di antara kita.."
Renjun menatap mata bulat Mark dengan bibir bergetar. "Izinkan aku egois kali ini.."
"Aku mengizinkan.."
"Aku tidak suka kau dekat dengan pria manapun. Termasuk teman terdekatmu dan sayangnya juga temanku.."
Mark menarik Renjun kembali dalam pelukannya. "Aku senang mendengarnya…"
"Konyol, bukan? Aku cemburu tak beralasan.." Renjun menggeleng pelan.
"Itu hal wajar jika kau benar mencintaiku.."
"Aku selalu berpikir. Kalian sudah saling mengenal lebih lama. Kalian berlima. Aku hanya orang baru yang"
Mark membawa Renjun untuk menatapnya. "Kau sendiri yang mengatakan. Mereka bukan seperti kita, kau tak perlu khwatir. Lagi pula tidak ada hubungannya siapa yang lebih lama dan yang baru.."
"Aku mengatakan itu untuk tetap berpikir kalau tidak ada yang salah. Asal kau tau sebesar apa rasa tak sukaku saat mereka melakukan skinship di depan publik denganmu. Sedangkan aku, hanya diam di sudut.." Renjun menyerah dengan pertahannya. Satu air mata lolos.
Mark dengan cepat mengusapnya. "Maafkan aku tidak mengtahuinya. Karena aku percaya apa yang kau katakan selama ini.."
"Aku.." Renjun melapas satu isakannya. "Aku takut. Aku takut ditinggilkan. Karena pada awalnya aku hanya pendatang.."
Mark menangkup wajah itu. "Jangan mengatakan apapun lagi yang menekan dirimu. Jika aku adalah rumahmu, maka kau duniaku.."
Renjun terkekeh dan memanjat tubuh Mark, menenggelamkan wajahnya kembali di pundak Mark. Melepas semua emosinya di sana. Mark merasakan hoodie nya yang basah dan membiarkan sampai si mungilnya sedikit lebih baik.
Sebelum Renjun menarik diri, disempatknya untuk mencium pipi Mark. "Terima kasih.."
Mark menarik lengan hoodienya, lalu mengangkat tangannya ke hadapan Renjun. "Membutuhkannya?" jarinya yang tenggelam menunjuk hidung Renjun.
Renjun menggeleng. "Ambil kan tasku. Ada handuk di sana.."
Mark menoleh ke balik tubuhnya dan mengambil tas Renjun. Tas diberikan kepada pemiliknya, dan Renjun mulai membersihkan wajahnya.
Mark membantu merapikan rambut gelap Renjun. "Lebih tenang?"
Renjun mengangguk "Terima kasih. Konyol bukan?"
Mark mencubit ujung hidung mancung Renjun. "Sangat. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan meninggalkamu.."
Renjun mengangkat bahunyan "Hanya takut. Kepalaku sedang berantakan.."
Mark berdiri dan Renjun menatapnya bertanya. "Ini sudah lewat tengah malam. Kau harus tidur dan aku harus kembali ke asrama…" Mark menarik tangan itu untuk berdiri.
Renjun menepuk dahinya. "Aku lupa. Ah.." Renjun panik. "Aku mengacaukan semuanya.."
Mark menahan kepala itu untuk tak bergerak banyak. Bibirnya menekan bibir Renjun beberapa saat dalam beberapa lumatan. "Kita pulang.."
"Kita pulang sendiri-sendiri.."
"Aku tidak akan menurutimu kali ini. Aku mengantarmu ke asrama, setelah itu pulang.." tegas Mark sudah menautkan jemari keduanya. Mark membawa tangan itu masuk ke dalam saku hoodie nya.
"Simba.." Renjun ingin menarik diri.
"Kantor sudah sepi, Mooby.." Mark menahan di dalam saku hoodie.
Keduanya jalan beriringan seperti pencuri kecil keluar dari perusahaan. Melakukan penyamaran sebelum memanggil taxi. Tidak ada yang berbicara di dalam taxi menuju asrama Dream. Keduanya sampai di gedung asrama Dream, tertawa tanpa sebab. Entahlah, seperti isi kepala mereka terkoneksi dengan baik. Menunggu pintu elevator terbuka, Mark mengayunkan tangan mereka yang saling terkait.
