Caption : Boobs on The Bus Chapter 6/?
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Moonbyul.
Pairing : Chanbaek (Genderswitch ; Baekhyun and other uke as GIRL)
Genre : (crispy) Comedy, Smut, College-life, PWP gaje
Rating : M
Forward :
1 TAHUN BERHASIL UPDATE! Maaf kalo ada yang nungguin updateanFF ini, mungkin udah ga ada ya? :") pokoknya aku lagi mau ngelanjutin ff-ff yang kepending selama ini. Semoga bisa sampe END :")
ohiya, aku juga punya akun wattpad, kalo kalian lebih nyaman di wattpad bisa add aku wheniwasyours_ffn / cari FF ini di wattpad pasti langsung keluar (aku lagi mindahin ff dari sini kesitu, jadi emang on process pindahannya) :))
"Jilat putingku, Chanyeol."
'Diam. Aku sedang patah hati.'
"Ku pikir dia akan bermain lembut.."
.
.
.
"Mengapa kau membawa kondom, Park Chanyeol?"
TAMAT
TAMAT SUDAH RIWAYAT PARK CHANYEOL
Keringat dingin benar-benar mengucur dari dahi turun ke pelipis laki-laki jangkung itu. Ia benar-benar terhimpit dan harga dirinya sudah hancur berkeping-keping. Bahkan ini lebih parah dari sekedar mencuri celana dalam bibi tetangga sebelah rumahnya saat Chanyeol masih di sekolah menengah!
Tamat sudah citra laki-laki tampan berbudi pekerti luhur yang sudah ia bangun sejak 20 tahun hidupnya…
"A-anu.. i-tu milik h-hyungku, sunbae."
"Kau tidak memiliki kakak laki-laki, Park Chanyeol, kau hanya punya satu adik perempuan."
Chanyeol mengernyit mendengar ucapan Baekhyun. Ia tidak mengerti darimana Baekhyun mengetahui struktur pohon keluarganya. Apapun itu, Chanyeol tahu dirinya semakin terlihat tolol dan tidak pantas berada di hadapan perempuan pujaan kaum adam ini.
"Apa kau lupa ada media sosial bernama Instagram, Tuan Park?"
Lelaki jangkung itu melongo. Melongo karena jawaban Baekhyun yang membuatnya tak berkutik, dan melongo karena Baekhyun menyiratkan sesuatu yang membuat Chanyeol ingin berteriak.
Byun Baekhyun. Melihat. Profil. Instagramnya!
A.. apakah itu pertanda bahw-
"Aku terlihat seperti stalkermu, ya?" ujar Baekhyun sambil mengedipkan matanya, menggoda Chanyeol yang sedang megap-megap kekurangan oksigen. Perempuan itu menepuk lembut pipi Chanyeol mencoba menyadarkan si jangkung itu agar berhenti menampakkan wajah bodohnya.
Baekhyun menarik telapak tangan Chanyeol dan menyerahkan sekotak kondom itu pada pemiliknya. Perempuan itu meremas jari-jari panjang Chanyeol yang sedang menggenggam kotak kondom sialan itu, membuat darah laki-laki itu berdesir merasakan lembutnya telapak tangan Baekhyun. Baekhyun tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai dan itu membuat Chanyeol sedikit ngeri.
Baekhyun maju satu langkah, sedikit berjinjit, dan mendekatkan bibir mungilnya di telinga lebar Chanyeol. Deru napas hangat perempuan mungil itu menyapu permukaan kulit Chanyeol. Laki-laki jangkung itu gugup, ia terus meremas tali ranselnya karena Baekhyun menghembuskan napasnya di titik sensitifnya.
Hal itu menjadi sangat berbahaya..
Untuk kesehatan penis Chanyeol..
Atau
Untuk keselamatan lubang vagina Baekhyun malam ini..
"Kau.. bisa menggunakannya kalau mau.." bisik Baekhyun menggantung.
Lima kata itu sukses membuat kedua kaki panjang Chanyeol melemas, Chanyeol meleleh dan gemetar secara bersamaan. Chanyeol menganga, belum bergerak satu inchi pun dari tempatnya berdiri. Sulit baginya untuk mencerna kata-kata perempuan berambut panjang itu.
Byun Baekhyun adalah perempuan paling misterius di dalam hidupnya. Neuron-neuron dalam otak Chanyeol mencoba membuat impuls untuk mengingat bagaimana selama ini Baekhyun memperlakukannya dengan seenaknya. Pada hari dimana perempuan itu mabuk, ia bertingkah diluar kendali Chanyeol.
Liar, erotis, dan berbahaya.
Namun saat Chanyeol bertemu Baekhyun di ruang kelasnya atau di minimarket sore tadi, perempuan itu terlihat seperti seorang malaikat yang jatuh ke bumi. Tatapan matanya begitu menenangkan, senyumannya begitu manis, suaranya lembut, dan perbuatannya tidak melanggar suatu norma kesusilaan.
Chanyeol benar-benar frustasi!
Ia terus mengerjapkan kedua mata bulatnya mencoba mencerna kalimat Baekhyun seperti siswa taman kanak-kanak yang baru belajar cara mengeja. Jantung Chanyeol hampir jatuh ke tempurung lututnya saat menyadari perempuan di hadapannya tengah berjinjit dan menyampirkan handuk putih di kepala dungu milik dirinya.
