[Edited]
Warn: BDSM, Hardcore, Sex Toys, Explicit Content, Gay Sex
DLDR, Please.
.
.
.
"Jadi?"
"Apa?" Jongin mengernyitkan dahinya saat dia menyesap puntung rokoknya. Hari minggu seperti ini biasanya Sehun mengajaknya untuk pergi ke gym bersama, namun entah apa yang di rencanakan pria itu hingga mereka tidak pergi. Mungkin Sehun mengerti akan dirinya yang lelah akibat pulang larut, karena tadi malam adalah jadwalnya untuk men-DJ.
Jongin sebenarnya malas, dia lebih memilih untuk bercinta dengan Sehun di bandingkan datang kesana untuk menghibur orang-orang yang hanya bisa menghamburkan uang. Namun pemilik klub bilang bahwa dia adalah DJ yang paling di andalkan di sana, jadi dengan terpaksa Jongin pergi, meninggalkan Sehun di apartement mereka.
Niatnya Jongin ingin cepat-cepat berhenti dari pekerjaannya dan fokus pada kegiatan menarinya, hal itu pun di dukung juga oleh Sehun. Kekasihnya yang lebih tua tiga tahun dari dirinya itu tentu saja mendukung Jongin untuk menari, karena menurutnya tubuh indah yang Jongin dapat adalah hasil dari dia menari.
Karena keindahan Jongin adalah kepuasannya.
Sehun mendudukkan dirinya di samping Jongin yang kini tengah bergerak untuk mematikan puntung rokoknya yang telah memendek. "Apa yang akan kau lakukan di weekend pagi ini, hm?" Tanyanya sambil memijat pelan tengkuk Jongin, berniat untuk merangsang beruang nya. Jongin yang memang sensitif-atau jalang-itu menutup matanya, merasakan tangan besar Sehun meraba-raba kulit leher belakangnya. Wajah Sehun terlihat biasa saja saat mendengar napas Jongin yang kian memberat. Cukup dengan sentuhan ringan seperti ini, Jongin bisa terangsang.
Sejak kapan lelaki itu menjadi jalang? Sejak bersama Oh Sehun tentu saja.
Dia memejamkan matanya, mulutnya terbuka untuk mengeluarkan napasnya yang terasa panas. "Kalau seperti ini rasanya aku ingin menghisap penismu" Tangan Sehun bergerak turun ke arah dadanya, mengusapkan telapak tangan itu ke dadanya yang masih tertutup oleh sebuah kaus oblong. Jongin yang dadanya di raba-raba seperti itu merasakan bahwa putingnya menegang. Libidonya benar-benar naik sekarang. Dia memberhentikan tangan Sehun yang sudah turun dan hampir ingin meremas penisnya. "Jangan, kau dulu yang aku puaskan" Setelah berucap seperti itu, Jongin segera turun dari atas sofa. Dirinya langsung berlutut di depan cock milik Sehun yang kini terlihat telah menggembung di dalam celana.
"Good boy," Sehun mengusap rambut Jongin yang kini sedang gembira karena di puji seperti itu. Tangan-tangan Jongin bergerak lincah untuk melepaskan pengait celana Sehun. Kelihatan tidak sabar sekali. "Puaskan penis kesukaanmu, Jongin" Sehun memperhatikan Jongin yang sedang menjilati penisnya dari atas ke bawah menggunakan ujung lidahnya, seperti tidak berniat untuk mengulum benda besar itu. Kemudian Jongin menaikkan penis Sehun ke atas menggunakan tangannya, dia buru-buru mengulum bola kembar milik kekasihnya. Jongin menatap langsung ke arah mata Sehun.
Jongin mencekungkan pipinya untuk menghisap bola kembar Sehun, dan melepaskannya hingga menimbulkan bunyi 'plop' yang sangat terdengar di ruangan keluarga itu.
Dia berpindah pada bola yang satunya lagi dan melakukan hal yang sama hingga membuat Sehun mencengkram rambutnya dengan cukup kuat.
"Bisakah mulutmu yang berdosa itu mengulum penisku, Jongin?" Tanya Sehun di lengkapi dengan sebuah seringai. Jongin merasa ada sebuah kalimat perintah yang di lontarkan oleh Sehun tadi, membuatnya cepat-cepat meninggalkan tempat bertampungnya sperm itu.
