Pembalasan
.
.
.
Indonesian School AU
Saint Seiya The Lost Canvas
Kurumada & Teshirogi
.
.
.
Srukkk!
Sebuah kantung plastik bening berwarna putih mendarat mulus di atas sebuah meja persegi berukuran cukup kecil. Tampak embun halus dari uap makanan di dalamnya membuat kabur permukaan plastik tersebut. Seketika aroma harum nan gurih khas dari gorengan bakwan dan tahu isi menyapa indera penciuman.
Yang sedari tadi duduk di sekitar meja tersebut—Manigold yang tengah khidmat menghisap sebatang rokok bersama El Cid yang tampak begitu fokus menatap layar ponsel pipihnya. Sebuah permainan tengah El Cid mainkan. Kedua siswa lelaki tersebut lalu menoleh ke arah sumber suara.
Yang terlebih dahulu berjengit dari duduknya adalah Manigold saat mengenali apa yang tersaji di depan muka, "Wehhh, tau aja lu gua lagi laper!"
Dengan sigap, Manigold meraih sebuah bakwan berserta sebutir rawit yang nampak begitu garang walau dengan ukuran yang sangat mungil.
El Cid lalu mengalihkan kedua iris gelapnya, kini menatap figur yang membawa makanan tersebut. Ia tak mengatakan apa-apa selain hanya melemparkan tatapan bertanya.
Kardia yang baru saja kembali dari kantin sekolah lalu menjatuhkan bokong ke atas sebuah kursi—duduk menghadap kedua temannya tersebut lalu meraih kotak rokok milik Manigold di atas meja. Ia melirik El Cid sekilas lalu menyeringai.
"Makan, El. Lu kagak laper dari pagi maen hp doang?" tawar Kardia dengan nada santai.
El Cid hanya mendengus samar lalu kembali menatap ponselnya. "Tumben," sahutnya singkat—nyatanya El Cid terkenal sebagai sosok senior yang begitu irit bicara. Benar-benar berkebalikkan dengan Sisyphus, sohib kentalnya yang sangat ramah itu.
"Lu tiap hari aja begini, Kar. Dijamin masuk surga!" timpal Manigold dengan mulut penuh.
Yang diajak bicara hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, "Sebenernya gua punya rencana buat bales si Minos," ujarnya. Sebatang rokok lalu ia selipkan di antara celah bibir—sejenak ia sulut dengan pemantik lalu kembali bicara setelah menghembuskan kepulan asap putih ke udara.
Ketiganya saat itu tengah bercokol di area belakang gudang, dimana terdapat begitu banyak kursi dan meja yang sudah tidak terpakai. Area ini cukup sepi dan hanya dihuni oleh berandal-berandal SMA Sanctuary—walau tak jarang, beberapa murid nakal dari gedung SMP juga datang namun pemandangan itu hanya terlihat jika tak ada Manigold dan Kardia di sana.
Sadar diri akan kekuasaan sang senior yang jauh di atas level berandal tengil seperti mereka.
"Ntar gua mau cabut pas jam terakhir kelar, mau gua tungguin tuh anak keluar gerbang," ujar Kardia lalu menatap Manigold dan El Cid secara bergantian, "Lu bedua mau ngikut tawuran kaga?"
"Heee, Bang Kar mau tawuran?!"
Sebuah suara nyaring seketika mengangetkan ketiga siswa SMA tersebut. Ketiganya tersentak sebelum mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
"Bang Kar mau tawuran yaaaa?! Milo mau ikut!"
"Milo?!"
Kedua iris biru milik Kardia kontan melebar sejadi-jadinya saat mendapati sosok murid SD yang masih begitu kecil tersebut—adik sepupu laki-lakinya.
"Lu ngapain di sini, bocah?!" tanyanya heran bercampur jengkel. Kardia lalu melirik ke belakang punggung si bocah pirang.
Ada bocah laki-laki lain menunggu tak jauh dari posisi mereka dengan ekspresi tanpa riak—nyaris datar, tengah menatap ke arah mereka. Rambutnya berwarna merah menyentuh bahu. Segera Kardia kembali menatap ke arah Milo.
"Lu ngapain ngajak Camus kemari?! Lu mau liat gua dibacok Degel?"
Yang diomeli hanya memanyunkan bibir namun dengan air muka protes, "Emangnya Bang Kar doang yang kemana-mana bisa sama Kak Degel? Milo juga bisa sama Camus!" balas si bocah pirang dengan sengit—tampak Manigold hanya menahan tawa di belakang, sedang El Cid hanya mengerutkan dahi.
Frustasi, Kardia tampak menggaruk rambut belakangnya dengan kasar. Sadar bahwa Milo sudah mendengar rencananya barusan dan tak ada celah baginya untuk menghindar.
Nyatanya Milo benar-benar menjadikan Kardia seorang panutan—dan dengan baik hati, Manigold pun kadang mengajarkan Milo untuk menjadi siswa begundal. Benar-benar tak membantu sama sekali.
Kardia menghela napas keras lalu menatap ke arah Milo, "Lu balik ke kelas sana. Kagak belajar lu, ha?"
