Hari ini hari Jumat.

Ada sesuatu dalam pikiran Taehyung yang sukses membuatnya uring-uringan pagi ini. Ia tahu persis kalau mimpinya kemarin tergolong mimpi basah. Mimpi basah untuk kesekian kalinya. Ia merutuk karena menyadari dirinya mesum sekali.

Tapi yang jadi masalah, siapa lelaki menawan yang membuat seprainya basah hari ini!?


.

.

WET DREAMS

.

Disclaimer : BTS © BigHit Entertainment. This story is purely mine.

Rated : M

(Karena disini ada kata-kata tidak layak dan menjurus lime, gue kategorikan ini rated M)

Genre : Romance, Comedy.

Paired : VKOOK, MINYOON

Length : Chaptered

WARN : Boys Love story! This is just a fan imagination. Don't be so rude. There is also typo(s). hehe.

.

Summary : Taehyung mimpi basah. Lagi. Dan kali ini pelakunya bukan model Rusia kesayangannya, melainkan seorang lelaki imut yang tidak dikenal!

.

.


"Sudah berapa kali kau masturbasi hari ini?" Jimin bertanya pada teman sebangkunya; teman sehidup sematinya. Taehyung hanya melirik Jimin dan menangkupkan kepalanya ke meja. "Aku absen hari ini."

Jimin mendelik. Mata sipitnya terbuka lebar. "Huh? Lalu? Kok lemas sekali?" Taehyung tidak menjawab. Sekujur badannya meriang. Benar kata Jimin, tubuhnya terasa lemah seperti habis onani. Hm.

"Kalau ingin ke UKS, aku bisa temani kok."

"Tidak sudi."

.

.


Sekolah Taehyung mulai pukul 7 pagi. Dan pelajaran pertama di kelasnya adalah olahraga. Biasanya Taehyung akan menikmati pelajaran olahraga, apalagi atletik. Maklum,Ia dikaruniai tenaga yang berlebih dan juga suka lari-lari.

Tapi, gara-gara mimpi basahnya, tubuhnya tidak bisa dikontrol. Bawaannya pengin rebahan terus.

Iris cokelatnya menelusuri lapangan atletik di depannya. Han Seonsaengnim sedang menerangkan tentang pentingnya pemanasan. Oh, come on. Anak sekolah dasar pasti sudah hafal di luar kepala kalau pemanasan sebelum olahraga itu penting. Tapi itu membuang waktu. Taehyung lebih suka langsung lari;lagipula dia cukup lincah dan jarang terkena cedera-cedera seperti itu.

"Saya ingin kalian membentuk kelompok dengan 2 anggota," Si guru yang sedang menjelaskan, Jimin tiba-tiba datang menggeluti lengannya ─tanda kalau dia ingin sekelompok dengan dirinya. "-Tapi saya yang tentukan. Bukan kalian."

Sialan. Guru ini belum pernah ditenggelamkan sepertinya.

"Baiklah, Sehun dengan Jaehyun, Jisoo dengan Sungyeol, Jiyeon dengan Minji, Jongin dengan Jongdae, Jimin dengan Yoongi─"Jimin disebelahnya tersenyum puas. "Setidaknya dengan kekasih sendiri tidak apa 'kan? Hahaha" ujar Jimin sambil melipat tangannya di dada. Taehyung mencibir tanpa suara.

Ngomong-ngomong, Yoongi itu pemuda paling dingin di kelasnya. Lebih dingin daripada es campur di kantin sekolahnya. Dan Jimin itu seperti api. Emosinya kadang meledak-ledak. Kekanakan.

Mungkin itu yang namanya kekasih ya. Saling melengkapi satu sama lain, hm.

.

"-Sekarang kalian boleh melakukan pemanasan. Lakukan selama 20 menit."

Kerumunan murid di depan Han Seosangnim seketika bubar. Jimin melangkah menjauh. Taehyung kebingungan. "Tunggu, aku sama siapa?"

.

"Taehyung?" Suara nyaring membuat Taehyung menoleh. Oh, ada yang memanggilmu, Tae.

"Kita jadi partner, hari ini."

Selanjutnya Taehyung terpaku.

.

.

.


Pemuda itu mengaku bernama Jeon Jungkook. Taehyung tidak pernah ingat punya teman se-ehem-manis itu. Satu-satunya pemuda yang diakui manis oleh Taehyung hanyalah Baekhyun─dia juga cantik, anyway.

Taehyung duduk di bawah pohon sekitar lapangan. Batang hidung gurunya tidak terlihat. Kesempatan bagus untuk duduk, bukan?. Hehehe.

