Naruto – Masashi Kishimoto
Story – Buki Buki Nyan and Asyah Hatsune
Naruto Uzumaki and Hinata Hyuuga
Warning: AU, OOC, Ide Pasaran, Typo Everywhere, No Baku, No EYD.
Rate: T semi M (Lemon? Maybe)
...
Don't Like Don't Read
….
Sungguh, aku benar-benar mencintainya, mencintai seorang pemuda yang selalu mengerti diriku, seorang pemuda yang selalu ada untukku dan selalu menjagaku dengan segenap cintanya. Aku tak pernah lelah, cintaku padamu bahkan tak pernah berkurang.
Tapi sekarang, entah kenapa aku merasa lelah dan begitu terluka karena mu. Aku begitu kecewa untuk hari ini, apakah hubungan yang kita jalani hanya main-main bagimu? Aku harap tak seperti itu. Tapi ketika kita sudah beranjak dewasa, aku merasa dirimu semakin menjauh, kau sudah lagi tak pernah mengerti diriku, kau anggap aku sebagai apa selama ini? Sungguh, aku benar-benar sangat lelah dan letih untuk selalu berada di dekatmu
Mencoba untuk kuat tetap menerima ini semua, tapi aku hanya seorang gadis naïf, aku seorang gadis yang benar-benar polos. Selama lima tahun ini, aku sungguh mencoba untuk kuat untuk selalu di dekatmu.
"Aku tidak bisa melanjutkan ini." Kau harus tahu, jika aku selalu mencoba tersenyum, dan bisa mengatakan ini. Aku mencoba mati-matian untuk tak menangis atau bahkan aku akan menarik kata-kataku lagi. "Aku tahu, Naruto-kun, sudah bosan denganku."
"Jangan berbelit-belit, aku sedang sibuk, apa yang kau mau? Kau mau beli tas baru? Atau baju? Atau kau ingin sesuatu yang lain, Hinata-chan—"
"Bu-bukan itu Naruto-kun." Dia berhenti, membanting beberapa carik kertas dan pen-nya. Itu cukup membuatku terkejut, begitu keras, aku benar-benar merasa tak bisa menahan air mata yang ku tahan sendari tadi, dia marah? Kenapa selalu ingin serius, dia malah menawariku barang-barang yang tak berguna itu, rumahku— kamarku, semua penuh barang-barang pemberian dia.
"Aa-aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini."
BRUK—
"Ada apa lagi sekarang?" Dia mencoba bertanya dengan melepaskan kacamata bacanya. Aku juga tak tahu, apa yang membuatku berani untuk mengatakan ini. "Kita sudah membahas ini, jangan pernah katakan kata putus lagi, kita bukan anak kecil lagi yang hanya karena hal sepeleh kau bisa mengatakan itu semua."
"Ka-kau pikir, hanya aku saja yang seperti anak kecil? Ba-bagaimana dengan dirimu, kau terlalu menyebalkan Naruto -kun! Kau anggap aku apa? Kau bisa kesana kemari dengan seorang gadis, kau bisa datang club bersama teman-temanmu, la-lalu apa denganku? Kau terlalu—" Aku tahu ini kekanak-kanakan, aku benar-benar cemburu ketika melihat dirinya berjalan dengan seorang wanita, dia terlihat begitu menikmati, aku sungguh— cemburu.
"Bisakah kita bahas di lain waktu? Aku akan ada meeting setelah ini."
Dia benar-benar egoist¸ dia selalu melakukan apapun yang dia mau, dia selalu saja bisa membuatku kecewa. Kenapa aku bisa mencintai seorang pria yang bahkan selalu membuatku kecewa seperti ini.
"Tidak akan ada waktu lain, te-terima kasih karena mau menyempatkan waktu untuk ku." Membungkukan badanku sekilas dan aku pergi, aku tak mau melihat tampang menyebalkannya. Tapi aku bisa mendengar ketika dia memanggil namaku dua kali, dan setelah itu tak terdengar suaranya memanggilku, aku tahu— tentu tahu, jika ini adalah akhir dari hubunganku dengannya.