Jongin memberikan air liurnya untuk membasahi penis Sehun, dia mengocoknya perlahan. Jongin benar-benar tidak mendengarkan perintah Sehun untuk memblowjobnya. Dasar nakal.
Sehun tidak protes karena sibuk untuk menikmati bagaimana cengkraman tangan Jongin pada penisnya yang terasa begitu nikmat. Jongin terus menaik-turunkan gerakan tangannya pada penis Sehun, sesekali memelintirnya dengan pelan. "Yeah, like that" Sehun bergumam, kini kepalanya mendongak ke atas. Friksi-friksi nikmat yang di berikan oleh Jongin membuat penisnya terasa agak lebih besar dari sebelum di sentuh. Kenikmatan bertambah saat Jongin mulai mencubit-cubit kecil bola kembarnya. Merasakan rasa sedikit sakit tapi nikmat.
Ternyata pasangan kekasih ini adalah pasangan yang masokis, ya?
"Ahh.." Sehun mendesah dengan pelan untuk mendeskripsikan orgasmenya. Menunduk ke bawah dan mendapati wajah Jongin yang sudah penuh dengan spermanya.
"Akh!" Jongin yang masih terpejam karena sperma Sehun yang mengalir di wajahnya itu memekik kaget saat Sehun menjambak rambutnya dengan kuat dan tiba-tiba, rasanya seperti kulit kepalanya akan lepas dan rambutnya rontok beberapa helai. "S-sakit, Sehun, kumohon lepaskan" Walaupun berbicara seprti itu, tangan Jongin tidak berusaha untuk menghalau Sehun untuk tidak menjambaknya, tangannya malah ia gunakan untuk memberi handjob pada penis Sehun yang masih tegang walaupun sudah orgasme.
Sehun mendengus, mungkin dia marah. "Kau tidak mendengar apa yang aku perintahkan," Berucap lembut tapi tangannya malah makin kuat menjambak rambut Jongin. Jongin mendesis di buatnya. "Kau kan aku suruh untuk memblowjob, bukannya handjob!" Sehun berteriak tepat di depan wajahnya. Kemudian jambakan di rambutnya menghilang. Sehun berdiri, entah mau pergi kemana tanpa celana seperti itu. "Kau melakukan ini agar aku menghukummu kan, Jongin?" Laki-laki itu mengangguk dengan bibir yang kini mengulas sebuah senyuman yang nakal untuk membenarkan perkataan Sehun.
Sehun pergi meninggalkan Jongin yang masih berpakaian penuh dengan keadaan sangat terangsang. Tanpa memedulikan Sehun yang mau pergi kemana, Jongin menanggalkan semua kain-kain yang melekat pada tubuhnya, hingga telanjang bulat. Bersender pada sofa dan dengan kaki yang terkangkang lebar. Dia mulai mencubit putingnya sendiri dan tangan yang satunya lagi turun untuk menyapa lubangnya. "Ngh.. Ahh!" Dua jari langsung masuk pada lubangnya sendiri, mengeluar-masukkannya dengan cepat. Tapi sayangnya prostatnya tak kunjung tersentuh, membuat dirinya frustasi. "Fuck it!" Umpatnya. But seriously, Jongin butuh sesuatu yang panjang untuk memasuki lubangnya sekarang.
"Wah, tidak sabaran sekali, ck" Benar saja dugaan Jongin. Sehun pasti akan mengambil alat-alat sadisnya untuk menghukumnya. Jongin melihat penjepit pakaian, lilin, tali tambang, penutup mata, sunblock, butt plug, vibrator, dan jangan lupakan alat wajib untuk menghukumnya, cock ring, di tangan-tangan Sehun. Tersenyum seperti psikopat yang sering Jongin lihat di film, Sehun menghampirinya yang kini tengah memberikan tatapan memohon, tangannya masih sibuk keluar masuk dalam lubangnya.
"Sehun, bantu aku"
Sehun tersenyum meremehkan ke arah Jongin yang terlihat sangat tersiksa. "No, Jongin. Call me master"
Ya, master! I forget it!
"S-sorry, master" Jongin meminta maaf pada Sehun yang kini tengah berdiri di hadapannya hingga membuat penisnya yang masih tegang itu berada tepat di depan mulutnya. Sehingga Jongin bisa dengan jelas mencium aroma Sehun. "I can't touch it, touch it, please.." Bibirnya kena pukul penis Sehun yang memang di sengaja oleh sang pemilik.
