Lie

Park Jimin x Min Yoongi

Slight!NamJin and others

T-M (for language) | AU | BL

4A of 6

.

.

If you don't like, step back please.

.

.

"SEOKJIN? SEOKJIN?"

Seokjin yang masih larut dalam mimpi membelalakkan matanya tiba-tiba mendengar suara teriakan seorang lelaki yang diyakininya adalah Hoseok. Beruntung tadi malam ia dan Namjoon tidak melakukan kegiatan apapun, alhasil Seokjin bisa langsung berlari kearah pintu- mengenyampingkan pening di sedikit oleng ketika menapaki lantai yang dingin, namun Seokjin memaksakan diri tetap berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama.

Tubuh Seokjin membeku dengan mata bulatnya yang membelalak sempurna. Di lantai terasnya, tergeletak sosok Jackson yang berlumuran darah dengan wajah penuh lebam dan mata sembab, netra Jackson menatapnya dengan rasa bersalah. Disebelahnya ada Hoseok yang tengah mengatur nafas, udara pagi yang dingin bahkan tidak sebanding dengan peluh yang mengucur deras dari tubuh Hoseok.

"Seokjin, aku tahu kau kaget. Tapi bisa kami masuk-" Hoseok melirik kearah tubuh Jackson yang tergeletak tidak berdaya. "-dan ambilkan obat?" lanjutnya. Ia tengah bersiap mengangkat tubuh Jackson setelah menyelesaikan sederet kalimat yang akhirnya menyadarkan Seokjin dari lamunan.

"M-masuklah." Seokjin tergagap, ia membuka pintu lebih lebar kemudian segara masuk kerumah untuk mengambil kotak P3K. Mengandalkan sedikit kesadarannya, ia tidak lupa mengambil baskom yang berisi air dan beberapa handuk bersih. Seokjin mencoba berpikir jernih dan mengenyampingkan segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

Seokjin meletakkan segala hal yang ia ambil diatas nampan untuk kemudian ia bawa kearah ruang tamu, dimana tubuh Jackson sekarang berada. Seokjin meletakkan apa yang Hoseok pinta diatas meja, tubuhnya dingin sampai mata kaki. Kepalanya blank bukan main, namun terasa ada yang mengganjal, teriakan Hoseok hanya membangunkannya lalu-

"Hoski, dimana Namjoon?"

-kemana suaminya? Seokjin bahkan baru sadar bahwa ia hanya tidur sendirian setelah ia berlari kearah kamar tanpa menunggu jawaban Hoseok dan tidak menemukan pria bertubuh besar tersebut dimanapun.

Dengan panik yang sangat, Seokjin meraih jaket yang tergantung di sisi pintu masuk kamar. Memakainya sambil berjalan tanpa berkata apapun pada Hoseok yang untungnya menyadari pergerakan Seokjin.

Hoseok secepat kilat menahan pergelangan tangan Seokjin, meremasnya erat. "Jangan pergi." Hoseok tersenyum kecut, mencoba menarik Seokjin untuk kembali masuk ke dalam rumah secara halus. Seokjin tetap dalam pendiriannya, membatu ditempatnya sekarang berdiam.

"Aku harus pergi. Aku juga seorang laki-laki, aku tidak selemah kelihatannya."

Bayangan Namjoon yang akan berakhir sama seperti Jackson membuatnya kalang kabut, segala jenis hal negatif memenuhi pemikirannya. Seokjin sangat membenci mengenai fakta pekerjaan Namjoon yang mempertaruhkan nyawanya, menjadi sampah negara namun begitu di elukan namanya di desa mereka.

Hoseok menghela nafas kasar, menulikan pendengarannya dari pembelaan Seokjin barusan. Jemari kokohnya semakin mengeratkan genggaman dipergelangan tangan Seokjin, menyeretnya masuk tanpa belas kasihan. Tidak peduli dengan segala makian dan perlawanan Seokjin, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah ia harus menjaga Seokjin, karena ini tugasnya dari Namjoon.

"HOSEOK!"