Milo pun menggeleng, "Tadi nemenin Camus ke perpustakaan terus Milo denger suara Bang Kar. Milo mau ikut tawuran!" seru si bocah pirang dengan keras kepala.
"Apaan lu bocah, kagak! Ini urusan orang dewasa, lu tengil masuk kelas sana. Belajar yang bener," omel Kardia yang bukannya membuat Milo takut dan gentar, malah bocah pirang itu nampak begitu berapi-api.
"Kenapa Manigold sama Bang El diajak, Milo enggak?!" desaknya pada sang Scorpio yang lebih tua darinya itu.
"Ya, karna ini urusan gua. Lu masih kecil," jawab Kardia dengan nada lelah. Sungguh kadang dibuat tak berdaya oleh bocah nekat bernama Milo satu itu. "Lu mau apa dah biar lu kagak ngikutin gua?"
Terdengar Milo mendengus pendek lalu melipat kedua tangan di depan tubuh kecilnya, "Mau duit!"
Sarap, parah nih bocah.
Kardia menggerutu di dalam hati. Tak ada cara lain memang selain mengeluarkan senjata pamungkas. Ia lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet, "Nih, gua kasih duit tapi lu kudu balik ke kelas. Jangan ngikutin gua. Nih, goceng!" ujar Kardia seraya mengulurkan selembar uang lima ribu.
Bukannya sumringah, bibir mungil milik Milo malah semakin maju—cemberut.
Milo lalu mengulurkan tangan kecilnya ke arah Kardia, "Goceng cuma cukup buat siomay sepiring! Milo kan harus traktir Camus, pake es campur juga. Minta dua puluh!"
"Ee—buset... Malah minta nambah!" Kardia terkesiap saking kagetnya.
Sedang di belakang mereka, Manigold sudah sedari tadi terbahak keras—tertawa terpingkal-pingkal melihat salah satu bos berandal di sekolah justru dipalak oleh bocah SD.
El Cid sendiri mengepal genggamannya yang lalu ia letakkan di depan bibir—mencegah diri untuk tidak melepaskan tawa kala melihat pemandangan menggelikan di hadapannya saat ini.
Kedua alis milik Kardia kontan keriting seketika mendengar permintaan si bocah pirang. Kejengkelannya nyaris meluap kalau saja ia tak ingat bahwa Milo harus dipenuhi keinginannya supaya dapat berhenti mengusiknya.
Rela tak rela, akhirnya selembar uang dua puluh ribu pun berpindah tempat dari dompetnya kita ke atas tangan mugil si bocah pirang. "Lu lahir darimana sih? Dari dalem dompet emak lu?" sungut Kardia dengan jengkel. "Dah, cabut sana."
Milo yang menerima selembar uang dengan nominal cukup besar itupun tak pelak berjingkrak senang—bahkan lupa untuk mengucapkan terimakasih saking antusiasnya. Bocah pirang itu lalu segera berbalik dan berlarian menyusul Camus yang sedari tadi menunggu.
"Camuuussss! Yok, ke kantin!" seru Milo seraya meraih tangan teman sekelasnya itu dan mengajaknya berlari meninggalkan area belakang gudang.
Camus yang pendiam dan tak banyak bicara itu terpaksa ikut berlari saat tangannya ditarik oleh sang teman.
"Haahhh..."
Kardia menghela napas lagi dan lebih panjang, "Duit bensin gua jadi kurang dah."
.
.
.
Perlengkapan dan peralatan ruang UKS yang baru, pagi tadi telah tiba.
Asmita—sang ketua PMR sekolah belum sempat memeriksa semua barang tersebut dikarenakan ia sendiri harus mengikuti ujian mingguan. Walau telah meminta anggotanya untuk menggantikan, masih ada rasa tak puas yang ia rasakan.
Lantas siang itu, Asmita putuskan untuk sejenak mendatangi UKS guna memeriksa kelengkapan barang-barang yang telah tiba.
Di dalam ruang UKS yang sepi—hanya ia seorang diri, Asmita nampak fokus menyusun beberapa botol dan keping obat ke dalam laci-laci plastik berukuran kecil yang memang khusus disiapkan untuk menyimpan obat-obatan sesuai fungsinya, namun sekelebatan bayangan yang melintas di luar jendela ruangan membuat perhatian Asmita teralihkan.
Siswa berambut pirang nan panjang tersebut lalu menoleh ke arah jendela. Kedua matanya masih terkatup rapat namun ia dapat merasakan siapa yang hadir di luar sana.
Seorang siswa bertubuh tinggi nan kekar dengan kulit tanned dan rambut biru yang panjang—yang jarang menampakkan wajah di tengah lingkungan sekolah namun namanya telah menyebar dan diketahui oleh setiap kepala lewat rumor dan desas-desus mengenai sang siswa yang suka mengasingkan diri tersebut.
Sudut bibir Asmita lantas ditarik sedikit ke atas.
"Keluar dari gua buat nyari mangsa, Defteros?" tanyanya.
Yang disebut namanya itu—Defteros, tak langsung menjawab. Masih menatap sosok siswa anggun di hadapannya itu dengan kedua iris birunya yang menatap tajam dan lurus.
Bagi siapapun yang melihat wajah sangar milik Defteros, pastilah langsung berlari tunggang-langgang. Dengan tubuh tinggi besar dan tatapan tajam menyeramkan seperti itu, Defteros dijuluki sang raja iblis.
