Jaemin menenggak soda perlahan, merasakan sensasi menyenangkan dari minuman bergula tinggi ditangannya. Tetapi kegiatannya harus terhenti saat sebuah tangan merebut kaleng sodanya, membuat Jaemin hampir saja tersedak.

"Sudah kubilang kan, kamu gaboleh minum beginian banyak-banyak. Soda tuh gulanya banyak. Nanti kamu makin gendut." Pemilik tangan tadi langsung menenggak sisa soda milik Jaemin. Setelah itu menaruhnya asal diatas meja terdekat.

Jaemin mencebikkan bibirnya, lalu mengeluarkan protesnya. "Ya! Hyung sendiri juga ikut minum!"

Yang dipanggil hyung nyengir. "Hyung kan ga cepet gendut kayak kamu. Nih buktinya baru minum langsung tambah gendut." Setelahnya Jaemin langsung mengerang, karena pipinya dicubit keras.

"Aku gak genduuuut!" Jaemin menginjak kaki sang hyung, membuat pemilik kaki mengaduh kesakitan.

"Aduh, sayang!"

"Bodo."

"Kamu mah gitu ya sama hyung?"

"Bodo."

"Bodo bodo terus, hyung cium nih lama lama!"

"Hyung mana mau kan nyium orang gendut kayak aku?" Jaemin cemberut, ngambek ceritanya.

"Sayang—"

"Iya, apa?! Hyung pasti mau ngatain aku lagi."

"Nggak, dengerin—"

"Jaemin ngambek!"

"Na Jaemin!" Jaemin terlonjak, orang disebelahnya membentaknya, tanda ia sudah keterlaluan. "Dengerin hyung dulu."

"Yaudah deh." Jaemin manyun lagi.

"Sebenernya," Sang hyung berbicara, menjeda sebentar. Jaemin ikut diam, menunggu apa yang selanjutnya dilontarkan yang lebih tua. "Kamu gendut gak gendut sih gak masalah. Masih tetep cantik dan mempesona buatku, kok. Masih enak juga buat dicium."

Jaemin sontak blushing, lalu memukuli hyungnya brutal. Mengesampingkan fakta kalau ia lebih muda dan mereka sedang berada di pesta ulang tahun Taeil.

"Jeno hyung! Jangan gombal terus!"

"A-ahhh! Ampun, sayang!"

"Nggak ada ampun, rasain!" Jaemin makin keras memukuli sang kekasih.

"Sayang, hyung cium nih!"

"Cium aja kalo bisa! Jaemin nggak nolak kok!"

.

.

.

Dua Duanya Calon Menantu Keluarga Jung?

A fanfiction from takoyutaki.

Jeno, Lee x Jaemin, Na

Sicheng, Dong x Kun, Qian

Mention a lot brand name, location, and many more.

Warn! This is YAOI/BoysLove.

(Ini telat banget, karena sempet stuck, wb, akhirnya ganulis apa apa bagian ini dan malah kerjain bagian Ilyoung duluan. Sialnya file ilyoung-nya corrupt pas dibuka kemaren dan akhirnya harus ngulang dari awal-_-

Juga, aku mendengarkan NCT 127 – Paradise (ENA) saat mengerjakan. Aku saranin kalian dengerin tuh lagu sambil baca fuck ini. Hope you like guys!)

And always, other standard warn is applied.

.

.

THIRD EPILOG : Flirt Everywhere.

.

.

"Aku tidak tahu kalau kamu suka itu, jie." Kun yang sedang menenggak red wine menoleh kearah sumber suara.

"Tidak begitu suka," Kun membalas, kaki-kakinya melangkah mendekati sang adik. "Aku minum berakhohol saat suasana seperti ini saja."

Adiknya mengelus surai coklat Kun, membuat dirinya terbuai. Seolah tak ingin terjadi sesuatu, Kun sudah menaruh gelas wine tersebut ke nampan salah satu waiters yang berlalu-lalang. "Ah. Pantas. Kukira jie memang suka alkohol dan aku tak pernah tahu itu."

