Magic Mirror(Kuroko no Basuke) chapter 1 : Kuroko Tetsuya

Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Summary : meskipun sepi dan hampa dalam ingatannya. Namun dia tetap memohon pada sang Bintang, dan dia diberikan cermin besar yang sangat indah untuk kehidupannya yang monoton#Akafem!kuro :3

Warning : typo, OOC, abal, absurd, gila, dan maafkan jika FF ini ada kemiripan dengan FF yang lain, karena FF ku ini hanya untuk kesenangan ku dan belum sanggup membaca semua FF KNB untuk memastikan apakah ceritaku mirip atau tidak
#banyak omong
#plak!

.

.

.

.

.


Disebuah kediaman yang besar. Dihuni oleh sebuah keluarga yang mementingkan urusan sosial daripada keluarga. Kemenangan adalah segalanya, itulah yang keluarga itu percayai.

Namun, setelah kelahiran seorang anak perempuan berambut baby blue, harapan sang ayah dan ibu hancur. Mereka tak menginginkan anak perempuan. Menurut mereka, anak perempuan itu merepotkan.

Mereka marah pada sang bayi yang berusia 3 menit itu. Namun mereka tak bisa membencinya. Itulah naluri orang tua yang mereka anggap menyebalkan tersebut.

Sang kakak yang masih berusia 1 tahun lebih itu hanya menatap adiknya dengan tatapan polos. Berbeda dengan sang adik. Kakaknya itu disayang oleh keluarganya, namun perlakuan dalam belajar tidaklah berbeda dengan sang adik.

Sang kakak bernama Akashi Seijuro , sedangkan sang adik bernama Akashi Tetsuya. Mereka berdua di didik dan dilatih sebagai laki laki. Meski diantara mereka adalah perempuan. Namun sang kepala keluarga tetap menganggap mereka laki laki.

"Tetsuya" panggil Seijuuro pada Tetsuya, sedangkan sang pemilik nama hanya menatap kakaknya dengan tatapan datar. "Besok jangan sampai terlambat,kita berkumpul di perpustakaan." titah sang kakak. Tetsuya hanya mengangguk.

Malam harinya, Tetsuya menatap langit dijendela. Dia berfikir. Kakaknya selalu bersikap dingin padanya. Ayahnya selalu keras padanya. Ibunya? Ibunya bahkan tak pernah berbicara padanya.

Dia ingat kembali, kenangan bersama kakaknya saat kecil, dulu Seijuuro tidak sedingin itu.

#flashback#

Dua anak laki laki dan perempuan itu duduk dihalaman belakang rumah mereka sambil sesekali bercanda ria. "Ne, Tetsuya.. Ini untukmu" ujar Seijuuro kecil sambil menyelipkan bunga kecil berwarna putih pada rambut Tetsuya.

Tetsuya yang mendapat hadiah kecil kakaknya merasa senang "terimakasih Onii-chan!" Tetsuya memeluk Seijuro dan dibalas dengan mengelus surai baby blue sang adik.

Mereka sering bermain disana. Bermain boneka, perang perangan, shogi, tepuk tangan(?),dan yang paling sering bermain sang Pangeran dan tuan Putri. Mereka sangat senang bermain.

Sampai suatu saat sang ayah memerintahkan Tetsuya untuk tetap dikamar. Tetsuya tidak tahu apapun tentang apa yang dilakukan ayahnya disaat dia dikurung selama sebulan.

Disaat itulah sang kakak mulai berubah, lebih mengabaikan Tetsuya dan bersikap dingin padanya. Awalnya dia merasa sakit dengan perbuatan kakaknya, namun lama lama dia sudah terbiasa.

Disitulah dia mulai tidak ingin berekspresi dan selalu berwajah datar. Dia sudah lupa bagaimana rasanya bahagia.

#flashback off#

Kuroko menghela nafas. Jika terus seperti ini dia akan melarikan diri. Namun Tetsuya adalah sosok yang kuat. Jadi dia akan tetap maju dan berfikir positif.

Karena dia mencintai keluarganya, meskipun keluarganya membenci dirinya.

