Hello dear readers~

Akhirnya, new chapter!

Author sungguh minta maaf atas keterlambatan parah fic ini *bow. Beberapa minggu ini ada masalah dengan akun author, dan karena gak tahu bagaimana memperbaikinya, maka author hanya bisa pasrah dia memperbaiki dirinya sendiri, dan... jreng-jreng-jreng!

Yuki ChibiHitsu-chan: ini dia chapter baru yang ditunggu-tunggu :) semoga memuaskan, ya.

WbQueen: buat kamu yan kangen ma Shiro-chan, there you are! *wink

Shioreinz: nunggu Shiro-chan juga? Ckckck, cebol gitu dikangenin - eh! ampun! - nih, author kasih part-nya, hehehe

Honey Sho: thanks for the review and the understanding :)

mike recloud: trims buat review-nya, duh... author jadi terharu...

snow field: ini chapter barunya, maaf sudah dibuat nunggu lama ya!

Okelah, tanpa perlu berlama-lama lagi, author ucapkan selamat membaca, dan jangan lupa tinggalkan review ya~

Chapter 5

"Ini benar-benar membosankan."

Toushiro berusaha keras mengabaikan gerutuan yang berulang entah untuk keberapa kalinya, berasal dari bagian lain di kepalanya. Ya. Ryuu si hollow yang sedang setengah merajuk di inner world si Komandan Divisi 10. Aksi seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi. Setiap kali Toushiro berkutat dengan laporan, setiap kali rapat komandan berubah menjadi lempar umpatan – berkat Kurotsuchi dan Zaraki -, dan saat seperti ini, ketika ia sedang misi penyelidikan. Bersembunyi dalam bayangan, mengawasi dalam diam, juga minim aksi sama sekali bukan favorit si hollow. Ia berulang kali mendesak Toushiro untuk angkat senjata. Tapi, seperti biasa, 'bos-nya' itu sama sekali tak menurutiya.

Jadilah Toushiro harus bertahan menerima 'siksaan' berupa protes yang barangkali sudah terukir di belakang kepalanya saking seringnya kata-kata itu diulang.

"Apa anda baik-baik saja, Komandan? Atau kita perlu berhenti sebentar?" tanya Fujimoto, Kursi Ketiga Divisi 10.

"Ya, tidak apa-apa. Lanjut saja. Kita hampir sampai," sahut Toushiro datar.

Bagaimanapun, misinya jauh lebih penting daripada rengekan hollow-nya.

Saat itu keduanya sudah berada di tepi hutan perbatasan Distrik 32 dan Distrik 33. Menurut rumor yang mereka dapat dari para konpaku, gerakan misterius berlangsung di sekitar tempat itu. Tempat yang sangat wajib dihindari ketika hari mulai gelap. Toushiro sendiri bukan penggemar kata 'rumor', tapi dalam pekerjaannya kata itu bisa menuntun pada petunjuk besar.

Apalagi jika tempat yang dijadikan obyek rumor itu adalah tempat para bawahannya bertaruh nyawa melawan musuh yang tak diketahui.

Sisa sinar matahari sore menembus dedaunan rimbun hutan dengan warna keemasan. Sungguh disayangkan, menurut Toushiro. Pemandangannya cukup menawan, tapi orang-orang telah menjadikan tempat ini sebagai sesuatu yang terlarang.

"Gunakan kidou untuk menyembunyikan hawa keberadaan," ujar Toushiro, "dan kita masuk."

"Baik, Komandan!"

Maka, setelah memastikan keduanya tersamarkan sempurna oleh mantra kidou, dua anggota Divisi 10 itu memasuki yang diyakini menjadi area berbahaya.

Tapi hutan itu sunyi senyap. Mantra kidou tak hanya menyamarkan hawa keberadaan, tapi juga suara langkah kaki mereka. Kecuali gemerisik dedaunan yang bergesek karena hembusan angin, tidak ada suara mencurigakan. Bahkan hewan hutan pun tak ada tingkahnya.

