Disclaimer: SVT © Pledis Entertainment. No profit gained, no copyright law infringement intended.


Soonyoung kadang pilih-pilih makanan. Dia juga pilih-pilih untuk urusan pernik-pernik yang memperindah rumah mereka. Dia lebih banyak bicara dan mendominasi dalam hal rumah tangga, menjadi penggerak, sementara Jihoon akan menurut dengan persetujuan Soonyoung karena pada dasarnya suaminya itu senang sekali mempertahankan pendapat.

Akan tetapi Jihoon tidak menyangka bahwa kebiasaan Soonyoung untuk pilih-pilih tidak ditinggal ketika mereka mengunjungi panti asuhan untuk mengadopsi anak.


WITTY

-Azura Eve-

.

Lenght: Twoshoot (2/2)

Chapter: 2 – Our Child Also Has This Witty Side

Pairing: SoonHoon (w/ baby Chan :o).

Other Cast(s): (tetep) Bibi Tetangga, kepala panti, Hana :v

Genre(s): Humor, Family, Slice-of-Life, Rom-com, Josei(!)

Rating: M (PG-13)

Summary: Mereka pergi ke panti untuk mengadopsi anak.

.

.

Warning(s): AU; nano-nano!Soonyoung; annoying!Jihoon; Japan's-view; fluff; crack; marriage-life; domestical-scenes; mentioning brands; lot of dirty jokes; self-beta

.

.

.

Ps: For everyone whose add WITTY to ur favorite list, thank you so much. But, I do have a favor to you all. A simple one. Pls, be an active reader, ok. I'll receive any kind of feedback as long as it make sense. I kindly wait for advices and critics. Thanks for ur attention, and well, happy reading, then!

((Makasih banyak buat yg udah klik WITTY jadi cerita favoritnya. Tapi aku punya satu permintaan. Gampang, kok. Tolong jadi pembaca aktif, ya. Aku terima semua jenis review, apalagi kalo itu bentuknya saran dan kritik. Makasih perhatiannya, dan selamat membaca!))


Pagi hari setelah sore hingga malam Jihoon berkutat dan tidak bisa tidur—karena dia merenung sepanjang malam apakah keputusan mengiyakan suaminya adalah tindakan yang benar, Jihoon berharap dia bisa kembali untuk menjilat ucapannya. Soonyoung tidur nyenyak di sampingnya, dengan sejuta mimpi indah yang Jihoon tak mau tahu isinya dan liur bau yang berpulau-pulau di bantal. Belum lagi menghitung dengkurannya yang berisik mirip motor anak jalanan.

Soonyoung sungguh menguliti harga dirinya sebagai pria dewasa terhormat.

Sebab, Jihoon benar-benar diuji kesabarannya hingga ujung sumbu.

Belum lagi jika mengingat ini adalah tempat keenam yang mereka datangi setelah sibuk mengitari kota mulai dari pinggir, tengah, hingga hampir ke perbatasan hanya untuk mencari panti asuhan. Soonyoung tak keberatan menyetir lebih banyak karena dia selalu bilang "Ayo cabut." begitu merasa tidak cocok dan tidak menemukan calon anak yang sesuai kriteria. Kriteria sialan!—Jihoon sangat kesal mengetahuinya karena ini sudah sore menjelang malam tapi Soonyoung pantang mundur mencari, menelusur peta elektronik dari ponselnya, bahkan nekat bertanya pada para tetangga tentang letak panti asuhan lain yang mungkin ada.

"Bawakan yang lain."

Soonyoung berujar seenaknya seperti bos besar yang hobinya menghamburkan uang perusahaan dan ongkang-ongkang kaki.

Pihak panti telah silih berganti mengenalkan anak baru. Daftar nama ditelusuri; semua anak dikumpulkan dalam satu tempat untuk tunggu giliran (dan Jihoon merasa ini malah mulai seperti audisi masuk jadi penyanyi ketimbang adopsi anak). Mulai dari yang usianya paling hijau hingga yang bangkotan; semuanya tak luput. Setiap lima menit sekali, tepat setelah penjelasan latar belakang dan perkenalan singkat dengan calon anak adopsian, Soonyoung membuat gestur yang ogah-ogahan, seolah-olah dia tidak tertarik sama sekali dan ingin yang lain. Tanpa mempertimbangkan sisi lain dari anak-anak yang ditolaknya.

Dan Jihoon sungguh tidak bisa menghubungkan nalarnya dengan komentar Soonyoung yang amat-sangat tidak beralasan:

Ketika anak laki-laki berusia tujuh tahun maju, dia menggeleng. Pasalnya, meskipun anak itu sopan dan tuturnya halus pada orang yang lebih tua, dia—"Kepalanya pitak. Tidak mau."

Anak laki-laki lima tahun dengan banyak bekas luka di lutut hasil dari membolang di lapangan bermain bola kaki dikomentari—"Dia terlihat bandel dan sangat susah diatur. Ganti."

Anak perempuan empat tahun dengan aura muka suram (Soonyoung seketika melirik ke samping, terkejut mendapati suaminya sedang berekspresi sama seperti anak itu) dan irit bicara—"Pendiam sekali anak ini. Katanya dia tidak mau bicara jika tidak diajak, ya? Aku tidak pernah dengar panti ini membesarkan sebuah robot ..."

Anak kembar laki-laki perempuan yang tatanan rambutnya masing-masing punk dan hitam lurus panjang macam Sadako—"Aku bisa dikebiri ayahmu kalau mereka tahu aku memelihara anak norak begini."

"Aku tidak mau kalah pintar dan berujung dibodoh-bodohi nantinya ..." sungut Soonyoung begitu kepala panti merangkul pundak anak laki-laki tampan berkacamata yang di tangannya ada buku ensiklopedia.

Ketika pihak panti mulai lelah, mereka membawakan lelaki remaja dengan kumis tipis di wajahnya. Soonyoung membuat mimik horor. "Aku tidak berniat pada yang sudah pubertas. Nanti yang ada aku ditikung."

"Perempuan ya? Kalau itu akan kupikirkan dulu. Dia cantik." Untuk yang terakhir, Soonyoung sukses mendapat benjol di kepala berkat toyoran keras suaminya.

Desahan keras terdengar. Sangat putus asa. Tidak bersemangat. "Maaf, Tuan. Anak perempuan itu adalah anak terakhir yang ada di panti asuhan kami. Kami tidak mengasuh anak lain lagi."

"Tapi pasti masih ada di dalam. Mana, jika kalian malas mengenalkan, biar kami yang masuk dan melihat. Ayolah, mana mungkin panti terkenal seperti kalian hanya mengasuh limapuluh anak. Aku sudah cek di blog Never kalian. Tsk."

"Mungkin pegawai kami lupa memperbarui status laman."

"Ah, aku juga sudah periksa TNS panti asuhan ini, Sensei."

"Terkadang, ada kesalahan server yang tak disengaja, Tuan." Dahi kepala panti menampilkan guratan empat sisi.

Soonyoung mengelus-elus dagu, "Wah. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku merasa ditipu karena telah datang jauh-jauh tapi dapat nol. Bagaimana ya, jika kuadukan, kantor polisi pasti mencatat keluhanku dan menjadikannya berkas. Lalu—"

"Yah! Yah! Jangan begitu, Tuan. Apa kau tidak kasihan pada anak-anak ini nantinya? Jika panti asuhan ini disegel, mau diapakan mereka kan belum jelas."

