_Baekkie21 Present_

.

.

.

.

.

Last Chance

.

Rate T

.

.

[Beberapa jam yang lalu…]

Luhan berlari ke arah kekasihnya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Luhan mempercepat langkah kakinya mengingat sebentar lagi pelatihan untuk lomba pratikum kima tingkat nasional akan di mulai sebentar lagi. Luhan sebenarnya tak enak meminta bantuan kekasihnya saat ini, tapi ia tak memiliki pilihan lain. Sesekali Luhan membetulkan letak kaca mata khusus untuk pratikum miliknya karena terlihat melorot, bahkan hampir jatuh. Ia masih waras untuk tidak membuat Kwon Saem memakinya hanya karena ia membuat kaca mata mahal itu tergores atau parahnya lagi patah. Samar-samar ia lihat Kris, salah satu teman kekasihnya seperti menunjuk ke arahnya lalu disusul kedua sahabat kekasihnya dan sang kekasih menoleh ke arahnya. Kedua sahabat dan kekasihnya itu duduk ke arah berlawanan darinya.

"Hosh... Hosh... ahir..."Luhan mengambil tempat di sebelah Sehun, kekasihnya untuk mendudukan pantatnya. Sang kekasih menatap Luhan heran namun tangannya dengan cekatan memberikan sebotol air mineral miliknya.

"Hey kau kenapa? Kenapa harus berlari?"tanya Sehun bingung sambil mengerakkan telapak tangan kanannya untuk mengelus pelan punggung kekasihnya. Luhan menegak habis air mineral yang diberikan Sehun tadi. Luhan mulai mengatur nafasnya sejenak.

"Hun, tolonglah aku"pinta Luhan dengan tatapan memelas, matanya berkedip-kedip, bibirnya mengerucut dengan sedikit melengkung ke bawah. Oh sungguh, Sehun tak kuat melihat agyeo Luhan saat ini.

"Apa lagi kali ini tuan putri? Buku catatanmu tertinggal atau tugasmu lagi?"celetuk seseorang dengan nada mengejek membuat Luhan mendelik tak suka.

"Diam kau Kim Kai! Urus saja urusanmu sendiri!"bentak Luhan kesal. Dari semua sahabat Sehun, Luhan paling membenci Kai. Satu-satunya orang dengan mulut besar dan kepala sekeras batu yang pernah Luhan temui. Namun sayang, orang itu adalah kekasih dari sahabatnya sendiri.

"Hey, ini juga urusanku, Sehun adalah sahabatku" Rupanya Kai masih ingin terus menggoda Luhan, Sehun mendengus melihat tingkah sahabatnya yang satu itu. Kai selalu berhasil memancing emosi kekasihnya.

"Sehun adalah kekasihku! Dasar hitam, akan ku laporkann tingkahmu pada Kyungsoo dan kupastikan dia takkan memaafkanmu!"ancam Luhan dan sangat ampuh untuk membuat Kai diam seribu kata. Mulutnya mengatup erat-erat. Kalau sudah membawa Kyungsoo, Kai pasti menjadi lemah dan otomatis kalah.

"Sudahlah Kai, berhenti mengusik kekasihku"lerai Sehun seperti biasanya dengan sorot mata malas menatap sahabat hitam sekaligus menyebalkannya itu. Sehun kembali menoleh ke arah kekasihnya yang masih kesal dengan Kai, bibirnya mengerucut sempurna membuat Sehun gemas. Tangan kekarnya mengusak lembut pucuk kepala Luhan.

"Kau mau minta tolong apa, hm?"tanya Sehun lembut. Kai ingin nyeletuk lagi namun bibirnya sudah terlanjur di bekap Park Chanyeol. Sahabat tiang lainnya malah tertawa terbahak tanpa ada niat menolongnya.

"Hun, aku lupa membawa alat pratikumku, ehm lebih tepatnya tak sengaja rusak karena tanganku tak bisa diam dan aku lupa membelinya kemarin-" Luhan menghembuskan nafasnya sejenak, berharap kekasih tampannya itu mau membantunya.

"Bisakah kau tolong belikan alatnya sekarang?"tanya Luhan memelas, Sehun tersenyum gemas melihat tingkah kekasihnya saat merajuk.