Kemampuannya dalam berkelahi pun di atas rata-rata namun Defteros memang terkenal gemar menyendiri. Tak ada satu murid pun yang berani mendekati—kecuali Asmita sendiri yang tanpa Defteros sadari, telah merebut hatinya dan menjadikan takhta yang hanya Asmita seorang diri yang mampu mendudukinya.
Defteros hanya mendengus pendek menyahuti gurauan yang dikatakan si siswa Virgo lalu dengan langkah lebarnya, ia berjalan masuk ke dalam ruangan UKS hingga jarak di antara keduanya pun terbunuh.
Defteros berdiri tinggi menjulang di hadapan Asmita. Asmita sendiri sampai harus mendongakkan wajah walau ia sendiri tak bisa melihat pemandangan di depannya.
"Gua ijin cabut ke Underworld," kata Defteros dengan suara beratnya.
Yang mendengar ujaran itu—Asmita, hanya dapat menaikkan kedua alis. Nampak cukup bingung akan perkataan si siswa tanned.
"Mau ngapain?" tanyanya.
"Aspros salah masukkin buku tadi pagi dan gua harus nganterinnya ke sana," jawab Defteros separuh enggan—enggan menyebut nama kakak kembarnya yang malah lebih enggan lagi mengakuinya sebagai adik.
Asmita diam sejenak. Kaget juga mendengar nama mantan siswa SMA Sanctuary tersebut—Aspros sendiri pindah sekolah dari SMA Sancturary ke SMA Underworld saat kenaikan kelas XII dan hal itu terjadi bukan dengan tanpa alasan.
Sebuah kekehan pelan pun menyelinap dari sela bibir Asmita, "Adek baik."
Dikatakan seperti itu, wajah Defteros langsung berubah masam. "Kagak usah ngeledek," timpalnya lalu menghela napas. Ia lalu kembali menatap Asmita, "Pulang sekolah ntar masih harus ngurus UKS?" tanyanya.
"Hm?"
Asmita mengangkat kedua alis saat topik pembicaraan tiba-tiba berganti haluan, "Iya. Aku masih harus ngerapiin barang. Kenapa?"
Sekarang giliran Defteros yang tak langsung menjawab—siswa bertubuh besar itu terkesiap halus lalu mengalihkan arah tatapan seraya menjawab, "Gua tungguin. Ntar pulangnya bareng gua."
.
.
.
"Degel?"
Sebuah suara bariton nan berat terdengar dari belakang punggungnya—si pemilik nama Degel tersebut mengerjap cepat lalu menoleh dan menemukan sang siswa berzodiak Aries—Shion, di belakang sana.
"Ya?" sahutnya setelah sadar dari lamunan.
Dahi milik Shion nampak mengerut samar. Satu tangannya lantas terulur dengan sebuah klipping makalah di sana—bermaksud menyerahkan benda itu kepada si siswa berkacamata yang masih nampak lebam rahangnya. "Proposal yang kemarin. Gue sempet ngerjain di rumah," ujarnya.
"Oh... oke." Degel segera menerima benda tersebut, "Mau dibawa langsung ke Pak Sage?"
Shion pun mengangguk, "Yep. Ntar sekalian sama gue. Gue mau laporan soal sponsor."
"Sip," sahut Degel—hanya mengangguk sekilas. Ia kembali terpekur menatap cover proposal tersebut, sedang pikirannya kembali melayang—membentuk figur seorang siswa bengal berambut biru penyuka apel.
"Degel?"
Suara Shion terdengar lagi namun kali ini disertai nada heran yang terdengar lebih jelas. Degel pun kembali mengangkat wajah—mengerjap menatap Shion. Ia melemparkan tatapan bertanya.
"Lo daritadi ngelamun. Ada masalah?" tanya Shion langsung.
Mendengar itu, Degel hanya bisa mengerjap. Wajahnya masih dapat disetel tenang namun sepasang iris indigo miliknya cukup jelas menyiratkan gelisah di hatinya. Degel pun menggeleng.
"Sorry, gue cuma lagi mikirin anggaran acara. Ada beberapa seksi yang harus press pengeluaran mereka," ujar Degel dengan lancar—mencoba menutupi apapun yang tengah bergejolak di dalam dada.
"Oh." Shion mengangguk paham—hal itu juga menjadi pertimbangannya dan tanpa rasa curiga, ia percaya. "Yodah kalo gitu, gue balik ke kelas dulu."
Degel hanya mengangguk singkat sebagai respon—menatap punggung Shion yang menjauh dalam diam.
Mana mungkin ia katakan bahwa Kardia dan Manigold kabur dari kelas terakhir dan asumsinya berkata, kedua siswa bengal itu tengah pergi menuju SMA Underworld.
.
.
.
Kontras dengan bangunan SMA Sanctuary yang berarsitektur khas Eropa—dengan pilar-pilar tinggi besar menjulang dan berwarna putih nan bersih, bangunan SMA Underworld dijumpai dengan warna dominan kelabu.
