Summary : "Maukah kau menjadi kekasihku?" || Kai tidak pernah menyangka kalimat itu akan meluncur bebas dari bibir Sehun.
Ret : T +
Note : Ini series. Selalu tamat setiap chapter. Biarpun aku ngk yakin ini sukses termasuk series apa ngk eheheh..
.
Selamat Membaca
.
Hubungan mereka terendus.
Pasti salah satu staff kepengurusan menaruh iri padanya. Kai harus terkurung lama didalam ruang kerja Youngmin, sejak pagi. Tubuhnya pegal bukan main tapi laki – laki renta ini memaksanya. Lebih mengesalkan lagi ia diharuskan pergi sendiri dengan atribut tebal.
"Paman, leherku akan patah sebentar lagi. Bisakah jelaskan apa tujuanmu memanggilku pagi buta tadi?" Kai harus mengikis kesia-siannya karena melewatkan pagi romantis bersama Sehun. Oh lupakan bagian romantisnya. Kai berniat memberi pelajaran untuk Sehun.
"Urgent! Dispatch mencium kedekatanmu dengan anak itu, Kai. Bisa gawat kalau mereka menyebarkan ke media."
Urat – urat kekesalan Kai menonjol. Ia tidak terima dengan perkataan Youngmin yang menyalahkannya secara tidak langsung. Seharusnya lelaki tua ini sadar semua berawal dari siapa. Haruskan Kai mengumpat sekarang? Rasanya ia lupa jika dulu ibunya melarang berkata nyaring pada orang yang lebih tua.
"Pokoknya kalian tidak boleh bertemu." Putus Yougmin sepihak.
Kai merasakan dirinya dongkol bukan main, untuk beberapa alasan. Salah satunya yang barusan Youngmin tegaskan. Ini tidak adil! Yang menyuruhnya dia, masa kali ini Youngmin memerintahnya seenak jidat begitu lagi? Tidak mau!
"Enak saja! Ini 'kan salah paman! Masa aku juga harus menanggungnya?"
Yougmin yang stress langsung membalik badan. Ia menatap Kai dalam jarak dekat sampai – sampai anak itu berjengit jauh ke belakang. Wajah Youngmin berantakan keseluruhan. Kalau tidak ingat orang didepannya ini adalah CEO, Kai pasti akan mengira sang paman adalah ilmuwan gila yang sedang patah hati.
"Kau bilang apa? Haruskah paman mengingatkanmu supaya tidak pernah melupakan penyamaran ketika keluar bersama? Dispatch mengantongi banyak bukti dan si Ahn sialan itu memamerkan hasil jepretan anak buahnya padaku via email." Yougmin mengusak rambutnya kasar. Tidak perduli ia kehabisan wibawa, "kan didepan Kai. "Dan itu karena kau tidak mau mendengarkan ucapan paman."
Whoa.. dia benar – benar stress, pikir Kai lucu.
"Tidak mau mendengarkan apanya?" baiklah, ini sudah tidak asyik lagi. Kai ogah disalahkan terus-terusan. "Dulu paman menyuruhku untuk menemuinya. Dan paman juga selalu mendekatkan aku dengan laki-laki sialan itu. Paman pikir aku tidak tahu apa? Jadi kalau semua berakhir begini, jangan salahkan aku!"
"Kai.."
"Stop! Aku terlanjur menyukainya. Kalau paman memaksaku lagi, aku mogok aktivitas."
Youngmin melipat dahinya kesal. "Kh.. kau pikir kau siapa Kai? Paman bisa menggantimu dengan trainee lain yang sudah mengantri dan siap untuk didebutkan. Mati satu, tumbuh seribu." Balas Youngmin menang sekaligus angkuh.
Sudut bibir Kai naik sedikit.
"Oh apa paman lupa siapa yang ada dibelakangku?"