"Hmm. Tidak." Soonyoung berucap tiran.

Jihoon bisa membaca situasi. Kepala panti sebenarnya sudah tak sabar mendepak mereka (terutama Soonyoung dan perkataan anehnya) untuk keluar, hanya saja mereka bertahan dengan alasan menjaga kode etik terhadap klien. Dan daritadi, bukannya dia tak ingin ikut campur—tapi dirinya terlalu malas. Sebab dia lebih dari mengenal Soonyoung. Suaminya itu adalah jenis yang tidak akan beralih sebelum keinginannya terlaksana.

"Pokoknya aku mau anak laki-laki, usia sekitar empat sampai enam tahun. Jangan terlalu pintar, tapi jangan yang bodoh juga. Bisa diatur, menurut, dan hormat pada orangtua. Bersih, wangi, dan enak dilihat. Kalau bisa, wajahnya yang mirip seperti Leonardo di Caprio karena aku fans beratnya. Selain itu, jangan ada embel-embel latar belakang tidak jelas karena aku tidak mau membesarkan anak liar."

Kepala Jihoon menumbuhkan tumor tak kasat mata.

Ada seorang gadis pengasuh, mengetuk pintu ruangan tempat kepala panti dan Soonyoung-Jihoon tengah berunding.

"Masuk."

Setelah diperintahkan begitu, berdirilah gadis pengasuh di belakang kepala panti. "... Sensei, apa yang harus kulakukan? Anak ini terus menangis sejak setengah jam lalu. Aku sudah memeriksa popoknya tapi dia tidak buang air, kuberi dia susu tapi dia malah menangis tambah kencang." keluhnya. Kewalahan dengan bayi dalam gendongan.

Ketika niat Jihoon tinggal sedikit lagi hingga mencapai pudar, tangisan keras bayi menariknya kembali.

"Uh. Uh." Gadis pengasuh itu menepuk-nepuk pantat si bayi yang terbungkus dalam kain. "Tenang, Sayang. Ada Kakak di sini ..."

"Siapa ... Siapa anak itu?"

Gadis pengasuh yang menggendongnya menunjuk bayi dalam timangannya. "E-eh, maksud Anda, dia?"

Jihoon mengangguk.

Kepala panti dan gadis pengasuh berpandangan lama sebelum si gadis menjawab: "Bagaimana menjawabnya, ya. Kami belum sempat memberinya nama. Anak ini baru ditemukan semalam di depan teras panti dalam keadaan dibalut selimut tipis dan ada dalam boks kardus yang dipayungi. Kami tidak bisa menemukan surat atau petunjuk lain yang mungkin ditinggalkan orangtuanya. Yang begini sudah sering; kalau bukan hasil kenakalan remaja, bisa jadi ibunya adalah korban perkosaan gangster."

"... Kejam sekali. Seharusnya mereka jangan berbuat kalau tidak ingin tanggung jawab."

Gadis pengasuh menarik kurva kecil, memandangi si bayi dengan penuh sayang. "Namanya juga sudah terlanjur."

"Tapi anak ini sungguh hebat. Dia masih bisa menangis begitu kami menemukannya. Padahal jika perkiraannya benar, anak ini sudah berada di luar selama beberapa jam. Semalam, daerah sini hujan deras. Untung saja tangisannya keras." tambah si kepala panti.

Pandangan Jihoon lekat memaku bayi yang menangis itu. Menatap tangan dan kaki dengan jari-jari kecil yang mengundang orang dewasa menyentuh untuk memberi perlindungan. Soonyoung memandangi suaminya dan ikut menatap si bayi hingga dia bicara: "Sensei, apakah kami boleh mengasuhnya?"

Kepala panti sedikit terkejut. "Saya pikir Anda menginginkan anak lain? Bukankah Anda sendiri yang ngotot memasang kriteria? Latar belakang anak ini bahkan sangat berantakan jika dibandingkan anak-anak sebelumnya yang telah kubawakan pada Anda."

"Entahlah." Soonyoung mengulum senyum kecil. "Tapi yang jelas aku merasakan ikatan yang kuat dengan anak ini." katanya, "terlebih lagi, pasanganku pasti tidak akan pergi jika tidak bersama anak ini."

Jihoon menoleh, mendapati suaminya memasang wajah cerah. Dia seketika seperti kembali ke masa-masa di mana mereka bertemu pertama kali. Pandangan Soonyoung persis seperti waktu itu; dalam dan menarik orang untuk menyelam ke dalam matanya lekat-lekat. Untuk interval yang singkat, Jihoon serasa kembali ke festival sekolah yang membangkitkan ingatan. "Soonyoung ..."

Mimik gadis pengasuh melembut. "Anda ingin coba menggendong?"

"A-aku baru pertama kali. Apakah boleh?" Diberi anggukan, Jihoon memberanikan diri. Tangisan bayi itu berhenti ketika tangan Jihoon yang gemetaran bersentuhan dengan kain pembungkus si bayi. "Hei. Dia berhenti menangis."

Kepala panti ikut tersenyum. "Mungkin anak ini merasakan kenyamanan. Apakah Anda percaya telepati? Saya pikir anak ini tertarik pada Anda."

"Aku ... disukai?"

Pinggang Jihoon dicuil dari samping. "Mari kita beri dia nama Chan." Senyum Soonyoung makin jelas. Lebar. Menyenangkan. Hangat seperti mentari pagi musim panas.

Mengangguk, Jihoon memeluk Soonyoung erat-erat, tak peduli apakah kepala panti atau gadis pengasuh akan melihat mereka (lagipula ini Jepang dan di sini pernikahan sesama sudah legal). Bayi itu hampir terjatuh, tapi berkat kegesitan gadis pengasuh, mereka bisa bernapas lega. Jihoon melemas di sofa dengan kaki bergetar, tapi rautnya bahagia lebih dari apapun.

"Halo, Jagoan. Kaudengar itu? Namamu sekarang adalah Chan." Jihoon bicara pada bayi laki-laki itu, tak peduli apakah dia mengerti atau tidak.

Bayi laki-laki itu, Chan, memperlihatkan gusi mentahnya pada mereka. Jihoon menarik senyum melihat calon anaknya tersenyum. Soonyoung rasanya bisa mati saking senangnya.

"Jadi ... bagaimana prosedurnya jika kami ingin mengadopsi anak itu?"

Kepala panti berdeham. Tersenyum bisnis. "Anda harus tandatangan di atas materai pada surat hitam-putih yang isinya mengatakan Anda setuju untuk mengadopsi anak dari panti asuhan kami."

"Lalu?"

"Membayar uang perawatan." ujar kepala panti. "Anda tahu bahwa panti asuhan hanya bergantung pada biaya yang disumbangkan donatur dan calon-calon orangtua pengadopsi."

"Okee. Bukan masalah besar. Bawakan keperluannya." Soonyoung lalu menoleh pada Jihoon dan Chan yang kini tertidur. "Kamu pergi duluan dan tunggu aku di dalam mobil saja, Jihoon. Urusan administrasi biar aku yang tangani."

Jihoon mengangguk patuh. Bersamaan dengan itu, gadis panti permisi keluar untuk mengurusi anak-anak lain karena ini sudah masuk jam makan malam dan dia harus menyiapkan makanan.

