Pandora Gakuen

Ch 3. Onii-san o ushinatta

Disclaimer : YAMAHA, Crypton Future Media

.

.

.

Miku menggigit potongan kue cokelat yang ada ditangannya dengan gugup. Ditambah keheningan yang terjadi diruangan tersebut. Setelah piring kue itu habis, Luka kembali berdiri dan akan segera memasak makan siang. Miku yang hendak membantu segera dihentikan oleh Rinto—ditambah dengan sebuah kedipan mata, lalu ia menyuruh adik laki-lakinya pergi kedapur.

"Ke-kenapa harus aku?" bantahnya dengan wajah merah padam. Satu hal yang ia percayai saat ini adalah kakaknya tengah mempermainkannya.

"Kau mau makan masakan kakak perempuanmu?"

"Tidak." Len mematuhi perintah kakaknya dan pergi kedapur.

Satu masalah selesai, meninggalkan Rinto yang tengah tercekik adik perempuannya.


Jadi disini dia sekarang, duduk manis hampir bersebelahan dengan Kaito, memperhatikan Rinto yang terkulai hampir tewas dengan taburan Rin diatasnya.

"A.. Anno, Rin-san-" jujur saja, Miku sangat prihatin pada lelaki itu, tapi pada kenyataannya yang dikasihani justru menampakkan wajah yang… terlihat begitu menikmati.

"Rin-chan." Rin membalas, memperhatikan Miku dari pelupuk matanya.

"Eh?"

"Riiin-chan..." Gadis pirang itu menggembungkan pipinya dan memandang Miku tajam. "Aku tidak suka jika ada yang berkata formal padaku."

Kaito menutupi mulutnya dengan berpura-pura menggaruk hidung. "Turuti saja," bisiknya pada Miku. Melihat keadaan Rinto membuatnya mengerti, ia harus berhati-hati,

"Kalau begitu. Umm... Rin-cha... chan..." ini baru pertama kalinya ia memanggil seseornang dengan menggunakan 'chan'. Kaito yang sudah menebak hal tersebut tak bisa menahan senyuman. Bagaimana anak semanis dan sepolos Miku bisa tidak memiliki teman? Status keluarga kah? Atau karena kekuatannya? Apakah kekuatan Miku bisa berdampak pada manusia juga? Tanpa sadar Kaito sudah memikirkan gadis yang ada disebelahnya itu. Gadis yang telah memikatnya hanya dengan sebuah senyuman dan air mata.

"Dengan kau, semuanya jadi delapan orang." kata-kata Rin membangunkan Kaito. Sepertinya Miku menanyakan penghuni bangunan tua ini.

"Kita berempat," gadis berambut sebahu itu mulai menghitung dengan jarinya. "Len, yang berambut pink tadi adalah Megurine Luka. Luki kakaknya juga tinggal disini. Ah! Dan yang terakhir itu-"

Mendadak Rinto terbangun, membuat Rin yang sejak tadi duduk diatasnya terjatuh kebelakang. Membuat kepala kuningnya terbentur cukup keras. Alih-alih mengkhawatirkan adiknya, Rinto justru menatap Kaito dengan wajah tegang. Kaito menatapnya balik, mencoba membuka isi kepala makhluk kuning yang tak ada isinya itu.

Kaito menggeleng.

Namun Rinto mengangguk.

Kaito menyipitkan mata, ia baru saja pulang dari perjalanan jauh, perban masih melilit kepalanya, kemerahan masih membekas dilehernya, bahkan tamparan Miku pun masih terasa menyengatnya. Dan sekarang ia mendapat masalah bulanan yang membuatnya harus menyisikan uang jajan demi perbaikan rumah. Ingin rasanya ia menjerit.

Kaito segera bangkit, lalu berjalan—bahkan berlari—keluar dari ruangan. Rinto pun segera mengambil langkah, ia menyuruh adiknya untuk membawa Miku menjauh sekaligus memanggil Len dan Luka untuk keadaan genting tersebut. Rin segera menyambar pergelangan tangan teman barunya itu. Meski hanya sekilas, Miku dapat melihat kepucatan diwajah Rin. Dia memang penasaran namun ia mengerti ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya. Ia hanya mengangguk dan mengikuti Rin kearah dapur.

Namun terlambat, Rin dan Miku mulai merasakan bulu kuduknya berdiri. Mereka berdua menoleh kebelakang ketika mendengar teriakan dua orang yang begitu dihapal, Kaito dan Rinto baru saja terlempar kembali kedalam ruangan.

Seekor kambing yang tingginya mencapai langit-langit, berdiri menggunakan kedua kakinya, menyeret sabit besar hanya dengan sebelah tangannya. Darah segar telah melumuri sabit tersebut, darah yang berasal dari Rinto yang kini hanya tergeletak disudut ruangan dengan sayatan diagonal ditubuhnya. Perlahan, makhluk bengis itu—yang Kaito yakin adalah seekor Baphomet—memasuki ruangan dari tempat Kaito pergi tadi. Kabut hitam mengelilingi makhluk tersebut, mengekang nyali Kaito yang tadinya sudah bulat. Sekarang nyali tersebut terinjak bersama puing-puing yang menjadi tempatnya mendarat.

