Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, saya hanya pinjam saja.

.

Yellow Rose

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Yellow Rose by authors03

Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata

Romance\Fantasy

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

Chapter 13

.

.

.

"Ngghh..." alis perempuan di atas kasur itu berkerut diikuti oleh matanya yang perlahan terbuka.

Ia menyentuh kepalanya yang terasa pusing setelah beberapa kali berkedip. Ia mendudukan dirinya untuk megamati sekitar.

"Rasanya de javu..." gumannya aneh. Rasanya seperti ia sudah pernah mengalami hal ini.

Klik

Pintu yang terbuka membuat mata bulannya menoleh. "Naruto?" panggilnya aneh. Mengapa Naruto bisa ada di sini atau mengapa dirinya bisa ada di sini? Ini bukan rumah Toneri.

"Kau sudah sadar, Hinata..." Naruto menghampiri, kelegaan terlihat jelas di wajahnya.

Deg!

Hinata membeku ketika Naruto mengambil duduk di pinggir ranjang dan langsung memeluknya erat.

Rasanya nyaman...

Hinata tersenyum tanpa sadar, ia membalas pelukan itu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Naruto setelah melepas pelukan dan menatap mata Hinata.

"Apa yang terjadi?" Hinata tak ingat apa yang telah terjadi. Mengapa ia pingsan?

"Kau diculik dan yaa.. Kau hampir dalam masalah. Kau pingsan pas kami sampai ke sana. Rasanya kami datang tepat waktu." Hinata mencoba mencari di kepala, cerita yang Naruto katakan.

"..."

"Oh iya!" Hinata tersentak. "Dia membekap mulutku pakai sesuatu dan aku pingsan, aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu." Jelasnya lemah. Syukurlah kalau tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Ia sudah sangat takut waktu itu.

Kepala Hinata tertunduk dan matanya ia pejam. Ia memainkan jari-jari di atas perut yang tertutup oleh selimut tebal. "Kalau saja cincin ini tak ada. Aku takkan terkena masalah seperti ini." Ucapnya sedih.

"Cincin itu sudah tak ada, Hinata..."

"Hah?!" Hinata menoleh cepat ke arah Naruto dan kemudian menatap jari-jari tangannya. Benar apa kata Naruto. Kapan dan bagaimana bisa?!

Naruto tersenyum tipis, wajah kaget Hinata lucu sekali. "Mungkin agak telat tapi karena cincin itu sudah tak ada, kau takkan terkena masalah lagi dan kau sudah bebas dari Toneri, bukan?" tanyanya sedikit senang.

"Bagaimana bisa?" tanya Hinata tak percaya. Apakah ia salah lihat? Sungguhkah ayah sukarela melepas cincin ini atau ada cerita lain kenapa cincin ini terlepas?

"Itu tak penting Hinata..." Naruto tak menjawab. Ia bahkan baru sempat terkejut setelah membawa Hinata pulang. Padahal Hinata bilang cincin itu takkan bisa terlepas jadi, bagaimana bisa?

"Aku minta maaf..." ucap Naruto lembut membuat Hinata kembali menatapnya. "Seharusnya aku tak meninggalkanmu lagi di sana..." seandainya waktu itu ia memaksa Hinata untuk ikut dengannya, kejadian itu takkan pernah terjadi.

"Oh tunggu! Kekuatanku sudah kembali!" Hinata mengingat fakta penting.

Alis Naruto berkerut, kesal. Mengapa dia terus sibuk sendiri di saat Naruto berbicara serius padanya?

"Hina"

"Kekuatanku!" dua tangan Hinata terangkat dan menyatu. Ketika ia membuka tangan itu, selembar uang keluar di sana.

"Waaaah uangku! Aku kangen sekali padamu!" pekik Hinata bahagia. Akhirnya ia bisa melihat uang ini lagi.

"Hinata..." Naruto tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mengapa dia begitu senang? "Mengapa kau sangat senang sekali dengan uang itu?" tanya Naruto penasaran. Rasa kesalnya tadi hilang begitu saja.

"Karena ini pemberianmu." Jawabnya.

"Aku memberi banyak barang untukmu." Banyak dalam artian jumlah, yang Naruto berikan hanyalah pakaian dan makanan.