Pantas saja hutan ini terasa horor. Apalagi begitu cahaya matahari meninggalkan langit. Bulan kuartal di biru langit tinta yang gelap dan kerlipan bintang menjadi satu-satunya penerangan dua shinigami itu. Pepohonan dan gerumbul semak di sekitar jalan kecil yang mereka lewat menciptakan bayangan seram.

Keduanya tak bersuara, sama-sama menajamkan indera pada sekelilingnya. Tapi masih nihil.

"Kita masih tak temukan apapun, Komandan," bisik Fujimoto, seakan cemas jika ada yang mendengarnya selain atasannya itu. "Mungkin rumor itu hanya rumor?"

"Kita tak berhenti di sini hanya karena belum temukan apapun dalam waktu dua jam," balas komandannya datar.

Fujimoto bungkam, seakan baru ditegur keras. Bukannya dia tidak menyukai tugas ini. Hanya saja, penyelidikan kali ini terasa... ganjil. Perasaannya seakan mencoba memberitahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Fujimoto mmenghela napas. Bukan waktunya keparanoidan melanda. Komandannya benar, mereka tak bisa berhenti begitu saja. Ia harus fokus.

Lagipula, jika hal buruk benar-benar terjadi, paling tidak ia bersama salah satu shinigami paling berbahaya di Gotei 13.

Meskipun penampilannya tak jarang sangat mengecoh.

Dan kemudian, ia merasakannya.

Hawa kehadiran asing.

Fujimoto menghentikan langkahnya. Ia yakin Komandan Hitsugaya merasakannya juga, mata hijau turqouise-nya mengirimkan tatapan peringatan penuh waspada. Fujimoto mengangguk. Segera, keduanya menuju ke tempat asal hawa kehadiran itu. Dari balik pohon dan semak, mereka melihat bola-bola api yang menyala, melayang di kegelapan.

Manusia biasa akan mengira itu api-arwah. Tapi mereka shinigami, tahu itu api betulan. Benar saja, siluet-siluet gelap tampak berjalan bersama bola-bola api, yang teridentifikasi sebagai api obor.

Nah, akhirnya ada sesuatu yang bisa dicurigai.

Toushiro menyipitkan mata, mengawasi pergerakan sekelompok kecil orang yang berada di bawahnya. Ya, ia memutuskan untuk mengawasi dari atas pohon, memastikan ia mendapat pandangan menyeluruh, sementara Fujimoto berada di seberangnya. Kelompok kecil itu hanya lima orang, semuanya pria paruh baya. Toushiro tak mengingat satu wajahpun dari Gotei 13 di sana dan penampilan mereka terlalu berkelas untuk menjadi konpaku biasa.

"... shinigami Gotei 13 sepertinya mulai bergerak..."

"... Distrik 50 sudah tidak aman..."

"... waktunya berpindah..."

Toushiro bergerak melompat tanpa suara ke dahan pohon di depannya. Ia tak boleh melewatkan ini.

Kelompok kecil itu jelas belum menyadari kalau mereka dalam pengawasan. Sayangnya, nada bicara mereka makin merendah semakin mereka masuk ke dalam hutan. Obor yang tetap menyala pun hanya tinggal satu, dipegang oleh pria yang berjalan paling depan.

Toushiro menatap di mana Bangku Ketiga-nya tengah mengawasi, matanya juga tertuju padanya. Toushiro memberi anggukan, tanda untuk 'ikuti mereka'.

Ekstra hati-hati, kedua shinigami itu melompati dahan pepohonan, bergerak lebih dekat ke nyala api tunggal di depan mereka. Toushiro harus memikirkan bagaimana memperoleh informasi dengan situasi seperti ini. Ia dan Fujimoto tidak membawa zanpakuto masing-masing, jika harus ada pertempuran, mereka tak bisa menggunakannya. Yah, sisi positifnya, yang mereka intai tampaknya tak memiliki kemampuan yang sama dengan mereka. Meski ia tahu, itu bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan.

Dan Toushiro berhenti mendadak. Inderanya merasakan sesuatu yang baru.

Dan itu segera memicu alarm bahaya dalam benaknya.

Ledakan dan kilatan cahanya yang tiba-tiba itu membuatnya melompat menjauh, refleks. Fujimoto juga meninggalkan titik pantaunya, langsung siaga di samping Komandan-nya.