Dia terlalu gila kerja, dia terlalu egoist, dan aku tak bisa lagi menyebutkan apa yang sekarang aku lihat darinya. Dia akan baik-baik saja tanpaku, dia pasti akan menemukan seorang wanita yang benar-benar bisa mengerti dirinya lebih dari aku.
….
….
Selama lima tahun ini, aku pernah berfikir bagaimana jika aku putus dari Naruto Uzumaki, pria kaya raya, yang hanya setia dengan satu orang gadis, aku melakukan kesalahan. Menuduhnya selingkuh hanya karena dia berjalan dengan gadis lain, membuat itu sebagai alasan agar bisa putus dengannya, apa dengan begitu?
Aku memang cemburu, tapi aku tentu tahu siapa seorang wanita yang sedang berjalan bersama dengan dia yang nampak begitu dekat.
"Maafkan aku—" Hari ini aku mengucapkan kata-kata itu beberapa kali, hingga air mataku tak bisa ku bendung, setiap mengucapkan kalimat yang menurutku sangat tabu untuk ku ucapkan dalam kondisi seperti ini.
Aku sungguh lelah dengan hubungan seperti ini.
Aku begitu seperti seorang gadis yang mempunyai ego yang cukup terbilang labil. Tak peduli, aku benar-benar tak peduli ketika semua orang mengataiku labil, tapi pada kenyataannya aku memang sudah bosan membina hubungan yang bahkan tak ada kemajuan, ini benar-benar membuatku gila. Kita bahkan sudah berumur 27 tahun— bayangkan, selama lima tahun kita tak pernah melakukan apapun.
Aku benar-benar ingin sedikit berjalan-jalan bersama Naruto atau menghabiskan waktu seharian—
Ya! Tentu aku tahu kita bukan lagi seorang bocah kecil yang sedang bermain pacar-pacaran. Tapi aku benar-benar ingin sekali dia ada untuk ku, dia meluangkan waktunya untuk sedikit membahas masa depan. Apakah sampai nanti kita hanya memainkan peran seperti ini? Hanya sebagai sepasang kekasih? Masih banyak pria di luar sana yang mau menikah denganku, yang mau menghabiskan waktu bersama ku.
Aku sungguh, ingin membungkam mulut orang-orang yang mengatakan, jika Naruto Uzumaki adalah kekasih yang sempurna, dan aku begitu beruntung mendapatkannya.
"Padahal, dia hanya lelaki bodoh yang tak pernah mengerti diriku— kenapa aku bisa jatuh cinta denganmu, kenapa?" Aku berteriak dan memeluk sebuah bingkai foto yang terdapat diriku dan Naruto. Foto saat kami masih di universitas, kenangan yang benar-benar aku rindukan. "Kenapa kau tak pernah mengerti perasaanku, sampai kapan aku harus menunggumu."
CTAARR—
"Kyaaaa—" Aku berteriak, menjerit dan langsung masuk ke dalam selimut, malam hari ini hujan? Ada petir. "Ya tuhan—" aku berdoa dalam hati dan memanggil-manggil nama tuhan. Ini sungguh menyebalkan. Suara petir itu membuatku takut, ini hal yang paling ku benci, saat kedua orang tuaku pergi dan hanya aku yang ada di rumah sendiri.
….
….
Naruto mengumpat beberapa kali dengan memandang ponsel pintarnya. Malam hari ini dia harus menghabiskan waktunya untuk mengerjakan beberapa proposal bahkan perjanjian kerja sama dengan rekan bisnisnya. Melirik jam pada pergelangan tangannya yang menunjukan waktu jika sudah lewat tengah malam, dan di luar hujan.
"Hinata—" Memanggil nama seseorang yang selalu membuat dirinya menjadi orang lain. Hinata Hyuuga, sang terkasih, seorang gadis yang selalu ia jaga selama lima tahun ini. Seorang gadis yang sudah ia anggap segalanya. "Ya ampun, kenapa dia tak mengaktifkan nomernya." Dengus Naruto kesal dengan tetap mondar-mandir melihat langit dari jendela kaca ruangannya.
Tengah malam ini hujan, ada petir— "Semoga tak ada gangguan listrik atau semacamnya." Gumam Naruto dengan pandangan yang begitu nampak khawatir. Ia tentu tahu, jika kekasih indigo-nya itu sangat benci sekali dengan petir, apa lagi dalam gelap. Hanya bisa berdoa, semoga tak padam listrik, atau bisa-bisa Hinata akan menggigil ketakutan.