-0-

Siang harinya, Tetsuya lebih memilih menghabiskan harinya di perpustakaan. Keluarganya itu orang kaya. Kesuksesan keluarganya disebabkan oleh pemikiran ayahnya yang selalu berfikir 'menang adalah segalanya'.

Tetsuya tidak suka itu, namun dia tidak punya kekuatan untuk mengatakan hapada ayahnya.

Disela sela acara membaca buku yang dilakukan Tetsuya, tiba-tiba kakaknya berada disampingnya.

Tetsuya tidak terkejut, namun heran. Sudah lama sekali Seijuro duduk disebelahnya seperti ini. Tetsuya pun memandang kakaknya dengan tatapan bingung

"Jangan salah paham, aku hanya ingin membaca buku" ujar Seijuro tetap memperhatikan bukunya, meskipun tak menatap Tetsuya, namun dirinya tahu bahwa adiknya sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

Dia dulu menyayangi Tetsuya , namun rasa sayangnya perlahan menghilang karena hasutan oleh ayah mereka. Dan Seijuro tidak menyadarinya.

Tetsuya masih bungkam. Meskipun kakaknya berubah, namun Seijuuro tetaplah kakaknya yang dia sayangi.

Naif memang.

Tetsuya pun kembali membaca bukunya dalam diam sesekali melirik sang kakak yang masih sibuk membaca buku dan dokumennya secara bergantian.

-0-

Malam hari itu , Tetsuya memandang langit malam lagi. Merenungkan setiap kejadian yang terjadi di keluarganya.

Keluarganya membenci anak perempuan , oleh sebab itu keluarganya selalu memperlakukannya seperti anak laki-laki.

Padahal semua tahu bahwa dirinya adalah anak perempuan.

-0-

Keesokan harinya Seijuro dan Tetsuya bersama di dalam kamar atas perintah ayahnya. Itu membuat Tetsuya merasa gugup meski mimik wajahnya datar.

Kesunyian itu berlangsung sangat lama sampai Tetsuya memanggil sang kakak "onii-sama "

Sang kakak pun memandang wajah Tetsuya "ada yang ingin aku tanyakan "Tetsuya memandang lurus ke mata heterochromia Seijuuro. Seijuro pun mengangguk mengiyakan .

"Kenapa Onii sama bersikap dingin padaku? " Seijuro membelakangi Tetsuya "itu karna aku adalah penerus perusahaan, dan sebagai penerus aku harus bersikap lebih dewasa dan tidak memanjakan keluarga, jadi kamu harus paham"

Setelah mendapat jawaban Tetsuya menutup mulutnya diam. Sudah cukup jawaban dari kakaknya itu. Dia memilih diam sampai malam.

Padahal dia sendiri paham, bahwa hatinya selalu merasa tidak enak dan sakit dengan perkataan keluarganya.

.

Malam itu Bulan bersinar dengan terang, Tetsuya kembali merenungkan kata kata kakaknya. 'jika mereka bahagia, maka aku siap menjadi sosok laki laki dikeluarga ini' pikir Tetsuya sambil menatap langit.

Sebenarnya keluarga Akashi(kecuali Tetsuya) sedang kebingungan. Salahkan pada surat ancaman yang sudah seminggu ini selalu datang.

Akashi dan ayahnya selalu memikirkan jalan keluarnya serta siapa yang melakukannya. Sudah jelas ini adalah surat pembalasan dendam tanpa uang tebusan.

Keluarga Akashi memang memiliki banyak sekali musuh. Karena semakin tinggi derajatnya, maka semakin banyak yang ingin menjatuhkannya.

Tapi, ayah Akashi memutuskan untuk mengabaikannya, meskipun itu ditentang oleh Seijuro. Seijuro bukan orang yang akan berhenti sebelum masalah selesai.

Sepertinya, Akashi lebih memilih untuk waspada pada kemungkinan terburuknya. Meski dia masih berusia 12 tahun(Kuroko 11 tahun). Namun bukan berarti dia tidak mengerti suasana.

Seijuro memang selalu berfikir logis, memperhatikan, menganalisa, dan menyusunnya menjadi sebuah fakta. Genius.

