"Uchiha-San."

"Hn."

"Bisa kita bicara?"

"Aku tidak ada waktu!"

"Ku mohon sebentar saja."

"20 menit."

"Hai, Arigatou."

Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

De Facto © Momokaze

Warning : AU, OOC, TYPO

Chapter 3

Tringg..

Terdengar suara lonceng yang terpasang disalah satu sudut pintu sebuah cafe menandakan bahwa ada seseorang yang akan masuk kedalam cafe tersebut dan bisa dilihat kini sepasang manusia tengah berjalan dalam diam dengan seorang pria yang berjalan lebih dulu seolah-olah tengah menuntun seorang wanita yang dengan setia mengekori sang pria.

Sang pria yang kini tengah memakai kemeja putih polos dengan baju bagian lengannya yang digulung hingga siku ditambah dengan celana hitam panjang dengan sepatu pantofel hitam, wajah datar dengan rambut yang berantakan tapi masih terkesan cool, sedangkan sang wanita kini hanya memakai pakaian casual dengan celana kulot hitam panjang, kemeja hijau tosca dengan aksen bunga-bunga kecil berwarna merah dan rambut indigo panjang yang tergerai bebas dan sedikit bergelombang. Dan kini mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe tersebut.

Suasana cafe saat ini tidak begitu ramai karena jam makan siang sudah berlalu sekitar 15 menit yang lalu, sebuah cafe minimalis dengan dekorasi ruangan yang sederhana dengan cat berwarna coklat yang mendominasi, ditambah dengan di letakkannya tanaman buatan yang menggantung di beberapa sudut ruangan dan ada kaca besar sebagai tempat untuk melihat aktivitas orang-orang diluar cafe. Dan sepasang manusia itu kini tengah duduk saling berhadapan dekat dengan kaca besar tersebut di temani dengan 2 coffee yang berbeda.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" seperti biasa tidak ada basa-basi dari seorang Uchiha Sasuke.

"Mm.. aku ingin bertanya tentang Uzumaki Naruto."

Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Sasuke mengeryitkan dahinya

"Kau mengenalnya?"

"Tidak.. aku hanya tidak asing dengan namanya saja."

"Nama Uzumaki Naruto tidak hanya satu!"

Sasuke mulai jengah dengan pembicaraan yang menurutnya tidak ada gunanya ini, dan hanya mebuang-buang waktu.

"Aku tau, tapi bisakah aku melihat foto yang kau tunjukkan padanya tadi?"

"Tidak!"

"Kenapa?"

"Itu adalah dokumen rahasia."

"Aku tidak akan membocorkannya pada siapapun."

"Sekalinyapun kau tidak akan membocorkannya, aku tidak akan memberi tau."

"Ku mohon Uchiha-San."

Hinata mulai mengeluarkan jurus andalannya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada dan mata yang membesar dengan tatapan memelas, biasanya jurus ini ia gunakan pada ayahnya Hiashi atau kakaknya Neji dan terbukti ampuh tapi sekarang jurus ini ia gunakan untuk membuat Sasuke luluh entahlah ini berhasil atau tidak, kalian taukan Sasuke itu laki-laki penuh dengan kekejaman huhu...

"Ck!" Sasuke hanya berdecak melihat akan kelakuan Hinata yang sungguh kekanakan menurutnya, bukankah Hinata seorang pengacara, tapi kenapa tingkahnya seperti itu.

Dengan berat hati Sasuke mengeluarkan satu lembar foto yang ia perlihatkan tadi pada Naruto dan menjulurkannya ke hadapan Hinata, foto seorang gadis yang tengah tersenyum manis, Hinata yang melihat itu langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi murung, Sasuke yang melihat itu menatap Hinata dengan alis yang saling bertautan.

"Kau mengenalnya?"

Tidak ada jawaban apapun dari Hinata, ia hanya memandangi foto itu dengan mata yang berkaca-kaca, Sasuke yang melihat keadaan Hinata yang menurutnya sebentar lagi akan menangis itu tidak bisa melakukan apa-apa, Sasuke hanya memandang Hinata dengan wajah datarnya tapi tak dipungkiri jika ia juga penasaran.

"Sakura-Chan."

"Sai-kun."

"Ino."

Greb

"S-Sai-kun."

"Hmm."

"B-Bisakah kau lepaskan?"

"Kenapa?"

"Aku malu."