Sial! Apa ketahuan?! Tapi...

Asap tebal membumbung tinggi di langit malam, dengan api menari-nari di sumber ledakan sebelumnya. Ia bisa mendengar teriakan yang tak salah lagi berasal dari obyek intaian mereka.

"Oy, oy, siapa yang kena sensor kita?"

Sensor?

Toushiro da Fujimoto bertukar pandang.

Mereka menempatkan sensor di dalam hutan? Itu artinya markas mereka benar ada di sekitar sini! Tapi bagaimana Fujimoto maupun dirinya tak mendeteksinya? Mereka sudah menggunakan kidou untuk memastikan jalan mereka aman!

Sosok baru melangkah tenang menembus api, seakan tak terpengaruh panasnya. Toushiro tak mengenalinya sebagai salah satu dari lima pria yang diikutinya. Pria di depannya – meski wajahnya tertutup topeng ganjil, ia yakin itu pria – mengenakan kimono apik, berikut zirah klasik asing bersimbol bunga teratai dengan sebilah pedang seakan menghujamnya yang diukirkan di bagian dada.

"Siapa kalian?" suara teredam si pria itu terdengar mengancam. Toushiro yakin, di balik lubang mata topeng itu, sang sosok mengamati keduanya dengan penuh kecurigaan.

"Bukankah pertanyaan yang seharusnya kami yang katakan?" Toushiro balik bertanya, sementara pikirannya sibuk menganalisa.

"Kau punya nyali, Bocah," gertak pria itu. "Tapi kau dan temanmu itu menyembunyikan diri dengan baik. Jika bukan karena sensornya, kami tidak akan tahu ada penyusup."

Si pria bertopeng memiringkan kepalanya.

"Kidou. Tentu saja." Toushiro bisa merasakan hawa membunuhnya. "Kalian dari Gotei 13!"

Uh-oh.

'Pertempuran! Hore!' seru Ryuu dalam inner world Toushiro Hitsugaya. Jika tidak mengingat situasi yang seserius ini dan ia harus mempertahankan wibawa seorang atasan, ia akan menepuk keras dahinya atau menghantamkannya ke pohon terdekat.


Isshin baru saja menutup telepon dari Ichigo, yang mengatakan kalau ia sudah kembali dari Inggris. Ya, baru beberapa detik, ketika pembawa pesan Seireitei itu muncul di depan kantornya.

"Komandan Shiba."

"Hm?" Isshin mengerjap. Yang benar saja! "Rapat lagi?"

"Kehadiran anda diharapkan di Ruang Pertemuan Utama Divisi 1. Komandan Tertinggi mengatakan kalau ini darurat."

"Yeah, yeah, tentu saja," Isshin mendengus. "Baik, baik, aku ke sana."

Si pembawa pesan memberi bungkukan sopan sebelum ber-shunpo pergi. Isshin mendengus pelan, mengambil haori-nya yang disampirkannya di punggung kursi kerjanya.

Darurat, katanya. Bukannya beberapa hari lalu katanya juga darurat?

Yah, yang jelas, ia tak yakin rapat darurat itu bisa ditunda. Maka, ia segera menuju ke Ruang Pertemuan Utama Divisi 1. Dan ternyata, tak hanya ia yang langsung berada di sana begitu mendapat pesannya. Semua komandan sudah ada di sana, kecuali Kenpachi Zaraki – yang mungkin pembawa pesannya masih mengelilingi Seireitei untuk mencarinya - dan Mayuri Kurotsuchi – yang tak salah masih mau menyelesaikan eksperimennya sebelum berangkat. Oh! Dan Shiro-chan! Tentu saja! Bukannya dia sedang pergi misi?

"Aku ingin tahu kali ini tentang apa," gerutu Shinji, menggaruk belakang kepalanya yang jelas sama sekali tidak gatal, hanya sekedar kebiasaan.

"Lebih baik ini layak," geram Kenpachi yang baru tiba. "Anak-anak baru tak berguna di Divisi-ku sedang dapat pelajarannya sekarang."