Seokjin berteriak sambil meronta bukan main, tubuhnya ia tahan sambil berpegangan pada sisi pintu. Sudah berapa kali ia berteriak tapi Hoseok seolah menulikan pendengarannya. Seokjin tidak mau menangis, ia harus terlihat kuat sekarang agar Hoseok percaya padanya.

"Aku mohon. Aku mohon." Seokjin lelah. Ia cukup berusaha melepaskan diri, namun Hoseok menahannya. Membuatnya memilih diam sekarang, mengatur nafas mencari oksigennya.

"Sudah selesai?" Hoseok mebalikkan badan, menatap Seokjin dengan wajah datar yang dibuat-buat. Netra coklatnya memandang Seokjin yang terlihat begitu rapuh, berbanding terbalik dengan segala ocehannya tentang ia yang bisa menjaga diri.

Ia menyentak tubuh Seokjin, membuat sosok dihadapannya limbung kedepan tanpa pertahanan. Hoseok segera mengunci pintu kemudian menarik kuncinya untuk ia sembunyikan dibalik saku celana.

Mata Seokjin membelalak, ia menyentak tangan Hoseok yang menyelubungi pergelangan tangannya hingga terlepas. Seokjin menggeram marah dengan wajah memerah, matanya menatap sengit Hoseok yang dengan santai berjalan kearah Jackson untuk kembali mengobatinya.

Seokjin berjalan melewati Hoseok dengan perasaan jengkel. "Kau pikir aku akan berhenti HAH? Aku akan keluar dari pintu dapur." Wajahnya memerah –menahan tangis dan marah- dengan bibir bergetar setelah sederet kalimat muluncur dari celah bibir tebalnya.

"Seokjin, kau hanya akan merepotkan Namjoon. Tolong, mengertilah."

Belum sempat Seokjin mencapai tiga langkah, perkataan Hoseok yang tiba-tiba begitu menohok hatinya. Seokjin bahkan baru menyadari dirinya tidak tahu akan pergi kemana untuk mencari Namjoon, yang ada di kepalanya hanya menemukan Namjoon entah bagaima caranya.

"Tenangkan dirimu. Aku akan bicara setelahnya." Hoseok menatap iba kepada Seokjin yang berdiri dengan jemarinya yang terkepal erat.

Tanpa menjawab, Seokjin berlalu meninggalkan ruang tamu. Memilih menenangkan dirinya didapur dengan secangkir kopi yang tengah dibuatnya. Hoseok tidak sepenuhnya salah, hanya dirinya yang terlalu kaget.

.

"Hos-HOCK"

"Sebaiknya kau diam Jack."

Hoseok menyeka keringat di dahi, kepalanya pening dengan segala hal tiba-tiba yang terjadi di desa mereka. Ia dan teman-temannya bukanlah aparat Negara, meraka hanya guardian. Hidup melalui uang warga setempat, menjadi malaikat di hadapan warga dan sampah bagi aparat negara. Mereka tidak berbuat hal jahat, hanya memberlakukan pajak lebih yang dipungut setiap minggunya. Sebuah organisasi yang terbilang cukup besar disana. Berpakaian layaknya orang benar, namun mereka benar adanya. Tidak pernah menyalah gunakan pekerjaan mereka, bertindak layaknya yang diperintahkan.

Namun kali ini, ada masalah kecil yang tidak bisa disepelekan. Apalagi ini menyangkut nyawa teman-temannya yang bahkan tidak bersalah sama sekali. Hoseok marah, namun ia tidak bisa gegabah. Ia harus pelan dan menikam.

"Dengarkan aku dulu."

Hoseok tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Jackson yang mencoba membenarkan letak duduknya agar lebih nyaman. Keadaannya cukup baik tidak seperti tadi berlumuran darah dengan luka yang sudah Hoseok berikan pertolongan pertama.

"Apa yang ingin kau katakan?"

Jackson menghela nafas, kepalanya yang sedaritadi menunduk perlahan mendongak. Menoleh kearah kiri tubuhnya, menatap lurus tepat ke netra coklat Hoseok yang balik menatapnya.

