"Hyung..."
Baekhyun tersentak, terbangun dari tidurnya. Pelipisnya basah oleh keringat, nafasnya panjang seperti baru saja jatuh dari ketinggian. Denyutan sakit menghantam kepalanya. Ini biasa terjadi padanya jika ia mengalami mimpi buruk dan depresi yang berlebihan. Dan kali ini Baekhyun mengalaminya lagi.
Kematian Taehyun di depan matanya sungguh membuat ia terpukul...
Seraya menekan pelipisnya, si mungil itu bangkit duduk. Mencoba mengatur nafasnya agar keluar dengan normal.
"Ah, kau bangun?"
Suara bass itu mengalihkan pemikiran Baekhyun. Si mungil menoleh, melihat pemuda berambut merah melempar ranting kayu ke dalam api unggun kecil yang menyala-nyala dalam kegelapan hutan Zelonia, sekaligus menghangatkannya dari hawa dingin di sekitar. Chanyeol melangkah mendekatinya. Baekhyun bisa melihat raut khawatir dari mata pemuda tinggi tersebut yang tertuju padanya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Baekhyun mengalihkan pandangannya saat tangan Chanyeol terulur mengusap keringat di sisi wajah si mungil. "Hanya... sakit kepala..." bisiknya serak.
"Seberapa sakit?"
Si mungil memeluk kedua lututnya. "Tak apa, nanti juga akan hilang sendiri."
"Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk. Ia melihat sekeliling, apapun selain wajah Chanyeol yang terlalu dekat dan terlihat begitu mengkhawatirkannya. Membuatnya tak nyaman karena perasaan gugup yang tiba-tiba melandanya. "Ah, kenapa aku tertidur di atas tanah? Biasanya kau membaringkan aku di atas pohon."
"Dan membuatmu terjatuh tiap kali kau berguling karena mimpi buruk?"
Baekhyun mengigit bibir bawahnya, merasa merepotkan. "Maaf."
Tapi Chanyeol tersenyum lebar. "Tak apa. Lagipula malam ini aku tidak ingin tidur, jadi aku bisa menjagamu di sini layaknya seorang tuan putri," ucapnya dengan nada canda.
Baekhyun tak bisa menahan dengusan tawanya. "Aku bukan perempuan apalagi tuan putri. Tapi, terimakasih, sudah mau menjagaku, Chanyeol." Si mungil itu tersenyum tulus, sangat cantik di bawah pencahayaan api unggun pada malam hari.
Baekhyun kira Chanyeol akan membalasnya dengan sebuah kalimat-kalimat nakal seperti meminta izin memegang pantatnya sebagai balasan atau kalimat senonoh lainnya, seperti kebiasaan si pemuda rambut merah tersebut. Namun kalimat yang dilontarkan pemuda tinggi itu selanjutnya sungguh diluar dugaan Baekhyun.
"Kau cantik..." Chanyeol tersenyum tipis, menunjukkan satu lesung pipitnya yang menghiasi wajah tampannya. "...sangat cantik." Dan tangannya menepuk puncak kepala Baekhyun dengan lembut.
Si mungil terpaku. Aliran darahnya berdesir hingga ke wajahnya. Detak jantungnya berdetak cepat. Serta pikiran yang tersumbat hingga tak tahu ingin membalas apa kalimat tersebut. Ia membisu, menundukkan kepalanya malu...
...karena keinginan dipeluk oleh Chanyeol tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Peluk aku... bisiknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
... ... ... ... ... ...
.
.
.
_o0o_
Sayaka Dini
Present
~ZELONIA~
_o0o_
Main Cast: Baekhyun & Chanyeol
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
Chapter IV:
~GNOME~
... ... ... ... ... ...
.
.
.
Gnome adalah makhluk bertubuh mungil, peri tanah yang tinggal di hutan dan hidup terisolasi dari mahkluk-mahkluk lainnya.
.
.
.
"Kau tidak ingin kembali tidur?" tanya Chanyeol yang mengambil tempat duduk di sisi si mungil. Mereka berdua duduk menghadap cahaya api unggun yang menyala-nyala.
Baekhyun menggeleng. "Aku tidak ingin bermimpi buruk lagi," lirihnya dengan suara kecil. "Kemana Sehun dan temannya?" tanyanya kemudian melihat hanya ada mereka berdua di sekitar api unggun tersebut.
Alis Chanyeol terangkat. "Siapa Sehun?"
Baekhyun menatapnya aneh, tapi kemudian ia sadar Chanyeol belum tahu nama pemuda griffin tersebut. "Pemuda dari bangsa griffin itu."
"Ah," Chanyeol mengangguk paham. Ia lalu mengangkat bahu. "Entahlah."
Baekhyun menampilkan wajah khawatir. "Mereka tidak tertangkap oleh penyihir Titus kan?"
"Kau tidak ingat griffin itu sendiri yang sudah membawa kita terbang menjauhi wilayah Durya dengan sangat cepat?"
Baekhyun tampak berpikir, mencoba menggali ingatannya. Saat itu ia hampir tak mengingat apapun sejak Taehyun lenyap di depan matanya. Yang ia ingat, ia terus menangis di pelukan Chanyeol sampai tak sadarkan diri. Baekhyun mengigit bibirnya, malu dengan kenangan memalukan itu. "Aku... tak ingat..."
Chanyeol menghela nafas. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan ke arah Baekhyun. "Ayo."
Baekhyun mendongak, bingung. "Kemana?"
Sebuah cengiran muncul sebagai jawaban. "Ikut saja denganku," ajaknya lagi sambil mengedikkan kepalanya ke samping.
Si mungil mengerjap. Sebenarnya Chanyeol terlihat mencurigakan, dengan pakaian terbuka yang memamerkan perut sixpacknya dan pemikirannya yang selalu mesum. Tapi setelah mengenalnya selama lima hari, Baekhyun tidak ragu menaruh kepercayaannya pada pemuda berambut merah yang murah senyum itu. Tangan lentiknya terangkat menyambut uluran tangan besar Chanyeol. Sekali lagi, Baekhyun merasa genggaman tangan mereka selalu terlihat begitu serasi satu sama lain. Dan aliran hangat yang mengalir dari genggaman tangan itu selalu senantiasa ia rasakan sampai menembus ke dalam relung hatinya.
Begitu hangat dan nyaman...
Chanyeol menarik tangan lentik dalam genggamannya, membantu Baekhyun berdiri bersamanya. Dia menariknya lagi hingga tubuh si mungil oleng dan menabrak dada bidang si tinggi. Seketika wajah Baekhyun merona. Saat ia ingin menjauh dengan perasaan gugup, satu tangan Chanyeol merangkul pinggang Baekhyun dan membawanya kembali merapat pada dada bidang itu.
"A-apa yang kau–"
"Pegangan."
Dan seperti dejavu, tanpa aba-aba, Chanyeol membawa tubuh si penyihir mungil untuk melompat bersamanya dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lebih tinggi. Lebih tinggi lagi dari biasanya.
Baekhyun refleks memejamkan matan dan mengeratkan rangkulan di leher si merah. Rasanya begitu lama ia dibawa terus melompat ke atas, melawan grafitasi dan menabrak tekanan udara. Seharusnya terasa begitu dingin dengan hawa hutan Zelonia pada malam hari yang tidak seperti di dunianya. Tapi dengan rangkulan tangan Chanyeol di pinggangnya, dan suhu tubuh pemuda tinggi yang ikut mengalir ke tubuhnya membuat Baekhyun merasa hangat.
Kaki Chanyeol mendarat di dahan tertinggi di puncak pohon. Lebih tinggi dari batang dahan yang biasa Baekhyun gunakan untuk tidur selama dua kali.
"Kau bilang kau tidak ingin membuatku tidur di atas pohon," protes Baekhyun. Dahan puncak yang dia pijak terlalu tipis, membuatnya takut jatuh hingga mengeratkan genggaman tangannya pada Chanyeol.
