disclaimer: tidak mengklaim apapun selain plot
couple: Suho-Lay
warning: BL. AU/Canon. Typos. Drabbles. Garing Krenyes
-Beverages-
Part I
.
.
(note: kumpulan drabbles. drabbles satu dengan lainnya tidak saling berhubungan, diambil dari bermacam-macam universe)
DLDR.
.
.
Cappucino with sugar;
Joonmyeon menghela nafas untuk yang—entah untuk yang keberapa kalinya hari itu.
Dagunya disangga di tangan kanan, sementara matanya berkeliling mengamati pelanggan yang tersebar di berbagai sudut dengan cup kopi di hadapan.
Rambut brunette-nya tak ditata sempurna, snapback hitam yang menutupi kepalanya dibiarkan begitu saja, apron berwarna hijau tua yang mengikat tubuhnya tampak sedikit rumpel, sementara raut mukanya lempeng—benar-benar seperti orang yang sudah tidak niat hidup.
Joonmyeon memang dikenal sebagai squidward-nya kedai kopi ini. Dia dikenal sebagai barista yang cuek dan tidak terlalu ramah. Namun menurut fansnya (yang sebagian besar adalah pelanggan kedai kopi ini) mengatakan bahwa setidaknya wajah gantengnya menetralisir sifat menyebalkannya.
Ia sudah sering membuat bosnya gemas bukan kepalang. Joonmyeon bertaruh sang manajer sebenarnya ingin sekali memecatnya karena sikapnya yang dingin itu. Namun tentunya si bos lebih memikirkan mengenai pemasukan kedai yang faktanya makin bertambah semenjak Joonmyeon resmi bekerja disini.
Lonceng yang berdenting sama sekali tak merubah pose meratap Joonmyeon di meja kasir. Dia masih saja memasang wajah kusut dengan pandangan bosan, tanpa menyadari seorang pelanggan menghampirinya.
"Ehem."
Suara deheman itu menyita atensinya, dan benar-benar menyita atensinya kala pandangan matanya terpatri pada sosok lelaki yang kini berdiri di depan meja kasir.
Joonmyeon speechless.
Mungkin bagi sebagian orang, lelaki ini tampak biasa saja.
Ia hanya mengenakan kaos-bukan jenis branded, berwarna merah dengan huruf yang catnya hampir memudar, sementara kakinya dibalut celana jeans biru laut. Dia juga mengenakan tas punggung warna ungu dan kacamata frame hitam besar yang membingkai sepasang matanya yang—eum.. cantik.
Mahasiswa. Tipe-tipe nerdy.
Ia kelihatan membosankan. Tapi ada sesuatu yang membuat Joonmyeon merasa tertarik, yang membuat Joonmyeon berpikir bahwa he is the right one.
Dan hal ini sangatlah tidak biasa.
Senyum yang jarang diumbarnya ke pelanggan dia bawa ke permukaan—senyum genit, sebenarnya.
—dan Joonmyeon bersumpah ia sempat mendengar suara pekikan gadis-gadis dari arah selatan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Lelaki itu balas tersenyum, dan seperti ingin membuat Joonmyeon semakin jatuh cinta saja, dia punya dimple, fyi.
"Satu cappuccino—dan tolong tambahkan sedikit pemanis."
—Kamu sendiri sudah manis kok.
"Minum disini atau take away?"
"Take away."
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar."
Joonmyeon masih mempertahankan senyumnya ketika dia berbalik dan berseru kepada temannya di belakang pantry untuk membuat pesanan si pelanggan. Jemarinya menari di atas keyboard mesin kasir, menekan tombol ini dan itu, sebelum berujar,
"Totalnya 4, 100 won."
Lelaki itu memungut dompetnya dari kantong bagian belakang celana jeansnya. Tangannya terulur untuk menyerahkan beberapa lembar uang, dan Joonmyeon memanfaatkan kesempatan besar itu untuk merasakan sensasi kulit si manis yang beradu dengannya.