"Yang membuatku babak beluar hanya satu orang."

Hoseok membelalak kaget. "Satu orang?" Sebuah geraman meluncur begitu saja.

"Ya. Seorang lelaki berparas manis."

.

.

.

"It was no mere coincidence. To someone surrounded by darkness like me,

you are….

.

.

.

Mentari masih tampak malu-malu menunjukkan eksistensinya ketika Yoongi bangun dengan tubuh dalam dekapan Jimin. Matanya mengerjap beberapa kali, masih enggan mengangkat beban tubuhnya- terlalu nyaman dalam dekapan Jimin. Rasanya Yoongi ingin memonopoli malam untuknya, mengikat malam agar terus berjaya diatas mentari. Agar Jimin mendekapnya terus, seperti sekarang ini.

Netra hitamnya menatap gorden yang sesekali terhempas mengikuti angin, bergerak teratur manakala angin datang membawanya, kemudian menghempaskannya kembali. Ketika membicarakan angin, Yoongi teringat lelaki yang tengah mendekapnya. Tentang kecintaannya pada angin.

Layak kah Yoongi cemburu pada udara yang bahkan tidak berwujud sepertinya?

Seperti halnya cinta yang buta, begitupun dengan cemburu. Yoongi tidak memandang siapa atau apakah itu, rasa ketidak sukaannya timbul begitu saja. Dirinya bahkan tidak tahu sebuah kalimat bisa muncul dalam benaknya hanya karena Jimin. Berbicara tentang Jimin, lelaki dibelakang Yoongi masih terlena di alam mimpi.

Perlahan Yoongi membalikkan tubuhnya menghadap Jimin. Menatap lamat-lamat wajah kokoh dihadapannya dengan dada bergetar hebat. "Kau tidak baik untuk kesehatanku Jim." Yoongi berbisik didepan bibir Jimin dengan senyum kecut.

Yoongi memilih bangun dengan segala perjuangan memisahkan tubuhnya dari dekapan Jimin tanpa membangunkan si tampan. Yoongi turun dari tempat tidurnya super hati-hati dan untungnya berhasil tanpa membangunkan Jimin. Kaki telanjangnya ia seret keluar kamar tanpa melakukan atau menimbulkan bunyi yang nantinya akan membangunkan Jimin.

Netranya berpendar melihat ruangan yang masih gelap, Yoongi memilih pergi ke dapur. Barang kali ia bisa menyiapkan sesuatu yang nantinya bisa Jimin makan. Belum sempat ia mencapai dapur, mata tajamnya menatap pintu utama yang sedikit terbuka. Wajah Yoongi yang pucat semakin memucat. Dengan langkah cepat Yoongi menghampiri pintu, membukanya selebar mungkin.

Kosong.

Hanya terpaan angin yang menyambutnya, didepannya kosong melompong. Tidak mempertontonkan apapun selain rumah warga sekitar. Tangan Yoongi sudah mengepal erat, meruntuki dirinya sendiri yang mengapa bisa selengah ini. Bisa saja tadi malam dirinya atau Jimin tidak bisa melihat mentari terbit.

Raut wajahnya berubah dingin, matanya menajam tanpa diminta. Tujuannya menuju dapur ia batalkan, kaki-kaki kecilnya memilih berjalan keluar rumah. Langkah pertama ia keluar dari area pintu, kakinya menginjak sebuah benda yang ia yakini sebuah kertas. Yoongi membeku, kakinya ia angkat untuk kemudian tubuhnya membungkuk mengambil kertas tersebut. Mata tajam Yoongi menilik kekanan dan kiri dengan hati-hati sebelum dengan serampangan membuka lipatan yang kini terbentang didepan matanya.

Rahang Yoongi mengeras, dengan geram ia meremas kertas yang tadi dibacanya hingga tidak berbentuk. Kedua tangannya mengepal marah, sederet kalimat yang ada di dalam surat tadi benar-benar memberikan dampak buruk dipagi hari Yoongi yang harusnya cerah.

