.
.
.
Modus © Hinamori Hikari
Naruto © Masashi Kishimoto
Kumpulan oneshoot
Sasuke Uchiha - Sakura Haruno
.
.
.
Sakura menggerutu sebal. Pasalnya, hari ini ia piket dan tak ada satupun orang yang mau membantunya. Padahal hari ini adalah jadwal Kiba, Lee, Chouji, Tenten, dan dirinya untuk membersihkan kelas setelah pulang sekolah. Namun selepas bel berbunyi, keempat teman gadis itu buru-buru pulang dengan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.
"Aduh, maaf Sakura. Nenekku dirawat gara-gara jatuh dari motor. Salah beliau juga sih, jalanan kok dijadikan track racing, mana motornya juga dimodifikasi menyerupai motor pembalap. Jadinya jatuh deh saat sedang balap liar. Maaf ya" Tenten membungkukkan tubuhnya dan bergegas keluar kelas. Sakura yang hendak memanggil, tertahan saat seseorang menepuk bahunya.
"Err, Sakura. Aku juga harus pulang nih" Lee tersenyum kikuk. "Kepalaku terasa pening, mungkin efek dari ambeien yang kuderita beberapa hari ini. Maaf!" tanpa aba-aba, Lee berlari keluar kelas meninggalkan Sakura yang mengernyit bingung.
"Sakura" suara seseorang kini terdengar dari sisi kanan sang Haruno. Ternyata Kiba. "Err, kemarin Akamaru dikejar kucing dan sebuah tamiya menghantamnya. Aku harus merawat kaki anjing kesayanganku itu" Kiba membungkuk. "Aku permisi!"
Sakura menggaruk tengkuknya.
"Sakura, Ibu menyuruhku pulang sekarang. Katanya ayam mentah dirumahku ternyata daging tiren dan harus segera dibasmi. Dah!" bahkan tanpa menunggu Sakura berbalik, Chouji melangkah cepat keluar kelas.
Menyebalkan. Sakura terus menyapu kelas dengan bibir mencebik dan merutuk tanpa henti. Mana dikelas ia sendirian pula, hanya bertemankan semilir angin dan bias mentari sore yang menerobos jendela kelas tanpa gorden.
"Sendirian?"
Sakura menoleh dengan cepat dan mendapati Sasuke Uchiha melangkah masuk dengan santai.
"Mana yang lain?"
"Tau ah. Sabodo" gadis merah muda itu terus melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan kedatangan Uchiha muda satu ini. "Mau ngapain?"
"Buku matematika ku tertinggal" ucap Sasuke datar. Tungkainya melangkah menuju meja tempat biasa sang pemuda duduk dan menarik sebuah buku dari dalam kolong meja. "Besok kan PR matematikanya dikumpulin"
Sakura hanya mengendikkan bahu. Sapu yang dipegangnya mulai merambah pada kaki-kaki meja dan kursi, berusaha mencapainya agar bersih.
"Mau dibantu?"
Sakura tersenyum tipis. "Memangnya tak apa?"
Sang ketua Jurnalistik itu hanya terkekeh. "Aku ada waktu luang. Lagipula kasihan kalau kau mengerjakannya sendiri"
Adik Gaara ini mengangguk-angguk. "Lap kaca jendela, ya?"
Dengan sigap, Sasuke mengambil pembersih kaca dan kain lap dari rak lemari kelas, lalu mulai turut membantu membersihkan jendela. Manik hitam khas Uchiha-nya sesekali melirik sang dara manis melalui ekor mata, dan tak ayal senyum tipis terpatri di bibirnya.
Seusai menyapu, Sakura mengambil penghapus papan tulis dan mulai menghapus coretan spidol berisi rumus dan angka yang guru Fisika torehkan tadi.
"Memangnya yang lain kemana?" tanya Sasuke, berusaha memecah keheningan. Tangannya tetap sibuk mengelap jendela yang sebenarnya sudah bersih dari debu.
