You and I
Author:KeiLee
MainPair: Meanie (Kim Mingyux Jeon Wonwoo)
Other Pair: SoonHoon (Kwon Soonyoung x Lee Jihoon), SeungHan (Choi Seungcheol x Yoon Junghan), and Other.
Genre:Romance, Friendship, School Life
Rate:T mulai nyerempet M. Tapi masih aman,guemasihpoloskk..
Warning: YAOI. BxB. Typo(s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit. DLDR.TidakmenerimaKritikdenganbahasayangkasar,palingmenerimakripiksingkongataukripikkentang.BiasakanRnR.Judulmenipu.Isiberantakandanmaksabanget.JalanceritamembingungkandanberantakansesuaisamaidupgueT-T.Menimbulkanresikomualdannafsumakanmenurun,jadibagiyangdietdianjurkanmembaca#apadeh.
Okelah,sepertibiasa.Gue pan coolmakebangetjadinggabanyakbacot.
So,CheckItOut..
"Mandilah!" titah Mingyu begitu keluar dari kamar mandi sembari mengusak rambut basahnya dengan handuk. Wonwoo yang sedang asyik memainkan game di ponsel Mingyu di sofa beralih menatap Mingyu yang terlihat makin tampan –atau seksi?- dengan rambut basahnya. Namja manis itu menatap Mingyu datar.
"Aku pulang." Ujarnya. Dari tadi Wonwoo memang ingin pulang tapi dia harus menunggu Mingyu selesai mandi untuk pamit. Dia anak yang tahu sopan santun asal kalian tahu. Mingyu tidak mengatakan apapun, hanya menatap namja manis itu datar, "Tidak ada baju ganti." Lanjutnya.
Mingyu berbalik melangkah menuju kamar satu-satunya di apartement itu. Tak beberapa lama, namja tinggi itu keluar dengan benda hitam mencurigakan ditangannya, "Mungkin cukup." Ujarnya sambil menyodorkan benda ditangannya yang ternyata adalah pakaian. Wonwoo masih diam menatap Mingyu.
"Apa.."
"Sudah ada." Potong Mingyu sebelum Wonwoo menyelesaikan kalimatnya.
Wonwoo berdiri dan mulai melangkah kearah kamar mandi yang ada diluar kamar Mingyu. Mana mungkin dia mandi di kamar mandi pribadi Mingyu.
"Di kamarku." Ucapan Mingyu menghentikan Wonwoo yang hendak membuka pintu kamar mandi. "Tidak apa-apa di dalam sana." Papar Mingyu.
Wonwoo masih diam di tempatnya. Masih sedikit ragu.
"Palli!" perintah Mingyu akhirnya membuat Wonwoo melangkah masuk menuju kamar mandi di dalam kamar Mingyu.
"Makan apa?" tanya Mingyu sebelum Wonwoo masuk ke dalam kamar mandi.
"Terserah." Jawab Wonwoo singkat, padat, dan tidak jelas.
Mingyu menelepon salah satu pengawalnya dan menyuruhnya membeli makanan. Dia mematikan sambungan setelah mengatakan apa yang diinginkannya. Sebenarnya dia bisa saja langsung delivery, tapi dia tidak akan melakukannya. Dulu pernah ada suruhan dari perusahaan saingan Kim Corp yang menyamar menjadi tukang delivery dan hendak menculik Mingyu kecil. Tapi untung saja bodyguard setianya yang sudah menaruh curiga cepat bertindak. Setelah kejadian itu keluarga Kim lebih memilih menyuruh bodyguard mereka yang membeli makanan. Itupun di restoran milik keluarga Kim sendiri.
Wonwoo keluar setelah dua puluh menit dihabiskannya di dalam bilik mandi Mingyu. Dia mendudukkan dirinya di sofa tunggal berhadapan dengan Mingyu. Namja tampan itu berdiri dan melangkah menuju Wonwoo membuat namja manis itu bingung dengan Mingyu yang berdiri dibelakangnya. Dia dibuat lebih kaget lagi ketika Mingyu merebut handuk ditangannya dan menggantikannya mengeringkan rambut.
"Aku bisa." Elak Wonwoo.
"Diam." Titah Mingyu datar membuat Wonwoo diam. Tuan Muda Kim dan segala perintah yang tidak bisa dibantahnya.
"Rambutmu halus." Puji Mingyu, "Salon?" tanyanya.