Ia cukup bersyukur menemukan surat ini lebih dahulu dibandingkan Jimin. Entah apa yang akan Jimin katakan ketika melihat surat yang sekarang remuk dalam jemari kecil Yoongi, hancur didalam genggamannya.

Kepalanya masih kosong, ia belum mendapat jalan lain untuk langkah kedepannya. Hal yang terpikirkan untuk saat ini hanya satu, menenggelamkan sederet kalimat yang membuat harinya hancur.

Dengan sedikit berlari, Yoongi menembus udara yang mulai menghangat. Membawa kaki-kakinya menuju tepi pantai. Tepat sebelum ia melempar kertas yang digenggamnya ke laut, Yoongi menatapnya dalam penuh kebencian sampai kertas itu menghilang dengan pasti dari pandangannya. Kertas yang sedikit demi sedikit memisah, hancur, tenggelam, dan pergi terbawa ombak.

.

.

.

"master, segeralah kembali. Secepatnya, atau sangkarmu hancur."

.

.

.

Jimin mengerjapkan matanya yang masih berat dengan terpaksa. Terpaan hangat mentari yang menyusup dari balik gorden berhasil membangunkan dirinya dari buaian kasur dan tubuh ha-

"Yoongi!"

-hangat yang sekarang tidak dalam dekapannya. Spontan Jimin berseru memanggil mahluk manis yang seharusnya masih terlelap dalam dekapannya. Jimin meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum turun dari ranjang mencari sosok berparas manis kesukaannya.

Ruang tamu tampak kosong tidak berpenghuni dengan pintu utama yang terbuka lebar. Jimin mengerutkan dahi bingung, ia memilih menuju pintu yang terbuka untuk melihat kondisi diluar. Namun Yoongi tidak ada disana, Jimin hendak menutup pintu untuk mencari Yoongi sebelum matanya melihat tubuh kecil yang tengah berjalan menuju rumahnya.

Jimin tersenyum, menghentikan niatnya menutup pintu. Ia bergeser sedikit kearah tembok untuk menyenderkan tubuhnya disana sambil menunggu Yoongi sampai. Tersenyum menikmati pemandangan sunrise dengan Yoongi dihadapannya.

Yoongi masih menundukkan kepala, meniti pasir yang diinjaknya sampai ia tiba di teras rumah Jimin. Ia masih menunduk sebelum netranya melihat kaki tan yang tengah berdiri tidak jauh dari pintu. Yoongi mendongak kaget, bersitatap dengan wajah tampan Jimin yang sedang tersenyum kearahnya. Yoongi terlihat tidak baik-baik saja dengan tubuh yang sedikit mengigil tertimpa angin juga kaki telanjangnya yang dipenuhi pasir.

"Kau tidak memakai alas kaki lagi." Jimin mendekat sambil terkekeh melihat kaki mungil Yoongi yang tenggelam dalam pasir.

Yoongi menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat wajah Jimin untuk saat ini. Bayangan Jimin dengan sederet kalimat yang membuatnya pening benar-benar kombinasi pas untuk pagi ini. Menyenangkan juga menjengkelkan.

Jimin mendengus merasa diabaikan, tanpa permisi Jimin menggendong tubuh Yoongi layaknya karung beras. Yoongi terhenyak ketika tubuhnya melayang dan kini bertumpu pada bahu kokoh Jimin.

"J-jimin! Turunkan aku!"

Yoongi tergagap, ia mencoba merosot turun dari gendongan Jimin namun gagal. Lengan kokoh itu terlalu mendekapnya dengan erat dan benar. Dengan terpaksa ia mengalah dan membiarkan Jimin melakukan hal yang dia inginkan. Yoongi terlalu lelah untuk hal sepele macam ini, ada hal yang lebih penting dari memberontak melepaskan diri dari kukungan kokoh Jimin.

Dengan langkah ringan Jimin membopong Yoongi ke halaman belakang,bukan tanpa tujuan dirinya melakukan hal ini. Kaki yoongi yang dibalut pasir sudah semestinya dibersihkan, namun tidak dengan Yoongi yang berjalan menyusuri rumah dengan kaki kotor. Maka Jimin membawanya ke halaman belakang dengan akses yang lebih mudah. Terlebih ini masih pagi, pasti akan menyenangkan menghabiskan waktu bersama Yoongi dibelakang sana.

