Disclaimer: Tsukiuta (c) Tsukino Production
Warning: AU, BL, typo, OOC. Don't Like, Don't Read! ;)
Summary: [Omegaverse] [hajishun, kaiharu] Haru masih tidak mengerti, bagaimana sebuah rasa bisa bertahan begitu lama meskipun terhalang jarak dan waktu, bukannya menghilang. Mungkin cinta adalah sesuatu yang seperti itu.
Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.
XoXo-XoXo-XoXo
Demure © Kiriya Diciannove
XoXo-XoXo-XoXo
1.
Pertama kali pandangan mereka bertemu dalam jarak dekat adalah di sebuah acara pesta di mansion keluarga Mikazuki. Shun sangat mengenali anak lelaki di hadapannya itu, berjuluk Kuro-ouji meskipun masih muda, Hajime terkenal karena merupakan salah satu alpha berbakat. Selain itu, dia merupakan anggota keluarga Mutsuki yang berada pada tingkat teratas dari tujuh keluarga ternama di Jepang.
Jika itu tentang memperhatikannya dari kejauhan, maka Shun dapat dikatakan cukup sering melakukannya. Di acara pesta manapun yang dia datangi, mencari keberadaan Hajime adalah hal pertama dia lakukan. Tak perlu bicara padanya, cukup melihatnya saja sudah membuat Shun berpuas hati. Meskipun selalu terbesit harapan untuk dapat meraih jarak lebih dekat.
Menatapnya lebih dekat membuat Shun semakin terpesona, Hajime terlihat begitu keren di matanya. Sangat keren. Iris lime nya berbinar, senyum menghias wajahnya begitu saja. Untuk kesempatan bertukar sapa yang menghampiri, Shun memberikan senyum termanisnya untuk Hajime.
"Namaku Shimotsuki Shun!"
"Aku Mutsuki Hajime."
XoXo-XoXo-XoXo
"Hei, hei, Haru~" Shun menyandarkan punggung pada bangku taman. Cangkir tehnya diletakkan pada meja. Keheningan yang diciptakannya lepas setelah berpikir cukup lama.
"Ya?" yang ditanya menyahut, menghentikan kegiatannya merapikan kebun bunga sejenak. Pandangan tertuju pada sosok yang bersantai.
Shun menumpu dagunya dengan pandangan menerawang, "Apa menurutmu Hajime tidak senang dijodohkan denganku?"
Haru diam, gunting besar ditangannya diletakkan di rumput. Takut jika melakukan kesalahan memotong bagian tanaman karena diajak bicara oleh Shun, "Aku tidak tahu tentang perasaan orang lain, kenapa kau berpikir seperti itu, Shun?"
"Karena dia selalu sibuuuk! Dia jarang berkunjung kemari, dan setiap kali ada acara jamuan, kami hanya sempat bicara sebentar lalu dia meninggalkanku untuk bicara dengan tamu undangan lain! Bagaimana dengan cerita cinta yang selalu romantis seperti di novel? Apa yang seperti itu tidak eksis di dunia kita ini? Hajimeee~"
Haru merapikan frame kacamatanya yang terasa sedikit bergeser, "Bukankah Hajime sekolah asrama khusus alpha? Tentu saja sulit untuk bertemu dengannya."
"Tapi—tapi—tapi dia jarang sekali menelponku, tunggu, dia tidak pernah menelponku, tapi selalu aku yang menelponnya duluan!"
"Shun sangat menyukai Hajime, ya?"
"Dengan sepenuh hatiku." Shun menuturkan dengan nada lembut. "Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Seandainya salah satu diantara kami tidak tertarik, bisa saja perjodohan dari orang tua kami ini dibatalkan. Aku tidak mau itu terjadi~" wajah Shun terlihat depresi setelah melontarkan ucapan itu dan menutupnya dengan kedua tangan. "T—tapi jika Hajime tidak bahagia denganku, aku bisa apa?"