Pagar beton menjulang tinggi—mengungkung area sekolah di dalamnya dan dengan hanya satu buah gerbang depan dan satu buah gerbang belakang yang besar dan tinggi, terbuat dari metal tebal berwarna gelap, sebagai jalan masuk dan keluar.
Kaku, sunyi, kelam—itulah yang Manigold dan Kardia rasakan saat tiba di sisi pagar beton sekolah tersebut. Keduanya nampak telah menanggalkan kemeja sekolah—kini hanya mengenakan celana panjang dan sebuah kaus.
Kardia mematikan mesin motor dan menatap lurus ke arah gerbang. Kedua matanya nampak memicing.
Ada gurat jengkel dan tak sabar terlihat pada wajahnya. Ia sama sekali tak bisa memantau apa yang tengah terjadi di dalam sana.
"Kayaknya, mereka bakal bubaran lima belas menit lagi," ujar Manigold dari boncengan sambil menatap jam digital pada ponselnya. Ia lalu turut menatap ke arah gerbang, "Biasanya juga nih, mereka keluar lewat sini."
"Yakin lu?" Kardia melemparkan lirikan ke arah belakang punggungnya. Samar terlihat Manigold mengangguk dengan seringai lebar pada wajah.
"Percaya dah. Gua hapal ame ini sekolah. Bahahaha!" Manigold tertawa.
Siswa bengal berzodiak Cancer itu nyatanya tak pernah absen di dalam setiap tawuran yang melibatkan murid-murid SMA Underworld yang terkenal sebagai sarang para murid bengal di kota ini.
Tak jarang pula ia melihat keberadaan trio Minos-Rhadamanthys-Aiacos. Walau trio tersebut jarang terlibat langsung dan lebih senang membiarkan anak buah mereka yang turun ke medan tempur, namun ketiganya pasti datang untuk menonton.
Kardia hanya mendengus pendek. Sikunya ditumpu di atas kaca spidometer dan memangku wajah di atas telapak tangan. Yang ada di dalam benaknya saat itu hanyalah sebuah keinginan untuk membuat hancur setiap jengkal dari tubuh milik Minos—yang telah berani mendaratkan sebuah pukulan pada siswa berkacamata favoritnya.
Degel—miliknya.
Di dalam keheningan yang sejenak tercipta, penantian kedua siswa bengal SMA Sanctuary itu pun terjawab.
Terdengar sebuah suara berdengung yang membahana dari dalam pagar beton SMA Underworld yang menjulang tinggi—seperti sebuah terompet, dan Manigold hapal benar artinya.
"Siap-siap, mereka bakal bubaran!" ujar Manigold seraya menepuk pundak Kardia beberapa kali sebelum akhirnya turun dari boncengan.
Sebuah seringai sadis pun merekah pada wajah Kardia. Segera ia turunkan standar motor dan turut berdiri di sisi Manigold. Buku-buku jemarinya pun mengepal—Kardia semakin tidak sabar.
Satu per satu, murid-murid SMA Underworld berseragam gelap menghambur keluar—didominasi oleh murid laki-laki, SMA Underworld hanya memiliki murid perempuan dengan jumlah yang amat sangat kecil.
Kedua pasang mata milik Manigold dan Kardia segera memindai setiap wajah yang tampak di depan sana—mencari sosok-sosok trio bengal SMA Underworld dengan fokus utama mereka yaitu Minos.
Di tengah kerumunan dan keriuhan yang tercipta di sela-sela aktivitas pulang sekolah SMA tersebut, satu sosok mencolok langsung tertangkap mata—seorang siswa berambut panjang keperakan tengah duduk di atas boncengan motor milik siswa berambut pirang yang pendek.
Minos dan Rhadamanthys!
Darah Kardia seketika berdesir—mendidih menatap sosok yang segera ingin ia buat luluh-lantah. Menunggu motor besar milik Rhadamanthys melintas ke arah mereka, Manigold dan Kardia berkamuflase di antara kerumunan murid-murid SMA Underworld.
"Mampus lu," desis Kardia yang lalu melangkah maju ke arah sisi jalan.
Dengan sebuah cengkraman kuat, Kardia meraih pundak Minos dan menariknya dengan sangat keras hingga tubuh milik pentolan siswa bengal SMA Underworld tersebut terhempas ke atas aspal jalanan.
Hal tersebut langsung membuat geger siapapun yang melihat—termasuk semua murid SMA Underworld yang berada di sekitar mereka, tak terkecuali Rhadamanthys sendiri yang langsung melompat turun dari atas jok tanpa peduli saat badan motornya terhempas ke jalan tanpa sempat disangga gagang standar.
"Eits—selow." Sebuah suara diiringi figur lelaki berkaus gelap muncul tiba-tiba.
Langkah Rhadamanthys yang hendak menghampiri Minos seketika terhenti—Minos yang saat itu masih terkapar di atas aspal, tampak cukup kelimpuhan saat mendapati hujan terjangan kaki dari Kardia yang datang dengan tanpa peringatan. Sosok yang muncul menghadang langkahnya tengah menyeringai dengan angkuh.
Menyadari siapa yang tengah berdiri di hadapannya, Rhadamanthys melemparkan tatapan bengis ke arah sosok tersebut yang tampak sedang berkacak pinggang. Ia mendecih marah, "Manigold."