Baru saja ia menutup mulutnya, pintu ruangan terbuka dengan bunyi derit khasnya.

"Nah, kita akan tahu," komentar Kensei, berjalan lebih dulu melewati pintu besar itu. Tentu saja para Komandan yang lain juga mengikutinya. Mereka mendapati Komandan Tertinggi sudah menempati posisinya yang biasa, didampingi letnannya, Ise Nanao, sedang berbicara dengan sosok kecil yang sangat tidak asing, meski ia terlihat berbeda.

"Lho? Shiro-chan?" celetuk Isshin, membuat sosok kecil itu menoleh. Benar saja, mata hijau turqouise itu tak mengecohnya. Isshin menyeringai, "Atau sekarang jadi Kuro-chan?"

Sementara Shinji mendengus di belakang Isshin, Toushiro menyipitkan matanya jengkel. Memang benar, meski mengenakan shihakuso dan haori seperti biasanya, sisa misinya masih dibawa si Komandan Divisi 10 itu. Rambut putihnya yang mencolok digantikan warna hitam. Tak hanya itu, Hyourinmaru kali ini absen dari punggungnya.

"Menyenangkan kau akhirnya punya inisiatif mencoba gaya baru," seringai Rose.

"Ya, ya, teruskan saja sesukamu," gerutu Toushiro, mengabaikan kekeh riang Kyouraku dan Isshin.

"Kita bisa teruskan mendiskusikan gaya baru Komandan Hitsugaya nanti, kurasa," sela Byakuya, mengabaikan tatapan tajam sang obyek. "Karena sepertinya kita tak di sini untuk itu, bukan?"

"Ah, ya. Tentu saja." Kyouraku berdeham, membuat para komandan menempati posisi mereka masing-masing. Dan segera, atmosfer serius memenuhi ruangan, tanda bahwa urgensi nyata di pertemuan itu. "Komandan Hitsugaya sudah menemukan petunjuk baru tentang kasus di Rukongai."

"Wah, cepat juga," komentar Love. "Jadi kau sudah tahu siapa di balik ini semua?"

Toushiro mengernyit, "Tidak persis begitu, sebenarnya."

"Kalau begitu kenapa aku kemari?" dengus Kenpachi, mengabaikan layangan tatapan tajam dari Toushiro.

"Karena kupikir barangkali ada yang tahu tentang petunjuk yang kutemukan," gerutu Toushiro. Ia menarik napas, menatap ke arah Komandan Tertinggi. "Penyelidikannya tidak berjalan lancar. Mereka memasang sensor di dalam hutan perbatasan Distrik 33 dan Distrik 34. Apapun dan bagaimana sensor itu dbuat, aku yakin itu bukan kidou yang aku kenal. Kami tidak menyadari sensor itu sampai kami berada dalam jangkauannya."

"Kalau bukan kidou, lalu apa?" ujar Love ingin tahu.

"Karena itu," Kyouraku menarik selembar kertas dari balik haorinya, melebarkannya, dan menunjukkan isinya pada mereka semua. Sebuah gambar bunga teratai dengan sebilah pedang menembusnya tertera di sana. "Petunjuknya adalah lambang ini."

Semua mata mengarah pada gambar itu.

"Rasanya baru pertama kali lihat," cetus Zaraki.

"Hm... aku juga baru tahu ada lambang seperti itu," ujar Shinji. Ia menatap Toushiro. "Yakin ini lambang dan bukannya gambar biasa? Lagian kau dapat dari mana?"

"Ceritanya," ujar Toushiro datar, "kami ikuti orang mencurigakan masuk ke hutan perbatasan. Tapi kemudian, orang itu muncul. Pria asing, dia pakai topeng, jadi aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Dan memakai zirah, dengan lambang itu di dadanya."

"Rasanya itu tidak asing."

Kalimat bernada datar itu membuat mereka menatap Byakuya Kuchiki, yang matanya menyipit, terpaku pada lambang itu.

"Apa kau yakin?" Kyouraku menunjuk simbol pada kertas di tangannya.

"Ya." Byakuya menatap Komandan Tertinggi. "Tapi aku rasa aku akan memastikannya lagi."