Tatapan mata sipit itu meluluh lantahkan perasaan Chanyeol. Polos namun berbahaya, hangat namun liar. Chanyeol hanya bisa mematung saat jari-jari lentik Baekhyun terselip di antara helaian rambut basahnya melakukan gerakan menggosok dengan ritme yang lamban.
Atau lebih tepatnya sensual.
Chanyeol merasakan suhu tubuhnya meningkat dengan cepat dan seluruh permukaan kulitnya menjadi sangat sensitif. Bahkan laki-laki jangkung itu tak bisa berbuat banyak saat Baekhyun menarik tubuh jangkung itu, membimbing bokong mereka untuk mendarat di atas sofa tak berdosa itu.
"Apakah Park Chanyeol sudah terbiasa melakukan hal itu?"
Suara lembut itu menginterupsi waktu Chanyeol. Chanyeol kembali memalingkan wajahnya ke arah sumber suara di hadapannya. Ia tercekat dan terpojok.
Tidak.. tidak sunbae! Aku tidak pernah melakukan hal itu! I-ini hanyalah sebuah kecelakaan!
Jika Chanyeol menjawab demikian, Baekhyun mungkin akan kecewa. Kecewa pada laki-laki yang telah menggambar figur dirinya dengan fantasi liar di otaknya ternyata hanyalah laki-laki pengecut yang bahkan tidak bisa meraba dada perempuan.
Iya, aku sempat mencobanya beberapa kali tetapi tidak sehebat dirimu saat di ranjang semalam, sunbae..
Ketololan Chanyeol kembali dalam mode aktif. Bisa-bisanya ia memikirkan jawaban bejat seperti itu. Jika bibir tebalnya berani berucap seperti itu, Chanyeol yakin seribu persen bokongnya akan mendarat di lantai dingin jeruji besi kantor polisi dekat kampusnya.
Main aman atau main gila?
Chanyeol belum mengenal Baekhyun sepenuhnya, maka dari itu lidahnya kelu untuk menjawab. Takut salah melangkah. Banyak pertanyaan-pertanyaan besar menghantui pikirannya tentang siapakah identitas Baekhyun sebenarnya. Atau bagaimana perangai perempuan mungil itu ketika berhadapan dengan laki-laki selain Chanyeol.
Apakah Baekhyun yang selama ini ada di pikirannya adalah Baekhyun yang benar-benar ada di dunia nyata?
Apakah Baekhyun yang selalu bertingkah seduktif di dalam fantasinya adalah Baekhyun yang sama dan melakukan hal-hal tersebut dengan laki-laki selain dirinya?
Hati Chanyeol tergelitik. Seperti ada sesuatu yang membuatnya resah namun ia tidak bisa menginterpretasikannya dalam kata-kata. Ada perasaan aneh yang bercampur ketakutan akan fakta bahwa Baekhyun dalam fantasinya benar-benar nyata di hadapannya.
Ia tahu, bahkan sangat paham bahwa tubuhnya merasa sangat senang akan tingkah Baekhyun yang seduktif, liar, dan nakal. Bahwa bisa saja untuk kali pertamanya Chanyeol akan merasa sangat puas dan mengerti apa arti kenikmatan kegiatan seksual seperti yang banyak dielu-elukan orang selama ini. Ia senang bahwa Baekhyun akan sangat 'handal' memanjakan tubuhnya.
Namun tidak dengan hati kecilnya. Ada sesuatu yang mulai tumbuh, berkedut, berdetak, mencoba memberontak di dalam hatinya. Ada saatnya dimana Chanyeol ingin berteriak dan mendekap perempuan itu, melindungi figur perempuan itu dari dunia luar. Laki-laki itu tahu, banyak 'Chanyeol-Chanyeol' di luar sana yang memiliki pemikiran sama sepertinya mengenai seorang Byun Baekhyun.
"Jawab aku, Park Chanyeol.." Baekhyun menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Chanyeol, menghentikan acara mengeringkan rambut laki-laki itu. Ia menatap kedua mata Chanyeol lamat-lamat, seperti menancapkan sebuah kail ke dalam pupil mata Chanyeol.
Ia butuh kepastian..
"Disini.."
"Kau harus menyentuhnya disini.. mmh.."
Telapak tangan Chanyeol mendarat di atas benda kenyal perempuan itu. Tak ada penolakan dari Chanyeol.
Perempuan mungil itu meringis dan menggigit bibirnya. Telapak tangan Chanyeol benar-benar lebar dan sangat pas untuk payudara miliknya. Ia menunduk berusaha memperbaiki posisi bokongnya di atas kedua paha Chanyeol yang tertutup rapat.
Maafkan aku, sunbae.. tapi aku tidak pernah berbuat seperti itu sebelumnya. B-benda itu hanya sebuah kesalahan.. aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, sungguh.
Kata-kata itu mengalir dari lubuk hati Chanyeol. Tidak.. ia tidak bisa berlagak seperti Jongin, ia tidak bisa mengikuti cara tubuhnya bertindak. Ia masih waras dan Baekhyun pasti akan mengerti hal itu. Chanyeol hanya tidak ingin menyakiti perempuan itu.