"Lu kagak perlu ngikut campur, Rhad. Itu urusan sohib gua sama si Minos dan kalo lu mau ngikut campur," Manigold melirik sekilas ke arah perkelahian di belakang punggungnya yang nampak didominasi oleh Kardia. Ia lalu kembali menatap siswa berambut pirang itu, "Urusan lu bakal sama gua."
.
.
.
"Thanks," ucap Aspros saat menerima uluran sebuah buku dari tangan milik si adik kembar. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan angkuh nan sinis.
Yang diberi ucapan nampak tak bereaksi apa-apa selain mendengus pendek sambil melemparkan tatapan jengah—tahu benar bahwa tak ada kalimat tulus yang diucapkan oleh mantan siswa SMA Sanctuary tersebut.
Defteros lalu melirik ke arah pangkat OSIS pada lengan seragam milik Aspros. Sudut bibirnya lantas turut terangkat naik.
"Masih doyan main OSIS-OSISan, heh?" tanya Defteros dengan nada mencemooh.
"Hh."
Kini giliran Aspros yang mendengus dengan ekspresi serupa. Ia lalu membalikkan tubuh jangkungnya—suaranya kembali terdengar sebelum melangkah, "Kalo lu mikir dengan ngelempar gua keluar dari Sanctuary bakal bikin gua mati kutu, lu salah besar, Def. Bahkan di sini pun, gua bakal tetep jadi nomor satu."
Mendengar ujaran bernada angkuh tersebut, kedua alis Defteros refleks menyatu.
Kembali Aspros bersuara di sela kekehan ringan, "Ah, gua lupa. Elu yang cuma replika mana paham soal beginian," tambahnya sambi berlalu. Aspros tampak melambaikan tangannya sekilas tanpa menoleh hingga figurnya menghilang di balik gerbang belakang.
Tinggalah sosok Defteros seorang diri—menatap ke arah daun pintu gerbang belakang SMA Underworld yang kembali tertutup. Kedua tangannya mengepal di sisi paha. Geram—ingin ia memberikan satu atau dua bogem mentah untuk sang kakak kembar.
Merasa tak ada urusan lagi, Defteros pun segera membalikkan tubuh—namun baru saja ia beranjak dari posisi, derap langkahnya seketika terhenti saat menatap beberapa murid SMA Underworld yang nampak dengan gusar berlarian ke arah gerbang depan. Terlihat semua murid berkerumun jauh di depan sana.
Air muka heran dan bingung samar tersirat pada wajah siswa berzodiak Gemini tersebut—dan tanpa benar-benar berpikir, ia mengubah haluan langkah dan berjalan menuju kerumunan itu.
Di tengah-tengah kerumunan, terdapat spasi melingkar yang seolah membentuk sebuah arena tinju. Murid-murid SMA Underworld nampak berdiri mengelilingi—menonton sebuah perkelahian sengit di tengah-tengah mereka.
Dengan tubuh besar nan menjulang, Defteros dapat dengan mudah berjalan menembus dinding manusia di sekitar arena hingga tiba pada pusatnya—dan apa yang tersaji di depan mata sukses membuat si bungsu Gemini membelalakkan kedua mata.
Kardia? Manigold?
Defteros lalu melirik ke arah sisi lain arena—tampak Minos dan Rhadamanthys di sana.
Kondisi keempatnya terlihat sama-sama luluh-lantah dengan pakaian yang berantakan dan kotor oleh noda debu aspal, darah mengucur dari hidung dan sela bibir, juga bekas-bekas pukulan berwarna kemerahan yang esok hari mungkin akan berubah menjadi lebam-lebam ungu kebiruan.
Entah telah sesengit apa keempatnya berkelahi sebelum ia tiba di sini.
Sebelum sempat Defteros bereaksi, sebuah gerakan cepat datang tiba-tiba dari arah kanan. Defteros mendapati seorang siswa berambut merah muda—dengan sebuah stik bisbol di tangan, hendak memukul Manigold dari belakang.
Dengan cepat, Defteros bergerak maju—menangkap ayunan stik kayu tebal tersebut dan melemparkan tubuh ramping si pelaku ke sisi lain arena.
"VALENTINE!"
Gelegar suara Rhadamanthys terdengar saat menyadari kehadiran si anak buah—yang memiliki loyalitas paling tinggi terhadapnya, dengan limbung tersungkur ke arah kerumunan murid lainnya namun sebelum sempat tubuh milik Valentine membentur aspal, sebuah lengan kokoh datang menyangga tubuhnya.
Valentine lalu mendongakkan wajah di sela keterkejutan dan mendapati Aiacos di sisi tubuhnya, "B-Bang Aiacos..."
Aiacos yang muncul tiba-tiba bersama sang kekasih, Violate, hanya menarik sudut bibir dengan tatapan tertuju lurus pada figur jangkung milik Defteros.
"Heh... Pesta apaan nih? Gua kagak diundang?" tanya Aiacos dengan nada santai. Nampak Violate mengekori dari belakang dengan gestur siap menyerang—siswi SMA Underworld satu ini terkenal akan kemampuan berkelahinya yang bahkan di atas rata-rata kemampuan semua murid lelaki SMA tersebut.
