STAR CRAVING BAEK (Remake)
Chapter 1
Cast :
Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Luhan, EXO
Genre :
Romance!
Rate :
M/ Gender Switch (GS)
.
.
FF ini bukan karya BaekQiu
Ini merupakan hasil remake dari novel berjudul Star Craving Mad karya Elise Abrams Miller
BaekQiu hanya mengganti nama, tempat, dan setting yang disesuaikan dengan cast.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
Aku berjalan memasuki ruang kelas, cangkir styrofoam berisi kopi dari ruang guru di sebelah tangan, daftar absen di tangan satunya, kacamata hitam murahan dari Chinatown merosot di hidungku yang sudah berkeringat. Sebelum aku bergumul melawan jendela raksasa yang tertutup rapat dilapisi debu Seoul sepanjang musim panas, aku duduk di tepi meja, mendorong kacamata ke atas dahi, dan menekuni kolom nama.
Asisten baruku belum datang, padahal sekarang sudah hampir pukul 08.40, waktu genting. Inilah yang kudapat karena lama bekerja di sini, karena tidak berhenti dari pekerjaan bulan Juni lalu, saat aku berjanji pada diriku sendiri aku akan melakukannya. Mereka selalu memberiku asisten baru karena aku sudah tak peduli lagi. Mereka bisa saja memberiku anjing penuntun orang buta di kelas dan aku tak akan heran. Aku sanggup mengajar kelas satu dengan mata tertutup.
Di antara mengecek jam, memelototi jendela, dan menghirup kopiku yang kebanyakan susu skim, aku melihat nama di daftar absen yang langsung membuat jantungku berdegup kencang. Oh Ziyu. Aku menghitung nama di daftar. Sembilan belas. Aku bersumpah, hanya ada delapan belas nama dalam daftar saat aku menerima paket informasi melalui e-mail minggu lalu.
Aku menghampiri pesawat telepon dinding dan memutar nomor kepala sekolah.
"Kantor Kris Wu," kata asistennya yang sangat muda dan sangat cantik, siswa lulusan tahun lalu yang dipilih sendiri oleh sang kepala sekolah. Tahun ajaran baru saja dimulai dan skandal sudah menguak di Seoul Select Academy. Skor satu untuk sang 'Kepala Selingkuh'.
"Hani-ssi, hai. Ini aku Byun Baekhyun. Apakah Mr. Wu ada?"
"Tidak ada, maaf," desah Min Hani, sudah mulai bosan dengan pekerjaan sungguhan pertamanya di dunia nyata.
"Kalau begitu kau mungkin bisa membantuku. Aku mendapat anak baru di kelasku. Kau tahu tentang itu?"
"Oh, kau tidak mendapatkan suratnya?" tanyanya sambil lalu. Aku tidak mendapat surat apa pun. Aku menarik napas dalam-dalam seperti kaum Buddhis, berdamai dengan rasa marah dan frustasiku, lalu tersenyum.
"Tidak, Hani-ssi. Aku tidak mendapatkannya. Bisakah kau memberitahuku isinya, tolong?" kataku, berharap sebelum Halloween ini dia akan segera melewati suasana hati remajanya yang mudah merajuk.
"Mm, Oh Ziyu baru saja mendaftar di sekolah ini dan dia sekarang di kelasmu."
"Apakah orangtuanya..."
"Iya, betul. Oh Sehun dan Oh Luhan."
"Oke, Hani-ssi. Terima kasih. Tidak ada pesan untuk Mr. Wu."
Aku menutup telepon sambil berharap aku tahu cara menenangkan diri. Salah satu muridku bernama Oh Ziyu. Anak perempuan Sehun dan Luhan—Oh, salah satu pasangan selebriti yang paling hot di negeri ini. Aku tak dapat menghitung berapa seringnya aku berbaring di ranjang, berfantasi tentang Oh Sehun. Hidungnya yang sedikit kebesaran, bibirnya yang sedikit ketipisan, matanya yang tajam dan dingin, tapi kalau kaugabungkan semua, area selangkanganmu langsung membara.