.

Malam itu Tetsuya berjalan menuju Taman belakang rumahnya. "Orang kaya mah bebas..." kuroko berhenti didepan tanaman Mawar merah "...itu lah kata orang-orang" lirih Tetsuya sambil menatap Mawar.

'Indah namun menyakitkan' pikirnya.

Tetsuya tidak habis pikir dengan cara berfikir orang-orang disana. Menjadi orang kaya dan mempunyai derajat yang tinggi tanpa adanya amal perbuatan baik itu sangatlah memuakan.

Tetsuya merasa sebal.

Tidak ada yang tahu, semua keluarga Akashi sedang bersantai dan bercengkrama bersama. Tanpa Akashi Tetsuya tentunya.

Tak ada yang menyadari bahwa malam itu adalah malam yang mengerikan.

.

Buk-!

Belakang kepala Tetsuya dipukul oleh kayu besar. Sakit. Itulah yang dirasakan Tetsuya.

Namun Tetsuya masih sadarkan diri dan menatap pelaku pemukulannya itu yang terhalang oleh sinar Bulan yang bersinar terang. Dengan tatapan datar.

Dan pelaku yang mulai panik langsung memukul kepala Tetsuya lagi tepat dikening Tetsuya.

Tetsuya berhasil mereka rubuhkan.

"Tcih! Apa apaan dia?! Aku sudah memukul nya dibagian kepala dan dia masih bisa menatap ku dengan datar seperti tak merasakan sakit!" si pelaku berbisik dengan kesal. Merasa heran dengan Tetsuya

"Sudahlah, anak bungsu telah tumbang, dengan pukulan tadi, dia tidak mungkin akan bertahan lama" ujar yang lain.

Rumah Akashi telah kemasukan 5 orang penjahat yang siap memporak porandakan rumahnya.

Balas dendam dengan membunuh anak anak mereka adalah tujuannya.

Tanpa adanya penerus, maka mereka akan hancur. Itulah yang ke 5 orang itu pikirkan.

-0-

Pukulan yang diterima Tetsuya sangat kencang, namun entah bagaimana Tetsuya kembali sadar dan menatap sekitar dengan pandangan datar.

'Sakit sekali...' pikir Tetsuya, namun ingatannya langsung tertuju pada keluarganya yang berada didalam. Kekhawatiran langsung menguasai tubuh Tetsuya.

Seakan merasa sakit itu bukan apa apa, Tetsuya kembali berjalan dengan tertatih-tatih akibat sakit yang dia terima.

Dia sangat khawatir

Dia khawatir pada ibunya

Dia juga khawatir pada ayahnya

Dia sangat khawatir pada Kakaknya

'Kumohon...' gadis kecil itu memohon, tak peduli rasa sakit yang dia terima, dia tetap berjalan sampai diruang keluarga.

Disaat itulah apa yang dilihat Tetsuya ingin sekali dia anggap ilusi.

Darah berada dimana mana, darah ayah, ibu, serta kakaknya. Yang dia lihat adalah suara tawa yang terbahak-bahak.

"Hahahahahaha, akhirnya, seluruh keluarga Akashi sudah musnah!" ujar sang pelaku. "Bukankah niat kita adalah membunuh anaknya?" tanya sang temannya. "Eeeh? Benar juga, ah, tapi melihat Masaomi itu membuatku muak sampai aku ingin membunuhnya! Dan sekarang aku merasa puas!"

Perkataan yang sungguh membuat Tetsuya merasa terguncang hebat.
Air mata sudah lolos dari matanya, menutup mulutnya agar isakannya tak sampai terdengar.

Shock hebat. Dia ingin hal ini tak pernah terjadi, pemikirannya kosong, memandang pemandangan yang dia lihat dari balik pintu.

Sampai matanya melihat kakaknya memandangnya dalam diam. Mata heterochrom kakaknya yang tajam menunjukan bahwa Tetsuya harus lari. 'Per...gi... Tetsu...ya...' itulah yang Tetsuya tangkap dari gerak bibir yang tak mengeluarkan suara itu.