"Tidak, Sicheng-a. Aku hanya menikmati apapun yang menjadi pantanganku disaat free seperti ini." Raut wajah Kun begitu cerah. Tangannya yang cukup kecil memeluk pinggang Sicheng, mengekspresikan kebahagiaannya.

"Baguslah," Sicheng memeluk kakaknya. Menenggelamkan wajahnya ke surai panjang Kun, menghirup banyak-banyak aroma shampoo Kun yang manis. "Soalnya kalau jie minum alkohol, nanti jie mabuk. Mabuk tuh gaenak jie."

"Tahu apa kamu soal mabuk, Sicheng-a?" Kun terkikik dalam pelukan Sicheng, membuat Sicheng juga ikut tertawa.

"Aku tahu," Sicheng mendekatkan bibirnya ke telinga sang kakak. "Kan aku sedang mabuk. Mabuk cintamu jie."

Pipi Kun perlahan-lahan memanas, memberikan efek kemerahan pada kanvas bernama kulit. Darah Kun rasanya hanya bergumul dipipi dan itu tidak nyaman.

"Astaga!" Kun memukul dada Sicheng pelan. Malah membuat Sicheng mengeratkan pelukannya, menenggelamkan kakaknya. Kun menghentak-hentak heelsnya, membuat keributan kecil "Sicheng, lepaskan!"

"Meiyou."

"Dong Sicheng!" Kun meronta-ronta.

Sicheng hanya tertawa, tak mempedulikan protes dari jiejie-nya.

"Jie," Sicheng menahan pergerakan Kun. Bagaimanapun, Sicheng tetaplah lebih kuat dari Kun. "Jie seharusnya anggun dong. Kan jiejie wanita."

Kun langsung cemberut, melipat tangannya didada. Sicheng melepas pelukan, menatap Kun dengan gemas. Ya Tuhan, kalau saja ini di kamar, sudah dipastikan jiejie-nya ini sudah merintih keenakan sedari tadi!

"Begini begini kan aku cowok!" Kun membuang muka, membuat Sicheng gemas sendiri. Walau terlihat manly dari luar, sebenarnya Kun-lah yang paling menggemaskan dalam hubungan mereka. Winwin hanya terlihat diluar saja menggemaskan.

Didalamnya? Sangatlah manly.

Apalagi kalau di ranjang. Tidak usah ditanya.

.


I need your warmth, it tells me that I'm alright.


.

"Kamu serius gaakan nolak kalau aku cium, hm?"

"E-eh?" Jaemin melotot kaget, lalu melangkah mundur, hingga punggungnya menabrak sesuatu yang keras.

Tembok.

Sial, ia terpojok.

Jeno semakin dekat, hingga tubuh mereka menempel seakan diberi lem. Wajah mereka juga begitu, hanya tinggal berjarak dua senti. Bibir Jaemin bergetar, ketakutan. Matanya sudah ia pejamkan kuat-kuat.

"P-pfftttt!"

Jaemin langsung membuka matanya, dan menemukan kakaknya yang tertawa terbahak-bahak.

"Hyung!" Jaemin memukul dada Jeno pelan, lalu bibirnya ia manyunkan lagi. "Nggak lucu, tahu!"

"Hm?"

BAM!

Jaemin melotot kaget saat Jeno mencium sekilas bibirnya.

"..Hyung.."

"Apa?" Jeno menempelkan kedua dahi mereka. "Mau nambah?"

"Apa harus kujawab?"

Jaemin mulai menantang, niatnya hanya main-main.

Tapi siapa sangka kalau Jeno menganggapnya begitu serius?

"Baiklah."

Jeno menabrakkan kedua belah bibirnya kearah bibir Jaemin, menciumnya perlahan. Pergerakan bibirnya lembut, tak tergesa-gesa. Seakan-akan ingin menikmati setiap detail bagian benda kenyal itu. Jaemin melotot kaget. Jeno sendiri sudah menutup matanya, terbawa permainannya sendiri. Permainan Jeno terlalu membuai, hingga tanpa sadar Jaemin ikut menutup matanya, merasakan apa yang disalurkan kakaknya dalam ciuman kali ini.