Tetapi nyatanya tidak..
Jawaban Chanyeol, kegugupan Chanyeol, ketidak siapan Chanyeol seakan-akan menjadi penentu. Bahwa ternyata Byun Baekhyun yang memasang wajah bersalah tadi sore kini berada di atas Chanyeol, mencengkram pergelangan tangan Chanyeol dan mengantarkannya menuju babak baru dalam hidup laki-laki itu.
Chanyeol putus asa mengetahui Baekhyun membutuhkan dirinya, entah apa alasannya. Ia merasakan jari-jari Baekhyun gemetar dan terasa dingin. Entah karena dinginnya malam itu, nafsu yang tertahan, atau malah kegugupan perempuan mungil itu.
Chanyeol ingin bertanya apakah perempuan di hadapannya bersedia tanpa paksaan atau sebenarnya ketakutan bukan main mengingat tangan mungil itu gemetar ketika menyentuh pergelangan tangannya. Namun Chanyeol kembali bungkam, jari-jari lentik itu kini berusaha melucuti kancing kemeja miliknya satu persatu. Gerakannya risau seperti diburu sesuatu yang Chanyeol sadari adalah nafsu. Perempuan itu menahannya, membuat kedua pipi gembil itu memerah.
"Kau tidak apa-apa, sunbae?"
Chanyeol berusaha mengumpulkan kata-katanya. Suaranya menjadi serak, berat, dan dalam. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi merah itu sembari menunggu si mungil melucuti kemeja miliknya. Baekhyun mengangguk pelan mencoba meyakinkan Chanyeol.
Baekhyun mencoba menyuarakan isi hatinya pada laki-laki di hadapannya.
Sentuh aku..
Raba aku..
Gerayangi aku..
Bukankah ini yang kau inginkan?
Kedua tangan Baekhyun dengan cekatan melepaskan seluruh atasan Chanyeol hingga laki-laki itu bertelanjang dada. Melihat tatapan Baekhyun, mau tidak mau Chanyeol terbawa suasana. Ia ingin bersenang-senang. Ia ingin merasakannya. Ia ingin 'menang' malam ini. Ia hanya ingin melampiaskan apa yang mengganggunya selama ini.
Namun ia ragu..
Chanyeol mengelus rambut hitam Baekhyun dengan perlahan, merapihkan anak-anak rambut yang menutupi dahi perempuan mungil itu. Dengan perlahan Chanyeol membawa bibir mungil Baekhyun untuk menyapa bibirnya. Hanya sekedar menempel untuk menyapa, namun membuat keduanya gemetar.
Chanyeol memang anak baik-baik, tetapi ia pernah berciuman. Beberapa kali namun dapat dikatakan handal karena begitu lihai membuat sinkronisasi antara bibir, lidah, dan seluruh bahasa tubuhnya. Paling tidak Baekhyun akan terbuai olehnya dan Chanyeol tidak perlu ragu lagi melangkah ke tahap berikutnya.
Chanyeol menggerakan bibirnya, mencoba menelusuri bibir merah yang selalu megalihkan pandangannya itu. Bibir Chanyeol terus bergerak menghisap bibir mungil Baekhyun, mengulum bibir bawahnya pelan sesekali menghisapnya. Baekhyun memiringkan kepalanya, mencoba memperdalam kontak bibir mereka.
Tangan besar Chanyeol memang diciptakan untuk merengkuh tubuh perempuan. Tangan besar itu kini meremas pinggang Baekhyun, kehangatannya bahkan terasa sampai ke dalam sel-sel hipodermis kulit Baekhyun. Perempuan itu merapatkan tubuhnya pada dada bidang Chanyeol. Ia memejamkan matanya, menikmati apa yang sedari tadi ia inginkan namun tertahan.
Beberapa kali Chanyeol membuka mulutnya, melumat habis seluruh bibir Baekhyun tanpa ampun. Bibir Chanyeol yang tebal dan basah kini terus membuat Baekhyun kelimpungan. Laki-laki ini terus mendesak pertahanannya, menekan punggung Baekhyun, memperdalam ciumannya. Baekhyun hanya bisa pasrah mengetahui lidah besar Chanyeol mulai merangsek ke dalam rongga mulutnya, mencari lidah miliknya.
Suara desahan lirih, kecapan saliva, atau geraman yang tertahan terus memenuhi seluruh apartemen itu. Tubuh mungil Baekhyun terlonjak-lonjak karena Chanyeol terus menekan-nekan tubuhnya agar tetap berada dalam penguasaan laki-laki itu. Baekhyun kewalahan, beberapa tetes saliva mengalir dari sudut bibirnya. Chanyeol terus memberikan rangsangan pada tubuhnya, tangan besar itu kini menelusup dan menggerayangi pinggulnya.
"Akkhh.. nngghh.."
Baekhyun merintih, ia tidak memprediksi bahwa Chanyeol akan bertindak seliar ini. Gerakannya tergesa-gesa, seperti kehilangan arah terus meremas semua bagian tubuh Baekhyun yang bisa diraih. Baekhyun tidak tahu apakah laki-laki ini benar-benar dikendalikan nafsu atau justru gugup tak menentu.