Soonyoung kembali ke laptop. "Berapa yang harus kukeluarkan untuk menebus anak itu?"

Seringai kepala panti terbit perlahan-lahan. "Limaratus dollar. Tak kurang, tak lebih."

"YAK! Bukankah itu terlalu mahal untuk membayar susu dan popoknya? Bayi itu masih tergolong orok! Mana mungkin biaya perawatannya melonjak? Kalian sendiri tahu dia baru berada di sini semalam. Itu bahkan belum tentu dia menghabiskan susunya karena gadis itu sendiri barusan bilang!"

Jari telunjuk kepala panti bergoyang, "Terima, atau kembalikan bayi itu pada kami karena masih banyak orangtua lain (yang lebih mudah diajak kompromi dan lebih kaya) yang akan mengadopsinya."

Soonyoung tidak mau senyum di wajah Jihoon terhapus hanya karena persoalan finansial. "Aish. Apa-apaan ini."

"Kami panti asuhan bergengsi, Tuan. Dan seperti reputasi kami yang baik, kami tentu tidak memasang biaya perawatan yang sedikit. Semua itu wajar, Tuan. Anda harusnya lebih dari dari tahu tentang mekanismenya." Skakmat. Perkataan Soonyoung dikembalikan.

Pada akhirnya, setelah berpikir keras sekitar setengah jam lebih (dan Soonyoung harus segera mengakhirinya karena dia dikirimi teks oleh Jihoon yang bertanya kenapa lama sekali?), Soonyoung menuliskan saldo di selembar cek. Menyerahkannya dengan dengusan pada kepala panti yang menahan tawa untuk tidak keluar.

Begitu dia sudah bergabung di mobil bersama suaminya, arah mata Soonyoung lekat membidik bayi Chan. "Oi bocah. Kau membuatku tekor malam ini. Sebaiknya kau besar dengan perilaku yang menyenangkan supaya aku tidak merasa rugi, oke." Dia memutar kunci mobil di dalam slot. "Akan kucatat ini sebagai hutang, kalau kau sudah besar dan punya pekerjaan aku pasti akan menagih. Lihat saja."

Chan menggerak-gerakkan kepala dan matanya berkedip lucu.

Soonyoung merasa itu adalah konfrontasi tidak langsung. Tapi tidak mungkin baginya untuk menggeplak kepala anak itu karena satu, dia masih bayi; dan dua, Jihoon pasti menganggapnya tidak waras. Jadi dia meluapkan emosinya dengan menggigit tisu dan menangis dengan airmata berlinang.

Jihoon memandang suaminya dengan aneh. "Kamu kenapa, sih?" Tangannya menyentuh dahi suaminya. "Sakit?"

"Tidak. Tidak ada." Soonyoung menyalakan mesin mobil dan mulai menyetir. Dia berharap rasa kesalnya tidak membawa mereka terjun ke jurang.

(Beruntung, malam itu kesalnya dibayar dengan seks yang hebat dari suaminya. Kesal Soonyoung menguap seluruhnya entah ke mana.)


Esok paginya, Soonyoung pergi mengurus segala keperluan yang dibutuhkan. Nama Chan didaftarkan pada catatan sipil. Dengan tambahan marga Kwon, bayi laki-laki itu resmi menjadi anggota keluarga baru mereka.

Soonyoung pikir, dia telah diberkati dengan banyak kebahagiaan. Jihoon di sisinya. Dan dia tetap bisa memiliki anak seperti angan-angannya dulu semasa kuliah tentang seorang jagoan cilik yang pada suatu hari bisa diajaknya memancing bersama atau diajak bermain konsol game.


Esoknya lagi, mereka berdua sepakat ambil libur lagi—karena Jihoon menolak menyebutnya bolos. Jihoon menariknya ke pusat perbelanjaan besar, memborong seluruh kelengkapan. Sementara Soonyoung, menggunakan tangannya yang kokoh, menggendong Chan di belakang Jihoon.

Ketika melewati beberapa kerumunan ibu-ibu muda berdompet tebal di kios yang menjual kelengkapan bayi dan anak, mereka sukses menjadi bintang utama.

"Bukankah mereka benar-benar keluarga yang bahagia? Lihat, suaminya sangat gentle. Aku jadi iri. Suamiku bahkan tidak pernah bersikap manis meskipun aku sedang hamil besar."

"Aku simpati padamu, Kuronuma-san."

"Aku berharap suamiku ada di sini sekarang. Biar dia bisa mencontoh."

"Pria idamaaan. Beruntung sekali wanita itu ..."

"Hmph. Coba saja papanya Kitsune seperti pria itu. Aku pasti betah di rumah."

"Tsk. Kenapa aku tidak bertemu dengan pria itu lebih dulu ...?"

"Aiiih. Nakalnyaa. Kuadukan kau pada suamimu loh, Furukawa-san."

"Tapi kupikir mereka memang serasi. Lihatlah, istrinya sangat manis walau berambut pendek dan memakai celana."

"... Atau jangan-jangan mereka itu pasangan dalam tanda kutip?"

"Mana ada begitu. Lagipula, mukanya kan terlalu kawaii. Lihat, badannya terlalu mungil buat dikatakan sebagai laki-laki."

"Araragi-san, kau pasti tidak ketinggalan jaman dan tahu fenomena bishie, kan?"

"Oh!"

"Kadang-kadang, ada beberapa laki-laki yang dilahirkan dengan fitur perempuan!"

"Misaki-san, sejak kapan kau mengerti hal-hal berbau seperti itu?!"

"Handa-san ini bagaimana, Misaki-san kan pekerja balik layar untuk proyek anime."

"HEE?"

"Tonton Sejoli Super, deh! Misaki-san benar-benar berbakat!"

"Ahahaha. Tidak usah terlalu berlebihan, Sakurako-san."

Kemudian, bla-bla-bla. Dan bla-bla-bla. Dan beberapa pujian dalam kiasan bahasa Jepang yang masih dicerna artinya oleh mereka berdua.

Hidung Soonyoung mengembang karena rasa bangga. Jihoon juga lebih toleran karena dia tidak mempermasalahkan. Padahal suaminya sudah was-was saja akan jadi apa jika Jihoon menanggapi dengan salah paham.

Jihoon membagi perhatiannya pada dua benda yang dipegangnya masing-masing di tangan kanan dan kiri.

"Bagaimana menurutmu? Apa kita harus mengambil yang berwarna hijau, atau biru?"

Sungguh. Walau tabungannya terkuras habis atau Jihoon berbelanja hingga tidak ada koin yen tersisa di sakunya, Soonyoung ikhlas. Sebab, memiliki Jihoon yang bersemangat dan berapi-api seperti sekarang ini seperti hanya ada sekali dalam seabad.

"Masukkan semuanya saja ke troli, Jihoon. Aku dapat bonus saat gajian kemarin," bohong Soonyoung.

Jihoon mengerutkan bibir. "Ada apa denganmu ... Aku merasakan firasat yang benar-benar buruk jika aku mengikuti saranmu."

"Oh, ayolah. Memangnya aneh jika seorang suami ingin menyenangkan pasangannya?"

Matanya memicing. Telunjuknya menuding. "Pasti kau menginginkan bayaran."

"Aku sakit hati. Kamu masih suka menyalahpahami maksud baikku. Sedihnya~"

Jihoon mengesah. "Mulai lagi, deh."