Sehun dan Luhan termasuk makhluk langka, seperti bintang rock albino atau pacar setia yang suka memberikan oral seks. Mereka sudah lama berpasangan dan sering sekali diwawancarai Yoo Jaesuk, berbinar-binar ketika mengatakan betapa mereka saling mencintai, lebih daripada dulu. Mereka pasangan yang dipuja publik, seperti Bae Yongjun dan Park Soojin, Jisung dan Lee Boyoung, Rain dan Kim Taehee, Brad Pitt dan Angelina Jolie.
Aku melihat kertas di tanganku dengan bergetar seirama jantungku yang memburu. Kuteguk kopi yang sudah tak panas lagi dan aku berpikir bagaimana bisa berkonsentrasi tahun ini dengan putri dari pasangan selebriti hot duduk di kelasku. Selama lima tahun terakhir aku sering terjaga pada malam hari membayangkan seperti bagaimana rasanya mengajar anak Oh Sehun dan Luhan. Aku merasa dirugikan selama ini karena anak paling terkenal yang kuajar adalah putra direktur majalah Ceci. Kini mimpiku jadi kenyataan, aku tidak ingin merayakannya, malah merasa perlu diberi pernapasan buatan.
Seoul Select Academy di Gangnam adalah sekolah yang berbeda, sering disebut 'progresif' oleh sebagian orang, dan dijuluki 'lubang neraka kaum elite' oleh yang lain. Apa pun namanya, sekolah itu magnet bagi kaum kaya dan terkenal, walau Sehun dan Luhan jauh lebih terkenal.
Sambil menempelkan daftar absen ke papan pengumuman, aku memaksakan diri mengingat betapa berpengalamannya diriku, betapa mudahnya anak-anak akrab denganku, bagaimana para orangtua menulis surat penuh pujian di akhir tahun ajaran, berterima kasih karena telah membuat keajaiban dengan anak-anak mereka. Kuingat penyataan-pernyataan ini, mengangguk penuh semangat setiap kali, karena kalau tidak, aku akan kena serangan saraf di atas lantai linoleum kotak-kotak ini.
Setelah beberapa kali mengulang, mengangguk, dan berdoa, aku yakin ketika pelajaran mulai penuh aku akan terlalu sibuk berobsesi tentang Sehun dan Luhan. Mengajarkan cara berhitung puluhan pada murid-murid yang antusias tak akan menyisakan waktu untuk membayangkan mencium bibir Sehun atau menempelkan wajahku ke dadanya yang berotot. Mengajarkan cara menggambar bunga matahari tidak akan menyisakan semenit pun untuk membayangkan Luhan menjadi gila/hilang/mati.
Dering bel menyadarkan lamunanku. Lima menit lagi para murid tiba, dan asistenku masih belum datang. Kelopak mataku mulai berkedut, membuatku gugup. Kulempar kacamataku ke tas yang sudah ketinggalan zaman dan bergegas mengelilingi ruangan, menurunkan kursi dari atas meja dan mendirikannya di lantai. Suara dan langkah kaki terdengar mendekat, bergema di tangga dan lorong. Jam menunjukkan pukul 08.55 dan saat itu juga kuputuskan bahwa aku membenci asisten baruku lebih daripada yang lain dan sebaiknya dia punya alasan yang sangat bagus atas keterlambatannya yang tak dapat diizinkan, dimaafkan, dan diterima itu.
Yang pertama datang adalah Kim Jimin. Kami berjabat tangan, lalu dia menggulung lengan baju terusan linennya dan langsung beraksi di sudut boneka, menyusun meja dapur mini. Orangtua Jimin menatapku, mulut mereka membentuk senyum kaku penuh harap. Aku balas tersenyum dan menggeleng melihat antusiasme Jimin.
"Dia hebat," pujiku.
Beberapa anak dan orangtua memasuki ruangan dan aku mengamati mereka dengan radar selebritiku—dengan penuh penderitaan menunggu kedatang Ziyu, dan penuh amarah yang ditekan menunggu kedatangan asistenku.