"Kupikir Shun adalah orang yang patut untuk diperhitungkan sebagai pasangan." Haru tampak menghitung kelebihan Shun dengan jari-jarinya. "Kau salah satu dari tujuh keluarga ternama di Jepang, omega yang berbakat, wajahmu menarik—dan kau pemilik peringkat tertinggi di sekolahmu, kan?"
Kecuali pada bagian terlalu santai—Haru ingin menyebutkan hal itu sebenarnya.
"Ehh~ kupikir aku termasuk biasa saja. Haru juga mendapatkan nilai tertinggi di sekolahmu, kan?" Shun melirik sang sahabat masa kecil.
"Sekolahku sekolah umum. Berbeda dengan sekolah khusus seperti kalian. Beta sepertiku memiliki dunia yang berbeda dari kalian." Haru melanjutkan kegiatannya memotong tangkai-tangkai bunga yang layu. "Rasanya aku tidak layak untuk disejajarkan dengan kalian. Apalagi Hajime adalah alpha."
"Haru terlalu merendahkan diri, kau memiliki banyak pencapaian yang membuatku mengagumimu. Lupakan pekerjaanmu sejenak dan temani aku menikmati langit sore dengan teh Earl Grey buatan Sasaki-san."
"Kebun bunga ini adalah tempat yang menjadi tanggung jawabku. Jadi aku harus merawatnya dengan baik."
"Haru sudah merawatnya dengan baik, jadi—" Shun menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, "Duduklah disini dan dengarkan isi hatiku tentang Hajimee! Ayoo~"
Ah, menjadi sahabat sekaligus pelayan Shun memang tidak mudah.
Haru menghela napas, namun tetap mengikuti arahan Shun untuk duduk di sampingnya. "Bukannya sebentar lagi kau ada les piano?"
"Tapi aku bosan bermain piano, aku sudah hapal semua partitur~"
"Shun, sepertinya kau harus mengurangi sikap mal—santaimu, Aku meyakini Hajime menyukai orang yang selalu berusaha melakukan hal terbaik dalam segala hal."
"Ehh~ tapi aku selalu melakukan hal terbaik yang aku bisa."
Haru menggeleng, "Tidak. Meskipun kau pandai dalam banyak hal, kau masih sering bolos les. Sebaiknya kurangi hal itu. Kalau Hajime tahu—hmm, kupikir itu tidak bagus. Kau tahu kalau Hajime adalah orang yang tekun dan serius, kan? Kau harus mencontohnya, agar kalian dapat berada pada tempat yang sejajar. Kau ingin berada di sampingnya kan?"
"Hm! Tentu saja!" Shun segera menyahut mantap, kedua tangannya terkepal.
"Yang ingin berada di samping Hajime tidak hanya kamu saja, pasti banyak dari keluarga lain yang ingin disandingkan dengannya. Jika kamu terlalu santai, tempatmu akan berbahaya. Kau sendiri yang bilang, kalau kau tidak tahu bagaimana perasaan Hajime padamu. Karenanya…" Haru melirik Shun dengan sudut matanya.
"Karenanya?" Shun menatapnya penasaran.
"Kamu harus melakukan hal yang terbaik agar pandangan Hajime tertuju hanya padamu."
"Ohh…." Shun mengangguk-angguk paham.
"Kalau begitu, cepat bersiap untuk les piano!" Haru tersenyum padanya sambil mengibaskan tangan.
"Ehh~"
Shun selalu menceritakan seberapa besar rasa sukanya pada Hajime setiap saat kepada Haru. Jujur itu membuat Haru bosan sekarang—karena terlalu sering mendengarnya. Nyaris setiap saat, nama Hajime melewati pendengarannya. Sebagai teman masa kecil Shun merangkap cucu kepala pelayan keluarga Shimotsuki, Haru sudah diberi kepercayaan untuk menjaga sang tuan muda. Bukan hal yang mudah untuk dihadapi, tapi Haru rasa dia sudah terbiasa. Menghadapi Shun menjadi lebih mudah jika melibatkan nama Hajime di dalamnya. Ya—sosok yang dijodohkan dengan Shun sejak empat tahun lalu.