"Memang tidak," balas si merah. "Aku membawamu ke sini bukan untuk menyuruh tidur, apalagi menidurimu." Saat mata Baekhyun berkilat menatapnya tajam, Chanyeol membalasnya dengan cengiran lebar. "Hanya bercanda," tambahnya. Ia kemudian duduk sambil menuntun si mungil untuk ikut duduk di sampingnya.
"Lalu?"
"Ssshtt..." telunjuknya menempel di bibir Baekhyun. "Cukup diam, dan perhatikan." Chanyeol menunjuk ke arah depan mereka. Baekhyun menoleh, mengikuti arah telunjuknya. Wajah Chanyeol mendekat ke telinga si mungil. Berbisik dengan suara rendah berat, tanpa menyadari tubuh Baekhyun yang langsung menegang di tempat. "Kau akan tahu kenapa aku lebih suka berlama-lama berada di puncak pohon saat malam hari."
Meski tak sepenuhnya mengerti, Baekhyun tak berani membalas. Ia bahkan tak sadar telah menahan nafas sampai Chanyeol memundurkan wajahnya dari sisi kepala Baekhyun.
Penyihir mungil itu diam-diam menghela nafas, ia kemudian mulai memperhatikan apa yang ada di hadapan mereka. Di bawah cahaya rembulan yang mengintip dibalik awan, pemandangan atas hutan zelonia tampak gelap seperti biasa, dengan bayang-bayangan dedaunan di puncak pohon. Tak ada yang spesial.
Sudah sepuluh detik berlalu dalam keheningan. Baekhyun melirik Chanyeol di sampingnya. Wajah pemuda merah itu tampak antusias menunggu sesuatu, membuat Baekhyun mengurungkan niatnya untuk memprotes. Ia kembali melihat ke depan. Menunggu sesuatu yang mungkin akan terjadi.
Dan satu menit kemudian, setitik cahaya kuning muncul dari bawah. Terbang lima meter dari atas pohon, berputar dilangit menebarkan butir manik-manik berkilau cahaya kuning seperti kembang api yang jatuh indah dengan gerakan slow motion. Baekhyun mengira itu udalah kumpulan kunang-kunang. Namun saat titik-titik cahaya lain muncul dari bawah pohon dengan warna yang berbeda-beda, seperti merah, biru, ungu, hijau, orange, pink dan warna-warna lainnya yang terus menari di atas udara sambil menebarkan manik-manik cahaya di atas puncak pohon, membuat Baekhyun ragu kalau itu hanyalah kunang-kunang.
Dengan mata berbinar yang memandang kemerlap kelip cahaya indah di atas udara itu, Baekhyun berbisik, takut suaranya dapat membuat manik-manik cahaya indah itu menghilang. "Apa itu?"
"Sylph," balas Chanyeol dengan bisikan. "Bangsa peri kecil."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Memberikan makanan pada pepohonan di hutan ini. Jangan terlalu berisik karena mereka pemalu."
Baekhyun mengangguk. Senyuman mengembang di wajahnya yang berbinar melihat percikan-percikan cahaya warna warni seperti kembang api yang pernah ia lihat di masa kecil. Ini bahkan lebih indah karena gerakan lembut manik-manik cahaya yang berjatuhan seperti butiran salju yang terlihat begitu nyata. Terlalu fokus pada aksi para Sylph membuatnya bahkan tak sadar pada genggaman tangannya dengan Chanyeol yang tak lepas sejak tadi.
Chanyeol yang menatap si mungil dari samping ikut tersenyum lebar. Ia menatap ke depan dengan penuh kebanggaan telah menunjukkan hal tersebut. "Indah bukan?"
Baekhyun ingin menjawab, namun saat titik cahaya putih yang melintas di hadapannya dengan sangat cepat, seperti sebuah kilatan petir. Saat itu pula bayangan Taehyun dengan mulut berdarah muncul di pikirannya, memanggilnya dengan suara lirih nan parau.
"Hyung..."
Senyuman Baekhyun menghilang. Kepalanya berdenyut. Ingatan itu kembali menghantuinya.
Tak mendapatkan balasan, Chanyeol kembali menoleh, mendapati Baekhyun sedang menundukkan kepalanya. "Hei," panggilnya.
"Maaf Chanyeol," bisik Baekhyun tanpa mengangkat kepalanya. "Terimakasih sudah memperlihatkan hal yang indah. Tapi aku ingin turun. Aku ingin berada di bawah pohon saja..." cicitnya, sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Seketika senyuman lebar Chanyeol menghilang.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Setengah malam itu Baekhyun tak melanjutkan tidurnya. Ia terus duduk memeluk lututnya sambil menatap kosong api unggun yang menyala-nyala di depannya. Dan Chanyeol yang duduk di sampingnya pun tak punya niat untuk melakukan hal lain selain menemani si mungil dengan diam, sambil sesekali melempar ranting kering –dengan gerakan bosan– ke arah api unggun agar terus menyala. Hingga pagi menjelang.
"Kau tidak ingin membuatnya?" tanya Chanyeol tiba-tiba, memecahkan keheningan.
"Membuat apa?" jawab Baekhyun tanpa minat. Bahkan untuk menoleh pada Chanyeol saja ia tak lakukan.
"Makananmu itu, yang ada di tas ranselmu itu."
"Ah," ada jeda sedikit. Ia tampak berpikir. "Kurasa sudah habis," jawabnya tidak yakin. Ia hanya tidak punya nafsu makan.
Chanyeol mendengus. "Kau tahu, kalau sikapmu begini terus, kau tidak lagi menjadi tikus yang menarik bagiku," ungkap Chanyeol. Saat akhirnya Baekhyun menoleh dan balas menatapnya, Chanyeol melanjutkan kalimatnya dengan nada menantang. "Aku tak akan mengikutimu lagi jika sikapmu membosankan seperti ini."
"Kalau begitu berhenti mengikuti," balas Baekhyun santai. "Lagipula sejak awal bukankah kau hanya kebetulan lewat."
Jleb.
Seolah ada panah centaur imajiner yang menembus dada Chanyeol dengan kejamnya. Ia tak berkutik, mendapatkan respon diluar dugaannya. Pemuda berambut merah itu mencibir, mengerucutkan bibirnya cemberut. "Kau menyebalkan," kesalnya.
"Kau lebih menyebalkan lagi," sungut Baekhyun tak mau kalah. "Apa dengan mengikutiku terus kau bisa menyentuh pantatku seenakmu?"
Chanyeol menatapnya terkejut. "Aku hanya..." menerima tatapan tajam Baekhyun entah kenapa kali ini membuat nyali Chanyeol menciut untuk pertama kalinya. "...bercanda," cicitnya.
Baekhyun menghela nafas. Ia memutuskan kontak mata dengan Chanyeol yang berada di sampingnya, kembali menatap lurus ke depan api unggun yang mulai meredup. "Berhenti mengikutiku," pintanya kemudian.
Chanyeol terdiam. Ia lalu berdiri. Tanpa mengatakan apapun pemuda berambut merah itu melompat pergi ke atas dahan pohon lalu ke pohon-pohon yang lainnya. Meninggalkan Baekhyun seorang diri dengan asap dari api unggun yang telah padam.
Si mungil mengigit bibir bawahnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak akan menyesal telah mengusir Chanyeol. Ia sudah memikirkan ini sebelumnya matang-matang sejak semalam. Merasa akan lebih baik bila ia melanjutkan perjalanannya seorang diri tanpa siapapun di sampingnya. Karena memang sejak awal ia menginjakkan kakinya ke wilayah makhluk langit ini, ia hanya sendiri.
"Hyung..."
Bayangan wajah sedih Taehyun sebelum menjadi abu kembali tergiang dalam benaknya. Baekhyun memeluk lututnya, tubuhnya gemetar dalam diam. Meringkuk seorang diri di tengah-tengah hutan Zelonia.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Matahari sudah nampak utuh di atas langit. Sinarnya mengintip di sela-sela dedaunan pepohonan yang tinggi menjulang, di sekitar Baekhyun yang masih duduk berdiam diri di tempatnya. Ia menarik nafas panjang, mengumpulkan seluruh niatnya untuk kembali melanjutkan perjalanannya, meski hanya seorang diri.
