"Sepuluh suara menerima, satu suara menolak. Semua selain Hijikata-san menyatakan setuju, jadi proposal ini disetujui—,"

Sejak kalimat itu dilontarkan oleh kapten divisi pertama Shinsengumi, dia sudah tahu kalau hidupnya akan berubah.

"—Mulai hari ini, markas Shinsengumi akan dibebaskan dari asap rokok di manapun itu."

Dan sejak kalimat itu diselesaikan, Hijikata Toushiro sudah tahu jika hidupnya tak akan pernah sama lagi.

.

.

.

"When a Smoker Said That He Wanted to Stop, That's Just a Bullshit"

Disclaimer : Gintama © Sorachi Hideaki

Story © Scalytta

Rate : T

Warning : Merokok membunuhmu.
Ini serius.

.

[Disarankan untuk menonton Gintama episode 119 sebelum membaca]
Please enjoy

Mind to RnR?

.

.

.


"Aku sudah bertekat. Aku mau berhenti merokok." – Hijikata Toushiro


.

"Brengsek! Brengsek!"

Makian eksplisit dilontarkan bertubi-tubi oleh wakil komandan Shinsengumi sepanjang perjalanan. Bibir bawah ia gigit-gigit tanpa sadar. Jelas saja, benda yang selama ini menggantung di antara kedua belah bibirnya telah lenyap. Membuatnya merasakan stres tak terkira.

Sebenarnya Hijikata Toushiro sudah berusaha keras untuk bisa mendapatkan lagi hal berharga nomor dua dalam hidupnya setelah mayones. Sayangnya, bahkan setelah ia berkunjung ke planet Hamek, pergi mengalahkan Breeza, mencari zuruzuru boru, membantu Kobayashi menghidupkan Grillin, menghabisi Celo dan mendapatkan nurunuru boru, memanggil naga dari numenume boru serta membangkitkan kembali ayah Delde—jangan tanya kenapa nama bolanya berbeda semua—, Hijikata masih tak bisa mendapatkan rokok barang sebatangpun. Saking putus asanya, dia bersumpah untuk berhenti menghisap batangan racun tersebut.

Itu sih, niat awalnya.

Lihatlah dia sekarang. Berjalan tanpa tujuan di keramaian Kabuki-cho—setelah mengelilingi semua tempat bahkan planet dan tak menemukan harapan sedikitpun. Sekuat tenaga menggenggam katananya yang masih disarungkan. Bibir kering digigit kuat sampai berdarah. Ia bahkan berusaha semaksimal mungkin menahan diri agar tidak membenturkan kepalanya sendiri ke tembok terdekat. Perasaannya gelisah, tak tenang. Napasnya tersengal, keringat dingin mengucur deras. Inikah efek dari tidak merokok selama seharian penuh? Dan ia masih harus menahan keinginannya untuk menghisap rokok sampai –mungkin—seumur hidupnya?

"Sialan!" sumpahnya entah untuk yang keberapa kali.

Tanpa disadari, langkah kakinya terhenti di depan sebuah bar bertuliskan "Snack Otose". Sekitar satu atau dua meter di atasnya, tertempel sebuah papan dengan tulisan "Yorozuya Gin-chan".

'Ck, dari segala tempat di bumi ini, kenapa harus ke sini?!' batinnya dongkol.

Hijikata menghela napas. Geez, kenapa juga dia harus marah hanya karena kaki-kakinya khilaf melangkah ke sini? Lupakan, lupakan. Lebih baik dia pergi saja. Daripada harus bertemu dengan sesuatu berbentuk keriting dan masalah baru.

"Oi! Beraninya kau mengambil itu! Kembalikan, itu yang terakhir!" suara wanita tua terdengar dari dalam bar.

Langkahnya kembali terhenti.

"Urusai, baba!* Kau tidak dengar pengumuman tentang larangan merokok di seluruh Edo, hah?! Ck, inilah mengapa aku membenci nenek tua. Tidak pernah mau mendengarkan nasehat dari kami yang masih imut-imut."