Haru masih tidak mengerti, bagaimana sebuah rasa bisa bertahan begitu lama meskipun terhalang jarak dan waktu, bukannya menghilang.
Shun bilang, itu karena sosoknya selalu ada dipikiran kita, dan kita memikirkannya setiap saat. Mungkin cinta adalah sesuatu yang seperti itu.
XoXo-XoXo-XoXo
Mereka baru bisa mengikuti tes untuk mengetahui gender kedua disaat umur mencapai dua belas tahun—lebih tepatnya setelah lulus sekolah dasar, dimana perbedaan status antar tiap alpha, beta dan omega mulai terlihat. Dan setelahnya, jurusan mereka akan ditentukan berdasarkan hal tersebut. Bergantung dari gender disertai bakat dan kemampuan mereka.
Mendapati dirinya sebagai alpha bukan hal yang terlalu mengejutkan bagi Hajime karena semua orang selalu berekspektasi tinggi tentang dirinya. Banyak tatapan kagum terarah padanya, dia selalu dapat melakukan hal dengan sempurna, nilai memuaskan dalam segala bidang akademik maupun atletik. Terlahir dari keluarga ternama serta memiliki wajah yang tampan. Ditingkatnya, dia adalah alpha paling diidolakan murid di sekolahnya. Hajime tampak seperti memiliki semuanya. Tentu saja, dia tidak mendapatkan hal itu dengan mudah. Baginya memiliki label alpha berbakat—tidak akan cukup tanpa kerja keras. Jika dia berniat mencapai sesuatu, dia tidak akan bermain-main demi meraihnya.
"Yo, tuan muda." Kaca mobil terbuka, dari dalam terlihat lambaian tangan diarahkan pada Hajime.
Hajime yang melangkahkan kaki keluar dari gerbang asrama menatap sang penyapa. Mengarahkan tujuan pada mobil yang sengaja menunggunya.
"Kai, berhenti memanggilku seperti itu."
"Kenapa? Toh Hajime memang tuan muda," Kai terkekeh pelan.
Hajime menatapnya datar seraya membuka pintu mobil. Sementara sang kepala pelayan menanggapi dengan santai.
"Libur sudah tiba, dan kau akan menjadi tuan muda kembali begitu sampai di rumah." Kai melihat raut wajah sang tuan muda dari cermin mobil. Hajime tidak terlihat senang—ya dia juga tidak terlihat sedih. Kai tidak tahu bagaimana suasana hati Hajime sekarang. Semenjak masuk asrama di waktu sekolah menengah pertama, semakin sulit untuk memahami sang tuan muda. Terlebih lagi sudah lama dia tidak bertemu dengan sosok yang jauh lebih muda darinya ini.
"Kau tidak merindukan rumah? Atau tunanganmu mungkin? Dia tentu akan senang sekali jika kau yang menghubunginya duluan."
Hajime melirik arlojinya sekilas, "Kau sudah tahu sendiri apa jadwalku setelah sampai rumah. Aku sibuk." Dia menumpu dagunya, mata violetnya mengarahkan pandangan keluar mobil yang sudah dijalankan menuju ke kediamannya.
Kai mencoba mengingat skedul sang tuan muda; diawali dengan acara minum teh bersama sang kakek. Pertemuan keluarga, kemudian menemani tuan besar bertemu dengan rekan kerja, serta latihan tarian dan musik tradisional untuk festival musim panas.
Hari-hari yang sibuk akan dilalui oleh Hajime, begitu pula dengan dirinya.
Yosh! Kai akan bersemangat menjalaninya. Karena dia adalah pria musim panas yang penuh semangat membara!
XoXo-XoXo-XoXo
"Haruu, Haruu~ Bukankah hari ini Hajime pulang ke rumahnya?" Shun menghampiri Haru yang sedang bercakap dengan maid. Membuat sang maid segera permisi untuk melakukan pekerjaan yang telah diperintahkan.