Penyihir mungil itu bersiap, merapikan isi dari tas ransel perlengkapannya, lalu menjinjingnya di balik punggung. Pemuda bersurai hitam itu memungut tongkat sihir sepanjang satu setengah meter, milik Taehyun sebelumnya. Tongkat itu berwarna ebony, berdiameter setengah dari jari orang dewasa. Di puncaknya terdapat kristal bening berbentuk segi enam yang melekat erat pada tongkat kayu tersebut. Saat tongkat sihir itu dibedirikan, tingginya mencapai dagu Baekhyun. Ia memegangnya erat, merasakan dirinya terhubung dengan aliran darah yang mulai merambat dengan sendirinya ke dalam tongkat sihir.
Meski pemilik awalnya telah tiada, tapi Baekhyun meyakini bahwa tongkat sihir ini akan menjadi lambang Taehyun yang tidak akan ia lepas dan akan terus menemaninya dalam perjalanan. Seakan Taehyun juga berada di sisinya sambil memegang tongkat yang sama dalam genggaman tangan Baekhyun.
Sekali lagi, penyihir mungil itu menarik nafas. Mengambil langkah pertama untuk melanjutkan perjalanannya meski ia tak tahu pasti kemana arah yang benar. Suara gemerisik di balik pepohonan yang tiba-tiba terdengar membuat langkah Baekhyun terhenti. Seketika ia merasa waspada.
Seraya mengacungkan tongkat, dengan pelan dan hati-hati ia melangkah mendekati asal suara gemerisik itu. Menghindari beberapa ranting dan daun kering di tanah, Baekhyun mengendap, saat merasa mulai dekat dengan asal suara ia berhenti dan berdiri bersembunyi di balik pohon. Ada suara gumaman seseorang dari arah sana. Baekhyun mengintip, melihat sosok pemuda yang berdiri menyamping dari arah pandang Baekhyun, sayangnya si mungil itu tidak bisa melihat jelas apa yang berada di depan pemuda tersebut karena terhalang oleh sisi pohon lainnya.
Baekhyun memicingkan mata. Ia merasa familiar dengan postur tubuh pemuda itu, berkulit putih pucat, rambut coklat, pakaian serba abu-abu. Bukankah itu Sehun? Pemuda bangsa griffin itu.
Baekhyun menghela nafas. Ia menahan tawanya sendiri. Merasa bodoh karena terlalu waspada dengan suara gemerisik tersebut. Si mungil pun keluar dari balik pohon. Ia berjalan mendekat dengan senyuman lebar, ingin memanggil Sehun. Namun saat perlahan ia semakin dekat melewati pohon yang sempat menghalangi arah pandangnya tadi, semakin jelas apa yang sebenarnya dilakukan Sehun diam-diam di balik pepohonan tinggi menjulang tersebut.
Langkah Baekhyun ter-rem seketika, terpaku dengan bibir menganga. Menyaksikan bagaimana Sehun yang sedang berdiri tersebut, menghimpit pemuda yang sama tingginya namun berbeda kulit dengannya itu ke sisi pohon, dan dengan ganas mencium bibirnya. Yang dihimpit pun –pemuda berkulit tan berambut silver dan bertelanjang dada itu juga seakan tak mau kalah, memeluk erat pinggang Sehun dan terus membalas lumatan bibir mereka dengan gerakan menggoda. Berapa kali kepalanya bergerak maju mengejar bibir Sehun yang hampir lepas dari tautan mesra bibir mereka.
Seluruh wajah Baekhyun merona. Seumur-umur, bahkan di usia yang ke 22 tahun ini, untuk pertama kalinya ia melihat adegan ciuman yang begitu panas secara live. Apalagi yang dilakukan oleh sesama laki-laki. Suara kecipak lumatan antar bibir dan desahan rendah yang saling menyahut di antara pasangan tersebut membuat kaki Baekhyun memelas dan bergetar. Menelan ludah gugup, si mungil mengambil langkah mundur dengan pelan, sangaaaaat pelan. Terlalu takut ketahuan, terlalu takut akan menganggu, terlalu takut dengan entah apapun itu yang membuat Baekhyun ingin segera lari dari tempat itu tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
Setelah lima langkah mundur dan berbelok ke sisi pohon satunya untuk menyembunyikan dirinya, Baekhyun pun segera berbalik. Sudah berniat untuk segera ambil langkah seribu saat tiba-tiba ia malah menabrak dada bindang orang lain yang tahu-tahu sudah muncul di hadapannya.
Itu Chanyeol, yang sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah tanpa dosa. Sama sekali tidak menyadari wajah panik dan rasa terkejut Baekhyun. Si mungil pun berbisik dengan suara pelan, masih takut ketahuan oleh Sehun dan entah siapa yang berada di balik pohon di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Pemuda berambut merah itu mengangkat kedua tangannya. Memperlihatkan dua ekor hewan –entah apa itu– yang bergelantungan di masing-masing tangannya. "Aku baru saja berburu, dan akan mengajakmu makan bersama," jawabnya santai. Keningnya berkerut setelah menyadari keanehan pada si mungil di hadapannya. "Kenapa wajahmu memerah?"
Baekhyun tegang. "Ssshtt!" ia menyuruh Chanyeol mengecilkan suaranya sambil sesekali menoleh ke belakang dengan panik.
Kening pemuda berambut merah itu tambah berkerut, semakin curiga. Dengan rasa penasaran Chanyeol melangkah maju hendak melewati Baekhyun. "Memangnya apa yang ada di sana–"
"JANGAN!" Baekhyun menahan dada Chanyeol dan refleks berteriak. Tapi detik kemudian ia menyesali volume suaranya yang terlampau keras tersebut.
"Kau kenapa sih?" tanya Chanyeol heran.
Ada suara langkah kaki lain dari balik pohon di belakang Baekhyun. Si mungil itu sama sekali tak berani untuk menoleh dan bertatap muka dengan wajah Sehun sementara wajahnya sendiri merona dengan begitu hebatnya.
"Oh, kau, griffin itu," sapa Chanyeol melihat Sehun muncul dari balik pohon.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya sang griffin.
"Ah," Chanyeol menunjuk Baekhyun yang masih berdiri kaku di tempatnya –tak berani berbalik menghadap Sehun. "Tikus ini tadi sedang mencarimu," ungkap Chanyeol. Mata Baekhyun melotot, tak suka dengan jawaban yang diberikan si merah.
"Baekhyun?" panggil Sehun.
Mau tak mau, dengan gerakan patah-patah, leher Baekhyun bergerak, menoleh kaku ke arah Sehun. Bisa ia lihat Sehun berdiri dengan penampilan biasanya, dan pemuda berkulit tan juga sedang berdiri di balik bahu di belakang Sehun. Kedua pemuda dengan tinggi sama itu menatap biasa ke arah Baekhyun dengan ekspresi datar, seolah tidak ada apapun yang terjadi semenit yang lalu. Berbeda jauh dengan Baekhyun yang ketakutan dengan rona merah yang menjalar di seluruh wajahnya, seolah ia baru saja tertangkap melakukan sesuatu yang sangat memalukan.
"Baekhyun?" panggil Sehun sekali lagi melihat Baekhyun tak juga membalas responnya.
Si mungil menarik nafas. Kembali tergiang bagaimana detailnya adegan ciuman panas yang dilakukan Sehun dengan seorang pemuda tan. Terus berputar dalam pandangannya seperti adegan rusak. Si mungil itu tak sanggup menahannya lagi. "GYAAAAA!" jeritnya histeris dan segera lari terbirit birit meninggalkan tempat itu.
Chanyeol dan Sehun menganga, begitu pun dengan Kai yang sama sekali tak mengenal pemuda mungil berjubah coklat tersebut. Ketiganya saling melempar pandangan bingung.
"Kenapa dengan tikus bodoh itu?"