Aiacos—salah satu pentolan dari trio bengal SMA Underworld, terkenal memiliki anak buah terbanyak. Sadis dan berdarah dingin, siswa berambut kelam ini tak segan menyiksa anak buahnya sendiri—dan sebuah tanda lalu ia layangkan.
Aiacos mengangkat satu tangan dan semua air muka milik murid-murid SMA Underworld di sekitar mereka langsung berubah roman.
"HAJARRR!" seru Aiacos dengan lantang—seringai pada wajahnya nampak melebar diikuti dengan semua murid SMA Underworld yang langsung bergerak maju menyerang Kardia, Manigold dan Defteros secara membabi buta.
.
.
.
Dengan gusar, Sisyphus melirik jam tangan yang tersemat pada pergelangan tangannya. Hari beranjak petang dan sosok kedua temannya belum nampak juga.
Nyatanya kabar tersebut terlambat datang kepadanya—El Cid, yang terlebih dahulu harus membuka latihan pertama ekstrakulikuler kendo, baru tiba di ruangan OSIS pukul 3 sore. Saat itulah ia mengetahui bahwa Kardia dan Manigold pergi menuju SMA Underworld.
Dohko yang berdiri tak jauh dari sosok sang ketua OSIS—Sisyphus, juga merasakan hal serupa. Siswa berzodiak Libra itu nampak tak sabar, lantas ia menoleh menatap Sisyphus.
"Kita kagak bisa nunggu doang, bro. Lo harus ngirim kita ke sana," pinta Dohko yang disahuti hela napas berat milik Sisyphus.
Kedua alis siswa yang memenangkan kursi jabatan ketua OSIS—jabatan yang juga diinginkan oleh Aspros, tersebut kemudian menggelengkan kepala.
"Gak ada jaminan dengan kita dateng ke sana, kita bakal ketemu sama mereka. Buruknya, malah kita yang ngundang ribut yang ga perlu," jawab Sisyphus bijak seperti biasa—namun di balik ketenangan itu, terdapat kegelisahan luar biasa yang tersembunyi memikirkan nasib kedua temannya yang tak diketahui.
"Ribut pun gua kagak peduli! Gua kagak bisa diem doang tau temen-temen gua di sana mungkin udah abis digempur abis-abisan!"
Amarah Dohko meledak dan dengan kasar, ia berjalan berderap—hendak meninggalkan ruangan OSIS namun langkahnya seketika terhenti ketika seseorang datang menahan pundaknya dari belakang. Dohko langsung menoleh dengan wajah merah padam akibat emosi.
"Apaan?! Lepasin gua—"
"DOHKO!"
Shion membalas sengit tatapan murka dari sahabatnya itu lalu menggelengkan kepala dengan gerakan tegas.
Ekspresi pada wajah Dohko nampak mengeras menatap wajah sang sahabat—mau tak mau, emosi yang tadinya menggelegak langsung kembali ditelan. Kedua alis tebalnya menyatu dengan pikiran kembali melayang ke kedua sosok milik Manigold dan Kardia.
Di tengah ketegangan yang tercipta di dalam ruangan tersebut, Hasgard—yang sedari tadi hanya berdiri melipat kedua lengan kekarnya lalu bersuara saat melihat siapa yang muncul di ambang pintu ruangan.
"Huh? Defteros?!" Belum reda keterkejutannya, Hasgard dibuat terbelalak saat melihat apa yang dibawa Defteros di dalam kedua lengannya, "Kardia! Manigold!"
Seketika, semua perhatian dari setiap kepala yang ada di dalam ruangan OSIS berganti haluan—kini tertuju ke arah pintu yang menjeblak terbuka.
Tampak di sana, Defteros berdiri menghalangi sinar keemasan langit sore dengan tubuh Kardia dan Manigold terkulai di dalam kedua lengan kokohnya. Kedua teman bengalnya itu nampak terkulai tak berdaya—tak sadarkan diri.
Kondisi ketiganya juga nampak memilukan—dengan seragam dan kaus yang robek tak berbentuk, luka memar dan lebam terjiplak jelas di setiap senti tubuh mereka, kucuran darah mengalir dari sela dahi menuruni sisi wajah.
Perkelahian yang baru saja ketiganya alami berlangsung sengit dan nyaris tak ada akhir mengingat banyak sekali anak buah milik Aiacos yang datang menyerang—menggempur ketiganya tanpa ampun.
Tanpa bersuara dan dengan separuh wajah yang tertutup oleh rambut, Defteros melangkah masuk lalu menjatuhkan kedua tubuh Kardia dan Manigold ke atas lengan kekar milik Hasgard yang refleks terulur.
Keriuhan dengan begitu saja tercipta saat semua anggota OSIS yang ada di dalam ruangan itu datang menghambur—membantu mengangkat tubuh Kardia dan Manigold untuk segera dibawa ke ruang kesehatan.
Asmita—dengan kedua alis yang menyatu, tak dapat bersuara banyak. Ia hanya bisa menatap sosok jangkung milik Defteros yang dengan cepat melangkah pergi dari ruangan OSIS tanpa bisa mengejar karena saat itu, Sisyphus memerintahkannya untuk segera membuka ruang kesehatan dan menyiapkan pertolongan pertama.
.