Tetsuya merasa hancur. Dia tak sanggup meninggalkan keluarganya, namun mendapat tatapan intimidasi dari Seijuro membuat Tetsuya harus menurut.

"Kita pergi dari sini! Sebelum ada orang yang datang!" ujar sang pelaku pembunuhan.

Beruntung pada kemampuan Tetsuya, yaitu hawa keberadaannya yang tipis, menjadikannya tak terlihat oleh para penjahat tersebut.

Tetsuya berusaha melarikan diri semampunya. Dengan perasaan berkecambuk antara sedih dan takut.

.
Seijuuro menatap mayat orang tuanya yang sudah tak bernyawa dihadapannya. Dia yang terluka parah karena tusukan, luka sobek, dan pukulan yang diterimanya hanya mampu mengedarkan pandangannya pada langit langit rumah.

"Pada akhirnya... Aku... Tak menyu...kainya..." Seijuro menutup matanya yang lelah 'namun aku tak bisa membencimu, Tetsuya' pikir Seijuro membatin.

'Maaf jika aku tak bisa menjadi kakak yang kau harapkan Tetsuya, aku telah bertindak egois dan lupa diri' Seijuro menarik kurva kecil di bibirnya, mengulas senyum.

"Dasar bodoh..." umpat Seijuro pelan.

Akashi Seijuro meninggal dengan penyesalannya selama hidup.

Menyesal tak bisa melindungi keluarganya. Menyesal telah meninggalkan adik perempuannya yang manis.

Menyesal tak bisa menjaga adiknya dari makhluk jahanam yang berani menyentuh adiknya tanpa seizinnya.

Menyesal tak bisa menghajar orang yang telah membuat adik manisnya menangis(padahal dirinya juga)

Karena penyesalan selalu datang di akhir.

-0-

Tetsuya tetap berjalan di jalanan, dia tidak sanggup lagi. Matanya terasa berat dan kepalanya terasa sangat sakit. Dia terus menangis tanpa suara disepanjang jalan.

"Tuhan... Aku ingin lupa... Aku ingin lupa kejadian ini... Aku ingin kejadian ini tak pernah terjadi... Kumohon..." Tetsuya berdoa dengan hati yang tersakiti dan sangat ingin dikabulkan, permintaan egois dari Akashi Tetsuya.

Tetsuya memandang Bintang dilangit yang biasa dia lihat. Dia memohon dengan sangat. Sampai dia tak bisa bertahan dan pingsan ditengah jalan.

.

Sreet-!

"Aduh! Benda apa sih tadi?!" omel anak laki laki yang tersandung gumpalan baby blue dijalan.

"Daiki... Jalan itu yang benar, perhatikan sekitar" nasihat ibunya yang berada jauh dibelakang anak bernama Aomine Daiki.

Aomine pun memperhatikan 'benda' yang membuatnya tersandung itu.
Kecil, Bersurai baby blue, menggunakan pakaian mahal, dan darah.

Aomine kecil langsung kaget "uaaa?! Hei kau! Bangun! Jangan tidur disini!" teriak Aomine panik.

Ibunya yang melihat tingkah anaknya pun bingung "sedang apa nak?" tanya nya pada si kecil Aomine.

"Lihat dia bu!" tunjuk Aomine pada Tetsuya. Wanita itu yang melihat keadaan Tetsuya langsung ikut panik, tanpa basa basi lagi langsung membawa Tetsuya ke rumah sakit.

-0-

Ke esokan paginya langsung disiarkan sebuah berita bahwa keluarga Akashi telah dibantai, dan menyisakan anak bungsunya yang masih menghilang.

Semua berkat keluarga Aomine yang menolong Tetsuya. Semua barang diselidiki untuk kepentingan kasus.

Seorang polisi pun menyerahkan 1 buku diary milik Tetsuya kepada Gaby Aomine. Dan dengan senang hati wanita itu menerimanya.

-0-

Setelah pelaku tertangkap, keluarga Aomine selalu menjenguk si kecil Tetsuya. Dokter bilang dengan kasus yang menimpa Tetsuya dan pukulan keras di kepalanya membuat kemungkinan Tetsuya akan koma atau mengalami trauma hebat.