"Siapa yang kau bilang tua?! Hoi, kau mau membuatku muntah dengan omonganmu, ya?"

"Haaah? Gin-san hanya mengutarakan kenyataan. Apa kau tidak lihat mataku yang masih pika pika* seperti bayi yang baru lahir?!"

"Ano, Gin-san, matamu itu mata ikan mati. Matamu tidak memancarkan apapun. Dan apa pula bayi baru lahir?"

"Eww… Gin-chan, kau 'kan hanya ossan tak berguna."

"Cih, jadi kalian mengkhianati Gin-san, begitu? Awas saja, gaji kalian tidak akan aku bayar!"

"Ano, Gin-san, kau memang tidak pernah membayar gaji kami."

"Terserah! Pokoknya rokok ini aku—,"

Pintu bar dibuka, menampilkan sosok samurai berkimono putih dengan corak gelombang biru.

Langkah kaki dan pertengkaran kecil di dalam sana terhenti.

Biru baja bertemu merah cerah menyala.

Sakata Gintoki berdiri tepat di depan pintu. Di hadapannya, wakil komandan iblis mematung seperti orang idiot. Ekspresi malas Gintoki lantas berubah jengkel tatkala menyadari siapa yang berdiri satu meter di depannya.

"Apa kau lihat-lihat?! Jatuh cinta padaku, hah?!" tanyanya galak.

"Eh?"

Hijikata tersentak. Fokus matanya berpindah dari bulatan setengah terbuka menuju ke bawah, tepatnya ke batangan tak bersalah yang ada di genggaman laki-laki bernama Sakata Gintoki.

Menyadari ke mana arah pandang lelaki berambut lurus menyebalkan, Gintoki menyeringai kejam.

"Hoo… Hijikata-kun. Jangan bilang kalau kau menginginkan benda ini, hm?" Seringai masih terpasang menyebalkan di wajahnya.

Hijikata menelan ludah.

Gintoki diam, memerhatikan gerak-gerik pria berambut hitam. Jakun Hijikata bergerak naik-turun tak teratur. Telapak tangannya menggenggam dan membuka gelisah. Tatapan mata yang biasanya tajam menusuk kini terlihat tak fokus. Gintoki menghela napas. Dia paham kalau Hijikata Toushiro adalah seorang maniak mayones dan rokok. Jadi ia bisa memaklumi reaksi tubuhnya saat ini. Oh, ayolah! Nenek tua di dalam sana juga sedang mengalami hal yang sama dengan pria berseragam polisi itu.

"Oi, oi! Paling tidak berpura-puralah untuk tidak peduli pada kata-kataku," kata Gintoki setengah kasihan setelah melihat reaksi terlampau jujur seorang Hijikata Toushiro.

Laki-laki yang diajak bicara berkedip dua kali. Ekspresinya masih belum berubah, menggambarkan dilema besar yang tengah menyelimuti isi kepala dan hatinya.

'Aku ingin merokok.'

'Tidak, tidak! Aku sudah berjanji tidak akan merokok!'

'Sayang sekali kalau satu batang terakhir itu harus berakhir terkubur di antara tumpukan sampah.'

'Sadarlah, Toushiro! Kau tidak boleh mengingkari sumpahmu yang baru diucapkan beberapa jam yang lalu!'

Kira-kira seperti itulah peperangan yang sedang terjadi dalam diri Hijikata Toushiro. Dan Sakata Gintoki entah kenapa bisa melihat secara jelas, seakan-akan di depannya telah berdiri dua sosok wakil komandan Shinsengumi yang saling bertengkar. Bedanya, di kepala salah satu sosok itu terdapat dua tanduk mengerikan yang muncul dari masing-masing sisi kepala. Sedangkan di atas kepala sosok satunya muncul lingkaran bercahaya yang seakan-akan terbang.

Malaikat dan iblis? Entahlah. Gintoki bahkan tidak bisa menebak mana yang mendukung Hijikata untuk tetap merokok dan mana yang menganjurkannya untuk berhenti.