"Hai, senang bertemu denganmu. Aku Byun Baekhyun. Aku guru Haeri tahu ini... Ya, enam tahun! Aku tahu, aku selalu kembali! Aku suka rokmu, Jenny... Tentu, Joon, kau boleh ke sudut blok mainan. Jangan malu-malu... Tidak, dia belum datang, keretanya terlambat," kataku berbohong. Aku tersenyum, mengangkat bahu, diam-diam melirik pintu atau dinding.
Semua ini terus berlangsung. Mukaku mulai pegal karena tersenyum terus, otakku pusing karena mempermainkan permainan otak favoritku: menjumlah harga baju orangtua dan anak-anak ini. Ada banyak sepatu balet Prada tahun ini, pikirku. Setelah hitunganku sudah tak terlacak lagi, aku tidak lagi merasa seperti guru, tapi lebih mirip bisul menyebalkan, harga pakaianku benar-benar menjadi murahan bila dibandingkan dengan milik mereka.
Kurapikan ekor kudaku, seakan itu membuat perbedaan. Beberapa ibu datang mengenakan celana pendek Nike atau celana yoga Puma ketat., mengingatkanku bahwa seharusnya aku melanjutkan kebiasaan olahraga, bukannya menghabiskan waktu luang di Barnes & Noble, mencermati Ceci sambil menyabotase diri sendiri dengan secangkir besar venti mocha frapuccino.
Rasa pening yang kunantikan tiba, berdansa mengentak-entak bola mataku, tapi asistenku tetap absen. Sementara para orangtua dan murid menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru, diam-diam aku menelepon bagian akademik, tapi mereka tidak menerima kabar apa-apa tentang si asisten baru.
Pukul 09.05, si kecil Kim Taeoh, yang amat menyerupai salah seorang anggota boyband, menempelkan wajahnya ke jendela dan berteriak, "Hei, ada dua limusin berhenti di luar!" Seisi kelas, minus satu murid dan satu asisten guru, bergegas ke jendela.
Aku dan beberapa orangtua yang masih ada bertukar senyum, seakan berkata, "Anak-anak ini lucu sekali, ya?", sebelum menyusul kerumunan yang sedang menatap ke bawah.
Di jalan, Oh Sehun keluar dari mobil Lincoln hitam pertama, mengenakan jins 'kumal' dan kemeja cokelat muda yang tidak dimasukkan, rambut keperakan berantakan yang terkenal itu memantulkan sinar matahari pagi bulan September. Di belakangnya, Luhan dan Ziyu muncul dari limo kedua. Luhan berpakaian santai hari ini—celana kapri hitam, T-shirt hitam, dan sandal. Hebatnya, aku dapat melihat betapa merah cat kuku kaki Luhan dari lantai enam.
Kalau para murid tidak ada di sini, aku akan berceloteh tentang betapa sombong dan vulgarnya mereka memamerkan kekayaan seperti itu. Dengan senang aku akan berkomentar jahat. Kalau para orangtua tidak di sini aku akan berseru, "Omo! Omo! Omo! Tunggu sampai teman serumahku mendengar tentang ini!" Tapi aku diam saja dan berpikir tentang teman serumahku, Kyungsoo, tentang kebencian Kyungsoo terhadap sesuatu yang berbau selebriti.
Kyungsoo pasti muntah melihat kesombongan mereka ini. Aku tak sabar ingin memberitahunya bahwa mereka tiba dengan dua limusin. Seakan satu limusin panjang mengilap tidak cukup membuat rakyat jelata minder. "Berani benar makhluk-makhluk kerdil itu," demikian Kyungsoo akan berkata.
"Siapa mereka?" tanya Jung Soojung. Anak ini—kalau memang belum—seharusnya mendapat bayaran jutaan won menjadi model iklan Gap Kids atau Benetton.
"Itu Oh Ziyu," kataku. "Dia di kelas kita." Kesunyian yang menyusul setelah itu sungguh tak ternilai. Kalau aku bisa membuat anak-anak terdiam sesenyap ini, mungkin aku akan senang bangun pagi hari. Walau begitu, kesunyian ini, seperti benda lain yang disentuh anak-anak, mudah pecah.
