Repeat

By GrandpaGyu

Rate : T

Pair : SasuHina

Naruto Masashi Kishimoto

Mengulang tujuh sapaan berbeda tanpa jelas waktunya. Berinteraksi dengan orang yang sama tapi dengan kepribadian dan identitas yang berbeda

WARNING : ALUR MAJU MUNDUR, CERITA TENTANG PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN DID, EYD BERANTAKAN, MISS TYPO DAN KESALAHAN LAINNYA.

Note : Cerita ini memang terinspirasi dari drama korea Kill Me Heal Me, sekilas memangmungkin bakalan terlihat mirip#buatYangPernahNontonKillMeHealMe, tapi alur cerita ini berbeda dengan Kill Me Heal Me.

Terimakasih untuk siders, yang udah review, fav dan follow Repeat.

Arigatou gozaimasu minna (-_-)!

Don't Like Don't Read

RnR

Happy Reading

with love,

GrandpaGyu (-_-)!

"Jadi bisa jelaskan padaku kenapa makhluk ini ada disini Hinata?"

Yang ditanya mendadak di dera perasaan gugup. Ini pertama kalinya Sasuke mampir ke kediamannya. Dan bodohnya Hinata yang lupa bahwa seksrang dia tinggal bersama Neji yang mengaku sebagai saudara sepupunya.

Kedua matanya bergerak gusar memikirkan alasan apa yang akan dia ucapkan untuk membuat Sasuke percaya. Dan itu sulit!

"Berhenti mencari alasan dan jelaskan padaku sekarang!"

Sasuke menekan setiap kata yang diucapkannya. Dia pikir hubungannya dengan Hinata akan lebih 'dekat' dari sebelumnya. Setelah memahami kondisi kejiwaan Hinata -Sasuke tidak mengatakan Hinata gila, Sasuke pikir hanya padanya Hinata akan menyandarkan babannya.

Tapi lihat laki-laki asing yang kini menatap tajam kearahnya itu!

Harusnya Sasukr yang memberikan tatapan itu padanya! Tidak kah dia sadar jika dia yang seenaknya masuk ke dalam kehidupan Sasuke dan Hinata!

Well. Jika kau mengetahui siapa Neji sebensrnya. mungkin kau akan menyesali ucapanmu barusan Sasuke-san.

"Siapa dia Hime?"

Hime?

Lakinlaki itu bosan hidup ternyata!

Berani sekali dia memanggil Hinata'nya' dengan sebutan Hime.

"Aku kekasihnya. Kau siapa?"

Neji tersentak. Ah benar juga, mereka tidak tahu siapa Neji sebenarnya. Dia hanya -

"Aku sepupu Hinata. Neji Hyuuga."

Ya, dia hanya sepupu jauh. Dalam artian orang asing bagu Hinata maupun Sasuke.

"Neji-san tidak memiliki tempat tinggal. Karena itu aku memintanya tinggal di rumah ini."

Sasuke tidak habis pikir.

Hinata itu sebenarnya memang baik, terlalu baik, atau idiot?

Kenapa dia sama sekali tidak curiga pada laki-laki aneh ini dan justru menawarkannya tempat tinggal secara cuma-cuma!

Walaupun memang wajah mereka murip sih. Tapj tetap saja tidak bisa memastikan bahwa laki-laki yang mengaku bernama Neji itu tidak memiliki niat jahat padanya.

'Aku tahu apa isi kepalamu bocah!'

Batin Neji miris.

Harusnya dia yang memasang ekspresu seperti itu pada Sasuke. Laki-laki yang seenaknya mengklain adik kecilnya sebagai kekasih. Demi apapun, Neji masih tidak bisa membiarkan laki-laki lain mengisi hati Hinata. Katakan dia egois, karena memang begitu keadaannya.

"Mau sampai kapan kalian akan saling menatao seperti itu?"

Tanya Hinata sambil membawa satu toples cemilan beserta dua kaleng softdrink untuk dua laki-laki itu.

"Maaf sudah membuatmu repot Sasuke-sensei."

Neji melirik kearah Sasuke penuh curiga. Sensei? Jadi dia guru, tapi kenapa wajahnya tidak menunjukkan wibawa seorang guru. Dia lebih mirip seorang psikopat berdarah dingin.

"Tidak masalah. Skripsimu tidam akan selesai sesuai jadwal dengan keadaanmu sekarang."

Hinata meremas rok selutut yang dikenakannya.

"Apa ku bisa sembuh?"

Neji yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, hanya bisa diam sambil memasang telinganya setajam mungkin.

"Meskipun sulit aku akan membantumu. Terutama Yoona. Dia satu-satunya alter egomu yang terlihat mendominasi."