Dia biarkan tangannya disana selama beberapa saat, sebelum menarik diri untuk memasukkan uang ke dalam mesin kasir, masih dengan melempar senyum ramah untuk sang pemuda yang justru lebih tertarik dengan desain interior kedai ketimbang pesona si barista.
Seorang rekan kerjanya meletakkan cup cappucino yang telah siap itu di pantry. Joonmyeon berbalik, memungutnya di tangan kiri, sedang tangan kanannya meraih spidol permanen dari meja,
"Atas nama siapa?"
—atas nama cinta.
"Zhang Yixing."
Selesai berkutat dengan spidol, Joonmyeon meletakan cup cappucino berserta sedotannya di atas meja. Joonmyeon menawarkan senyum angelic pamungkas ketika tangan Yixing terulur untuk meraih cup, bola matanya berbinar penuh arti.
"Selamat menikmati!"
Yixing membalas senyumnya, lalu melangkah keluar kedai. Dan ketika ia membalik sisi cupnya, untaian kalimat dari goresan tangan sang kasir pun tertangkap mata,
.
Yixingie ❤
+689067
Call me ;)
.
Yixing tersenyum simpul.
.
.
.
.
wine;
Semua yang terjadi saat ini terasa begitu imajiner, namun terasa nyata disaat bersamaan. Dia tidak mengerti bagaimana tepatnya ini bisa terjadi. Semua terjadi begitu cepat.
Sedetik yang lalu mereka tengah bersantai, tertawa bersama teman-temannya di lounge bar eksklusif yang disewa agensi sebagai pesta perayaan, dan sedetik kemudian dia sudah ada disini. Di sebuah kamar dengan cahaya temaram, yang entah milik siapa. Terduduk di sisi ranjang dengan teman satu grupnya yang kini duduk di pangkuan, bergulat lidah—bibir bertautan.
Kepalanya serasa berputar. Joonmyeon merasa ia mulai kehilangan akal, ketika tangan mereka mulai bergerak liar, meremas dan meraba. Dari kepala, leher, dada hingga turun ke pinggang. Dia juga tidak melewatkan sensasi rasa pahit wine yang terkecap dari lidah mereka yang bertukar saliva.
Joonmyeon samar-samar mengingat bahwa ia sempat menegak segelas atau dua gelas wine beberapa saat yang lalu. Dia ingat terduduk di lounge, mengamati Lay yang duduk di sebelahnya, bandmate-nya sekaligus orang yang mengambil peran penting dalam fantasi liar Kim Joonmyeon, termenung dengan sebotol red wine di tangannya.
Joonmyeon ingat bertanya, merasa khawatir pada Lay yang tanpa pikir panjang menegak hampir separuh botol wine-nya, mendengarkan ceritanya sementara pemuda itu menangis tersedu-sedu mengenai kerinduannya pada orangtuanya, nasib grup mereka sampai aktivitasnya di China yang melelahkan. Dari sekian itu, yang paling diingatnya adalah ketika Lay menatapnya tepat di mata dan berkata,
.
"Aku mencintaimu."
.
Dan setelahnya dia tidak mengingat apapun lagi, hingga bagaimana mereka berdua bisa ada di tempat ini.
Sensasi hangat lidah yang menelusuri bibir bawahnya menyeret Joonmyeon ke realita. Dia membuka kedua mata, membiarkan Lay dengan segala keagresifannya. Men-grinding bagian bawahnya, melumat bibirnya, serta mencengkram rambutnya dengan gerakan sensual.
Joonmyeon menangkap pergelangan tangan lelaki itu, tepat saat ia hendak melucuti kancing kemejanya.
"Tidak," ujar Joonmyeon dengan nafas terputus-putus, "Tidak bisa."
Lay menatapnya dengan alis mengerut bingung.
Helaan nafas berat meluncur dari bibir Joonmyeon yang lembab, "Kau mabuk. Aku tidak bisa membiarkan kita melakukan ini dalam keadaanmu yang mabuk, aku tidak mau kau menyesalinya."
Lay yang masih duduk di atas pahanya, terkekeh kecil. Dia mendekatkan bibirnya, menarik daun telinga Joonmyeon dengan kedua belah bibirnya dan menggigitinya ringan. "Siapa bilang aku mabuk?"