"Presdir—" Naruto melirik seorang wanita cantik dengan surai ikat ponytail. "Apa anda mau kopi?" Tawar wanita itu yang tak lain adalah sekretarisnya.
"Bawakan saja aku soda—"
Sang sekretaris mengangguk paham dan langsung keluar dari ruangan Naruto. Sebenarnya di ruangannya tentu ada sebuah lemari pendingin kecil, tapi semua kosong, dan dirinya bahkan belum sempat belanja.
Ngomong-ngomong soal belanja, dia melupakan hal itu. Dia tak pernah melakukan itu, dia tak pernah mengisi lemari pendinginnya, atau bahkan meletekan barang-barang dengan benar di sini.
Ruangan ini, Hinata-nya lah yang menata, Hinata-nya lah yang mengatur, agar Naruto nyaman saat bekerja. Seminggu sekali Hinata membawa beberapa bungkus snack, beberapa cemilan, atau bahkan soda. Menata semua itu pada lemari pendingin Naruto, agar jika Naruto bosan, pria itu bisa sedikit beristirahat dengan makan sebuah cemilan.
Terlalu banyak kenangan terukir di ingatannya tentang gadis yang benar-benar ia cintai. Naruto tak akan mampu hidup tanpa Hinata. "Mungkin aku memang salah, karena 2 bulan ini, aku tak pernah ada waktu untukmu, benar begitukah, Hi-na-ta-chan." Naruto tersenyum getir, dan kembali mendaratkan pantatnya kasar di kursi kerjanya.
"Prisder—" Teriak sekretarisnya yang langsung masuk tanpa permisi dengan wajah yang begitu nampak ketakutan.
"Ada apa Ino? Sudah ku katakan, ketuk pintu dulu." Naruto berdiri, setelah itu duduk kembali pada kursinya.
"Ada telfon, da-dari nona Hinata—"
"Apa?"
"I-iya— tapi saya tidak bisa mendengar dengan jelas, su-suaranya tak bisa saya dengar, hanya ada suara angin dan setelah itu, telfonnya mati." Tanpa berfikir dua kali, Naruto meraih kunci mobilnya dan langsung bergegas untuk ke rumah Hinata.
….
….
"Hinata.. Hinata—" Naruto berteriak dengan memanjat pagar. Bisa ia lihat sekarang, di tempat ini semua listrik padam, dan kabar berita mengatakan, jika Tokyo mengalami badai sampai esok pagi. Berlari dengan melonggarkan dasinya, setelah itu meliat keadaan rumah yang sudah gelap gulita. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sini, semakin membuat Naruto benar-benar merasa khawatir, dengan keadaan Hinata.
PRAANNKK—
Suara pecahan kaca akibat ulah Naruto yang tanpa pikir panjang langsung melempar jendela rumah Hinata dengan sebuah batu besar yang terdapat pada kolam belakang rumah kekasihnya. "Hinata—" panggil Naruto sekali lagi dengan nafas terengah-engah. "Hinata, kau dimana?"
Tap
Tap
Tap
Naruto berlari ke lantai dua, menuju kamar Hinata dengan hanya sebuah lampu senter dari ponselnya. Terlalu gelap, bahkan beberapa kali Naruto tersandung sesuatu, entah apa itu.
Ceklek—
"Oh ya tuhan, Hinata—" Naruto menghampiri kekasihnya yang sudah terkulai lemas, berlutut dan memeluk Hinata yang badannya gemetaran dengan keringat dingin yang membanjiri tubuh gadis itu.
"Apa kau tak apa? Hinata— kau bisa mendengarku kan?" Ada sebuah gerakan, yang di yakini Naruto adalah sebuah anggukan pelan dari Hinata. "Aku akan mencari lilin atau…" Hinata memeluk tubuh Naruto erat, tak membiarkan kekasihnya untuk pergi meninggalkannya yang sudah ketakutan tak karuan. Hinata meyakini jika Naruto pasti akan datang menolongnya, walau pada kenyataannya tadi siang, Hinata benar-benar marah kepada pemuda bersurai blonde yang sekarang mengusap punggungnya pelan.
