"Sweet Christmas: Let Me Know You"

.

.

.

.

.

A Taekook Fiction

Shounen-Ai / Romance / T / Drabble

.

Written by 9094

.

.

.

"Forever Christmas?

Forever by my side?"

.

.

.

.

.


[II]

'Hei, kau tau pemuda tampan dengan senyum seperti kelinci dari depatermen seni dan olahraga?'

Berani taruhan.

Seorang Kim Taehyung bukanlah termasuk dalam jajaran mahasiswa teladan dengan tatanan rambut disemir klimis serta dua mata 'buatan' yang bertengger rapi di hidung bak perosotan miliknya.

Bukan juga seorang mahasiswa dengan predikat, 'berambisi satu' yang selalu mendekap ensiklopedi-ensiklopedi dengan berat rata-rata 750 gram tersebut, atau bahkan yang selalu setia mengumpulkan tugas satu hari sebelum deadline tugas dikumpulkan.

Dan, ia juga bukanlah mahasiswa terpintar, asuhan dosen nomor satu di universitasnya, yang hampir tiap harinya berkutat dengan tugas mahasiswa lainnya yang seringkali dinilai berdasarkan tebal atau tidaknya hasil laporan hingga menentukan alphabet A maupun D pada hasil kerja mereka.

Berani taruhan. Ia bukan pemuda seperti itu.

Kim Taehyung hanyalah seorang pemuda, dengan visualisasi wajah berlebihan, yang kini sedang menjalani semester akhirnya di departemen cinematografi.

Mahasiswa dengan kadar otak pas-pasan. Tidak kurang dan tidak lebih. Tidaklah rajin, dan tidak termasuk dalam jajaran mahasiswa pemalas. Ia cenderung biasa-biasa saja. Jika saja, wajahnya itu tidak menandingi idol-idol jaman sekarang.

Hanya saja, mendekati penghujung bulan oktober, eksistensi pemuda asal Daegu tersebut semakin meningkat di sekitar kawasan universitasnya. Meningkat dalam artian, ia selalu hadir bahkan tanpa alasan seperti jadwal mata kuliahnya, yang memang selalu berakhir di hari selasa tiap minggunya.

Dan, lebih anehnya lagi. Ia seperti mahasiswa pindah jurusan, karena–

.

.

–demi Tuhan! Dua hari dalam seminggu ia habiskan untuk berada di sekitar departemen penjurusannya, dan enam hari dalam seminggu akan ia habiskan untuk duduk manis atau bahkan sekedar lewat begitu saja di koridor departemen Seni dan Olahraga.

Rutinitas sampingan seorang Kim Taehyung.

Membuat pemuda tersebut hampir menjalin hubungan pertemanan dengan sebagian mahasiswa departemen seni dan olahraga. Bermodalkan wajah bak malaikat dan kepribadian terbuka khas seorang Kim Taehyung, hal tersebut tidaklah sulit.

"Mampir lagi tae?" Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar ruang seni tari yang berada di hadapannya. Mengabaikan sejenak pertanyaan yang dilontarkan sahabat satu asramanya tersebut, kemudian sembarangan memasuki ruangan di depannya.

Tidak mendapati pemuda yang dicarinya, ia kembali berdiri di samping pemuda tadi, "Dimana kelinciku, Jimin? Kau tak mungkin menyekapnya di kamar asramakan?"

Dan pemuda dengan sebutan Jimin tersebut memutar bola matanya bosan. Kim Taehyung sungguh berlebihan. "Ia diminta ke ruang dosen beberapa menit yang lalu sebelum kau datang." Jimin menunjuk bangunan megah di depannya. "Dan lagi-lagi, ini kegagalanmu yang ke 25 kalinya untuk bertemu dengan idolamu yang satu itu"

Taehyung terbahak mendengar penuturan Jimin. Ia sedikit tersinggung sih dengan fakta kegagalannya yang ternyata sudah cukup banyak tersebut. "Hei, siapa yang kau sebut idola hah?"

"Siapa lagi kalau bukan Jeon Jungkook, Kim Taehyung-ssi. Memangnya sekarang dia siapamu? Pacarmu? Bukan kan? Kenalan saja tidak. " Taehyung mengedikkan bahunya acuh, "Kau tau, dosen-dosenku bahkan telah mengenalmu, akibat rutinitasmu tiap harinya. Menjadi stalker sejati dari idola kampus departemen Seni dan Olahraga."

Tak banyak reaksi yang diberikan Taehyung. Terlampau acuh. Dan hingga saat ini, Jimin tak habis pikir dengan niat sekeras baja milik teman beda departemennya ini. Berulang kali datang mengunjungi gedung departemennya, namun selalu berakhir dengan tidak bertemunya ia dengan sang idola yang dimaksudkan. Siapa lagi kalau bukan Jeon Jungkook?

'Hei, kau tau pemuda tampan dengan senyum seperti kelinci dari depatermen seni dan olahraga?'

.

Kim Taehyung. 22 Tahun. Dari department Cinematography.

Akhir musim gugur, saat kelopak sakura jatuh untuk terakhir kalinya.

Ia telak jatuh akan pesona pemuda dengan garis senyuman menyerupai kelinci.

.

'Kau tahu? Aku selalu melihatnya di taman belakang ujung koridor kelas tarinya. Dan saat kelopak sakura tearkhir jatuh di atas buku bacaannya, apakah tak masalah bagiku untuk jatuh cinta pada pandangan pertama?

Apakah tak apa-apa bagiku, ketika ia membalas tatapan penuh dambaan ku, dengan senyum semanis buah cherry miliknya?'

.

.

.

.

.

D-48 Christmas~ gak ngitung padahal .

Dan ini isinya gaje T_T maapkeun~ daku masih stress ama tugas desain ~

dan Makasih~

.

.

p.s : minggu malam-rabu malam tiap minggu kedepannya no apdet

Review Ju(ng~)Se(ng~)Yo(ng~)