Tangan gemetar Chanyeol mulai merambat, mengelus perut mulus Baekhyun yang tertutup kaus kebesaran miliknya. Baekhyun mendorong pelan bahu Chanyeol hingga kontak kedua bibir mereka terlepas. Ia menahan bahu bidang itu dengan tangan mungilnya, nafas mereka memburu, kedua pupil mereka menjadi padam. Chanyeol mengangkat ibu jari nya, berusaha mengusap bibir Baekhyun yang basah akibat ulahnya.
"Temani aku, Chanyeol.. malam ini.. bisakah?" kata Baekhyun lirih sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tangannya terus mencengkram pergelangan Chanyeol, kali ini penuh keyakinan dan gairah.
Perempuan mungil itu bergerak turun dari pangkuan Chanyeol sambil menarik tubuh jangkung itu agar masih berada dalam jangkauannya. Baekhyun merebahkan tubuhnya di sofa sementara Chanyeol yang masih sedikit kikuk harus menahan siku kiri nya agar perempuan mungil itu tak keberatan.
Chanyeol bergidik, ia tidak pernah menindih perempuan seperti ini. Saat bertengkar dengan Sooyoung pun ia takkan pernah menindih atau melakukan gerakan-gerakan berbahaya. Jarak mereka terlalu dekat, Chanyeol takut Baekhyun mendengar gemuruh di dadanya. Namun siapa yang bisa menolak saat perempuan penuh pesona itu ada di bawah tubuhmu, dengan rambut berantakan, wajah memerah, dan kaus yang sudah tidak karuan?
"Remas dadaku, Park Chanyeol." Titah Baekhyun sambil melepaskan kaus kebesaran yang sedari tadi mengganggu aksinya.
Bagai gerakan slow motion, Chanyeol bersumpah pemandangan di bawahnya adalah pemandangan paling indah selama ia lahir di muka bumi. Ia ingin meledak detik itu juga. Walaupun semalam ia sudah melihat bagaimana tubuh ramping Baekhyun terekspos, namun sensasi yang ia rasakan kali ini berbeda..
Seperti membuka sebuah hadiah?
Perlahan tetapi pasti tubuh ramping itu melekuk berusaha melepaskan kain yang mengurungnya membuat setiap jengkal tubuhnya terekspos mulai dari perutnya yang rata hingga kedua payudaranya yang bergoyang anggun.
Kini hanya selembar celana dalam beraksen renda berwarna merah muda dengan bra berwarna senada yg menempel di tubuh Baekhyun. Melihat pemandangan itu, Chanyeol kalut. Ia ingin menggerayangi tubuh Baekhyun sepenuhnya namun ia tidak mengerti harus memulai nya dari mana. Baekhyun mulai jengah dengan sifat lamban Chanyeol, ia pun menarik tangan kedua tangan Chanyeol untuk 'hinggap' di kedua payudaranya. Chanyeol melihat Baekhyun berdecak tidak sabar.
"S.. sunbae.. aku tidak per-"
Baekhyun berdecak dan Chanyeol pun membungkam kedua bibirnya. Jari-jari lentik Baekhyun menarik pergelangan Chanyeol dan menempelkan telapaknya tepat di atas payudara kanan Baekhyun yang masih berbalut bra merah muda. Perempuan itu terus berdecak memerhatikan gerak Chanyeol yang begitu lamban, namun di saat yang bersamaan Baekhyun merasa 'menang' karena dapat menguasai laki-laki jangkung yang sedang menindih tubuhnya itu.
"Mmmh.. good boy.."
Tubuh mungil Baekhyun mulai terlonjak-lonjak karena perbuatan tangan Chanyeol (dan bantuan tangannya). Tangan besar itu meremas-remas payudara Baekhyun tidak karuan, air mukanya dipenuhi ketegangan, dan kedua bola mata besar itu menatap Baekhyun dalam-dalam. Chanyeol menggigit bibirnya kencang, menggigit hingga menciptakan luka yang akan membuatnya sariawan selama seminggu. Persetan dengan sariawan, ia harus menahan gejolak yang mulai mengambil alih tubuhnya. Ini tidak bisa dibenarkan! Jika adik perempuan atau bahkan sang ibu tahu, tamat sudah riwayat laki-laki tinggi itu.
Chanyeol menelan ludah nya berat saat Baekhyun dengan tidak sabar mengangkat punggungnya dan mencoba membuka pengait bra miliknya dengan terburu-buru. Chanyeol sangat paham bahwa perempuan mungil itu sebentar lagi akan 'meledak'. Sepersekian detik kemudian, Chanyeol melongo melihat betapa kencang dan bulat bentuk payudara Baekhyun yang sudah terbebas dari kain apapun. Payudara seperti itu adalah tipe ideal yang selama ini ia idam-idamkan. Bahkan Chanyeol punya ruang khusus di memori eksternalnya untuk kategori payudara seperti itu.
"S-sunbae.."