Tangan Jaemin sudah melingkar dengan apik di leher Jeno, sedangkan tangan Jeno sendiri mengusap rahang Jaemin lembut.

Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa lama, hingga salah satu kehabisan nafas dan melepas ciuman mereka. Mata mereka menatap satu sama lain, memancarkan rasa yang sama.

"Anak kecil," Sebuah suara menginterupsi. "Aku tahu kalian sudah resmi. Tapi kalian masih kurang pantas beradegan seperti itu."

Jeno maupun Jaemin tertawa. "Bilang saja iri kalau hyung tidak bisa melakukannya dengan Ten hyung."

"Sialan."

Sepeninggal salah satu kakak, Jaemin tersenyum lebar.

"Mau lanjut?" Tawar Jaemin.

"Mungkin?"

Jeno tertawa, lalu langsung menabrakkan bibirnya kembali. Lupa akan gigi keduanya yang masih terlihat, belum bersembunyi.

"OUCH!"

Tuh, kan.

.


My heart goes ahh. Like this, like that.

You shake up my heart.


.

"Gege."

"Weishenme?" Tanya Kun ketus. Ia masih jengkel dengan Sicheng, asal kalian tahu saja.

"Kok gege ketus? Masih marah?"

"Menurutmu?"

Sicheng mendesah frustasi. Ya Tuhan, dia salah apa lagi, sih?

"Aku bukan pembaca pikiran, ge."

"Siapa yang bilang kau mind-reader?"

Sicheng cemberut.

Hah, kenapa selalu dia sih yang salah?

"Ge," Sicheng memeluk Kun erat, lalu menaruh kepalanya di pundak Kun. "Cerita, dong. Gege kesel sama aku kenapa?"

"Banyak."

"Salah satunya baju ini, kan?"

Kun menghela nafas. "Kalau iya, kenapa masih nanya?"

Sicheng tertawa pelan, lalu menyibak rambut sambungan Kun, dan menenggelamkan hidungnya disana.

"Kan hanya untuk malam ini. Ini kan juga permintaan Taeil hyung."

"Aku tahu. Tapi kan Taeil hyung minta untuk crossdress agar ia bisa memamerkannya ke yang lain," Suara huff pelan keluar dari belah bibir Kun. "Tapi? Dianya mana?!"

"Eh," Sicheng mendongakkan kepalanya. "Iya juga. Kemana ya, Taeil hyung? Ah, tapi masa bodoh. Yang penting kita bisa berduaan, ge."

"Dasar modus."

"Modus-modus gini gege tetep cinta, kan?"

.

.

.

.

END.

.

.

[A/N]:

[1] Ini udah berapa lama terbengkalai... (harhar)

[2] Kayaknya aku ketagihan untuk nistain anak ensiti haru. Setelah kemaren di fic sebelah nistain markhyuck, renchen, jemin, aku akhirnya menistakan jemin lagi :v

[3] File ilyoung corrupt, padahal udah selese. Sabar ya, bakal aku buat lagi T_T

[4] Ini pendek karena... abis ide :v

[5] Epilog udah selese! So tinggal extra dan kita harus say goodbye ke ff ini.

[6] Extra bukan bagian dari epilog, makanya disini end.

[7] Aku pengen bales review, tapi gaada mood gara gara sesuatu.

[8] Aku baper kepanjangan karena ff Miss [soalnya aku ngerjain itu sepenuh hati dan nuangin semua keraguan, kegalauan, unek-unek aku ke seseorang disitu.] dan akhirnya bener-bener runyam sama GITD. Aku bakal perbaikin moodku pelan-pelan, dari yang baper ke agak-agak dark gitu.

[9] One for All.. tunggu aja. gaakan di discontinue, cuma bakal lama updatenya.

[10] Taeil ilang? Kemana ya dia? :v


Lastly, review?

.

.

Xoxo,

takoyutaki.

(4th September 2k16)