Kyuhyun menguap, mengacuhkan ramainya halte bus pagi ini. Dia masih mengantuk karena harus mengurangi jam tidurnya semalam. Hanya karena tugas aneh dari rekan gurunya yang mempunyai wajah dan sikap sedingin es kutub. Belum lagi dia harus mempersiapkan pengajaran perdananya.
Kyuhyun beranjak dari duduknya di halte bus ketika dari kejauhan bus yang ditunggunya mulai melaju mendekat. Pagi yang umum, waktu ketika semua orang memulai aktivitasnya. Oleh karena itu, Kyuhyun harus bersabar mengantri untuk hanya sekedar masuk ke dalam bus. Jangan berharap menemukan tempat duduk kosong, karena mendapatkan pegangan tangan pada gelantungan bus saja menjadi hal yang patut disyukuri.
"beruang kutub berhati dingin" Kyuhyun mendecak, merutuki guru senior yang berjarak delapan tahun darinya itu. Dia sungguh mengantuk sekarang, dan bidang dada dari seseorang yang sedang berdiri di depannya sungguh menggoda untuk dijadikan sandaran.
Perlahan, dengan gaya seolah-olah tak sadar, Kyuhyun mulai mengarahkan kepalanya ke bidang datar seseorang berkemeja putih di hadapannya. Nyaman sekali. Bahkan Kyuhyun tanpa sadar sudah mulai mengelus-eluskan kepalanya di dada orang yang menjadi sandarannya, mengendus-enduskan hidungnya menghirup aroma maskulin yang menguar dari balik kemeja itu.
Mengundurkan tubuhnya sedikit, pemilik bidang dada datar dan lebar itu menghindari perlakuan abnormal Kyuhyun. Kyuhyun langsung oleng ke depan dan menyadari tindakannya telah mendapat penolakan. Mengarahkan kepalanya pada pemilik sandaran untuk meminta maaf, Kyuhyun justru mendapati wajah familiar yang sedang mengalihkan pandangannya ke luar jendela itu adalah Kibum.
Kyuhyun langsung menundukkan kepalanya malu. Merutuki tindakannya yang terlihat bodoh untuk kesekian kalinya di hadapan orang yang seharusnya dia hormati sebagai senior rekan kerjanya. Kyuhyun pabbo, Kyuhyun pabbo. Bagaimana bisa dirinya dengan begitu nyaman menjadikan dada Kibum sebagai sandaran setelah kejadian semalam masih diingatnya. Kejadian dimana dia begitu terkagum dengan manik hitam itu dan tak mampu berkutik ketika dia mulai menyelaminya. Menjerit dalam hatinya, KYUHYUN PABO YA~
Kibum membenci skinship yang dilakukan namja yang sudah diclaimnya sebagai peri jadi-jadian itu. Namun yang sebenarnya, bukan itu alasannya memilih untuk mengalihkan tatapan ke luar jendela dibandingkan dengan mencela Kyuhyun. Dia hanya belum siap untuk menatak manik bulat cokelat yang sempat dikaguminya semalam itu.
.
.
Confession Chapter 3
A weird feeling that can not be fully described
.
.
Guru Kim, wali kelas yang digandrungi para siswa perempuan bahkan ketika umurnya sudah menginjak tiga puluh tahun. Itu adalah salah satu kesimpulan yang diambil Kyuhyun ketika dia menjadi pengamat (asisten wali kelas) di belakang kelas, tepatnya di salah satu bangku siswa yang kosong.
Kyuhyun menopang dahu, mengamati bagaimana namja pengguna kacamata ketika mengajar itu masih berdiri di depan kelas menerangkan softskill tentang tanggung-jawab. Wajah Kibum yang biasanya serius berubah lebih serius. Sangat tampan. Pantas dengan pengajarannya yang hanya berisi ceramah, semua siswa memberikan atensi penuhnya pada pembelajarannya yang menurut Kyuhyun –membosankan.
"hoaamm" seorang siswa laki-laki menguap pelan.
Mengamati keadaan kelas, Kyuhyun mengerucutkan mulutnya dan mengangguk-anggukan kepalanya paham. Hanya siswa perempuan yang fokus pada pengajaran Kibum, atau mungkin mereka hanya fokus pada ketampanan Kibum.
Kibum itu punya aura serius. Tapi keseriusan yang terpancar ketika dia mengajar, entah kenapa rasanya sangat berbeda. Mata itu memang mempunyai tatapan tajam. tapi ketika dia memakai kacamata seperti saat ini, rasanya jadi berbeda. Kibum jadi sangat tampan, sangat keren.