Chanyeol menghela napasnya sejenak, telapak tangannya mencoba menelusuri tulang pinggul, lekuk pinggang ramping, dan kedua payudara Baekhyun. Chanyeol memberanikan diri untuk meremas payudara kenyal itu dengan kedua tangannya. Organ kelaki-lakiannya mulai bereaksi saat mendengar desahan kecil dari bibir mungil Baekhyun. Perempuan itu keenakan, tangan Chanyeol yang besar dan hangat meremas payudaranya dengan gerakan tidak beraturan. Sesekali Chanyeol menyelipkan puting Baekhyun yang tegang di antara jari telunjuk dan tengahnya, menjepitnya hingga menciptakan sensasi geli di puncak payudara perempuan itu.
"Akkhh!" pekik Baekhyun saat Chanyeol menarik-narik puting kanannya. Chanyeol mulai terbiasa sekarang, ia tidak bisa terus-menerus berada dalam ketakutan bodoh seperti ini. Ia harus memanfaatkan keadaan dan bertindak seperti 'lelaki', begitulah tekadnya yang sok berani. Ibu jari Chanyeol menekan-nekan puting Baekhyun hingga tenggelam ditelan payudara montok itu. Baekhyun terus menggeliat dan melengkungkan tubuhnya merasakan kenimatan yang terus diberikan Chanyeol.
Jadi seperti inikah rasanya?
Inikah perasaan yang selalu dielu-elukan Jongin?
Inikah perasaan menyentuh sebuah kreatur indah yang diciptakan Tuhan?
"Jilat putingku, Chanyeol."
APA?
Chanyeol nyaris terjungkal karena serangan jantung mendadak. Belum selesai rasa takjub dan ketakutan Chanyeol lantaran meremas payudara Baekhyun, kini perempuan itu memintanya melakukan lebih? Berciuman dan meremas kedua payudara seniornya itu sudah cukup membuat dirinya berada di ambang kematian dan sekarang ia harus melakukan sesuatu yang lebih berbahaya?
Mengapa Baekhyun terus memberikan lampu hijau padanya?
Mengapa Baekhyun seakan mempercayai dirinya padahal jelas-jelas Chanyeol adalah orang asing di kehidupan Baekhyun?
Mengapa Baekhyun tidak pernah memberikan kesempatan pada Chanyeol untuk berpikir sejenak?
"A-apakah tidak berlebihan, sunbae?" tanya Chanyeol ragu yang disambut oleh gelengan kepala Baekhyun. Perempuan itu menyelipkan jari-jari lentiknya di sela-sela rambut kecoklatan Chanyeol dan mengelusnya dengan lembut.
Mereka saling bertatapan seakan-akan mencari jawaban atas pertanyaan dari balik bola mata mereka. Tidak ada raut ketakutan atau kegugupan terpancar dari wajah Baekhyun. Apakah perempuan di hadapannya sudah terbiasa melakukan hal ini? atau justru ia pandai menyembunyikan perasaannya?
"Lakukan."
Baekhyun berbisik lirih, suaranya penuh harap. Hal itu membuat darah Chanyeol berdesir, ia mendekatkan wajahnya seakan tersihir dengan buaian suara perempuan itu. Chanyeol memegangi payudara kiri Baekhyun dan mengarahkan bibirnya yang basah untuk mengulum benda yang dimaksud Baekhyun. Puting merah muda kecoklatan itu sudah menegang sejak pertama kali Chanyeol menyentuhnya dan itu membuat Baekhyun tersiksa. Chanyeol mengulurkan lidahnya perlahan, memainkan puting Baekhyun yang mengeras dengan gerakan pelan seakan-akan mendikte setiap inchi benda itu. Puting itu bergoyang-goyang menantang bibir Chanyeol.
Baekhyun membusungkan dadanya saat Chanyeol mengecupi ujung puting miliknya. Ia ingin merasakan mulut Chanyeol yang basah menyelimuti putingnya. Ia ingin lebih! ia ingin Chanyeol menguasai dirinya!
"Sllrrrpp.."
Bulu kuduk Baekhyun meremang, ia meremas rambut Chanyeol melampiaskan kenikmatan yang berasal dari ujung putingnya. Chanyeol menghisap putingnya seperti bayi kehausan, tak jarang laki-laki jangkung itu menggigitnya untuk merasakan tekstur puting payudara indah itu.
Dari semua yang Baekhyun suguhkan, kedua putingnya yang mengeraslah yang membuat birahi Chanyeol melonjak. Chanyeol menyukai bagaimana reaksi dan desahan sensual Baekhyun yang tercipta akibat permainan lidahnya. Tubuh mungil Baekhyun bergerak tidak karuan, ia meremas kepala sofa dengan tangan kanannya dan meremas rambut cokelat Chanyeol dengan tangan kirinya. Baekhyun seperti melayang, ujung putingnya merupakan titik paling sensitifnya dan Baekhyun sangat mengetahui hal itu.
Chanyeol menyelipkan puting Baekhyun di sela-sela jarinya sembari meremas-remas payudara Baekhyun, sesekali ia menjilati ujung puting Baekhyun hingga semakin mengeras. Baekhyun tidak bisa mendefinisikan bagaimana keadaan putingnya sekarang. Ia menggila, Chanyeol terus menggesekan giginya di atas putingnya sampai memerah.
"Chanyeolhh.. hisap terushh.."