"Taehyung-ah." Pemuda bersurai cokelat itu menoleh. "What?"

"Lakukan pemanasan. Nanti kau cedera." Jungkook memperingati Taehyung. Berdasarkan teori yang sudah tercetak di buku paket, pemanasan itu dilakukan untuk melemaskan otot-otot dan sendi agar nantinya tidak cedera. Taehyung mendecih.

"Lebih baik simpan otak nerdmu untuk pelajaran berikutnya." Taehyung berkata sarkastik sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri Jimin yang sedang mencium Yoongi. Brengsek memang pemuda Park itu.

Jungkook menunduk. Dia tidak nerd. Lihat saja penampilannya yang sangat up to date.

He's not fucking nerd, anyway. He's just obeying the rules.

.

.

"AAAH. MATAKU TERNODA." Seru Taehyung saat Jimin akan membelit pinggang ramping Yoongi dengan mesra. Sontak saja, Yoongi melepas tautan bibir mereka dan berlari pergi menjauh. Taehyung tertawa.

"I'm gonna fucking him and you just ruining it. Shit." Jimin mencaci maki Taehyung yang masih tertawa mengejek. "Ini masih di sekolah, bung. Jaga bicaramu." Cibir Taehyung balik.

"Apa maumu?" Taehyung duduk di bangku penonton. "Bosan. Si Jeon Jungkook itu terus menyuruhku melakukan pemanasan." Jimin ikut duduk di sebelah Taehyung. "Dia hanya khawatir denganmu, mungkin?"

"Aku malas. Aku pergi ke UKS." Putus Taehyung sambil beranjak. Meninggalkan Jimin yang menggerutu di belakang.

.

.

.


Taehyung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur UKS. Kedua lubang telinganya tersumbat earphone yang mengumandangkan lagu-lagu yang hanya ia sendiri ketahui. Alias artisnya tidak terlalu terkenal.

Suster cantik UKS tidak berjaga hari ini. Makanya keadaan UKS terlihat sepi. Mungkin wanita itu sedang make out dengan salah satu guru disini.

Hei, jangan lupakan kalau Taehyung mengetahui segalanya─dia punya banyak informan ilegal─dan pasti mengetahui kalau suster seksi dengan marga Zhang (dia orang China, anyway) sudah menjalani hubungan 3-tahun-long-distance-relationship-karena-beda-profesi dengan guru pelajaran Ekonomi, Kim-pendek-Joonmyeon.

Pasangan itu harus saling melengkapi 'kan?

.

.

Pintu UKS tiba-tiba terbuka lebar. Taehyung menutup matanya─pura-pura tidur. Siapa makhulk terkutuk yang memasuki ruangan UKS jam segini!?

"Kukira kau mati karena tidak pemanasan."

Oh. Silly Jungkook here.

"Diam. Aku tidak mood bicara denganmu." Sahut Taehyung sambil membuka matanya dan mendapati wajah Jungkook yang hanya 20 cm di depannya.

.

Hei.

Dia mirip laki-laki itu.

.

"Lalu? Apa urusanku? Aku hanya disuruh si-gendut-Han untuk memanggilmu ke ruang guru. Kau bolos pelajaran, Tuan Kim." Jawab Jungkook sambil menahan tawa melihat ekspresi bodoh yang diperlihatkan Taehyung.

"Ayo ikut. Don't you dare to disobey me."

.

.

.


Jimin sedang menyalin tugas Yoongi saat Taehyung masuk ke kelas dengan Jungkook. Heran? Iya. 'Kan baru saja Taehyung bilang kalau Jungkook itu membosankan.

"Hei, tidak apa? Memangnya kau masturbasi di UKS lagi?" sahut Jimin sambil menyenggol lengan Taehyung setengah bercanda. Jimin sedikit khawatir sahabatnya itu akan berakhir seperti Junho─dia masuk rumah sakit karena masturbasi setiap menit.

"Aku tidak. Suster Zhang tidak ada."

"APA HUBUNGANNYA DENGAN SUSTER ZHANG HAH!?" seru Jimin sambil menimpuk kepala Taehyung dengan buku sejarah yang tebalnya 300 halaman. Taehyung membalas teriakan Jimin dengan cengiran kotaknya. "Hehe, bercanda. Aku hanya tiduran di UKS, lalu Jungkook datang dan merusak segalanya."