Menghela napas seraya menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayangan aneh dihadapannya, pemilik rambut keriting alami itu berjalan mendekati Hijikata hingga jarak mereka semakin tereliminasi. Ketika dua pasang mata hanya terpaut tinggal sejengkal, ditariknya lengan terbalut seragam hitam itu ke arah tangga menuju bangunan tempatnya tinggal.

Tarikan tiba-tiba tersebut membuat Hijikata Toushiro tersadar dari inner debat tak pentingnya. Bingung, alisnya mengerut dan dia bertanya, "Oi, apa yang kaulakukan?"

"Aku tidak tahan melihat ekspresi bodohmu. Sudah ikut saja! Biarkan Yorozuya Gin-chan mengatasi masalahmu." Gintoki menjelaskan tanpa menoleh.

Walau masih tidak mengerti, tapi Hijikata hanya bisa pasrah ketika dirinya diseret begitu saja menuju ruang tamu Yorozuya dan didudukkan di sebuah sofa di sana. Gintoki menyuruhnya untuk menunggu sebentar sebelum kemudian sosok samurai pemalas itu lenyap ke dalam dapur.

.


.

Sakata Gintoki mengobrak-abrik plastik belanjaan yang tadi pagi dibawakan Shinpachi. Memang, isinya tak sebegitu banyak—mengingat modal untuk membeli belanjaan itu pun tak bisa dibilang banyak. Gintoki kesulitan meraih sesuatu yang tidak sengaja—mungkin oleh petugas kasir—diletakkan bagian paling dasar. Mengeluarkan beberapa belanjaan yang begitu menghalangi, akhirnya didapatkannya sekotak benda yang dia cari.

Setelah memastikan bahwa benda yang ada di genggamannya memang sudah benar, ia pun mengangguk mantap sebelum kemudian berjalan keluar dari dapur, kembali menemui sang pria berambut hitam lurus yang masih setia duduk di ruang tengah.

"Nih, untukmu," ucapnya, mengambil posisi duduk tepat di samping Hijikata. Kardus kemasan yang sedikit lebih besar dari ukuran bungkus rokok diserahkannya ke telapak tangan pria di sampingnya.

Hijikata menatap benda yang kini telah berpindah ke tangannya.

"P*cky?" gumamnya tanpa sadar.

Melirik malas sekilas, Gintoki menarik napas dalam-dalam kemudian berujar panjang, "Kau…. Mau berhenti merokok, kan? Aku sudah lihat di televisi tentang larangan itu. Nenek tua di bawah sana juga sepertinya sangat frustasi. Jadi mungkin, ahhh… kau tahu, Yorozuya bisa melakukan pekerjaan apapun."

"Oh," sahut Hijikata pendek.

"Iyaa."

Hening sejenak.

"Terus kenapa kau memberiku P*cky?"

Krik.

Menggeram frustasi, Gintoki mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. Sialan! Dasar laki-laki tidak peka!

"Kau bodoh ya? Iya begitu? Atau kau itu idiot? Perlu kubenturkan kepalamu dulu agar kau mengerti? Hah?! Dasar nicotine addict sialan!" makinya berkali-kali.

"Oi oi! Aku kan hanya bertanya! Kenapa kau malah memakiku begitu? Kau itu sebenarnya mau apa? Ngajak ribut?!" balas Hijikata sengit.

Di penglihatan mata biru bajanya, Gintoki terlihat diam sejenak. Dia alihkan pandangannya dari tatapan tajam Hijikata Toushiro. Seperti memastikan agar Hijikata tidak dapat melihat ekspresinya. Dia pun bergumam nyaris berbisik, "Aku bilang, kau bisa memakai jasa Yorozuya untuk memberimu terapi agar bisa berhenti merokok, bodoh."

Hijikata memandang Gintoki dalam, wajah pemilik Yorozuya masih tak mau bertemu dengannya. Dipikirkannya baik-baik penjelasan Gintoki sebelum menarik kesimpulan.

"Oh, maksudnya kauingin membantuku?"

