THE ACTORS (Capt FINAL)
Pairing: Sasu/Hina always.
Rating: T
Tags: Romance
Disclaimer: All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto and the story belongs to imnotevil san
Happy Reading..
##########################################################################
Heboh kabar tentang berakhirnya pertunangan antara putra keluarga Uchiha dan putri dari klan Hyuuga terus menjadi Headline News beberapa bulan ini. Kepindahan sang heiress Hyuuga ke belantara antah – berantah diluar jepang secara mendadak, tentu semakin menjadikan Sasuke sebagai bulan – bulanan awak media. Nitizen pun terbagi dalam dua kubu. Mereka yang mendukung Karin mengatakan ini adalah karma bagi Hinata yang telah merebut Sasuke dari Karin. Sementara kubu yang lain menyalahkan Sasuke yang masih bertahan dengan ketidak setiaannya dalam berpasangan.
Sasuke menatap dingin majalah ditangannya, tajuk utama kali ini masih tentang dirinya. Yang berbeda hanyalah potret gadis yang tengah mengapitnya mesra. Gadis itu bukanlah lagi si cantik bermata bulan yang tersenyum malu – malu, melainkan gadis bersurai merah yang tengah berpose genit dengan baju berbahan minim.
Sasuke memang tengah menjalin hubungan dengan Karin pasca kandasnya hubungan dirinya dengan Hinata. Mengindahkan cibiran dan celaan yang bukan hanya dari para fans, namun juga dari keluarganya sendiri, tampaknya hal itu sedikitpun tidak menyurutkan tekat Sasuke.
"Hanya Karin yang mau mengerti.." atau, "Karin gadis baik yang paling memahami aku.."
Kalimat klise itulah yang selalu terlontar dari mulutnya bila ada yang mengajukan pertanyaan padanya bila para pemburu berita berkerumun menanyakan perihal hubungan mereka. Padahal dalam hati pria itu tengah meradang dan berlumuran darah. Tidak bisa dipungkiri hatinya masih memikirkan gadis Hyuuga itu namun seolah semua kalah tersapu oleh kesumat. Dan sebagai pembalasan, Sasuke lebih memilih untuk melampiaskan segalanya pada kesenangan yang ditawarkan oleh Karin.
"Sasuke.." Naruto menepuk pundak pria berambut raven itu, menyadarkannya dari lamunan panjang.
Sasuke mengerjabkan matanya sebelum kemudian menatap kearah sang paman. Lesu, tak ada gairah. Hilang sudah binar mata penuh ambisi dan keangkuhan yang biasanya ada di mutiara hitamnya, membuat Naruto menghela nafas panjang.
"Karin menunggumu diluar.."
Naruto mencengkram lengan Sasuke saat pria itu bergerak meninggalkan tempat duduknya, "Hentikan.."
Sasuke menatap lengannya yang dicengkram Naruto, "Apanya.." Katanya balik menatap Naruto dengan tatapan malas.
"Kumohon.. Hentikan menyiksa diri seperti itu.. kau.." Naruto menelan ludah dengan susah payah, "kau terlihat sangat payah.."
Sasuke menghentakkan lengannya. Lalu terkekeh. Tawanya terdengar getir dan sinis.
"Payah? Ya.. Aku memang payah, Naruto Jii san.. Saking payahnya hingga mempertahankan seorang perempuan saja aku tidak bisa.. Kau tahu apa yang paling menyakitkan? TIDAK DIPERCAYA OLEH ORANG YANG KAU CINTAI!"
Sasuke mencengkram dadanya yang terasa nyeri menghunjam, nafasnya memburu. Ia bukan lagi Sasuke sang superior. Bahkan innernya sendiri mengejek betapa pecundang dirinya saat ini.
"Sasuke.. Aku.."
Sasuke menepis tangan Naruto perlahan. Ia tak butuh dikasihani walau nyatanya ia memang menyedihkan.
"Urusai!"
Naruto menatap punggung Sasuke yang bergerak menjauh. Dalam hatinya pria blonde itu hanya bisa berharap keponakannya akan segera kebali seperti sediakala. Sasuke benar – benar jatuh dan hancur.
.
.
THE ACTOR
.
.
Karin mendengus kesal. Ini sudah gelas ke 6 yang dipegang oleh lelaki itu. Cih! Apanya yang kekasih? Pria itu benar – benar menganggurkan dirinya. Mati – matian ia sudah berdandan. Baju setengah terbuka yang mengundang untuk dikoyak, gincu merah andalan dan beberapa pad tambahan untuk membuat dadanya lebih membusung. Karin membayangkan makan malam romantis dibawah kilatan lampu blitz awak media. Tapi apa kenyataannya? Kini mereka justru tengah terdampar di Bar dipinggiran kota tak dikenal.