"Begitukah?" Haru mengerutkan alis, "Kau tahu hal itu dari mana Shun?"
"Aku sudah menghapal kalender akademik sekolah Hajime. Hari ini sudah hari libur, jadi dia pasti pulang ke rumahnya."
"Ah—aku sungguh mengagumi ingatanmu yang sangat bagus itu. Kau harusnya juga mengingat hal lainnya. Sekedar mengingatkan, tanggal heat-mu sudah dekat. Jadi kau tidak bisa berkunjung kesana dalam waktu dekat ini."
"Haruu~" nada yang dilontarkan Shun terdengar setengah merengek, "Setidaknya biarkan aku mendapatkan kabar tentang keadaannya! Tolong!" Shun membuat pose memohon padanya.
"Menelpon Hajime?"
Shun menggeleng, "Menelpon sang kepala pelayan keluarga Mutsuki!"
Haru memandang ponsel pintar yang dikeluarkannya dari saku, "Menelpon Kai-san?"
"Soalnya Hajime pasti sibuk, jadi setidaknya cukup tahu bagaimana keadaannya dari Kai. Apakah dia tambah tinggi—atau tambah tampan begitu? Oh ya! Kau bisa bilang kalau nilai ulangan home economics milikkku kali ini paling tinggi! Tolong ya! Aku harus les tata krama setelah ini! Terima kasih Haruu~" sebelum pergi, Shun menyempatkan diri untuk memeluk sang beta sekian detik. Sejurus kemudian melambaikan tangan dari kejauhan.
Ya ampun... Memang sih, Shun sekarang menjadi lebih rajin. Tapi, apa semua orang yang tenggelam dalam cinta selalu merepotkan seperti ini?
Haru rasa dia tidak memiliki banyak pilihan sehingga yang dia lakukan sekarang adalah mendial nomor telepon milik Kai. Dia tidak terlalu mengenal pemuda itu, namun setahunya Kai adalah alpha yang sekarang menjabat kepala pelayan keluarga Mutsuki semenjak empat bulan yang lalu, setelah menyelesaikan pendidikannya di Los Angeles. Yang berarti bahwa pemuda itu adalah sosok alpha hebat. Mereka pernah bertemu di Tokyo sekali, saat Haru menemani kakeknya menyampaikan surat undangan. Pemuda itu tegap berkharisma, dipuji oleh kakeknya karena sikapnya yang santun. Memang susah jika itu dibandingkan dengan dirinya yang hanya berstatus sebaga beta dan masih anak sma.
"Halo?"
Suara baritone membuat Haru melepas lamunannya, "Ah, Kai-san. Aku Yayoi Haru—pelayan dari keluarga Shimotsuki jika kau masih ingat."
"Oh, aku mengingatmu. Pemuda dengan kacamata dengan surai ikal itu." Kai bersandar di sebelah vending machine. "Jika kau ingin menanyakan tentang Hajime karena titah dari tuan mudamu, aku akan menjawab sebanyak yang kau inginkan, karena menunggu tuan muda Hajime dalam acara keluarga akan memakan waktu yang lama."
"A—ah, dia memang orang yang sibuk ya." Haru mengangguk maklum.
"Hajime hanya terlalu serius dalam melakukan berbagai hal."
"Menurutku itu tidak sesulit menangani tuan muda yang selalu berniat melarikan diri dari segala kewajibannya."
Kai tertawa renyah. "Setidaknya kau punya hari yang penuh warna."
"Warna-warni yang begitu mencolok hingga aku harus memakai kacamata karenanya." Hal itu diucapkan Haru dengan nada setengah bercanda.
Percakapan ringan mengalir begitu saja setelahnya.