"KUSO!" Kaito melihat Rin sudah menciptakan cambuk cahaya, dan tanpa rasa takut berlari menerjang monster berbau mayat tersebut dengan kecepatan penuh. Ia membelit kedua tangan dan kaki monster tersebut, mencoba menghentikan pergerakannya. Namun sayang, kekuatannya masih kurang. Dengan mudahnya, hanya dengan menggerakkan tubuhnya sedikit, tali yang membelitnya putus. Kegelapan monster tersebut cukup besar, sedikit pencerahan takkan ada artinya. Baphomet itu segera menyerang balik, menghunuskan sabitnya kearah Rin.

"RIN-CHAN!"

Entah keadaan Rin yang hampir tersayat atau teriakan histeris Miku yang menyadarkannya, tapi Kaito kini sudah berada didepan Rin, menahan sabetan maut Baphomet hanya dengan sebilah pedang satu mata buatannya.

"Jangan bercanda…" bisiknya, Rin yang kini hanya terduduk dibelakangya mulai bergetar ketakutan. "Jangan sentuh teman-temanku, kambing sialan!"

Hanya dengan bermodalkan amarah, Kaito mengayunkan pedangnya dan berhasil melepaskan sabit dari genggaman Baphomet. Kaito segera melancarkan serangan berikutnya, dibantu dengan kecepatan, menebas musuh tanpa senjata dihadapanya tanpa pikir panjang.

Namun tak ada satu goresanpun.

Atau lebih tepatnya luka yang kaito buat dengan seluruh kekuatannya kembali seperti semula dengan kecepatan yang luar biasa. "Uso…" bisik Kaito dengan mata membelalak. Mata mereka bertemu, mata semerah darah yang haus darah itu membuat rasa takut kembali menyelimutinya, menarik kakinya mundur. Kaito merasakan tangan besar monster itu mendekatiwajahnya, namun yang ia bisa lakukan hanya memejamkan mata dan berpikir,

Dia akan mati.

Kesadaran tidak mengambil alih dirinya. Perlahan Kaito membuka mata birunya, mendapati sebuah telapak tangan kambing—yang sepuluh kali lebih besar dari kambing pada umumnya—hanya beberapa centi meter untuk menghancurkan wajahnya.

"Daijoubu desuka, Kaito-san?" Kaito menghela napas yang entah sejak kapan telah ditahannya begitu mendengar suara yang telah dikenalnya. Kaito menoleh kebawah, ruangan itu memang gelap, namun ia berhasil melihat bayangan monster tersebut, berhubungan dengan bayangan Len yang sekarang telah berada disebelah saudara perempuannya.

Disisi lain, Luka duduk bersimpuh disamping Rinto dan mulai menyelimuti lukanya dengan es, menghentikan pendarahan. Gadis itu mengambil sapu tangan dari saku roknya, membersihkan darah yang keluar dari bibir Rinto. Lalu ia melebarkan kain berwarna biru tua tersebut dan menyelimuti wajah Rinto dengannya. Luka menepuk tangannya pelan sebelum berdoa.

"O..oi.. Luka-chan. Dia belum mati."

"Dia sudah." Kaito sedikit terheran mendengar jawaban gadis itu.

Luka segera berdiri dan membantu Len. Dan disaat itulah Kaito baru menyadari alasan kematian sahabatnya, Luka sudah membekukan kedua tangannya. Pemikiran Kaito satu-satunya, Rinto sudah melakukan hal tidak senonoh terhadap Luka. Selesai.

Mungkin meremas bokong seksinya. Jika Rin boleh berpendapat. Kakaknya memang merupakan laki-laki paling kurang ajar, bahkan disaat genting seperti ini.

Miku dapat melihat sorot sedingin es dimata Luka ketika memandang monster tersebut. "Kau bisa menahannya, Len?"

Len menggeleng kepalanya, ini bukan saatnya untuk tersipu hanya karena gadis yang dicintainya memanggilnya dengan cara yang berbeda. Len, bukan Len-kun seperti yang biasanya, maupun Len-san ketika Luka ingin meledeknya. Namun itu juga berarti Luka tengah serius, dia harus fokus. Takut suaranya akan bergetar, Len memutuskan untuk hanya mengangguk mengiyakan.

.

Luka memejamkan mata.

.

Pada saat itu, Miku yakin ia merasakan tubuhnya menggigil, ia bahkan dapat melihat kabut napasnya sendiri. Suhu ruangan diruangan tersebut mencapai jauh dibawah titik beku, menyebabkan es mulai menyelimuti permukaan tubuh Baphomet, bahkan Miku dan setiap barang maupun tubuh orang yang berada disana—bahkan Luka sendiri—lama kelamaan, lapisan es menutupi monster neraka tersebut seluruhnya cukup tebal untuk menghentikan gerakannya. Membuatnya terlihat seperti pajangan yang berhiaskan gelas kaca.