Kapan sih ia akan diperkenalkan sebagai Uchiha's trophy next generation? Karin kembali mendengus kesal. Kalau begini caranya, lebih cepat menikah dan bercerai mungkin pilihan terbaik. Jangan lupa pembagian aset gono – gini. Dan segala tetek bengek tentang pembagian harta bagi janda Uchiha.
Karin menatap punggung Sasuke yang tergelung di meja bartender karena pengaruh alkohol. Senyum sinis menyembul tipis. Ia mengambil beberapa lembar tissue. Membiarkan lembaran putih itu menguning menyesap ceceran bir, lalu menggulungnya membentuk bola – bola kecil.
"Dasar pria tidak berguna!" Karin melemparkan bola tissu dikepala Sasuke dengan kesal.
"Apanya yang aktor kharismatik, hah?! Sia – sia aku merebutmu dari si kampungan Hinata. Ternyata kau hanya pria lemah tak berguna. Pemabuk dan tukang mengeluh.."
"Pft.."
Karin menolehkan kepalanya saat merasa seseorang tengah menertawakannya.
"Maaf?!"
Karin berbalik hendak protes, namun gerakannya terhenti saat ia menyadari sosok mengagumkan yang tengah menatapnya dengan begitu intens dibalik senyuman.
Iris hitamnya menelisik, menelusuri tiap inci tubuh Karin dari atas hingga bawah dengan pandangan nakal. Kurang ajar sebetulnya, namun entah mengapa pandangan mata pria itu justru membakar gairah.
"Kenapa Nona?" Bibir pria itu menyunggingkan senyum geli, "Apa aku begitu mempesona bagimu?"
Karin segera menegakkan tubuhnya, menyilangkan kakinya memperlihatkan aset terbaiknya, gadis itu mencoba memancing mangsa baru.
"Bukannya..kau yang terpesona padaku.. baka?"
Menyadari gadis didepannya tengah melakoni peran tsundere, pria itu lalu memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga menyisakan jarak yang terhitung dalam centi.
Karin memejamkan matanya, menikmati perpaduan aroma klasik mawar, geranium, kayu cedar dan apel hijau yang sensual namun lembut. Begitu menggambarkan pemiliknya yang tampak ramah sekaligus kejam menggoda.
"Heh.."
Karin seketika membuka matanya, mendapati pria itu sudah menjauhkan tubuhnya dan terkekeh geli. Karin dongkol, baru kali ini dia dipermainkan seperti itu.
"Yamanaka Sai.." Pria itu mengulurkan tangannya, mencoba berdamai saat merasa gadis didepannya marah.
"Uzumaki Karin.." Kata gadis itu cuek, sok jual mahal.
"Aaaaahh.. Uchiha.." Kata Sai melirik sosok dibelakang Karin, berpura – pura salah dengar, "Sudah ada yang punya toh.."
Karin mendecih sebal, "Uzumaki! Dan jangan pernah menyadingkan aku dengan mahkluk tidak berguna ini.."
Sai terbahak, baru kali ini ada perempuan yang menolak pesona Sasuke.
"Apanya yang aktor berkharisma.. mata setajam elang.. prodigy Uchiha.. Dia hanya orang idiot yang terpuruk dengan mudah karena patah hati.."
Sai menelengkan kepalanya bingung, "Patah hati? Bukankah kau kekasihnya?"
Karin menyambar gelas Sasuke, memainkannya sebentar sebelum mereguk isinya hingga tandas, "Panjang ceritanya.."
Sai memanggil bartender, memesan dua gelas Cocktail dari Cognac tahun 1830 dengan Vermout kering dan jeruk Liqueur. Karin ternganga, harga minuman ini segelasnya mencapai $ 1.670K. melirik penampilan pria disampingnya, membuat senyum merekah dibibir merahnya, mangsa baru, nich.
"Kau sering kesini?" tanya Karin.
Pria itu hanya mengendikkan bahunya, "Tidak juga.. aku lebih suka menikmati dirumah. Kau tahu.. setelah berenang atau bercinta.. meracik sendiri untuk pasangan kita.."
"Kau sudah menikah?!" Pekik Karin.
Hanya kaget sebenarnya, baginya tidak masalah bila Sai telah menikah. Bermain – main dengan pria beristri bukan hal baru bagi Karin.
"Apa aku tampak seperti itu?" Sai terkekeh dan mengerlingkan matanya nakal kearah beberapa perempuan yang tengah terkikik, membalas serigaian pria itu dengan genit.
Karin memajukan tubuhnya menghadap kearah Sai, memalingkan wajah pria pucat itu untuk tetap menancapkan atensinya pada dirinya, "Tidak.. kau justru terlihat lebih brengsek dari itu, Baby.." Karin membisikkan bisanya dengan seduktif, "Tapi aku suka.."