"Naru-to—" Hinata memanggil Naruto yang masih berlutut memeluk gadis itu, bibir Naruto melengkung ke atas dan mengusap pelan lagi punggung Hinata-nya.
"Ini akan baik-baik saja, aku akan di sini menemanimu." Naruto mengangkat tubuh mungil Hinata dan merebahkannya pada kasur king size sang gadis. "Di sini gelap dan dingin, apa kau mau segelas air?" Hinata menggeleng, Naruto bisa melihat wajah Hinata yang sudah benar-benar kacau karena air mata yang membasahi wajah gadis itu. "Aku harus mencari lilin, di sini sangat gelap, battery ponselku tak akan bertahan lama." Hinata menggeleng pelan, dan terpaksa Naruto memeluk Hinata ikut tidur bersama di ranjang.
"Maafkan aku ya—" Naruto merancau dengan mencium pucuk kepala Hinata berkalikali, memeluk gadis itu erat. Ia takut, jika Hinata akan pergi darinya, takut jika Hinata benar-benar bosan menjalani hubungan dengan seorang pria gila kerja sepertinya. "Mungkin aku yang salah, karena tak pernah meluangkan waktu untukmu selama dua bulan ini. Berikan aku kesempatan satu kali lagi." Naruto memohon dengan suara beratnya, dalam hati berdoa semoga Hinata-nya mau memaafkannya dan memberi kesempatan lagi untuknya.
"Aa-aku tidak mau…"
"Hinata, maafkan aku." Naruto semakin mendekap Hinata dengan erat, gadis itu bagaikan cahaya untuknya, gadis itu bagaikan berlian yang berharga yang harus di jaga. "Aku tak akan mengulanginya lagi, berikan aku kesempatan sekali saja."
"Ja-jangan besar kepala hanya karena aku tak membiarkanmu pergi untuk saat ini— ini ku lakukan karena hanya kau yang datang, ji-jika tidak ada kejadian ini, aa-aku akan benar-benar mengusirmu." Naruto terkekeh, dan mencium kepala pucuk Hinata.
"Tubuhmu sangat hangat—" 'sial, kenapa tubuhku sekarang yang jadi panas' rintih Naruto dalam hati dengan posisi yang sedikit tak nyaman saat ini, ini pertama kalinya ada sebuah gejolak aneh yang ia rasakan. Tempat gelap, dada Hinata yang benar-benar sangat kenyal menempel dada bidangnya. Beberapa kali Naruto harus menghembuskan nafasnya dan bahkan menghirup nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
"Ke-kenapa?"
"Ti-tidak, tiba-tiba udara di sini jadi panas."
"Panas?"
"Ya— panas."
"Ta-tapi di sini dingin, kenapa kau merasa panas?" Naruto menggeleng, dengan melonggarkan sedikit pelukannya dari tubuh Hinata. "Aku akan ke kamar mandi sebentar, kau tak apakan tunggu di sini?" Hinata menggeleng dengan wajah mengkerut menandakan gadis itu benar-benar takut untuk di tinggal sendiri.
"Aa-aku ikut…"
"Apa? Aku ke kamar mandi sebentar, kenapa kau ikut."
"Aa-aku ikut, aku harus ikut— jangan tinggal aku di sini sendirian." Naruto mengusap jidatnya kasar, ini benar-benar tak baik, ketika ia harus ke kamar mandi bersama Hinata. "Naruto—kun…" Panggil Hinata dengan menggoyang-goyang tubuh Naruto kasar.
"Okay, okay— jangan seperti ini."
….
….
Dia dalam kamar mandi Naruto masih terdiam, harus bagaimana dia ketika Hinata malah memeluk lengan kirinya, dia tak mungkin kan harus menurunkan celananya ketika Hinata ada di sampingnya. "Hi-Hinata, seharusnya kau tak perlu ikut masuk, kau tunggu aku di depan pintu kamar mandi, bagaimana aku bisa buang air kalau kau mendekapku seperti ini." Dengus Naruto kesal.