"Dia terkenal?" tanya Moon Mason sambil menggigiti kuku jarinya.
"Orangtuanya aktor," kataku hati-hati.
"Siapa nama mereka?"
"Apakah mereka main film?"
"Apakah mereka menang Daesang?"
"Apakah mereka presiden?"
"Nama mereka Oh Sehun dan Oh Luhan. Dan kalau Ziyu sudah di sini, kalian bisa bertanya padanya." Aku tidak mau memberikan perhatian lebih dari sepantasnya. Mereka manusia, sama seperti aku. Kurasa begitu. Sama. Seperti. Aku.
Demi Tuhan, kalau saja aku tadi ke toilet dulu selagi sempat.
Para orangtua yang tak terkenal tapi sangat kaya itu menghampiriku satu per satu, sambil menunduk, berbisik seakan aku pastor yang tujuan hidupnya hanya mendengar pengakuan dosa mereka.
"Aku baru menonton film baru mereka. Pernahkah kau melihat orangtua seanggun mereka?"
"Kudengar Luhan pernah dirawat karena kelelahan. Kau pernah dengar?"
"Aku suka film Runaway Groom yang diperankan Sehun. Apakah menurutmu aku harus mengatakannya pada Sehun?"
Tapi sebelum aku bisa menjawab pertanyaan mendesak mereka, keluarga Oh tiba, dan mendadak kami semua layu terkena kekuatan rahasia yang dipancarkan orang terkenal dengan hebatnya. Semua warna seakan memudar di ruang kelas, sementara keluarga Oh bersinar semakin terang. Pinggulku seolah melar seinci. Postur tubuhku membungkuk. Bahkan anak-anak pun terlihat memudar.
Sementara anak-anak menyambut Ziyu yang penuh senyum dan rambutnya bergaya kusut, Sehun dan Luhan menghampiriku. Aku mengusap keringat di atas bibirku, memaksa diri mengingat hal-hal positif, seperti saat sahabat terbaikku, Yixing, memberitahuku bahwa aku bisa menjadi pemeran pengganti Song Hye Kyo. Kuulurkan tangan sambil berdoa semoga aku memancarkan sikap tenang dan tak terintimidasi.
"Hai," kata kami serempak, lalu berjabat tangan. Begitu banyak sensasi. Begitu banyak yang bisa diamati. Selebriti mengacaukan sistemku. Aku dapat mengatasi mereka dalam bentuk dua dimensi di majalah atau televisi atau internet, tapi dalam bentuk darah dan daging begini rasanya seperti tersambar petir. Apakah semua orang bereaksi yang sama?
"Senang bertemu anda," kataku serak.
"Sama-sama," kata Sehun. Tangannya besar dan kuat, seperti seharusnya. Tangan Luhan mungil dan kering, kukunya dicat rapi warna merah darah. Menurutku, dia tidak kelihatan kecapekan. Dia terlihat awas, matanya yang menggoda jelalatan ke segala arah, seakan memastikan kelas ini cukup baik untuk putri kesayangannya.
Sehun berkata, "Kami telah mendengar banyak hal baik tentang dirimu dari Kris." Dia menyebut nama Kepala Sekolah dengan nada akrab yang mengerikan. Aku membayangkan kalau dia tahu kami menyebut Kris 'Kepala Selingkuh'.
"Oh...bagus!" kicauku, lalu tersenyum. Otakku telah merangkak masuk ke liang untuk meresapi semua sensasi luar biasa ini, meninggalkan cangkang kosong yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Kurikulum kalian terdengar hebat," desah Luhan, dengan aksen samar dari daerah asalnya di China. "Ziyu pasti akan sangat menyukainya." Luhan menatapku tajam, aku merasa ada makna yang tak kumengerti dalam kata-katanya yang terdengar polos. Kuharap dia menganggapku cukup baik untuk mengajar putrinya.
"Terima kasih banyak," kataku. Sungguh sulit bagiku bercakap-cakap dengan orang-orang yang sering menghadiri penghargaan Film bergengsi. Kalau saja aku bisa menyuruh semua orang pulang supaya aku bisa tinggal bersama Sehun dan Luhan sampai tengah malam, mencermati mereka seperti spesimen lab.