Sehun mengangkat bahu membalas tatapan Chanyeol.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Baekhyun duduk memeluk tas ranselnya. Ia kembali ke tempat awal, namun tak lagi sendirian. Mereka berempat duduk mengelilingi api unggun yang kembali dinyalakan Chanyeol, dimana Baekhyun masih tidak mengerti bagaimana pemuda berambut merah itu sekali lagi menyalakan api dengan cepat tanpa sepengetahuan Baekhyun. Mereka sedang menunggu daging buruan Chanyeol yang sedang dibakar di tiap sisi api unggun.
Ada empat ekor hewan hasil buruan Chanyeol yang ditusuk oleh kayu dan di bakar di api unggun. Baekhyun masih tidak mengenali hewan apa itu. Ukurannya sebesar kelinci dewasa, tapi telinganya tidak panjang seperti kelinci. Warna kulitnya pun coklat dan ekornya panjang sepuluh centi meter. Tapi saat ini bukan jenis hewan apa itu yang Baekhyun permasalahkan.
Sesekali mata kecil Baekhyun melirik ke arah Sehun yang duduk berdampingan dengan pemuda berkulit tan, berambut silver, yang hingga saat ini masih bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana hitam panjang. Namanya Kai, Sehun yang memperkenalkannya sebagai teman yang sudah mereka selamatkan dari penjara penyihir Titus.
Kata 'teman' yang Sehun ucapkan membuat Baekhyun mencibir dalam hati. Benarkah ada 'teman' yang saling melumat ganas bibir satu sama lain? Meskipun batinnya berteriak keras mengajukan pertanyaan tersebut, Baekhyun masih tak sanggup mengutarakannya secara nyata. Mengingat ia baru berteman dengan Sehun dalam dua hari. Jadi yang bisa Baekhyun lakukan, hanyalah diam-diam mengamati interaksi antara Sehun dan Kai dari balik tas ransel yang ia peluk, layaknya gadis belia yang berprofesi sebagai pengagum rahasia.
Ouh, Baekhyun bahkan merasa gemas sendiri melihat sikap Sehun dan Kai terlihat datar satu sama lain di hadapan mereka. Seakan sungguh tidak ada hubungan apapun selain teman di antaranya.
Mata Baekhyun yang bergulir tanpa sengaja melihat ke arah Chanyeol. Pemuda berambut merah itu sedang jongkok dan memutar-mutar pegangan kayu yang menusuk hewan buruannya di atas api unggun di hadapannya. Terlihat fokus dengan kematangan daging buruannya itu. Detik berikutnya ia mengangkat pandangannya, seolah ada yang memanggil, matanya lansung tertuju pada Baekhyun. Balas menatapnya dari jauh.
Dan entah datang dari mana, bayangan adegan ciuman panas Sehun dan Kai di balik pohon tiba-tiba tergiang dalam pikiran Baekhyun. Namun dengan pemain yang berbeda, yaitu dirinya sendiri dan Chanyeol. Saling melumat bibir dan menghimpit di sisi pohon, bersembunyi di balik deretan pohon-pohon tinggi dalam hutan Zelonia.
Mereka berdua berciuman...
Membayangkan itu darah Baekhyun berdesir berkali lipat. Malu dengan pemikiran kotornya sendiri, ia menyembunyikan wajahnya dibalik ransel dalam pelukannya, memutuskan kontak mata dengan Chanyeol. Sementara si merah menaikkan alis bingung melihat perubahan aneh yang terjadi pada sikap si mungil.
...
"Ehm," deheman Chanyeol seraya berdiri. Keempat daging bakar hasil buruannya telah matang. Ia mengambil satu, lalu melirik ke arah Sehun. "Karena aku adalah Chanyeol," mulainya berkoar dengan rasa percaya diri begitu tinggi. "Chanyeol yang begitu tampan, sangat baik hati dan tidak sombong, dan hanya ada satu-satunya didunia ini. Maka," pemuda berambut merah itu membusungkan dadanya bangga. "Aku dengan berbaik hati akan memberikan satu hasil buruanku padamu, pemuda griffin malang yang baru saja terbebas dari centaur karena kemurahan hatiku."
"Norak."
Komentar sarkastik dari Baekhyun hanya dibalas dengan cengiran lebar oleh Chanyeol. Setelah memberikan salah satu daging buruannya pada Sehun, Chanyeol beralih menghadap Baekhyun. "Dan untuk adik kesayanganku~" Ia mengambil satu lagi daging bakar hasil buruannya. "Kakakmu yang paling tampan ini akan memberikan yang paling besar agar pertumbuhan tidak terhambat," ia memberikannya sambil mengedipkan sebelah mata. Tak peduli dengan pandangan mata Baekhyun yang menatapnya aneh.
Chanyeol duduk bersila di atas tanah. Ia mengambil dua sisa daging bakar buruannya. Ingin menghabiskan keduanya.
"Tak ada untukku?" sahut Kai.
"Kau bisa berbagi dengan griffin itu," timpal Chanyeol santai. Mulutnya sudah terbuka lebar, ingin memakan irisan daging bakarnya saat Baekhyun tiba-tiba menyahut..
"Ambil punyaku saja."
Kepala Chanyeol bergerak dengan cepat. Menatap tak percaya ke arah Baekhyun yang memberikan daging bakarnya pada Kai.
"Tak apa. Aku hanya tak ingin makan saat ini," lanjut Baekhyun kemudian. Kembali duduk di tempatnya.
Chanyeol menatap dua daging di kedua tangannya. Ia menghela nafas. "Oi," panggilnya tertuju pada Baekhyun. "Kau sengaja melakukan hal itu agar aku kembali berbagi makananku padamu, iya kan?"
"Aku memang tidak sedang ingin makan," balas si mungil tanpa minat.
Chanyeol jadi kesal sendiri. Ia melompat, duduk lebih dekat ke arah sisi Baekhyun. Menyodorkan salah satu daging bakar di tangannya pada si mungil. "Makanlah."
"Tidak."
"Kubilang makan."
"Aku bilang tidak."
Si merah mengeram kecil, kesal dengan penolakan keras kepala si mungil. "Dengar," ucapnya penuh penekanan. "Aku sengaja berburu banyak hewan agar kita bisa makan bersama. Jadi jangan kecewakan aku dengan menolak pemberianku. Ayolah, kau hanya tinggal memakan ini, apa susahnya?"
Baekhyun ingin menolak. Sungguh, ia tidak punya nafsu makan untuk saat ini. Tapi melihat kesungguhan Chanyeol dan perkataannya barusan, si mungil itu jadi tidak enak hati. "Maaf," bisiknya. Tangannya pun terulur mengambil daging bakar itu lagi. "Aku akan memakannya."
Chanyeol pun tersenyum lebar.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
"Setelah ini, apa rencanamu?" tanya Sehun. Sisa daging baker yang tidak ia habiskan, ia berikan pada Kai di sampingnya. Matanya lalu tertuju pada satu-satunya penyihir di antara mereka.
"Aku akan pergi ke kerajaan Alphin," jawaban tegas Baekhyun mendapatkan reaksi berbeda dari tiga pemuda yang mendengarnya. Kai menghentikan gerakannya, Sehun yang mengerutkan kening, dan Chanyeol yang terbatuk keras –tersedak makanannya sendiri.
"Kenapa ingin pergi ke sana?" tanya pemuda griffin itu lagi. Mengalihkan perhatian Baekhyun dari Chanyeol yang khawatir dengan batukan pemuda tinggi itu.
"Mereka bilang, ayahku terakhir kali sebelum menghilang berada di sana. Karena itu aku ingin ke sana untuk memastikannya." Baekhyun tak ingin mengatakan kalau apa yang ia dengar sedikit berbeda. Tentu saja karena ia yakin ayahnya belum meninggal seperti apa yang dikatakan para penyihir Titus. "Apa kalian tahu sesuatu tentang kerajaan Alphin?"
Sehun menggeleng. "Kami berdua tidak pernah ke sana."