"Ini beda, kau menulis namaku." Gigi rapi Hinata terpamer karena senyuman lima jarinya. Ia menunjuk tulisan tangan Naruto di lembaran uangnya. "Dan kau memintaku menjaganya baik-baik..."

"..." Naruto terdiam. Dia begitu manis, lucu, polos dan begitu bahagia...

"Sini uangmu." Naruto mengambil lembar uang itu dari tangan Hinata dan mengambil sebatang pena dari laci lemari yang ada di sebelah kasur tepat di depannya.

"Kenapa?" Hinata melihat apa yang coba Naruto lakukan dengan pena itu.

Naruto menambahkan tulisan Hyuuga Hi di depan tulisan nata.

"Ini, apa kau senang?" Hinata menerima uang yang Naruto sodorkan.

"Hyuuga Hinata..." Hinata mengulum senyum dan kemudian tersenyum lebar. Dia mengangguk cepat. Naruto menjadi manis sekali dan hal itu membuatnya senang.

"Kalau begitu, peluk aku." Naruto merentangkan kedua tangannya dan tanpa ba-bi-bu, Hinata langsung memeluknya.

.

.

.

"Apa kau serius dengan ucapanmu, Toneri?" Hiashi bertanya dengan nada tak percaya. "Kejadian hari ini adalah kecelakaan, kau tak harus merasa bersalah."

"Tidak, ini memang salahku dan aku juga sudah memikirkannya aku tak mau lagi memaksanya." Jawab Toneri yakin. Hatinya sudah benar-benar hancur, ia tak mau lagi merasakan sakit yang mungkin akan lebih dalam lagi kalau ia terus memaksa Hinata.

"Tapi kalau kau menolak perjodohan ini, kau tahu apa yang akan terjadi."

"Aku tahu..." kepala Toneri tertunduk. Perjodohan mutlak tak bisa ditolak, jika mereka menolak mereka akan mendapat hukuman.

"Dua puluh jam dari sekarang, kalau kau masih tak merubah pikiranmu, kau akan pergi ke tempat dimana Hinata terkurung."

"..."

.

.

.

"Dia tak ada di sini." Ini masih pukul 06.01 tapi Sakura telah tiba di sekolah tepatnya perpus karena ia benar-benar tak bisa lagi menahan untuk bicara dengan seseorang tapi dia tak ada di sini.

"Apakah aku terlalu awal?" pikirnya khawatir.

"Sebaiknya aku tunggu saja..."

.

.

.

07.31

"Bye-bye Naru..." Naruto tersenyum pada suara manja Hinata di balik pintu yang sedikit terbuka.

"Sampai jumpa." Naruto membelai surai Hinata tapi Hinata malah memejamkan mata.

"Apa?" tanya Naruto tak mengerti apa arti dari sikap Hinata.

"Ciuman sampai jumpa?" Hinata menunjuk keningnya. Ciuman sampai jumpa yang selalu ia lihat di televisi. "Oh lupakanlah, kamu tak mau." Hinata berubah pikiran. Mengapa juga Naruto harus memberinya ciuman dan mengapa juga ia mengharapkannya?

"Baiklah..." antara senang dan kaget Hinata kembali memejamkan matanya.

Tangan Naruto meraih dagu Hinata. Lihatlah senyuman Hinata. Mengapa dia bahagia sekali karena hal ini?

Cup

DEG!

Mata Hinata terbelak kaget. Apakah dahinya berpindah tempat atau apa ini?

Naruto memberi lebih banyak lagi kecupan lembut untuk bibir peach Hinata dan memberi sebuah pelukan hangat.

"Aku sangat mencintaimu..." bisiknya sambil mempererat pelukan pada Hinata yang masih saja membeku dan kemudian pergi begitu saja dengan mobilnya yang terparkir di depan rumah.

"..." Hinata tak kunjung sadar dari acara membekunya bahkan setelah Naruto menghilang dari perkarangan rumah. Matanya menatap lurus ke depan tanpa bisa berkedip. Ia bahkan lupa bernafas setelah satu tarikan nafas super panjang.

Blusssshh!