"Sampai."

Jimin mendudukkan tubuh Yoongi di sebuah batu yang tidak jauh dari kran air. Terkekeh geli melihat wajah masam Yoongi yang tampak datar. Bagi Jimin, apapun ekspresi yang Yoongi tunjukkan untuknya tetaplah terlihat manis.

"Kau tidak perlu membopongku hanya untuk hal sepele macam ini Park Jimin." Yoongi memicing tajam kearah Jimin. Jimin menggeleng, memposisikan tubuhnya berjongkok dihadapan Yoongi.

"Dengan kaki kotor ini? Mengelilingi rumahku?" Jimin mengangkat salah satu kaki Yoongi, yang dibalas dengusan malas. "Yang benar saja Yoon. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Yoongi menghela nafas, melirik Jimin dengan senyuman tampannya malas.

"Sesukamu saja."

Yoongi melihat Jimin tertawa, entah mengapa matanya terasa panas memikirkan tawa itu lenyap dari pandangannya. Memikirkan jemari Jimin yang kini tengah menyentuhnya hilang dari eksistensinya. Begitupun dengan dekapan hangat, perlakuan manis, kalimat gombal dan sederet hal menakjubkan yang Jimin berikan kepadanya menghilang begitu saja dari Yoongi. Dadanya bergemuruh hebat, hanya membayangkannya bisa terasa sesakit ini. Bagaimana bila semua hal yang Yoongi takutkan menjadi nyata.

Jimin mendongakkan kepala merasakan sebuah tatapan tengah melayang kepada dirinya, menghentikan sejenak aktivitas membersihkan kaki Yoongi. Yoongi tengah termenung memandang dirinya, matanya memerah dan basah menahan tangis. "Kau baik-baik saja?" Jimin mengelus sebelah pipi Yoongi yang memerah dengan jemarinya yang bersih. Yoongi menatap Jimin tepat dimata sebelum memalingkan wajah, mengabaikan pertanyaan Jimin.

Keduanya sama-sama diam, Jimin mengalah untuk tidak memaksa Yoongi menjawab dan memilih melanjutkan aktivitasnya kembali membiarkan Yoongi larut dalam pikirannya. Jimin tidaklah bodoh untuk tahu bahwa Yoongi sedang dalam masalah. Kegelisahan dan rasa putus asa begitu tergambar jelas di netra hitamnya. Membuatnya ingin merengkuh sosok rapuh dihadapannya untuk ia seret dari jurang keputusasaan yang membuatnya gelisah.

"Selesai." Jimin tersenyum menatap kaki pucat Yoongi yang kembali bersih. Ia kembali mendongak mendapati Yoongi yang masih memalingkan wajah enggan menatapnya.

Yoongi masih larut dalam lamunannya, tidak mendengar sama sekali suara lembut Jimin dari bawah tubuhnya yang kini sudah bersih. Yoongi tengah bertengkar dengan hatinya, menyalahkannya atas segala sifat lembek Yoongi saat berhadapan dengan Jimin. Membuatnya lemah, membuatnya terlena, membuatnya harus berjalan diatas ketakutan. Membuatnya kebingungan untuk mengambil sebuah keputusan besar di masa yang akan datang, bagi hidupnya dan dia.

"Yoongi?" Jimin kembali memanggil Yoongi yang tidak menoleh. "Hei, manis." Jimin tidak sabar, tidak mampu diabaikan terlalu lama oleh sosok manis yang kini tengah ia tangkup wajahnya untuk ia hadapkan kearah dirinya.

Tubuh Yoongi tersentak,tanpa perlawanan menoleh kearah Jimin yang memandangnya dengan raut wajah khawatir. Helaan nafas risau menerpa wajah Yoongi yang kini terpejam menikmati panas diwajahnya. Untuk kali ini biarkan Yoongi menikmati segalanya tentang Jimin, kali ini saja.