"Kau tak bisa menyuruhku, Jongin. Aku yang memegang kendali disini, karena aku adalah dominant mu" Tiba-tiba di sampingnya sudah tersedia sebuah kursi yang biasa di pakai Sehun saat sedang bekerja. Lewat tatapan Sehun, Jongin bisa merasakan bahwa lelaki itu menyuruhnya untuk duduk di atas kursi yang beroda itu. Dan dia tentu saja menurutinya. "Pakai ini" Jongin memakai sunblock yang tadi di sodorkan Sehun, menggunakannya di seluruh badan dengan sentuhan-sentuhan yang erotis. Sehun yang melihat itu langsung menyentil penisnya. "Dasar bitch" membuat Jongin merapatkan pahanya karena merasakan sensasi yang agak sakit itu.
Jongin sebenarnya bingung. Untuk apa Sehun menyuruhnya mengenakan sunblock? Kalau saja dirinya tidak sedang di hukum seperti sekarang, pasti Jongin sudah bertanya sedari tadi.
Pria yang sudah duduk di atas kursi itu kini kakinya kembali di lebarkan hingga memperlihatkan penis dan lubangnya. Sehun menyuruh Jongin untuk tetap mempertahankan posisinya selagi dia mengikat tali tambang itu pada tubuh Jongin. "Kau suka kan kalau aku menghukummu seperti ini, Jongin sayang?"
"Yes, I like it, master" Setelah berbicara seperti itu Sehun mengikatkan penutup mata itu di kepalanya hingga dirinya hanya melihat kegelapan. Tak berapa lama kemudian Jongin bisa merasakan bahwa kedua putingnya, kedua cuping telinganya dan bola kembarnya di jepit oleh.. penjepit pakaian?
"Akh!"
"Finish! O-oh not yet" Sehun berbicara sendiri, dia kelupaan. Dia segera memakaikan Jongin cock ring, mengikatkan sebuah vibrator pada pensinya yang sensitif, dan menusukkan butt plug pada lubangnya. "Di luar cuacanya cerah," Jongin hanya diam karena tidak tahu mau merespon bagaimana. "Kau mau berjemur tidak?"
Oh tidak, jangan sampai Sehun menjemurku di bawah terik matahari dengan alat-alat ini.
Bisa saja Jongin memberontak, namun untuk sekarang sepertinya tidak bisa. "Okay.." Jawabnya dengan agak tidak yakin. Ucapannya terdengar sangat kontras dengan pemikirannya tadi. Namun ia yakin pada kekasihnya, kesakitan-kesakitan yang akan timbul nanti pasti akan berubah menjadi berkali-kali lipat nikmatnya jika saja dia relax dan menuruti perintah Sehun.
Jongin merasa kursi yang sedang di dudukinya berjalan menuju keluar taman belakang, berhenti sebentar, kemudian Sehun melanjutkan kegiatannya untuk mendorong Jongin yang terlihat tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dan dia senang jika Jongin sudah berada di bawah kendalinya seperti sekarang, jadi sesuka hatinya mau memperlakukan Jongin seperti apa.
"Kau tunggu disini. Auh," Sehun memegangi perutnya, "Perutku lapar. Sepertinya segelas susu dengan roti dan nutella adalah pilihan yang bagus untuk diriku yang tak pandai memasak. Bye" Sehun menepuk kepalanya pelan sebelum benar-benar pergi dari hadapannya.
Dia di tinggalkan dalam keadaan yang entah harus di bilang menyedihkan atau erotis oleh Sehun, yang sedang enak memakan sarapannya di ruangan berair conditioner. Sinar matahari pada jam sembilan pagi lumayan terik, membuat kulitnya terasa agak panas. Jangan lupakan pada sensasi-sensasi alat yang terpasang di tubuhnya. Rasa nyeri pada penis dan putingnya sangat terasa. Jongin merasa putingnya seperti ingin copot saking kencangnya penjepit itu menjepit putingnya. Penisnya apalagi, sudah di berikan getaran maksimal, di beri cock ring, jadilah dia tidak bisa leluasa untuk orgasme. "Ha-ahh, fuck, fuck, fuck!" bibirnya terus mengumpat karena kenikmatannya tertahan oleh sebuah cock ring yang berubah menjadi sialan di saat-saat seperti ini.