Sai malah makin mengeratkan pelukannya pada Ino, bahkan ia tidak peduli dimana mereka berada saat ini, sedangkan Ino hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sai dan meresapi aroma yang menguar dari tubuh sang kekasih, begitu pula juga dengan Sai, mereka berdua cukup lama untuk saling membagi kehangatan dalam dekapan yang erat, saling membagi rindu yang mereka rasakan saat ini, karena kesibukan keduanya yang membuat mereka harus merelakan waktunya hanya sekedar untuk berkencan. Sai mulai melonggarkan pelukannya pada Ino dan menatap wajah Ino dengan intens, sedangkan Ino yang ditatap seperti itu hanya menampilkan senyumnya dan tangan Ino masih setia melingkar di pinggang Sai.

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik."

Tangan Sai terulur untuk mengusap wajah pucat Ino, dan merapikan beberapa helaian rambut Ino yang menutupi wajah manisnya.

"Kencan?"

"Benarkah?"

"Ya."

Ino tidak memberi jawaban langsung dan menunjukkan wajah berfikirnya dengan mengerutkan dahinya dan gumaman yang panjang, Sai yang melihat tingkah Ino hanya memandang dengan wajah datarnya.

"Kenapa?"

"Tidak, Ayo."

Ino melepaskan lingkaran tangannya dan beralih menggenggam tangan Sai, dan Saipun membalasnya dengan senang hati, setelahnya mereka berdua berjalan berdampingan dengan senyum yang merekah diwajah keduanya.

Blam..

Sasuke menutup pintu dengan wajah kusut dan helaan napas kasar, setelahnya ia duduk di salah satu kursi yang terletak di sudut ruangan dekat dengan rak-rak yang berisi buku-buku tebal dan beberapa kertas-kertas yang bertuliskan 'Dokumen', di depannya terdapat satu meja sedang dengan komputer diatasnya dan disebrang meja tersebut ada sesosok pria nanas a.k.a Shikamaru.

"Ada apa?"

"Apa?"

"Napasmu."

"Kenapa?"

"Ck! Kau itu bodoh atau apa sih."

"Apa maksudmu?"

"Dari tadi kau terus-terusan membuang napasmu dengan Cuma-Cuma, apa kau butuh napas buatan?"

Sasuke mendelik mendengar perkataan Shikamaru, Shikamaru yang melihat reaksi Sasuke hanya menyeringai dan meminum Colanya dengan santai.

"Dia menangis."

"Siapa?"

"Hyuuga."

"Sejak kapan kau berhubungan dengannya?"

"Hanya kebetulan bertemu."

"Benarkah?"

"Hn."

"Kenapa dia menagis?"

"Aku memperlihatkan foto ini padanya setelahnya ia menangis dan pergi."

"Apa kau merasa bahwa Hyuuga itu ada hubungannya dengan kasus ini?"

"Maksudmu?"

"Ya.. aku sempat melihat reaksinya saat kau menyebut nama Naruto, aku berpikir mungkin dia mengenalnya."

Sasuke tidak menjawab dan hanya diam membisu memikirkan perkataan Shikamaru dan mengingat kejadian beberapa jam yang lalu saat ia bertemu dengan wanita Hyuuga itu saat ia menanyakan tentang Naruto dan juga reaksinya saat melihat foto tersebut dan yang paling ia ingat adalah saat wanita itu tiba-tiba pergi dengan linangan air mata.

Sasuke mulai beranjak dari kursinya dan berjalan kearah pintu, saat tanganya akan memutar knop pintu..

"Kau mau kemana?"

"Pulang." Sasuke menjawabnya tanpa menoleh sedikitpun, setelahnya ia membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut.

Jam menujukkan pukul 21.30 waktu Konoha, seorang wanita berambut indigo kini tengah berjalan sendiri dengan wajah tertunduk sesekali kaki kecilnya menendang kerikil-kerikil yang ia temukan dan bisa dilihat beberapa kali ia juga menghela napas kasar entah itu sudah yang keberapa kali ia membuang napasnya, jalanan kali ini sangat sepi karena waktu memang sudang cukup malam mungkin hanya beberapa kendaran yang melintas dan itupun bisa dihitung.

Hinata kini masih kalut memikirkan banyak hal terutama saat ia bertemu dengan seseorang yang ia panggil Uchiha tersebut, ia merasa bersalah karena meninggalkannya begitu saja padahal awalnya ia yang meminta untuk membicarakan beberapa hal.