BLUSSS
Kyuhyun menundukkan kepalanya. Tangannya ditelangkupkan di kedua pipinya yang terasa panas. Apa sekarang dia berubah menjadi seorang fanboy? Masih dalam kepalanya yang menunduk, senyum Kyuhyun merekah. Tidak masalah. Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya ke depan, menopang dagunya pada telapak tangan dan kembali mengamati Kibum di depan kelas. Dia memang tampan. Keren saat mengajar. Mungkin aku bisa jadi presiden fan clubnya.
Menghembuskan nafas kasar lewat hidungnya. Satu ekspresi dari wajah datar Kibum ketika melihat tingkah bodoh Kyuhyun yang senyam-senyum tak jelas sambil terus menatapnya. Apa yang ada diotak bodoh asistennya itu?
.
Kibum membuka pintu ruang guru. Guru bahasa inggris itu tak langsung duduk di kursi kerjanya. Dirinya membelokkan kakinya ke sisi kanan ruangan, dimana sebuah mesin pembuat kopi dan sebuah dispenser diletakkan. Kibum tidak boleh meminum beer di area sekolah, maka dari itu Kibum menggantinya dengan kopi tanpa gula. Sama-sama mempunyai rasa bittersweet namun dengan efek yang berbeda.
"yo, Kibum ah~" Changmin datang dan langsung merangkul leher Kibum. Sapa hangatnya untuk rekan kerja sekaligus seniornya itu. Tak mendapatkan tanggapan dari si datar yang sedang sibuk mengaduk kopinya, Changmin beralih pada sekaleng creamer yang ada pada deret yang sama dengan kopi. Mengambil satu bungkus creamer, membuka bungkusnya dan tanpa ijin langsung memasukkannya ke gelas kopi milik Kibum. "begini rasanya jauh akan lebih nikmat".
Tanpa rasa bersalah Changmin kembali melenggang pergi, berjalan menuju meja kerjanya. Mengambil PSP yang ada di laci meja, menaikkan satu kakinya yang berbalut celana training ke atas kursi dan mulai memainkan gamenya.
Aroma yang berbeda dari biasanya. Kibum dapat menciumnya bahkan tanpa harus mendekatkan segelas kopinya ke hidung. Mencoba mencicipinya, Kibum merasakan rasa pahit kopi sedikit tersamarkan dengan rasa gurih yang berasal dari creamer. Sama seperti wajah bodohnya yang tersamarkan dengan kesan manis dan bibir plump nya. Kibum tersentak dari pikirannya, dia tidak seharusnya memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dia pikirkan. Meletakkan kembali kopinya, dia sudah tak berminat untuk meminumnya.
Kibum lebih memilih berjalan ke mejanya dan kembali berkutat dengan materi bahasa inggris yang akan diajarkannya di jam berikutnya.
Changmin mempause gamenya, menggeser kursi berodanya agar lebih dekat dengan kursi Kibum yang memang berada di samping meja kerjanya. "bagaimana rasanya bekerja dengan Kyuhyun?"
Seperti kutukan. Matanya masih membaca rentetan kata asing dalam narration text yang ada pada buku ajarnya.
"aku yakin kau tak menyukai tingkah konyolnya itu bukan? Itu hasil didikanku selama ini. Jadi mohon dimaklumi jika sifat kami sebelas duabelas." Changmin berucap dengan bangganya.
Apa kau sudah mengenalnya lama? Fokus Kibum sudah bukan lagi pada matanya untuk membaca, namun pada telinganya untuk mendengarkan penjelasan Changmin tentang Kyuhyun.
Guru olahraga itu kemudian beranjak dari duduknya, menepuk bahu Kibum. "tenang saja, kau akan menerimanya setelah mengenalnya lebih dekat". Changmin mendekatkan mulutnya ke telinga Kibum "dia mempunyai mantra untuk membuat semua orang menyukainya".
Hati Kibum berdesir mendengar kalimat terakhir yang dibisikkan ke telinganya. Ada apa dengannya? Salah, ada yang salah dengannya? Tapi Kibum sendiri tak yakin dengan jawaban atas pertanyaannya. – maybe I'm falling?
.
.
Tbc
.
.
Dua chapter aku up sekaligus, jatah minggu ini dan minggu depan. Aku jadikan satu karena aku mungkin akan menghilang untuk sementara waktu. Setelah satu tahun mangkir dari kewajiban konsul, aku harus menyiapkan mental untuk menghadapi makhluk bermulut iblis berhati malaikat bernama dosen pembimbing. Khikhikhi.
Menurut kalian aku harus hiatus atau tetap meng-up- fanfic ngga jelas ini? Aku belum ada waktu untuk melanjutkan ff bergenre berat. Aku pengen hiatus, tapi aku terlanjur janji untuk tak hiatus. Ingin ngga hiatus, tapi sungguh, ini fanfic ngga ada bagusnya sama sekali. Hehe. Mohon masukannya (bow).