"Aa-aku takut—" Naruto mengangguk paham. "Naruto, jangan tinggalkan aku—"
"Tidak, seumur hidupku aku akan selalu ada untukmu."
"Bu-bukan itu…" Hinata mengurucutkan bibirnya manyun. "Ma-maksudku, jangan tinggalkan aku ketika listrik bahkan belum menyala seperti ini." Naruto menghembuskan nafasnya, pandangannya menjadi layu, sayu, dan sebagainya.
"Ayo keluar, bawa ponsel ini untuk penerangan, tidak ada 10 menit aku di dalam, jadi kau tunggu di luar, okay— kau harus tahu, perutku benar-benar sakit." Hinata mengangguk pasrah, dan akhirnya keluar dengan menenteng ponsel pintar Naruto.
1 Menit berlalu
Tok.. Tok.. Tok..
"Na-Naruto— sudah belum." Hinata mengetuk-ketukan tangannya pada pintu kamar mandi dengan bersandar ada pintu kamar mandi dan memeluk lututnya sendiri. "Na-Naruto, cepatlah— kau lama sekali."
"Se-sebentar Hinata, perutku sakit sekali, satu hari ini aku belum buang air sama sekali." Teriak Naruto dari dalam kamar mandi dengan suara berat.
2 Menit berlalu
"Naruto, kenapa lama sekali, aku sudah takut di sini."
"Sebentar lagi—"
5 Menit berlalu
Hinata terlalu lelah untuk berteriak lagi, sekarang dia ingin mencari kegiatan lain dari pada harus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandinya, yang akan di jawab Naruto dengan jawaban seperti biasa. Beralih menatap ponsel –kekasihnya yang sudah di anggap ia mantan- memasukan sebuah kode yang belum di ganti oleh Naruto.
Wallpaper ponsel pria itu saja masih menggunakan foto Hinata, melihat Galeri foto yang lagi-lagi di penuhi fotonya dan Naruto, melirik lagi beberapa pesan.
Banyak pesan tentang pekerjaan dan ada satu lagi pesan yang membuat Hinata kenal. 'Shion' siapa yang tak kenal wanita cantik yang baru bertunangan dengan rekan bisnis Naruto.
"Cincinnya bagus, ku harap Hinata akan suka itu."
Hinata membaca pesan itu dengan menaikan satu alisnya, dan tentu dengan berulang kali membacanya. "Cincin? Aku?" Gumam Hinata dengan mengedipkan matanya.
CEKLEK—
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, buru-buru menutup ponsel yang sendari tadi ia genggam. "Ada apa? Kenapa kau ketakutan seperti itu? Apa ada hantu lewat?" Goda Naruto kepada Hinata, yang langsung membuat Hinata mendekati pria itu dan memeluk lengannya.
"Ja-jangan sebut hantu di sini—" Pekik Hinata kesal, dan menggiring Naruto menuju ranjang.
"Ayolah sayang— hantu itu tak ada, itu hanya mitos."
"Cukup, jangan panggil aku sayang." Bentak Hinata.
"Kenapa?"
"Ki-kita sudah putus."
Naruto terdiam dengan menghembuskan nafasnya. "Kapan kita putus? Jangan seperti itu lagi, kau tetap kekasih Naruto Uzumaki."
"Aa-aku menyukai seseorang, aku akan mencoba pacaran dengannya, ketimbang harus denganmu…" Hinata melepas lengan Naruto dan menunduk dengan badan bergetar, Naruto tetap diam, Hinata bisa merasakan aura yang begitu menegangkan di sini. Dia tak berani mendongak atau sekedar menatap mata biru Naruto.
"Kau sudah kenal denganku kan selama lima tahun ini? Kau bisa tahu jika aku benar-benar tak suka kau menyebut pria lain selain diriku."
"Aku bukan…" Teriakan Hinata terpotong saat gadis itu menatap kedua mata Naruto yang terlihat begitu kelam dan menggelap. Apa lagi sekarang senter ponsel Naruto sudah padam, dan hanya ada cahaya kilat yang masuk melewati jendela.
Naruto mengangkat tangannya dan mengusap pipi Hinata pelan. "Aku mencintaimu, aku tak pernah berfikiran untuk melukaimu atau membuatmu menangis." Mencium pucuk kepala Hinata dengan langsung memeluk tubuh mungil gadis-nya. "Maafkan aku karena dua bulan ini aku tak ada waktu itu selalu ada di dekatmu."