"Yeah, kau lakukan itu kalau begitu." Mengingat akses data Keluarga Kuchiki yang tak terbatas tentang banyak hal, sepertinya itu akan menjadi tugas yang tak terlalu menyulitkan untuknya. Kyouraku mengalihkan pandangannya pada sang Komandan Divisi 10. "Lalu soal orang asing yang kau temui itu? Bagaimana?"

"Kau tendang bokongnya atau sesuatu?" cengir Isshin.

"Mauku begitu, tapi sayangnya tidak," gerutu Toushiro.

Tak hanya Isshin yang agak tercengang mendengar jawaban itu. Menundukkan musuh sepertinya bukan hal sulit untuk kaliber komandan macam Toushiro Hitsugaya, dan fakta bahwa ia punya pikiran untuk 'menendang bokong' seseorang bukan jenis lelucon yang biasanya bakal diresponnya. Apa mungkin dia serius memikirkan hal itu?

"Itu misi penyamaran, kan? Riskan jika aku membawa Hyourinmaru. Cara bertarung alternatif hanyalah hakuda dan kidou. Tentu saja, itu tak cukup untuk mengalahkan orang itu."

Flashback on

Pria berbaju zirah itu entah bagaimana mengirimkan kilatan cahaya, memaksa Toushiro dan Fujimoto mundur. Lima orang yang sebelumnya menjadi target mereka berhasil mencapai mereka, berdiri di belakang si pria misterius.

"Membiarkan kalian diikuti? Kalian benar-benar tak bisa diandalkan!" geram si pria misterius.

"Maaf, Tuan! Tapi mereka jelas menyembunyikan diri dengan baik!" ujar salah satu dari kelima pria itu.

"Ah, jadi kau bosnya?" Toushiro memiringkan kepalanya, menatap si pria misterius lebih jelas.

"Tak kusangka Gotei 13 mengirim bocah sepertimu untuk menguntit orang-orangku," kata si pria angkuh; bunyi retih api dan bayangan yang terbentuk akibat nyalanya di sekitar mereka membuat topengnya tampak menyeramkan.

Fujimoto menelan ludah gugup. Pilihan kata si pria misterius tidak termasuk kata favorit komandannya sebagai kata gantinya.

"Yah, aku pun juga tidak menyangkanya," balas Toushiro datar.

"Jika kau salah satu shinigami, ke mana zanpakuto-mu?"

Nada bicara si pria misterius itu biasa. Namun, Toushiro Hitsugaya menyadari keingintahuan liar di sana.

Shinigami pemilik zanpakuto, khususnya yang tipe angin dan air, kehilangan nyawa mereka sekaligus terpisah dari roh zanpakutonya, yang berubah ke bentuk asauchi.

Mungkin tidak membawa zanpakuto mereka adalah pilihan yang tepat.

"Entahlah," kata Toushiro datar.

"Yang manapun," pria misterius itu mengangkat tangan kanannya, membuat baik Toushiro maupun Kursi Ketiga-nya langsung waspada, "aksi mengendap-endap kalian berakhir sampai di sini."

Seperti kata Ryuu, hutan perbatasan itu menjadi tempat pertempuran. Si pria misterius itu menggunakan teknik yang tak dikenal untuk menyerang kedua musuhnya. Tekniknya mirip kidou, namun cara menggunakannya sama sekali berbeda. Pria itu tak memerlukan mantra atau gerakan rumit. Ia hanya mengibaskan tangannya, melepaskan tembakan-tembakan cahaya yang seketika meledak ketika mendekati sasarannya. Toushiro dan Fujimoto harus bergerak cepat menggunakan kidou sekaligus shunpo mereka untuk menangkis, berkelit, ataupun memberi serangan balasan.

Namun pria misterius itu, benar-benar sama sekali tak bisa dianggap remeh!

"Hebat sekali, Tuan!" seru salah satu dari kelompok kecil yag berdiri di belakangnya.

Namun, kendati orang-orang itu menghormati dan memujanya, si pria misterius tak menganggap mereka berarti.