XoXo-XoXo-XoXo
Shun pernah beberapa kali berkunjung ke rumah keluarga Mutsuki, dalam rangka pertemuan antar kepala keluarga klan besar. Mengikuti acara orang tua berbasis bisnis bukan merupakan hal yang dia senangi, hingga hal yang sering dia lakukan adalah menyelinap keluar, berjalan entah kemana untuk sekedar menghilangkan kebosanan.
Dia tidak mengenal Hajime waktu itu, belum ada ikatan apapun diantara mereka. Yang Shun lakukan adalah mengintip dari balik koridor, memperhatikan seorang anak seumurannya sedang memainkan biola tanpa kesalahan sedikitpun, musik mengalun begitu merdu hingga nadanya memanjakan indera pendengaran. Lagu berakhir dan tanpa sadar pemilik surai putih itu bertepuk tangan karena terpesona. Hajime mendengar suara tepukan dan menatap ke arah pintu geser yang sedikit terbuka. Menyadari dengan segera bahwa mengintip bukan perbuatan terpuji, Shun terkesiap dan bergegas kembali ke ruangan pertemuan.
"Hajime waktu itu keren sekali~"
"Aku sudah sering mendengar hal ini, Shun." Haru menoleh sejenak kepada penghuni di kasurnya. Kegiatannya mencatat materi terhenti. "Kenapa kau ada di kamarku? Apa kau dapat izin datang kemari? Nanti Sasaki-san panik lagi karena kau menghilang begitu saja."
"Ehh~ aku sudah minta izin kok. Aku kemari tentu saja untuk mendengar kabar tentang Hajime! Apa dia tambah tinggi? Tambah tampan? Apa kau sudah memberi tahu Kai kalau aku sudah berjuang dengan baik semester ini?"
Mencoba mengingat pembicaraan ditelpon, Haru sedikit mengerutkan alis. Pembicaraan mereka yang harusnya bertujuan untuk mengetahui segala hal tentang Hajime untuk Shun malah jauh melenceng, berubah menjadi Haru dan Kai membahas tentang apa saja hal menarik yang bisa dilakukan musim panas. Kenapa ya—
"Haru?"
"A—ah ya, aku lupa menanyakan hal itu."
"Ehhh?! Lalu tadi kalian ngobrol tentang apa?!"
"Bercanda kok."
"Haruu!"
XoXo-XoXo-XoXo
Kamar sudah beberapa waktu tidak terjamah olehnya semenjak sekolah asrama khusus alpha, tidak ada perubahan sejauh dia mengingatnya. Hanya saja terasa begitu luas karena dia telah terbiasa dengan keadaan dorm yang cukup minimalis. Perbedaan lainnya adalah kamarnya di asrama memakai kasur sedangkan disini hanya satu set futon terhampar.
"Permisi—wah, apa kau sebegitu merindukan kamarmu hingga hanya berdiri diam seperti itu?"
Menoleh pada sumber suara, Hajime mendapati Kai melongok dari pintu. Dia melihat Kai membawa nampan minuman dan kudapan, membuatnya sedikit mengerutkan alis, "Tidak juga."
Kai mengangguk, masuk ke dalam untuk meletakkannya di atas meja. "Baiklah, take your time then. Aku hanya membawakan ini karena perintah ayahmu."
"Kau—bisa menemaniku minum, Kai."
Kai menanggapi dengan senyum lebar, seakan tahu kalau ini akan terjadi. "Tentu saja, kalau tuan muda yang meminta."
"Sudah kubilang, berhenti memanggilku seperti itu." Hajime duduk menghadap meja.
"Hanya kau saja yang meributkan hal ini. Yuki tidak mempermasalahkan ketika aku memanggilnya dengan sebutan nona muda. Meskipun kita sepupu, aku hanya dari keluarga cabang. Jadi sebaiknya aku memanggilmu dengan formal sebelum aku diomeli ayahku." Ungkap Kai seraya menuangkan ginger tea dari teko ke gelas untuk Hajime.
"Dulu kau tidak memanggilku dengan embel-embel."
