Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Rated : T
Warning : Ada sho-ai dikitttt v: Sori kalau abal :")
.
.
.
Aomine Daiki, 17 tahun, tinggal seorang diri di apartemen warisan orangtuanya yang berpisah 2 bulan lalu.
Aomine membenci perpisahan—membenci perceraian—membenci apa yang orangtuanya lakukan. Hasil dari itu semua, ia menolak memilih untuk ikut dengan salah satu di antara mereka. Aomine lebih memilih untuk menjadi gelandangan—mencari petualangan dan jati dirinya—ketimbang harus tinggal satu rumah dengan hanya satu dari orangtuanya. Atau lebih parah lagi, ia akan segera mendapat orangtua tiri.
Tapi hatinya mengalah. Kala itu saat ia sudah siap dengan gendongan tas besarnya untuk pergi dari rumah yang sudah ia tempati selama 17 tahun, orangtuanya menawarkan dengan segenap ketulusan apa yang bisa mereka berikan terakhir kalinya pada anak yang menjadi buah cinta mereka dulu; sebuah tempat tinggal layak huni dan pegangan uang untuk hidup Aomine 3 bulan ke depan.
Disinilah ia sekarang. Tidak jadi gelandangan dan belum memulai petualangan apapun. Ia masih tetap sekolah atau membolos seperti biasa, masih menjadi ace tim basket sekolahnya seperti biasa, masih beradaptasi—itulah yang ia katakan—akan keadaan yang sadar atau tak sadar, sempat memukul dirinya telak.
Uang saku yang ada di tabungannya sebentar lagi akan habis, maka mau tak mau Aomine harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Senin sore pada pertengahan bulan Desember tahun keduanya di SMA Teikou, Aomine berniat mencari pekerjaan sambilan sepulang sekolah. Akashi Seijuurou si kapten iblis tim basketnya sedang berbaik hati, menyelesaikan latihan lebih awal dari sebelumnya. Salju akan segera turun sepertinya.
Ia mencari toko, kedai, atau restoran apapun yang sekiranya terdapat lowongan pekerjaan di sekitar Teikou. Ia sudah menjarahi radius 1,5 km keliling SMA tersebut, tapi hasilnya nihil.
Jam menunjukkan pukul 8 malam dan tentu ia berniat untuk pulang. Jalan yang ia lalui sekarang adalah jalan yang sering ia tapaki semasa SMP dahulu bersama seorang gadis refleksi bunga sakura, sahabatnya, Momoi Satsuki, yang sekarang sudah tak bisa ia temui untuk selamanya.
Dulu, ia akan berbelok kiri begitu menemui perempatan jalan menuju rumahnya. Tapi sekarang tidak. Sekarang ia berjalan lurus ke depan.
Malam itu, ternyata salju tidak turun.
Selasa siang dengan mendung menggantung, Aomine mengabaikan penjabaran rumus termodinamika di papan tulis kelasnya. Ia lebih memilih untuk melihat langit yang kelabu, merenungi hidup naasnya—mungkin.
Ia tak kena marah lagi, guru fisika itu sudah lelah menegur Aomine sepertinya.
Bel istirahat berbunyi. Aomine melanjutkan acara hariannya; tidur siang di mejanya. Ia tak pergi ke rooftop saat istirahat karena ia akan menemui banyak gerombolan atau bahkan pasangan yang sedang menikmati bento bersama. Aomine sudah tak punya pertahanan untuk itu saat ini.
Seseorang menepuk pundaknya. "Aomine-kun."
Aomine masih cukup baik hati dengan mengangkat kepala dan balas menyapa. "Ada apa, Tetsu?"
"Ayo makan bersama di rooftop. Yang lain sudah menunggu." Orang yang dipanggil Tetsu itu mengangkat satu bento. "Aku bawakan bekal makan siang untuk Aomine-kun."
Gemuruh di perut Aomine adalah jawabannya.
