Disclaimer :
Anime Naruto belong to Masashi Kishimoto.
Storyline belong to me.
Pairing :
Nejiten
Genre :
Romance, AU, Drama
Rating :
T
Warning :
Typo(s), OOC, dan Don't like, Don't read, bahasa acakadut, sangat menerima review^.^!
.
.
.
TROUBLEMAKER SENPAI-NIM
.
.
.
[Flashback]
"Ten, seriusan kamu masuk teknik sipil?" Sakura menghentikan suapan udonnya dan menatap serius ke arahku.
Aku meresponnya dengan anggukan singkat sambil tetap fokus menghabiskan banana split yang tadi kupesan.
Ino dan Sakura berpandangan dengan kaget.
"Eh, memangnya kenapa kalau aku masuk teknik sipil?" tanyaku polos
"Bukannya begitu, tapi beneran kamu kuat kuliah disana? Aku dengar populasi mahasiswi disana gak lebih dari 30 persen loh. Apalagi fakultas teknik terkenal sama senioritas dan tugas-tugas kuliahnya yang bejibun." Ino mencoba mempengaruhi keputusanku
Glek!
"Mau gimana lagi? Otousan ingin aku masuk jurusan itu, aku tidak punya banyak pilihan."
Sakura melempar senyum prihatin ke arahku.
"Kau benar-benar anak yang berbakti Ten, jika aku jadi otousanmu aku akan sangat bangga." jawab gadis bersurai pirang itu sambil menepuk pundakku dengan bangga.
"Ten, coba kau pertimbangkan lagi, apalagi kau itu agak alergi cowok. Masuk teknik sipil sama aja dengan bunuh diri."
Kali ini aku tertegun..
Benar juga, Aku Fujishima Tenten putri tunggal dari Fujishima Hirota pemilik perusahaan kontraktor terkenal, Shima corp (sekaligus calon pewarisnya juga). Fakta lainnya? Aku agak sedikit alergi cowok. Yah, sedikit...
"Ah kalian berlebihan... Aku akan baik-baik saja. Nanti aku akan sering-sering main ke fakultas kalian kok!"
.
.
.
Itu percakapan kami sebulan yang lalu saat kami bertiga berhasil lolos ujian tulis Hidden Leaf University.
Aku, Ino dan Sakura adalah tiga serangkai legendaris di Konoha Girls Academy. Kami benar-benar tak terpisahkan, bahkan saat kelas 10 Ino rela memohon-mohon pada Shizune sensei agar ditempatkan di kelas akselerasi sekelas dengan aku dan Sakura. Shizune sensei kaget bukan main waktu itu, pasalnya Ino adalah siswi pertama yang masuk kelas aksel dengan sukarela. Jadi setelah melalui serangkaian test panjang, gadis pirang itu lulus Test dan kami bertiga sekelas sampai tamat SMA. Hasilnya, tiga serangkai ini selalu bersama dan lulus Sekolah Menengah Atas setahun lebih awal.
Tapi untuk jurusan kuliah pilihan kami berbeda-beda. Sakura masuk jurusan pendidikan dokter umum, Ino masuk jurusan fashion desain, dan aku... teknik sipil.
Teknik sipil... teknik sipil... teknik sipil...
Arrgh, aku tidak tahu lagi!
"Hey kamu rambut coklat! Cepat maju jangan bengong! teriak seorang senior laki-laki padaku.
Aku menunduk dengan gugup, Hari ini adalah hari pendaftaran ulang untuk seluruh calon mahasiswa Universitas Hidden Leaf. Karena pendaftarannya serentak, jadi disinilah aku, terjebak sendirian ditengah lautan cowok-cowok calon teman sejurusanku. Parahnya sejak pagi, aku belum bertemu satupun mahasiswa teknik sipil perempuan. Hadehh..
"Oke, berkas-berkasnya lengkap, silakan menuju stand perlengkapan orientasi."
"Baik kak..."
"Eh, tunggu. Berapa nomer hpmu dik? Udah punya pacar belum?" tanya senior yang tadi memeriksa berkas pendaftaranku sambil tersenyum lebar.