"Habis." Soonyoung bersungut-sungut.

Jihoon menyentil dahi suaminya, "Jangan seperti anak-anak." Dia menunjuk kerumunan ibu muda kemudian. "Kamu tidak mau reputasimu jatuh karena bertingkah konyol, kan."

"Hmph. Tidak seru." Soonyoung memainkan bolamata, "padahal semalam kamu benar-benar menyenangkan dan gampang diajak ini-itu. Kenapa sekarang jadi sulit lagi?"

"J-jangan bicara aneh-aneh di dekat bayi ..."

Soonyoung mengembangkan seringainya, "Biar saja. Biar Chan belajar betapa orangtuanya benar-benar saling mencintai sampai—"

"Gyaaah—dasar mesum!" Jihoon memplester mulutnya setelah membuat berpasang-pasang mata menatap ke arah mereka.

Soonyoung memandangi punggung suaminya dengan bingung. "Padahal aku belum selesai bicara."

Jihoon lari ke kamar mandi dan baru mau diajak pulang setelah Soonyoung menutup wajahnya dengan jaket yang dipakai pria itu dan membiarkan dirinya sendiri pergi dengan selembar kaos tipis.

Terkadang Soonyoung pikir, suaminya sangatlah lucu.

(Kerumunan ibu muda jatuh pingsan dengan darah dari hidung karena yah, badan laki-laki yang mereka kagumi ternyata lumayan berbentuk.)


"Hei."

"Apa?"

"Bagaimana kalau kita memutuskan panggilan yang akan dipakai kalau-kalau Chan kita bisa bicara?"

Jihoon menoleh, mendapati suaminya menyengir lebar.

"Terserah kamu saja."

"Oke." Soonyoung menyesap kopi paginya lambat-lambat. "Karena kamu sudah terlanjur bilang begitu, jangan membantah apapun ya."

Jihoon cuma menggerung.

"Kalau begitu, panggilan Chan buatku adalah Otou-san. Kamu Okaa-san."

Sebentar. Sepertinya ada yang salah—

Jihoon membelalak, menatap suaminya seperti dia adalah orang gila. "Okaa-san?"

"Hai', Okaa-san." Kerlingan.

"Y-yak! Apa maksudnya?! Tidak mau. Tidak akan mau!"

"Diih. Plin-plan." sembur Soonyoung.

"Memangnya kamu pikir aku perempuan?!"

"... Bukan begitu, Anata."

"Lalu—"

"Begini. Bagaimana kalau panggilan Okaa-san buat yang malam ini menang gulat ganda putra?"

"Baik. Kuterima tantanganmu!" Jihoon menunjukkan ekspresi defensif. "Kamu pasti menangis setelah membuat urusan dengan Jihoon Lee yang selalu menang!" (Diam-diam, Soonyoung pingin tertawa karena suaminya entah mengapa jadi punya hawa seperti karakter rambut merah dari suatu karya.)

(Hasilnya adalah 5:1. Skor yang sangat timpang. Mereka keluar kamar tidur dengan Jihoon yang mengangkang dan Soonyoung yang tawanya menggelegar memenuhi seisi rumah.)


Mereka membayar tenaga pengasuh dari biro penyalur karena baik Soonyoung maupun Jihoon tidak pernah memiliki pengalaman mengurus anak. Jadi, daripada mereka melakukan malpraktik, lebih baik main aman saja. Setelah melakukan proses wawancara yang tak singkat, pada akhirnya mereka merekrut seorang gadis lugu dari desa untuk dijadikan pengasuh Chan.

Namanya adalah Hana. Hana yang berarti bunga dan bunga adalah hal yang indah. Jihoon pikir, Hana bisa menjadi sosok yang bisa dipercaya dalam tugas mengurus anak mereka.

Hana dibimbing selama beberapa hari; diberitahu letak-letak benda tertentu. Segala perlengkapan bayi diletakkan Soonyoung di tempat penyimpanan yang bisa dijangkau. Persediaan susu dan popok dimasukkan lemari besar yang letaknya di samping konter dapur. Hana bisa mengambilnya tanpa repot berjinjit. Gadis itu juga disiapkan kamar khusus sendiri untuk tempatnya menginap karena Jihoon ingin Hana nyaman bekerja untuknya dan Soonyoung.

Sementara itu, Jihoon pergi bekerja dengan jadwal kesibukannya yang biasa dan Soonyoung tetap memakai setelan dan berdesakan di kereta bawah tanah. Mereka akan berkumpul bertiga di ruang tengah dan menyetel drama keluarga yang sanggup membuat Soonyoung termehek-mehek. Chan sudah pulas di boks bayinya, tidur diiringi musik pelan yang asalnya dari miniatur planet-planet yang menggantung di atas langit-langit.

Tidak pernah ada keluhan tentang Chan. Anak itu menangis dan rewel seperti orok pada umumnya tapi tidak membuat Hana kesusahan dan minta berhenti. Dia diganti popoknya per tiga kali sehari dan diberi makan susu formula bergizi tinggi. (Soonyoung beralasan, anaknya haruslah berotak encer.)

Kinerja Hana benar-benar apik. Walaupun dalam kesepakatan kerja tidak dimunculkan perjanjian bahwa Hana juga harus mengurus seisi rumah—bersih-bersih dan memasak—tapi nyatanya gadis itu melakukannya. Jihoon sangat terkesan ketika mencicipi makanan, sementara Soonyoung menepuk kepala Hana dengan gestur bangga. Bahwa mereka tidak salah memilih orang untuk diserahkan pekerjaan. Ketika tanggal gajian tiba, Soonyoung mengajak Jihoon, Hana, dan Chan pergi ke tempat rekreasi. Gaji Hana dibayarkan, amplopnya tampak lebih tebal dan begitu melihat isinya, dugaannya menjadi benar karena ternyata majikannya melipatgandakan uang yang ada di dalamnya. Gadis itu terharu saat Jihoon membelikannya ponsel baru sebagai bonus.


Inilah masalah ketika kau menyewa orang lain untuk melakukan pekerjaan domestik dan tiba waktunya bagi mereka menikmati jatah hari untuk pribadi.

Libur hari besar.

Hana minta cuti selama beberapa hari karena sanak keluarganya di desa ingin mengetahui kabar keponakannya. Jihoon tentu saja tidak bisa menolak tak peduli betapa kelabakannya mereka nanti jika Hana pergi. Soonyoung harap-harap cemas dan berpesan agar Hana cepat kembali karena mereka pasti akan merindukan gadis itu—lebih tepatnya karena pria itu tahu bahwa jika Hana kembali lebih lama, Jihoon pasti akan frustasi.

Gadis itu berpamitan dengan kopor yang diseret dan langkah sedikit enggan karena dia sudah menganggap Jihoon dan Soonyoung adalah kakak sendiri. Tidak nyaman meninggalkan Chan dalam gendongan Jihoon karena dia tahu Jihoon masih suka gemetar ketika menggendong anak itu. Di lain sisi, Soonyoung menyembunyikan gugupnya, hanya supaya Hana tidak khawatir lebih banyak pada mereka.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, Soonyoung Nii, Jihoon Nii. Kalau ada apa-apa tentang Chan, hubungi aku saja." Hana tersenyum kecil. Tangannya melambai. "Sayonara."

Dengan sapaan terakhir itu, Soonyoung dan Jihoon berpisah dengan Hana.