Sai tidak bisa menahan diri untuk tidak tergelak,membuat gadis merah didepannya mengerucutkan bibir karena kesal.
"Lalu kau apakan pria dibelakangmu itu, em?" Kata sai mengendikkan dagunya kearah Sasuke.
Karin menghembuskan nafas dengan kasar, "Aku bosan.. tidak! Tepatnya dia jadi membosankan.. padahal aku hanya mengerjainya sedikit.."
"Mengerjai?" Sai menopang kepalanya menatap Karin dengan tatapan seolah dia sangat tertarik dengan cerita gadis itu, sementara tangannya bergerak perlahan membelai surai merahnya.
"Hum! Aku menjebak gadisnya dengan memperlihatkan seolah Sasuke tengah memaksaku bermesraan, dan dengan polosnya gadis itu menerimanya begitu saja.." Karin tertawa jahat.
"Kau.." Sai sejenak menahan nafasnya lalu tersenyum, "jahat sekali.."
"Hei! Aku hanya bermain sedikit kau tahu.. dan bila mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah, itu bukan salahku.." Karin mendengus kesal, cukup sudah posisinya sebegai orang yang menjadi penyebab, "Salahkan Hinata yang tidak mempercayai kekasihnya, dan salahkan Sasuke yang tidak mengerti kegelisahan orang yang dicintainya. Dan sekarang.. aku tinggal memetik hasilnya. Rumah, Mobil mewah.. Hei, kira – kira apa lagi yang bisa kuambil dari pernikahan dengan Sasuke, ya?."
"Well, kau benar – benar nona pelakor yang bangga dengan profesinya, ya?"
Karin terdiam sesaat sebelum kemudian tergelak mendengar ucapan Sai. Entah pria didepannya ini sedang menyindir atau tidak, Yah, tidak bisa dipungkiri ada kesan bangga yang ia rasakan karena bisa memporak porandakan hidup pria paling digandrungi perempuan di dunia itu.
"Aah.. Sudah cukup membahas tentang Sasuke. Mood ku bisa jelek karena hal itu. Bukan kah kau ingin mengajakku bersenang – senang?"
Sai mengambil gelas cocktail dan memainkan cairan didalamnya. Gemelutuk es yang saling bertabrakan menambah kesan seksi pada senyum pria itu.
"Kita sudah bersenang – senang, kok.."
Karin mengernyitkan dahinya, mencoba menangkap gumaman Sai dari balik hingar – bingar dentuman musik.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Sai kembali tersenyum. Lalu dengan perlahan tangannya mengeluarkan sebuah kotak silver dari balik bajunya. Karin terkejut luar biasa. Sebuah recorder.
"Ka.. Kau tidak.."
"Bagaimana menurutmu, Sasuke? Tidakkah ini cukup?"
Karin seketika membalikkan tubuhnya kebelakang. Matanya terbelalak melihat sosok raven itu telah duduk tegak dan menyunggingkan senyum sinis. Seketika itu ia menyadari, karir dan hidupnya diujung tanduk.
"KAU! KAU TIDAK AKAN BERANI!" Karin bangkit dari kursi dan mengancam Sai, sementara pria itu hanya diam dan terus tersenyum.
Merasa ancamannya tidak mempan, dengan gemetar Karin mengambil Clutchnya dan merogoh seluruh lembaran uang dan kartu kerdit didalamnya.
"Be.. Berapa Sasuke membayarmu? Aku ganti dua kali lipat! Tidak! Aku akan membiayai hidupmu.. aku.. aku.." Karin menekan dadanya yang terasa sesak karena Sai hanya diam dan terus tersenyum.
"KATAKAN SESUATU BRENGSEK!" Teriak Karin frustrasi. Dilemparkannya uang dan kartu – kartu bernilai jutaan ke wajah Sai.
Sai meraup wajahnya tanpa sedikitpun menurunkan kadar senyumannya.
"Tampaknya kita perlu berkenalan ulang, nona." Sai menyipitkan matanya. Senyum yang tadinya begitu mempesona kini terlihat mengerikan. Mengingatkan Karin pada seseorang.
"Aku Yamanaka Sai, Suami dari Yamanaka Ino. CEO Konoha Enterprise group. Dan andai saja kau tidak suka membuat masalah dan menikahi Sasuke, maka kita adalah sepupu. Karena dulu, aku juga seorang Uchiha. Putra dari Uchiha Madara."
Karin merasa kakinya seketika berubah menjadi jelly. Akhirnya ia mengenali senyuman itu. Senyum menjengkelkan milik para Uchiha. Karin seolah diserang migraine dadakan. Jangankan gambaran tentang masa depan, kehidupannya esok pun seolah telah menjadi gulita.