Eh? Apa-apaan ini?
"Mmaaf kak, saya gak hapal nomer hp." setelah memberikan alasan palsu, aku bergegas pindah ke stand lain.
Sorak-sorai para senior terdengar nyaring di belakang punggungku, bahkan beberapa ada yang memanggil-manggil namaku.
Yaampun, ini sebenarnya kenapa sih?
Makin banyak senior-senior yang jahil padaku setelah kejadian itu. Ada yang bersiul-siul tak jelas, ada yang lirik-lirik ganjen, bahkan ada yang mendekatiku secara langsung plus minta nomer hp. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau kucolok mata-mata kurang ajar mereka satu persatu?
Ting! You Got a Message!
Eh, sms?
From : Forehead(love)
Ten, udah selesai registrasi? Kita tunggu di kantin universitas ya..
ps : disini ada banana split loh! ^v^
BANANA SPLIT?!
To : Forehead(love)
OKE! (love)
...
"Ten, pelan-pelan makannya, liat tuh, kececer.." Ino menunjuk ceceran remah-remah banana split yang tersebar di sekitar meja.
"HUAAAA AKU KESEL!"
"Kenapa Ten? Ayo cerita.." bujuk gadis bersurai pink itu sambil menyendok sundae strawberrynya.
"Tadi aku digangguin.. AAAAH POKOKNYA KESEL!" teriakku frustasi, untung kantinnya sepi..
Ino menyedot milkshakenya dengan santai. "Tuhkan, udah kubilang. Pertimbangin lagi, gini kan jadinya."
"Inoo, jangan gitu ah!" jawab Sakura sambil menyentil dahi si pirang itu. "Udahlah, ini keputusanmu. Jalani aja Ten, aku tau kamu bisa."
Aku tersenyum lega, Sakura memang selalu bisa diandalkan dalam situasi sulit. "Thanks Saku, glad to have you."
"No prob dear.. Abisin dulu banana splitnya, nanti kan ada pengukuran seragam resmi masing-masing fakultas."
"Hei, cuma Sakura aja? Aku gimana? Kamu gak beruntung punya aku?" tanya Ino sambil memasang ekspresi sok kecewa.
"Gak ah, kamu kan jahat!"
Si pirang itu mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Yaampun anak ini...
"Iya aku beruntunggg sekali punya teman cerewet dan rempong macam kamu." jawabku sambil mencubit pipinya
"Gosh! TENTEN! AKU SUDAH SUSAH PAYAH BERDANDAN SECANTIK INI DAN KAU MERUSAKNYA? Sini, akan kutunjukkan seberapa besar rasa sayangku padamu!" Ino berusaha mencubit pipiku, tapi aku berhasil mengelak. Haha!
"Ck! Dasar sekumpulan anak Sekolah Dasar!" Sakura geleng-geleng prihatin melihat tingkahku dan Ino. "Tapi Ten, kamu digangguinnya itu kayak gimana?"
Bahkan aku belum memulai ceritaku, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.
Jeng jenggg... ternyata mereka adalah senior-senior yang tadi pagi mengganguku.
"Hey Venus, Fujishima Tenten! Ingat nanti datang ke stand pengukuran baju fakultas ya!"
Aku memalingkan wajahku dengan cepat. Haduhh...
Sakura dan Ino bengong di tempat melihat kegaduhan yang tiba-tiba terjadi di kantin ini.
Setelah senior tinggi itu puas memanggil-manggil namaku, teman-teman senior itu mulai menggodanya dan terus bersiul-siul dengan norak. Bahkan Sakura dan Ino ikut kena getahnya, beberapa senior terus memanggil-manggil mereka sebagai si pink dan si pirang.
Ini harus dihentikan!..
Aku berdiri dan membalik badanku, memberanikan diri menatap senior-senior itu satu persatu tepat di kedua iris mereka, "Baik senpai.. Aku akan segera kesana setelah ini." kemudian membungkuk hormat pada mereka.