Saat itu Sehun masuk tanpa permisi diikuti satu orang perempuan dibelakangnya. Sekretaris Youngmin undur diri segera kemudian tanpa mengucapkan apapun. Seluruh penghuni agensi cukup gempar sejak dini hari setelah ada tangan tidak bertanggung jawab menyebar satu foto tak resmi, mereka duga itu ulah ssasaeng fans. Yang akhirnya didapati pula oleh Dispatch.
"Tuan Sehun." dalam hati Yougmin merutuk pada laki – laki ini yang menggetarkan wibawanya sebagai Ceo. Kalau Sehun sampai datang kemari tanpa pemberitahuan apapun, ini pertanda buruk.
"Apapun yang terjadi, aku menolak berjauhan dengan Kai. Keluarkan saja drama seperti biasa dan gunakan anak ini." Sehun menduduki sofa terbesar lalu menatap pada Youngmin yang masih tidak bergeming.
Semua terlalu mendadak, apalagi Sehun memutus begitu saja tanpa persetujuan. Kai lumayan terkejut tapi ia harus menjaga ekspresi agar Youngmin tidak mencelanya nanti. Ngomong – ngomong, apa dia pemeran laki – laki untuk drama terbaru nanti?
Malas sekali.
"Aku ikut saja," Kai serta merta mendatangi Sehun lalu menjatuhkan diri dipangkuan lelaki itu, dan meringkuk manja. "Gara-gara paman quality timeku dengan Sehun berkurang." Kai semakin menelusupkan kepalanya didada bidang Sehun.
Hanya insting karena Kai sendiri butuh ketenangan. Pikirannya sekusut benang, masa bodoh Youngmin mempelototinya yang berbeda tigaratusenampuluh derajat dibanding dulu. Ingat bagian Kai yang sangat murka karena Youngmin memaksanya untuk mengunjungi Sehun dulu?
Jadi karena pamannya yang memulai, apapun yang terjadi setelahnya tetap tanggung jawab Youngmin. Titik.
"Baiklah, aku menurut saja pada mau kalian." Lelaki tua itu menyerah juga akhirnya. Dalam hati Kai girang. Jujur saja kalau ia mau – mau saja terus di kekang begitu, Youngmin bisa melunjak. Dan kejutan yang sama sekali tak terduga adalah Sehun datang membawa solusi.
Yah sebenarnya ia sedikit keberatan, tapi biarlah. Toh yang Sehun khawatirkan nanti dirinya. Dia pelakon drama ini nanti. Dan Sehun yang akan menahan amarah karena idenya sendiri. Apa Sehun lupa kalau Kai tidak benar – benar menjadi gay?
"Call!" itu jawaban paling bersemangat dari Kai. Anak itu mendapat kecupan gemas dipipi dari Sehun.
.
.
Namanya Krystal.
Anggota girlband yang sudah lama debut dan cukup memiliki nama dikalangan penggemar. Belum lama ini mereka baru saja meresmikan nama fandom. Kai tidak tahu banyak mengenai girlband ini. Mereka pernah satu kali bekerja sama. Saat comeback dan Kai ditunjuk sebagai model laki-laki.
Kai tahu gadis itu tertarik padanya. Dia juga tidak menampik kalau terpesona pada Krystal. Sempat berniat menggaet Krystal tapi Kai urung melakukannya karena kakak dari gadis itu ternyata sangat galak seperti macan gunung.
Masalahnya sekarang ia terjebak lagi dengan gadis itu, yang sialnya tidak diketahui Sehun. Bukan karena Kai takut benar – benar menyukai Krystal nantinya, tapi lebih ke gadis itu yang keukeuh mendekatinya. Belakangan lewat salah satu mulut ember staff yang mengurus girlband dari Krystal, Kai mengetahui kalau sekarang gadis itu tergila – gila padanya.
Ew.. mungkin Kai masih memiliki kecintaan pada melon mengingat benda itu bisa membuatnya sebesar ini tapi pengecualian untuk gadis aneh didepannya.