"Kau ini, Lu. Kami baru selesai latihan basket untuk pertandingan dengan sekolah lain, biarkan Sehun menikmati istirahat tambahannya"celetuk Kai lagi yang sudah terbebas dari bekapan tangan Park Chanyeol. Luhan ingin membalas ucapan Kai namun di tahan Sehun.

"Sudahlah, kau buru-buru kan? Alat apa yang harus aku beli, lebih cepat lebih baik"tutur Sehun lembut, Luhan tersenyum ke arah Sehun lalu memberikan sebuah kertas yang berisi tulisan.

"Itu nama alatnya dan-" Luhan menggantungkan kalimatnya lalu menengok arlojinya. 30 menit lagi latihan di mulai.

"-Latihan akan dimulai 30 menit lagi, jadi ku mohon kau segera membelinya"sambung Luhan sambil memelas. Sehun sweetdrop, ia berharap jarak sekolah dan tempat ia harus membeli alat aneh itu tak jauh.

"O-okey, lalu dimana aku membeli alat ini?"tanya Sehun. Luhan terlihat berfikir sebentar.

"Kau tahu letak perusahaan Baba?"

"Iya" 'jangan katakan jika aku harus membeli di daerah sana, Luhan'batin Sehun.

"Pak Lim bilang tempat beli alat itu ada di blok G persis di belakang perusahaan Babaku" Kris memuncratkan orange juice yang ia minum. Dan sialnya, itu mengenai kaos latihan basket Kai.

"Ya ampun, Lu. Itu sangat jauh, kau yakin bisa sampai dalam waktu 30 menit?"tanya Kris ke Sehun. Sehun menghela nafasnya berat, diliriknya Luhan yang menatapnya dengan memelas.

"Baiklah, akan ku usahakan"Sehun beranjak dari tempat duduknya.

"Aku pergi"pamit Sehun lalu berlari ke basement untuk mencari mobilnya setelah mengecup dahi Luhan sekilas. Sesaat setelah kepergian sehun, Kai terlihat mencibir ke arah Luhan sedangkan Kris dan Chanyeol hanya menatap Luhan tak percaya.

"Kenapa?!"tanya Luhan ketus saat menyadari ketiga sahabat kekasihnya menatapnya tak percaya, kecuali Kai. Kai masih menatap mengejek dirinya.

"Menyusahkan sekali, untung Baby Soo tak seperti dirimu"cibir Kai membuat Luhan melempar botol air mineral kosong ke arah Kai. Kai mendelik tajam ke arah Luhan setelahnya.

"Aku tak main-main dengan ancamanku tadi Tuan Kim Kai, dan kurasa Tuan Park Chanyeol dan Tuan Kris Wu tak akan berminat ikut campur, bukan?"tutur Luhan penuh penekanan lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi ke laboraturium. Ia sudah banyak menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Kai.

"Astaga Kai, aku tak bisa membayangkan kalau Luhan benar-benar mengadu ke Kyungsoo, kau baru baikan dengannya tiga hari yang lalu. Yang benar saja"ucap Chanyeol sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Untung tadi kau yang terkena cipratan muncratanku, bukan Luhan. Jika tadi yang kena Luhan, bukan hanya Sehun yang menghajarku tapi Taozi juga akan menghajarku lalu ngembek berhari-hari. Itu menyeramkan"tambah Kris sambil membayangkan dirinya di hajar Sehun lalu di hajar Tao yang notabene gebetannya saat ini lalu Tao tiba-tiba menghilang tak memberinya kabar. Kris cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ah iya, ngomong-ngomong masalah cipatranmu tadi, kau harus bertanggung jawab"ucap Kai mengganti topik. sejujurnya ia takut jika Kyungsoo akan marah lagi padanya.

"Bertanggung jawab apa?"tanya Kris malas. Sahabatnya ini benar-benar menyebalkan.

"Bayar makananku ini"balas Kai sambil tertawa puas. Kris mengamati banyaknya bungkusan makanan milik Kai. Ugh, ia jadi tak bisa mengajak Tao kencan lagi nanti sepulang sekolah.

"Hmm, terserah kau saja"ucap Kris pasrah. Kai tertawa terbahak melihat ekspresi Kris, namun perlahan ekspresi Kai berganti menjadi suram seiring terdengarnya dering ponsel Kai. Chanyeol dan Kris menatap Kai bingung.