Setelah mendengar jawabanku mereka kemudian pergi. Beberapa ada yang mengacungkan jempolnya ke arahku, ada yang langsung berkasak-kusuk mengenai reaksiku, bahkan ada yang makin semangat menggoda kami bertiga.
Dasar segerombolan orang aneh!
"Heuh... Seperti itu lah Sakura..." Aku menghela nafas dengan pasrah "Lihat kan?"
"GILA KAU TEN! TADI ITU SENIOR SEMUA?" teriak mereka berdua bersamaan
Jeez, ngapain pula kunyuk-kunyuk ini malah teriak-teriak?
Aku merespon mereka dengan anggukan malas.
"Dan apa tadi? Mereka memanggilmu venus?! HAHAHA YAAMPUN INI KATJANG BANGET!" tanya Ino tak percaya lalu tertawa terbahak-bahak
Sakura juga ikut tertawa, "Ten, congratulation! You're a venus now! Semoga kamu makin feminim gara-gara ini."
"No.. no.. no... Feminim bukan gayaku."
"Ck! Ini kesempatanmu untuk dapat pacar Ten! Lagipula kau termasuk lumayan banget dari segi tampang. Pasti gampang dapetnya deh."
"Haruno Sakura, aku tak tertarik punya pacar." jawabku mutlak
Ino mendecih, "Ayo kita taruhan, aku bertaruh kau akan segera ditembak 3 laki-laki dalam 3 bulan ini. Kalau aku kalah, kau boleh ambil salah satu gaun favoritku."
Aku memutar bola mataku, "Ino, aku tidak menginginkan salah satu pakaian feminim milikmu! Traktir aku makan saja gimana?"
Kali ini Ino yang memutar bola matanya, "As expected, Ok, I'll buy you a meal if I lose to you. Deal?"
"Deal!" Aku menjabat tangan si pirang itu sebagai tanda persetujuan.
"Serius deh, kalian jadi mirip kakek-kakek penggila judi kalau lagi taruhan.." Sakura menggumam ditengah kesibukannya menghabiskan sundae strawberrynya
"Lumayan tau gak perlu keluar duit buat makan." elak si pirang sambil memainkan sedotan di gelas milkshakenya
"Duit apanya, omg pig. Sadarlah judi itu dosa!" Sakura melotot menatap Ino.
Ok, yang terjadi selanjutnya pasti mereka akan berdebat..
"Kau kenapa sih, kita cuma taruhan tau! Gak judi!" balas Ino nyolot. "Ya kan Ten?"
Tuh kan, apa kubilang..
Aku hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli sambil menekan-nekan layar ponselku.
Jadi siang itu aku nongkrong di kantin universitas sambil ditemani perdebatan antara Sakura vs Ino yang kali ini membahas tentang perjudian.
Mungkin mereka akan sakit jika tidak berdebat sehari saja.
Kalaupun berdebat bisa kok pilih topik yang lain! Kurasa kewarasan mereka berdua patut dipertanyakan saat ini.
.
.
.
Ini dia, aula utama milik fakultas teknik. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sebanyak tiga kali. "Oke, FIGHTING TENTEN!" teriakku dalam hati, menyemangati diriku sendiri.
"Hei, lihat itu si maba bening..."
"Eh, mana?"
"Wah iya... dia cantik banget, biarpun agak tomboi."
"Aku penasaran kalau dia pakai dress akan terlihat seperti apa. Pasti fantastis!"
"Lihatlah badannya, tinggi dan langsing. Seperti super model!"
"Aku bersyukur masuk fakultas teknik..."
"Sepertinya dewi venus benar-benar ada."
Seperti dugaanku, banyak senior dan maba berkasak-kusuk heboh, bahkan banyak diantara mereka yang berani menatapku secara langsung. Dan ada juga yang sampai bengong...
"Cuek saja Ten! Ini cuma pengukuran seragam resmi, tidak akan lama.."
...
"Selanjutnya,"
"Konnichiwa, aku Fujishima Tenten, dan ini berkas-berkasku." ujarku sambil memberikan map berisi berkas-berkas. Yaampun, akhirnya disini ada mahasiswi! Biarpun senior sih..