Siang hari berjalan lancar karena Chan sudah diberi makan dan diganti popoknya oleh sang pengasuh.

Tapi, tengah malam menjadi lain karena mereka sudah tidak bersama pengasuh perempuan bernama Hana yang sehari-hari mengurus Chan.

Chan menangis saat jam dinding menunjukkan pukul dua dinihari.

Soonyoung yang mendengar langsung bangkit dan menghampiri boks tidur Chan. Dia resah. Bolak-balik ranjang dan boks Chan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Soonyoung menepuk-nepuk pipi Jihoon supaya suaminya itu bangun. Jihoon menyingkirkan lengannya. Berulang, terus begitu hingga Soonyoung tidak putus asa dan di lain pihak, kesabaran Jihoon mencapai batas. "Tidak bisakah kau membiarkanku tidur nyenyak kali ini saja? Kalau kau mau seks kau bisa mendapatkannya besok! Aku lelah!"

Dimarahi habis-habisan, Soonyoung stres sendiri. Dugaannya terbukti. Bahkan ini belum ada sehari sejak Hana pergi. Terlebih lagi Jihoon membungkus dirinya lebih lekat seperti burito panggang. Lalu tidur lelap seperti tidak pernah ada Soonyoung yang berusaha membangunkan.

Dia menghampiri Chan dan menggendongnya dengan panik yang berusaha ditekan. "Cup, cup, diam ya, Sayang. Okaasan-mu memarahi Otousan." Jika boleh jujur, Soonyoung sebenarnya juga sangat lelah; setelah hari yang panjang di kantor, terlebih lagi atasannya yang menjadikannya bahan pelampiasan emosi karena putrinya kawin lari dengan pemuda tak jelas bibit, bebet, bobotnya, membuat dia sukses memelihara migrain.

Tangisan Chan bertambah kencang.

Saking kencangnya, Jihoon yang gampang tertidur jadi terbangun. "Sudah kubilang jangan ganggu aku. Apa sih, berisik-berisik?!"

Jihoon membuka matanya yang sepat, lalu seketika terlonjak saat melihat pemandangan Soonyoung menggendong Chan. "Astaga Tuhan, apa yang kaulakukan terhadap anakku?!"

"Aku tidak tahu, dia menangis sendiri tadi. Makanya aku berusaha membangunkanmu, tapi kamu tidak mau bangun." ujar Soonyoung, otaknya tambah ruwet.

Jihoon merebut Chan. Tangisan anak itu tidak berhenti juga. Dia menepuk-nepuk pantat Chan dan lengkingan bayinya malah semakin memekakkan telinga. "Apa yang dia inginkan?"

Soonyoung benar-benar ingin menangis. "Mana kutahu?! Aku tidak bisa bicara bahasa bayi, Jihoon."

Jihoon menggeram kesal. "Ambilkan ponselku!" titahnya, dan Soonyoung langsung menyalakan lampu untuk mencari apa yang diminta suaminya. Begitu ponselnya datang, Jihoon tak ambil banyak waktu terbuang. Tapi salahkan jari Jihoon yang gemetar, dia sempat salah beberapa kali dalam memasukkan kata sandi. Soonyoung melihat suaminya dan merebut ponselnya. "Kamu harus tenang, Jihoon." ucapnya, meski dia sendiri panik. Dia memasukkan kode kunci ponsel Jihoon.

"Apakah kita harus menghubungi Hana?!" tanyanya kelabakan. Soonyoung mencegah, "Jangan. Kasihan anak itu. Biarkan dia berlibur dengan tenang." Jihoon berkerut dahi, "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Soonyoung berpikir keras. Jihoon juga. Ada lampu imajiner menyala di atas kepalanya beberapa detik kemudian. Jihoon langsung membuka laman pencari dan memasukkan kata kunci: Apa yang harus dilakukan saat bayimu menangis.

Beberapa alamat dari mesin Giigle terpampang nyata.

Jihoon mengklik asal dan terbukalah blog mengenai orangtua dan anak.

Pertama-tama, caritahu dulu penyebab kenapa bayi Anda menangis. Jika dia menangis karena lapar, berikan susu hangat.

Chan diserahkan pada Soonyoung.

Meniti tangga ke bawah yang seperti berabad-abad lamanya, Jihoon akhirnya sampai dengan ngos-ngosan di dapur mereka. Dia membuka lemari penyimpanan dan bersyukur masih ada berkotak-kotak susu bubuk sebagai persediaan. Hana sungguh membuat persiapan.

Membaca petunjuk yang tertulis di kotaknya, Jihoon tergesa-gesa mengumpulkan peralatan minum Chan. Dia menjerang air dan memasukkan botol plastik berserta dot karet untuk disterilkan di sana. Soonyoung tiba tak lama setelahnya; dengan Chan yang sudah berhenti menangis, tertidur dalam gendongannya.

"B-bagaimana bisa?" Jihoon gantian melirik Soonyoung dan Chan.

Soonyoung mendengus. "Ternyata dia menangis karena popoknya basah. Jadi aku menggantinya di kamar mandi."

"Jantungku hampir copot rasanya ..." Kaki Jihoon seperti mentega yang melumer di atas wajan.

"Siapa suruh panik duluan?"

Jihoon memelototinya. "Memangnya aku tahu apa alasan dia menangis, huh?"

"Kamu menjiplak perkataanku," Suaminya bersiul, kemudian mengendikkan bahu. "Tapi bayi memang sulit."

"Jadi ..., usahaku turun ke bawah menyiapkan susu itu sia-sia ...?" Jihoon melirik kompor yang menyala dengan api yang cenderung besar. Soonyoung memutar pemantiknya ke arah berlawanan sebelum terjadi prahara lain seperti kebakaran.

"Jangan merasa begitu. Kamu sudah bekerja keras."

Jihoon menangis karena penat dan seketika merasa bersalah pada ibunya di Korea sana. "Aku harus segera pulang ke Busan dan minta maaf pada ibuku karena yah, semua orang pasti menyusahkan ketika mereka bayi. Aku percaya itu."

Suaminya tertawa.


Begitu Hana kembali, segalanya rapi seperti dia pergi pertama kali.

"Apa yang terjadi selama aku tidak ada, Niisan-sama?"

Gadis itu tidak melihat tanda-tanda kejanggalan atau perkakas rumah tangga yang bergeser letaknya. Sepertinya keadaan tenang terkendali. Dia tersenyum.

Hana diajak duduk di lantai ruang keluarga. Mereka bercerita. Soonyoung benar-benar menjadi ayah siaga karena dia menjadi yang pertama menguasai teknik mengurus bayi. Dia melakukan perannya dengan cukup baik; mengenyampingkan bahwa Chan bukan buah hati murni mereka, tapi semenjak wajah anak itu mirip mereka, anggap saja begitu.

Mereka menghabiskan empat hari pertama (insiden malam hari tidak masuk hitungan) tanpa Hana dengan mengurus Chan secara gotong royong dan bahu membahu. Jihoon merekayasa keadaan dan mengirim surat ke atasan dengan alasan tidak enak badan dan minta libur lebih panjang. Beruntung, posisinya di tempat kerja saat ini lumayan menguntungkan karena dia diberikan libur tanpa banyak prosedur menyulitkan.

