a/n: terima kasih banyak untuk semua review dan alert-nya! selamat menikmati chapter baru ini, di mana dedek bayi sudah lahir dan membuat Papa Viktor makin menderita. Ehey.

warning: slight lime. kalau menurut standar saya sih belum melanggar guidelines, tapi tolong beritahu kalau ternyata sudah kebablasan supaya bisa diedit lagi. terima kasih.


.

.

.

Ketika anak pertamanya lahir, Viktor ingin menyewa semua reporter dari stasiun televisi internasional dan memamerkannya pada dunia. Untung sebelum terlambat Yuuri berhasil mengembalikan akal sehatnya.

Tapi, siapa yang tidak bangga kalau punya anak secantik itu? Laki-laki, tiga koma dua kilogram, empat puluh delapan sentimeter (tiga frasa itu menjadi frasa favorit Viktor sekarang). Rambut pirangnya yang jabrik lebat sehalus bulu kelinci, matanya bulat besar hijau seperti mata kucing. Mulut merah jambunya mencecap-cecap mencari susu, lima jemari mungil menggengam telunjuk Viktor seperti sahabat lama.

Viktor tidak bisa berhenti menangis. Di semua foto kenang-kenangan muka dan hidungnya merah, bahkan tak jarang nampak ingus menggelembung. Ia tetap menyimpan foto-foto itu dengan bangga, beberapa dipigura dan diselipkan dalam dompetnya. Siapa peduli dengan mukanya yang jelek? Bintang di foto-foto itu bukan dia melainkan malaikat kecilnya, bunga mataharinya, si cilik paling cantik tersayang di seluruh jagad raya.

Mereka sepakat menamainya Yuri. Yuri, dari nama pria paling luar biasa yang pernah dikenalnya ("Tidak, Yuuri, sakharok, aku tidak mengada-ada."). Yuri dari bahasa Jepang yang berarti bunga lili, Yuri dari bahasa Russia dengan "Yura" sebagai nama kecilnya.

Yuri, Yurio, Yura, Yurachka. Baru sekian hari lahir dan semua orang punya panggilan kesayangan mereka. Viktor tidak keberatan. Betapapun sayangnya orang-orang pada Yura (dan sudah sepantasnya! Siapa yang tahan tidak sayang pada peri kecilnya?), Viktor akan selalu menjadi penggemar nomor satunya.

.

.

.

"OWEEEEEEE!"

Yura kecil memang manis, cantik, imut, lucu, paling indah sealam raya. Viktor mencintainya dengan segenap jiwa raga. Tapi seandainya mulut kecilnya itu bisa diam semenit saja, oh, betapa Viktor akan bersujud penuh syukur pada Tuhan dan para dewata!

"Sssh … Ssh … Yura, lihat Sayang, lihat itu, bagus sekali burungnya berputar-putar!" Yuuri menunjuk mainan yang dipasang pada langit-langit ruang tamu, berusaha sia-sia mengalihkan perhatian Yuri yang menangis dengan seluruh kemampuan paru-parunya. Bayi itu menggeliat, menendang, mukanya merah melepas marah. Menggendongnya susah payah, Yuuri nampak seperti manusia tak berdaya yang berusaha menenangkan anak banteng.

Viktor menghela napas di meja makan. Hancur sudah rencana makan malam romantis dengan Yuuri-nya.

Padahal Viktor sudah sengaja memasak katsudon (langsung dari resep Mama!), sudah membeli seikat mawar merah untuk dipajang di vas bunga. Dulu Jumat malam adalah waktu spesial mereka, dimulai dengan hidangan romantis buatan sendiri dan ditutup dengan ranjang bertabur cinta. Tentu saja Viktor paham bahwa keberadaan si kecil Yuri akan mengubah dinamika kehidupan mereka, tapi ….

"OWEEEEEEE!"

Astaga, bagaimana mungkin makhluk semungil itu bisa menjerit sekeras ini?

"Viktor, kau makan duluan saja," Yuuri berkata sambil lalu, berkutat dengan gendongannya. "Yuri sepertinya lapar. Aku akan menyusuinya di kamar."

Tanpa menunggu jawaban pria itu langsung beranjak ke kamar Yuri di samping ruang tamu.

"Tentu saja, Sayang," jawab Viktor pada ruangan kosong. Ia menyumpit nasinya sambil setengah bengong. Ada kartu berisi puisi romantis terselip di antara bunga mawar, tapi Yuuri tidak sempat membacanya. Mencium aroma bunga segar itupun dia tidak.

.

.

.

"OWEEEEEEE!"

"Yuuri? Aku benar-benar minta maaf mengganggu kencan kalian, tapi—aw, Yurachka! Jangan tarik rambut Tante!—ku-kurasa kau sebaiknya cepat pulang. Yurachka tidak mau—aduduuh!"

Butuh kerja keras bagi Viktor untuk tidak mencakar mukanya dengan putus asa. Suara tangis Yuri yang legendaris terdengar sama keras dan sama mengesalkannya meski hanya via telepon, membuat Viktor ingin berjengit dan ikut menangis juga. Tuh 'kan, harusnya mereka menyewa babysitter profesional saja, bukannya minta tolong Mila. Mila, dari semua orang!