"Kau di-blowjob olehnya? WO-AAKH" Giliran Taehyung yang menendang kaki Jimin dengan tendangan ala Kapten Tsubasanya. "Aku heran kenapa Yoongi menerimamu. Kau mesum. Lebih mesum dari Jongin. Aku tidak diapa-apakan. Hanya diberitahu kalau Han Seonsaengnim memanggilku ke ruangannya."

Jimin mengusap kakinya kasar. "Yah, kau membolos kelasnya sih. Dan soal Yoongi. Good in bed adalah poin plusku. Dasar jomblo." Taehyung yang dikatai begitu jadi gemas dengan Jimin dan roti sobeknya. Hm.

"Lalu, dari tadi pagi kau lemas sekali. Dan itu kenapa?" pertanyaan Jimin sukses membuat Taehyung bungkam. "Aku…Mimpi lagi."

Jimin menaikkan kedua alisnya. Mimpi apa? "Apa maksudmu, bocah kurang ajar?"

"Dengarkan aku dulu! Biasanya aku akan memimpikan Valentina Zelyaeva, Kylie Jenner, atau Miranda Kerr-"

"Miranda siapa?" pertanyaan Jimin membuat Taehyung ingin menendang wajahnya.

"Artis kesayangannya Sehun. Makanya, ikut nimbrung di pojok. Jangan berbuat mesum setiap hari." Jimin yang dicibir hanya merespon datar. "Lalu?"

"Yah, kemarin malam, aku memimpikan lelaki."

Jimin kaget.

"Eh serius? Lelaki itu memasukimu atau-YAH INI ASET BERHARGA PUNYA YOONGI!" sahut Jimin memegang perutnya. Dicubit sih. Nanti kalau abs-nya hilang, Yoongi nanti duduk dengan tidak nyaman. Hm.

Dasar Park-mesum-Jimin.

"Susah sekali berbicara halus padamu. Aku jadi kasihan dengan Yoongi. Pasti setiap hari kau memberikan dirty talk padanya." Jimin memutar bola matanya. "Ckck. Lelaki itu have sex denganku. Aku TOP, sialan. Dan wajahnya kebetulan mirip dengan Jungkook."

Rasa sakit akibat cubitan Taehyung menghilang seketika. "Serius? Mirip Jungkook?" Taehyung menganggukkan kepalanya. "Hei,kata orang tua mimpi itu bisa jadi ramalan masa depan. Hati-hati lho. Jalan itu 'kan tidak selalu lurus." Ujar Jimin sambil menyikut lengan Taehyung─menggoda habis-habisan pemuda itu.

Ingatkan Taehyung untuk mencekik Jimin pulang sekolah nanti.

.

.

.


Sekolah Taehyung selesai lebih awal di hari Jumat. Taehyung sudah berjanji dengan Namjoon untuk bermain playstation. Game baru punya Namjoon menanti untuk dijamah. Hehehe.

Taehyung menghampiri bangku Namjoon (dan Sehun) yang terletak di pojok kelas. Dia sama sekali tidak menemukan Sehun bangkunya. Tumben. "Sehun pulang cepat? Dia jadi ikut tidak?" Tanya Taehyung sambil mendaratkan bokongnya ke bangku Sehun. Namjoon menggeleng pelan seraya mengambil ponsel dari saku jas sekolahnya. "Sepupu Kanadanya datang. Sehun bilang, dia akan datang malam nanti." Taehyung mengangguk. "Wanita?" Namjoon tersenyum. "Dia tidak akan sudi pulang cepat ke rumah kalau yang datang itu pria, Kim Taehyung."

.

.

.

Pukul 10 malam. Dan bagi Taehyung, itu masih terlalu awal untuk pulang. Prinsip yang ia teguhkan bersama Sehun, Jimin, dan Namjoon. Memang berandal sekali mereka.

"Jadi kau menggoda Irene noona untuk mencicipi bibir perawannya? Brengsek kau, Sehun." Goda Taehyung sambil mencomot keripik kentang milik Sehun yang dibawa massal dari rumahnya. Sehun tersenyum menyeringai, "Come on, dia satu-satunya sepupu jalang yang mengaku polos. Aku mencoba menyelidiki. And, she is so bitchy." Sehun menjawab sambil terkekeh pelan.

"Kau tak kasihan dengan Luhan? Dia teman-tapi-mirip-saudaramu dan juga pacar si Bae Irene." Kali ini Namjoon ikut nyeletuk. Sehun mendecih. "Justru aku membantu si nerd itu. Memang susah punya teman yang sepolos bayi."