"Aku hanya sering dengar kalau penyihir Titus sangat membenci penyihir Alphin," sahut Kai, pertama kalinya angkat bicara. "Tapi itu tidak bisa menjanjikan apakah penyihir Alphin dan kerajaannya adalah orang-orang baik, atau bahkan lebih buruk dari para pengikut Titus."
Pandangan Baekhyun beralih pada Chanyeol, menanti pendapatnya. Si merah itu malah melirik ke arah lain. "Yang aku tahu, siapa pun yang pergi ke sana tidak pernah keluar dari wilayah kerajaan tersebut. Entah karena mereka menahan siapa pun yang memasuki wilayah mereka, atau karena orang-orang yang tinggal di sana terlalu nyaman hingga tak ingin meninggalkan kerajaan tersebut. Hanya itu yang kutahu." Chanyeol kembali menatap Baekhyun. "Tapi jika kau ingin menerima saranku, sebaiknya tidak perlu ke sana."
"Aku akan tetap ke sana."
"Sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu." Si merah cemberut kesal.
"Baekhyun," panggil Sehun. Pemuda griffin itu menarik nafas sejenak. "Aku dan Kai sudah memutuskan. Kami berdua akan pergi mencari teman-teman kami lainnya yang menghilang saat serangan penyihir Titus pada kota kami. Karena kini kami berdua, kami yakin bisa menemukan mereka." Sehun lalu menampilkan wajah menyesal. "Maaf Baekhyun, kami tidak bisa menemani mencari ayahmu."
Si mungil tersenyum teduh. "Tak apa. Lagipula sejak semalam aku juga sudah memikirkannya." Ia menarik nafas. "Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku seorang diri."
Alis Sehun berkerut heran. Ia beralih menatap Chanyeol. Pemuda berambut merah itu terlihat asik mengunyah daging bakarnya tanpa tertarik dengan apa yang dibicarakan Baekhyun dan Sehun.
"Seorang diri?" taya Sehun penuh penekanan, mencoba memancing Chanyeol namun si merah itu tetap saja asik menyedot sisa tulang hewan di tangannya. Sehun kembali menatap Baekhyun. "Kau serius dengan itu?"
Baekhyun mengangguk yakin.
"Baiklah," Sehun menoleh ke arah Kai. Pemuda tan itu telah menghabiskan makanannya. Mereka berdua saling menatap, tanpa kata, seolah dapat berbicara lewat mata, keduanya mengangguk bersamaan. Sehun berdiri, begitu pun Kai. Pemuda griffin itu lalu berjalan menghampiri Baekhyun, mengulurkan tangannya.
Baekhyun yamg masih duduk, mendongak, menyambut uluran tangan Sehun dan ikut berdiri.
"Terima kasih atas segalanya, Baekhyun." Sehun tersenyum tipis tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan lentik si mungil. "Kau adalah teman terbaik yang sangat membantuku."
Baekhyun balas tersenyum lebar, sebelah tangannya menggaruk pipinya dengan malu. "Aku juga ingin berterimakasih. Kalau bukan karena kau, mungkin akan susah bagiku untuk mencari petunjuk lain tentang ayahku."
Sehun mendengus geli. "Ah ya," ia mengambil sesuatu dari kantung celananya. Lalu meletakkan benda kecil yang ia ambil itu ke atas telapak tangan Baekhyun. Sebuah peluit kecil warna putih berukir hewan griffin. "Peluit ini dibentuk dari sari buluku," ungkap Sehun. Ia menatap mata Baekhyun serius. "Jika kau meniup peluit ini, di mana pun aku berada aku pasti akan mendengarnya. Gunakan ini jika kau sangat terdesak dan membutuhkanku, aku pasti akan datang dan membantumu. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu."
Mata Baekhyun berbinar. "Ini luar biasa." Ia tersenyum lebar, menggenggam peluit tersebut sambil mendongak menatap Sehun. "Terima kasih Sehun-ah, aku pasti menyimpannya dengan baik."
Sehun menatapnya lekat, ada sinar penyesalan di wajahnya. Ia melangkah lebih dekat, lalu menarik tubuh yang lebih mungil itu ke dalam pelukannya. Baekhyun tersentak dengan tindakan tiba-tiba itu. "Maaf harus berpisah denganmu di sini," ungkap Sehun. Baekhyun pun tersenyum maklum dalam pelukan griffin. "Semoga kau berhasil menemukan ayahmu, Baek."
"Kau juga, semoga dapat berkumpul dengan teman-temanmu lagi."
"Hm," Sehun tak juga melepaskan pelukannya, dan si mungil tak keberatan akan hal itu. Sampai sebuah suara dengan nada tajam terdengar.
"Se-Hun," penuh penekanan.
Tubuh sang griffin menegang. Baekhyun yang berada dalam pelukannya bisa merasakan hal itu. Sehun melepas pelukannya. "Baiklah, sampai jumpa lagi."
Baekhyun mengangguk. "Ah ya, kau tahu kemana arah menuju kerajaan Alphin?"
"Lurus saja ke arah timur, ikuti bayangan matahari," jawab Sehun sambil melangkah mundur, ke arah Kai. Di mana pemuda tan itu mulai mengeluarkan sepasang sayap hitam yang menempel di punggung telanjangnya. Sayap besar yang serupa dengan milik gagak hitam itu membentang lebar sepanjang satu meter di kedu sisi tubuhnya.
Baekhyun dibuat terpaku dengan penampakan sayap sang raven. Membuat Kai yang bertelanjang dada itu terlihat makin menawan, lengkap dengan helaian rambut silver pendek yang ia punya. Pemuda raven itu mengganguk singkat pada Baekhyun, sebagai bentuk penghormatan.
"Terimakasih untuk makanannya," seru Sehun yang tertuju pada Chanyeol. Si rambut merah mengacungkan jempolnya sambil nyengir lebar.
Kai menarik pinggang Sehun, memutar tubuh sang griffin agar menghadapnya, lalu merangkulnya erat. Sekilas Baekhyun bersumpah melihat rona merah di kedua pipi putih Sehun.
Sayap sang raven melengkung. Sehun memeluk leher Kai saat kedua kakinya mulai terangkat keatas. Sayap hitam itu mengepak, terbang ke atas langit dalam sekejap. Lebih cepat dari kecepatan terbang griffin sebelumnya. Beberapa helai bulu hitam pun melayang berjatuhan meninggalkan jejak.
Baekhyun menengadah, menatap langit biru dimana tak terlihat lagi sosok Kai yang terbang sambil memeluk Sehun dengan kecepatan kilatnya, hanya ada beberapa helai bulu hitam yang melayang jatuh. "Keren," kagum si mungil dengan mata berbinar.
"Aku juga bisa melakukannya jika kau mau," bisikan Chanyeol di sampingnya membuat Baekhyun tersentak. Ia menoleh, mendapati si rambut merah sudah berdiri di belakang sambil sedikit menunduk ke sisi kepala Baekhyun. Senyuman lebar terpatri di wajah tampannya.
Baekhyun mencibir, menutupi rona merah yang sempat menjalar di pipinya karena wajah Chanyeol yang begitu dekat. "Seakan kau bisa terbang saja," ia berbalik, melangkah menjauh untuk mengambil ranselnya, tak menyadari Chanyeol sedang cemberut di belakangnya.
Baekhyun menjinjing tas ransel di punggungnya, memegang tongkat sihir di tangan kanannya. "Kalau begitu aku juga akan pergi," pamitnya pada Chanyeol. Si rambut merah mengangguk santai. Baekhyun pun berpaling, menuruti arahan Sehun, ia berjalan mengikuti bayangan matahari menuju timur.
Layaknya dejavu, bunyi sepasang kaki yang menginjak dedaunan kering trdengar mengikutinya dari belakang. Baekhyun berhenti, ia menoleh ke belakang mendapati Chanyeol juga berhenti. Si rambut merah itu berdiri sambil melipat kedua tangan di belakang kepalanya.
"Berhenti mengikutiku, Chanyeol."
Si merah menggeleng yakin. "Aku tidak mengikutimu." Dagunya mengedik ke arah depan. "Aku hanya ingin melewati jalan ini, kebetulan saja kita searah."