"Ah, oke, aku mengerti. Apa? Tidak, tidak," Yuuri mengeluarkan tawa nelangsa. "Kami bahkan belum mengantre tiketnya, Mila. Tenang saja, kami tidak rugi apa-apa."

Cuma kehilangan waktu berduaan, sungut Viktor dalam hati.

"Hm? Oh, tentu saja tidak! Ya 'kan Viktor, kau tidak marah, 'kan?" Yuuri menoleh ke arahnya, matanya melebar sedikit tanda pikirannya sedang kalut.

Ah, mana tega Viktor cemberut? Yang kencannya gagal di sini bukan dia seorang!

"Tentu saja tidak, Yuuriko," jawabnya, melemparkan senyum termanis. "Kita masih bisa pergi lain kali. Ayo kita pulang, Yura pasti sudah kangen."

Ia menggamit tangan Yuuri, menuntunnya menembus hiruk pikuk keramaian. Jumat malam, semua pasangan keluar untuk bercinta-cintaan. Aroma manis kue bercampur parfum lembut perempuan, pengamen biola memainkan tembang-tembang kenangan.

Dulu, momen seperti ini akan membuat Yuuri bersandar malu-malu di bahunya, jemari mereka saling melilit hingga cincin mereka berkeletik.

Kini Yuuri bahkan tidak menoleh ke arah Viktor. Ia sibuk mendikte Mila cara menghangatkan ASI yang beku.

.

.

.

"Viktor?"

"Hm?"

"Mau bobok bareng sekarang, tidak?"

Viktor menoleh ke arah Yuuri dengan terkejut, kacamata bacanya sampai melorot ke ujung hidung. Yuuri berbaring tengkurap dengan hanya selimut menutupi tubuh telanjangnya, terkekeh kecil sambil menatapnya menggoda. Rambut hitamnya acak-acakan, pipinya hangat merona.

Bobok bareng adalah istilah manja Viktor untuk berhubungan seks. Biasanya Yuuri tidak memakai istilah 'memalukan' itu, kecuali jika dia sedang sangat sangat kepingin ….

Viktor praktis melemparkan bukunya sembarangan. "Sayang, apa pernah aku menolakmu?" Seringainya, tangan meraih untuk melepas kacamata tapi Yuuri mencegahnya.

"Jangan. Aku ingin kau terus memakainya." Seringai Yuuri tidak kalah lapar, "memangnya kau saja yang suka melihat wajah pasanganmu mengejang di balik kacamata, matamu menjuling di balik kaca, bingkainya merosot oleh licin keringat …."

Viktor mengerang. Dasar nakal. Tahu saja dia apa yang harus dikatakan untuk membuat Viktor kewalahan.

.

.

.

Kapan terakhir kali mereka berhubungan seks?

Pastinya sudah begitu lama. Di bulan-bulan terakhir kehamilan, meski dokter bilang seks tidak berbahaya, mereka berdua tidak berani berbuat aneh-aneh—takut terjadi sesuatu pada anak pertama mereka yang terlalu berharga (lagipula sulit bermanuver dengan perut sebesar bola basket menghalangi jalanmu). Setelah melahirkan Yuuri perlu istirahat, dan setelah itu waktu mereka habis untuk melayani Raja Kecil Yura. Total sudah sekitar lima bulan sejak terakhir kali mereka bercinta.

Astaga. Sedikit lagi dan Viktor bisa mendaftar sebagai ikon lelaki suci.

"Ah, Viktor … Aku sudah siap … Cepat …."

Yuuri terlihat sangat cantik seperti ini. Bukannya dia tidak cantik setiap hari, tentu saja, apalagi dengan aura keibuan yang kini melingkupinya seperti cahaya surgawi. Tapi ada keelokan lain dalam diri Yuuri yang ini, dengan kulit panas merah jambu dan bibir merekah minta dicumbu. Inilah Yuuri yang tercipta saat ada Viktor di sisinya, sang eros pencari cinta, si seksi yang tak akan pernah ada bagi Yuri atau siapapun lagi di dunia ….

"Aku datang, Yuuri," Viktor berbisik, suaranya serak oleh nafsu. Jemarinya kuat menahan kenyal pinggang Yuuri, napas mereka mendengus cepat berebut udara. Udara yang berat likat oleh manis feromon, desah Yuuri mengirim gelinjang ke seluruh tubuhnya—

"OWEEEEEEE!"

Viktor berhenti kaku, matanya membulat besar seperti tupai tertangkap basah mencuri kacang.

"OWEEEEEEE!"

Suara itu lagi! Viktor membungkuk, mengeluarkan dengking frustrasi. Astaga, Yura, Papa sayang kamu dan akan menyeberangi surga dan neraka dan segala di antaranya demi membuatmu bahagia, tapi tidak begini caranya!