Sekarang, Aomine dan teman-teman sesama anggota klub basketnya sudah berkumpul di rooftop menikmati makan siang. Sungguh, teman-temannya adalah harta yang sangat berharga dalam hidupnya saat ini.
Sayangnya, makan siang kali ini berlangsung dengan alot bahkan pahit akibat perkataan sang kapten, "Nanti ada latihan tambahan."
Pulang sekolah yang tak didambakan klub basket. Latihan neraka ada di depan mata, lengkap dengan Akashi Seijuurou dan gunting kesayangannya di tangan kanan sedang menunggu di dalam gym.
Apakah penjabaran tentang latihan—siksaan neraka ini harus dijelaskan? Tidak.
.
.
.
"Kau baik-baik saja, Tetsu?" Aomine memasang tampang khawatir. "Kau pucat... Sekali."
"Aku tidak ap—"
Aomine memalingkan wajah. Ia tak perlu menyaksikan temannya muntah-muntah akibat kelelahan berlebihan, 'kan?
Urusan Kuroko Tetsuya yang muntah-muntah sudah selesai. Aomine berbaik hati menawarkan diri untuk menemani bocah biru muda itu pulang. Takut ia pingsan, katanya.
"Tidak perlu, Aomine-kun." Wajah datar Kuroko tampak menolak dengan halus. "Aku tidak akan pingsan di jalan seperti yang kau katakan."
"Mana tahu 'kan, Tetsu?"
Jadilah ia mengantar Kuroko pulang dengan iming-iming dua gelas vanilla shake yang selalu bisa membuat bayangan tim basket itu luluh.
Diperlukan menumpang bus untuk sampai di rumah Kuroko. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, resiko teman di sampingnya ini diculik akan semakin besar.
"Jangan berpikir kalau aku akan diculik, Aomine-kun." Aomine hanya terkekeh.
Kuroko menawarkan rumahnya untuk disinggahi begitu mereka sampai, namun Aomine menolak.
Jalan di sekitar rumah Kuroko begitu sepi—seperti jalan di sekitar rumahnya dulu. Wajar, ini adalah kompleks, yang terkenal dengan sikap individual penghuninya.
Aomine memilih jalan yang berbeda untuk pulang. Ia akan membeli makanan di sebuah kedai. Maklum, Aomine pernah sekali datang ke rumah Kuroko, ia sudah hapal beberapa tempat yang kiranya bisa jadi patokan.
Belum sampai ke kedai itu, Aomine menemukan sesuatu yang menarik—lebih menarik daripada makan malamnya.
Sebuah toko barang antik seukuran rumah sederhana berlantai satu, mengalihkan iris seteduh langit malamnya.
Dan yang membuat Aomine melangkahkan kakinya kesana adalah sebuah tulisan 'Dibutuhkan pegawai.'
Gemerincing bel berbunyi ketika Aomine membuka dengan pelan pintu toko itu. Ia disuguhi arsitektur klasik dengan lampu remang, ornamen serta perabotnya mengingatkan pada film dokumenter zaman perang yang pernah ia tonton. Ia memang tak begitu suka barang antik atau sejarah apapun, tapi kebutuhan hidup menggiringnya untuk mencoba peruntungan di toko ini.
"Permisi." Aomine mengedarkan pandangan, mencari sosok siapapun penjaga toko ini.
Seorang nenek berambut putih yang postur tubuhnya sudah sedikit membungkuk keluar dari balik tirai yang terletak di dinding yang berlawanan dengan pintu masuk, menyambutnya. "Ya. Ada yang bisa saya bantu, nak?"
Aomine memasang senyum. "Saya lihat toko ini membutuhkan pegawai, saya ingin menawarkan diri untuk bekerja disini."
Si nenek mengangguk sekali. "Kemari dan duduklah disini, nak." Ia berjalan menuju sebuah bangku yang terletak di depan etalase kaca sekaligus meja kasir, lantas menduduki salah satunya.
Aomine mengikuti langkah wanita tua itu.
"Perkenalkan dirimu."