.
.
"ALBAFICA!"
Keras, suara bariton milik Shion terdengar saat berusaha menghentikan langkah sang kekasih di teras depan ruang kesehatan. Dengan gerakan cepat, Shion mencekal lengan Albafica dan memaksa siswa cantik berzodiak Pisces itu untuk diam di tempat.
Yang dihentikan gerakannya jelas tak terima begitu saja—dengan sengit, Albafica menoleh dan melemparkan tatapan tajam ke arah kekasihnya itu. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Gue gak peduli siapapun lo sekarang, Shion. Lepasin tangan gue," pinta Albafica dengan nada tajam.
Shion—yang menyadari Albafica hendak meninggalkan ruangan kesehatan, jelas dapat langsung membaca keadaan. Siswa berambut baby blue tersebut tentu tak akan diam.
Sejak kemarin, Albafica terus mengucapkan kalimat yang tak dapat Shion terima—menyalahkan diri sendiri atas insiden yang menimpa Degel dan saat ini, kondisi Kardia dan Manigold yang mengenaskan sudah lebih dari cukup untuk memicu gelegak emosi di dalam dirinya.
Sebuah gelengan keras menjadi jawaban—Shion nampak tak gentar oleh kalimat bernada tak ramah yang kekasihnya lontarkan. Cengkraman pada lengan Albafica justru ia eratkan.
"Lo pikir gue bakal ngebiarin lo bertingkah gegabah kayak begini?" tanya Shion tak kalah tajam—dan kalimat itu tak serta-merta membungkam Albafica karena suara milik siswa cantik tersebut langsung balas menyahut.
"Gue bisa jamin semuanya kelar! Lo dan semuanya ga perlu ngalangin jalan gue!"
"Lo punya jaminan apa dengan lo ngedatengin Minos dan semuanya bakal kelar?"
"Seenggaknya gue tau apa yang sebenernya Minos mau!"
"Yang dia mau itu elo! Paham?!" balas Shion dengan nada pedas—yang seketika langsung membungkam bibir tipis milik Albafica.
Wajah milik siswa cantik itu mengeras dengan gigi yang bergemeretak menahan rasa geram. "... Gue tau. Gue paham," dan volume suara yang keluar dari bibirnya turun dengan begitu drastis. Albafica menekuk wajah dengan kedua kelopak mata mengatup rapat. "Gue tau, Shion. Gue tau! Dan semua ini tuh konyol! Cuma karena gue, semua orang kena libas!"
Kalimat yang ingin keluar seketika tercekat di pangkal kerongkongan—Shion terdiam dengan dahi mengerut dalam-dalam. Tatapan dari kedua iris coklat kemerahannya nampak nanar saat menatap sosok sang kekasih yang ada di hadapan.
Yang dilakukan oleh Minos dan kedua teman bengalnya itu memang sudah berada di atas batas wajar.
Shion mendengus keras lalu dengan sebuah gerakan cepat dan tegas, ia menarik tubuh Albafica ke dalam dekapan—erat dan kokoh, kedua lengannya melingkari tubuh sang kekasih guna meredam getar. Suara bariton miliknya lantas kembali terdengar—lirih dalam bisikan sehalus angin sore itu.
"Gue gak sebodoh itu ngebiarin lo ngedatengin Minos, apapun kondisi lo," ujar Shion seraya mengusap rambut panjang nan halus milik Albafica. Yang berada di dalam rengkuhan perlahan melunak—namun Shion tahu bahwa Albafica takkan menyerah begitu saja.
Mengingat, tabiat penyendiri milik siswa berzodiak Pisces itu yang lebih gemar melakukan apapun seorang diri dan hal itu pula yang menjadi alasan mengapa Shion tak ingin melonggarkan perhatian—terlebih dengan adanya Minos yang sewaktu-waktu dapat membuat Albafica melayang pergi dari genggaman.
"Bilang, apa yang harus gue lakuin sekarang?" tanya Albafica dengan suara rendah—jika ia terkenal oleh sikap keras kepalanya, Shion justru lebih keras kepala lagi dan Albafica sadar, ia takkan menemukan celah untuk keluar jika kekasihnya itu sudah berkata demikian.
Shion kemudian menganggukkan kepala tanpa melepaskan dekapan, "Sisyphus udah buat rencana dan kita semua bakal dikasih tau secepetnya."
.
.
.
"Bangsat..." umpat Defteros saat mencoba meluruskan satu kakinya.
Valentine yang membawa tongkat bisbol saat perkelahian berlangsung, sempat melayangkan beberapa pukulan ke arahnya—kini punggung, lengan, dan kakinya terasa sakit luar biasa.
Nyaris mati rasa karena yang Defteros rasakan hanyalah ngilu yang menyengat saraf. Bahkan untuk menarik napas pun begitu sulit—ia ingat betul akan bagaimana Valentine membuat rubuh kedua kakinya dan dengan begitu saja, Violate datang menerjang dadanya telak di tengah.
Dengan napas naik turun, Defteros menyandarkan punggung telanjangnya pada dinding bangunan gudang belakang yang dingin. Sekujur tubuhnya tampak dipenuhi luka lebam, tak pelak wajahnya yang babak belur. Kedua matanya memejam pelan seraya berusaha meredam detak jantung yang berdebar keras.