"Kami-sama!" kepala Hinata linglung, wajahnya terasa panas sekali bahkan sampai memanasi sekujur badan. Ia tersadar dari acara membekunya karena mulai kehabisan nafas. Badannya hampir terjatuh ke tanah karena syok berat tapi untung bisa ia tahan dengan bantuan memegang gagang pintu.

"Apa yang terjadi?!" ingatan dimana bibir Naruto menyentuh bibirnya membuat wajahnya semakin memerah. Untuk apa itu?

"Aku sangat mencintaimu..."

"APA MAKSUDNYA?!"

.

.

.

"Dia masih tak ada..." ini sudah jam pulang bahkan hampir jam dua siang. Siapa yang ia tunggu tak nampak sama sekali.

"Sebaiknya aku pulang saja." Ia memilih untuk pulang karena tak tahu harus menunggu sampai kapan. Mengapa firasatnya tak enak?

"Sakura? Mengapa kau masih di sini?" yang dipanggil menghentikan langkah. Ia melamun sampai tak menyadari siapa yang muncul di belokan.

"Naruto?" mereka berjalan bersama menuju lantai bawah. "Kau juga masih di sini?" Sakura balik bertanya.

"Kepsek memanggilku tadi. Dan kau?" jawab dan tanya Naruto. Mengapa Sakura tampak sedih?

"Aku menunggu seseorang." Jawabnya apa adanya. "Omong-omong tumben kau menyapaku?" tanyanya basa-basi. Bahkan setelah terakhir kali mereka bicara, hari ini adalah pertama kalinya mereka bicara lagi bahkan saling bertatapan.

"Haha maafkan aku. Masalahku baru saja selesai jadi ya begitulah." Langkah Naruto terhenti di anak tangga terakhir lantai dasar.

"Sakura..." Naruto memanggil membuat Sakura menoleh.

"Ya?" Sakura memutar badan menghadap Naruto.

"Aku minta maaf. Ini mungkin sudah terlalu telat tapi aku menyesal. Aku minta maaf jika aku menyakitimu." Ucapnya menyesal. Setelah semuanya akhirnya ia punya kesempatan untuk mengatakannya.

Sakura terkekeh kecil. "Ayolah kita tak perlu membahasnya. Kita masih tak setua itu untuk begini serius soal cinta." Jawabnya enteng.

"Ini bukan soal cinta, ini soal aku menyakitimu." Timpal Naruto. Ia memberi Sakura sebuah harapan dan kemudian pergi begitu saja, ia merasa sangat menyesal karena mungkin saja ia telah menyakiti hati Sakura.

"Aku tak apa-apa, sungguh." Butuh dua menit untuk mengatakan satu kalimat ini. Lagipula kejadiannya juga sudah berlalu, ia tak lagi memikirkannya.

"Tapi omong-omong sudah lama sekali tak melihatmu bersama Toneri?" Sakura mengganti topik karena teringat bahwa Naruto adalah teman baik Toneri.

"Kami ada sedikit masalah. Hubungan kami kurang baik saat ini."

"Begitukah..." Sakura berpikir sejenak. Seperti ada sesuatu yang janggal.

Iya... Seperti ada yang janggal. Sakura mencoba mencari apa yang janggal di kepalanya. Semua yang ia tahu.

"Toneri itu penyendiri. Dia punya teman baik dan itu adalah kau dan kemudian dia bilang sedang ada masalah karena seseorang yang membuat hubungan kalian jadi buruk." Sakura menutup mulutnya yang terbuka lebar. Mengapa ia baru sadar sekarang?!

"Toneri mengatakannya?" tanya Naruto. Aneh sekali Toneri mau menceritakan masalahnya pada seseorang. Dia tak pernah melakukannya bahkan pada Naruto sekalipun.

"Jadi, gadis yang disukai Toneri menyukaimu?" Sakura memperjelas tebakannya. Akhirnya terjawab sudah mengapa Naruto tiba-tiba berubah.

"Dan tunggu!" satu lagi fakta yang jauh lebih penting.

"Gadis itu adalah yang bersamamu yang tiba-tiba muncul di rumahku dan marah-marah?!" lebih syok lagi. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian itu?! Padahal bagaimana cara gadis itu muncul dan hilang sudah menjawab bagaimana bisa Toneri tiba-tiba muncul di depannya. Mengapa ia baru sadar sekarang?!