Gadis pengasuh itu lalu meledak dalam tawa melihat Jihoon menjambak rambut Soonyoung karena telah memberitahu apa yang terjadi di hari pertama Hana pamitan.


Kata pertama yang Chan ucapkan ketika dia mulai bisa memfungsikan organ oralnya bukanlah Otou-san maupun Okaa-san, tapi justru—

"A ... a-na ... na."

"Hana?" Si gadis pengasuh menunjuk hidungnya.

Bayi Chan tertawa dan menggerak-gerakkan satu-dua jarinya.

Jihoon patah hati dan Soonyoung pergi melipir ke warung sake untuk mencampakkan kenyataan.


Beberapa bulan kemudian, Hana berhenti bekerja karena dia dipinang pemuda idamannya yang bekerja sebagai petugas sipil dan dia diharuskan mengikuti suaminya pindah ke Hokkaido.

Beruntung, usia Chan sekarang sudah 25 bulan. Chan sudah bisa berjalan dan sudah makan makanan yang teksturnya padat. Jadi, Jihoon dan Soonyoung sepakat untuk menitipkan mereka di tempat penitipan anak selama mereka bekerja.

Suatu pagi, saat tersisa dua jam lagi bagi Jihoon untuk bersiap pergi ke tempat kerja, dia terlibat dalam obrolan pagi bersama bibi tetangga. Soonyoung sudah berangkat duluan karena dia punya tender mendesak yang harus segera ditangani. Chan digendong di samping tubuhnya, dimasukkan ke dalam mobil dan dipasangi sabuk pengaman.

Bibi tetangga alias Furu Neechan, sudah berdandan dan sedang menyiram halamannya yang penuh bunga-bunga.

Tangannya menangkup mulut karena dia terkejut melihat Jihoon keluar dengan seorang anak. Dia bisa melihat karena jendela mobil Jihoon jarang dinaikkan dan tentu saja itu membuat siapapun bisa melongok ke dalam dengan mudah. Furu Neechan berkedip.

"Eiii. Kalian sekarang punya anak, toh. Kenapa tidak pernah bilang." katanya. "Lalu, gadis kemarin yang kaubilang sepupumu itu jangan-jangan bukan sepupu? Itu pengasuh, kan?"

Karena aku punya pertanda jika aku beritahu, kau pasti histeris seperti orang gila.

Jihoon memaksa tersenyum. "Hanya keponakan yang dititip kakak iparku. Mereka baru saja melahirkan bayi kembar tiga, yang bungsu ditawarkan pada kami untuk dibesarkan."

Furu Neechan melambai jaim. "Ah. Jangan malu-malu."

Geez. Sumpah. Dari dulu Jihoon benar-benar tidak paham bagaimana berurusan dengan wanita nyentrik ini.

"... Yah. Aku dan Soonyoung mengadopsinya satu setengah tahun lalu."

Furu Neechan mendengus, "Harusnya kalian bilang sejak awal. Jadi kalian tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar pengasuh. Lagipula aku kesepian di rumah. Hanya menjaga toko bunga dan pulang tanpa disambut siapa-siapa. Kalau saja anak kalian dititip padaku, aku pasti merasa senang."

"Bibi bisa merawat anak?"

"Jangan nilai aku dari luar." kata wanita itu. "Begini-begini aku jago menenangkan bayi menangis, loh."

Jihoon membuka pintu mobilnya, turun dari sana karena dia merasa percakapan ini akan jadi panjang dan dia cukup sopan untuk meladeni Furu Neechan secara tatapmuka.

"Bibi belajar dari mana?"

"Aku pernah menikah."

"Lalu, mana suamimu?" Jihoon kebingungan. Dia tidak pernah sekalipun melihat ada pria bertandang ke rumah wanita itu. Walaupun bercerai, biasanya wajar untuk seorang mantan suami menanyakan kabar istrinya dan datang bermain sekali waktu.

"... Dia terlalu cepat pergi." Furu Neechan tersenyum, "kata teman prajuritnya, suamiku mati dalam misi. Mayatnya hilang. Di surat pernyataan ditulis kalau dia tenggelam di laut perbatasan." katanya. "Suamiku ... tragis benar kisah hidupnya. Kadang aku berpikir, kalau aku tahu begitu jadinya, aku pasti akan memaksanya berhenti bekerja sebagai tentara.

"Sebenarnya saat itu aku sedang hamil enam bulan, tapi mungkin karena terlalu depresi untuk menerima kenyataan, kandunganku menjadi tidak stabil dan sebulan setelahnya, aku keguguran.

"Jadi sekarang, yah, seperti kaubisa lihat. Aku hidup sendiri."

Jihoon tak menyangka bahwa di balik sikapnya yang menyebalkan, Furu Neechan ternyata hidup dengan kenangan menyakitkan. Dia kehilangan kata-kata. Hanya bisa berdiri dengan tatapan iba dan rasa tidak nyaman karena wanita itu benar-benar tegar.

"Maafkan aku. Aku ... aku tidak bermaksud mengorek luka Anda."

Furu Neechan mengerling. "Jangan berkata hal menyedihkan. Aku wanita kuat, Jihoon. Masa lalu ada untuk membentuk pribadi kita yang sekarang, bukan begitu?"

Begitu Soonyoung pulang ke rumah pada pukul delapan, Jihoon memeluk Soonyoung yang bermaksud mengejutkannya dari balik punggung. Chan memakan biskuitnya di kursi tinggi di meja makan.

"Kamu tahu aku ada di belakang?"

Soonyoung sebenarnya senang-senang saja. Setelah berdesakan di kereta bawah tanah, bayarannya adalah pasangan yang bermanja-manja. Siapa pria sinting yang menolak sebuah pelukan? "Hei, hei. Aku baru saja pulang, Jihoon. Badanku berkeringat, kautahu."

"Tidak peduli."

Soonyoung mengesah. Jika seperti ini, Jihoon pasti punya sesuatu yang ingin diungkapkan. "Jadi ... sekarang ada apa?"

"Nanti, jika usia Chan sudah layak untuk dibaptis, aku ingin wali penggantinya Bibi Furu."

Soonyoung berkerut dahi. "Kupikir kamu selalu bersikeras meminta Joshua yang jadi orangtua baptis Chan?"

Jihoon memandang lantai, beberapa detik, sebelum pandangannya naik dan membuat Soonyoung terpaku tanpa bisa membantah.

"Ceritanya panjang. Bagaimana jika kau mandi dulu? Aku sudah siapkan air hangatnya. Langsung gabung ke meja makan setelah selesai, Soonyoung."


Usia Chan tiga tahun dan dia sudah bisa mengungkapkan pikirannya panjang lebar.

Kadang, Jihoon merasa Chan benar-benar fotokopian Soonyoung mengenyampingkan tidak ada DNA pria itu mengalir dalam darah si anak. Tapi Chan memang berisik. Dia juga bergerak ke sana ke mari sehingga membuat Jihoon kerepotan mengikutinya.

Soonyoung terkekeh dan membuka pangkuannya lebar-lebar sehingga Chan menghambur ke dalamnya. Bercerita dengan bahasa pelangi khas anak-anak tentang semua hal yang dialaminya. Bunga matahari yang mekar di halaman rumah mereka, telur mata sapi yang dimasak Okaasan-nya, atau kumis tipis yang tumbuh di wajah Otou-san jika sang ayah lupa bercukur.