Hinata awalnya hanya ingin menanyakan tentang Naruto tapi entah kenapa ia juga jadi penasaran dengan foto yang pria Uchiha itu perlihatkan pada Naruto, ia jadi ingin melihat dan meminta pria Uchiha itu untuk menunjukkannya, dan setelah ia melihat foto itu ia tidak tahan untuk menahan air matanya, hatinya benar-benar sakit pikirannya benar-benar kalut sampai-sampai ia dengan tidak sopannya meninggalkan pria Uchiha itu sendiri tanpa mengucapkan permisi sedikitpun, mungkin jika ayahnya tau tentang kelakuannya itu Hinata yakin ayahnya akan marah besar, kau taukan keluarga Hyuuga menjunjung tinggi akan sopan santun.

"Hah.."

"Ehem.."

Hinata menghentikan langkah kakinya dan dengan perlahan membalikkan tubuhnya kearah belakang.

"Si-Siapa k-kau?"

Pria dengan tubuh besar itu berjalan perlahan kearah Hinata, Hinata mengeratkan pegangannya ketas selempang yang ia gunakan saat ini keringat dingin mulai bercucuran dan jantungnya berdegup dengan kencang, Hinata berjalan mundur perlahan dan memperhatikan jalanan disekitarnya jalanan begitu sepi dan tidak mungkin jika ia berteriak minta tolong, pria dengan pakaian serba hitam dan juga topi hitam itupun terus berjalan kearah Hinata, ia tidak bisa melihat wajah pria itu karna tertutup topi dan juga masker hitam.

Greb ..

"Akh.."

"Hyuuga Hinata."

Pria itu mencengkram kuat leher Hinata, Hinata terus meronta dengan memukul-mukul lengan pria itu dengan kedua tangannya tetapi tentu saja tidak akan ada efeknya karena pria itu memiliki tenaga yang lebih besar dibanding dirinya.

"Kau! Gara-gara kau temanku menjadi menerkam di penjara."

Hinata mulai kesulitan untuk benapas karena pria itu makin kuat mencengkram lehernya.

'Kami-sama'

Hinata hanya bisa memejamkan matanya dan berdoa, ia berharap ada seseorang yang menolongnya.

Srett ..

Bugh..

Pria itu merasakan ada seseorang yang menarik kerah jaketnya dan setelahnya memukul wajahnya dengan keras sampai-sampai ia tersungkur cukup jauh, ia juga dapat mellihat seorang pria tengah menatap dirinya dengan wajah datanya.

"Sial!"

Pri dengan pakaian serba hitam itu mulai beranjak dan pergi sambil memegang bagian wajahnya yang tadi terkena pukulan telak, ia berpikir bahwa pria yang memukulnya barusan sepertinya cukup kuat sangat kuat bahkan untuk merusak rahangnya hanya dengan satu pukulan.

"Kau baik-baik saja?"

Tangan pria itu terulur untuk membantu Hinata bangkit dan..

"Kyaa.."

Karena Hinata masih sedikit panik dengan kejadian yang baru saja ia alami, ia memukul pria yang bisa dibilang baru saja menyelamatkannya, Hinata terus saja memukul pria yang ada dihadapannya dengan ganas sampai..

Duk..

"HEI!"

Hinata berhenti memukul setelah mendapat bentakan cukup keras, tetapi ia masih saja terus menunduk dan bahkan ia mulai terisak.

"Hiks.. hiks, g-go-gomenasai."

"Hn."

Hinata mendongakkan kepalanya dan melihat pria dihadapannya, matanya terbelalak saat tau siapa yang barusan saja ia pukuli.

"U-Uchiha-San." Hinata segera bangkit dan berjalan kearah Sasuke, dan ia dapat melihat ada cairan kental berwarna merah mengalir dari hidung sang pria Uchiha. Hinata merogoh isi tasnya mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk menyeka darah yang terus-menerus keluar.

"Ini, gunakanlah untuk menyeka darahmu Uchiha-San." Hinata menyodorkan sapu tangan berwarna soft purple kepada Sasuke, dan Sasukepun menerimanya.

Sasuke menekan hidungnya dengan sapu tangan yang baru saja diberikan Hinata dan mendongakkan kepalanya agar darahnya berhenti.

"Uchiha-San, kau jangan mendongakkan kepala mu tapi menudukkannya seperi ini." Hinata mencontohkannya dengan menundukkan kepalanya..

"Apa bedanya, sama saja." Sasuke kembali mendongakkan kepalanya.

Hinata yang melihat itu mendengus kesal.

"Tentu berbeda, ibuku bilang jika darah keluar dari hidungmu tundukkan kepalamu supaya darahnya berhenti."

"Jika aku menunduk darahnya akan makin banyak keluar."