"Ani." Jawab Wonwoo, "Aku bekerja untuk makan."
Mingyu mengangguk kemudian meneruskan kegiatannya. Setelah dirasanya cukup kering, dia melempar handuk ditangannya kearah keranjang pakaian kotor. Atensi keduanya beralih kearah interkom ketika mendengar suara bel. Mingyu melangkah dan melihat kearah layar untuk memastikan siapa yang datang. Setelah yakin bahwa itu bodyguardnya, dia membukakan pintu.
"Ini pesanan anda, Tuan." Ujar bodyguard berbadan besar itu sambil membungkukkan badan dengan susah karena tangannya mengangkat pesanan Mingyu yang amat sangat banyak.
"Masuk." Titah Mingyu. Bodyguard itu masuk dan mengikuti Mingyu menuju ruang tamu apartementnya. Wonwoo yang melihat orang di belakang Mingyu kesusahan segera berdiri dan handak membantu.
"Tidak perlu, Tuan Muda." Tolak namja itu. Wonwoo hanya memasang wajah datar. Dia tidak suka cara orang itu memanggilnya. "Saya permisi, Tuan Muda Kim."
Mingyu mulai menata makanan yang dipesannya diatas meja yang dibantu oleh Wonwoo. "Pesta?" tanya Wonwoo ketika melihat makanan yang dipesan Mingyu. Meja tamu Mingyu terlihat penuh makanan sekarang.
"Ani." Jawab Mingyu membuat Wonwoo mengerjap.
"Ige mwoji?" tanya Wonwoo sembari menunjuk makanan diatas meja. Mingyu tidak menjawab dia hanya menatap Wonwoo datar. Wonwoo menghela nafas. Namja manis itu mengambil ponselnya yang ada di depan Mingyu hendak menghubungi teman-temannya yang lain.
"Mwo?" tanya Mingyu. Wonwoo menunjukkan pesan yang hendak dikirimnya.
"Siapa?" tanyanya lagi.
"Hanya Soonyoung."
"Jihoon. Kirimkan pada Jihoon." Wonwoo mengangguk tanpa menanyakan alasan kenapa dia harus mengirim pesan pada Jihoon alih-alih Soonyoung. Mingyu menarik tangan Wonwoo yang berdiri didepannya agar duduk disampingnya. Tangannya dia lingkarkan di bahu Wonwoo. Tangannya yang satu lagi meraih tangan Wonwoo dan memainkan jari-jarinya.
"Tanganmu kecil." Ujar Mingyu tetap memainkan jari-jari Wonwoo, "Pas dengan milikku." Lanjutnya kemudian menggenggam tangan putih itu erat. Wonwoo tersenyum melihat tautan tangannya dan Mingyu. Dia sangat suka ini. Perutnya seolah ditempati beribu kupu-kupu layaknya taman bunga alih-alih organ pencernaan. Dan pipinya memerah hingga telinga serta jantungnya berdebar sangat kuat seperti hendak melompat keluar ketika Mingyu mencium tangannya lembut bahkan menciumi jari-jarinya satu-persatu.
Mingyu tersenyum melihat wajah Wonwoo yang memerah. Manis. Namja itu sangat manis. Kekasihnya sangat manis. Dia menyukainya. Tidak. Dia mencintainya. Dia mencintai namja disebelahnya itu. Dia mencintai Jeon Wonwoo. Tangannya yang melingkar di bahu Wonwoo perlahan bergerak mendorong kepala Wonwoo untuk mengarah padanya. Keduanya saling bertatapan lama sebelum Wonwoo yang terlalu malu memutus kontak mata mereka dan hendak memalingkan wajahnya. Tapi belum sempat wajah manis itu berpaling, Mingyu dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Wonwoo. Wonwoo terbelalak tapi kemudian menutup matanya.
Wajah Wonwoo makin memerah seiring dengan bibir Mingyu yang mulai bergerak diatas bibirnya. Menyesap, melumat dan menggigit kecil bibir manis itu sebelum memisahkan tautan bibir mereka. Mingyu hanya bisa melakukan sampai situ. Dia tidak ingin menodai Wonwoo sebelum waktunya. Dia tahu ini yang pertama bagi Wonwoo dan begitupun baginya.