Melibas semua murid SMA Underworld yang saat itu menyerang ketiganya bukanlah perkara mudah. Aiacos memiliki anak buah lebih dari setengah dari jumlah semua murid SMA tersebut dan sisanya adalah mereka yang setia pada Minos dan Rhadamanthys.
Valentine dan Violate juga bukan lawan tanding yang dapat dengan begitu saja diabaikan—kemampuan bertarung kedua pengikut paling setia dari Rhadamanthys dan Aiacos tersebut berada jauh di atas level anak buah trio bengal SMA Underworld lainnya.
Ditambah, dengan kondisi Kardia dan Manigold yang sudah habis duluan sebelum ketibaannya. Perkelahian siang tadi mungkin takkan berhenti jika salah satu dari mereka belum ada yang tewas di tempat.
Dengan kondisi Kardia dan Manigold yang jatuh tak sadarkan diri di akhir perkelahian, Defteros terpaksa menggotong kedua tubuh mereka sambil masih harus memerangi sisa anak buah trio bengal SMA Underworld yang tersisa.
Minos, Rhadamanthys, dan Aiacos juga tak terlihat lagi di akhir perkelahian—kemungkinan besar, Rhadamanthys dan Aiacos terlebih dahulu melarikan Minos dari sana karena yang Defteros lihat, Minos mengalami luka yang cukup parah di area kepala.
Dengan jiwa yang nyaris lepas dari raga, setidaknya Defteros dapat kembali ke sekolah bersama Kardia dan Manigold—dan mungkin setelah ini, ia takkan bisa muncul ke permukaan selama beberapa saat. Setidaknya sampai ia cukup sembuh untuk menegakkan badan.
Saat itu, Defteros nyaris jatuh tertidur ketika ia rasakan kehadiran lain tak jauh dari duduknya—refleks, ia membuka mata dan menolehkan wajah. Kedua mata lebamnya memicing, berusaha untuk memperjelas pandangannya yang kabur.
"Defteros."
Suara itu...
Kedua alis milik Defteros lantas menyatu dan suara seraknya terdengar mengikuti, "...Asmita?"
Si pemilik nama hanya menarik sudut bibirnya—tersenyum tipis, lalu mengambil posisi duduk tepat di sisi tubuh besar milik Defteros. Defteros sendiri tampak tertegun lalu mengalihkan arah pandang.
Tanpa berkata-kata, Asmita segera meletakkan semua perlengkapan pengobatan yang ia bawa dari ruang kesehatan ke atas lantai ubin di sisi luar bangunan gudang—dan kesunyian dengan begitu saja datang menyergap. Tak ada satupun dari keduanya yang bersuara lagi.
Asmita sibuk membersihkan luka pada lengan dan tubuh milik Defteros, sedang Defteros sendiri hanya diam dengan kedua kelopak mata yang terkatup. Tak ada ingin untuk membahas apa yang terjadi siang itu—bagi keduanya, hal itu sama-sama menyakitkan.
Asmita dengan rasa ibanya atas kondisi Defteros yang hancur parah dan Defteros dengan keengganannya menunjukkan kondisi diri saat lemah—dan yang akhirnya membuka suara adalah Defteros.
"Lo belum pulang? Hari udah gelap."
Aktivitasnya membaluri alkohol pada luka sejenak terhenti—Asmita melirik Defteros sekilas lalu menghela napas. Sikap tenangnya terjaga—atau ketenangan itu justru karena dapat memastikan Defteros saat itu berada di sisinya.
"Belum. Aku baru selesai ngebersihin luka Kardia sama Manigold," jawabnya yang lalu segera menambahkan, "Maaf, aku baru bisa dateng sekarang."
Mendengar itu, Defteros mendengus namun bibirnya membentuk seringai geli.
"Jangan bandingin gue sama dua tengil itu. Yang begini doang gak bakalan bikin gue mati," ujar Defteros dan Asmita hanya bisa menyatukan kedua alis—nampak tidak setuju.
"Dan aku juga lagi nungguin orang yang janji mau dateng ngejemput," tambah Asmita dengan kalimat sarkastik untuk mencarikan suasana. Yang dikatakan seperti itu kembali mendengus geli.
"Yeah, sorry. Gue telat," ucap Defteros—menoleh menatap Asmita dan telapak tangan besarnya dengan begitu saja mendarat ke atas puncak kepala siswa cantik berambut pirang tersebut. "Sorry," ucapnya lagi namun dengan suara yang lebih dalam kali ini.
Defteros lalu membawa dirinya mendekati tubuh ramping Asmita dan menyandarkan kepala pada pundak siswa berzodiak Virgo tersebut. Wajahnya lantas tenggelam pada ceruk leher Asmita dengan kedua mata kembali terpejam.
Hela napas halus kembali Asmita hembuskan—di balik ketenangannya yang tak terbaca, debar jantung di dalam dada kini berdetak lebih kencang dan dengan tanpa berkata-kata untuk membalas ucapan Defteros, Asmita hanya diam sambil mengusap-usap rambut biru milik si bungsu Gemini tersebut dengan perlahan.
.
.
.
[ W/N ]
End ga ya? /lu