Pria itu menolehkan wajah bertopengnya, sembari mengayunkan tangannya. Baik Toushiro maupun Fujimoto terbelalak, tak menyangka orang itu mengirim ledakan pada antek-anteknya sendiri!

Ledakan itu menyambar lima orang itu, seketika menelan mereka dalam nyala api! Yang didengar di tengah hutan sunyi itu adalah jerit kesakitan dan bau daging terbakar.

"Tak berguna," kata pria itu keji.

Toushiro mendengus pelan, tak percaya. Jadi pria ini tak hanya menganggap bawahannya sampah. Menghabisi mereka dipilihnya agar tak mengganggu duelnya, sekaligus mengecilkan peluang 'dua suruhan Gotei 13' mendapatkan informasi dari mereka.

Flashback off

"Jadi orang ini membunuh bawahannya sendiri, begitu saja?" Isshin mengerjap heran. "Berlebihan sekali..."

"Kelihatannya dia mencegah agar mereka buka mulut jika Komandan Hitsugaya berhasil mencapai mereka," komentar Byakuya serius. "Sebelum itu terjadi, dia menghabisi mereka tanpa ampun."

"Begitu juga dugaanku," kata Toushiro datar.

Ia melanjutkan keterangannya lagi, tentang bagaimana si pria misterius kembali menyerang dirinya dan Kursi ke 3-nya.

"Cukup sulit bertarung hanya dengan kidou, sementara orang itu menggunakan teknik asing yang beberapa mantranya sebanding, atau malah mungkin lebih besar daripada kidou." Apalagi, kata Toushiro dalam hati, dengan ia yang terbiasa bertarung menggunakan zanpakuto-nya. Ketidakhadiran senjata andalannya itu membuatnya merasa tak utuh. "Aku hampir melepaskan Ryuu. Tapi sebelum itu terjadi, orang itu melarikan diri dengan cara yang sangat aneh."

Para Komandan menatapnya.

"Aneh bagaimana?" pancing Shinji.

"Dia membuka semacam portal. Mirip dengan pintu menuju Dangai, tapi dia membukanya tanpa zanpakuto."

Pria asing dengan kemampuan yang sangat misterius. Masalah Gotei 13 ini sepertinya sedikit lebih rumit dari yang mereka duga.

"Bagaimana dengan Inggris?" tanya Kyouraku pada Isshin. "Bukannya Ichigo pergi ke sana?"

"Ah, ya." Isshin mengangguk. "Menghadiri pesta pernikahan kakak temannya. Kau kenal Bill Weasley?" Isshin mengerling Toushiro, yang menjawab dengan anggukan. "Menikahi gadis Prancis. Tapi Ichigo bilang acaranya kacau; Pelahap Maut merangsek masuk. Tidak ada korban, memang."

"Ckckck. Para penyihir hitam itu benar-benar tidak tahu sopan santun," komentar Kyouraku. "Lalu?"

"Harry dan Ron dan Hermione kabur dari lokasi sebelum ketemu dengan Para Perusak Acara itu. Sekarang tepatnya mereka ada di mana masih belum diketahui," kata Isshin.

"Momo sedang kutugaskan ke sana untuk menyelidiki," kata Shinji santai, mengerling ke Toushiro, "aku pinjam Letnanmu untuk bersama dia. Jaga-jaga saja kalau dia berhasil temukan bocah Potter itu. Paling tidak dia kenal Rangiku, kan?"

Toushiro mengangguk. Sepertinya situasi di Dunia Sihir Inggris sedang kacau-kacaunya. Harry Potter jelas memainkan peranan penting dalam 'pertempuran' itu. Mengorek informasi darinya tidak bisa sembarangan, begitu menurut Toushiro yang cukup mengenal karakternya. Potter akan dengan sukarela memberitahu segalanya pada orang yang telah dikenalnya.

"Baiklah. Komandan Hitsugaya, kau bisa lanjutkan penyelidikanmu. Tapi kurasa kali ini kau harus lebih hati-hati. Kita masih belum tahu apakah dia sudah tahu siapa kau dan kemampuanmu, tapi dia mungkin melihat wajahmu, artinya dia juga akan waspada karena tahu Gotei 13 bergerak untuk menyelidikinya."