"Ah, kau si bening! Kalau begitu langsung saja masuk ke bilik ganti, nanti kalau sudah selesai ingat kembali kesini untuk melapor apa ukuran seragammu."
"Baik senpai." jawabku lalu membungkuk hormat
Aku bergegas mencoba baju seragam yang ada di bilik.
Ah, ukuran seragamku M.
"Aku sudah selesai senpai, ukuran seragamku M."
"Sudah kuduga, baiklah kau bisa kembali."
"Arigato gozaimasu senpai."
"Hn, doumo.. Eh, bening! tunggu sebentar!"
Aku membalikkan badanku. "Hai, Ada apa senpai?"
"Kau dari SMA mana?"
"Saya dulu bersekolah di Konoha Girls Academy dan lulus setahun lebih awal."
Ada ekspresi kaget di wajahnya, kemudian dia berbisik pada rekannya, samar-samar aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, "Dia ternyata akselerasi KGA! Harusnya angkatannya baru jadi maba tahun depan."
"Ah, satu lagi. Berapa peringkat test tulismu?" tanya senior satunya padaku.
"Oh, saya peringkat 5 senpai."
Mereka melotot saking kagetnya. Bukan rahasia lagi, soal-soal test teknik sipil itu tingkat kesulitannya bisa dibilang cukup ekstrim. Maka dari itu, aku dengar teknik sipil Hidden Leaf punya tradisi khusus, bagi siapapun yang memperoleh peringkat 10 besar di Ujian Saringan Masuk (USM), maka mereka akan disebut sebagai 'The Big Ten' di angkatan mereka. Dan sepertinya aku adalah anggota kelima dari The Big Ten.
"Wah! Jadi kamu salah satu The Big Ten di angkatan yang baru! Perkenalkan, aku Kurotsuchi, jurusan Teknik Lingkungan sekaligus ketua Kelompok Pers Mahasiswa di fakultas ini." senpai berambut coklat yang mengenalkan dirinya sebagai Kurotsuchi mengulurkan tangan padaku.
Aku membalas jabatan tangannya, "Fujishima Tenten desu. Salam kenal Kurotsuchi senpai."
"Dan perkenalkan, aku Ayame jurusan Teknik Lingkungan juga sekaligus manajer klub basket di fakultas ini." senpai satunya ikut mengenalkan dirinya padaku.
"Fujishima Tenten desu. Salam kenal juga Ayame senpai."
"Ah, Tenten. Aku boleh minta nomer hpmu? Aku perlu mewawancarai para The Big Ten tahun ini untuk majalah intra fakultas." Kurotsuchi senpai menyodorkan ponselnya padaku dan mengisyaratkan untuk mengetik nomer hpku di ponselnya.
"Ah, Hai.. Sudah senpai."
"Ah terima kasih. Aku akan segera menghubungimu."
"Sama-sama senpai, kalau begitu aku permisi dulu."
"Tentu saja, sekali lagi terimakasih."
"Hei, kami akan membentuk tim basket putri, kau lumayan tinggi jadi cobalah ikut seleksinya setelah masa orientasi!"
"Baiklah, akan kupertimbangkan senpai.."
Wah ternyata disini akan ada tim basket putri! Mungkin aku akan mempertimbangkannya.
...
Aku berjalan dengan cepat sambil memasang ekspresi cuek, demi semua lingerie mahal Ino! Aku harus cepat keluar dari aula ini!
Tanpa sadar pandanganku tertumbuk pada seorang pemuda tinggi yang berjalan di depanku, sosoknya sangat familiar. Rambut itu, postur badan itu, ekspresi wajah malas dan mengantuk yang khas itu...
Mungkinkah?
Aku menepuk pundak pemuda berkuncir satu itu, semoga aku tidak salah orang, "Shikamaru?"
"Tenten?! Yaampun, siapa ini? Akhirnya aku bertemu sahabat SMPku!" pemuda itu refleks memelukku saking gembiranya.