"Appamu menghubungimu? Angkat saja, dan jelaskan baik-baik masalah mobil yang tak sengaja kau tabrakan ke pohon itu"tebak Chanyeol sekaligus memberi saran, namun ekspresi Kai belum berubah dan tangannya belum tergerak untuk mengangkat ponselnya.

"Hey, jangan takut, kau anak tunggal pasti Tuan Kim memaafkan kamu"tambah Kris, namun Kai masih tak bergeming. Karena rasa penasaran Chanyeol dan Kris yang tinggi, mereka menengok ke arah ponsel Kai.

Dan ya...

.

.

.

.

.

"Kai, Kyungsoo menghubungimu!"ucap Chanyeol dan Kris bersamaan.

.

.

.

"Sialan kau Luhan"umpat Kai.

.

.

_Sehun Side_

.

.

"Aish, bagaimana ini, kenapa macet sekali"geram Sehun sambil terus memcet klakson berharap mobil-mobil di depannya mau menyingkir. Tapi mau bagaimana lagi, memang jalanan macet dan Sehun tak bisa menyalip di kondisi seperti ini. Sehun berharap Luhan tak kan marah jika ia datang terlambat. Tapi sepertinya ia pasti akan terlambat jika masih macet seperti ini.

.

_Last Chance_

.

"Ayolah… jangan marah terus, aku minta maaf"bujuk Sehun, sedangkan Luhan hanya diam dengan bibir yang sengaja ia poutkan. Luhan sedang marah.

"Maafkan aku, aku kan hanya telat 5 menit"bujuk Sehun, ia tak sadar jika apa yang barusan ia ucapkan malah membuat Luhan semakin kesal.

"Apa?! Hanya 5 menit katamu? Apa kau tak tahu bagaimana nasibku ketika Kwon Sosaengnim memaki-makiku, untung saja ada Taehyung yang mau meminjamkan alatnya untukku"semprot Luhan kesal, Sehun benar-benar tidak bisa membalas lagi, bagaimanapun juga, ia pasti kalah jika beradu mulut dengan Luhan.

"Baiklah, aku mengaku salah…"

"Kau. Memang. Salah."potong Luhan dengan penekanan di setiap katanya. Sehun menghembuskan nafasnya pasrah. Ia sedang berfikir bagaimana cara membujuk Luhannya itu.

"Bagaimana dengan Bubble Tea Taro untuk menebus kesalahanku?"tawar Sehun, sebenarnya Luhan ingin bilang iya karena ia sangat menyukai Bubble Tea Taro, namun ia enggan mengucapkannya.

"Hmm, boneka Teddy Bear yang kau lihat di mall minggu kemarin, bagaimana?"tawar Sehun lagi, Luhan benar-benar tak tahan, namun sayangnya besar amarahnya masih menguasai dirinya.

"Ah aku yakin yang satu ini kau pasti menerimanya"ucap Sehun percaya diri membuat Luhan mengernyitkan dahinya sambil menatap Sehun bingung.

"Boneka Hello Kitty Limited Edition bagaimana?"tawar Sehun, tanpa babibu lagi, Luhan langsung menganggukan kepalanya.

"Baiklah, kau menang, tapi benar ya, kau belikan aku boneka Hello Kitty Limited Edition itu"ucap Luhan. Sehun mengangguk lalu mengecup kening Luhan.

"Pasti"balas Sehun sambil mencubit pipi tembem Luhan hingga sedikit memerah. Luhan menggembungkan pipinya.

"Ish… sakit tau"ringis Luhan sambil mengelus kedua pipi tembemnya. Sehun malah mengecup kedua pipi merah Luhan membuat Luhan membulatkan matanya.

"Sudah tidak sakit kan?"goda Sehun membuat Luhan memukul lengan Sehun, walaupun Luhan adalah seorang yeoja, pukulannya lumayan terasa juga. Lumayan sakit.

"Appo… kenapa memukulku? Aku kan hanya ingin melakukan adegan romantis"ucap Sehun kesal sambil mengelus lengan kanannya.

"Babo"balas Luhan namun ia tetap mengelus lengan Sehun. Sehun tersenyum.