"Yoongi. Kau banyak diam, tidak seperti biasanya."

'ini aku yang sebenarnya jim'

"Hei jawab aku. Jangan bertingkah seperti ini."

'seperti apa? Kenapa kau selalu menyadarinya.'

"Yoongi. Buka matamu. Tatap aku."

'aku tidak mampu. Maaf.'

"Ya tuhan, jawab aku Min Yoongi."

'aku tidak sanggup. Maaf.'

"Min Yoongi berhenti bersikap seperti kau akan pergi dari sisiku."

Tubuh Yoongi bergetar dengan kedua netra terbebelalak mendengar ucapan Jimin. Jimin memandangnya sendu, netranya memancarkan rasa takut yang sulit Yoongi artikan.

"Apa yang aku ucapkan benar Yoon?"

Jimin mendekat, menyatukan dahi mereka. Kedua netranya semakin dalam menyelamin netra Yoongi yang tampak bergetar putus asa dan gelisah. Yoongi berubah setelah ia pulang entah dari mana pagi ini, dan perasaan Jimin benar-benar tidak baik untuk saat ini.

"Jawab aku Min Yoongi."

Yoongi merasa tertekan, seumur hidupnya ia tidak pernah seperti ini. Rasa bersalah yang teramat sangat ia rasakan hanya kepada satu sosok yang kini sudah jauh disana, menikmati gemerlap surga yang memukau. Namun rasa itu kembali datang untuk Jimin, seseorang yang baru ia kenal kurang dari seminggu. Yang berhasil memporak porandakan hatinya, mengubah segala jenis pandangan hidupnya.

Dengan gerak kasar Yoongi menepis kedua lengan Jimin, menjauhkan tubuhnya dari Jimin secara tiba-tiba. Jimin hanya bisa diam dari tempatnya sekarang, membiarkan Yoongi melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.

Yoongi sudah memilih.

Yoongi bangun dari duduknya, melirik sebentar kearah Jimin yang masih terpaku dari segala sikapnya yang tiba-tiba. Ia melangkahkan kakinya melewati Jimin, menepis jemari Jimin yang hendak menahannya.

"Min Yoongi. Terbanglah sejauh yang kau mau." Jimin berujar lirih, namun masih terdengar jelas oleh Yoongi yang kini menghentikan langkahnya. "Dan ingatlah untuk pulang." Jimin tersenyum miris, begitu paham dengan segala tindak tanduk Yoongi yang dilayangkan untuknya, segala jenis penolakan dan tatapan mata itu. Jimin tau segalanya, bahwa dirinya hanyalah persimpangan sebelum akhirnya Yoongi terbang ke entah berantah.

Yoongi tersenyum kecut, kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Jimin dengan berat hati. Yoongi menoleh sebentar, menyelami rumah yang nantinya akan ia rindukan.

"Maafkan aku jim. Aku tidak punya rumah, yang aku tahu hanyalah neraka."

Kembali kakinya menapaki pasir, menyusuri jalanan yang mengantarkannya pada dunianya; dirinya yang sesungguhnya. Karena detik dimana Yoongi menemukan surat yang tergeletak manis di lantai teras Jimin, Yoongi memutuskan untuk pergi.

.

.

.

.my single ray of light.

Who, to help me once again return to earth."

.

.

.

Keadaan Seokjin sudah cukup baik untuk kembali ke ruang tengah dengan nampan berisi kopi dan sarapan sederhana. Ia meletakkan nampannya diatas meja, membuat antensi Hoseok dan Jackson teralihkan setelah pembicaran tegang mereka tadi. Tidak ada yang memulai pembicaraa, ketiganya memilih diam, menikmati semilir angin pagi dari jendela yang terbuka. Menikmati kesunyian yang terasa mencekam.

Seokjin menoleh kearah Jackson, menatap iba teman karib suaminya. "Apa kita harus ke dokter?" Seokjin menaruh cangkirnya diatas meja, merapatkan duduknya kearah Jackson sekedar mengecek beberapa luka ditubuh Jackson.