Pintu terbuka.
Keduanya masuk.
"Mooby, kau ingin tau satu fakta?"
Renjun menatap Mark. "Satu fakta?"
"Jika tebakanku benar, maka orang yang kau maksud itu" Mark membisikan sesuatu pada Renjun. "Benar? Dia yang membuat kesayangan Minyung cemburu, kan?"
"Jangan katakan seperti itu padanya. Ku mohon.." Renjun memohon dengan mata indahnya menatap Mark.
"Sebenarnya.."
"Ya.."
"Ada satu orang lagi.."
"Ya.. Simba katakan yang jelas!"
"Dia seperti kita.."
"Kita seperti apa?"
"Gay.."
"Sungguh?!"
TING
Pintu elevator terbuka. Renjun seperti anak kecil yang memainkan tangan Mark karena terlalu penasaran. "Siapa? Katakan padaku?"
"Anggota luar juga.."
Renjun berhenti. Bukan karena berpikir, mereka sudah tiba di depan pintu asrama Dream. "Siapa?"
Mark menarik pinggang Renjun. Menunduk dan menyeringai menatap bibir Renjun. "Aku boleh ke Jepang?"
"Mark, jangan mengalihkan pembicaraan.."
"Boleh atau tidak?" kedua permukaan bibir itu sudah bersentuhan.
"Tentu saja boleh. Kau memang harus bekerja.."
"Katakan jika kau cemburu lagi.."
"Kau berencana ingin membuatku cemburu lagi?"
"Sepertinya.."
"Aku akan membalasnya.."
Mark menyeringai dan memberikan bibir itu ciuman. Mark sudah menunggu waktu yang tepat untuk merasakan bibir itu sejak tadi. Akan berjauhan dengan kekasihnya, membuat ciuman itu sedikit lebih lama dan dalam. Sebisa mungkin mengimbangi lumatan dengan pasokan oksigen.
Renjun memutus lebih dulu. "Siapa manusia lain yang gay diantara kita?"
Mark tidak menjwab melainakan mengambil ciuman lainnya.
Renjun mendorong "Simba!"
"Aku tidak akan ke Jepang jika bibirmu menjadi candu sepperti ini.."
Renjun membekap mulut Mark. "Katakan siapa?"
Mark dengan jahil menjulurkan lidahnya.
"YA!"
Ciuman lain yang Mark dapatkan. Kali ini Renjun menyerah. Terserah apa yang akan Mark lakukan pada bibirnya. Beberapa saat, Renjun muai kewalahan.
"Sudah.." ujar Renjun setelah mendorong kembali Mark sedikit menjauh.
Mark mengecup bibir bengkak itu. "Lucas.."
"Xuxi-ge?"
"Dia seperti kita dan Johnten.."
.
.
180518 GIMPO AIRPORT
"Aku bahkan lupa mencukur!" – Mark –
"Kau berantakan.." – Doyoung –
.
.
.
THE END
.
.
.
Balas-balas Review :
Byeolie : kamu line 01? Ya ampun.. aku nemu kamu di watty..
Honeydew96 : hiya.. yang ngabuburit.. yah gitulah, johnny kan ajarannya berfaedah.. kamu juga ada di watty..
Choco : iya nak.. kamu 99 line.. ini di lanjut.. tapi mama pindah lapak ya.. kesian hp kamu..
Renjun23 : kelewatan emang.. makasih kamunya… aku terhura dipuji penulisannya.. ini banyak kan poppo nya.
.
.
a/n : HOLLA..
Pembaca yang terhormat dan budiman, ini FF pindah lapak yak ke wattpad. Sebenrnya lebih enak di sana nge publish.. hehehe.. (Watty : Meclaulinn)
Kalian baca ini sambil dengerin FAKE LOVE.. liriknya kaya hampir pas gitu sama Renjun di chapter ini. Pura-pura kalau dia baik-baik aja selama ini.
Mau bilang..
MULTIFANDOM ITU INDAH..!
Salam, Mama nya Huang Renjun.