"Kalau begitu kau jalan saja duluan. Jangan berada di belakangku. Lagipula bukannya kau biasa melompat-lompat dari pepohonan? Mengapa kau juga ikutan-ikutan berjalan di atas tanah?"
Chanyeol memiringkan kepalanya. "Terserah aku," balasnya dengan wajah polos. "Kaki-kaki ini milikku. Mau berjalan di atas air juga itu terserah aku."
Baekhyun mengerut kesal, bibirnya mengerucut kecil. "Terserah. Aku tak mau peduli." Ia berbalik dan melanjutkan perjalannya. Tak menyadari Chanyeol segera merapatkan bibir, menahan tawa di belakangnya.
Baekhyun terus berjalan, dan mendengar langkah Chanyeol di belakang sungguh membuat ia tak tahan. Tragedi kematian Taehyun kemarin kembali tergiang, dan Baekhyun bersumpah ia tak ingin hal itu kembali terulang. Kaki si mungil kembali berhenti. Ia berbalik. Diam berdiri menatap Chanyeol dengan tajam.
Chanyeol pun sekali lagi ikut berhenti. Alisnya berkerut, menanti Baekhyun yang mungkin kembali memarahinya atau memakinya.
"Kau–" Baekhyun tiba-tiba terhenti. Wajahnya berubah terkejut dengan arah pandang ke arah belakang kepala Chanyeol. "Ah, Sehun? Mengapa kau kembali?"
Chanyeol menoleh ke belakang. Tapi ia tidak mendapati siapapun yang berada di belakangnya. Saat ia kembali menoleh ke depan, sebuah lingkaran cahaya tiba-tiba menghantamnya dengan keras. Tubuh Chanyeol mundur, terlempar lima meter di atas tanah. Chanyeol meringis, ia bangkit dan melihat sekeliling, namun sosok Baekhyun telah menghilang dari hadapannya.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Pemuda mungil berjubah coklat itu berlari secepat yang ia bisa melewati deretan pepohonan hutan Zelonia. Tas ransel yang ia bawa terus melompat-lompat di balik punggungnya. Sesekali ia mengayungkan tongkat sihir di tangan kanannya ke sekitar, melempar bola-bola air ke tanah yang ia lewati agar membentuk kabut debu yang menyamarkan jejaknya.
Setelah merasa cukup jauh dari tempat ia meninggalkan Chanyeol. Baekhyun berhenti. Ia menunduk, bertumpu pada kedua lututnya sambil meredakan nafas terengahnya sejenak. Ia menoleh ke belakang, masih merasa waspada kalau saja si merah itu masih bisa melacak dan mengejarnya. Baekhyun melangkah mundur sambil mengacungkan tongkat ke arah jalan yang tadi ia lewati. Sama sekali tak melihat ada daratan miring di belakangnya.
Kaki Baekhyun yang terus berjalan mundur akhirnya terpleset, jatuh ke belakang. Tubuhnya berguling di atas tanah, seperti batang kayu yang terus mengelinding jatuh turun menuruni bukit curam. Ia tak bisa mengendalikan tubuhnya yang terus berputar, berguling turun menyebabkan kepalanya pening dan seluruh tubuhnya nyeri. Namun saat akhirnya ia berhenti di ujung daratan miring tersebut, saat itu pula penglihatannya buram dan kesadarannya menurun. Satu hal yang bisa Baekhyun cerna saat itu, tubuhnya yang berbaring terngkurap di atas tanah itu tak bisa ia gerakan, kepalanya begitu sakit dan darah yang merembes turun membasahi kelopak matanya.
Sampai akhirnya, kesadaran Baekhyun benar-benar menghilang.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
"Kau sudah mengobatinya?"
"Sudah."
Samar-samar Baekhyun bisa mendengar percakapan orang di sekitarnya. Kelopak matanya masih terasa berat, dan kepalanya sedikit nyeri. Karena itu ia hanya bisa menggerakkan jemari tangan dan bulu matanya tanpa membuka matanya.
"Lihat, dia bergerak."
"Ah! Cepat panggil pangeran."
"Baiklah, aku akan pergi, kau jaga dia disini."
"Jangan lama-lama."
"Iya-iya, aku tahu."
Ada suara langkah kaki menjauh, dan keheningan melanda. Dari suara dua orang yang berbicara tadi Baekhyun bisa menebak kalau mereka adalah pria dewasa karena suara yang rendah. Tak lama kemudian, akhirnya ia mampu membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat saat penglihatannya kembali jelas adalah langit-langit atap berwarna coklat tanah. Saat ia melihat sekeliling juga terlihat sama, semua serba dinding polos berwarna coklat tanah. Bahkan saat Baekhyun mencoba duduk, ia baru menyadari ia terbaring di atas ranjang datar yang juga berwarna coklat tanah dimana bentuk ranjang menyatu dengan dinding dan lantai yang juga berwarna coklat tanah.
Dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, tak ada jendela atau hiasan dinding sama sekali. Atapnya juga terlalu rendah, dengan tinggi sekitar dua meter. Jika Baekhyun berdiri dan mengkat tangan, ujung jarinya pasti akan menatap langit-langit berwarna coklat tanah itu. Satu-satunya jalan keluar hanyalah satu pintu tanpa daun pintu yang hanya tertutupi tirai kain yang terbuat dari kulit kayu.
Baekhyun duduk di atas ranjang. Ia memegang kepalanya yang terlilit sebuah perban. Dan ia baru sadar ia telah kehilangan tas ransel dan tongkat sihirnya.
"Kau baik-baik saja?"
Suara itu mengalihkan perhatian Baekhyun. Seseorang mengintip dari balik tirai pintu, lalu masuk dengan langkah pelan dan gerakan ragu. Pria itu sangat pendek, dengan tinggi sekitar satu meter. Memakai topi kerucut berwarna kuning yang menutupi seluruh rambutnya, memiliki janggut panjang berwarna putih yang membingkai pipi dan dagunya hingga menutupi lehernya. Matanya bulat dengan pupil berwarna emas. Pipinya yang chabby mengapit hidungnya yang kecil di tengah-tengah. Kulitnya berwarna putih pucat, wajahnya bulat dengan telinga runcing di kedua sisi wajahnya. Ia melihat ke lantai sambil memilin jari-jari mungilnya pada ujung bajunya.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya pria pendek yang terlihat seperti kurcaci itu.
Baekhyun mengerjap, masih tak percaya dengan sosok sangat pendek yang berdiri di hadapannya. Ini pertama kalinya ia melihat makhluk semacam peri kurcaci secara nyata. Baekhyun sudah membaca seluruh buku-buku catatan ayahnya mengenai macam-macam makhluk langit, dan ada yang memiliki ciri-ciri sama seperti makhluk kurcaci di hadapannya, ia pun dapat menebaknya. "Kau... dari bangsa gnome?" tanya Baekhyun memastikan.
Gnome sendiri adalah peri-peri tanah bertubuh mungil yang hidup secara berkelompok dan terisolasi dari makhluk-makhluk lainnya di dalam hutan.
"Bukankah itu sudah jelas?" balas gnome itu. "Kau berada di rumah kami."
"Ah," sekarang Baekhyun mengerti mengapa seluruh tempat ini terbuat dari tanah. Baekhyun lalu tersenyum. "Terima kasih sudah mau menolongku."
"Kami hanya menemukanmu jatuh di depan pintu rumah kami."
"Tetap saja, aku sangat berterima kasih," balas Baekhyun. "Siapa namamu?"
"Diduatiga."
Baekhyun mengerjap. "Apa?"
"Diduatiga," ulang gnome tersebut.
Alis Baekhyun berkerut, tidak yakin. "Itu namamu?"
"Ya," peri kurcaci itu mengangguk. "Apa ada yang salah dengan namaku?" tanyanya melihat bagaimana ekspresi heran Baekhyun.
"Oh tidak, tidak ada yang salah." Baekhyun lekas menggeleng.
"Kalau kau, siapa namamu?"