"Dulu kita masih kecil, orang dewasa memaklumi hal itu. Tenang saja, aku masih menganggapmu adik yang manis." Kai mengacungkan ibu jarinya.
Hajime memutar bola matanya, "—aku sudah bukan anak kecil lagi."
Kai menyesap ginger tea miliknya, "Itu tidak akan menghilangkan fakta kalau aku jauh lebih tua darimu. Tapi ya—kau memang banyak berubah. Sudah lima tahun kan? Yuki sudah kelas sembilan. Dan kau kelas—"
"Dua belas."
"Wow. Adik manis yang dulunya pernah nakal sudah jadi alpha yang gagah."
kendati terdengar seperti pujian, Hajime tidak berminat menanggapinya, "Kenapa memilih kembali untuk menjadi kepala pelayan? Kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih mudah di perkantoran dengan status alpha itu."
"Wah, apa ini? Kenapa kita malah membahas hal semacam ini? Bukankah setelah lama tidak bertemu, harusnya kita bernostalgia atau membahas hal menarik lainnya?"
"Kehidupan asramaku biasa saja." sahut Hajime setelah meneguk ginger tea yang menghangatkan tenggorokan.
"Meskipun yang kudengar katanya kau sangat populer di sekolah."
"Aku tidak akan menampik hal itu."
Kai tertawa, "Haha. Lalu tentang tunanganmu itu bagaimana? Jujur aku penasaran dengannya. Dia sering menanyakan keadaanmu, kau tidak ingin menelpon sekedar menyapanya?"
Jam dinding di kamarnya menjadi fokus Hajime. Jam itu masih berputar dengan detik yang berbunyi, menyatakan kalau waktu terus berjalan. Jarum pendek menunjuk ke arah angka sebelas.
"Sudah larut malam. Aku tidak ingin mengganggu."
"Kupikir dia tidak akan merasa terganggu jika itu darimu. Haru berkata kalau Shun sangat bersemangat untuk memberitahukan padamu kalau nilai ulangan home economics-nya mendapat nilai tertinggi. Benar-benar jodoh pilihan. Tidak ingin kalah denganmu."
"Dia omega yang berbakat."
"Dia berbakat, tapi dia berusaha keras demi dapat pujian darimu."
"Huh?"
"Jangan tanya kenapa. Tentu saja karena dia sangat menyukaimu. Bukankah itu sudah jelas. Haru juga bilang begitu."
"Begitukah?"
"Tentu saja. Semua orang dapat melihat dengan jelas hal itu. Kecuali kau—nilai kepekaanmu memang masih tetap saja buruk." Kai menggeleng pelan, "Kau sendiri, terhadapnya bagaimana? Kau juga menyukainya atau hanya sekedar menjalani hubungan ini karena kalian dijodohkan?"
Hajime tahu, Kai bertanya dengan serius. Hal itu terlihat jelas dari sorot mata birunya.
"Ya—kalau kau tidak berniat melanjutkan perjodohan, kupikir aku masih memiliki kesempatan meskipun aku dari keluarga cabang, toh dia tampak cukup menarik." Kai mengangkat ponselnya. Ada foto dua orang disana. Hajime mengenal jelas siapa saja di foto berlatar belakang taman bunga mawar. Terutama seseorang dengan surai albino disertai senyuman tipis. Shun Shimotsuki. Yayoi Haru.
Kai bertanya, apakah dia menyukai omega bernama Shimotsuki Shun yang dijodohkan dengannya?
Mata Hajime tampak berkilat, "Menurutmu?"
XoXo-XoXo-XoXo
[tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
A/N: Kai… tidak ooc kan?
Partner duet ditukar demi plot. Yha, kalo alpha jadi penjaga omega kan bahaya.
Here, Kai, alpha—sepupu Hajime. 23 yo. Haru, beta. 17 yo.
Shun, omega. 18 yo. Hajime, alpha. 18 yo.
Kalteng, 11/08/2017
-Kirea-
Mind to review? :)