FRAGILE
by : unknownsy
Chanbaek and other cast
BxB
...
Baekhyun teringat seseorang yang selama ini hilang dari memorinya karena terlarut pada perasaannya untuk Chanyeol.
Disudut kamarnya terdapat meja rias yang memiliki laci. Ia buka laci itu dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah foto lelaki tampan berkulit albino yang sedang memeluk pinggang lelaki "mungil yang tak lain adalah Baekhyun.
"Aku merindukanmu, Sehunnie"
...
Pagi ini Chanyeol telah siap untuk jadwal penerbangan kembali ke Seoul. Cuaca pagi ini sangatlah cerah.
"Bisa kita berhenti didepan?"
Kasper mengerinyit saat mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan toko sepatu atas permintaan Chanyeol.
"Setelah jam tangan kini kau mengoleksi sepatu?"
"Untuk seseorang"
"Ku harap kau tidak lupa jadwal penerbangan kita pukul berapa"
"Beri aku waktu 10menit"
Chanyeol masuk kedalam toko sepatu yang terletak dipusat kota. Ada banyak sekali sepatu dari berbagai design, merk, warna, dan harga. Sepasang sepatu menarik perhatiannya.
Pip.
"Baek berapa ukuran sepatumu?"
"Apa?"
"Ukuran sepatumu"
Ada jeda sebelum Baekhyun menjawab.
"39"
"Hitam atau putih?"
"Ya?"
"Hitam atau putih?"
"Apanya?"
"Jawab saja"
"Putih"
"Aku akan berada dirumah sebelum makan siang"
...
Denting suara dua gelas beradu terdengar disusul tawa anggun kedua wanita yang berada berseberangan ditengah cafe bergaya klasik.
"Aku sangat merindukannya" sudut bibir Nana tertarik kebawah.
"Dia juga merindukanmu"
Nana memandang antusias wanita yang lebih tua setahun darinya. Wanita yang memiliki wajah sangat mirip dengan penghuni relung hatinya.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku sangat berharap pada hubungan kalian berdua"
Televisi yang terletak disudut cafe yang awalnya menayangkan drama terbaik musim ini kini berganti dengan breaking news tentang seorang tahanan yang berhasil kabur dari penjara. Semua pengunjung memberi perhatian pada tayangan itu tak terkecuali Nana dan wanita yang bersamanya.
"Kurasa tahanan berisinial OSH itu memilki marga Oh. Karena aku jarang sekali menemui seseorang bermarga Ong dan tidak mungkin marga minoritas terjerat hukum"
Nana tersenyum miring saat menyadari inisial tahanan yang tidak asing diingatannya.
"Kau selalu pandai Nana-ssi"
"Terimakasih eonni"
...
Semalam Chanyeol mengabarinya akan pulang hari ini. Baekhyun menyiapkan segalanya untuk menyambut kepulangan lelaki itu dengan segera. Ada banyak jenis masakan tersaji diatas meja.
Terdengar suara derap langkah dan Baekhyun dapat mencium aroma yang selama ini ia rindukan. Baekhyun berbalik dan tak menemukan siapapun disana. Hanya ada dirinya didapur. Mungkin Chanyeol berada diruang tamu pikirnya. Baekhyun berjalan menuju ruang tamu namun nihil tidak ada tanda kehidupan disana. Otaknya memaksanya untuk berpikir kemungkinan adanya pencuri yang mengancam disekitarnya. Membayangkannya saja membuat dirinya menggigil ketakutan.
Baekhyun memandang was-was setiap sudut ruangan dengan badan bergetar. Tangis tak dapat ia redam.
"Siapa disana?" ucap Baekhyun sambil terisak.
"Baek?"
Baekhyun berbalik dan menemukan Chanyeol dengan wajah kebingungan. Tangis Baekhyun semakin pecah. Ia segera berbalik menuju kamar namun sebuah tangan menghambatnya.
"Ada apa?"
Hanya isak tangis yang menjawab pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Fisiknya sangat lelah karena perjalanan diudara dan kini kehangatan tubuh Baekhyun telah mengobatinya. Chanyeol memejamkan mata dan menikmati harum strawberry yang berasal dari rambut Baekhyun.
Ting Tong.
"Tenangkan dirimu biar aku yang membuka"
ucap Chanyeol dengan usapan pada bahu Baekhyun.
Chanyeol berjalan menuju pintu dan melihat layar intercom. Sosok tidak asing berada disana. Chanyeol tersenyum setelah memastikan bahwa itu benar-benar seseorang yang berada dipikirannya saat ini.
Clek.
"Hei, Yeol"
Chanyeol mengamati wanita didepannya. Tetap cantik dan menawan.
"Hei, Nana"
"Kau tidak rindu padaku?"
"Sangat rindu, kemarilah"
Nana mendekat dan diterima dengan baik oleh Chanyeol kedalam sebuah dekapan. Tetap sama seperti dulu. Nyaman dirasakan keduanya.
...
Dua pasang manusia berbeda jenis tengah duduk berhadapan di sebuah cafe pusat kota.