"Baekhyun."
Giliran gnome bernama Diduatiga itu menatap heran Baekhyun. "Namamu sangat aneh," komentarnya lalu.
Baekhyun pias, tak tahu harus memasang raut wajah apa.
Seorang kurcaci lain kembali masuk. Wajah dan perawakannya tidak jauh beda dengan gnome sebelumnya. Bahkan terlihat kembar, hanya topi kerucutnya yang berbeda, berwarna biru laut. Gnome bertopi biru itu agak tersentak melihat Baekhyun telah duduk di atas ranjang. Gnome itu cemberut –entah karena alasan apa, lalu berbicara dengan nada rendah. "Pangeran kami memanggilmu."
"Pangeran?"
"Hm, ikut kami," pinta gnome yang baru tiba tersebut. Ia berbalik, keluar dari ruangan. Sementara Diduatiga mengulurkan tangan mungilnya, menarik kain jubah Baekhyun agar serega berdiri dan mengikuti mereka.
Baekhyun berdiri. Lalu menunduk, melihat bagaimana tinggi para gnome itu hanya sebatas pinggangnya. Sekilas Baekhyun merasa dirinya memiliki tubuh yang sangat tinggi. Jika saja bayangan tubuh Chanyeol yang jauh lebih tingii darinya tidak masuk dalam pikiran si penyihir mungil itu.
Oh, bagus. Dia baru sadar dan dia langsung teringat tentang pemuda berambut merah itu.
"Em, Diduatiga," panggil Baekhyun. Nama itu masih terasa aneh saat ia mengutarakan dan mendengarnya sendiri. Ia menunduk ke samping, melihat gnome bertopi kuning yang sedang menarik jubahnya seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya. Lupakan mengenai janggut lebat putih yang dimiliki gnome tersebut. "Berapa lama aku tak sadarkan diri."
"Jika itu dihitung sejak kami menemukanmu, itu sudah 18 jam."
"A-apa?" Baekhyun terkejut, tentu saja. Ia melihat sekeliling, dikedua sisi dinding koridor lantai dan atap yang mereka lalui semua serba berwarna coklat tanah dan datar. Tak ada jendela atau hiasan apapun, hanya botol kaca yang digantung di sepanjang dinding berisi kunang-kunang sebagai pencahayaan koridor tersebut, sama seperti di ruangan dimana Baekhyun terbangun tadi.
18 jam lamanya ia sudah tertidur, dan Baekhyun mulai bertanya-tanya sebenarnya dia berada di mana. Seingatnya ia jatuh berguling sepanjang daratan miring sampai jatuh ke dasarnya hingga Baekhyun merasa dunia terasa begitu gelap kala itu. Dan Baekhyun tidak percaya hingga sekarang Chanyeol belum bisa menemukannya.
Ah, Baekhyun hampir lupa kalau ia memang sengaja ingin memisahkan diri dari pemuda rambut merah itu. Tanpa sadar, ia kembali memikirkan Chanyeol.
"Sebenarnya ini di mana?" tanya Baekhyun lagi.
"Di rumah kami."
"Aku tahu, tapi maksudku, dimana lebih tepatnya? Sejak tadi yang kulihat hanyalah bangunan datar berwarna coklat tanpa jendela dimana pun."
"Bukankah itu sudah jelas?" balas Diduatiga. "Kami para gnome, peri tanah yang hidup di bawah tanah."
Baekhyun ingin sekali membenturkan keningnya ke dinding terdekat. Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu dan malah terus memikirkan tentang Chanyeol?
"Ah," Baekhyun melihat sekeliling, ingin mengalihkan pemikirannya dari sosok berambut merah yang terus tergiang di pikirannya. "Siapa namanya?" Baekhyun menunjuk gnome bertopi biru yang berjalan lima langkah di depan mereka.
Diduatiga mengikuti arah telunjuk Baekhyun. "Namanya Diduadua."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Jangan bercanda."
"Aku tidak pernah bercanda," balas Diduatiga.
"Jangan bilang, di sini juga ada namanya Diduasatu, Didualima, atau bahkan Disembilanbelas?" Baekhyun meracau tidak jelas.
Tapi gnome bernama Diduatiga di sampingnya menganggap Baekhyun serius. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa penyihir juga mempunyai kemampuan meramal?"
Baekhyun tak tahu lagi ini sudah keberapa kalinya ia memasang wajah pias. Dan tiba-tiba suara Chanyeol yang pernah berbicara di markas centaur lalu kembali tergiang dalam benak Baekhyun.
"Ayahku bernama Chanyeol minus satu, dan ibuku bernama Chanyeol zero. Semua keluargaku bernama Chanyeol."
Baekhyun mulai meragukan apa Chanyeol saat itu hanya bercanda atau sangat serius. Dan kenapa juga ia kembali teringat tentang Chanyeol dimana Baekhyun sendiri yang pertama memutuskan untuk meninggalkan pemuda berambut merah tersebut.
Sekali lagi, Baekhyun ingin membenturkan kepalanya di dinding.
"Kita sampai," suara gnome bernama Diduadua yang memimpin jalan mereka berhasil membuyarkan lamunan Baekhyun. Mereka telah tiba di ruangan yang lebih luas. Ada meja panjang persegi panjang dan kursi kubus yang terbuat dari tanah dan menyatu dengan lantai. Di atas meja sudah tersaji berbagai makanan buah-buahan serta daging bakar dengan alas tumpukan dedaunan hijau. Saat itu pula Baekhyun bisa merasakan perutnya berkerut, meraung meminta makanan. Penyihir mungil itu menjilat bibirnya lapar.
"Pangeran telah tiba," suara dari arah koridor lain berseru. Baekhyun menoleh, melihat ke arah sumber suara. Dari koridor lain terdengar beberapa langkah kaki yang mendekat. Baekhyun penasaran, dan alisnya makin berkerut melihat bayangan mereka dari koridor itu mulai mendekat.
Ada lima gnome bertubuh pendek yang berwajah sama namun dengan warna topi yang berbeda-beda. Di antara para gnome yang berdiri melingkar itu, di tengah-tengah berdiri sosok yang lebih tinggi, setinggi tubuh Baekhyun sendiri, dengan wajah yang sangat familiar bagi Baekhyun. Mata bulat itu, pundak mungil, bibir berbentuk hati, serta wajah bulat. Baekhyun bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Kyungsoo?" Baekhyun melangkah, tapi lima gnome berdiri berjejer di hadapannya, menghalanginya mendekati pangeran mereka.
"Jaga perilakumu, jangan lantang mendekati pangeran kami begitu saja," ujar salah satu gnome bertopi ungu.
"Pangeran?" tanya Baekhyun memastikan. "Dia pangeran kalian?"
Diduatiga yang berdiri di sampingnya mengangguk.
Tapi Baekhyun menggeleng. "Tidak." Ia menunjuk pemuda yang tingginya sama dengannya. "Dia Kyungsoo. Dia adikku!"
"Beraninya kau–" gnome bertopi ungu itu mengacungkan tombak runcingnya ke leher Baekhyun.
"Hentikan Didualima," seru pangeran mereka. Gnome bertopi ungu itu menghentikan gerakannya. Mata bulat pangeran gnome beralih menatap Baekhyun. "Aku tidak tahu siapa yang kau maksud, tapi biar kuperjelas," suaranya yang rendah sungguh mirip dengan Kyungsoo, hanya nadanya yang berbeda, terdengar lebih datar. "Namaku Dio. Pangeran sekaligus ketua yang memimpin bangsa gnome di sini. Aku bukan adikmu, aku bahkan baru pertama kali melihatmu."
Baekhyun tercengang, dan ia baru menyadari kalau pangeran itu sungguh bukan adiknya. Keperawakan dan wajahnya memang sangat mirip dengan Kyungsoo, seperti cerminannya. Tapi rambut coklat dan pupil emas berkilat yang dimiliki pangeran itu jauh berbeda dengan milik Kyungsoo yang hanya berwana hitam rambut maupun pupil matanya. Serta aura tegas dan penuh keangkuhan itu berbeda jauh dengan adik Baekhyun yang lebih penyayang meski dia cepat marah.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba dia sangat rindu dengan adikknya. "Kau benar. Maaf, aku telah salah mengenalimu.".