Aomine berdeham. "Saya Aomine Daiki, 17 tahun, kelas 2 SMA. Tinggal sendiri di apartemen saat ini." Aomine memberi jeda sesaat. "Sedang mencari pekerjaan sambilan yang sekiranya bisa memenuhi kebutuhan hidup."
Nenek itu mengangguk lagi. "Kemana orangtuamu, Aomine-kun?"
Aomine meneguk ludahnya, lantas menghembuskan napas berat. "Berpisah. Sekitar dua bulan lalu. Saya menolak ikut salah satu di antara mereka."
Sang nenek memejamkan mata maklum. "Maaf akan hal itu." Aomine mengiyakan perkataaan wanita tua di hadapannya. "Baiklah, nak. Kau bisa bekerja disini mulai besok."
"E-eh?" adalah jawaban Aomine ketika mendengar bahwa ia diterima kerja di toko tersebut dalam waktu singkat dan relatif mudah.
"Seharusnya kau tahu, nak." Nenek itu bangkit dari kursi dan mulai mengitari ruangan yang cukup besar berisi rak-rak yang menampung benda-benda tua. "Tak banyak anak muda yang datang kesini. Kalau untuk urusan pekerjaan lain ceritanya."
"Lalu, bagaimana dengan yang mengajukan untuk bekerja disini?"
"Sejak toko ini dibuka, baru 4 orang yang mengajukan dan sudah sempat bekerja disini. Semuanya berhenti di minggu pertama atau kedua."
Aomine mengangkat satu alis. "Kenapa?"
"Kau akan tahu sendiri nanti." Nenek itu tersenyum. "Kuharap kau bersungguh-sungguh disini dan tak memohon berhenti di bawah satu bulan."
Banyak spekulasi muncul di benak Aomine. Ada apa disini? Apa yang menyebabkan pegawai-pegawai itu berhenti dalam waktu yang sebentar? Apakah ia akan bertahan?
"Akan saya usahakan." Aomine berdiri dari kursi dan mendekati sang nenek. "Terima kasih sudah menerima saya bekerja disini." Setelahnya, Aomine membungkuk empat puluh lima derajat di hadapan sang nenek.
Nenek itu tertawa. "Tak usah terlalu formal, nak. Nenek ini tidak suka diperlakukan dengan terlalu kaku begitu." Ia menepuk pundak Aomine dan Aomine menegakkan kembali tubuhnya. "Nama nenek adalah Shima. Silakan panggil sesukamu."
"Ah, ya, Shima-san." Aomine mengambil tasnya yang ia tinggalkan di kursi tadi. "Saya—aku pamit dulu."
Aomine meninggalkan toko barang antik itu. Rutinitas hariannya akan bertambah satu. Semoga semuanya berjalan lancar, ucapnya dalam hati.
"Tetsu!"
Aomine mengejar Kuroko yang sedang berjalan di koridor sekolah. Dengan pendaratan yang tak sempurna, ia menubruk tubuh kecil Kuroko.
"Ada apa, Aomine-kun? Kelihatannya semangat sekali."
"Kau tahu?" Aomine nyengir. "Sekarang aku akan bekerja di toko barang antik dekat rumahmu, lho."
Kuroko terhenyak. "Oh, ya, aku tahu toko itu. Memangnya Aomine-kun betah duduk berjam-jam di antara barang-barang membosankan?"
Aomine melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Ya, 'kan cuma sebentar. Aku tetap bisa tidur, kok."
"Aomine-kun bodoh."
"Tetsu!"
"Aku serius, Aomine-kun." Kuroko menatap Aomine tepat di matanya. "Katanya, tak ada pegawai yang bertahan lebih dari dua minggu disana."
"Iya, aku tahu, kok."
Kuroko tampak takjub dengan jawaban Aomine. Tumben temannya ini tidak takut dengan keadaan yang sebelas dua belas dengan cerita horor itu. "Kau bisa bertahan, Aomine-kun?"
"Ya kalau belum dicoba tak akan tahu, 'kan?"