Kulitnya mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat. Untung saja Sehun tidak menambahkan gag ring or gag ball pada list alat-alat hukumannya, jadi dia masih bisa mendesah dengan bebas. Dan Jongin bisa merasa gila karena ini, pasti Sehun sedang melakukan eksperimen kepadanya. Tak pernah jongin di jemur dengan tubuh telanjang lengkap dengan hukuman BDSM yang melengkapinya. Ck, dia benar-benar senang dengan Sehun yang seperti ini.
"AHHH!" Badannya tersentak saat orgasme menghampirinya.
By the way, tadi Jongin memang sengaja mencari-cari kesalahan untuk di hukum oleh Sehun. Dan inilah hasil dari kesalahannya itu.
Jongin senang sekali jika sudah di hukum sepetti ini, apalagi dirinya termasuk dalam pria yang gampang terangsang atau mempunyai gairah seks yang tinggi atau binal atau jalang. Di tambah dengan mempunyai kekasih yang sama hausnya akan seks. Dia bisa memakai penis Sehun untuk memuaskan dirinya sendiri dan sang pemilik. Bahkan delapan puluh persen dari seratus, hubungan mereka hanya berisi tentang seks, seks, dan seks. Walaupun seperti itu, mereka benar-benar saling mencintai, bukan hanya memanfaatkan bagian tubuh pasangan yang lain untuk kepuasan seksual.
Baru kurang lebih setengah jam, Jongin sudah orgasme kering sebanyak empat kali. Ini hebat sekali menurutnya, namun terasa sangat sakit di saat yang bersamaan.
Cuping telinga, kedua puting dan kulit stroktumnya sudah memerah akibat jepitan itu. Penisnya sudah mulai terasa mati rasa. Jongin hanya bisa terdiam dengan nafas yang terengah-engah.
"M-master, is.. is that you?" Jongin berucap dengan lemah saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Rasanya Jongin ingin menangis, namun dirinya tak mau membuat Sehun khawatir akan dirinya yang cengeng.
"Hm," Sehun bergumam, jarinya bergerak memutar pada sekeliling lubang kencingnya yang kini tampak mengeluarkan cairan sperma yang sangat sedikit. Menyedihkan sekali. "Kau sudah keluar berapa kali, Jongin-ah?" Tanya Sehun.
"Empat"
Sehun mengangguk. Jongin kembali tersentak saat penisnya di cengram kuat oleh Sehun. "Mngh.."
Dengan kulit tan yang mengkilat seakan-akan dilapisi oleh emas, Jongin terlihat sangat panas dan seksi di mata Sehun yang sekarang sudah lebih mirip seperti psikopat. Rasanya Sehun ingin menjilati kulit lembut itu menggunakan lidahnya yang panas, menggigit putingnya dengan kencang hingga memerah dan menghisap kulit itu hingga menimbulkan bercak-bercak merah di atas permukaannya. Jika seperti itu, pasti Jongin terlihat berkali-kali lipat seksinya.
Sehun tak merasa kasihan melihat Jongin yang tersiksa dengan penis yang kini sudah membengkak dan juga tubuh yang penuh dengan keringat. Lagipula ini indah sekali. Kalau Jongin di jemur seperti ini, berarti kulitnya akan bertambah eksotis.
Laki-laki tinggi itu melepaskan tali tambang yang melilit tubuh kekasihnya. Dan tak lupa juga untuk melepaskan tujuh buah penjepit yang ada. Jongin yang sudah agak bebas itu segera meluruskan kakinya yang pegal, tapi dia terlupa akan butt plug yang masih terpasang. Membuat benda berwarna hitam tersebut terdorong masuk lebih dalam ke dalam lubangnya yang tak kunjung dapat kenikmatan. "Ssh.. Ahh.."
Sehun segera memasangkan kalung bertali pada leher Jongin, membuat Jongin terlihat seperti pet nya. "Kau kan tidak bisa melihat, jadi akan ku tuntun kau menggunakan ini. Jadi turun dari kursi dan merangkak sekarang" Jongin segera turun dari kursi, lalu bertumpu pada telapak tangan dan lututnya. Dia terus merangkak mengikuti Sehun yang entah mau menariknya kemana.