Sehun pergi karena ada pekerjaan. Itu mengesalkan. Ia harus terjebak berdua dengan Krystal untuk membahas soal bagaimana mereka nanti didepan public.
"Apa kita harus berpegangan tangan? Merangkul bahumu? Atau malah mencium pipimu nanti?"
Padahal Kai menyatakan itu ogah – ogahan, tapi justru gadis itu merona menjadi pertanyaan untuk Kai. Dia kenapa? Lihatlah bagaimana wajah bengong itu, terlihat buruk dimatanya yang sudah ternodai dengan hal – hal menakjubkan berwujud Oh Sehun.
Cih.. Sehun berkali lipat lebih baik dan dia milikku, sempurna.
"K-kalau perlu, cium bibirku –pun tak apa."
Dasar gadis aneh! Harusnya ia sadar kalau dia adalah perempuan yang tidak sepantasnya berkata begitu.
Drrt..
Ponselnya bergetar disaat tepat.
Klik
From : Sehun
Aku melarangmu skinship dalam bentuk apapun pada gadis itu
Ya.. tuan pemaksa yang sayangnya ia sukai sekarang. Kai baru saja berpikir membuat alasan, dan lagi – lagi Sehun datang sebagai penolong. Sehun itu berpengaruh disini, dan juga Krystal juga atas suruhan dari prianya bukan? Pasti dia sulit menolak.
"Tidak ada skinship apapun." Kai menggoyangkan ceria ponselnya didepan wajah Krystal yang berubah tertekuk. "Kau melihatnya?" tanya Kai memastikan atau tepatnya mengejek?
Krystal mendecih tak suka. Rencana kecilnya dari kesempatan ini ternyata sama sekali tidak berpihak padanya. Ia tahu Kai memiliki hubungan tak biasa dengan Sehun. Tapi ia punya keyakinan sendiri untuk meluruskan lagi orientasi seksual Kai, yang ia yakin tidak sepenuhnya gay.
"Baiklah aku rasa semua sudah selesai. Sampai jumpa malam nanti."
Kai melenggang pergi dari ruangan itu. Tidak perduli Krystal yang menyeringai licik ke arahnya. Itu urusan nanti, perkara gampang. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana caranya kabur dari dorm dan bermanja dengan Sehun.
Humh.. aktifitas semalam benar – benar memberi energy positif padanya. Dia yang berubah menjadi manja tak kenal tempat saja terkejut akan tindakannya sendiri tadi pagi. Ahh.. Kai harap Sehun tidak menggodanya dengan wajah datar itu nanti.
"Heum lapar.."
Sesuatu menepuk pundaknya pelan tiba-tiba.
"Kai. Mau makan siang disana?"
Adalah Jonghyun. Sunbaenya dari boygrup yang sama seperti Taemin. Kai pernah melihat lelaki ini di studio bersama composer lain. Pemuda multitalenta dan banyak dilirik agensi lain serta rumah produksi drama untuk diajak bekerja sama membuat soundtrack ataupun membuat lirik lagu.
Tapi kenapa pemuda itu ada disini? Kai tak ingat mereka pernah berkenalan sebelumnya. Tiba – tiba datang lalu mengajaknya makan siang. Ini cukup aneh dan canggung, sayangnya dia lapar sekarang.
"Boleh saja, sunbae. Kajja."
Mereka hanya berbincang ringan. Sebatas itu saja, Kai menemukan dirinya risih berlama-lama dengan Jonghyun. Tidak mungkin memilih opsi meninggalkan sunbaenya ini sendirian sedang makan siangnya baru habis seperempat.
Jonghyun suka membangun obrolan, topik apapun. Sedang Kai, ia masih dalam mode kekanakan dan menjawabnya sekedar saja. Kalau terlihat sekali ogah – ogahannya malah dia yang jadi tidak enak pada Jonghyun.
"Oh ya.. waktu itu kulihat Taemin buru – buru mengeret Key saat konser lalu. Apa terjadi sesuatu?"
Ah sial.. Kenapa harus topic ini sih yang dibahas?