Saat melirik Sehun, kuperhatikan kemejanya terbuat dari suede dan dia mengenakan sandal jepit bertali hijau. Jari kakinya putih dan bentuknya sempurna, jari-jari beradab berbaris rapi. Dengan sedikit gemetar, kusadari bahwa aku dapat menjilati kesepuluh jarinya—selama berjam-jam. Padahal aku bukan orang yang terobsesi dengan kaki.
"Well, kelihatannya kau bisa mengendalikan semua ini," kata Sehun, dan kepalaku tersentak dari jari-jari kakinya. Senyum Sehun membuatku lumer dan mendadak aku malu sekali. Bisa-bisanya aku berpikir tentang jari-jari kaki Sehun pada saat seperti ini? Monster macam apa diriku?
Untuk menghukum diri, kupandangi Luhan, yang pada usia tiga puluh lima lebih cantik dan anggun daripada yang bisa kuharap saat aku berusia dua puluh, dengan tubuh padat sempurna. Dia wanita yang tidak pernah kelupaan meninggalkan tampon sampai busuk dan bau, yang tidak pernah mengeluarkan bunyi aneh di kela yoga saat instruktur membetulkan posisi pundaknya, yang tak pernah muntah di peron subway pada pukul dua pagi akibat meminum terlalu banyak soju.
Aku marah pada diriku karena mengharapkan Luhan mati. Sehun dan Luhan jela sempurna untuk satu sama lain, dan aku penghancur rumah tangga yang sungguh jahat.
Luhan menatap arloji mungilnya, dan dia pun menghilang. Sehun memberitahuku bahwa Luhan ada janji temu di suatu tempat.
"Karena itu ada dua mobil," kataku. Sehun menyentuh hidungnya sambil mengangguk.
"Uhm nona Byun," kata Sehun dengan suara seksinya. Aku khawatir akan langsung melahirkan bayi bila mendengarkan terlalu cermat. Aku berdiri seperti orang tolol dan Sehun tersenyum, lalu meraih kantong belakangnya. "Aku tahu ini mungkin sedikit aneh bagimu." Aneh? Tidak. Ini mimpi jadi kenyataan, yang kalau kupikir-pikir memang agak aneh karena aku sudah biasa dikecewakan dalam hidupku yang membosankan ini.
Sehun mengeluarkan lipatan kertas dari kantong belakang celana dan menyerahkannya padaku. "Hanya saja, kita harus melakukan ini," katanya saat aku membuka lipatan kertas. "Perjanjian menjaga kerahasiaan," kata Sehun tersipu.
Aku membacanya cepat dan segera menandatanganinya. "Tentu saja," kataku sambil berpikir bahwa kertas ini sudah memeluk pantat Sehun seharian. Kuharap aku bisa mengusap-usap kertas itu ke wajahku sebelum mengembalikannya.
Sehun menyelipkan kertas itu kembali ke kantong. "Terima kasih, nona Byun. Aku tahu ini aneh, tapi, yah, kau tahu bagaimana media massa itu." Aku mengangguk penuh pengertian saat Sehun menjabat tanganku sekali lagi. Lalu dia menghampiri Ziyu, mengecup keningnya, dan pergi. Aku mengepalkan tangan, memegang sisa molekul Sehun yang seksi, menghela napas, dan memaksakan diri kembali ke masalah di depan mata.
.
.
.
Ruang kelas berdengung dengan gairah hari pertama sekolah. Tidak ada yang benar-benar gugup karena baru masuk sekolah. Mungkin karena anak-anak ini sudah masuk ke lembaga pendidikan sejak usia dua tahun. Belum apa-apa, sudut blok mainan sudah dikuasai anak laki-laki. Sekelompok anak lain terlentang di karpet, dikelilingi Uno, catur, Lego, dan buku dinosaurus pop-up raksasa.