"Kemarin aku kemari bersama Yoora eonni"
"Kau menemuinya sebelum aku?"
"Ayolah, Yeol. Aku bisa mati kebosanan hanya untuk menunggumu kembali"
"Yayaya"
Chanyeol menyeruput cangkir kopi americano kesukaannya dengan pandangan menuju pemandangan diluar jendela.
"Aku kemari untuk segera menemukannya"
Nana berucap dengan nada serius sembari menatap lelaki didepannya.
"Kasper berasumsi bahwa dia telah mati"
Pandangan Chanyeol tak lepas dari pemandangan diluar jendela.
"Dia masih hidup. Aku yakin. Dan kau sudah mendengar berita tentang tahanan yang melarikan diri?"
"Aku tidak melihat berita akhir-akhir ini"
"Tahanan itu berinisial OSH"
Chanyeol mengalihkan perhatian untuk wanita cantik dihadapannya. Menatap kedua bola mata berwarna coklat yang sangat cantik yang bisa membuat siapapun terjerat akan pesonanya.
"Untuk apa inisial? Seharusnya mereka memberi tau namanya. Tahanan yang melarikan diri bukankah berbahaya?"
"Entahlah"
"Tunggu. Apa inisial tahanan itu?"
"OSH"
Chanyeol mengepalkan tangannya diatas meja.
...
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam dan Chanyeol hilang entah kemana. Baekhyun cemas. Seingatnya siang tadi Chanyeol pulang setelah seminggu menjalankan tugas perusahaan dan menghilang ketika membuka pintu saat bel berbunyi. Baekhyun merebahkan diri di sofa ruang tamu setelah membuang semua masakan spesial yang ia siapkan untuk menyambut Chanyeol. Rasa kantuk melingkupi dirinya dan membawanya ke alam mimpi.
Terhitung satu menit setelah Baekhyun memasuki alam mimpi dan kini bunyi bel membangunkannya.
Clek.
Itu Chanyeol. Ya Chanyeol. Dengan wanita digendongannya layaknya sepasang suami istri yang baru saja menikah.
"Terimakasih, aku kesulitan menekan password"
Chanyeol segera berlaku ke kamarnya dengan wanita ditangannya setelah mengucap sepenggal kalimat kepada Baekhyun.
Baekhyun ingat sekali wajah cantik yang terlelap dalam dekapan Chanyeol. Tak lain adalah Nana, tunangan Chanyeol yang berkunjung beberapa hari yang lalu.
...
Pagi ini Baekhyun bangun lebih pagi dari biasanya. Hatinya terasa tidak enak. Kini ia berada didapur dengan segelas susu strawberry kesukaannya.
"Oh Baekhyun-ssi"
Suara anggun menyapa indra pendengaran Baekhyun. Nana berjalan mengitari meja dengan kemeja yang sangat besar ditubuhnya tanpa celana duduk dikursi berhadapan dengan Baekhyun.
Baekhyun hanya tersenyum menanggapi dan segera meneguk habis sisa susu dalam gelas lalu bergegas menuju wastafel untuk mencuci gelas kotor.
"Kau bisa membuat kopi? tanpa gula"
"Baik"
"Kau bisa membuat sendiri Nana"
Chanyeol berjalan ke refrigerator yang berada disamping Baekhyun untuk mengambil sebotol air minum. Saat pandangan mata keduanya bertemu Chanyeol yang pertama kali memutusnya.
"Bukankah itu gunanya Baekhyun berada disini?"
"Apa?"
Baekhyun meletakkan secangkir kopi dihadapan Nana dan segera berlalu meninggalkan dua insan berbeda jenis itu didalam dapur.
Nana menghirup aroma kopi yang menenangkan. Chanyeol duduk dihadapannya dengan sebotol air dingin. Kebiasaan lelaki itu yaitu satu botol air dingin dipagi hari.
"Dipagi hari tubuhmu membutuhkan sesuatu yang hangat Yeol"
Perhatian Nana terfokus pada lelaki dihadapannya. Selalu tampan dalam kondisi apapun.
"Tapi aku ingin yang segar"
"Omong-omong Baekhyun tinggal disini?"
"Ya"
"Dia sangat loyal denganmu"
"Apa?" Chanyeol mengerutkan alis dan menatap balik wanita yang lebih tua dua tahun dihadapannya.
"Ya kau tau saat aku di Amerika tidak ada asisten rumah tangga yang mau dibayar untuk tinggal bersamaku"
"Asisten apa?"
Nana mengerinyit heran. Apakah bekerja membuat otak seseorang mengempis? Chanyeol menjadi agak bodoh saat percakapan mereka menyangkut Baekhyun didalamnya.
"Asisten rumah tangga"
"Siapa?"
Demi tuhan Chanyeol menjadi sangat bodoh. Nana memutar bola mata jengah
"Baekhyun"
Chanyeol memberhentikan aktivitasnya dan mengalihkan perhatiannya. Saat mulutnya akan terbuka untuk menjawab namun sesuatu menginterupsinya.