Hoseok menoleh. "Tidak perlu, membuang uang saja." Kembali menikmati kopi hitamnya. Jackson membuka suara meski agak tidak jelas karena dagunya yang terasa akan copot setiap ia berbiacara.

"B-brenghsek kau hoseok! N-amhjon jauh l-ebhihbaik dari be-dhdebah sepertimu."

Hoseok menulikan pendengaran dari protes Jackson yang menyakitkan telinga. "Diam brengsek! Ini semua salahmu, tanggung akibatnya!" Hoseok mendengus, meletakkan cangkirnya kasar.

Seokjin menghela nafas, menggeleng melihat interaksi dua sahabat didepannya. Seokjin tahu betul Hoseok sedang gelisah, begitu khawatir pada Jackson. Namun pikirannya terbelah dua, Hoseok juga memikirkan keadaan Namjoon diluar sana.

"Hoseok, bisa ceritakan padaku apa yang terjadi? Aku sudah cukup tenang sekarang." Seokjin tersenyum kecil,kembali meraih cangkirnya.

Hoseok terlihat membuang nafasnya, ia memejamkan mata sebelum kembali menatap Seokjin tepat dimata. Membuat dada Seokjin semakin bergetar mendengarkan segala rentetan cerita yang pastinya akan bersangkutan dengan suaminya.

"Tidak sekarang." Hoseok bangun dari duduknya, jemarinya meraih jaket yang sempat ia lepas. "Ada yang perlu aku urus."

Seokjin terbelalak tidak percaya, ia ikut bangun dari duduknya. Mengekori Hoseok menuju pintu, wajah manisnya terlihat khawatir. ingin mencegah Hoseok pergi, namun ia yakin Hoseok pergi untuk mencari suaminya.

Hoseok menoleh kearah Seokjin setelah selesai membuka kunci, ia tersenyum kearah Seokjin. Mengelus rambutnya dengan sayang. "Jangan melakukan hal konyol dengan mengikutiku, diamlah disini bersama Jackson. Kau juga andil dalam menyelamatkan nyawa manusia bodoh itu." Hoseok melirik kearah Jackson yang tengah memejamkan mata, mencoba tidur. "Kunci pintu dan jendela. Buat dirimu merasa nyaman dan aman." Hoseok memeluk tubuh Seokjin, memberinya kecupan didahi sebelum pergi begitu saja tanpa menoleh kembali.

Seokjin membeku ditempat, ia hanya bisa memandang punggung Hoseok yang ditelan pintu. Bukan kali pertama Hoseok memperlakukanya begitu lembut dan sayang. Seokjin tahu betul mantan kekasihnya itu masih menyayanginya. Seokjin tidak sanggup menahan diri untuk terisak, ia mengunci pintu dengan tubuh bergetar.

Begitu mengerti ketika Hoseok yang membawa Jackson pulang, yang arinya Namjoon menukar dirinya dengan Jackson, membiarkan Hoseok menjaganya. Seokjin marah tentu saja, bagaimana bisa suaminya berpikiran sependek itu. Seokjin begitu mencintai suaminya lebih dari yang ia rasakan pada Hoseok saat ini.

"Hoski, behati-hatilah. Bawa Namjoon pulang."

Gumaman Seokjin barusan menyadarkan satu sosok yang tengah menyandarkan tubuhnya diambang pintu, meremas dadanya yang terasa sakit. Sebelum kembali melangkahkan kaki meninggalkan rumah yang ditempati Seokjin dan sahabatnya.

.

.

.

Namjoon masih mengingat dengan jelas ketika dirinya menemukan tubuh Jackson yang berlumuran darah diatas lantai kayu sebuah gubuk dekat hutan. Namjoon masih mengingat dengan jelas segala rentetan kalimat petuah yang ia berikan kepada Hoseok yang menolak untuk membawa Jackson dan membiarkan dirinya tetap didalam gubuk untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Suasan mencekam, semua orang yang ada disana tertekan. Namun Namjoon tetaplah Namjoon yang genius. Dengan kalimat yang menyertakan Seokjin, Hoseok luluh dan memilih pergi dari tempatnya berada untuk membopong tubuh besar Jackson.