"Kajja"ajak Luhan yang bangkit dari tempat duduknya. Sehun mengernyitkan dahinya bingung.

"Mau kemana?"tanya Sehun.

"Katanya mau membelikanku boneka Hello Kitty Limited Edition"gerutu Luhan kesal. Sehun menggelengkan kepalanya.

"Ini masih jam sekolah, nanti saja sepulang sekolah"jawab Sehun membuat Luhan merona, ia lupa kalau sekolah usai sekitar 2 jam lagi. Sehun bangkit dari kursinya lalu merangkul Luhan.

"Sekarang kita ke kelas dulu"sambung Sehun dengan senyumannya yang cukup membuat semua wanita yang melihatnya meleleh, termasuk Luhan.

"Sehun, bagaimana jika kau membelikanku Bubble Tea Taro dulu"pinta Luhan sambil mengeluarkan juruh agyeo-nya. Sehun lagi-lagi menghembuskan nafasnya pasrah, agyeo Luhan selalu meluluhkan hatinya.

"Euhm, tapi tadi ketika aku menawarkanmu Bubble Tea, kenapa hanya diam?"tanya Sehun sambil berjalan ke arah kedai Bubble Tea langganannya dengan Luhan, tangan kanannya masih di rangkulkan di pundak Luhan.

"Kalau aku bilang iya, mana mungkin aku akan bisa mendapatkan boneka Hello Kitty Limited Edition kesayanganku"balas Luhan dengan senyumannya membuat Sehun menggeleng.

"Sejujurnya, tak perlu begitu, aku pasti akan membelikannya untukmu"balas Sehun membuat Luhan tersenyum penuh arti.

"Bubble Tea Taro satu"pinta Luhan lalu menoleh ke arah Sehun.

"Bubble Tea Coklat satu"pinta Sehun kemudian.

"Kata-katamu tadi tak bohong kan?"tanya Luhan sambil menunggu Bubble Tea pesanannya.

"Yang mana?"

"Yang kau bilang 'Sejujurnya, tak perlu begitu, aku pasti akan membelikannya untukmu', ingat?"balas Luhan sambil menirukan ucapan Sehun tadi.

"Tentu, mengapa tidak"ucap Sehun lalu memberikan Bubble Tea pesanan Luhan.

"Kalau begitu, boneka Teddy Bear putih yang minggu lalu aku lihat, bolehkah?"tanya Luhan lalu menyeruput Bubble Tea Taro-nya. Sehun menggeleng melihat sifat manja kekasihnya, namun itulah daya tarik Luhan.

"Euhmm, kajja, sebentar lagi masuk kelas"ucap Sehun lalu kembali merangkul Luhan sambil berjalan menuju kelasnya dan Luhan. Sebenarnya Luhan lebih muda setahun dari Sehun, tapi ia sudah satu angkatan dengan Sehun. Bagaimana tidak, bukan karena kekayaan ayahnya yang menjadi salah satu pengusaha tersukses se-Asia, namun memang otak-nya lah yang cerdas. Tidak hanya dirinya, Baekhyun dan Kyungsoo juga.

.

_Last Chance_

.

"Kemana Kyungsoo, pelatihan kan sudah selesai sejak tadi?"tanya Luhan ke Kai lalu duduk di bangkunya. Bangku Kai dengan Kyungsoo ada di depan bangkunya dengan Sehun, sedangkan bangku Chanyeol dengan Baekhyun ada di belakangnya. Kris dan Tao ada di kelas XII C.

"Jangan tanya Kai, mereka sedang berkelahi"sahut Chanyeol dari belakang membuat Baekhyun menendang tulang kering kekasihnya itu.

"Appo…"ringis Chanyeol sambil menunduk mengelus kakinya. Tak lama, Chanyeol bisa merasakan ada sebuah buku biologi menampar wajahnya.

"Siapa ini? Pasti Kkamjong?"geram Chanyeol sambil memegangi wajahnya yang agak memerah. Namun, bukannya membela, Baekhyun lagi-lagi menendang tulang keringnya.

"Akh… Baek, ini sakit"ringis Chanyeol untuk kesekian kalinya. Sehun dan Luhan hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabat-sahabatnya itu.