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Baekhyun duduk di salah satu kursi kubus di depan meja persegi panjang dimana terdapat bermaca-macam makanan tersaji. Di seberang meja duduk sang pangeran gnome bernama Dio. Sementara para gnome lain hanya berdiri mengelilingi meja tersebut tanpa ingin duduk ataupun makan. Saat Baekhyun tanya kenapa, para gnome itu menjawab bahwa mereka sudah makan tadi.
"Terimakasih banyak," ungkap Baekhyun setelah ia merasa perutnya terisi dengan penuh. Andai Chanyeol ada di sini, pasti dia akan senang.
Ah, dia mengingatnya lagi...
Baekhyun menggeleng keras.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dio di seberang meja.
"Ah, tidak apa-apa." Baekhyun tersenyum. "Aku bersyukur kalian yang menemukanku saat aku tak sadarkan diri. Kalian sangat baik," pujinya. "Kalian mau mengobatiku, membiarkan aku menginap di sini, dan juga memberikanku makanan yang enak. Aku sungguh berterima kasih." Baekhyun menguap, ia lalu tersenyum malu. "Sepertinya karena terlalu kenyang, aku jadi mengantuk. Maaf."
Dio tersenyum kecil. "Jadi, apa kau seorang penyihir Titus?" tanyanya tiba-tiba. "Saat kami menemukanmu, kau memegang tongkat penyihir Titus, tapi kami tidak menemukan lambang penyihir Titus di tengkukmu. Siapa kau sebenarnya?"
"Ah," Baekhyun mengangguk. Tanpa sengaja ia melihat ke piring sang pangeran dan menemukan makananya terlihat utuh, tak tersentuh sama sekali. "Aku hanyalah penyihir pengembara biasa," Ia sekali menguap, matanya tiba-tiba terasa berat. "Aku bukanlah golongan penyihir Titus atau Alphin." Baekhyun menggeleng, mencoba menhilangkan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya. "Mengenati tongkat yang kubawa..." kepalanya mulai terasa berat. "...itu milik temanku yang dulu seorang penyihir Titus, tapi dia sudah..." Baekhyun tak bisa menahannya lagi, kepalanya terjatuh di atas meja, kelopak matanya yang berat tertutup dan kesadarannya pun menghilang.
Senyuman Dio menghilang. Ia menatap datar ke arah penyihir mungil itu. "Sudah dipastikan, dia yang sedang dicari-cari saat ini." Ia berdiri, lalu beralih menatap ke arah para gnome. "Ikat tubuhnya dengan erat," pintahnya tegas. "Aku sendiri yang akan membawanya ke Durya, menyerahkannya pada penyihir Titus."
"Baik!" seru para gnome lainnya.
.
.
.
~ZELONIA~
.
.
.
Chanyeol meluncur turun menuruni daratan miring yang curam dengan pose berdiri menyamping, sedikit membungkuk di bagian depan. Persis seperti pose manusia yang sedang berselancar di bawah ombak yang menerjang. Setelah mendarat di dasar jurang yang paling rendah, pemuda berambut merah itu duduk berjongkok. Ia mengendus-ngendus tanah yang dipijaknya, seperti binatang yang sedang melacak menggunakan baunya.
Chanyeol menoleh, lalu berdiri, menghadap sebuah gua kecil yang tertutupi dinding tanah. Ia lalu bergerak merenggakan otot-ototnya. Chanyeol sudah menunggu semalaman, dan batas kesabarannya mulai habis. Ia tahu bagaimana sifat Baekhyun yang keras kepala. Penyihir mungil itu akan terus bergerak maju dan mencari ayahnya tanpa ingin berhenti terlalu lama. Jadi apapun yang terjadi, Baekhyun pasti akan kembali ke jalur menuju arah timur dimana kerajaan Alphin berada. Namun setelah hampir 24 jam Chanyeol menunggu, Baekhyun tak juga kembali ke jalur itu.
Ditambah dengan firasatnya yang semakin kuat, Chanyeol yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Ouh, betapa aku tidak ingin terlibat masalah dengan bangsa lain," gerutu Chanyeol seorang diri, tapi detik berikutnya ia mengangkat bahu tak peduli. "Yeah, apa boleh buat."
...
Sebuah guncangan besar yang terjadi membuat para gnome yang beraktifitas di rumah mereka terhenti. Ada suara ledakan besar dari arah pintu keluar. Seketika mereka panik.
"Ada penyusup!" teriakan itu terdengar sepanjang lorong menuju jalan keluar. Satu persatu botol kaca yang menempel di dinding mereka hancur dan para kunang-kunang terbang melarikan diri. Seketika seluruh ruangan dan sepanjang koridor menjadi gelap gulita. Para gnome bersiaga dengan senjata tajam mereka masing-masing.
"Dimana pangeran?" bisik salah satu di antara mereka dalam kegelapan yang mencekam.
"Pangeran sudah pergi ke Durya membawa penyihir itu tiga jam yang lalu."
"Kapan dia akan kemba–"
Sebuah guncangan kembali terdengar. Mereka semua tegang. Merasa hidup mereka tengah dipertarukan dalam kegelapan.
"Apa tidak ada diantara kalian yang mempunyai pencahayaan?" tanya salah satu gnome lagi.
"Ada." Namun suara yang menjawab itu terdengar berbeda dengan suara para gnome. Terdengar jauh lebih berat, bass, dan penuh penekanan. Saat mereka semua mencoba mencari sumber suara asing itu, saat itu pula sebuah bola api menyala, melayang-layang di udara.
Perlahan, cahaya dari bola api itu menerangi orang di sampingnya. Seseorang dengan tubuh yang menjulang tinggi, berambut merah dan duduk berjongkok di tengah ruangan, di antara tubuh pendek para gnome.
"Hai," sapanya santai, tak merasa aneh dengan bola api yang tengah melayang di atas telapak tangannya. "Karena aku sudah membuat penerangan buat kalian. Bisakah kalian menjawab pertanyaanku?"
Chanyeol menjetikkan sebelah jarinya lagi, dan sebuah bola api lain muncul dari telapak tangan satunya. Dengan dua bola api yang melayang di kedua tangannya, sebuah seringai kejam terbentuk di wajah tampan si merah.
"Dimana tikus mungilku?"
.
.
.
.
.
.
To be continue...
.
.
.
_o0o_
~ZELONIA~
_o0o_
Review?
~Sayaka Dini~
[20 JULI 2016]
.
.
.
.
A/N: Jika ada yang bertanya kenapa Sehun dan Kai pergi? Well, itu karena sejak awal, petualang ini hanya milik Baekhyun dan Chanyeol. Tapi tidak menutup kemungkinan Kaihun akan muncul lagi. Tergantung dari alur ceritanya nanti. Gak mau panjang-panjang, aku targetnya ini sampai 10-15 chap aja.
Maaf, gak sempat balas review satu-satu... tolong maklumi keadaan saya yang sudah kembali kerja di awal tahun ajaran baru ini. Mana Aya lagi-lagi terpilih jadi wali keals, ehem,ehem, yang merasa tahun kelahiran 2000-1999 dan baru masuk tahun ajaran baru di kelas sepuluh. Waspadalah, siapa tahu yang menjadi wali kelasmu itu adalah Aya yang sedang menyamar. Hahahahahaha~
Tak pernah bosan untuk update bareng dengan author chanbaek kesayangan berikut:
Pupuputri; Princepink; Baekbychuu; Redapplee; Dee Stacia; Ichativa; Oh Yuri; Kang Seulla; Railash61; Flameshine; Uchanbaek; Sebut Saja B, Jongtakgu88; Cactus93.
Silahkan cek fanfic mereka masing-masing~
See ya~
Review yah reader yang baik hati dan tidak sombong seperti Chanyeol~ #wink