"Tapi—"
"Aku heavyweight, leader. Separuh botol wine tidak akan membuatku mabuk,"
Joonmyeon menarik diri, kedua bola mata membulat, "Jadi kau sadar?"
"Seratus persen."
"Termasuk—"
"Ya, termasuk ketika aku menyatakan cinta padamu,"
Hening.
Tensi tinggi menyelimuti ruangan itu. Selama beberapa saat tak ada yang membuka suara.
Namun Joonmyeon mengakhirinya dengan sebuah helaan nafas panjang,
"Kau tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar itu," bisiknya di telinga Lay.
Lay hanya mengulum senyum kecil. Jarinya berpindah, memainkan rambut di tengkuk sang leader. Sepasang matanya menatap lekat diantara temaram lampu. Kilat gairah memancar di kedua manik itu.
"So... lanjut atau tidak?"
Dan bibir Joonmyeon yang meraup bibirnya sedetik setelahnya, mengantarkan mereka melewati sebuah malam yang panjang.
.
.
.
.
susu;
Suho menggerutu sepanjang perjalanannya menuju minimarket dekat rumah. Dia harus rela menunda aktivitasnya mengarungi pulau kapuk karena sang Mama datang menggebrak kamar dengan satu titah suci,
"Belikan Mama pembalut!"
Bahkan Mamanya lupa memberi uang pesangon.
Atau mungkin memang sengaja.
.
Suho merengut, agak kesal.
Sungguh. Di jam jam begini matahari memang sedang terik-teriknya bersinar. Sementara minimarket tempat destinasinya itu berjarak beberapa blok dari rumahnya.
Suho sebenarnya paling benci jika harus disuruh panas-panasan begini. Panas matahari mengakibatkan rambut Suho yang sempurna jadi lepek dan bau, belum lagi kulit mulusnya yang harus rela diguyur sinar ultraviolet begitu.
Tapi sesayang-sayangnya Suho pada kulitnya, dia lebih sayang Mama-nya.
Jadi dia lakoni saja—ya walaupun ancaman akan dilempari panci dan wajan berperan juga.
Suho mendorong pintu minimarket itu dengan gaya cool. Sapaan selamat datang Suho acuhkan, melenggang ke arah rak yang berisi jajaran pembalut wanita.
Sementara dia menimbang-nimbang, bingung ingin membeli merek yang mana karena Sang Mama juga tidak menyebutkan spesifikasi tertentu. Dia bergumam,
"Enak yang pakai sayap atau enggak ya? Yang tipis atau yang tebal? Kalau yang tipis nanti gampang bocor, tapi kalo yang tebal nanti ngecap. Pasti bikin nggak nyaman. Tapi pilih yang reguler atau yang night? Yang 29 cm atau yang 35 cm saja ya?"
.
Seolah memang dia yang hendak memakainya saja.
.
Sama sekali tak peka dengan tatapan ngeri ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikannya.
.
Masa bodoh, Suho menyambar satu pack pembalut berwarna oranye dan membawanya ke meja kasir yang kebetulan sedang sepi.
Si penjaga kasir yang awalnya berjongkok di belakang meja langsung berdiri dan menyunggingkan senyum ramah.
Macam di film-film, Suho bisa merasakan semua benda di sekelilingnya berhenti bergerak.
Pusat dunianya seolah terserap oleh lengkungan senyum mas penjaga kasir yang sejuk mendamaikan jiwa.
Pegawai dengan tag nama 'Zhang Yixing' meraih scanner dan mengambil pembalut yang diletakan di meja. Dahinya mengernyit, memandang Suho dengan tatapan nge-judge,
Suho blushing,
"Eum... itu titipan Mama, suwer."
Yixing masa bodoh, mengangguk sekilas. Tangannya mengarahkan scanner ke kode batang di balik bungkus dan mengetikan sesuatu ke dalam komputer.
Senyum lagi.
"Totalnya 3, 250 won."