"Sudah kubilang berkali-kali, berhenti mencampuri urusan orang lain, babo"omel Baekhyun lalu menjitak kepala kekasihnya.

"Akh… cukup Baek, aku minta maaf"pinta Chanyeol memelas, Baekhyun tak menjawab, ia memalingkan wajahnya.

"Kita jangan berkelahi seperti mereka ya"ucap Sehun lembut lalu mengusak lembut rambut kekasihnya.

"Aku harap begitu, Oppa"balas Luhan membuat Sehun tersenyum senang.

"Woah, kau memanggilku Oppa"ucap Sehun girang lalu mengecup pipi kiri Luhan membuat semua mata tertuju ke arah mereka. Pipi Luhan merona.

"Sehun-ah…"ucap Luhan malu, Sehun yang menyadari situasi saat ini langsung memeluk Luhan, menyembunyikan wajah memerah Luhan di dada bidangnya. Namun, hal ini tak berlangsung lama karena tiba-tiba Kyungsoo datang lalu mengemasi buku-bukunya.

"Kau mau kemana?"tanya Kai takut-takut, masalahnya Kyungsoo masih marah dengannya. Apalagi beberapa hari yang lalu ia sudah membuat kesalahan fatal dengan lupa menjemput adik Kyungsoo, Seungsoo, padahal itu keinginan dirinya sendiri. Baru tadi pagi hubungan mereka membaik, namun gara-gara Kai hampir memukul Luhan dengan kaleng colanya, Kyungsoo marah lagi.

"Baek, aku duduk denganmu ya"pinta Kyungsoo sambil berjalan ke arah bangku Baekhyun dan Chanyeol tanpa menghiraukan panggilan dari Kai. Baekhyun beralih menatap kekasihnya.

"Tak papa, Kyungsoo duduklah"Chanyeol segera memasukan semua bukunya ke dalam tas lalu duduk di bangku Kyungsoo –sebelah Kai. Ia tak mau Baekhyun menjadi seperti Kyungsoo yang marah karena masalah lumayan sepele. Menurutnya sepele.

"Kenapa kita harus duduk di tengah-tengah"gerutu Luhan lumayan kesal lalu mengeluarkan buku biologinya karena sebentar lagi Shin Sosaengnim –guru biologi mereka akan datang.

"Mungkin tuhan menunjukan, jika kita pasangan yang sempurna"bisik Sehun membuat pipi Luhan lagi-lagi merona, sepertinya mudah bagi Sehun untuk membuat pipi Luhan merona.

"Sudah, lupakan, buka bukumu, sebentar lagi Shin Saem datang"ucap Luhan dengan nada agak memerintah. Sehun menurutinya.

"Kenapa kau mau pindah, babo"ucap Kai kesal. Chanyeol membuka buku biologinya.

"Aku tak ingin Baekhyun marah, sudah buka bukumu"ucap Chanyeol, Kai hanya mendengus mendengar jawaban Chanyeol.

"Memerintahku?"tanya Kai tak suka.

"Terserah apa katamu"balas Chanyeol pelan sambil membungkuk hormat ke arah Shin Sosaengnim yang sudah memasuki kelas.

"Saya harap semua sudah mengerjakan tugas proyek individu bulan lalu, tolong Kyungsoo kumpulkan"ucap Shin Sosaengnim. Kyungsoo –ketua kelas, bangkit dari bangkunya lalu mulai mengambil tugas proyek murid lainnya.

"Kau sudah buatkan?"tanya Luhan sambil mengambil tugas proyeknya.

"Tentu sudah, kan kau membantuku saat itu"balas Sehun membuat Luhan tersenyum.

"Kau kenapa? Belum buat?"tanya Chanyeol sambil memeriksa lagi tugas miliknya. Kai menggeleng.

"Aku sudah buat tapi aku lupa membawanya"ucap Kai frustasi. Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Katakan saja jika kau tak membuatnya"ucap Chanyeol enteng membuat Kai menggeram.

"Sumpah, aku sudah membuatnya bersama Kyungsoo dua minggu lalu"balas Kai kesal.

"Oh, saat itu, aku percaya"balas Chanyeol. Ia sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

"Baiklah, ada 5 orang yang belum mengumpulkan tugasnya"ucap Shin Sosaengnim menggantung membuat Kai benar-benar ketakutan.