"..."

"..."

"Astagaaaa aku syok sekali sampai kehabisan kata-kata." Bagimana bisa seorang manusia punya kekuatan seperti itu? "Apa kau tahu dimana Toneri?" tanya Sakura. Banyak sekali hal yang harus ia tanyakan.

"Tidak... Aku juga mencarinya. Firasatku agak buruk entah kenapa jadi aku ingin bicara padanya..." Naruto tak tahu perasaan apa ini, hanya saja ia merasa seperti akan kehilangan.

"Aku juga! Tolong katakan padanya untuk menemuiku kalau kau melihatnya."

.

.

.

"Hinata..."

Hinata menoleh ke suara di sofa single yang ada di bagian timur.

15.34

Ini adalah ruang tamu rumah Naruto. Dirinya tengah menonton televisi sedari tadi.

"Toneri..." panggil Hinata. Ia sudah merasakan aura Toneri sedari tadi sejak tiga jam yang lalu dan dia baru menampakkan dirinya sekarang.

"Kamu tampak sedih." Ucap Hinata menebak.

"Aku datang untuk minta maaf."

"Hinata!" pintu rumah terbuka dan semua mata menoleh.

"Naruto"

.

.

"Apa kau baik-baik saja?" Naruto mengambil duduk di sebelah Hinata dan menatap khawatir Toneri. Seeumur-umur berteman ia tak pernah melihat Toneri begini frustasi bahkan bawah matanya hitam seolah kurang tidur dan rambutnya berantakan.

"Naruto, aku juga ingin minta maaf." Dia tak menjawab pertanyaan Naruto tapi melanjutkan topik yang membawanya ke sini.

"Aku menjadi begini karena keegoisanku sendiri. Aku menyakiti orang yang aku cintai karena salahku dan aku kehilangan teman baik juga salahku." Ia sudah merenungkan banyak hal sepanjang malam dan apa yang ia dapatkan hanyalah penyesalan.

"Kita ini masih teman, kau tahu!" caranya bicara sangat aneh seolah akan pegi.

"Aku membatalkan pernikahan kami dan aku sudah mengatakan aku menolak perjodohan kami." Lanjutnya.

"Tapi Toneri, kalau kau begitu, kau a"

"Aku tahu..." Toneri menyela. "Aku hanya perlu waktu untuk merenung dan memastikan kejadian ini tak terulang lagi." Waktu berjalan begitu cepat. Jam sudah menunjuk pukul 16.01 yang akhirnya ia hanya punya waktu 30 menit lagi.

"Jika itu keputusanmu, kami tak bisa menahanmu, bukan?" tanya Naruto. Ia juga merasa menyesal tapi apa yang bisa ia katakan?

"Toneri, aku juga minta maaf..." ucap Hinata menyesal. Seandainya ada yang bisa ia lakukan untuk situasi ini tapi Toneri sudah punya keputusannya, akan sangat tak layak jika mereka ikut campur.

"Aku berharap kita akan segera bertemu lagi dan pada saat itu, tak ada lagi kesedihan." Naruto memberikan sebuah senyuman. Inikah akhirnya?

"Terima kasih..."

"Omong-omong Sakura mencarimu." Toneri menghilang sebelum Naruto sempat menyelesaikan kata-katanya.

.

.

.

"Tak ada yang mengatakan ada jin di dunia ini." Pikir Sakura aneh. Semenjak pulang tadi ia sudah mencari web apapun dari laptop tapi ia tak menemukan sesuatu yang tertuju pada Toneri. Naruto menceritakan semuanya tapi tetap saja terasa aneh sekali.

Ia meneguk air di dalam botol yang ada di atas meja belajar.

"Sakura"

"Buffff!" air yang tak sempat tertelan menyembur keluar mengenai laptop di depannya.

"Astaga Toneri!" ia menoleh pada Toneri yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.

Dengan cepat ia beranjak dari posisi duduk dan mengambil tempat berdiri di depan Toneri.

"..."

Tangan Toneri terangkat menunjuk laptop dan air yang mengenai laptop tadi keluar dari sela-sela keybroad dan menghilang begitu saja.

"..."