Tebak apa yang terjadi? Semua mahasiswa baru dan senior yang ada di ruangan itu menatap kami dengan kaget. Bahkan ada beberapa senior laki-laki yang menatap marah pada Shikamaru sambil menyumpah.
"Shika hentikan! Sesak nih!" jawabku lalu terkekeh.
" Ah, maaf.. Aku terlalu senang. Mustahil sekali bertemu denganmu bahkan jika itu disengaja sekalipun."
"Kau berlebihan!" aku meninju dadanya dengan geli, yup. Kebiasaan kami waktu SMP. Dia biasa menyentil atau menjitak dahiku, dan aku biasa memukul dada atau punggungnya. Sampai-sampai dulu banyak yang mengira kami adalah saudara atau, hmm... pacaran? Ah, seperti bernostalgia!
"Kau masih sama! Hanya saja, kulitmu tambah putih dan posturmu lebih tinggi." dia menatapku dari atas sampai bawah secara berulang. "Ten! kau cukup tinggi untuk ukuran perempuan, berapa tinggi badanmu?"
"Ah, aku tidak yakin... Terakhir kali aku mengukurnya saat kelas 11, kalau tidak salah sekitar 172 cm."
"Sugoi! padahal dulu kau lebih pendek dariku dan masih 165 cm waktu kelas 7."
"Sekarang pun masih sama!"
Pemuda itu terkekeh geli.
"Mau makan siang bareng? Banyak yang pingin aku ceritain ke kamu Shika! Lagipula kamu gak sadar ya kita dari tadi diliatin." jawabku agak berbisik.
"Oh, fans-fansmu? Hahaha... ayo deh!"
"Ih, gak gitu." aku memutar bola mataku dengam malas.
"Ck, kamu gak sadar-sadar ya? Waktu SMP juga sama, kan dulu kamu juga banyak fans Ten!" balasnya telak.
"Udah kubilang gak gitu!"
"Oke okeee, jangan malu gitu dong... Liat tuh, mukamu merah, kkk..." jawab pemuda itu lalu terkekeh geli.
"Ih, Shikaaa!"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N
-Judul ff ini diambil dari tiga bahasa, inggris, jepang, dan korea wkwkwk...
-Tinggi Tenten sebenarnya kalo gak salah 165 cm, tapi disini hun bikin jadi lebih tinggi.
-Cerita ini terinspirasi dari pengalaman perkuliahan pribadi hun dan temen hun di kehidupan nyata dengan pengubahan di beberapa tempat.
.
.
.
BACOT AUTHOR
Hun bawa ff chaptered Nejiten lagi!^O^)√
Q : Sudden Rivalnya gimana Hun? Kok gak update?
A : Sabar yaaa, huhuhuuu... Hun juga lagi sibuk nyari konflik yang mantafff:') *ini konflik malah dicariin* #plak anyway sabar aja ya, pasti update kok, hun bukan tersangka php, tapi korbannya *malah curhat*
Jadi awalnya gara-gara meet up sama temen-temen lama di RL. Nah, dia cerita tuh tentang suka dukanya jadi mahasiswa teknik kayak gimana, *banyak bangettt, sampe telinga hun hampir meleleh gara-gara dengerin cerita mereka wkwkwk -_-* trus hun pikir, hun juga dulu sempat punya pengalaman lumayan berkesan sama salah satu senior di fakultas satu itu pas lagi ospek universitas. trus hun pikir lagi, kalo dijadiin ff kayaknya lucu juga ya.. dan walaaaa~ lahirlah ff ini^0^)/
Akhir kata, ff ini hun posting buat selingan Sudden Rival. Kedepannya fic ini sama Sudden Rival bakalan update selang-seling (gak barengan) semacam saling melengkapi gitu deh, *so sweet.. wkwkwk* dan semoga suka yaaa*blow kiss*
Sudden Rival masih dalam proses, huehehee..
Mind to RnR?
Best Regards,
Sherleenten
Big Thanks to Mr. A, Mr. D, and Mr. G for the story idea.