Mingyu tersenyum hingga gigi taring panjangnya terlihat melihat Wonwoo yang masih betah menutup matanya dengan wajah super merah. Dia memeluk namja manis itu gemas. Tapi suasana romantis itu tidak bertahan lama karena ponsel Wonwoo yang bernyanyi berisik. Wonwoo mendorong Mingyu hingga pelukannya terlepas kemudian meraih ponselnya. Di layarnya tertulis Jihoon calling.
"..."
"Wonwoo-ya? Kau bersama Mingyu?"
"Ne."
"Kami. Aku dan Soonyoung ingin datang, tapi tidak tahu alamat apartement Mingyu."
"Kukirim."
"Ne. Gomawo, Wonwoo-ya."
Wonwoo menyodorkan ponselnya kearah Mingyu. "Alamatmu." Ujarnya.
Mingyu meraih ponsel yang sama dengan miliknya hanya berbeda warna itu tanpa suara. Wonwoo berdiri dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minuman. Mingyu yang ditinggal sendiri memutuskan untuk menghidupkan TV dan menonton acara musik. Sama sekali tidak berniat membantu Wonwoo. Kini mereka kembali menjadi pasangan super dingin berbeda jauh dengan tadi.
Wonwoo baru saja selesai membuat jus jeruk ketika bel apartement Mingyu berbunyi. Setelah memastikan siapa yang datang lewat interkom, Mingyu membuka pintunya yang disambut sapaan heboh dari Soonyoung.
"Waahhh.. ini apartementmu sendiri?" kagum Soonyoung, "Aku juga akan meminta satu nanti." Gumamnya cukup keras.
"Kau sudah punya satu." Uajr Jihoon.
"Aku ingin yang seperti ini." Jawaban Soonyoung membuat Jihoon mendengus.
"Terserah!"
"Wahhhh.. makanan!" pekik Soonyoung kemudian berlari menuju meja Mingyu yang penuh makanan.
"Wonwoo eodi?" tanya Jihoon. Mingyu menunjuk dapur untuk menjawab pertanyaan Jihoon dan itu bertepatan dengan Wonwoo yang muncul dengan membawa empat gelas berisi jus jeruk.
"Makanlah!" titah Mingyu membuat Soonyoung kalap memakan makanan didepannya. Jjajangmyun, sup daging, bulgogi, bbibimbap, kimbab, jjambong, dan lain-lain.
"Kenapa kau tiba-tiba mengundang kami makan-makan?" tanya Jihoon.
"Mingyu terlalu banyak memesan." Jawab Wonwoo datar.
"Kau benar-benar boros, Tuan Muda. Apa kau mengidam?" ledek Soonyoung.
"Wonwoo bilang terserah. Aku tidak tahu apa yang diinginkannya. Jadi kupesan semua." Bela Mingyu. Dia menyodorkan tissue pada Wonwoo karena sudut bibir namja manis itu terdapat sisa saus jjajangmyun.
Wonwoo membuka membuka mulutnya ketika Mingyu menyodorkan satu sendok penuh bbibimbap. Perlakuan Mingyu ini tentunya tidak luput dari penglihatan Soonyoung dan Jihoon. Tingkah Mingyu sangat aneh menurut mereka. Tidak. Bukan hanya Mingyu tapi juga Wonwoo. Tepatnya kedua temannya itu terlampau dekat. Mingyu bahkan memakan bbibimbap yang tersisa di sendok yang tadi disuapkannya pada Wonwoo. Memang tidak aneh. Tapi beda halnya jika Mingyu yang melakukannya.
"Sebenarnya apa hubungan kalian?" tanya Jihoon yang sudah tidak tahan dengan kedua temannya itu. Tidak ada jawaban. Wonwoo dan Mingyu masih sibuk dengan makanan mereka masing-masing.
Mingyu menarik tangan Wonwoo yang hendak memasukkan potongan daging kedalam mulutnya hingga daging itu beralih masuk kedalam mulut Mingyu. Wonwoo menoleh kearah Mingyu dan menatap namja bergigi taring itu kesal yang hanya dibalas senyuman mengejek sambil mengunyah daging milik Wonwoo.
"Oke, ini mulai keterlaluan. Kumohon jawab pertanyaanku. Apa hubungan kalian? Kalau kalian masih enggan menjawab, maka aku anggap pemikiranku benar." Ujar Soonyoung memaksa.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mingyu datar.