"Sebenarnya kau itu apa?" tanya Sakura tak percaya pada yang ia lihat. Dia bahkan tak lagi menyembunyikan kekuatannya. Apa maksudnya?

"Kau sudah tahu jawabannya..." ia tak berniat menjawab. Mereka tak punya kekuatan untuk menghapus ingatan manusia jadi percuma saja mengelak lagi.

"Apa kau baik-baik saja?" kau pergi begitu saja semalam dan kemudian hari ini kau tak sekolah dan kau tampak kacau." Tanya dan ucap Sakura khawatir.

"Apa kau khawatir?" tanya Toneri. Pertanyaan ini pernah ia tanyakan pada seseorang sebelumnya.

"Tentu saja aku khawatir!" jawab Sakura cepat tapi Toneri malah tersenyum tipis.

"Kau tahu, aku belajar banyak hal di saat aku mulai berbicara padamu." Sakura menampilkan wajah tak mengerti.

"Hal yang aku sesali selama ini adalah begitu banyak hal yang menyenangkan tapi aku terlalu sibuk fokus hanya pada satu orang."

"Di saat aku melepas bebanku dengan bicara padamu aku mulai berpikir seharusnya aku lebih banyak lagi bicara pada semua orang."

"Dan aku sadar kalau dari awal seharusnya aku tak pernah memaksa kehendakku dan bersikap egois."

"Mengapa ini terdengar seperti perpisahan?" tebak Sakura tak suka.

"Ini memang perpisahan." Sakura tersentak.

16.19

"Apa maksudmu?! Kau mau kemana? Mengapa kau mau pergi?" tanyanya cepat menuntut jawaban. Mengapa ia merasa kesal mendengar lelaki ini mau pergi? Ia masih punya banyak hal untuk ditanyakan.

"Kami dijodohkan dan bagi siapapun yang menolak akan mendapat hukuman, itulah kemana aku akan pergi." Jawabnya jujur.

"Jika begitu mengapa dia ada di sini?"

"Itu karena ada seseorang yang menginginkan dia. Hal itu membuatnya bisa muncul di dunia ini."

"..." Sakura tak mengerti mengapa ia merasa sedih. Hanya saja ia tahu bagaimana sakitnya patah hati. Meski mereka punya cerita yang berbeda tetap saja patah hati sama sakitnya. Ia hanya tak mau melihat lelaki itu bersedih. "Tak bisakah kau di sini saja dan bersamaku?" Sakura tampak sendu. Ia bahkan tak sadar apa arti dari permintaannya.

"Tidak... Aku sudah putuskan untuk pergi."

"Padahal aku senang punya teman bercerita. Kau lebih bagus dari buku-buku di perpus tapi kau malah mau meninggalkanku..." dia tampak kecewa. Kepalanya tertunduk.

Toneri tersenyum lucu. Beginikah rasanya? Rasa ketika seseorang ingin bersamamu? Tapi ia tak yakin apa arti dari tatapan mata Sakura.

"Ketika kita bertemu lagi. Aku akan menceritakan padamu semua yang ingin kau tahu." Sakura menoleh.

"Bagaimana aku yakin kita akan bertemu lagi?" tanyanya ragu. Tak ada jaminan untuk itu.

16.29

"Kita akan..." Toneri tersenyum hingga menampilkan deretan gigitnya. "Aku tak akan berharap lagi." Ia tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama.

16.30

"Kita akan bertemu lagi jika kau menginginkanku..."

"Dan jika kita cukup berjodoh."

"..." Sakura tak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa terdiam menatap mata biru itu. Salahkah ia berharap lelaki itu tak pergi? Setidaknya jangan sekarang...

16.31

Mata Sakura berkedip dan detik itu juga ia tak lagi melihat Toneri.

"Toneri?!" ia menatap ke setiap sudut kamar tapi Toneri benar-benar tak ada lagi di kamarnya.

"Mengapa aku merasa sedih?" ia menekan dadanya yang terasa berdenyut. Mengapa perasaanya seperti ini?

Ia ingin baring di atas kasur tapi sebuah kotak kado persegi ukuran sedang mengalihkan niatnya.

"Darimana kado ini?" ia mengambil kotak kado itu dan duduk di atas kasur. Perasaan tadi tak berada di sini.