"Naruto-kun—"
"Aku suka panggilan itu, Hinata-chan!"
Hinata terdiam, tak membalas pelukan Naruto atau sama sekali tak berucap, dia tak tahu harus memulai tindakan seperti apa. Kembali berteriak memproklamirkan kata putus atau menerima kembali Naruto.
"Apa kau mencintaiku?"
"Ya—" Jawab Naruto cepat dan penuh nada penegasan, bahwa Naruto benar-benar mencintai Hinata.
"Jika kau cintai, seharusnya kau bisa melepaskanku, bukan malah kau mempertahankan ku."
"Hinata—"
"Aku seharusnya tahu, jika aku benar-benar bukan seorang gadis yang berharga untuk mu— aku tahu…" Hinata tiba-tiba terisak, dan membuat Naruto memeluk gadis itu lebih erat lagi. "Aku membencimu, Naruto-kun."
"Tapi aku mencintaimu, Hinata."
Naruto, telah di anggap Hinata pria egoist— bagaimana tidak egoist, pria itu tak bisa membiarkan Hinata pergi kemana pun, selalu menghubungi dan memaksa Hinata untuk cepat pulang ketika bermain bersama teman-temannya. Untuk bekerja, bahkan Hinata tak di perbolehkan, dan yang utama, pecemburu berat—
Hinata tentu bukan gadis manja seperti gadis-gadis di luar sana, yang mengandalkan kekasihnya untuk menghidupi kehidupan mereka. Hinata hanya seorang gadis sederhana, yang lebih suka mendapatkan apapun dengan uangnya sendiri atau usahanya sendiri. Naruto terlalu memanjakannya, itu yang paling tak ia sukai.
"Aku berfikir, jika kau menganggapku wanita rendahan…"
"Apa maksudmu? Berikan aku alasan yang logis, kenapa aku harus menganggap dirimu seperti itu?"
"Kau mempertahankan aku dengan memberikan ku fasilitas apapun—"
"Hi-Hinata— bukan itu maksud ku, aku tak pernah menganggap semua seperti itu."
"Tidak menganggap, tapi pada kenyataanya seakan kau tak membiarkan ku pergi, dan kau menggunakan cara itu agar aku selalu ada di dekatmu. Bagaimana jika aku memanfaatkanmu, dan aku berniat selingkuh?"
"…"
"Jawab aku Naruto-kun! Pernah kau beranggapan aku pernah berselingkuh?" Naruto mengangguk. "Apa kau takut?"
"Aku sangat takut sekali— tapi aku berfikir, aku tak masalah jika kau berselingkuh dengan pria manapun, tapi asal kau tetap bersamaku."
"Dasar brengsek— aku benar-benar membencimu, kau saja tak pernah percaya padaku."
"Hinata, dengarkan aku—" Naruto mencengkram lengan Hinata yang merontakan kedua tangannya agar lepas dari genggaman Naruto. "Tapi sejujurnya aku percaya jika kau tak akan melakukan itu."
"Kau tahu di luar sana— banyak para gadis membicarakan ku, yang seorang gadis biasa, bisa mendapatkan Naruto Uzumaki! Mereka selalu menuduhku memakai cara apapun untuk memikat mu, kau membiayai ku, bagaimana itu tak buruk—" Hinata menangis, dia sejujurnya sudah tak kuat dengan gunjingan-gunjingan di luar sana. Dia terlalu beruntung, padahal di luar sana banyak yang lebih cantik dari Hinata dan lebih sexy dari gadis itu. Kenapa Naruto memilihnya?
"Menikah lah denganku…" Kata-kata itu keluar dengan cepat tanpa celaan, sesungguhnya Naruto selalu ingin membahas ini, hanya karena dirinya tak mempunyai keberanian untuk mengajak kekasih yang benar-benar ia cintai untuk naik ke altar dan mengucapkan janji suci. Dia selalu mengurungkan niatnya itu dan berakhir meninggalkan Hinata dan sibuk dengan pekerjaannya.
….
….
TBC