Jongin merasakan ada benda tumpul yang hangat menyentuh permukaan bibirnya. "Kulum dia, Jongin. Tak ada bantahan" Dia mulai dengan mengecup kepala penis Sehun, kemudian memasukkan kepala penis itu kedalam mulutnya yang basah. Bergumam untuk memberikan sedikit sensasi kepada Sehun. Kepalanya terus bergerak maju mundur seiring pergerakan pinggul Sehun, dan tengkuknya di dorong dari belakang untuk memperdalam kulumannya. Membuatnya tersedak hingga saliva mengalir di sudut-sudut bibirnya.
Menyiksa Jongin menggunakan deep throat blowjob adalah impiannya, karena biasanya Jongin tak mau dan hanya memberikannya blowjob seperti biasa. Jongin bilang jika ia tak mau seperti orang penyakitan keesokan harinya, sudah lubangnya perih, pinggulnya pegal, masa tenggorokannya ikut-ikutan sakit? Kalau Sehun tidak akan merepotkannya pada pagi hari untuk memasakkannya makanan, Jongin rela-rela saja di buat sakit seperti itu.
"Ngh, mph!" Dia kembali tersedak. Rahangnya terasa pegal dan sakit karena milik Sehun yang terlalu besar, Sehun juga mengeluar-masukkan penisnya terlalu cepat dan dalam pada mulutnya. Jadilah dia merasa seperti itu.
Jongin menyingkirkan rambut di pelipisnya yang agak panjang itu kebelakang telinga.
Cpk!
"Ahh, master.. keluarlah di dalam mulutku"
"Ya, Jongin. Terus berucap," Sehun mengocok penisnya dengan cepat dan mengarahkan kepala penis itu kedepan mulut Jongin yang sekarang sedang berucap kotor. "Aku sudah dekat"
"Aku butuh sperma mu, keluarlah untukku" Tepat sesudah dirinya berbicara seperti itu, Jongin merasakan bahwa ada rasa sperma di permukaan lidahnya. Sperma itu sangat banyak, Jongin memainkan cairan kental itu menggunakan lidahnya. Sehun segera memasukkan jari-jari panjangnya ke dalam mulut Jongin yang kini penuh dengan spermanya. Mengaduk-aduk hingga bertarung dengan lidah nakal milik Jongin. Berhenti setelah Jongin menelan spermanya hingga habis.
"Berbaring, Jongin"
Pria tan itu berbaring di atas karpet, kakinya ia tekuk. "AHS!" Badannya bergetar saat suatu cairan panas menetes di atas nipple nya. Baunya harum sekali, seperti aroma terapi. Dan nipple nya terasa di tutupi oleh cairan yang mengeras setelah.
"Aku menggunakan lilin kalau kau mau tahu, Jongin" Berucap santai sambil tangannya mengarahkan tetesan panas itu ke atas tubuh Jongin.
Jongin terlihat seperti sebuah mayat yang berlumuran darah akibat cairan lilin warna merah itu. "SSH-SHIT!" Tetesan yang kelima kini tepat mengenai kepala penisnya. Ini benar-benar gila dan hebat di saat yang bersamaan.
Ahh, mungkin sehabis ini Jongin akan menambahkan BDSM punishment pada daftar kegiatan paling favoritnya.
Sehun tersenyum saat melihat tubuh kekasihnya yang kini terlihat makin indah. Dia sama sekali tak merasa menyesal berubah menjadi gay karena Jongin. Menurutnya, Jongin adalah lelaki yang paling beda dari lelaki yang lain. Jongin bisa menjadi pribadi yang hangat dan manis, namun jika gairah seksualnya sedang menggebu-gebu, Jongin bisa berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi Jongin yang nakal dan penuh dengan kehidupan dunia malam. Apalagi Jongin bukanlah tipe bottom yang terlalu menuntut dan manja, benar-benar ideal sekali menurutnya.
"Kali ini aku tak mau memasukkan sesuatu ke lubangmu. Butt plug saja sudah cukup"
Baguslah, pikirnya. Ia juga sudah tidak sabar untuk merasakan penis Sehun di dalam lubangnya.
Setelah melepaskan dan melempar benda kecil yang sempat berada di dalam lubang milik kekasihnya, Sehun segera memposisikan penisnya tepat di hadapan lubang Jongin.
Gila, ini sempit sekali. Di bandingkan dengan milik wanita, lubang Jongin adalah yang terbaik menurutnya.
Sehun menggeram saat penisnya sudah berhasil masuk. Dia merendahkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah penuh peluh milik Jongin. Berciuman dengan kasar dengan lidah yang saling terpaut. "Mmh.."