"Mereka ada urusan masing-masing" jawab sang Haruno singkat. Sasuke mengangguk-angguk.
Merasa cukup dengan kegiatannya, adik Itachi itu mengembalikan lap dan pembersih kaca kedalam rak. Melihat Sakura kesulitan menghapus bagian atas papan tulis lantaran tingginya yang kurang memadai, Sasuke menghampiri gadis tersebut dan berdiri di belakangnya.
"Kalau butuh bantuan, bilang dong"
Entah apa yang membuat rona kemerahan mewarnai pipi putih Sakura kala menyadari tubuh depan Sasuke bersentuhan dengan punggung kecilnya. Terlampau mungil di hadapan pemuda itu membuat sang dara hanya setinggi pundak Sasuke.
Jemari Uchiha muda ini mengambil hapusan yang digenggam Sakura dengan lembut, sebelum tangannya terangkat dan mulai menghapus bagian papan tulis yang tak terjangkau si gadis. Dan hell, kalau diperhatikan baik-baik Sakura terlihat terkukung dalam dekapan Sasuke.
Entah berniat iseng atau apa, sebelah tangan Sasuke yang bebas melingkar di leher sang gadis musim semi, membuatnya terkekeh kala Sakura sedikit berjengit namun tak ada protes apapun yang keluar. Aroma serupa roseberry yang terasa manis menguar dari rambut merah muda si Haruno, yang entah mengapa membuat sang Uchiha begitu menyukainya.
Sasuke terus menghapus walau papan tulis telah bersih tanpa coretan setitikpun. Entah apa yang ia coba hapus sekarang. Kenangan mantankah? /ehitumahHika/
"Eum, Sasuke" panggil Sakura.
"Hn?"
"Papan tulisnya sudah bersih. Untuk apa kau terus terusan menghapus?"
Seakan tersadar, Sasuke menarik tangannya lalu berdehem singkat. "Tidak"
Ingin rasanya Sakura tertawa, namun begitu sadar bahwa jarak mereka masih sangatlah dekat, buru-buru gadis itu berujar, "menyingkirlah. Kita terlalu dekat"
Bukannya menjauh, pemuda itu malah menyeringai. "Bukankah kau suka?"
"A-apanya yang suka sih? Jangan mengada-ada" Sakura berusaha terlihat biasa dan tidak gugup. Sasuke terkekeh dan mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu kalau kau suka. Jangan tsun, nanti aku marah" entah apa maksud ucapan tak jelas Sasuke, namun yang pasti sang pemuda melepas pelukannya dan beringsut mundur.
"Ayo, kita masih harus mengepel" tanpa aba-aba Uchiha itu menarik pelan tangan Sakura dan menggenggamnya, menuntun untuk pergi ke sudut ruang dimana pel dan embernya telah siap. Wajah gadis itu memanas, pipinya semakin merona.
"Eh, kau membersihkan meja guru saja" Sakura melepas genggaman Sasuke dan berlari menuju lemari lalu mengambil kemoceng, sekaligus berusaha menghilangkan panas di wajahnya agar Sasuke tak melihat. "Nih!"
Pemuda itu mengernyit. "Aku?"
Sakura mengangguk. "Iya, biar pekerjaannya cepat sele—"
"Jadi duta shampoo lain? BWAHAHAHA, ups" Sasuke menutup mulutnya dengan tangan kiri, lalu terkekeh geli.
"Sialan, cepat laksanakan saja!" siapa coba yang tidak dongkol kalau tiba-tiba Sasuke begini.
"Iya, iya" tak ayal tangan Uchiha itu menyambut kemoceng dari Sakura. Sementara sang Haruno sendiri melangkah mengambil pel disudut kelas. Kebetulan sebelum mulai membersihkan kelas, Sakura sudah mengisi ember dengan air dan cairan pembersih lantai .
"Mau dibantu?" tanya Sasuke saat Sakura hendak memeras pel. Gadis itu menggeleng. Namun bukannya menjalankan pekerjaannya, sang pemuda malah menghampiri Sakura.