"Nama siswa yang saya panggil, sekarang juga ke ruangan saya"sambung Shin Sosaengnim. Keringat dingin Kai mengucur deras.

"Kim Jae Rin"

"Ryu Jae Min"

"Lee Jae Suk"

"Permisi Saem, ini tugas saya, maaf saya kira saya lupa membawanya"ucap Jae Suk dengan gemetar sambil menyerahkan tugas nya. Shin Sosaengnim tersenyum lalu mengecek pekerjaan Jae Suk.

"Baiklah, kau boleh duduk"Kai ingin sekali jika Jae Suk adalah dirinya, namun itu tak mungkin.

"Song Dae Bak"

"Dan yang terakhir… Kim Jong Jae"Kai membulatkan matanya, ia tak di panggil, padahal ia tak mengumpulkan apa-apa.

"Kau tak dipanggil Kai?"tanya Chanyeol. Kai terdiam lalu menoleh ke belakang –ke arah Kyungsoo yang sedang berbicara dengan Baekhyun.

"Terima kasih"gumam Kai pelan lalu kembali focus dengan pelajaran.

.

_Last Chance_

.

"Kita jadi pergi kan?"tanya Luhan sambil merapikan buku-bukunya, Sehun menoleh ke arah Kai sebentar.

"Jadi, tapi aku ada urusan sebentar saja"bisik Sehun pelan. Luhan mengerucutkan bibirnya.

"Ini masalah Kai dan Kyungsoo"bisik Sehun pelan membuat Luhan mengangguk. Bagaimanapun Kai dan Kyungsoo adalah sahabat baik Sehun dan Luhan, begitu pula Chanyeol dan Baekhyun.

"Kyungsoo-ya"panggil Kai namun Kyungsoo terlihat tak perduli. Kai menarik Kyungsoo hingga Kyungsoo menatapnya.

"Aku minta maaf, aku tahu kau yang membuatkan ulang tugas proyek tadi"ucap Kai tulus.

"Aku lelah, kau begitu kasar, kau tahu, kau egois"ucap Kyungsoo dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

"Kita sebaiknya pergi"bisik Luhan, Sehun mengangguk lalu mengatakan hal yang sama ke Chanyeol.

"Kajja"Chanyeol menarik pelan Baekhyun keluar kelas, begitu pula Sehun dan Luhan.

"Huft, aku harap kita tidak seperti mereka"ucap Luhan sambil berjalan ke basement sekolah dengan tangannya yang di genggam erat Sehun.

"Tidak akan pernah terjadi"Sehun lagi-lagi mengecup pipi Luhan.

"Yak! Kenapa kau menciumku terus?"tanya Luhan kesal, sudah lebih dari 5 kali Sehun mencium pipinya hari ini.

"Karena aku mencintaimu"balas Sehun singkat namun mampu membuat Luhan merona.

"Silahkan masuk"Sehun membukakan pintu mobilnya untuk Luhan. Luhan tersenyum lalu masuk ke dalam.

"Kau tahu, hari ini sangat melelahkan, apalagi ketika Kyungsoo dan Kai bertengkar, ku rasa itu masalah yang serius"ucap Luhan ketika Sehun memasangkan seatbelt nya.

"Mungkin, Kyungsoo terlihat benar-benar marah tadi"tambah Sehun lalu melajukan mobilnya ke sebuah Mall.

"Kita mau langsung beli boneka Hello Kitty Limited Edition itu?"tanya Sehun begitu mereka sampai. Luhan mengangguk semangat.

"Kalau begitu ayo"ucap Sehun tak kalah semangat sambil membukakan seatbelt untuk Luhan.

"Kau sangat menyukai Hello Kitty, dasar maniak"ucap Sehun lalu terkekeh. Luhan mempoutkan bibirnya.

"Kau maniak coklat"balas Luhan, sangat lucu. Lagi-lagi Sehun mengecup pipi Luhan tanpa perduli dengan tatapan orang lain.

"Kau ini, ini tempat umum"ucap Luhan kesal lalu berjalan mendahului Sehun.

"Kalau begitu, kita lanjutkan di apartemenmu"balas Sehun membuat Luhan berjalan lebih cepat mendahului Sehun. Sehun terkekeh melihat sifat kekanak-kanakan kekasihnya itu, tapi lagi-lagi, itulah daya tarik dari Luhan.