Tekanan batin dan luka serius dikepala diusia 11 tahun itu bukanlah hal yang sepele. Namun keluarga Aomine yakin Tetsuya tidak lemah. Karena semua keluarga Akashi adalah lelaki yang kuat.

Setidaknya itu adalah pendapat pertamanya.

Sudah seminggu Tetsuya tidak sadarkan diri. Ibu Aomine juga sudah selesai membaca buku diary Tetsuya yang cukup besar untuk dibilang buku diary.

Mereka tidak tahu kenyataan pahit yang diterima gadis kecil Tetsuya yang terlahir di keluarga yang tak menginginkan nya.

Gaby merasa tidak tega dan tak ingin Tetsuya mengingat kejadian pahit di keluarganya.

Pada akhirnya keluarga Aomine memutuskan untuk merahasiakannya sampai Tetsuya mengingat kembali.

-0-

Manik secerah langit musim panas itu telah terlihat. Memandang pemandangan langit langit yang serba putih di ruangan tersebut. Dan jangan lupakan aroma obat obatan disana.

'Rumah sakit...' itulah pemikiran pertama saat dia tersadar. 'Tapi kenapa...?' tanya nya kembali.

Krieet~

Tetsuya menatap sosok yang membuka pintu. Itu adalah sang dokter bersama dengan wanita dan anak kecil berkulit Tan. 'Siapa..?' pertanyaan yang tak kunjung diucapkan.

"Halo nak, bagaimana keadaanmu?" tanya sang dokter berusaha ramah. "Baik. Siapa kalian ini?" tanya Tetsuya datar.

'Datar banget!' teriak imajiner Aomine Daiki. "Dia dari keluarga Aomine" jawab sang dokter. Tetsuya mengangguk paham. Dan dokter memulai memeriksa keadaan Tetsuya agar lebih jelas.

"Kenapa aku bisa disini?" pertanyaan itu langsung keluar saja saat dalam pemeriksaan. Gaby sedikit tersentak "aku dan Daiki menemukanmu pingsan dijalanan" jawab Gaby sekedarnya.

Lagi lagi Tetsuya hanya mengangguk. "Aku tidak ingat..." lirih Tetsuya datar namun bisa didengar mereka.

Dokter pun menghampiri Gaby Aomine "sepertinya anak itu mengalami Amnesia. Tapi sepertinya itu tidak apa apa" ujarnya perlahan agar Aomine Daiki dan Tetsuya tidak mendengarnya.

Gaby memperhatikan Tetsuya dengan tatapan sendu, antara sedih dan kasihan. Sepertinya permintaan Tetsuya didengar dan dikabulkan.

-0-

Setelah 3 hari, Tetsuya dipulangkan dari rumah sakit. Walau selama 3 hari Tetsuya mendapat teman ngobrol, walau sebenarnya mereka hanya terus berdebat dan tidak terlihat akur untuk Aomine Daiki. Tapi itu tidak berpengaruh pada Tetsuya.

Didalam perjalanan pulang juga Tetsuya lebih memilih diam dari biasanya "mulai saat ini, kamu tinggal dirumahku ya? Masalah sekolah atau kebutuhanmu biar aku yang urus" ujar Gaby.

Tetsuya tertegun mendengarnya, meski wajahnya tetap datar. "Terimakasih tante.." balas Tetsuya terpotong. Dia menatap Gaby dengan tatapan teduh "...bisakah kita kerumahku saja?"

Gaby benar-benar terkejut mendengarnya. Namun setelah itu dia tersenyum maklum "baiklah, oh ya, apa kau sudah tahu namamu?" Tetsuya tampak berfikir mendengarnya.

.

Kemudian dia ingat kembali, ingatan yang sangat kabur, "duh... Kamu itu suka sekali menghilang ya? Dasar Kuroko! Mirip seperti bayangan, Tetsuya" ujar seseorang yang tidak lebih tinggi darinya sambil mengelus rambut Tetsuya.