"Bersihkan meja guru, Sas!" gadis merah muda itu berkacak pinggang dengan pel di sisi kirinya saat melihat Sasuke malah berdiri disampingnya.
"Malas ah. Maunya memperhatikan kamu saja"
Blush! Pipi Sakura merona entah untuk yang keberapa kalinya. "Enak saja, cepat sana la— AHAHAHA, GELI!"
Dengan iseng, Sasuke menggelitik kulit Sakura dengan kemoceng yang ia pegang. Tak mau kalah, gadis Haruno itu menyodok perut sang pemuda menggunakan gagang pel, membuat Sasuke meringis kecil namun tetap semangat menggelitik Sakura.
"GELI, AYAM!"
"Awh, perutku sakit, pinky!"
"Hei jangan le— AHAHAHA, JANGAN! INI GELI!"
Haahh, sudahlah. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka sukai, toh sudah besar ini. Yang jomblo mah apa atuh, cuman bisa gigit jari :')
.
.
Sementara di tempat lain ...
"Eh, Sasuke ngapain sih menyuruh kita pulang duluan hari ini? Kalau bukan karena janji makan enak di restoran, mana mau aku pergi meninggalkan Sakura piket sendirian. Kasian tahu" Chouji bersandar pada tiang pinggir jalan seraya bersedekap, memandang ketiga temannya dengan bingung.
Tenten mengangkat bahu. "Biar saja lah. Kau seperti tidak tahu Sasuke saja"
"Tapi aku tidak enak pada Sakura. Alasanku tidak masuk akal sama sekali" Lee tertawa geli. "Apa hubungannya ambeien dengan pusing?"
"Lah, alasanku juga terdengar konyol. Akamaru tidak mungkin takut dengan kucing" Kiba menggelengkan kepalanya.
"Heh, kau pikir alasanku masuk akal? Nenekku ikut balap liar di jalan raya. Alasan macam apa itu?" Tenten mendengus.
"Kalau itu sih aku percaya. Cucunya saja macam begini modelnya, apalagi neneknya" gumam Chouji. Tenten mendelik.
"Eh, bantu aku mengerjakan PR Matematika dong. Aku tidak paham nih" Lee menggaruk tengkuknya, out of topic sebenarnya.
"Ah, tenang saja. PR nya dikumpulkan minggu depan, kan? Bersantailah" Kiba mengibaskan tangan.
"Lho? Bukannya besok? Kok aku tidak tahu?"
"Tadi Pak Asuma masuk kelas saat pelajaran fisika untuk sekedar meralat ucapannya. Beliau harus pergi keluar kota selama beberapa hari, makanya pengumpulan tugas diundur sampai minggu depan. Kau tentu tidak tahu, karena kau dan Sakura sedang menghadap Pak Gai kan?"
"Oohh" Lee mengangguk-angguk. "Iya sih, tadi aku dan Sakura pergi ke ruangan guru Gai untuk membicarakan tentang lomba Karate. Yasudah baguslah, pulang yuk!"
.
.
.
.
.
.
Hika's note :
Bukannya nyelesain fict sebelumnya, malah bikin baru /dilemparbotolbekas/ wkwk maap yah, gabisa dibendung nih (?)
Jadi ini adalah fict kumpulan os yang menceritakan gombal dan modusnya Saskey. Setting setiap os akan berbeda beda, jadi nggak anak sekolahan melulu. Bisa canon juga. Words ga banyak, mentok 1k atau 2k lah ya paling banyak. Tiap chap akan menceritakan alur dan setting yang berbeda, jadi sama sekali enggak ada hubungan antara chap satu dan chap selanjutnya. Intinya, akan membahas cerita secara terpisah.
Btw, FFN kok makin sepi yah? Hika jadi rada males buat main. Atau jangan jangan kualiatas menulis Hika menurun, makanya reviewnya dikit juga. Heuu :"3 kritik dan sarannya dong qq ;"
Review?