Senyum kecil menghiasi wajah lebam Namjoon, rasa sakit ditubuhnya lenyap ketika membayangkan wajah tertawa Seokjin yang membuat tubuhnya menghangat meski dingin memenuhi tubuhnya. Namjoon jauh dari kata baik-baik saja saat ini, tubuh bagian atasnya tidak memakai apapun menyisakan celana kain yang menggantung pasrah di pinggangnya. Kedua tangan Namjoon diikat oleh tambang yang kian menitnya terasa menyakitkan. Kedua netra tajamnya ditutupi oleh kain hitam dengan erat, terasa perih hanya dekedar menggerakkan kepala.

"Kau pendiam juga."

Kepala Namjoon menoleh kekanan dan kekiri mendengar sebuah alunan merdu yang menerpa indra pendengarannya. Satu sosok yang bisa Namjoon jabarkan seperti iblis, iblis yang cantik.

Namjoon awalnya tidak percaya bisa menemukan seseorang dengan wajah manis dengan paduan otot menghiasi tubuh rampingnya. Dan Namjoon semakin dibuat tidka percaya ketika dirinya sekarang berada dalam keadaan memalukan seperti ini karena sosok asik tersebut.

Rahang Namjoon mengeras merasakan tubuhnya dihantam besi tepat di perutnya yang menegang. Namjoon terbatuk keras, darah mengalir indah melalui celah bibirnya yang terbuka. Sosok dihadapan Namjoon tertawa senang, tawa yang Namjoon akui terdengar manis. Namun masih jauh dari tawa Seokjin, lagi Namjoon tesenyum memikirkan lelaki tercintanya itu.

"Jangan tertawa Brengsek!"

Lagi Namjoon dihantam pukulan di punggung, kali ini lebih ringan. Namjoon hanya merasakan pukulan kayu dengan rasa mengigit dari paku yang memenuhi sekeliling kayu yang digunakan si manis untuk menghantam punggung Namjoon.

Namjoon samasekali tidak merasakan apapun, tubuhnya mati rasa. Bayangan Seokjin memenuhi pikirannya. Matanya terasa berat meski sudah terpejam sedari tadi, berat yang ini berbeda. Benar-benar berat, hingga rasanya Namjoon tidak kuat lagi untuk mempertahankan kesadarannya, sebelum semuanya semakin menghitam. Namjoon mendengar bunyi debuman yang keras, dan sosok manis manis yang mengumpat untuk kemudian pergi meninggalkan Namjoon dengan sedikit kesadarannya.

Sebekum semuanya benar-benar diluar kendali Namjoon, ia masih bisa mendnegar samar-samar sebuah debuman lain dan suara memekik yang ia yakini dari sosok manis yang sangat senang menyiksanya.

"M-master…"

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Hallooo!

Masih adakah yang nunggu fanfic ini? Heuheu

Sebelumnya aku mau minta maaf karena lama banget updatenya. Dan ini bertele-tele banget, mana MinYoon nya seupil, tenang aja nanti banyak banget MinYoon xD

Ini kalau alurnya kecepatan muufin, emang begini jalan ceritanya xD Penjelasannya next chap xD

Aku seneng jujur aja bisa lanjutin fanfic ini, aku sempet lost feel dan mau nyerah sama fanfic ini padahal jalan cerita udah tersusun rapih di kepala xD Aku bagi dua karena ini bisa nyampe 7k, aku takutnya bosen jadi aku bagi dua deh.

BTS selamat untuk Daesang-nya. Selamat juga untuk ARMY. Gak bisa bicara banyak karena ini mengharukan sekali, sungguh TT

Special Thanks to :

Matchapeach, Minyoonlovers,Glowrie, PurpleSeokjin, Gneiss02, Hlyeyenpls, 07, Peachpetals, Annelin, Sugapeach, Sooindri09, Vhopeisreal, Ravoletta, Minsoo-ie, Yessy388, Kitkaw, dan Kristika20.

Fav dan Follownya Terimakasih banyak.

Mind to Review, please?