"Kalian sepasang kekasih." Ujar Jihoon dan Soonyoung bersamaan dengan tegas seolah pasti pemikiran mereka benar.
"Begitulah kami." Jawaban acuh Mingyu sukses membuat pasangan bermata sipit itu membelalakkan matanya.
"Jinjja?" tanya keduanya. Mingyu dan Wonwoo mengangguk acuh seolah berubahnya status mereka bukanlah sesuatu yang menakjubkan.
"Heol, daebak.." gumam Soonyoung yang menatap Wonwoo dan Mingyu dengan tatapan kagum.
"Sejak kapan?" tanya Jihoon yang mulai bisa mengontrol rasa tidak percayanya.
"Tiga hari." Kali ini Wonwoo yang menjawab.
"Jangan bilang waktu kalian bolos setelah kejadian itu?" tanya Jihoon yang dijawab anggukan oleh Wonwoo. "Daebak."
"Kalian benar-benar. Kuanggap ini adalah perayaan atas berubahnya status kalian berdua. Dan kami merasa tersanjung menjadi yang pertama tahu tentang ini." Ujar Jihoon.
Tidak butuh waktu lama sampai makanan di meja itu habis tak bersisa. Bukan oleh mereka berempat, tapi hampir setengahnya mereka berikan pada para bodyguard Mingyu, Soonyoung dan Jihoon yang setia mendampingi. Sekarang mereka tengah menonton film action barat.
"Mingyu-ya, aku numpang kamar mandimu!" ujar Soonyoung cepat kemudian setengah berlari menuju kamar mandi tamu.
"Soon.." Wonwoo tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena tangannya tiba-tiba diremas Mingyu.
"Wae, Wonwoo-ya? Ini benar kamar mandinya, kan?" tanyanya memastikan yang dijawab anggukan oleh Mingyu. Wonwoo hanya menatap datar pada Mingyu yang sama sekali tidak menatapnya.
Lima menit kemudian Soonyoung keluar dari kamar mandi, "Apa kau sering menerima tamu?" Mingyu menggeleng, "Tapi kamar mandi tamumu berisi peralatan mandi lengkap dan bersih."
Wonwoo menatap tajam kearah Mingyu. Namja bertaring unik itu bukannya tidak sadar tatapan tajam dari kekasihnya tapi dia mengabaikannya, "Hanya kalian yang tahu." Ujar Mingyu.
"Aku tersanjung." Ujar Jihoon. Namja mungil itu berdiri dan meraih ponsel yang tadi diletakkannya di meja, "Aku harus pulang karena ada kunjungan dari kolega appa."
"Kau datang ke acara seperti itu sekarang?" tanya Soonyoung.
"Terpaksa. Katanya mereka sangat penting dan aku wajib datang."
"Jangan bilang kau akan dijodohkan lagi?"
"Kau gila! Itu tidak mungkin. Kita sudah direstui, Soonyoung-ah. Berhentilah terlalu paranoid." Elak Jihoon.
"Jangan bertengkar disini." Lerai Mingyu datar.
"Mian. Kajja, Jihoon-ah!" ajak Soonyoung lembut, "Kami pulang dulu, Mingyu-ya, Wonwoo-ya."
Begitu mendengar suara pintu tertutup Wonwoo segera berjalan menuju kamar mandi tamu Mingyu dan dia tercengang. Kamar mandi itu sama dengan apa yang dikatakan Soonyoung. Dia menutup matanya dan menghembuskan nafas pelan. Namja itu berbalik dan berjalan menuju Mingyu yang duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Bersikap seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Bohong." Ujarnya datar membuat atensi Mingyu beralih padanya. Alih-alih menanggapi Wonwoo, namja tiang itu menyuruh Wonwoo mendekat dengan isyarat tangannya kemudian menarik namja manis itu untuk duduk di sampingnya.
"Jangan dipikirkan."
"Wae?" Mingyu tetap memilih diam tanpa ada niat untuk menanggapi, "Kim Mingyu."
Mingyu akhirnya menoleh menatap Wonwoo dengan pandangan tidak kalah datar, "Kubilang jangan dipikirkan."
"Ani. Wae?" Mingyu tersenyum tipis. Dia tahu dua hal baru tentang Wonwoo hari ini. Namja manis itu ternyata sangat keras kepala dan sangat cerewet jika apa yang ingin diketahuinya tidak terjawab. Namja ini sangat lucu.