Deg

Neji merssakan kepalanya mendadak kosong saat mendengar nama itu terucap dari bibir Sasuke. Dia memandang iba pada sosok adik kecilnya.

Pasti dia mengalami hidup yang berat selama dia pergi.

Maafkan aku, Hinata.

"..san Neji-san?"

Ah, aku melamun. Runtuk Neji.

"Ya? Apa kau membutuhkan sesuatu?"

Hinata menggeleng, dia melirik Sasuke dari ekor matanya. Paham akan maksud Hinata, Neji kemudian mengalihkan pandangannya pada Sasuke.

"Apa kau tahu kondisi Hinata?"

Neji menelan salivanya yang terasa pahit. Apa yang harus dia katakan?

Mengaku bahwa dia memang mengetahui kondisi Hinata dan melanggar janjinya pada Yoona. Atau berbohong seperti seorang aktor amatir?

"A-aku t-ti-"

Kalimat Neji menggantung tanpa sempat dia menyelesaikannya. Berat sekalu rasanya berbohong pada Hinata. Bagaimana jika Hinata tahu kebenarannya dari orang lain? Itu akan lebih menyakitkan bukan?

Tapi dia tidak bisa mrlanggar janjinya begitu saja. Yoona bisa saja mencelakai adik kecilnya!

"Aku tidak tahu."

Maafkan aku, Hinata.

Sasuke mengkerutkan kening. Tidak percaya pada pengakuan Neji. Menurutnya Neji sedsng menyembunyikan sesuatu saat ini.

Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu Hinata? Jika memang benar begitu dia harus berusaha memaksa Neji untum mengatakan yang sebensrnya.

Tanpa sepengetahuan Hinata tentunya.

"Apa kau tidak merasa ada yang aneh dari ingatanmu?"

Hinata tampak berpikir. Lalu dia mengangguk.

"Aku memang sering terbangun di tempat yang tidak aku kenal. Tapi yang tidak aku paham adalah aku sama sekali tidak ingat kenanganku semasa smp."

Kedua onyx Sasuke membola.

Perasaan apa ini?

Kenapa hatinya berdenyut sakit saat mendengar ucapan Hinata?

'Pembunuh!'

Tidak!

Neji yang melihat Sasuke tampak memegangi kepalanya hanya mengerutkan kening. Firasatnya mengatakan bahwa Sasuke ada hubungannya dengan kenangan semasa smp Hinata.

"Jangan dekati dia Hinata!"

Seru Neji saat Hinata akan menghampiri Sasuke. Hinata hanya mengangguk lemah dan kembali duduk di tempatnya. Gadis lavender itu hanya bisa memandang khawatir kearah Sasuke.

"Apapun yabg ada dipikiranmu seksrang. Jangan mencoba mengulangi kesalahan yang sama."

Bisim Neji tepat di telinga Sasuke.

Deg

'Jangan mengulangi kesalahan yang sama?'

De javu?

Sasuke pernah mendengar kalinat itu sebelumnya. Tapi kapan?

'Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu!'

Itu suara Hinata?

'Jangan berpura-pura bodoh! Dasar pembunuh!'

Kenapa?

Kenapa aku mengatakan hal sekejam itu! Apa salah Hinata?

Jerit Sasuke frustasi sambik mencengkram surai ravennya.

Sasuke terus merengek sambil meraung-raung seperti orang gila.

Membuat Hinata panik, sementara Neji hanya memandangnya tanpa ekspresi.

"AAAAARGH!"

Jerit Sasuke sebelum kegelapan menyelimutinya.

Apa yang sudah aku lakukan sebenarnya? Tolong aku, Hinata!

TBC

Shi's Note: gomeeeen, sudah menelantarkan fict ini :'( habis Shi bingung. Banyak perubahan jalan cerita dan itu berdampak pada mood Shi dalam menulis kelanjutan cerita ini.

Dan setelah menampung masukan-masukan yang ada di kolom review. Mayoritas mengatakan untuk tidak me remake cerita ini. Oke, kalau begitu Shi akan melanjutkan cerita ini sampai akhir :D Tapi mungkin ada beberapa bagian yang terlalu di paksakan karena memang tuntutan perubahan alur cerita. Mohon pengertiannya. Tapi Shi sudah dapat gambaran kok tentang akhir dari cerita ini bagaimana. Jadi kemungkinan cerita ini tidak akan Shi discontinue (padahal itu niat awal Shi #plak :'( gomeern) Hanya tinggal tergantung mood menulis aja lagi.

Terimakasih atas dukungan kalian selama ini pada fict ini. Shi sangat terharu membaca komentar kalian di kotak review huaaaa Shi sayang kaliaaaan.

See ya next chap!