"Aku mengerti," kata Toushiro singkat. Ini artinya dia harus kembali dengan penyamaran baru. Mungkin berikutnya dia harus coba dengan rambut merah? Atau coklat?

"Dan Komandan Kuchiki, jika kau sudah menemukan arti simbol itu dan siapa yang menggunakannya, segera beritahu pada kami. Kuharap kau tidak keberatan jika melakukannya dengan cepat?"

Pemimpin Bangsawan Kuchiki itu mengangguk.

"Baik. Rapat ditutup. Selamat melakukan kembali kesibukan kalian."


Harry berpikir, hanya soal waktu bagi Kreacher si peri rumah bisa membawa Mundungus Fletcher ke Grimmauld Place untuk diinterogasi. Meskipun demikian, ternyata Kreacher tidak datang secepat yang dia kira. Dan ia, belajar selama bertahun-tahun mendiami lemari di bawah tangga tempo dulu menyadari bersabar adalah hal yang harus ia lakukan saat ini.

Sayangnya, kondisi mereka di rumah keluarga Black yang suram sama sekali tak mendukung untuk tetap bersabar dengan tenang. Ketika laparpun mereka harus puas memakan roti setengah berjamur yang dicoba dengan sia-sia oleh Hermione untuk men-transfigurasinya agar enak dimakan.

"Sepertinya para Pelahap Maut curiga kita ada di sini," kata Harry mengamati sosok-sosok bermantel yang mengawasi rumah-tak-kelihatan di antara Nomor 11 dan Nomor 13. Meskipun mereka ada di sana dan belum merangsek masuk menjadi bukti bahwa perlindungan di rumah keluarga Black itu masih berfungsi.

"Jelas saja mereka berpikir begitu. Mereka tahu Sirius mewariskan rumahnya padamu," kata Hermione tanpa mengangkat wajahnya dari Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita.

"Bagaimana mereka –" mulai Harry.

"Surat wasiat penyihir diperiksa Kementerian, ingat," potong Hermione cepat, sambil membalik halamannya.

Namun, sebelum Harry berkata lagi, suara klik ganjil di lantai bawah membuat ketiganya seketika menegakkan diri. Harry segera mencabut tongkat sihirnya, Ron tampak gugup ketika mengambil tongkatnya yang diletakkan di meja, sedangkan Hermione menjatuhkan bukunya dan dengan wajah pucat menarik tongkatnya dari saku jaketnya. Bertukar pandang waspada, Golden Trio bergerak menuruni tangga.

Koridor yang setengah gelap memaksa mereka bertiga melihat lebih tajam ke arah pintu depan. Sungguh mengherankan karena mantra mengerikan yang dipasang di sana tak berfungsi sama sekali.

Harry mengeratkan pegangannya pada tongkat sihirnya, bersiap meluncurkan mantra pertahanan apapun.

"... tempat macam apa ini? Menjijikkan sekali."

Harry hampir menjatuhkan tongkat sihirnya mendengar suara familiar yang bernada setengah merajuk itu.

"Jangan keras-keras, Rangiku-san," terdegar suara kedua, yang Harry merasa mengenalinya juga. "Nanti mereka terkejut! Ah, itu mereka."

Harry ternganga, ia yakin Ron juga begitu, mendapati dua sosok yang tidak asing itu melangkah mendekati mereka. Si jangkung nan jelita dengan rambut strawberry blonde yang jatuh melewati bahunya tersenyum pada mereka, sedangkan rekannya yang berambut coklat mengangguk ramah.

"Kalian kan..." ujar Hermione terbata, "Rangiku Matsumoto dan Momo Hinamori?!"

"Ah! Kau masih ingat!" tawa Rangiku cerah. "Tapi bukannya aku tidak sopan atau apa, tapi tempat persembunyian kalian benar-benar mengerikan! Debu! Dan bau sekali!"

Harry tersenyum lebar. Mereka kan dalam pelarian! Mana mungkin pilih tinggal di hotel berbintang. Lagipula mereka menempati rumah keluarga kuno yang fanatik sihir hitam, memangnya apa yang diharapkan dari itu?