Baekhyun meminta dan Chanyeol menyanggupi. Baekhyun memerintah dan Chanyeol melakukan. Baekhyun yang bertingkah bagaikan seorang tutor membuat Chanyeol penasaran dan bergairah. Penisnya terus berkedut hebat dan tubuhnya sangat berkeringat.
Ternyata sepolos apapun seorang laki-laki, naluri kelaki-lakiannya akan menuntun dirinya untuk memimpin, dan Chanyeol mulai mengerti sedikit demi sedikit…
Hanya mengulum dan menghisap ternyata tidaklah cukup. Chanyeol terbawa permainan Baekhyun –atau bahkan permainannya sendiri. Ia butuh merasakan setiap jengkal kulit Baekhyun yang lain. Semakin jauh melangkah, semakin Chanyeol merasakan bahwa Byun Baekhyun adalah nyata. Bahwa mungkin saja fantasi-fantasinya itu dapat dikatakan sebagai petunjuk untuk mengantarkannya pada babak ini. Chanyeol sedikit bersyukur tentang hal itu.
Laki-laki jangkung itu merangkak, menyusupkan kepalanya di ceruk leher perempuan di bawahnya. Jari-jari kaki Baekhyun mengerut, sensasi geli di lehernya akibat ciuman-ciuman kecil Chanyeol membuat birahi Baekhyun semakin meningkat.
"Sshh Chanyeol.. bisakah kau membuat tanda disitu?" pinta Baekhyun lirih.
"Apakah tidak apa-apa, sunbae? M-maksudku bagaimana jik-"
"Ku mohon…"
Chanyeol mengangguk dan tersenyum simpul. Hanya sepersekian detik hingga bibr tebalnya menyapa kulit leher Baekhyun. Chanyeol menyingkirkan rambut panjang Baekhyun yang menutupi lehernya dan Baekhyun dengan senang hati menengadahkan kepalanya. Lidah itu menggeliat di permukaan leher Baekhyun, dengan gerakan naik turun yang memberikan sensasi nikmat bagi saraf saraf reseptor perempuan itu.
"Mmmsschh.."
Chanyeol menghisap kulit leher Baekhyun, menyedotnya hingga timbul warna merah gelap. Ada sedikit ketakutan bagi Chanyeol melihat betapa putih nya kulit Baekhyun hingga tanda kemerahan itu sangat tercetak jelas di lehernya. Bagaimana jika teman-teman Baekhyun melihatnya? Bagaimana jika keluarganya tiba-tiba datang dan mendamprat Baekhyun atas kelakuannya? Bagaimana jika Baekhyun mengatakan pada sekelilingnya bahwa itu ulah Park Chanyeol?
Namun Chanyeol memilih untuk tidak peduli, urusan tanggung jawab atau semacamnya itu belakangan. Chanyeol hanya ingin menghabiskan malamnya dengan Baekhyun dan ia sangat tahu mungkin ke depannya ia tidak akan bisa bertemu dengan Baekhyun lagi.
Chanyeol menggelengkan kepalanya tanpa sepengetahuan Baekhyun dan kembali mengecupi leher jenjang perempuan itu. Sesekali ia menjilati rahang dan daun telinga Baekhyun, membuat perempuan itu terlonjak kaget bercampur nikmat. Kedua tangan Baekhyun yang hangat terus meraba dan menelusuri punggung bidang Chanyeol sambil meremas kulit punggung itu untuk melampiaskan nafsu.
Remasan-remasan liar tangan Baekhyun di sekujur tubuhnya membuat Chanyeol semakin tak terkendali. Ia menempelkan dadanya di atas payudara kenyal Baekhyun, membuat puting Baekhyun selalu mengacung karena bergesekan dengan kulit dada Chanyeol, sungguh kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan.
Penis Chanyeol terus merangsek celana jeans nya dan Chanyeol benar-benar membenci hal itu. Chanyeol tidak ingin kelepasan, dirinya sendiri tidak pernah tahu akibatnya jika ia mengikuti nafsu birahinya. Namun siapa yang bisa tahan jika Byun Baekhyun, perempuan yang berantakan itu, kini melebarkan kedua kakinya dan menggesek-gesekkan selangkangannya tepat di gundukkan celana Chanyeol. Bahkan Baekhyun dengan beraninya mengalungkan kedua kakinya di pinggul Chanyeol dan menghentakkan daerah kewanitaannya –yang masih tertutup celana dalam dengan sangat tidak sabaran.
"Ahhhh.. s-sunbae.. ku mohonhh.."
Chanyeol mendesah lirih saat Baekhyun menjulurkan tangan kirinya untuk meremas penisnya dari luar celana. Chanyeol mengalihkan wajahnya dan memandangi Baekhyun dengan sayu. Kedua matanya kadang terpejam menikmati remasan-remasan nakal tangan Baekhyun di selangkangannya. Chanyeol tak habis pikir bagaimana hanya dengan remasan tangan Baekhyun membuat dirinya kehilangan akal, serta ekspresi wajah Baekhyun yang menyiratkan kemenangan, lirikan nakal, dan rasa penasaran yang bercampur jadi satu.