Dengan gerakan patah-patah Suho meraih dompet dan satu lembar uang dengan nominal besar, Zhang Yixing menerimanya tanpa rewel minta uang kecil. Yixing sempat menawarkan beli pulsa, namun Suho menolaknya dengan halus.
'Kalau beli pulsanya gratis nomor kamu sih nggak apa-apa,' batin Suho licik.
Struk belanja disatukan dengan uang kembalian berikut dengan kantong belanja Suho yang berisi pembalut. Yixing membungkuk, tersenyum sekali lagi,
"Terima kasih sudah belanja di alphamart."
.
Suho berjanji dalam hati bahwa dia akan datang lagi besok.
.
Dan besoknya, Suho benar datang lagi.
.
"Selamat datang di—"
"Selamat pagi Yixing-ah! Apa kabar?"
Kalau biasanya si penjaga kasir yang akan menyapa, ini justru si pembeli yang semangat memberi salam.
Ya maaf-maaf saja.
Suho hanya terlalu senang sewaktu tahu Yixing mendapat jatah shift lagi hari ini.
Sedang Yixing yang disapa secerita itu menjawab ragu, "Eum... kabarku baik."
Suho tersenyum lebar, "Baguslah. Aku belanja dulu ya."
Yixing mengangguk kikuk.
Setelah melambai pada Yixing yang masih kebingungan, Suho melenggang ke depan kulkas dekat meja kasir yang di dalamnya berjajar minuman dingin. Memang, Suho sengaja tidak ingin jauh-jauh dari Yixing.
Dia ini orangnya kangenan.
.
Diantara berderet minuman yang berjajar, Suho akhirnya memutuskan untuk membeli susu kotak yang ada di rak paling atas.
.
Kenapa susu?
.
Tentu saja karena Suho suka susu.
.
Jangan bilang-bilang juga kalau Suho harus berjinjit sedikit untuk meraih susunya.
.
Begitu susu sudah di tangan, Suho melesat secepat kilat menuju meja kasir untuk membayar, sayang dia keduluan om-om.
Sembari menanti sang om-om membayar, Suho memanfaatkan kesempatan ini untuk mengagumi sosok sang kasir yang berhasil menawan hati Suho hanya dengan senyum berdimplenya.
.
Dan panjang umur, senyum itu pun muncul lagi ke permukaan.
Sayangnya senyum itu bukan di tujukan untuknya, melainkan untuk si om-om di depan.
Suho merengut.
.
Jangan baper.
.
Kenyataannya memang bukan dia saja yang pernah dapat service senyum cantik Yixing kan?
.
Derita naksir mas-mas kasir.
Namun Suho pantang menyerah.
Selama janur kuning belum melengkung, boleh lah ditikung.
Suho harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya. Dia tidak rela jika ada pembeli lain yang menggebet Zhang Yixing duluan. Senyum itu hanya boleh untuknya seorang.
Dan kini tibalah gilirannya. Suho melangkah maju, semangat menggebu-gebu menggantikan tempat sang om-om di depan meja kasir. Senyum manis Yixing menyambutnya detik itu juga.
Adem, anjir.
.
Suho benar-benar harus memikirkan cara untuk membuat sang kasir kesengsem padanya—AH, mungkin dengan ngegombal.
Gombal.
.
Suho menggigit bibir cemas.
Iya. Tapi ngegombal apa?
.
Matanya berkeliling mengamati setiap sudut minimarket dengan panik, mencari inspirasi.
Lalu matanya terjatuh pada susu kotaknya di meja kasir.
"Waktu kecil kamu minumnya susu bendera ya?"
Yixing yang tengah memegang scanner mengerutkan kening.
Suho senyum masam,
"Tolong dijawab, 'Kok tahu?' "
Yixing menghela nafas, "Kok tahu?"
"Soalnya nikmatmu hingga tetes terakhir."
.
Bukannya dapat ciuman cinta, Suho malah dapat gamparan mesra.
.
.
.
.
cola;
Zhang Yixing berjalan keluar ruang guru dengan kaki menghentak-hentak dan langkah lebar. Dia berjalan cepat, menghiraukan tatapan heran orang-orang yang dilewatinya.