"Kamar mandi itu untuk tamu."
"Aku tamu."
"Untuk orang lain." Ujar Mingyu memperjelas kalimatnya yang pertama.
"Aku ju.." ucapa Wonwoo terhenti karena tangan Mingyu yang tiba-tiba mengusak rambutnya lembut.
"Kau bukan. Kau adalah kekasihku." Ucap Mingyu membuat si merona Wonwoo kembali muncul. Mingyu tersenyum entah untuk yang keberapa kalinya, "Kau manis sekali."
"Nan namjaya." Cicit Wonwoo.
"Arayo." Jawab Mingyu masih dengan senyuman yang sama.
Wonwoo hanya diam ketika Mingyu menariknya kedalam pelukan hangat yang sangat disukai Wonwoo.
"Pulang." Bisiknya. Mingyu tak bergeming. Pelukannya masih seerat tadi, "Aku harus bekerja."
"Ani."
"Aku ingin hidup." Ujar Wonwoo datar tapi tidak berusaha melepaskan pelukan Mingyu.
"Aku akan menanggung beban hidupmu."
"Jebal, Kim Mingyu. Kau sudah membuatku tidak mengantar susu dan koran pagi ini."
"Aku suka kau yang banyak bicara." Ujar Mingyu keluar topik.
"Jebal." Kali ini Wonwoo mulai berontak.
"Berapa pekerjaan yang kau ambil?"
"Molla."
"Aku akan menyuruh bodyguardku mengikutimu sepanjang hari."
"Mengantar susu dan koran di pagi hari, pelayan kafe sepulang sekolah dan kasir minimarket 24 jam dari jam 7 sampai tengah malam. Puas?!"
Mingyu diam beberapa saat tapi pelukannya makin erat, "Ambil 2." Wonwoo mengangkat wajahnya dari dada Mingyu membuatnya bisa menatap mata Mingyu.
"Jangan paksakan dirimu." Ujar Mingyu lagi. Sebenarnya Mingyu ingin Wonwoo berhenti dari semua pekerjaannya tapi dia yakin namja manis itu akan menolak.
"Aku harus."
"Ambil 2 atau tidak sama sekali."
"Kau tidak bisa melakukan apapun."
"Aku tinggal menyebutkan namaku dan mereka akan menuruti perintahku."
Wonwoo mendengus, "Antarkan aku ke kafe."
"Bolos." Wonwoo menggeleng.
"Geokjonghajima. Kau tidak akan dipecat. Kau tau siapa aku, kan?"
Wonwoo mendengus kemudian kembali menyenderkan kepalanya di dada bidang Mingyu. Ingat? Kim Mingyu dan perintah yang tidak bisa ditentangnya.
...
Mingyu dan Wonwoo memasuki kelas XI-1 yang sudah penuh dengan siswa. Mereka langsung berjalan menuju bangku masing-masing tanpa menyapa teman-teman sekelasnya. Wonwoo menghempaskan tasnya keatas meja kemudian mengeluarkan novel dari dalamnya. Mingyu baru saja membuka bukunya ketika Yunho memanggilnya.
"Kau disuruh datang ke ruang kepala sekolah." Ujarnya. Tanpa banyak bicara, Mingyu segera berjalan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah yang ada di lantai 4.
"Wae?" tanya Sandara.
"Ada rapat dewan sekolah." Jawab Yunho.
"Bukankah biasanya Mingyu digantikan asistennya?" tanya Nami. Yunho hanya mengangkat bahu tanda dia tidak tahu apapun.
"Rapat dewan? Bukankah itu artinya kemerdekaan?" tanya Amber. Yeoja setengah namja itu tersenyum nakal yang dibalas senyuman yang sama oleh teman-temannya.
"Apa yang akan kita mainkan?" tanya Sandara. Hening.
"Molla." Ujar mereka serempak. "Semua permainan sudah kita mainkan."
"Wonwoo-ya, kau punya ide?" tanya Amber tiba-tiba membuat Wonwoo yang fokus pada bacaannya tersentak kaget. Sandara memukul Amber karena membuat namja itu kaget.
"Wae?" tanya Wonwoo datar.
"Kau punya permainan?" tanya Amber sembari mengelus bagian tubuhnya yang dipukul Sandara. Wonwoo menggeleng tanda dia tidak punya kemudian melanjtkan kegiatannya. Tapi dia kembali mengangkat kepalanya saat Haneul menyebut nama seseorang yang dekat dengannya.