"Hey, jangan lari"Sehun berhasil mengejar Luhan lalu merangkul Luhan yang lebih pendek darinya.

"Aku haus, minum dulu ya"ajak Sehun, Luhan terlihat berfikir sejenak.

"Euhm… baiklah, untuk Oppaku yang tampan ini"goda Luhan, entah kenapa pipi Sehun langsung merona membuat Luhan tertawa.

"Akhirnya aku bisa membuatmu merona"ucap Luhan girang.

"Eh, jika kau cium aku lagi, aku akan marah seperti Kyungsoo"Luhan bergerak mundur ketika menyadari Sehun akan menciumnya.

"Baiklah, baiklah, yang penting kita minum dulu ya, aku benar-benar haus"ajak Sehun membuat Luhan memutar bola matanya malas.

.

_Last Chance_

.

"Woah… lihat lah Sehun, boneka itu sangat bagus dan lucu"ucap Luhan dengan senyuman lebar setiap kali melihat boneka Hello Kitty.

"Kau sudah mengatakan itu lebih dari 10 kali"sahut Sehun malas membuat Luhan mendecih kesal.

"Aku mau yang itu, tolong ambilkan"ucap Luhan sambil menunjuk sebuah boneka Hello Kitty yang paling besar ukurannya. Sehun hanya menurut saja.

"Sudah? Ayo kita nonton"ajak Sehun semangat namun Luhan menggeleng.

"Aku juga mau yang itu, boleh ya…"pinta Luhan sambil menunjuk salah satu boneka berukuran pas di genggaman Luhan. Sehun hanya mengangguk. Luhan dengan cepat mengambil boneka yang tadi ia tunjuk.

"Lucunya"gumam Luhan lalu membawanya ke kasir.

"Sehun, bayar"panggil Luhan, Sehun segera menghampiri Luhan lalu memberikan kartu-nya.

"Terima kasih tampan"ucap Luhan, Sehun hanya memutar bola matanya malas, Luhan akan makin manja jika sudah seperti ini situasinya.

"Sekarang mau kemana lagi? Aku ingin nonton"pinta Sehun. Luhan menggeleng.

"Tadi kau bilang mau membelikanku boneka Teddy Bear putih"ucap Luhan menagih janji Sehun.

"Ahhh, baiklah, kajja"balas Sehun kurang semangat lalu menggandeng Luhan ke toko yang sempat ia dan Luhan datangi minggu lalu.

"Lu, lihatlah"ucap Sehun semangat ketika melihat ada kalung pasangan di sebuah toko perhiasan.

"Aku ingin itu, ayo"ajak Sehun lalu menarik pelan Luhan ke dalam toko perhiasan itu.

"Ini, boleh aku coba lihat?"tanya Sehun sambil menunjuk sebuah kalung yang sama seperti yang ada di spanduk di depan toko ini.

"Woah… bagus ya, ini untuk pasangan ya?"tanya Sehun, pegawai itu mengangguk.

"Ini juga limited edition karena hanya ada satu pasang saja"tambah pegawai itu. Sehun tersenyum. Ia menatap lagi kedua kalung berbentuk setengah hati yang jika di satukan akan menjadi sebuah hati yang utuh.

"Lu, apa kau suka?"tanya Sehun sambil menoleh ke arah Luhan.

"Tentu aku sangat suka, bentuknya elegan, namun harganya terlalu mahal"balas Luhan. Sehun tersenyum.

"Aku ambil ini"ucap Sehun mantap lalu menyerahkan black cardnya. Pegawai itu mengangguk lalu mengemasi kalung yang Sehun beli.

"Hun, kau terlalu boros, harga kalung itu sangatlah mahal"omel Luhan.

"Sudahlah, sini aku pakaikan"ucao Sehun lembut lalu memakaikan Luhan kalung yang tadi ia beli.

"Kau cantik"puji Sehun sambil menatap Luhan dari atas hingga bawah, di tambah lagi, sekarang Luhan sedang mengenakan kalung pemberiannya.

"Sini, aku akan memakaikan milikmu"ucap Luhan sambil meminta Sehun agak mendekat. Sehun tersenyum lalu melangkah mendekati Luhan.