Jongin tersentak-sentak di bawah tubuh besar kekasihnya, penisnya ikut bertabrakan demgan perutnya sendiri dan perut Sehun. "AH! AH! AH! AH!" Mulutnya terbuka, saliva miliknya pun sudah menetes ke atas karpet.
"Ohh Jongin, hh" Sehun ikut mendesah. Penisnya terasa di cengkram oleh dinding anus Jongin. Dia mengjirup ceruk leher Jongin, kemudian menjilati tulang selangka Jongin yang terekspos dengan rupa yang seksi. Tangan Jongin yang sedari tadi hanya mencengkram karpet kini mulai mencengkram rambut Sehun dengan sensual.
Jongin merasa dirinya semakin dekat. Stroktumnya sudah terlalu penuh dan berat sekarang, mengingat dia sudah orgasme kering sebanyak empat kali. Kepalanya di angkat kemudian di letakkan kembali oleh Sehun guna melepas ikatan penutup mata pada kepala belakangnya. "Ahh, fuck your hole, Jongin!" Sehun sudah keluar dalam lubangnya.
Mata Jongin mengeluarkan air mata. Sial. Ternyata jika menhan orgasme sebanyak lima kali rasanya sesakit ini ya? Rasanya seperti stroktumnya ingin meledak.
"Ha-ahh.. S-Sehun, kumohon. Apakah aku boleh keluar? P-penisku sakit" Sehun kini merasa agak kasihan dengan Jongin, sepertinya lelaki itu benar-benar kesakitan. Karena Jongin tak pernah menangis sebelumnya.
Kepala Jongin menggeleng, kemudian bibir bawahnya ia gigit untuk melampiaskan rasa sakit yang timbul pada penisnya.
"Maafkan aku" Sehun segera melepaskan cock ring pada penis Jongin.
"AHHHHHHHHH!" Jongin mendesah panjang saat penisnya mengeluarkan semua sperma yang tadi tertampung di stroktumnya. Sekarang Jongin merasa lega karena sudah menumpahkan semua hasratnya yang tadi tertahan. Badannya yang masih bergetar itu di peluk oleh Sehun, Jongin pun membalas pelukan Sehun yang terasa hangat. "Hah.." dia menghembuskan nafasnya yang memburu.
"Apakah aku kasar sekali tadi?"
Jongin menggeleng, "Kau tidak kasar. Aku malah sempat membayangkan kau menyayat-nyayat kulitku untuk mendapat kesenangan. Kalau BDSM yang seperti itu sampai kapan pun aku tak akan mau melakukannya denganmu"
"Tentu saja aku tak melakukannya. Tubuhmu terlalu indah untuk di sayat-sayat seperti itu"
"Ck, dasar paman gila. Sudahlah aku mau mandi, menyingkir dari tubuhku" Jongin segera bangun dari acara berbaringnya dengan Sehun. Berjalan dengan tertatih karena merasakan lubangnya yang sakit dan kakinya yang pegal. "Adudududuh"
"Ya, aku paman gila yang jatuh cinta pada bocah binal sepertimu!"
Plak!
Jongin menampar dan meremas bongkahan bokongnya, lalu menengok ke belakang dan menyeringai ke arah Sehun. "Aku memang bocah binal"
"Aish, benar-benar"
Sepertinya kegiatan seks mereka tak akan berhenti sampai di sini.
END
.
.
.
I MUST BE CRAZY OH MY GOD
GILA, GILA, GILA! BUTUH PERJUANGAN BANGET GUE NULIS BEGINIAN!
Sebenernya gue udah nge-stuck dan sempet mau berenti bikin sequel 'Body'. Tapi rasanya gue pengen gitu nulis ini sampe selesai dan di publish sekarang juga. Dan akhirnya.. I MADE IT!
Sorry kalo ini ngga hot or fuckin, kalo kata-katanya rada gak nyambung. Sebenernya sih otak gue udah kepikiran banyak banget scene enaena BDSM HunKai, tapi yang jadi masalah adalah.. GUE NGGA TAU LAGI DESAHANNYA SI JONGIN GIMANA(?)! Gue bikin desahannya cuma sekedar 'ahh', 'shh', 'ngh' dll. Please kasih tau gue desahan yang mantap jiwa buat si Nini..
Tbh, thanks 4 read this story, Bye! :*
Review?