Dia adalah anak yang cerdas. Jihoon bekerja keras untuk memperkaya kosakata. Dia membeli karton bergambar buah dan hewan serta benda-benda di sekitar dan mengajari Chan masing-masing nama dari semua itu.

Pada akhirnya, Chan hapal beberapa nama buah dan hewan yang familier dalam kehidupan sehari-hari.

"Lihat ini." Jihoon berkata. Telunjuknya menunjuk gambar kucing. Chan menjawab, "Nya~"

Jihoon menunjuk gambar apel, Chan menjawab, "Apul."; Jihoon menunjuk jeruk, Chan menjawab, "Juyuuk."; Jihoon menunjuk mobil, Chan menjawab, "Bruum."

"Anak Okaa-san pintar, ya."

Chan mengembangkan sengiran yang (Jihoon duga) tiru dari ayahnya yang kelebihan gula, Soonyoung.

Karena Chan paling suka dipuji pintar, dia sungguh-sungguh bekerja keras dan menjadi anak yang baik.

Jika jam dinding menunjukkan pukul enam, Chan akan melompat di samping kakak pengasuh karena tahu dia sudah dijemput orangtuanya untuk pulang dari tempat penitipan. Jihoon memarkir mobil dan datang dengan senyuman dan membungkuk sopan diiringi ucapan, "Terima kasih untuk kerja kerasnya." dan Chan akan berlari ke arahnya untuk menggenggam jari Okaa-san.

Okaa-san menyetir dengan tenang. Chan tahu kalau Okaasan-nya sedang lelah, sehingga tidak rewel dan tak meminta macam-macam. Saat tiba di rumah, Jihoon akan memandikan anak itu di dalam bak berisi air hangat dan bebek karet sambil mengawasi sup yang dia masak di atas kompor.

Soonyoung baru pulang dua jam kemudian bersama kopor berat berisi tumpukan dokumen. Chan selalu sudah pulas di kamar mereka. Jihoon menyeret langkah gontai untuk membuka pintu, menyambutnya dengan mata mengantuk dan hasrat tidur yang besar. Soonyoung lalu membersihkan badan dan menyegarkan pikiran dengan mandi. Jihoon menunggu suaminya keluar dan mereka berbincang sejenak. Setelah menyiapkan makanan untuk suaminya, Jihoon pergi ke lantai atas dan langsung ambruk di atas ranjang yang sudah berisi Chan.

Usai menangani cucian piring, Soonyoung ikut pergi ke atas dan bergabung bersama suami dan anaknya. Tak lupa membubuhkan kecupan singkat (tapi hangat) di sudut pelipis suaminya.

"Terima kasih untuk kerja kerasnya. Aku mencintaimu, Jihoon."

Di saat-saat tertentu, Jihoon akan langsung membuka mata dan menarik leher suaminya lekat-lekat. Bibirnya menempel di bibir Soonyoung untuk beberapa detik. Hingga dia berbisik, "Aku rindu padamu, tahu. Kamu lama sekali."

(Mereka pergi ke lantai bawah untuk bercinta. Dan Chan akan menangis karena terbangun kehausan di tengah malam dan mendapati dirinya hanya sendirian di kamar itu. Soonyoung tergopoh-gopoh menghampiri dan menggendong Chan di samping tubuhnya sambil berkata: "Duuh. Anak Otou-san nggak bisa lihat Otou-san pacaran sebentar sama Okaa-san, ya". Mereka tidur bertiga di ruang tengah walaupun ada ranjang empuk di kamar.)


Minggu itu adalah minggu yang bebas bagi Sooyoung karena dia tidak punya telepon dari klien yang harus diurusi. Biasanya, ponselnya ramai oleh banyak keluhan walaupun jelas-jelas Minggu adalah akhir pekan tanpa gangguan. Karirnya menanjak dari tahun ke tahun dan sekarang dia mendapatkan posisi penting dalam perusahaan—itu sebabnya dia selalu berangkat subuh pulang larut.

Jihoon sedang berada di dapur untuk memasak panekuk sebagai sarapan.

Karena bosan tak ada kegiatan, Soonyoung mengajak Chan bergabung bersamanya di atas sofa.

Chan yang tadinya fokus menonton Doraeman berlari ke arahnya dan duduk di atas paha Otou-san.

Otou-san mengusap layar komputer mininya, hingga tampil sesuatu yang asing bagi Chan.

Itu adalah gambar gajah. Berwarna abu-abu dengan belalai panjang. Chan baru pertama kali melihat karena sebelumnya, Okaa-san tidak pernah menunjukkan gambar itu.

"Ini namanya gajah, Chan." kata Soonyoung.

"Gajah?"

Soonyoung mengangguk. Dia menunjuk belalai menjuntai si gajah. "Chan tahu ini? Ini namanya belalai."

"Oh. Belalai."

"Ya." Anggukan lagi. "Chan tahu? Otou-san, Okaa-san, dan Chan juga punya belalai."

"Eh?" Chan heran. "Di mana?" tanyanya. Karena belalai gajah terletak di kepalanya dan Chan sibuk meraba kepalanya tapi tidak menemukan sesuatu seperti itu.

"Tapi adanya di tempat rahasia."

"Hoo."

Soonyoung menahan tawanya supaya tidak bocor keluar.

"Tapi, di mana, Otou-san?"

"Ituu. Di dalam celanamu." Soonyoung menepuk pantat anaknya. "Nah. Kalau mau tahu, tanya Okaa-san saja sana. Okaa-san tahu semuanya."

Seperti diduga dari kepolosan seorang bocah, Chan pergi ke dapur untuk mengadu (dan mengklarifikasi ilmunya) pada Okaa-san. "Okaa-san." panggilnya. Dia menarik celana Jihoon dan membuat Jihoon sedikit kewalahan karena fokusnya terbagi.

"Sebentar, Sweety. Okaa-san sedang memasak."

Chan belum berhenti sebelum dia mendapat perhatian. Jadi Jihoon mengecilkan api kompornya dan menyejajarkan tingginya dengan sang anak. "Apa? Anak pintar mau tanya apa?"

Dan alangkah terkejutnya Jihoon mendapati anaknya berdiri tanpa menggunakan celana. Dia bagai tersambar petir di siang bolong. Chan bertanya dengan keingintahuan tinggi tercetak jelas di wajahnya. "Otou-san bilang, di dalam celana Chan namanya belalai. Otou-san juga bilang Otou-san dan Okaa-san juga sama-sama punya."

Wajah Jihoon memerah gabungan antara amarah dan rasa malu.

Beberapa detik kemudian, panci dan sodet masak bergelimpangan.

"JANGAN MENGAJARI ANAKMU DENGAN HAL-HAL TIDAK PATUT, DASAR KAU MESUM. SOONYOUNG GILA, MATI KAU SANA!"

Soonyoung pergi ke luar rumah sebelum Jihoon yang mengamuk menghabisinya dengan pisau daging. Pelipisnya berkeringat dingin mendengar pintu rumah dikunci dari dalam. Jihoon bicara dengan nada suara yang disetel besar-besar:

"DENGAR, SOONYOUNG! KAU TIDAK DAPAT JATAH SARAPAN!"

(Sementara itu, Chan masuk ke kamar mandi tanpa celana. Dia menyengir saat merasa sudah menyelesaikan urusan. Belakangan ini dia sudah mahir pipis di pipet.)