Segelintir anak perempuan yang cantik-cantik berkerumun di salah satu meja, mengibaskan krayon bak tongkat sihir, menyalurkan imajinasi mereka dalam buku gambar. Oh Ziyu salah satu dari mereka. Sudah kuduga dia tipe pemimpin, dengan kuku bercat glitter yang sudah rontok, tank top motif bunga, dan rambut cokelat kusut yang selalu jatuh ke matanya.
"Aku membuat titik di tengah. Seperti ini," kata Ziyu, dan semua anak perempuan di meja segera menirunya.
"Wow, kau pintar sekali menggambar!" pekik salah satu di antara mereka.
"Ya," kata Ziyu tanpa menengadah dari karya spidolnya. Dia amat keren, sama sekali tidak terkesan. Selebriti sejati, pikirku, lalu menegur diri sendiri karena telah tersihir pesona anak umur enak tahun.
Aku mengelilingi ruangan, mengamati, bertopang dagu, menggumam setuju, tersenyum kalau perlu, mengangkat alis pada saat yang tepat. Ini pertunjukan hari pertama untuk menenangkan beberapa orangtua murid yang masih tersisa, yang tidak rela meninggalkan anak mereka.
Saat orangtua terakhir keluar, aku segera meraih dua butir aspirin dari meja dan meneguk sisa kopi. Lalu kumatikan lampu. Sembilan belas murid kelas satu terdiam membeku.
Aku sudah menyerah menantikan kehadiran asistenku.
"Bagus! Kulihat kalian tahu apa artinya kalau lampu dimatikan. Siapa yang dapat memberitahu? Jiyoung?" Aku tidak tahu Jiyoung itu anak perempuan atau laki-laki. Rambutnya pirang panjang, tapi dia mengenakan celana kargo kedodoran dan sepatu basket Nike.
"Artinya jadi patung," gumam Jiyoung sambil menatap lantai. Oke, aku sudah memutuskan. Anak laki-laki.
"Patung yang tidak bergerak?"
"Tidak bicara juga!" teriak Soojung sambil meloncat.
"Betul, Soojung!" Dia meloncat lagi, kesenangan.
"Panggilanku Krystal!" jeritnya, rambutnya yang diikat tinggi berayun-ayun. Aku yakin kelas sebelah dapat mendengar suaranya.
"Oke, Krystal, terima kasih," bisikku, memberinya isyarat tentang kontrol suara. Aku tak mau mengkritik, jadi kutarik napas dalam. Sampai siang nanti pasti lampu sudah dimatikan seribu kali dan kami akan berbicara tentang betapa pentingnya 'peraturan sudut blok mainan', ditekankan dengan kerutan dahi dan tangan saling menggenggam. Walau begitu, seperti setiap tahun, aku tahu anak-anak ini akan berhasil mengambil hatiku yang kelelahan.
Aku menggeleng melihat anak-anak yang cantik dan manja ini, yang kehidupannya membuatku iri. Dan pikirku, aku akan menjadi tawanan/pemandu/pengasuh/terapis/pemakai mantel/pengikat tali sepatu putri-putri dan pangeran-pangeran ini untuk sembilan bulan ke depan.
Aku siap tersenyum lebar lagi untuk terakhir kali, sedetik lagi, sebelum aku akan serius mempertimbangkan memecat asistenku pada hari pertama sekolah.
"Oke, mari kita beres-beres, lalu membentuk lingkaran untuk pertemuan kelas satu kita yang pertama!"
.
.
.
Anak-anak sedang bersusah payah memberikan tempat duduk pada yang lain di tepi karpet. Taeoh mengangkat tangan.
"Bagus, Taeoh! Ada apa?"
"Lingkaran kita lebih mirip huruf U daripada huruf O," katanya sambil tersenyum, memperlihatkan lubang hitam tempat gigi seri pertamanya akan tumbuh bulan Juni mendatang.
"Hmm kurasa kau benar. Kalau begitu kita harus ber-U setiap pagi," kataku, lalu seisi kelas tertawa cekikan. Kuharap aku tidak keceplosan omong jorok. Kuulangi kata-kataku dalam hati untuk memastikan.