Ia membuka tutup kotak kado itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah foto polaroid. Ada sekitar 20 lembaran di sana.

"Ini?!"

.

.

.

"Aku tak lagi merasakan auranya." Ucap Hinata yang mengartikan Toneri sudah tak berada di dunia ini.

"Apa kau tahu dimana dia?" tanya Naruto dan Hinata hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Jangan sedih... Ini bukan salahmu, Hinata." Naruto memeluk Hinata dan membelai surai indigonya dengan lembut.

"Apakah patah hati begitu menakutkan?" tanya Hinata setelah menyamankan wajah di leher Naruto. Jantungnya berdebar kencang karena mengingat Toneri menjadi begitu gila karena patah hati.

"Tidak, Hinata. Beberapa orang hanya tak tahu bagaimana cara mengatasinya." Jawabnya.

"Tapi sekarang sepertinya dia sudah tahu bagaimana caranya." Innernya melanjutkan. Naruto tak tahu apakah pilihan Toneri benar atau tidak tapi ketika dia berhenti memaksa kehendaknya, dia sudah benar.

.

.

.

Blushhh!

"Toneri sialann!" pekik Sakura syok. Bagaimana bisa dia mendapat foto seperti ini? Apakah dia melihatnya?!

"Kyaaaaaaaah!" ini adalah foto hari ini tepatnya di perpus tempat dimana ia duduk sampai siang hari bahkan sampai kelas selesai, singkatnya ia bolos hari ini.

"Toneri Baka!"pekiknya kembali melihat semua foto yang ada. Foto ia mengupil, foto dirinya hendak bersin dengan wajah super jelek, foto dirinya tertidur dan meloncat-loncat di perpus karena kesal. Aibnya untuk hari ini!

"BAKA BAKA!" pekiknya malu. "Aku akan menghajarmu, Toneri sialan!"

.

.

.

"Bunga?" Toneri membuka mata. Meski ini adalah di dalam bunga tapi dalamnya benar-benar terlihat seperti penjara yang sangat luas. Kosong, tapi bunga-bunga di bawah kakinya meramaikan ruangan kosong ini. Rasanya sangat damai dan wangi.

Ia mengamati sekitarnya. Bunga-bunga dengan banyak jenis memenuhi setiap jengkal lantai dan bahkan tergantung di semua atap dan juga dinding.

Ia tersenyum lucu, rasanya agak sepi tapi lumayan menyenangkan. Apakah segini besar rasa cinta Hinata untuk bunga? Dan beginikah rasanya selama ini terkurung di sini?

Jauh di depan ia melihat bunga kuning berbentuk hati besar di dinding. Sepertinya ada beberapa kertas dan foto di sana.

Hanya satu kedipan dan di sanalah Toneri muncul, tepat di depan bunga berbentuk hati yang ia lihat tadi.

Ia melihat apa saja yang bisa ia lihat dan baca. Dimulai dari Hinata menulis ia tak butuh kasur karena tidur di atas bunga. Ada juga dia menulis dirinya mungkin akan gemuk karena kerjaannya cuma makan dan tidur.

Ada satu tulisan yang menarik perhatiannya. Kertas ini berada di paling depan dan tampak di tempel asal. Ia mengambil kertas kecil itu dan membacanya.

"Ada manusia punya warna rambut kuning dan tampak bodoh. Alright Rosei-Rose, imma boutta head out."

Satu sudut bibir Toneri tertarik ke atas. Apa ini?

"Pasti ini terakhir di tulisnya sebelum keluar dari sini..."

.

.

.

"Omong-omong, Naru. Aku mau bertanya." Hinata menjauh dari Naruto dan menatapnya.

"Apa itu?" tanya Naruto penasaran tapi Hinata malah tampak ragu.

"Ehmm ini soal tadi pagi." Jawabnya seolah mengharapkan Naruto tahu apa yang akan ia katakan. Ya tentu saja dia harus tahu. Memangnya apa yang terjadi tadi pagi selain Naruto menciumnya dan mengatakan 'AKU SANGAT MENCINTAIMU'?

"Hm?" Naruto tampak binggung.

"Lupakanlah..."

.

.

.

TAMAT

Oh ada satu chap lagi

Semoga suka...

Bye sampai jumpaaaaa