Yuuri menghela tawa putus asa. Hilang sudah kharisma eros-nya yang mempesona, kini Yuuri kembali menjadi sosok ayah yang siap siaga meladeni bayinya. "Kita stop dulu ya, Sayang?"

"Yuuriii," Viktor merajuk, bibir mencuat dan mata berkaca-kaca. "Tidak bisakah kita berpura-pura tidak mendengar Yura? Sekali iniii saja, aku benar-benar tinggal sedikit lagi-"

Yuuri memandangnya dengan satu alis terangkat. Mereka berdua bertatap-tatapan. Yuri menangis di latar belakang.

Kemudian keduanya meledak dalam kekeh, tawa kecil geli sekaligus histeris, menertawakan sekaligus meratapi situasi mereka.

"Astaga, Papa," Yuuri nyengir sambil menggelengkan kepala, mendorong Viktor penuh canda sementara ia turun dari ranjang, memakai jubah tidurnya. "Jangan bilang begitu, ah. Apa tega membiarkan Yura nangis semalaman?"

Viktor menggeleng, ikut tertawa lelah. Ia bangkit menjejeri Yuuri, mengambil jubahnya sendiri. "Mana mungkin? Hatiku teriris mendengarnya."

Sepasang orangtua baru berciuman singkat, lalu berjalan bersisian ke kamar peri kecil mereka yang masih menjerit-jerit.

.

.

.

Yuri tidak lapar, tidak ngompol, dan tidak kepanasan. Singkat kata, dia hanya menangis untuk mencari perhatian.

"Dasar primadona," Viktor mengelus pipi tembemnya dengan sayang, membuat bayi itu menguak. "Tidak tahan kalau tidak menjadi pusat perhatian."

"Mirip siapa, coba?" Yuuri tersenyum, menatap Viktor dengan mata berkilau geli, "taruhan, dia akan tumbuh flamboyan seperti papanya."

"Wow, terima kasih atas pujiannya."

Mereka bertiga berbaring di tempat tidur kamar utama. Yuri di tengah, kedua orangtua mengapit di kanan-kirinya. Bayi itu sudah terkantuk-kantuk lagi, bibirnya memanyun dan tangannya menggenggam, nampak begitu polos dan tak berdosa seakan ia bukan makhluk yang tangisannya menyiksa gendang telinga. Viktor dan Yuuri meletakkan tangan mereka di perutnya, menepuk-nepuk sayang.

Pemandangan yang begitu platonis. Sulit dipercaya bahwa tak sampai tiga puluh menit lalu ranjang itu dipakai untuk bercinta.

"Viktor?"

"Hm?" Viktor membuka satu mata. Melihat Yuri tertidur membuatnya mengantuk juga.

"Terima kasih banyak."

"Hn? Untuk apa, Sayang?"

Yuuri terkekeh, mengelus rambut Viktor dengan lembut. "Karena sudah bersabar melewati semua ini. karena sudah menjadi Papa yang luar biasa untuk Yura. Aku janji aku akan menebus semuanya kalau Yura sudah lebih be—"

Pria itu mengerjap, matanya menjuling menatap telunjuk Viktor yang mengunci bibirnya, menghentikan kata-katanya.

"Sssh, Yuuri. Jangan bicara begitu. Kita 'kan keluarga, kita menjalani ini bersama-sama," Viktor tersenyum, mengelus pipi kekasihnya. "Kau tidak berhutang apa-apa padaku, sakharok. Tidak perlu ada penebusan. Ini semua bagian dari kebahagiaan kita, benar?"

Pria itu bangkit, menyangga tubuhnya dengan siku, dan mengecup dahi Yuuri dengan sayang. Yuuri mendengus geli, mendongak dan membalas dengan ciuman cepat di bibir. Yuri menguik kecil dalam tidur, mungkin sedang bermimpi. Ayah dan papanya saling berpandangan, lalu dengan senyum sayang, mencium kedua pipi si bayi berbarengan.

"Mmwuah. Tidur yang nyenyak, peri kecilku."

"Papa dan Ayah sayang kamu."

Yuri membalas dengan kuap kecil, kedua tangan mengusap wajah sementara mimpinya terus berlanjut. Viktor dan Yuuri menyusup dalam selimut, memejamkan mata, tangan keduanya melingkar melindungi buah hati mereka.

Yura kecil memang manis, cantik, imut, lucu, paling indah sealam raya.

Biarlah tangisannya nyaring macam sirene tanda bahaya. Biarlah dia membuat Viktor dan Yuuri kurang tidur dan tidak bisa saling bermesra. Membesarkan bayi rasanya sulit dan penuh derita, tapi Viktor tidak akan menukar momen-momen ini dengan apapun juga.

Inilah, Viktor menghela napas puas sembari menyerah pada kantuknya, momen paling ajaib dan bahagia dalam hidupnya.

.

.

.

OMAKE

"OWEEEEEEE!"

"Aaaaaah! Yuuriii, Yura ngompol!"

Perjalanan memahami seni orangtua baru saja dimulai.

tbc