"Ada sesuatu terjadi hyung." Balasnya pendek.
Setelahnya Kai harus kewalahan karena ponselnya berdering terus-terusan. Tidak enak, Kai memilih memutus sambungan. Begitu seterusnya sampai Jonghyun harus terkekeh dari kursinya.
"Kau itu lucu sekali sih."
Tuhan..
Kai berharap Sehun tidak pernah melihat ini atau dirinya akan mati ditangan pria itu.
Terima kasih pada Jonghyun yang lekas pamit setelah mecubit pipinya gemas barusan. Oh yeah.. Kai punya alasan, lelaki itu sunbaenya pada Sehun. Tapi ia merasa ada yang salah..
.
.
"Ikut aku."
Pukul satu dini hari. Pekerjaannya hari ini cukup melelahkan sepulang melakukan drama tidak penting demi penegasan dating nanti yang akan dikonfirmasi besok. Kai tahu fans-nya akan kecewa, tapi ia berharap fans-nya lebih tahu tentang taktik khas SMent begini. Tidak sepenuhnya bisa dipercaya.
Dan belum sempat ia menarik nafas, Sehun tiba-tiba datang entah darimana. Menggeretnya masuk ke dalam mobil van milik staff disana. Oh taktik bagus! Mengelabui mata fotografer Dispatch agar tidak mengira ada skandal baru lagi.
Apa itu dengan kostum Sehun?
Dia seorang terpandang. Memakai pakaian staff lain dan herannya tidak ada staff disana menyadari lelaki ini? Hebat sekali. Dia diculik, tubuhnya lelah dan ia harus berdebar-debar karena Sehun beraura dingin. Kai berharap tubuhnya pingsan mendadak sekarang, masa bodoh tubuhnya lelah.
"Kita kemana? Aku lelah sekali."
"Ke apartement."
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di apartement Sehun. Kai harus diam ditempatnya, memperhatikan bagaimana rahang lelaki itu mengeras. Kh.. jangan bilang dia cemburu? Itu menggelikan diwaktu yang sama. Kai diam saja Sehun setengah menarik lengannya. Dia sibuk memperdalam tekukan topinya kedepan agar tidak terlihat.
Saat tiba didalam apartement Sehun, tubuh agak ringkih Kai dihempaskan diatas sofa. Pemuda itu terbaring terlentang dengan posisi mengundang. Matanya tertutup sebagian oleh poni, menghalau sedikit rasa takut dari aura mengancam Sehun. Ini tidak baik.
"Siapa dia?"
"Apa maksudmu?" disini Kai tidak mengerti. Ia bergerak mundur hingga pembatas sofa setiap kali Sehun merangkak. Mendekatinya..
"Jangan memaksaku berlaku keras, Kai." Giginya bergemelatuk menahan marah.
Kai berfikir sejenak. Dia pikir Sehun akan marah soal drama dadakannya bersama Krystal. Memang sih tidak ada yang berarti. Mereka hanya berdampingan saja kemudian masuk ke dalam mobil. Itupun Krystal yang menyetir.
"Siapa laki – laki yang makan siang bersamamu?"
Harusnya Kai menduga kalau ini benar-benar terjadi. Lihatlah bagaimana Sehun menahan amarahnya sendiri. Namun kilat ketidaksukaannya begitu kental. Apa Sehun akan semarah ini? Tapi kenapa?
"Kenapa.."
Sehun menaikkan alisnya sebelah.
Kai mendongakkan kepala, menatap tepat pada sepasang iris Sehun yang tidak mengerti apa yang dikatakannya barusan. Tatapan mereka masih tertaut, Kai memikirkan satu hal dikepalanya.
"Kenapa kau merasa begini padaku?"
Sehun menjauhkan tubuhnya.
"Hubungan kita hanya seperti ini, Sehun." Kai tertawa hambar, mengulum bibirnya ke dalam. "Aku tidak ingat kecemburuan cocok ada diantara kita."
