Hinata terdiam mendengar pertanyaan yang tidak dipikirkannya ini. Apa yang akan dia jawab? Harus 'kah Hinata jawab semuanya dengan jelas? Dengan rinci meskipun itu akan menyakiti Ino? Gadis bermata lavender itu terdiam sunyi, hanya jam di atas dinding yang berbunyi tik tok samar.

Lavender itu menatap Ino dengan tatapan yang sulit diartikan. Bola mata biru samudera wanita itu bergerak-gerak menatap ke arah Hinata, mencari tau kebenaran dari apa yang terlontar dari bibirnya barusan. Pertanyaan yang sebenarnya mudah dijawab. Siapa Sasuke? Ino tidak harus menunggu waktu lama sebenarnya untuk mendengar jawaban itu.

Ino tertawa kecil, agak gugup. Wanita itu mengelus belakang lehernya mendapati Hinata yang masih terdiam. Dia merasa canggung.

"Oke aku ganti topik pembicaraan." Ino tertawa, bola matanya masih bergerak gelisah mendapati Hinata yang terlihat pasif.

Hinata masih diam. Dia bingung.

Jemari wanita lavender itu bergerak gelisah saling bertautan. Kepalanya masih dipenuhi dengan berbagai kalimat penuh pemikiran. Apa yang harus dijawabnya?

Wanita yang kini bermarga Sabaku itu menghela nafas pelan. Bibir tipis kemerahannya mencoba mengguratkan senyum, namun yang nampak adalah seringai. Sepertinya Hinata memang tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ino tampak tidak keberatan dengan apapun yang Hinata tampilkan, dia masih tampak santai meski sebenarnya agak ragu.

Wanita berambut indigo itu menghela nafas kembali. Dia ngusap ujung ranjang tidur Ino.

"Sasuke itu—"

"Hinata?"

Ino dan Hinata refleks menoleh ke sumber suara.

Sosok yang dibicarakan oleh mereka berdua berdiri tegap di ambang pintu. Wajah pria itu terlihat kusut, dan memandang Hinata dengan sorot mata tajam penuh arti.

Wanita berambut indigo itu membeku.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Kepalanya kemudian berpaling ke arah Ino yang menatap mereka penuh penasaran, wanita itu tersenyum singkat. Dari arah belakang, Sasuke berjalan dengan langkah tegap namun goyah menuju tempat Ino berbaring. Suasana berubah tegang, dan Hinata sama sekali tidak mencoba mencairkan suasana yang ada.

Ini pribadi. Pribadi.

Hanya ada Ino dan Sasuke di dalamnya. Hinata tidak berhak mencampuri urusan kakaknya apapun itu. Selamanya memang begitu. Meski mereka adalah saudara sekandung, namun privasi tetaplah privasi. Selama Sasuke menjaganya, Hinata juga tidak akan turut campur di dalamnya.

Ino tersenyum cerah, kemudian menegapkan punggungnya ketika Sasuke tepat berdampingan dengan Hinata berdiri di sisi ranjang.

"Aku baru saja bertanya tentangmu pada Hinata-san," Ino tertawa kecil, kemudian seketika terdiam ketika Sasuke ataupun Hinata tidak ada yang merespon sama sekali. Wanita itu meringis melihat dua orang pasif di hadapannya.

Tidak ada yang asik diajak bicara!

"Gaara memanggilmu ke ruangannya, Hinata." Kalimat bernada dingin itu membuat ruangan semakin mencekam.

Ino menatap binggung pada gadis lain yang berada di ruangannya. Siapa itu Gaara? Belum habis pertanyaannya tentang Sasuke, Ino sudah dihadapkan dengan pertanyaan serupa. Tampaknya tatapan penasarannya tersebut diabaikan oleh Sasuke. Pria itu masih terdiam dan hanya menatapnya datar.

Hinata mengangguk singkat dan melangkah pergi tanpa pamit, menjauhi Sasuke yang masih berada di pinggir ranjang Ino.


.

.


Prang

"Aku sudah bosan Ino!"

Suara pecahan beling dan teriakan nyalang itu terdengar hampir bersamaan. Rumah besar bergaya victorian dengan warna cat krem itu seketika menegang. Mansion berlantai dua yang hanya dihuni oleh dua orang dan empat pelayan itu seketika lenggang.

Isak tangis terdengar keras.

Para pelayan bersembunyi di dapur. Tidak ingin menonton apapun dari yang ditampilkan dua majikannya di ruang tengah.