"Kau sudah kembali, Mingyu-ya?"
"Kenapa cepat sekali?"
"Hanya menandatangani peraturan baru." Jawab Mingyu singkat.
"Peraturan baru? Apa peraturannya ketat?" tanya Mirae.
"Sama. Hanya diperbarui." Jawab Mingyu yang dijawab anggukan oleh yang lain.
"Itu berarti kita tidak jadi merdeka." Keluh Chunji. Ljoe menepuk bahunya pelan.
"Para guru masih rapat mengenai hal lain. Jam pertama dan kedua kosong." Kalimat Mingyu berhasil mengembalikan binar bahagia di wajah para temannya.
"Apa tidak apa-apa, Mingyu-ya? Kupikir satu bulan ini banyak jam pelajaran dibuat kosong." Ujar Minjoong serius. Yeoja ini merupakan siswa paling pintar nomer 3 setelah Mingyu dan Wonwoo.
"Selama prestasi sekolah masih bagus." Jawab Mingyu.
"Ya! Minjoong-ah, jangan terlalu serius. Kau juga suka jam kosong, kan?" tanya Ljoe jengah.
"Jangnan aniya?!" sentak Minjoong membuat Ljoe kaget, "Tentu saja aku suka, sangat suka." Lanjutnya.
Mingyu hanya menatap teman-temannya datar kemudian berlalu duduk di kursinya. Mingyu baru saja membuka bukunya ketika matanya lebih dulu melihat Wonwoo yang duduk dengan mata tertutup. Awalnya dia pikir namja manis itu tengah mengistirahatkan matanya, tapi dia sadar perkiraannya salah ketika kepala namja manis itu jatuh kesamping. Wonwoo sedang tidur.
Mingyu mengamati wajah Wonwoo. Dia bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata Wonwoo. Merasa kasihan melihat Wonwoo yang tidak nyaman dalam tidurnya, Mingyu mendekatkan kursinya dan menarik kepala Wonwoo untuk bersandar di pundaknya. Dia sendiri meraih buku di tangan Wonwoo dan membacanya.
Sandara melihat mereka berdua dengan senyum manis di bibirnya. "Apa mereka sepasang kekasih?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sandara membuat Soonyoung mengarahkan netranya kearah dua temannya itu. Ini sudah tiga hari sejak dia dan Jihoon mengetahui perihal hubungan duo datar dan keduanya melarangnya untuk memberitahu yang lain. Tapi tanpa dia memberitahu pun hubungan mereka berdua bisa saja terbongkar jika mereka terus bertingkah seperti itu. Terkesan biasa memang. Tapi tidak biasa jika mereka berdua yang melakukannya.
"Molla." Jawab Soonyoung memutuskan membiarkan teman-temannya yang menebak sendiri atau salah satu dari Mingyu dan Wonwoo yang mengungkapkan kebenarannya. Dia adalah anak yang selalu memegang janji asal kalian tahu.
Tidak sampai 10 menit, Wonwoo mulai membuka matanya dan mengangkat kepalanya dari pundak Mingyu.
"Aku tidur." Gumam Wonwoo.
"Wae?" tanya Mingyu tanpa melihat Wonwoo. Matanya masih fokus pada buku ditangannya.
"Lembur." Jawab Wonwoo singkat. Mingyu menghembuskan nafas kesal.
"Mingyu-ya, Wonwoo-ya. Kalian harus ikut bermain game." Ajak Sandara. Mingyu dan Wonwoo hanya mengangguk dan berjalan menuju teman-temannya yang duduk berkumpul di dekat meja Yunho dan Jaejoong.
"Kalian akan memilih satu kartu dan yang mendapat kertas bergambar King akan menunjuk dua nomer acak yang akan mengikuti apapun yang King perintahkan. Ada 22 kartu sesuai dengan jumlah kita. Satu kartu dan sisanya nomer, berarti kalian bisa memilih dari nomer 1 sampai 21." Terang Jaejoong panjang lebar sembari menyodorkan kertas-kertas ditangannya.
Mereka mulai membuka kertas masing-masing dan Sandara memekik senang sembari mengangkat kertas bergambar King yang ada ditangannya.
"Nomer 12 dan 4 berjalan mengelilingi kelas sambil melakukan sexy dance." Perintahnya membuat Jun dan Seyoung melempar kertasnya kesal.