"Apanya yang membantu, Oh-bastard-Sehun?" Namjoon menyindir membuat Sehun dan Taehyung tertawa. "Jangan sok polos, Namjoon" Sehun menepuk-nepuk bahu Namjoon sambil menyeringai.

"Aku bersyukur dilahirkan jadi magnae. Tapi punya 2 kakak sekaligus itu susah. Aku ingin mencekik Taeyeon dan Daehyun kalau mereka berani menjahiliku lagi." Ujar Taehyung sambil merebut stik dari tangan Namjoon. Sialan. Pikir Namjoon.

"Lalu, Apa kau tidak pernah mencoba bermain dengan perempuan? Aku tahu kau ini such a hypersex seperti Jimin." Sehun mencibir sambil menekan-nekan PSP-nya. Dahi Taehyung bertaut. "Apa maksudmu?"

"Bertemu wanita asli, teman. Bukan dalam video birumu atau pikiran kotormu seperti Valentine atau Jenner." Sahut Namjoon mencoba menjelaskan.

"Aku tidak-"

"Kami mendukung apapun pilihanmu teman. " potong Sehun sambil menepuk pundak Taehyung. Pemuda pucat itu tersenyum tampan.

"Brengsek. Kalian!" Namjoon dan Sehun tertawa keras melihat reaksi Taehyung.

.

.

.


Pukul 1 pagi.

Taehyung berjalan lunglai ke rumahnya. Beruntung sekali dia punya teman se-brengsek Sehun atau se-cuek-tapi-menyebalkan Namjoon. Sehun mengantarnya sampai ke depan gang rumahnya (Taehyung sempat memprotes, tapi Sehun tetaplah Sehun). Jadilah ia berjalan dari depan gang ke rumahnya yang berada di ujung.

Keberuntungan kedua.

Sambil berjalan, Taehyung membayangkan bagaimana kemarahan ibu dan ayah-nya saat mendapati dirinya pulang telat. Diam-diam pemuda itu berdoa kalau kedua kakak alien-nya tengah tertidur saat ia sedang dimarah-sayang oleh orangtuanya.

.

Setelah lama berjalan, dia menemukan seonggok manusia(?) sedang meringkuk di depan pagar rumahnya. Hell. Untuk apa dia diam disana? Come on, malam ini memang dingin, padahal sedang musim panas. Taehyung menghampiri manusia itu dan berjongkok di depannya.

"halo? Hal-Jungkook?" Taehyung benar-benar tidak tahan untuk kaget saat mendapati Jungkook duduk meringkuk begitu. "Sedang apa kau disini, nerd?"

"Oh kau sudah pulang." Sialan. Setenang itu dia menjawab padahal Taehyung sudah panas dingin─takut kalau Jungkook sudah mati di depan rumahnya.

"Aku tanya, kau sedang apa disini?"

"Kau pulang lama sekali, aku─"

"Jawab aku."

"Apa? Aku-"

"JAWAB AKU, NERD!" Bentakan Taehyung membuat Jungkook terhentak. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Taehyung akan membentaknya. Jungkook terdiam sembari menatap Taehyung yang menghela nafasnya.

"Aku tidak tahu tujuanmu datang ke rumahku. Jika itu berhubungan dengan panggilan si Han tadi, ia hanya ingin menyerahkan surat untuk ayahku. Dan kau─tidak usah khawatir."

Damn.

Apa Taehyung seorang peramal? Jungkook membatin. Ia memang datang ke rumah Taehyung─kebetulan mereka tetangga sebelah rumah─untuk menanyakan urusannya dengan Han Seonsaengnim yang terkenal galak. Khawatir dengan teman sekelas, tidak apa 'kan?

"Pulang."

Jungkook mendongak;mendapati Taehyung tengah berdiri dan menatapnya tajam.

"Aku bilang pulang. Kau tidak dengar!?" Jungkook gelagapan. Kemudian ia bangkit dan berjalan menjauh dari pagar rumah Taehyung─setelah membungkukkan sedikit tubuhnya.

Jungkook yakin ia mendengar gumaman Taehyung sebelum dia masuk ke rumah.

"Dasar merepotkan."

Dan pemuda kelinci itu tidak tahu mengapa hatinya begitu sakit.

.

.

.

Taehyung membanting tasnya di bangkunya dengan Jimin. Dia badmood. Ibunya yang tercinta tidak jadi memarahinya kemarin malam dan melampiaskannya pagi ini. Salahkan Taeyeon─si jalang mungil itu mengingatkan ibunya untuk memarahinya.