"Aku tak mau membuka pintu rumahku kalau Aomine-kun lari terbirit-birit dari toko itu, ya."
"E-eh? Kenapa begitu, Tetsu?" Aomine menatap heran Kuroko. "Memangnya ada apa, sih?"
Kuroko menaikkan bahu. "Aku tak tahu pastinya apa penyebab hal itu. Aku hanya dengar dari ibuku kalau ada pegawai yang berhenti lagi. Ibuku juga tidak menjelaskan dengan detail alasannya."
Aomine memasang pose berpikir. "Oke lah kalau begitu. Aku tak akan keluar sebelum mulai bekerja." Aomine melangkah dan berjalan mendahului Kuroko yang masih menatap datar punggung Aomine dalam diam.
Hari pertama Aomine bekerja semuanya berjalan lancar. Lima jam ia menjaga toko itu, hanya satu pelanggan yang datang, yaitu seorang ibu rumah tangga yang membeli sebuah guci kecil.
"Aku ambil ini. Berapa harganya?" Si ibu menyodorkan guci kecil itu.
Aomine tampak kebingungan karena ia tak menemukan catatan harga apapun di sekitar meja kasir.
"Tunggu sebentar. Kutanyakan harganya terlebih dahulu." Aomine mengambil guci itu dan berjalan mendekati tirai. "Shima-san, aku ingin bertanya harga!" Ucapnya setengah berteriak.
Nenek Shima keluar dari balik tirai. Ia tersenyum. "Katakan pada pembeli guci itu, bahwa tak ada harga yang kutetapkan untuk tiap barang disini."
Aomine mengerutkan kening. "A-apa maksudnya?"
Nenek Shima mengambil guci dari tangan Aomine dan menemui pembelinya. Ia mengatakan hal tersebut dan si pembeli tampak terkejut, lantas tak lama mengeluarkan beberapa lembar uang. Nenek Shima kelihatan bernegosiasi kembali dengan si pembeli, dan tak lama transaksi selesai.
Nenek Shima mendekati Aomine. "Aku membebaskan para pelanggan berapapun harga yang ingin mereka bayar untuk membeli barang-barang disini."
"Kenapa begitu? Apa Anda tak akan rugi?"
"Tidak akan." Nenek Shima kembali tersenyum. "Kuanggap itu harga jasa untukku yang telah merawat barang-barang disini."
"Merawat?"
"Ya. Semua ini bukan milikku." Nenek Shima terkekeh. "Aku dapatkan barang-barang antik ini dari orang-orang yang memberikannya padaku di masa lalu. Beberapa milik mantan majikanku dulu, beberapa lagi hasil koleksi anakku."
Aomine terdiam.
"Ah, ya. Ini gajimu untuk hari ini." Nenek Shima menyodorkan uang yang tadi diberikan si pembeli pada Aomine. "Terima kasih sudah bekerja dengan baik, Aomine-kun."
Aomine tampak terkejut. Uangnya lumayan banyak jika dihitung untuk satuan hari. Apalagi ia baru sehari bekerja.
"Ini terlalu banyak. Dan, semuanya untukku?"
"Ya, ambil saja semua. Kuberikan hari ini juga karena aku tak tahu kapan pelanggan selanjutnya akan datang."
Aomine menerima uang itu. "Terima kasih banyak."
Hari Sabtunya, Aomine sudah datang ke toko lumayan pagi. Toko memang belum buka, namun di halamannya sudah ada sebuah mobil bak terbuka yang sepertinya mengantar barang-barang baru untuk toko.
Nenek Shima terlihat baru saja membuka pintu toko dan seorang pria memindahkan dua kardus coklat ke dalam toko. Aomine menghampiri Nenek Shima.
"Ada apa ini?"
"Kita dapat barang-barang baru dari sebuah Taman Kanak-Kanak di pusat kota."
Aomine mengangguk. Pria tadi memasuki mobil dan segera meninggalkan toko.