"Kau tampan"kini Luhan yang memuji Sehun. Sehun memang tampan, tapi Luhan merasakan ada yang aneh –spesial ketia ia dan Sehun memakai barang kembar yang harganya sangat mahal.

"Ya sudah, ayo ke toko boneka Teddy Bear yang kau inginkan"ucap Sehun, dengan segera Luhan menarik Sehun keluar toko perhiasan tadi.

"Kita serasi"ucap Luhan tiba-tiba.

"Memang, kita memang pasangan yang paling serasi dari semua pasangan yang ada"tambah Sehun.

"Gombal"komentar Luhan membuat Sehun mempoutkan bibir-nya.

"Itu dia"ucap Luhan senang sambil menunjuk sebuah boneka, benar-benar maniak boneka.

"Ahh, sudah ada yang mengambilnya"Luhan terlihat sedih ketika ia menyadari ada seorang anak kecil mengambil boneka itu lalu men=mbayarnya di kasir bersama Eomma dan Appa-nya.

"Yasudah, lain kali pasti ada yang lebih bagus, lagipula kamu sudah memilik Hello Kitty"hibur Sehun, Luhan menggangguk walupun ia masih sedih.

"Bagaimana kita nonton? Film romantis sepertinya bagus"tawar Sehun membuat Luhan menoleh ke arah Sehun penuh dengan tanda tanya.

"Bukannya kau lebih suka Action atau Petualangan daripada romantis?"tanya Luhan bingung.

"Selagi kamu tersenyum, aku suka semuanya"balas Sehu membuat pipi Luhan lagi-lagi untuk entah yang keberapa kalinya merona.

"Gombal, gombal, gombal"ucap Luhan sambil menggembungkan pipinya. Sangat menggemaskan.

"Tapi kau suka kan?"goda Sehun sambil mengusak pelan pucuk kepala Luhan.

"Sudahlah, ayo nonton film"ucap Luhan mengalihkan pembicaraan, Sehun terkekeh.

"Baiklah, kajja"Sehun merangkul Luhan lagi lalu berjalan menuju CINEMAX dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sesekali ia melirik kalung yang Luhan kenakan.

"Kau cantik"puji Sehun begitu sampai di tempat pemesanan tiket. Luhan mengerlingkan matanya.

"Kau sudah mengungkapkannya berkali-kali, Oh Sehun"ucap Luhan sambil memilih film yang akan di tonton dirinya dengan Sehun.

"Tapi kau memang cantik"ucap Sehun lagi, Luhan mendengus lalu menarik Sehun agar ia melihat daftar filmnya.

"Bagaimana yang ini saja, filmnya akan dimulai 15 menit lagi dan 5 menit sebelum mulai kita sudah harus ada di dalam"tawar Luhan, Sehun hanya mengangguk patuh. Seperti yang tadi Luhan katakan, Sehun lebih tertarik dengan film Action atau Petualangan, jadi jika di suruh memilih film romantis, ia akan sangat bingung.

"Sudah, ayo kita beli popcorn dulu"ajak Luhan setelah memberikan sebuah tiket ke Sehun.

"Kau mau apa? Aku sih popcorn dan coca cola saja"tanya Luhan sambil membaca menunya.

"Aku ingin dirimu"balas Sehun membuat Luhan merona namun ia berusaha untuk menutupinya.

"Jawab dengan benar"ucap Luhan pelan, Sehun terkekeh ketika menyadari kekasihnya merona lagi.

"Aku fried fries dengan coca cola saja"balas Sehun. Luhan mengangguk.

"Satu Fried Fries, satu Popcorn, dan 2 coca cola"pesan Luhan, tak lama pesanannya selesai, belumsempat Luhan membayar namun Sehun sudah terlebih dulu memberikan kartunya.

"Biar aku saja"

"Euhm… kau sangat baik hari ini"

"Karena aku Oppamu"

"Euhmm… baiklah Oppa"

.

.

.

.

.

CUP

.

.

.

.

.

"Yak, Oh Sehun, ini tempat umum"

"Aku tak perduli"

"Setidaknya kau tak melakukannya di bibir, babo"

.

.

.

_Chapter 1 FIN_