Baekhyun menegakkan kepalanya, memandangi wajah Chanyeol yang keenakan di atasnya. Hal itu bagaikan lampu hijau baginya, dengan gerakan menuntut perempuan itu menarik ikat pinggang Chanyeol, melepaskan kancing, dan menurunkan resleting celana jeans laki-laki jangkung itu. Terkadang Baekhyun berdecak karena posisi Chanyeol yang menindihnya sangat tidak menguntungkan perempuan itu, sehingga ia kesusahan menjangkau bagian celana Chanyeol.
Drrrt.. Drrt…
Drrrt.. Drrt… Drrrt….
Tangan Baekhyun terus mendesak dan menyelinap ke dalam celana Chanyeol. Chanyeol kewalahan, nafsunya semakin membuncah merasakan jari-jari Baekhyun berada di dalam celananya. Chanyeol berasap seperti gunung berapi yang siap memuntahkan laharnya. Ia mencengkram lengan Baekhyun dan menghisap kulit leher Baekhyun tanpa ampun untuk meredam nafsunya.
"Kau sudah sangat tegang, Park Chanyeol. Aku ingin memanjakanmu.." bisik Baekhyun seduktif ketika tangannya sukses menggenggam batang penis Chanyeol dari dalam celananya.
Drrrt.. Drrt…
Drrrt.. Drrt… Drrrt….
"Mmmh.."
Chanyeol menggeram menikmati remasan-remasan kecil yang diberikan jari-jari perempuan itu. Ia menggeram merasakan kehangatan telapak tangan Baekhyun yang menyelimuti penisnya. Ia menggeram saat menyadari sebuah ponsel bergetar hebat mengganggu aktivitas mereka. Ya, ponsel berwarna dark blue metallic miliknya yang terus bergetar hebat di atas meja ruang TV apartemen itu.
Drrrt.. Drrt…
Drrrt.. Drrt… Drrrt….
KEPARAT!
Demi Tuhan! Siapakah yang tega merusak waktu panas Chanyeol dengan perempuan yang paling diidamkannya itu?
Mengetahui arah pandangan Chanyeol, Baekhyun mengeluarkan tangannya dari dalam celana Chanyeol bersamaan dengan Chanyeol yang susah payah meraih ponselnya, merapikan posisinya, dan beranjak pergi ke ujung ruangan untuk menjawab telepon itu.
"YAAAA!"
"KENAPA KAU BERTERIAK, HAH? AKU BELUM MENGELUARKAN SEPATAH KATA PUN, OPPA!"
Chanyeol mengelap wajahnya kasar. Ia memejamkan matanya dan mengumpat dalam hati bak peserta upacara yang sedang mengheningkan cipta. Deru napas nya tidak teratur lantaran emosi bercampur sisa nafsu bersama Baekhyun. Adiknya benar-benar keterlaluan! Mengapa adik perempuannya itu selalu memberikan kesialan yang membuat otaknya tidak pernah beristirahat?
"Jongin oppa dan Moonbyul eonni mencarimu di rumah, mereka ingin menonton film terbaru bersa- YA PARK CHANYEOL APAKAH KAU BERSAMA PEREM- Sssstt bodoh! Kita mengganggunya! YA PEREMPUAN YANG MANA, EONNI?!" Chanyeol menjauhkan ponselnya sejenak mendengar lengkingan suara Jongin, Moonbyul, dan Sooyoung bersautan memekakkan telinganya.
"Aku akan segera kesana! Jika kedua makhluk itu menanyaimu pertanyaan yang macam-macam atau bahkan menceritakan hal yang tidak-tidak, jangan percaya, oke?! Kau tahu kan mereka suka sekali mengada-ngada? Oke adikku yang manis, sampai jumpa di rumah!"
Chanyeol membanting ponselnya dengan kasar ke atas sofa. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi dan mengusap wajahnya sambil menghela napas. Ia melirik ke arah sofa, perempuan mungil itu sudah mengenakan kaus nya lagi dan memandangi langit-langit apartemennya. Seolah-olah menunggu Chanyeol untuk mengambil langkah berikutnya.
"Maafkan aku, sunbae. Aku harus pulang ke rumah sekarang.."
Chanyeol mendekati Baekhyun ragu, berlutut di depan sofa dan menengadahkan wajahnya. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, tetapi ia takut jika Moonbyul dan Jongin membeberkan semua rahasianya pada Sooyoung. Habislah sudah riwayat Chanyeol jika sang Eomma sampai tahu. Bisa-bisa ia dideportasi dari Korea Selatan dan menghabiskan waktunya di Kepulauan antah berantah di wilayah Oceania.
"Hmmm.. tidak apa-apa Chanyeol-ah, masih ada hari lain, kan?" Baekhyun tersenyum simpul, kedua mata sipitnya melengkung membentuk bulan sabit. Perempuan itu mengarahkan jejari lentiknya, menyelipkannya ke rambut coklat Chanyeol yang berantakan. Ia mengelus-elus rambut Chanyeol dengan gerakan pelan, berbeda seratus delapan puluh derajat dibanding apa yang Baekhyun lakukan 5 menit yang lalu.
Secara ajaib Baekhyun berubah menjadi sosok malaikat yang jatuh ke bumi versi Chanyeol. Chanyeol ikut tersenyum melihat rambut Baekhyun –yang basah oleh keringat menempel di pipinya yang sedikit chubby. Kedua pipi Chanyeol mendadak memanas seperti kepiting rebus saus asam manis saat melihat beberapa tanda kemerahan di leher Baekhyun.