"Hei, aku tahu!" kata Luna sambil bangkit berlutut. "Ayo membentuk L!" Sebelum aku sadar sepenuhnya, mereka mulai berpencar dan mendadak aku kehilangan kontrol. Setelah itu, seakan sang iblis sendiri yang menyutradarai film hidupku, pintu terbuka dan asistenku tiba. Aku tak sempat meliriknya.
Kenapa dia tidak datang pada waktu yang seharusnya? Saat aku masih memegang kendali atas anak-anak nakal ini?
"Oke, anak-anak," kataku. "Aku senang sekali kalian mengenal huruf-huruf, tapi aku butuh huruf U. Ayo tunjukkan bentuk huruf U sempurna." Tolonglah, doaku dalam hati kepada Tuhan. Anak-anak mulai beranjak ke tempat mereka semula dengan patuh.
"Anak-anak, tahu tidak? Kalian pintar sekali. Aku akan memikirkan cara agar kita bisa menggunakan ide kalian di dalam kelas. Kalian mau?"
"Mauuuuu!" teriak mereka kompak, saling menatap yang lain, seakan baru menang undian.
"Oke, aku juga mau. Tapi sebagai balasannya, kalian harus mematuhi peraturan. Artinya, saat pertemuan pagi kita harus duduk di mana?" Hampir semua tangan terangkat tinggi-tinggi.
"Ziyu?"
"Di tepi karpet," katanya, tangannya maju mundur mengusap karpet di depan lututnya dengan malu-malu. Aku terpukau, tersihir. Aku terjerat. Gadis cilik ini menggodaku. Dan aku menelannya bulat-bulat.
"Betul," kataku.
"Ini huruf U paling sempurna yang pernah kulihat," kata asisten baruku yang amat sangat terlambat dari arah pintu. Kami semua berpaling dan menatapnya.
Di ambang pintu, berdiri guru paling lusuh yang pernah menginjakkan kakinya di Seoul Select Academy; jaketnya belel, rambut merah kusut, sisa keringat bulan September. Dia bahkan berdiri bertumpu pada kotak gitar. Kalau dia tidak terlambat satu jam lebih, mungkin aku akan menganggapnya menarik.
Kalau dia tidak terlihat sesantai itu, mungkin aku akan menaruh sedikit rasa hormat padanya. Kalau dia bukan asistenku, mungkin aku akan mengusirnya dengan berkata, "Aku bisa mengajar di kelas ini tanpa bantuanmu, terima kasih banyak."
"Anak-anak, ini Park Chanyeol. Dia akan menjadi guru kalian juga. Mari kita menyambut guru Park."
"Halo, guru Park," kata mereka serempak dengan nada berlagu, dibumbui sedikit nada bosan kelas elite.
"Kau bisa main gitar?" tanya Ziyu sambil memilin-milin rambutnya. Dia sudah mulai menduakanku.
"Dari mana kau tahu ini gitar?" tanya Chanyeol. Dia menyipitkan matanya. "Kau punya pandangan sinar X?" Ziyu terpingkal-pingkal sampai terguling-guling.
"Tidak. Aku tahu dari bentuknya!"
"Oh..." kata Chanyeol sambil mengangguk, seakan baru mengerti.
"Kenapa terlambat?" tuntut Krystal, dijentikkannya jemari pada setiap suku kata. Sebagian besar dari kami menunggu jawaban Chanyeol, sementara sisanya berusaha menjentikkan jari mereka, meniru Kystal.
"Yah," kata Chanyeol sambil melepas jaketnya. "Aku dirampok." Aku dan seisi kelas terpaku. Perampokan sungguhan. Ini akan makan waktu.
Chanyeol menggantungkan jaket di kotak gitarnya dan meletakkannya di tepi meja guru. Dia mendekati kami dan duduk di tepi meja. "Aku sedang menuju kemari, menyebrangi Dosan Square Park—"
"Aku tahu itu di mana!" teriak Joon.
"Aku juga!" kata Jenny, lalu seisi kelas bergabung dalam percakapan tak relevan pertama dalam tahun ajaran ini.