Di dalam, Nenek Shima membuka kardus dan hendak menaruh barang-barang dari kardus sesuai rak dalam toko.
"Biar aku saja, Shima-san."
Nenek Shima mengiyakan dan ia pergi menuju ruangan di balik tirai. Tak lupa, ia menawarkan kopi untuk Aomine yang segera ditolak secara halus. Pasti ada dapur kecil di balik tirai, ucap Aomine dalam hati.
Isi kardus ini dominan boneka dan mainan anak-anak yang sudah ketinggalan zaman. Beberapa di antaranya membawa Aomine dalam nostalgia; mainan-mainan tanah liat yang dulu sering terpaksa ia mainkan bersama Momoi Satsuki, temannya sejak kecil.
Ah, jadi ingat gadis itu.
Beberapa mainan yang usianya lebih tua mengingatkan Aomine pada saat ia belajar menggerakkan tubuhnya dan melatih otaknya; mainan yang kerap kali diberikan orangtua pada anak balitanya.
Nenek Shima datang dengan segelas kopi hangat yang segera ia taruh di meja kasir. Setelahnya, ia mengambil kemoceng dan mulai membersihkan debu mulai dari rak yang paling ujung.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi dengan gaduh. Dan datanglah segerombolan anak laki-laki yang masuk ke toko dengan setengah berlari. Salah satu anak yang gendut menabrak Aomine, dan jika bukan karena refleksnya, satu mainan tanah liat akan pecah.
"Hei—" Saat ia ingin protes, ia melihat anak-anak itu sedang mengelilingi Nek Shima dan sepertinya sangat antusias dengan apa yang sedang ia lakukan. Tiga anak mengitari rak-rak toko, dan setelah menemukan hak yang menarik, teman-temannya datang mengerubungi.
Nenek Shima menghampiri Aomine yang masih memasang tampang cengo. "Sudah biasa. Pada akhir pekan, anak-anak komplek main kesini dan terkadang, mereka mengambil barang yang mereka inginkan."
"Dasar anak-anak nakal."
Nenek Shima tertawa. "Setelah itu, orangtua mereka akan datang dan membayar dengan harga yang kiranya cukup."
Enam orang anak laki-laki itu kini berlari menuju ruangan di balik tirai. "Jangan pecahkan apapun, nak!" Nenek Shima berteriak semampunya.
Tak lama, terdengar sebuah benda jatuh.
"Ya ampun. Aomine-kun, tolong panggil anak-anak itu kemari."
Aomine bergegas menuju bagian belakang toko dan menyibak tirainya.
Matanya melebar terkejut.
Tepat sejajar dengannya, terdapat sebuah lemari kaca yang kini terbuka—pasti ulah anak-anak itu. Di dalamnya ada sebuah patung lilin seukuran manusia terduduk dalam bangku kayu.
Aomine terhenyak.
"He-hei, Nenek Shima menyuruh kalian keluar!" Aomine berjalan mendekati anak-anak. "Kalian membuat kegaduhan!"
"Kami tidak membuat kegaduhan." Kata salah seorang anak.
"Kami hanya ingin bertemu dengan onee-chan (kakak perempuan) ini." Jawab si anak gendut.
Salah satu anak menyentuh tangan si patung lilin. "Lagi pula kasihan, 'kan, onee-chan sendirian terus?"
Aomine sempat terdiam memperhatikan sosok benda tak hidup di hadapannya, lalu kembali sadar akan tugasnya. "Tapi Nenek Shima menyuruh kalian kembali."
"Huh! Dasar kakak item! Hueek."
Perempatan imajiner muncul di dahi Aomine. Kesabarannya sudah habis. Ia menerjang anak yang meledeknya tadi dan dengan mudah anak itu menghindar.
Sekejap, Aomine menambah kegaduhan.
Butuh 10 menit perjuangan hingga anak-anak itu keluar dari ruang belakang. Aomine melihat keadaan sekeliling dan menutup kembali pintu kaca tempat bersemayam si patung lilin.