"Kau tahu.. Kurasa sepupuku ini orang yang murah hati.."
Karin mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Sai, "Ka.. Katakan.. Apa yang harus aku lakukan?", apapun akan ia lakukan saat ini. Bahkan jika itu artinya ia harus menjilat sepatu Sasuke.
"Cukup enyah dari kehidupanku Karin.."
Karin seketika mengangguk, meng-iya-kan ucapan Sasuke. Namun Sasuke segera menghentikan apapun ucapan yang akan disampaikan Karin.
"Itu berarti termasuk enyah dari kehidupan Hyuuga Hinata.." tambah Sasuke setengah mengancam.
Karin bergegas mengambil clutch miliknya dan tanpa basa basi segera meninggalkan ruangan tempat dua bersaudara itu berada.
"Setelah ini, ia tidak akan berani lagi mengusik hidupmu." Sai memunguti lembaran uang dan kartu kredit Karin yang berhamburan.
"jadi, kau benar - benar merekamnya?" Tanya Sasuke.
Sai mengerling jenaka.
"Seperti alat ini berfungsi saja"
.
.
THE ACTOR
.
.
Mittelbergheim adalah desa kecil di Alsace, Perancis. Tempat terpencil dengan latar pemandangan alam pegunungan Saint Odile dan hamparan hijau perkebunan anggur. Warna – warni bangunan khas prancis dengan bunga – bunga dibalkon, senyum ramah penduduk, dan jangan lupakan bahwa desa ini merupakan anggota Les Plus Beaux Villages De Franc.Desa wine terbaik di Alsace Perancis. Sungguh tempat ideal bagi seseorang yang ingin menyingkir dari hiruk pikuk keramaian kota.
"Bienvenue.."
Sapaan ramah pemilik salah satu bangunan – bangunan half timberedhouse yang cantik terdengar saat Sasuke melangkahkan kakinya masuk. Bau roti Perancis yang baru matang, keju dan kopi menguar, memberikan kesan nyaman tersendiri.
Membalas senyum sang pemilik café, Sasuke kembali melangkahkan kakinya untuk masuk semakin dalam. Wajahnya lelah akibat penerbangan 12jam nonstop berubah sumringah saat menemukan sosok yang ia cari.
"Pantas kau betah bersembunyi disini. Tempat ini benar – benar seleramu." Lugas seperti biasa, "Kau tak merindukanku, Hinata Sayang?"
"Dan kau butuh waktu 3 tahun untuk menemukanku? Untuk apa aku merindukanmu?"
Sasuke terkesima. Hanya membiarkan gadis manisnya ini sebentar, ia melihat Hinata sekarang sudah pandai membalikkan kata – kata. Tapi tetap saja, ada hal yang tidak berubah dari Hyuuga Hinata.
"Kau menantangku atau menggodaku? Dengan kalimat dan wajah manis seperti itu, aku siap menelanjangimudiranjang saat ini juga."
Hinata merah padam. Ia jelas tak siap dengan kalimat vulgar Sasuke barusan. Andai ini tidak di Perancis, dan semua orang paham kalimat pria dihadapannya, mangkuk pie ini pasti sudah berpindah dari meja ke muka.
"Apa maumu, Tuan Uchiha?"
Sasuke memutar – mutar kotak merah berbahan beludru disaku jaketnya. Menimbang kalimat yang pas untuk suasana romantis mereka saat ini.
"Menikahimu."
Sial! Mulutnya jelas tak bisa diajak kompromi.
#END?
Holla Hitora disini.. rasanya aku selalu muncul untuk minta maaf yah? Kwkwkwkwkw! Akhirnyaaaaa The actor bisa aku tamatkan setelah sebelumnya sempat Hiatus. Aku benar – benar harus menemukan mood yang pas untuk menggarap ending kisah ini. Dan syukurlah aku bisa menyelesaikannya. Terima kasih untuk masukan, dukungan dan harapan teman – teman sekalian. Dan apakah the actor tamat sampai disini? Well.. sebetulnya aku sudah menyiapkan OS spesial untuk benar – benar mengakhiri kisah Sasuhina di fik ini. Tapi lagi – lagi aku belum menemukan mood yang tepat untuk menguploadnya. Rasanya masih kurang dan kurang. Tambal sulam sana sini.
Oke, sekian untuk cuap – cuap dariku. Sampai ketemu lagi dengan Fik Hitora yang lain. Blue House with purple flower semoga bisa menjadi pengganti yang baik. #Ngiklaaaaaan! Kwkwkwkwkw! Always love you minna.. semoga kalian sehat dan berbahagia selalu. see you! Mwuuach!