"Maaf. Apa kalian ingin sarapan sekarang? Akan aku siapkan"
Chanyeol memperhatikan Baekhyun dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya menunduk. Ada yang aneh dan Chanyeol baru menyadari bahwa Nana telah mengenal Baekhyun sebelum ia mengenalkannya. Bahkan ia lupa mengenalkannya.
"Terimakasih Baekhyun aku sangat lapar"
Nana tersenyum dan Baekhyun segera menuju kitchen set untuk membuat sarapan.
"Hari ini kau akan bekerja? Aku ingin bertemu eomoni. Dia ingin aku berkunjung bersamamu"
"Eomma sedang diluar kota"
"Ahh sayang sekali. Kalau begitu aku akan pergi ke kantormu untuk makan siang bersama"
"Terserah"
Baekhyun menyediakan roti panggang, telur, bacon, dan dua piring. Chanyeol menatap Baekhyun heran
"Kau tidak makan?"
"Aku sudah menghabiskan segelas susu. Permisi"
Baekhyun berlalu. Nana memperhatikan gelagat lelaki dihadapannya. Otak cerdasnya sedang mencerna sesuatu diantara Chanyeol dan Baekhyun.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada"
Nana tersenyum. Senyumnya sangat cantik. Ralat, lebih cantik dari dulu, pikir Chanyeol.
...
Baekhyun tersentak kaget saat pintu kamarnya dibuka dengan sedikit hentakan. Chanyeol menatapnya tajam seperti akan menelanjanginya bulat-bulat.
"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"
Baekhyun segera berdiri dan menunduk sedangkan kedua tangannya saling meremat satu sama lain. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Jawab Byun Baekhyun"
Suaranya sama seperti mereka pertama kali bertemu saat dijalan raya ibukota. Rendah. Dalam. Dan dingin.
"Apa?" cicit Baekhyun. Bahkan suaranya sangat pelan seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri namun rupanya masih terdengar oleh Chanyeol.
Chanyeol tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia adalah pribadi yang sangat hangat. Baekhyun tidak mengenali siapa lelaki dihadapannya kini. Lelaki yang sangat dingin. Bahkan mereka belum bertegur sapa setelah kembalinya Chanyeol dari tugas pekerjaan diluar kota.
"Sialan" Chanyeol menggeram dalam dan itu membuat Baekhyun semakin menggigil ketakutan.
...
Baekhyun sedang membersihkan meja saat Chanyeol telah pergi bersama Nana.
"Hai?"
Baekhyun tersentak dan mengalihkan pandangannya kepada wanita dengan busana formal yang sangat elegan dan terlihat mahal berdiri didekat pintu. Wajahnya seperti tidak asing. Seperti Chanyeol versi perempuan.
"Chanyeol sudah berangkat bekerja?"
Wanita itu berjalan mendekat. Sepatu higheels yang melekat dikaki jenjangnya berbunyi saat ia melangkah.
Baekhyun mengangguk.
"Aku Park Yoora. Kakak perempuan Chanyeol"
Pantas saja wajah mereka seperti copy paste, pikir Baekhyun.
"Aku Byun Baekhyun"
Yoora tersenyum. Suara lelaki mungil itu sangat lembut seperti parasnya yang manis.
"Nana sudah becerita tentangmu dan semuanya benar. Kau sangat manis"
Baekhyun hanya bisa tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku akan segera pergi. Terimakasih telah merawat Chanyeol."
...
"Aku benar-benar tidak tau"
Kasper memandang wanita didepannya dengan tatapan menyerah.
"Bagaimana bisa kau berasumsi bahwa dia telah meninggal jika kepolisian tidak menerima laporan kematian apapun tentang bocah itu?"
"Kau tau? Aku sudah mencarinya selama 3 bulan terakhir dan hasilnya nihil. Tentu kau tidak meragukan kemampuanku, Nana"
"Aku tidak meragukannya sama sekali sebelumnya, Kasper"
"Tetapi aku bisa memberi jaminan seratus persen bahwa dia masih berada di Seoul entah dalam keadaan bagaimana"
Ada penakanan pada nada bicara Kasper. Seperti sebuah keyakinan.
"Dan aku juga bisa memberi jaminan seratus persen bahwa dia masih hidup"
Nana memperhatikan gelas kopi dihadapannya. Namun pikirannya menerawang jauh.
"Bagaimana kau bisa tau jika selama ini kau berada di Amerika?"
"Kau tau? Saat Romeo meninggal dunia Juliet tidak ingin meneruskan hidupnya dan memilih menyusul kekasihnya. Itu bukti bahwa keberadaan penghuni hatimu mempengaruhi jalan hidup yang akan kau tempuh"
Senyum miring tercetak di bibir indah Nana.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak akan bersusah untuk melarikan diri jika tujuan hidupmu sudah tiada bukan?"
"Well, kuakui kau memang cerdas, Nana"
...
TBC
...
Muaapin baru updat huhu. Janji abis ini next cepet biar cepet kelar.
KONFLIK DIANTARA CHANBAEK TELAH MUNCUL HEHEHE.
Review duongski