"Tetsuya...?" tanya Tetsuya sambil terus mengingat ingat. Sang nyonya keluarga Aomine pun tersenyum licik. Bahkan Aomine Daiki yang melihatnya terkejut sendiri melihat ekspresi ibunya.

"Benar sekali, lebih tepatnya Kuroko Tetsuya..." lanjut sang nyonya Aomine. Tetsuya hanya mengangguk saja mengiyakan.

'Maaf membohongimu Tetsuya-kun...' batin Gaby. Wanita itu ingat saat dia membaca diary milik Tetsuya.

'Saat itu onii sama memanggil-ku Kuroko, menyebalkan sekali... Tapi memang sangat cocok dengan hawa keberadaanku yang tipis' karena kata kata itu , wanita itu memutuskan untuk mengganti nama Akashi Tetsuya menjadi Kuroko Tetsuya.

-0-

Setelah berjam jam, ditambah macet, mereka akhirnya bisa sampai di kediaman keluarga Akashi. Tentu saja hal hal yang berbau tentang Akashi telah diambil polisi sebagai penyelidikan.

Tetsuya memandang bangunan besar dihadapannya "...aku mau tinggal disini.." ujar Kuroko menyakinkan.

Sang nyonya Aomine pun hanya menghela nafas pasrah. "Baiklah. Tapi tetap kebutuhanmu akan ku urus" tambahnya lagi. Dan segera mereka memasuki rumah besar tersebut.

"Wooaa, besar!" Aomine Daiki tampak berbinar melihat interior rumah yang Indah tersebut. Sedangkan Tetsuya merasa biasa saja melihatnya. Jelas karena dia selalu tinggal disini.

"Bagaimana jika Daiki tinggal disini menemani Tetsuya chan?" usul Gaby. "HAH?!" Aomine Daiki tampak terkejut mendengarnya.

Tetsuya pun hanya menggelengkan kepalanya perlahan "tidak perlu, aku bisa tinggal sendiri" ujar Tetsuya dengan datar.

Aomine Daiki mulai kesal dengan wajahnya yang selalu datar.

-0-

Setelah berbenah untuk keperluan Tetsuya tinggal, keluarga Aomine pun pamit pulang pada Tetsuya. "Jaga dirimu baik baik ya Tetsuya, jangan lupa minum obatnya, dan jangan lupa makan terlebih dahulu, lihat tubuhmu ini" ujar Gaby sambil menunjuk lengan Tetsuya yang terlihat kurus.

Tetsuya hanya mengangguk menanggapi wanita itu. Tetsuya melambaikan tangannya sambil melihat mobil hitam itu melaju menjauhi rumah Tetsuya.

Sekarang Tetsuya tinggal seorang diri. Tetsuya awalnya penasaran dimana orang tuanya, namun nyonya Aomine bilang bahwa orang tuanya telah lama meninggal, jadi dia merasa sangat kesepian, meski merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Tetsuya merasa bahwa dia tidak hanya tinggal bersama orang tuanya. Dan lagi, mereka tidak tahu makam orang tuanya.

Rasanya bohong juga jika Tetsuya tidak takut. Dia merasa sangat takut sekarang. Namun dengan segenap hati dia mulai membiasakan diri tinggal dirumahnya.

Beruntung pada keluarga Aomine karena selama beberapa hari mereka telah membuang hal hal yang berkaitan dengan orang tuanya dan telah membereskan kekacauan paska pembantaian tersebut.

-bersambung-


Uwooooh! Debut pertama tentang Kuroko no Basuke ini! Kyaaa deg degan nulisnya! Nyehehehe, kalau ada Typo atau salah penulisan karakternya mohon maaf decu, ini FF pertama tentang KNB
Jadi deg degan, padahal baru nonton s2 doang ≧﹏≦

Meskipun adegan ini membuatku sakit mata. Tak kusangka aku menulis sebuah adegan yang tidak kusukai
Menyebalkan!

dan untuk nama ibunya Aomine, itu ngasal sumpah :v dapat saran nama dari sahabat xD

Review?
Satu review bisa membuatku semangat melanjutkan decu~

Sampai jumpa chapter depan!