Kedua tangan mencengkram strip tas punggungya erat-erat untuk meredam emosi. Kaki-kakinya membawa tubuhnya melewati gerbang belakang, menuju taman sekolah yang sebenernya lebih mirip hutan, dengan pohon-pohonnya yang rindang berjajar dan kursi besi yang tersebar.
Yixing berjalan ke arah pancuran kecil di sebelah utara. Kedua tangannya ditangkupkan untuk mengambil air dari pancuran, lalu membasuhkannya ke wajahnya yang memerah. Yixing menarik nafas panjang.
Sungguh, dia sebal sekali dengan guru geografinya. Sudah menunda waktu pulangnya, yang Yixing dapat justru cemoohan dan ejekan sang guru karena nilai geografinya yang kurang memuaskan. Satu jam penuh dia jadi bulan-bulanan di ruang guru, dipermalukan di depan guru guru lain.
Oh ayolah, orientasinya sekolah kan bukan hanya sekedar mencari nilai.
Lagipula nilainya jelek bukan kesalahannya sepihak. Lagipula tidak hanya Yixing saja yang mendapat nilai kurang, mungkin si guru geografi lah yang justru butuh intropeksi diri.
Mengingat ucapan ucapan sang guru membuat emosi Yixing kembali memuncak. Yixing menggeram rendah. Refleks dia tendang kaleng cola cola bekas di samping sepatunya sebagai pelampiasan, sebelum-
.
Thuak.
.
"SIALAN. SIAPA YANG NENDANG NIH?"
.
Yixing berdiri takut-takut di tempatnya, bulu kuduknya meremang saat sesosok bayangan muncul dari balik pohon ek beberapa meter di depannya, lengkap dengan satu tangan mengenggam kaleng coca cola. Kakinya semakin gemetar saat dia menyadari siapa yang jadi korban tendangan kalengnya.
Ludah diteguk.
"Eh maaf maaf s-sunbae, n-nggak sengaja."
.
Semua orang kenal siapa dia.
Itu Kim Joonmyeon, senior tingkat atas yang terkenal dingin dan garang, tukang malak walau mitosnya dia kaya raya.
.
"Kau pikir minta maaf saja cukup?"
Joonmyeon sunbae berjalan mendekat, tangan kanannya meremukkan kaleng coca cola digenggamannya menjadi tak berbentuk.
Yixing jadi pingin pipis di celana.
"A-aku kan tidak tahu sunbae ada disana. Lagipula sunbae ngapain di balik pohon? Petak umpet? Pipis atau—"
"Oh~ sudah berani ya sama senior?"
Seniornya semakin mendekatinya, berlagak seperti predator. Yixing siaga satu, melangkah mundur hingga tak sadar punggungnya menabrak pohon. GAH! Pohon sialan, kenapa bisa ada disini sih?
Tamatlah riwayatnya.
.
Joonmyeon smirk.
Yixing meringis.
.
Joonmyeon membawa kedua tangannya di sisi kepala juniornya, mengurungnya di tempat.
Yixing merintih nista. "Maaf sunbae. Serius deh, aku nggak sengaja."
Joonmyeon mendecak, "Tidak semudah itu. Ada satu syarat lagi."
"A-apa sunbae?"
Jangan jangan sunbaenya mau uang? jam tangannya? tasnya? atau malah nyawanya—
"Pinmu. Aku minta pin bb mu, boleh kan?"
.
Yixing tidak menyangka,
Ternyata sunbaenya receh juga.
.
.
.
.
tbc.
LOL. GA JELAS SUMVE.
ini iseng iseng gais, swedih ey rekkk, persediaan ff otp kita yang bahasa indo makin menipis, jadi mohon maklumi diri kami inih ;"
Sebenernya ada total sembilan drabbles hasil collab ttg beverages ini. Udah jadi sih, tapi mungkin 5 drabbles berikutnya bisa di post besok /kalo sempat/hoho.
THANK YOU ya sudah mau baca ini :3
Boleh ninggal kenang-kenangan di kotak review lho XD MUUCIH :*