Wajah Gintoki sontak memerah, tanpa sadar ia bergerak hingga tatapan mereka bertemu.

"A—aku tak bilang begitu! Jangan seenaknya mengambil kesimpulan!"

Wow, ada tsundere.

Tidak, sebenarnya bukan begitu. Gintoki hanya merasa canggung harus menawarkan bantuan seperti itu. Mereka bahkan hampir tidak pernah berbincang secara normal selain bertengkar. Tiba-tiba saja menyuguhi kebaikan kepada orang brengsek di hadapannya, entah kenapa terasa begitu aneh—itu lah yang dibayangkan oleh wakil komandan Shinsengumi.

Mau tak mau, senyum tipis terlukis di wajah sang wakil komandan iblis. Entah kenapa dirinya merasa gemas melihat tingkah malu-malu sang Yorozuya. Di matanya sekarang, Gintoki terlihat sangat—

—tunggu dulu.

Ini apa?

Barusan… dia berpikiran apa?

Yorozuya itu…. Gintoki… menggemaskan?

Hah?

"ARRGGHHH!"

DUAK! DUAK! DUAK!

"Oi! Hijikata -kun, apa yang kaulakukan?!"

Tak mengerti pikiran mengerikan macam apa yang barusan terlintas di kepala berponi V, Gintoki memasang ekspresi panik ketika menyaksikan di depan matanya sendiri bagaimana Hijikata Toushiro membenturkan kepalanya berkali-kali ke dinding sampai darah segar mengucur deras dari pelipisnya. Apa ini efek dari tidak merokok bagi seorang pecandu? Kalau dalam waktu sehari saja efeknya sudah seperti ini, bisa bahaya kalau Hijikata tak mendapat pertolongan secepatnya!

"Hijikata, baiklah baiklah, aku akan membantumu! Aku akan berusaha mencari cara agar kau bisa berhenti merokok tanpa bunuh diri, oke?" hiburnya seraya berjalan mendekati Hijikata, mencoba menghentikan hal konyol yang masih dilakukan.

Hijikata tiba-tiba saja berhenti dari kegiatan membenturkan kepala. Menengok, pandangan merahnya menemukan ekspresi khawatir yang tulus dari seorang Sakata Gintoki. Tangan pria itu diangkat keduanya, seperti ingin menyentuh Hijikata. Dari postur tubuh dan ekspresi yang terpasang, entah mengapa membuat pikiran Hijikata makin berkecamuk.

'Dia bilang mau membantuku, padahal selama ini kami selalu bertengkar. Sifat tsunderenya, ekspresinya yang malu-malu dengan semburat merah di pipi, pandangan khawatirnya. Apa jangan-jangan Yorozuya…. Yorozuya meme—.'

DUAGH!

Satu benturan telak mengakhiri kesadaran Hijikata Toushiro. Pada detik-detik terakhir sebelum kegelapan mengambil alih penglihatan penuh warna merahnya, Hijikata masih sempat melihat wajah Yorozuya yang…. Eh?

Wajahnya datar, dan hidungnya tengah dimasuki sebuah jari telunjuk, sedang tangan lain memosisikan diri di lautan keriting miliknya sendiri.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

.

.

Tujuh jam tanpa rokok, Hijikata Toushiro mengalami halusinasi akut.

.

.

.


To be continued


Urusai, baba : Diam, nenek tua/tua bangka

Pika pika : Blink blink

.

A/N : Ini niatnya mau dibikin oneshot, tapi saat proses mengetik entah kenapa alurnya jalan-jalan sendiri(?) akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya menjadi multichap. Chapter selanjutnya sudah setengah jadi, so, tinggal tunggu tanggal mainnya XD /apasih

Terima kasih untuk takanashi misaki yang udah setia nunggu fic ini, lol Sorry masih belum selesai wkwk

.

.

Last but not least, mind to RnR?

Kritik dan saran sangat diterima.

.

See you in the next chapter

[Edited : Minor errors have been corrected]

Scalytta