"Sial!" umpat Jun. Tangannya terangkat mengacungkan tinju kearah Sandara yang membalasnya dengan leletan lidah.
"Aku akan membalasmu!" desis Seyoung.
"Ne, ne, ne... terserah kalian mau apa. Sekarang lakukan apa yang kuperintahkan!"
Selanjutnya kelas itu mulai terisi dengan tawa membahana dari 20 siswa yang ada disana. Bagaimana tidak? Daripada sexy dance, Seyoung dan Jun lebih bisa dikatakan menggeliatkan badan aneh layaknya cacing kepanasan tapi mereka melakukannya sambil berjalan. Ditambah ekspresi sok seksi mereka dengan mata yang disipit-sipitkan dan bibir yang digigiti.
"Kalian menjijikkan." Ejek Yunho begitu dua temannya itu selesai.
"Terima kasih atas pujiannya." Jawab Seyoung sinis.
Selanjutnya mereka mulai memilih kertas dengan berebut. Wonwoo dan Mingyu memilih mengalah dengan memilih gulungan kertas terakhir. Kali ini Chunji yang mengangkat tangannya seraya memekik senang.
"Nomer 1 dan nomer 21 menari dan menyanyi di depan sampai aku bilang berhenti," titahnya. Seyoung membanting kertasnya.
"Kenapa aku lagi?!" teriaknya tidak terima. Yang lain hanya tertawa melihat kesialannya. "Siapa satu lagi?" tanyanya ketus.
Semua mata tertuju pada Sandara yang mematung melihat angka yang terpajang di kertas yang diambilnya. Dia mengangkat kepalanya dan menemukan teman-temannya yang menyeringai kearahnya.
"Dara-ya... pembalasan dendam itu lebih pahit dari apapun, eoh!" ledek Jun.
"Palli, Dara-ya, Seyoung-ah!" titah Chunji. Dua yeoja itu akhirnya berdiri dan berjalan ke depan dengan wajah tertekuk.
"Kau ingin kami menyanyi apa?" tanya Sandara ketus.
"Ikuti musik yang kusetel acak ini." Ujar Chunji.
Lagu pertama. Blackpink –Whistle.
"Aku harus menari juga?" tanya Seyoung setengah tidak percaya. Chunji mengangguk.
"Dan kalian tidak boleh berhenti sampai aku bilang berhenti." Dara dan Seyoung menatap benci kearah Chunji sebelum membuka mulut dan menggerakkan badan sesuka hati.
"Dara-ya, kau menjijikkan!" ejek Jun sambil tertawa keras.
"Shikkeuro! Aku sedang mencoba mendalami, babo!" bentak Sandara. Mereka makin keras tertawa melihat Seyoung dan Sandara yang mengikuti rap lagu itu dengan amat sangat hancur. Ditambah gerakan absurd yang mereka lakukan.
"Oke! Aku tidak sanggup lagi!."
Lagu kedua. Seventeen – Boom Boom
Sandara dan Seyoung mulai melakukan gerakan yang tidak kalah absurd dari yang tadi. Bahkan di bagian reff Sandara dan Seyoung bergoyang berhadapan sambil memegang bahu satu sama lain.
"Arasseo. Geumanhae. Kalian benar-benar tidak tahu malu!" ujar Chunji sembari menghapus air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
Mereka kembali berebut mengambil kertas di atas meja. Permainan terus berjalan dengan bermacam-macam perintah absurd dari siswa yang menjadi King. Mereka terus tertawa terbahak-bahak bahkan Mingyu dan Wonwoo tidak jarang menunjukkan senyum tipis melihat tingkah teman-teman mereka. Saking serunya, mereka bahkan tidak sadar jika 10 menit lagi bel istirahat akan berbunyi. Mereka kembali memilih kertas untuk terakhir kalinya dan kali ini Minseok yang mendapat giliran sebagai King.
"Nomer 7 dan 13 saling melempar pertanyaan dan mejawab dengan jujur." Titahnya. "Wae? Ide jahilku sudah kalian rebut." Ujarnya ketika yang lain menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan itu terlalu biasa.
"Ne. Nomer 7 dan 13 silahkan berhadapan." Haerim dan Mingyu berdiri dan berjalan menuju depan kelas kemudian berdiri berhadapan.\
"Haerim-ah, kau tahu apa yang harus kau tanyakan!" ujar Minkyung dengan senyum aneh dibibirnya yang dibalas senyum tidak kalah aneh dari Haerim.