"Sudah selesai?" Luka membuka mata saat mendengar suara bergetar Rin yang sedang menggigil.

Len pun melepaskan kekuatannya, memutus bayangan yang sebelumnya menjadi satu dengan si kambing raksasa. Ia menggeleng. Lelaki manis itu tidak yakin dingin es dapat mematikan sarafnya, darah iblis itu terasa begitu panas, setidaknya itu yang dikatakan instingnya.

Miku menggerakan kakinya mendekati bongkahan es tersebut tanpa sadar, memeluk dirinya sendiri, ia memperhatikan mata merah yang tampak seperti memperhatikannya. Gadis itu bergidik ngeri, namun sesuatu seperti menggerakan tubuhnya, menggerakan tangannya untuk menyentuh es tersebut yang tanpa siapapun sadari, lapisan bak kaca itu retak.

Tak lama retakkan tersebut semakin meluas, Len, yang menyadari lebih cepat—meskipun tetap terlambat—hanya dapat meneriaki Miku untuk segera menyingkir.

Tak ada satupun yang terpikir untuk dilakukan miku, badannya seperti membeku,

Ia hanya menutup mata dengan erat.

Miku merasakan sesuatu yang erat menarik tubuhnya kebelakang. Gadis teal itu juga merasakan perubahan suhu yang sangat drastis dari arah depan, namun ketika ia ingin membuka matanya, seseorang—orang yang sama dengan yang menariknya tadi—menutupi kedua tangannya dengan satu tangan sembari berbisik, "Kau tak perlu melihatnya."

Miku baru menyadari bahwa dirinya tengah dipeluk dari belakang, ia dapat merasakan sesuatu yang hangat dibagian belakang tubuhnya. Dan perlahan ia mengingat suara yang baru saja berbisik padanya. Meski samar, ia yakin pada suara tersebut. Itu adalah suara lembut kakaknya, Mikuo Hatsune.

Kakak laki-lakinya yang menghilang setahun yang lalu.

.

.

.

to be continued.


Nafu koko ni imas… sen. saya tahu udah janji mau berusaha buat update dua minggu sekali, tapi malah ngaret sampe dua bulan. Moshiwake gozaimasen… *bersimpuh menggunakan kekuatan*

Aru : ceritanya pendek pula

Abisnya, tadinya kan mikir 'mau bikin banyak ah entar abis UAS..' tapi malah lupa ampe sekarang mau masuk lagi… terlalu banyak yang terjadi… #MerataphiNasiph

Aru: Lupa yang disengaja itu mah.

YEAYY… Aru is back.. ok perkenalkan, ini Subaru. Petto desu.

Aru: Yoroshiku onegai… chotto. PETTO?

Ada Saburo juga, tapi dia lagi cuti. Lumayan punya dua piaran yang bias disuruh-suruh kan (sebenernya sih karena saya kesepian jadi pelihara mereka deh…)

Lagian ga tahu kenapa, setelah ngebaca manga Ghost Hunt by Inada Shiho dan ONO Fuyumi dan ngerasa ga puas sama ending ceritanya, baru ke inspirasi buat 'pengen nulis cerita!' gitu. Eh malah curhat, gapapa ya? Tapi ada yang tahu manga atau anime itu ga? Animenya sih tahun 2007

Aru: Lama.

Novelnya ada dari tahun 1989, manganya ada tahun 1998 tapi sequelnya ada tahun 2012 (kalo ga salah). Serius deh cerita ini bagus banget buat yang tertarik tentang horror dan psychic (tulisannya bener ga sih?). kok malah promo sih, mana ga nyambung pula sama nih cerita yang ga ada horrornya.

Tapi mau gimana lagi, kan yang jadi motivasi yah ini. Gitu deh pokoknya.

Mau bales review aja.

your viewer Dec 6, 2016

ga tahu mau ngomong apa, maaf karena keterlambatan? Padahal tadinya sudah terencana… TTATT

Tapi makasih udah mau ngereview…

Aru: salah siapa kebanyakan main otoge?

Fuyuki25 Dec 22, 2016

Yeay, Fuyucchi is back…! Abaikan? Kalo gitu kok Akihiko-san mau punya master kaya Fuyucchi?

Iya, manggil apa aja boleh kok, mau fuyu-uki kek, atau fuyunghai kek, Aru : keinget waktu sma ada yang manggil gitu ya?

terserah, mau manggil. john brown atau sarjojo juga bukan masalah.

Aru : sapa?

Clara Azuzaka Jan 17

Aru: Ini mah bukan telat.. ini juga bagus karena banyak yang ngopi cerita orang trus diotak-atik sendiri…

'ini juga bagus' yaeah… berarti Aru ngakuin ini bagus dong… XD

Aru: G.. Ga!

.

Okelah, itu aja, klitik dan saran amat dibutuhkan

-Nafu Ishida.

02/09/2017. 05.49 am.