"Pengasuhku bilang, Dosan Square Park itu berbahaya."
"Pengasuhku bilang, ada narkoba di sana."
"Narkoba itu jahat."
"Kalau kau pakai narkoba, kau harus rehab, dan rehab itu sulit. Itu kata pengasuhku."
"Rehab itu apa sih?"
Walau percakapan mereka sungguh mencerahkan dan sadar sosial, aku merasa perlu menyela. "Kalau kalian ingin mendengar tentang perampokan guru Park, sebaiknya pembicaraan kalian disimpan untuk jam istirahat."
Chanyeol berterima kasih, lalu melanjutkan ceritanya.
"Jadi aku sedang menyebrangi taman apa?"
"Dosan Square Park!" teriak seisi kelas.
"Lalu aku diserang dua orang pria kekar. Di siang bolong."
"Kau takut?" tanya Taeoh.
"Ya, aku takut," Chanyeol mengaku. "Aku menyerahkan uangku, tiga puluh tujuh ribu won. Kupikir itu sepadan dengan nyawaku, bukan? Mereka ingin merampas gitarku, tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa gitarku hanya sepotong barang sia—pokoknya jelek."
"Dia hampir mengucapkan kata umpatan S!" kata Krystal sambil menegakkan badan dan menuding Chanyeol. Dia membelalakkan matanya yang sudah lebar. Mungkin dia ingin menyuruhku membawa Chanyeol ke kantor Kepala Sekolah.
Oh, seandainya aku bisa. Tapi bagaimana menjelaskan bahwa Kepala Selingkuh sendirilah yang mempekerjakan Chanyeol? Bahwa Kepala Selingkuh memuja tipe penyair lusuh macam Chanyeol, bahwa Kris Wu langsung terpana mendengar kata inspirasi?
"Aku nyaris mengumpat," aku Chanyeol. "Tapi tidak jadi. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Itu...emh...tidak pantas, kan?"
"Betul," kata semua serempak.
"Ayahku sering mengumpat kata S!" Ziyu mengumumkan dan seisi kelas mulai melantur, seperti ibu-ibu yang sedang merumpi, lalu aku menggiring mereka untuk kembali. Aku terlalu lelah untuk ini.
"Anak-anak, jumlah kalian sembilan belas. Aku yakin kalian semua punya kisah menarik, tapi ada tempat dan waktunya. Kalau tiba giliran kalian, kalian boleh bercerita. Sekarang, mari kita dengarkan cerita guru Park dan berhenti menyela, kalau tidak cerita guru Park tidak akan selesai juga."
Kesunyian yang indah. Aku berhasil. Kuusapkan telapak tanganku ke celana jins. "Guru Park? Kau mau menyelesaikan ceritamu?"
"Sudah selesai sih," kata Chanyeol. "Kita lanjutkan saja pertemuan ini ya?" tambahnya, mengangkat bahu, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Terima kasih," kataku, malu karena Chanyeol mencuri wibawaku dan marah lebih dari yang sepantasnya. Aku benci pria pengedip mata!
.
.
.
TBC/ DELETE?
Yeorobun! Aku datang lagi membawa FF remake dari novel favoritku.
Aku tahu... ff ku yang lain belum ada yang selesai. Heu... tapi mood untuk nge-remake novel ini datang begitu saja hari ini. Dan aku tidak bisa mengabaikannya...hehehehe...
Kali ini ceritanya tentang Baek yang jadi guru SD dan Yeol yang jadi asistennya. Hayoooo, siapa yang pengen sekolah SD lagi? *gue gue* Selain jadi guru SD, Baek juga seorang fangirl—kerjaannya tiap hari fangirlingan. Kekeke... "kek gue"
Kali ini aku nggak bakalan nentuin pairing ya. Silahkan kalian tebak-tebak sendiri aja. Hahaha... tapi kayaknya udah pada tahu dong ini pairing apa...?
Oke deh, kalo menurut kalian ff ini cukup menarik dan pantas dilanjut, silahkan tinggalkan review, fav, dan follow...okay?
Lastly, REVIEW juseyo...