"Nomer 7 bisa memulai." Titah Minseok.
"Kenapa kau menolak dijodohkan dengan putra Tuan Min?" tanya Mingyu membuat Haerim menunjukkan wajah kesal.
"Apa kau dibayar ayahku untuk menanyakan ini?!" sentaknya, "Aku tidak menyukainya. Dia jelek dan brengsek. Waeyo?!" jawab Haerim sengit. Mingyu hanya diam tidak bergeming.
"Hn."
"Sekarang giliranku. Pertanyaanku sederhana saja. Apa Wonwoo kekasihmu." Tanyanya.
Mingyu diam dan menatap Haerim datar, "Ne." Jawabnya.
Jawaban super singkat dan santai dari Mingyu memberikan efek terbalik pada teman-temannya. Mereka serempak berteriak 'Mwo?!' dan 'Jinjja?!'.
Sandara berbalik dan menghadap Wonwoo yang duduk di belakangnya, "Jinjja?!" tanyanya dengan wajah berbinar. Wonwoo mengangguk membuat Sandara menjerit. Selanjutnya Sandara, Seyoung dan Minkyung berputar-putar di depan kelas sembari berteriak dan tertawa tidak jelas.
"Chukkae, Mingyu-ya, Wonwoo-ya." Ucap Yunho diikuti yang lain. Mingyu hanya mengangguki sedangkan Wonwoo hanya diam menahan rona merah di wajahnya agar tidak semakin menyebar dan kentara.
"Ini harus dirayakan. Makan siang kali ini Tuan Kim akan mentraktir semua murid Pledis SHS sebagai pajak." Ujar Sandara yang diangguki semua temannya.
"Terserah." Jawab Mingyu datar bertepatan dengan suara bel istirahat berbunyi dan sorakan teman-temannya yang berlari sambil menyerukan makan siang gratis sepanjang koridor yang disambut sorakan para siswa dari kelas lain.
Mingyu menghela nafas kemudian melirik kearah Wonwoo yang menatap pintu yang baru saja dilalui teman-temannya.
"Kau juga." Ujar Mingyu sebelum berjalan keluar meninggalkan Wonwoo yang terbelalak kaget karena Mingyu yang tiba-tiba mengecup bibirnya. Rona merah pipinya kembali muncul.
"Palli." Wonwoo berdiri dan menyambut uluran tangan Mingyu yang menunggunya di ambang pintu kelas. Keduanya kini berjalan beriringan dengan tangan saling tertaut sepanjang koridor yang sepi karena ditinggal para siswa ke kantin.
.
.
END
.
.
Annyeong haseyo... ini sekuelnya.
Sebenernya gue bikin FF ini jadi 2 season. Season 1 (yang ini) ceritanya mengenai awal Mingyu sama Wonwoo ketemu + proses jadiannya + sedikit konflik. Season 2 ceritanya perjalanan Meanie kedepannya + konflik yang lebih berat (spoiler). Awalnya gue mau jadiin satu, tapi kepanjangan. Gue kaga terlalu suka kalo terlalu banyak Chapter. Apalagi Season 2 keknya bakalan lebih panjang dari ini soalnya konfliknya lebih banyak. Kalo ada yang minat baca, ya ditunggu aja. Soalnya masih setengah jalan.
Sekarang gimana sama sekuelnya? Udah manis? Belum, ya? Mian, gue kaga bakat bikin yang manis-manis. Mian juga kalo kesannya biasa aja pas temen sekelasnya tau hubungannya Meanie. Sumpah, gue buntu. Kaga ada ide gimana bikin jadi ntu moment jadi WAW. Buat reader yang ngasih saran, makasih banget. Aku hargai saran kalian. Dan sekali lagi maaf jika tidak sesuai ekspektasi para reader sekalian #bow.
Makasih buat yang review di chap kemaren. Makasih banyak buat reader yang udah baca dan review FF ini dari awal ampe akhir. Gue kaga bisa bales (lagi dan lagi). Tapi selalu gue baca, ko. Makasih juga buat silent reader. Buat yang nge-Fav sama nge-Foll juga.
At least, Mind to RnR?
Sampai jumpa di FF selanjutnya..
Annyeong...