Ya. Taeyeon yang cantik ternyata belum tidur dan memilih menonton Insidious 2 di salah satu stasiun TV. Noona-nya itu melirik licik saat ia membuka pintu depan.

Dan berakhirlah ia diantar sekolah oleh ayahnya yang jangkung dengan tatapan dinginnya. Ditambah Daehyun yang diam-diam menertawainya. Ya Tuhan, Taehyung benar-benar benci dengan sikap ayahnya yang seperti itu.

Belum lagi tentang kehadiran Jungkook yang merepotkan semalam di depan rumahnya.

Oh, kemarin benar-benar sial.

.

"Wajahmu ditekuk begitu, kenapa?" Jimin bertanya sambil menarik lengan Taehyung dan mengajaknya duduk. "Ibumu marah lagi? Namjoon cerita tadi pagi kalau kau dan Sehun bermain di rumahnya sampai jam 1 pagi. Dasar tidak setia kawan, aku tidak diajak."

"Itu salahmu karena terlalu sering bersama Yoongi. Dan ya. Ibuku marah dan ayah mengantar-jemput ke sekolah hari ini. Sial."

"Siapa yang lapor?" Jimin bertanya lagi. Di kepala tampannya ada nama-nama kakak Taehyung yang menyebalkan level atas.

"Taeyeon noona. Aku sudah terlalu sabar." Taehyung menjawab singkat. Jimin menggelengkan kepalanya. Hidup Kim Taehyung memang penuh drama.

.

Tiba-tiba Jimin teringat sesuatu.

"Oh ya. aku bertemu Jungkook kemarin." Kepala Taehyung mendadak pening. Ingatan menyebalkan itu lagi. "Kenapa?"

"Tidak, pulang sekolah kemarin ia menghampiriku dan Yoongi. Jungkook bertanya tentangmu, kawan. Aku pikir kau langsung ke rumah. Jadi kubilang kau pulang ke rumah." Taehyung melirik Jimin dengan malas. "Apa urusannya denganku? Aku tidak peduli."

Jimin menghela nafas. "Dia bertanya dengan tujuan baik, Tae. Perlihatkan sikap baikmu padanya. Wajar kalau dia khawatir padamu. Han Seonsaengnim itu pernah meninju Jongin saat ia dan Kyungsoo tertangkap basah di gudang sekolah."

Taehyung terdiam. Ingatan tentang wajah pucat dan terkejut milik Jungkook berputar.

"Dia datang ke rumahku-" Taehyung menjeda kalimatnya, "-aku tidak tahu dari kapan dia menungguku. Aku membentaknya dan menyuruhnya pulang."

"Wah, kau keterlaluan, Kim Taehyung." Jimin mencibir. "Untung sekali ini bukan musim dingin. Bias-bisa dia terkena hipotermia." Taehyung melipat tangannya di dada.

"Salahnya sendiri menungguku."

"Heol. Aku tidak akan marah padamu, kawan. Tapi kau harus minta maaf padanya dan katakan tidak usah khawatir terhadapmu. Aku tahu kau risih padanya, tapi tidak dengan membentaknya. Jadilah seorang gentleman, okay?" kata Jimin bersikap bijak. Taehyung jadi merinding sendiri.

"Bijak sekali kau." Taehyung mencibir sambil beranjak menuju bangku Sehun dan Namjoon─anyway mereka sedang membuka laptop. Taehyung yang sedari tadi hanya menatap dari kejauhan jadi penasaran. Perhatiannya terbagi antara mendengar Jimin dan Sehun yang tertawa saat melihat entah apa di laptopnya.

"Makanya jangan jadi jomblo terus." Cibiran Jimin didengar oleh Taehyung. "Aku jomblo, tapi aku lebih tampan darimu."

Kurang ajar. Jimin membatin sambil mengutuk sahabat baiknya itu.

.


.

.

TBC

FIRST CHAPTERED ABIS HIATUS(?)

Ya, seperti yang tertulis di profil gue, laptop lagi demam. Ini aja update pake tablet. Gue bikin fic baru buat yang setia nungguin Bangtan Special Unit gaapa kan :')

Betewe, ini fanfic iseng-iseng loh ya. Gaada hubungan dengan BSU. Cuma penyampaian pengumuman ueheehe.

BSU dilanjut sekitar paling lama September. Tergantung guenya juga sih. Heheh.

Yang sabar nungguin disayang Tuhan :3

P.s. angkatan gue lagi war sama adik kelas. Gasampe tawuran sih. Wahaha :3

-Leave some reviews and enjoy!-