Ia menuju ruang depan dan sudah tidak menemui anak-anak lagi. Yang ada hanyalah Nenek Shima yang sedang melayani seorang pelanggan.
"Mi-Midorima?!"
Midorima, menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Aomine? Apa yang kau lakukan disini-nodayo?"
Aomine berdeham. "Sekarang aku kerja disini. Kau sendiri?"
"Mencari lucky item-nodayo." Midorima menaikkan kacamatanya. "Di toko biasa tidak ada. Jadi harus dicari di toko barang antik."
Aomine mengangguk. "Oke kalau begitu. Sudah selesai dengan urusanmu?"
"Apa maksudmu-nodayo?" Midorima berkata jengkel. "Dan, ya, Aomine, kau sudah lapor Akashi kalau kau bekerja disini?"
"Lapor Akashi buat apa?"
"Toko ini dibangun dari dana pribadi Akashi Masaomi-sama." Nenek Shima bersuara. "Dulu aku adalah salah satu pekerja di rumahnya. Saat berhenti, kukatakan alasanku, yaitu ingin punya toko sendiri. Di luar dugaan beliau membiayaiku."
Aomine mengangguk. "Jadi, toko ini adalah salah satu aset keluarga Akashi?" Nenek Shima mengangguk.
Aomine menatap Midorima. "Tak usah bilang-bilang, ya, Midorima. Ini 'kan aset ayahnya."
"Tapi Seijuurou-sama beberapa kali mengunjungi toko ini. Sebulan sekali bisa." Ucap Nenek Shima.
"Dengar itu, Aomine. Sekarang kau jadi bawahannya Akashi juga-nodayo."
"Oi, Midorima—"
"Sudahlah, aku pamit dulu-nodayo." Midorima beralih pada Nenek Shima. "Terima kasih banyak."
Sepeninggal Midorima, keadaan hening. Aomine membuka suara, "Shima-san, ano... Patung lilin itu, kenapa ada di ruang belakang?" Ia berkata dengan ragu.
"Patung itu adalah 'anakku', Aomine-kun."
Aomine terkejut. "A-anak?"
"Ya. Maksudku, patung itu dibuat serupa—sangat serupa dengan anakku, yang sudah meninggal 20 tahun lalu." Nenek Shima menghadap Aomine. "Aku tak bisa berpisah dengannya. Sungguh tak bisa."
Aomine menyambar tisu yang ada di meja kasir dan memberikannya pada Nenek Shima yang mulai menangis. "Ma-maaf sudah bertanya. Anda pasti sangat terpukul."
"Tak apa." Nenek Shima menyeka air mata. "Aku menceritakan ini pada tiap pegawai. Bahkan semua tentangnya."
Aomine mengangguk dan terdiam, mendengarkan Nenek Shima bercerita. "Namanya Kise Ryouta. Ia meninggal di usianya yang ke-enam belas. Dia adalah korban bullying teman-teman sekolahnya. Aku tak tahu mengapa—aku tak sempat bertanya padanya, pun dia tak pernah bercerita."
Aomine mengajak Nenek Shima duduk di bangku kasir.
"Waktu itu aku terlalu sibuk bekerja di rumah Akashi-sama, sering sekali menginap, meninggalkan Ryouta di rumah sendiri karena ia menolak ikut denganku. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi padanya saat itu. Aku sangat menyesal..."
Aomine mengusap pundak Nenek Shima yang bergetar, menenangkannya. "Aku yakin dia pasti anak yang baik."
"Ya, benar, dia anak yang baik. Sangat baik."
Kopi Nenek Shima sudah mulai mendingin di atas meja kasir. Isinya masih ada tiga perempat gelas. Aomine mendekatkan gelas itu pada Nenek Shima dan segera nenek itu meminumnya.
Jeda beberapa saat sampai keadaan mulai stabil.
"Ngomong-ngomong, nama itu lebih cocok untuk anak laki-laki."
"Maaf, Aomine-kun? Nama siapa?"
"Kise Ryouta. Lebih cocok untuk anak laki-laki."
