Hari pertama yang sungguh menjengkelkan, sejak kakinya melewati pintu kayu sekolah ini, ia seperti sudah tau. Tapi semuanya sudah terlanjur.

.

.

.

Usai mengucap perpisahan pada Ibu, ia segera mencari kamarnya, tanpa repot-repot mengurus apa-pun-itu karena pasti Ibu sudah membereskan semuanya.

Seorang staff sekolah mengatakan bahwa kamar ada pada lantai 4 sampai 6. Ia memilih lift untuk segera sampai pada lantai tersebut.

"Nah, ini dia," Di lantai 4 kamar 278, papan persegi yang menggantung di pintu menyatakan bahwa kamar ini sudah ada yang menghuni, dengan nama Lai Guanlin, 17 tahun. Well, tidak mengejutkan karena setiap kamar memang akan diisi dua siswa. Tapi Seonho tidak menyangka bahwa roommate-nya adalah seorang senior.

Tak terpungkiri, jantungnya sedikit berdetak kurang normal saat knob pintu sudah dalam genggamannya. Apakah senior ini galak? Menyeramkan? Atau, ternyata adalah seorang hantu seperti di novel fantasi yang kerap ia baca? Ah, molla.

Secercah keberanian menghampiri dirinya, ia mulai memutar knob pintu tersebut dan membukanya.

Hal pertama yang menangkap atensinya adalah dua kasur queen-sized berseberangan satu sama lain pada ruangan itu. Dan, oh tuhan, kasur di sebelah kanannya sangat berantakan, namun tidak ada seorang pun disana. Hanya sebuah laptop yang dibiarkan menyala pada meja kecil di sebelah kasur tersebut. Sangat bertolak belakang dengan yang berada di sebelah kirinya, di dekat pintu kamar mandi, mungkin? Disana tertulis Bathroom, sih. Baiklah, sekarang ia tau yang mana miliknya.

Kakinya melangkah menuju kasur di sebelah kiri tersebut, ruangan ini cukup besar untuk ukuran kamar asrama, dinding di cat biru laut senada dengan langit-langitnya, juga lantai dari mahogany. Tak ketinggalan, satu jendela besar dengan bingkai kayu yang bertengger di dinding itu, berseberangan dengan pintu masuk. Kacanya sedikit blurry sehingga tidak dibutuhkan tirai atau apapun untuk menutupinya. Konsep yang pintar untuk menghemat sedikit pengeluaran, pikir Seonho.

Ia meletakkan kopernya di atas kasur, dan bersiap untuk memindahkan pakaiannya pada lemari kecil di sudut ruangan. Tentu yang belum di claim dengan nama Lai Guanlin.

Namun, sepertinya ada seseorang di kamar mandi? Suara air terdengar cukup keras.

"Aku harus siap bertemu senior yang entah bagaimana rupanya," Seonho menyukai bertemu orang baru dan berteman dengan mereka, tentu hal ini memancing sedikit semangatnya.

Ia masih melanjutkan kegiatan sebelumnya, mengeluarkan isi koper untuk dipindahkan pada lemari itu.

Cklek

Suara pintu terbuka yang berasal dari belakangnya, otomatis membuat Seonho membalik badan dan pandangannya bertemu dengan seorang lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya, menggunakan handuk hanya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

Seonho secara spontan menunduk, memberi bow sebagai rasa hormatnya karena ia cukup yakin bahwa lelaki ini adalah Lai Guanlin, roommate sekaligus seniornya. Lelaki di hadapannya hanya melirik Seonho dan berjalan menuju kasur di seberang.

"Baiklah, bukan apa-apa," Ucapnya dalam hati, mencoba menenangkan diri, namun masih belum melepaskan maniknya dari lelaki itu. Ekspresi kecewa dan malu yang sulit disembunyikan dengan tangan kirinya yang menggaruk tengkuk.

Jika boleh jujur, Seonho akan mengatakan seniornya itu err— Tampan. Dengan abs di perutnya, dan toned arms, juga kulit putih pucat, ditambah dengan air yang menetes dari ujung rambut kecoklatannya, ia sangat menawan sebagai laki-laki, mendekati sempurna.

.

.

.

Dua jam berlalu di kamar itu dengan Seonho yang berkutat pada laptopnya, ia akan mulai memasuki kelas besok, berniat untuk berkeliling namun ternyata sudah ada denah yang tersimpan di dalam lemari.

Sesekali matanya mencuri pandangan ke seniornya di seberang sana– memang tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Sungguh, ia tak tahan dengan suasana awkward seperti ini, bukankah sebagai roommate berarti kita akan saling berbagi?

"Dia terlalu menyeramkan, bagaimana memulainya," Seonho hampir mengutuk dirinya sendiri karena ketakutan.

Ia menutup pelan laptop, menyimpan benda elektronik tersebut pada nightstand-nya. Dengan ragu-ragu, Seonho menuruni kasur dan berjalan ke arah seniornya, ia mencoba untuk mencairkan suasana,

"Namaku Yoo Seonho, 16 tahun. Kita akan menjadi roommate. Bagaimana aku harus memanggilmu, Sunbae?" Seonho mengatakan itu sehalus mungkin, lagi-lagi dengan bow pada kalimat pertama. Dibalas dengan tatapan tajam lelaki itu, kali ini ia sungguhan mengutuk dirinya dalam hati.

"Stupid, pabbo, apa yang baru saja kau katakan.

"Kau bisa melihat namaku di bagian depan, dan panggil saja Hyung. Guanlin Hyung. Atau apapun." Lelaki itu, Guanlin, kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop, dan memasang kembali earphone-nya yang ia lepas saat melihat Seonho berjalan ke arahnya.