Hey, Park Chanyeol, kau sudah besar rupanya, huh?
"Berarti aku bisa meminjam hari lainmu, sunbae?"
Chanyeol ingin berteriak. Demi apa pun tidak terpikir di benaknya untuk melanjutkan kegiatan mereka yang terinterupsi itu. Justru pikiran kekanakan Chanyeol membawanya pada hal-hal sederhana semacam makan siang bersama di cafeteria atau menonton festival musik bersama. Chanyeol menghirup oksigen dalam-dalam, jantungnya berdetak begitu kencang mendengar kata-kata Baekhyun yang memberikan 'lampu hijau' untuk pertemuan mereka berikutnya. Chanyeol harus mengenakan pakaian terbaiknya dan memotong rambutnya dengan model idol saat ke kampus nanti. Agar Baekhyun tidak merasa malu berjalan beriringan bersamanya.
"Hmm.. jangan lupa membawa kondom, oke? Tidak perlu takut, aku sudah mengajarimu beberapa hal tadi kan? Oh iya password apartemenku satu tiga tuj-"
Jari-jari Chanyeol mendadak berhenti mengancingi kemejanya. Ia mencelos, tiba-tiba merasa sesak di dadanya. Chanyeol mengamati Baekhyun yang kini sibuk dengan ponselnya, perempuan itu menjawab pertanyaan Chanyeol enteng tanpa memedulikan bahwa kini ada harapan sesosok laki-laki yang hancur karenanya.
"Ahaha iya.. kondom.. baiklah.. hahaha aku pulang dulu sunbae, selamat malam."
Chanyeol mengeratkan pegangannya pada ranselnya, berjalan terburu-buru hingga tak sempat mendaratkan kecupan singkat di kening Baekhyun. Napas nya memburu, kaki-kaki panjangnya berjalan menyusuri lorong apartemen itu dengan cepat. Jari telunjuknya dengan nafsu menekan-nekan tombol lift seakan ia ingin menghilang dari tempat itu sekarang juga.
"Park Chanyeol.. kau memang benar-benar bodoh dan naif.." ujar Chanyeol pada bayangan dirinya di pintu lift. Tak ada satu orang pun disana. Kesepian malam itu seperti menertawakannya habis-habisan.
Chanyeol memandangi bayangan tubuhnya dan menghela napas. Laki-laki di hadapannya begitu berantakan, kemejanya kusut lantaran diletakkan sembarang di atas lantai, rambutnya sangat acak-acakan persis seperti pasangan mesum yang kepergok berbuat macam-macam di kamar hotel murahan.
Walaupun ia memang sedang berbuat mesum saat itu..
Kata-kata sunbae-nya itu terus berputar-putar di otaknya. Bisa-bisanya Chanyeol berpikir lancang dan tak tahu malu. Bisa-bisanya ia berharap bahwa Baekhyun akan berbuat 'lebih' dengannya. Chanyeol paham betul bahwa dirinya hanyalah satu di antara para junior pemuja Byun Baekhyun, yang tak akan pernah bisa masuk ke dalam kehidupan perempuan itu lebih dalam lagi.
Harusnya ia sadar diri bukan?
.
.
.
BRAKKK
"YAAAA, PARK CHANY-"
Laki-laki jangkung yang diteriaki itu hanya berjalan mengabaikan keenam pasang mata yang memerhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bahkan laki-laki jangkung itu tidak membuka sepatunya sebelum masuk dan berjalan seperti orang kesetanan yang berebut jatah beras murah.
"Jongin-ah, dia benar-benar berantakan…."
"Ku pikir dia akan bermain lembut.."
"YAAAAA! Ada Sooyoung!"
Moonbyul melempari punggung bidang Jongin dengan bantal sofa, tetapi si empunya punggung tak menghiraukan auman Moonbyul dan beranjak mengikuti laki-laki jangkung itu ke kamarnya. Jongin tahu ada hal yang tidak beres pada Chanyeol, ia yakin bahwa telpon dari Sooyoung, Moonbyul, dan dirinya lah menjadi sumber masalahnya.
Tok.. tok.. tok..
"Park Chanyeol, ada apa? Maafkan kami mengganggu waktu panasmu… kami benar-benar tidak tahu.."
Tok.. tok.. tokk
"Aku dan Moonbyul membawakan pizza kesukaanmu, keluarlah!"
Tok.. tok.. tok..
"PARK CHANYEOL APA KAU SEDANG ONANI DI DALAM?"
Drrrtt.. drrtt.. drtttt..
CY Park sent a message
'Diam. Aku sedang patah hati.'
to be continued
MAAF ANCUR BANGET, CHANYEOL NYA MALAH BAPER WKWKWK
Ya gitu.. siapa sih yang ga bakal baper kalo ada di posisi Chanyeol? apakah Chanyeol bakal mengembangkan perasaannya? atau mematikan perasaannya dan mengikuti permainan Baekhyun?
Jangan lupa follows, favs, dan kasih review ya! atau sekedar ngobrol sama author di PM juga boleh :)
Author lagi mengembangkan sayap ke wattpad, please support ya!