Apakah ini bisa disebut sebuah keberuntungan; Jihoon masih sibuk bertanya-tanya.

Dia tidak menyangka bahwa kebetulan yang terjadi semasa SMA dulu akan mengantarkannya pada kehidupan penuh warna bersama Kwon Soonyoung. Meskipun banyak hal yang memicu pertengkaran di antara mereka, keduanya pasti selalu punya jalan penyelesaian di akhir. Bahkan jika hubungan mereka berada di ujung tanduk, Soonyoung selalu bisa banting setir dan membuat pertengkaran mereka sebatas bumbu dalam suatu ikatan.

Jihoon tidak pernah sekalipun menyesal telah menikah dengan Soonyoung yang berlawanan mulai A sampai Z darinya. Keputusannya meninggalkan Seungcheol dan menjalin hubungan baru dengan Soonyoung yang dikenalnya secara konyol adalah hal yang sampai saat ini benar-benar dia hargai. Dan kenyataannya benar—sekarang, dia punya kehidupan bahagia bersama pria itu, dan juga anak adopsi mereka yang lucu dan energik, Chan.

(Dia tak pernah menyesal, sebab dia tahu, pilihannya pasti tak pernah salah.)


Chan genap berusia lima tahun dan mulai pergi ke Taman Kanak-kanak.

Dia bertemu dengan banyak anak. Mulai dari yang rambutnya cepak, yang bajunya disetrika terlampau klimis seperti paman-paman, atau yang datang dengan limusin karena orangtuanya berasal dari kaum elit. Dia langsung berhasil membuat teman tepat setelah bel masuk berbunyi karena pada dasarnya sifat Chan ceria dan dia gampang disukai anak lainnya.

Saat jam istirahat tiba dan anak-anak ingusan itu berkumpul untuk bermain bersama, salah seorang teman perempuan Chan maju dan bertanya, "Chan-kun. Kenapa Okaasan-mu pakai celana?" karena tadi pagi, anak perempuan itu melihat Chan diantar seseorang yang dipanggilnya Okaa-san.

Saat pulang dengan bus sekolah yang berwarna kuning dengan kaca jendela besar, dia langsung bergegas menghampiri orangtuanya yang saling berangkulan di sofa ruang tengah – lebih tepat dibilang Soonyoung yang merangkul karena Jihoon terus-menerus menjauh dan terkesan apatis.

Chan melepas topi dan tasnya, lalu membuangnya ke lantai. "Wah. Channie sudah pulang ternyata." Jihoon tampak senang melihat kedatangannya.

"Loh? Kenapa ini? datang-datang bukannya beri salam 'Aku pulang.' kok malah buang-buang tas?" Soonyoung keheranan.

"Otou-san, Okaa-san, Chan mau tanya. Otou-san dan Okaa-san tidak boleh bohong jawabnya."

"... Tanya apa?"

Dan pertanyaan Chan bagai granat yang dilempar ke kawasan padat penduduk; begitu mengejutkan, tanpa perencanaan: "Kenapa Okaa-san Chan memakai celana?" Raut Chan berubah serius. "Semua Okaa-san teman-temanku di sekolah memakai gaun."

Peluh sebesar butir jagung meleleh di dahi Soonyoung. Dia menoleh, menatap suaminya yang tampak tenang-tenang saja alih-alih anak mereka tengah mengajukan pertanyaan yang harus dapat jawaban. "J-Jihoon?"

Jihoon bangkit dari sofa, meninggalkan suaminya dengan sepotong ujaran datar:

"Kamu yang jawab. Kan kamu yang ngotot adopsi anak sejak awal. Selamat menjawab, Anata~"

(Dia pergi dengan tawa yang ditahan mati-matian.)

Pada akhirnya, hari-hari mereka akan tetap begitu – konyol dengan banyak kejadian tidak terduga tapi terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Kehidupan yang berlalu dengan dinamika naik-turun. Jihoon tak peduli dengan banyak tawaran untuk kehidupan yang lebih baik di luaran sana.

Karena dia mengerti, Kwon Soonyoung si pria kelebihan gula sudah lebih dari cukup untuk melengkapi Lee Jihoon yang punya banyak cela.


おわり
(END.)


zula's note:

sunyong tambah ga beralasan, fik ini masih nyebut merek, bibi tetangga makin ngeksis, masih nyelipin yang anuanu ... fiks. kesimpulannya ini fik makin gajeeee #cakartembok. waktu proofread sebelum diterbitin, aku rada geli gitu. dan cuma mikir ih kok gue nulis alay banget sih tapi apa daya mungkin aku emang positif alay.

special thanks to:

yuzuki chaeri, shmnlv, kyung064, uhee, anna-love 17carats, calum'snoona ((dek hutangku jadi lunas ya udah. :3)), jinyoungggg, siska yairawati putri, miku onekawa, gamesmi, knmp00, yayaerma1, wu xinlian, sonewbamin, aqizakura, boo-kwan, eyeless addict, woozigzag ((sori kalo ngecewain dek, soalnya tipe darahku ngga sesuai sama bayanganmu karna aku A rhesus negatif wuahahah.)), anon, , darkestlake, ayp, edisson, parkdyobi, inisapaseh, depitannabelle, fleur avior, menboong, honeylili, oomuomingyu, shiroohan, boobeepboo, thal.j, bebeknyajongdae9, itsathenazi – makasih banyaaak udah kasih feedback di chapter lalu. maaf sebanyakbanyaknya kalo ada yg namanya lupa disebut. ;w;)

last. makasih buat yg udah nyempetin mampir; baik yg masih betah diemdieman atau yg ninggalin review panjang macem bkt #woi. review utk chapter penutup ini bakal kutunggu dg sabar. aku nggak gila review, kok. cuma pingin ngingetin buat jadi pembaca aktif aja. ne?

ps: ini dikerjain sistem sks. mikir, ngetik, dan merhatiin eyd sekaligus bareng2. tidak untuk ditiru. #yha.
ps2: tapi menurutku lebih gampang nulis fik genre beginian daripada romens fluff. TT
ps3: (alternate-fic) bayangin sunyong ngotot adopsi anak mirip leonardo di caprio. pasti yang jadi anak mereka bukan chan tapi vernon.
ps4: panggilan-panggilan kayak sensei, otou-san/okaa-san, nii-san, anata dan sweety sengaja gak dibuat italic karna yah, itu sebuah panggilan. begitu juga sufiks honorifik yg emang redaksi penulisannya emang ga miring.
ps5: never dan tns masing2 plesetan dari naver dan sns. sejoli super itu plesetan super lovers; manga karya abe miyuki-sensei yg juga nulis komahoshi ((in case u do know her)). bishie itu singkatan bishounen. sebutan buat cowok cantikkk. kalo di korea istilahnya kkotminam. sayonara itu sama artinya kek annyeong/dadah~
ps6: dan aku bergelinjang waktu tau super lovers diangkat jadi anime. sampe sekarang masih girang. ;w;) kadokawa is the best lah.
ps4: aku kepikiran bikin sekuel. gimana menurut kalian? ((dan aku bakal publish kalo emang banyak yg minat)) ((ohya, sekuelnya itu kira2 tentang perkembangan chan dari tahun ke tahun/?))
ps5: kalo minat, cek proyek baruku juga yaa. judulnya zutto mae kara suki deshita (i've always liked you) :v