Sudut matanya bisa menangkap wajah Seonho yang jengkel.

Ya, Seonho sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Bukankah yang barusan sudah cukup menjatuhkan harga dirinya? Oh, Tuhan.

"Ya sudah,"

Berhenti sejenak, tapi ia masih belum menyerah,

"Hyung, cafeteria disebelah mana ya? Atau kau mau makan siang bersama?"

Kebetulan waktu sudah masuk jam makan siang,

"Di lantai satu, gunakanlah tangga, berada di sebelahnya. Aku tidak makan." Guanlin tidak memalingkan sedikit pun pandangannya dari layar laptop. Sikap yang amat sangat menyebalkan.

Seonho memutuskan untuk membalas pernyataan Guanlin dengan menganggukkan kepalanya, lalu pergi menuju cafeteria. Benar-benar menggunakan tangga.

Jika mengulang sedikit kalimat Guanlin di kepalanya, Seonho merasa ada sesuatu yang ganjil.

"Hyung mengatakan ia tidak makan, dan aku pun tidak menemukan bungkus makanan atau minuman pada tong sampahnya. Apakah ini tidak sedikit– Ah, mungkin dia suka kebersihan– Bagaimana bisa ia suka kebersihan dengan kasur yang seperti diterjang badai itu? Dan mengapa aku peduli?"

Anak itu mengacak rambutnya dengan sedikit kasar, otaknya tidak mampu mencerna segala keanehan tentang Guanlin.

Dengan kaki-kaki yang menuruni tangga dengan cepat, ia berbelok ke kanan pada tangga terakhir untuk masuk cafeteria.

Suara peralatan makan yang beradu satu sama lain dan tawa khas remaja memenuhi ruangan itu, dengan meja-meja yang diatur sedemikian rupa, tempat ini masih terlihat tidak cukup untuk menampung siswa Seoul School.

Seonho mengantri untuk mendapatkan makanan, menu hari ini diisi dengan nasi goreng kimchi dan susu pisang kesukaannya. Namun, jangan senang dulu dengan menu yang disediakan. Karena sekarang dia tidak tahu harus duduk dimana untuk menikmati makan siang di tangannya ini.

Matanya menelurusi seisi ruangan besar itu, dan ada seseorang yang mengangkat tangan padanya. Apakah benar? Seonho memicingkan matanya, berharap dapat melihat lebih jelas pada orang itu.

"Seonho-ya!" Seorang laki-laki sebayanya dengan suara familiar itu. Seonho melangkahkan kakinya dengan mantap menuju orang itu dengan senyum di wajahnya.

"Lee Daehwi? Ya tuhan!" Ia meletakkan makanannya di meja dan segera memeluk Daehwi, teman kecilnya. Disaksikan kedua teman Daehwi yang juga duduk di meja itu.

Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Yang masih sangat jelas adalah saat perpisahan Daehwi pergi ke Amerika, ia masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, dengan Daehwi yang berada pada kelas 4. Ah, rasanya sangat-sangat-sangat rindu.

.

.

.

Isi piring makan siang Seonho sudah sepenuhnya berpindah ke perutnya. Setelah berkenalan dengan kedua teman Daehwi, Seonho mulai nyaman dan bercerita dengan mereka tentang hubungannya dengan Daehwi. Diakuinya dua orang ini sangat asik diajak berbincang, walaupun mereka berada dua tahun diatas Seonho. Ahn Hyungseob dan Lee Euiwoong.

"Jadi kau tidak melanjutkan homeschooling-mu? Kenapa?" Daehwi melontarkan pertanyaannya yang entah keberapa.

"Mommy memintaku untuk hidup mandiri. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ia memintaku seperti itu padahal aku tidak– Ok, mungkin aku sedikit merepotkan." Jawab Seonho sembari memainkan sendok pada piring kosongnya.

"Anyway, siapa roommate yang kau dapat?" Kini giliran Hyungseob yang bertanya.

"Lai Guanlin. Siswa kelas 2."

"Oh tidak! Kau serius?" Tiba-tiba Euiwoong menyambar dengan wajah terkejut yang mungkin terlihat sedikit berlebihan. "Adik kelas itu!" Lelaki itu menatap dua temannya, kali ini dengan suara yang sedikit dipelankan, agak berbisik.

"Ada apa, sih?" Seonho bertanya, hanya penasaran kenapa mereka sangat terkejut seperti mendapat sekantong uang 3000000 won yang ditinggalkan di depan rumah secara cuma-cuma.

"Kau tentu belum mengetahui sesuatu tentang dia, bahkan 24 jam disini pun kau belum merasakannya, kan?" Dengan nada meledek, Euiwoong melontarkan pertanyaan tidak serius itu.

"Dari yang aku dengar, mengapa dia tinggal sendirian di kamar itu adalah sebab roommate sebelumnya tidak tahan padanya karena–"

"Cih. Jelas saja, dia sangat dingin dan menyebalkan." Seonho memotong ucapan Hyungseob,

"Dengarkan dulu, anak kecil!" Daehwi menegurnya.

"Mereka bilang Guanlin itu suka tiba-tiba menghilang, dan kembali dengan sedikit bau amis." Lanjut Hyungseob.

Well, itu terdengar konyol.

Seonho sepertinya sudah terbawa dengan mereka, ia menutup mulutnya tanda terkejut, dengan matanya yang menatap tiga orang tersebut secara bergantian.

Kenapa banyak hal yang harus ia pahami padahal kegiatan belajar mengajar pun belum dimulai.

TBC

Whoa! First time aku nulis sepanjang ini. Tolong bubuhkan opini juga dong untuk kemajuan ff ini (?)

buuuuut, thank you kalian yang udah baca, ngasih review dan sebagainya.

Aku sayang kalian!