Nenek Shima terdiam menatap Aomine bingung. Yang ditatap tak kalah bingungnya. "Kenapa kau menyimpulkan bahwa anakku adalah perempuan, Aomine-kun? Dia laki-laki."
"Hah? Be-benarkah? Tapi tadi anak-anak itu memanggilnya 'onee-chan' itu artinya..."
Nenek Shima terkekeh. "Seingatku aku sudah pernah memperingatkan anak-anak itu untuk berhenti memanggil Ryouta begitu. Ternyata masih, ya?"
"Kenapa anak-anak itu memanggilnya begitu?"
"Ini yang kudengar dari anak-anak." Nenek Shima memperbaiki posisi duduknya. "Ryouta itu cantik."
"Aduh!"
Sontak, Aomine dan Nenek Shima menoleh ke arah tirai—ke arah ruang belakang tempat datangnya suara mengaduh tersebut. Aomine bangkit dari duduk dan berjalan menuju ruang belakang.
Ia kembali menyibak tirai—
"Gawat!"
—dan menemukan ternyata masih ada satu anak laki-laki yang tertinggal di ruangan itu. Saat melihat Aomine menemukannya, anak itu berlari keluar, namun dihentikan oleh Nenek Shima. Akan diceramahi sepertinya.
Aomine mendekati patung lilin Kise Ryouta yang sekarang terduduk di bawah kursinya, kepalanya bersender pada kaca. Sepertinya si anak refleks menarik tangan Kise dan menyebabkan patung itu terjatuh—anak itu adalah anak yang juga memegang tangan Kise tadi, ketika Aomine pertama kali memergokinya dan kelima temannya.
Kise Ryouta. Rambutnya pirang, panjangnya melebihi daun telinga. Matanya beriris coklat madu dengan bulu mata lentik menghiasi. Bibirnya merah mungil dan sedikit menyunggingkan senyum. Kulitnya seputih porselen, dan Aomine yakin, jika Kise yang di hadapannya adalah manusia asli, kulitnya juga halus.
Ia mengenakan sweeter jingga yang tampak tebal dan hangat. Jeans biru tua model pensil melapisi kakinya. Sepatu kulit setinggi lebih dari mata kaki berwarna coklat melengkapi.
Cantik. Anak-anak itu benar. Kise Ryouta cantik.
'Bodoh! Aku ini kenapa?' Kepala bermahkota navy blue-nya ia gelengkan, mengusir deskripsi yang baru saja menghampiri otaknya. Ia mengangkat tubuh berbahan lilin itu dengan hati-hati, tak ingin menimbulkan luka, tentu saja. Tak lama, Kise Ryouta sudah kembali duduk di kursinya.
Aomine menatap patung lilin itu. Tangannya menjulur mengusap helaian pirang yang rupanya, sangat halus.
Tersadar bahwa ia sudah berlebihan, Aomine menarik tangannya dan menutup lemari kaca. Ia menemukan sebuah gembok dengan kunci tergeletak di lantai tak jauh tempatnya berdiri. Sepertinya, benda ini lah sumber kehebohan sesaat tadi. Pasti anak itu tak sengaja menginjaknya. Dan ia yakin, gembok ini adalah pengunci lemari kaca Kise Ryouta.
AAPAAA INI?!
#ABAIKAN!
Haii ketemu lagi sama saya v: oke saya publish ini di dua hari terakhir UKK :") dan makin kesini fic saya makin gajelas :")
Tadinya mau dijadiin genre horor, tapi ternyata gak serem sama sekali/*plak dan Aomine :") maav dirimu jadi gelandangan disini/*plakLagi
DAN LEBIH ABAL LAGI TENTANG JUDULNYA TT_TT saya bingung hueee :"
Saya yakin anda-anda yang baca pasti bisa nebak setidaknya inti dari masalah ini v: /*masalaapawoy
Oke makasih yang udah mau baca ^^ ditunggu sangatt reviewnyaa!
Update soon!
- Kiryuu