Sehun sudah berdiri membelakangi Kai. Pernyataan itu memaksanya berfikir lebih lanjut. Memeriksa kembali semua yang mereka lalui bersama. Sehun mengingat lagi hari yang ia lalui bersama Kai, hingga berbuat hal diluar nalarnya sendiri. Melakukan apa yang sama sekali tidak pernah akan mau Sehun lakukan.
Hatinya berdesir.
Desiran itu berubah menyakitkan begitu melihat Kai.
"Bukankah kau menginginkan kita seperti ini? Kuingatkan padamu jika kau lupa, Kai."
Sehun belum pernah menyebutkannya dengan gamblang. Karena Kai seolah membatasi dirinya soal kejelasan hubungan mereka, sedang ia nyaman – nyaman saja selama anak itu tidak berbuat yang bisa membuat goresan. Kali ini Kai melakukannya..
Dan katakan padanya, bagian mana dia yang tidak berbuat sesuatu untuk melindungi Kainya?
Kai termenung kala mendengar debuman pelan pintu kamar Sehun. Apa dia keterlaluan? Sedikit banyak perkataan terakhir Sehun juga membuatnya sakit hati. Semua menjadi rumit. Kai-pun tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan seharian ini.
Sehun berada dimana – mana. Dalam keadaan apapun, lelaki itu senantiasa muncul untuk menolongnya. Meski tidak seluruhnya, tapi… untuk seorang Sehun hal itu bukanlah hal biasa. Harusnya Kai tidak berbuat demikian, ia sadar belakangan.
Kai membenahi pakaiannya, menyusul Sehun masuk ke kamar kemudian.
Ia menemukan Sehun membuka kemejanya didepan jendela yang memamerkan langit malam tanpa bintang.
"Tunggulah sebentar. Aku akan mengantarmu pulang." Sehun menunduk, kancing bajunya telah terlepas sebagian. Tubuhnya terasa lengket karena seharian ini sulit mengendalikan diri dari hawa panas. Yang sebenarnya dia dilingkupi amarah kurang terkendali.
Sehun tak tahu kalimatnya barusan membuat Kai kesal.
"Aku tidak mau."
Tubuh tegap itu berbalik. Menatap tanpa ekspresi pada Kai yang berdiri tak jauh darinya. "Aku tetap mengantarmu."
Kai berjalan cepat kemudian melompat ke arah Sehun. Untung saja lelaki itu siap menerimanya dan langsung menahan tubuh agak ringkih itu dengan kedua tangannya yang kokoh. Sehun terdiam masih dalam posisi memegangi Kai.
"Maaf."
Ini salahnya. Harusnya Kai mengerti perasaan seseorang tak bisa dibohongi. Kai tahu perasaan Sehun padanya berkembang sampai pada tahap tadi. Harusnya itu kabar baik untuknya, ada kemajuan dalam soal perasaan mereka.
Karena Kai takut perasaan itu berkembang terjadi hanya pada dirinya.
Sehun tak menjawab. Ia menurunkan Kai bersandar pada jendela kamar, mengurung tubuh pemuda lainnya dengan badannya yang tegap. Ukh.. Kenapa Sehun terlihat lebih besar darinya sih?
"Aku menyayangimu." Yang ditutup Sehun dengan mencium bibir Kai lembut. Sangat lembut sampai – sampai Kai ingin tertidur dengan cara seperti ini. Rasanya menyenangkan.
"Me too.." bisiknya pelan. "Ngomong – ngomong soal lelaki tadi, itu―"
Sehun mencium lembut bibir Kai lagi. Cara bagus menghentikan apa yang hendak Kai katakan, sejujurnya Sehun tidak menyukai itu. Dari gesture Kai saat ini sepertinya ia sudah cukup paham. Mereka tak ada hubungan apa-apa.
"Maukah kau menjadi kekasihku?"
Kai tidak pernah menyangka kalimat itu akan meluncur bebas dari bibir Sehun.
.
END
.