"Jika kau mendongakkan kepalamu darahnya akan masuk kembali dan itu berbahaya Uchiha-San."

"Hn."

Hinata yang mendapat respon singkat dari Sasuke mendengus kesal, akhirnya Hinata berjalan mendekat kearah Sasuke dan memegang kepala sang pria dan langsung ia tundukkan kepalanya.

"Hei! Apa yang kau lakukan!?"

"Menundukkan kepalamu."

Sasuke yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam tanpa merespon, sedangkan Hinata jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Tidak ada yang melakukan pergerakan apapun mereka tetap mempertahankan posisi mereka saat ini, Sasuke yang terduduk dengan Hinata yang berjongkok dihadapannya sambil terus menangkup kepala Sasuke untuk tetap menunduk jika dilihat dari kejauhan mereka seperti sedang ... berpelukkan.

"Pegal."

"O-oh."

Hinata masih terus berjongkok dan memainkan kudua jari telunjuknya sedangkan Sasuke masih menyeka hidungnya dan memastikan bahwa tidak ada darah yang keluar.

"Lumayan juga."

"Apa?"

"Pukulanmu."

"T-tadi itu hanya reflek saja."

"Kau bisa membuatku seperi ini, kenapa tidak dengan pria itu?"

"Aku bilangkan hanya reflek saja."

Sasuke hanya terkekeh mendengar kalimat Hinata.

"Kau mengenal pria tadi?"

"Mm.. Tidak."

Hening, tidak ada diantara mereka yang mau mulai untuk membuka pembicaraan, sebenarnya Sasuke ingin menanyakan beberapa hal lain tapi ia urung untuk menanyakannya ia beranggapan mungkin waktunya belum tepat. Sedangkan Hinata gadis itu hanya menunduk dari tadi.

"Gomenasai."

"Hn."

"Aku minta maaf karena meninggalkanmu begitu saja." Hinata tidak berani menatap mata hitam Sasuke menurutnya itu sangat menyeramkan seperti siluman yang jika kau melihat atau menatap matanya kau akan berubah menjadi batu, Hinata tidak ingin itu terjadi.

"Hn."

"Aku tidak mengerti."

"Apa?"

"Aku tidak mengerti apa maksud dari Hn mu itu Uchiha-San."

Sasuke lagi-lagi terkekeh akan sikap Hinata yang menurutnya itu sangat polos.

"Dimana rumahmu?"

"Mm.. dua blok dari sini."

"Aku akan mengantarmu."

Sasuke mulai bangkit dan berjalan kearah dimana ia tadi meletakkan mobilnya, tapi ia melihat tidak ada pergerakkan apapun dari gadis Hyuuga itu.

'Tunggu Uchiha-San akan mengantarku, apakah ia orang yang baik? Walaupun ia teman Ino-chan belum tentu ia orang baik kan, lalu bagaimana jika terjadi sesuatu dengan ku?, apa yang harus aku lakukan? Tidak pernah ada seorang laki-lakipun yang mengantarku pulang kecuali Neji-Niisan, Kami-Sama apa yang harus aku lakukan?'

Sasuke yang melihat tingkah aneh Hinata yang terkadang mengeryitkan dahinya dan nanti menautkan alisnya seterusnya begitu membuat Sasuke jenuh kau taukan Sasuke itu bukan tipe pria dengan penuh kesabaran jadinya ia berjalan cepat kearah Hinata dan ikut berjongkok di hadapan Hinata menatap lurus mata lavender gadis tersebut jarak wajah merekapun juga sangat dekat yang membuat sembarut merah di kedua sisi pipi cubby Hinata.

"Aku hanya mengantarmu pulang, jangan berpikiran yang aneh-aneh mengerti!?"

Hinata mengangguk cepat sebagai jawaban.

"Bagus."

Sasuke bangkit diikuti dengan Hinata, seperti sebelumnya Sasuke berjalan lebih dulu dengan Hinata yang mengekor di belakangnya dengan wajah menunduk, mereka berdua berjalan dengan ditemani oleh kensunyian malam yang semakin larut, angin malam yang berhembus ringan menerbangkan helaian rambut keduanya.

"Arigatou."

"Hn."

TBC

Hello ..

Chapter 3 update hehe.. Momo berusaha untuk membuat cerita yang lebih panjang tapi semoga di chapter ini tidak mengecewakan kalian.

Terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan De Facto hiks hiks.. dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaa. Momo dengan senang hati menerima kritikan dan saran apapun.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Thank You Bye Bye!