Nafas pria itu tersegal. Di depannya seorang wanita berambut pirang masih menangis tergugu dengan mata memerah.

"Kalau bosan kenapa kau menikahiku?" Nada lirih yang terdengar samar itu jelas membuat naik pitam kembali.

"Karena kau yang memaksa!" Seruan bernada keras kembali melengking. Empat pelayan di dapur menutup telinga mereka rapat-rapat. "Kau selalu merengek bertanya kapan akan menikah!" Pria tersebut mencengkeram bahu wanita itu dengan kasar. Matanya menatap tajam penuh kemarahan pada wanita di depannya.

Tangis Ino semakin memecah kesunyian mansion.

"Lalu apa yang harus aku lakukan Sasuke? Apa?!"

"Izinkan aku menikah dengan Karin dan hidup bahagia!"


.

.


Sasuke memandang wanita pirang di hadapannya dengan ekspresi kosong. Pria itu merutuk dalam hati. Apa harus dia katakan? Sasuke mengusap wajahnya frustasi. Lengan kemeja yang digulung sampai siku masih saja tidak memudahkannya dalam menghadapi ini. Astaga, ini begitu sulit!

Ino menatap Sasuke dalam-dalam, menyelami warna pekat di bola mata pria itu lamat-lamat.

"Kau tau…" Suara parau Ino memecah keheningan, membuat Sasuke memusatkan eksitensinya pada wanita bersurai pirang tersebut. "Aku pernah melihat bola mata sekelam itu. Tidak bercahaya namun menarik, membuatku tanpa sadar jatuh terperosok ke dalamnya." Ino menyunggingkan senyum lebar. Wanita itu mengalihkan matanya pada wajah Sasuke yang berubah datar.

Pria Uchiha itu menghela nafas. Lagi.

Entah sudah berapa kali di hari ini dia menghela nafas. Sungguh, Sasuke lelah.

"Kau ingat siapa dirimu?" Sasuke membuka percakapan, dengan nada ragu yang terdengar samar.

Ino terdiam.

Ekspresi wajahnya tampak datar. Bola mata biru indah itu terlihat kosong. Sasuke kembali memaki dalam hati melihat mimik muka yang tertampil di wajah Ino. Harusnya Sasuke tau, gadis di hadapannya ini tidak memiliki satu kenangan apapun yang diingatnya. Ino amnesia, dan Sasuke tidak perlu mencetak tebal kata tersebut.

Ino mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak sedikitpun melirik Uchiha sulung.

"Aku hanya ingat… bahwa aku suka bunga." Ino mengucapkannya dengan lambat.

Sasuke melebarkan matanya sepersekian detik.

"Kenapa kau suka bunga?"

"Hn?"

"Aku sudah punya impian sendiri kau tau? Rumah kita akan penuh dengan bunga di halaman belakangnya. Ada kolam ikan kecil di sisi gazebo rumah. Aku, kau dan anak-anak nanti akan menghabiskan sore di sana dengan meminum teh. Itu hal yang indah bukan Sasuke-kun?"

Sasuke tercekat.

"Sasuke-san?" Suara itu membuyarkan.

Sasuke menatap Ino dalam-dalam. Menyelami iris aqua itu yang semakin membuatnya sakit. Keadilan macam apa yang akan didapatkannya dari kondisi Ino yang seperti ini? Harusnya Sasuke merasa tenang, inilah kondisi yang menguntungkannya. Terlepas dari perasaannya yang kembali menguat pada wanita itu, Sasuke harus kuat.

Sasuke harusnya senang.

Harusnya.

Dadanya bergemuruh. Kedua tangannya terkepal erat, terlebih ketika mata jelaga kelamnya menatap sorot penuh kehangatan dari bola mata sebening samudera itu. Harusnya Sasuke bisa menetralisir keadaan. Bicara pada Ino bahwa mereka bukanlah siapa-siapa, lagi pula keluarga Uchiha tidak pernah menganggap Ino sebagai anggota keluarga mereka.

Dia bisa menikahi Karin dan memiliki keturunan, sedangkan kehidupan Ino dijamin oleh uangnya. Itu mudah.

"Sasuke-san?"

Sayangnya hati Sasuke tidak semudah logikanya dalam menerima keputusan.

Air mata kembali berkumpul. Membanjiri sudut mata si Uchiha sulung.


Masashi Kishimoto is Disclaimer


Terima kasih atas reviewnya, maaf tidak bisa dibalas satu persatu. Maaf juga atas keterlambatan fict ini, aku harap kalian senang.

Salam hangat,

Panda Merah