Sebelumnya :
"Lama tidak bertemu.. Uzumaki Namikaze Naruto."
"K-kau.."
"Decepticons." = Talk.
'Decepticons.' = Inner.
"Decepticons." = Talk (Mons/SG)
'Decepticons.' = Inner (Mons/SG)
"Decepticons!" = Tekhnik/Jutsu.
Decepticons! / Decepticons! = Sound Effec (Kecil / Besar)
Cybertron : Decepticons Gate = Time and Place
.
.
[Chapter 8]
What me feel to you.
Suasana pagi hari ini terlihat sama seperti pagi-pagi yang sebelumnya. Suasana pagi ini masih tidak terlalu ramai karena hanya ada beberapa makhluk yang sudah terlihat sudah memulai aktivitasnya. Sang mentari yang tadinya bersembunyi di ufuk timur kini tampak malu-malu keluar dari persembunyiannya, nampak sinyarnya mulai tersebar kepenjuru dunia yang mulai terkena cahaya hangatnya. Dan kedatangan sinar sang mentari disambut dengan kicauan burung-burung yang bertengger di pepohonan.
Beralih ke kota Kuoh, tepatnya ke kediaman sang Namikaze muda bersama kekasihnya. Rumah besar tersebut terlihat sepi dan senyap karena kemungkinan pemilik rumah tersebut masih terbua dialah mimpi mereka. Namun itu tampak dari luar, coba kita telusuri apa saja yang terjadi didalam rumah tersebut.
Di dalam kamar sang pemilik rumah. Kini Nampaklah sang Namikaze yang tengah duduk didepan meja rias kekasihnya. Bukan untuk merias dirinya, namun ia saat ini ia memandang pantulan dirinya yang sedang bertelanjang dada saat ini dengan tatapan datar yang terpaku pada pantulan dada dan perutnya.
Dari pantulan cermin itu, nampak sesuatu berwarna hitam yang tercetak di dada bidang serta perut sang Namikaze. Di masing-masing dadanya, tercetak gambar segitiga terbalik berwarna hitam dengan masing-masing segitiga mempunyai symbol kanji tersendiri didalamnya, diperutnya juga tergambar sebuah gambar pusaran yang dikelilingi oleh lingkaran ber Symbol kanji Elemen disetiap sudutnya, serta dikelilingi oleh gambar yang terlihat seperti pengekang yang tergambar cukup rumit.
Entah laki-laki itu sudah berapa menit duduk di depan mejar rias tersebut dengan mimik muka yang tidak berubah sama sekali. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian, ia menggerakkan kepalanya kesamping dengan perlahan karena merasakan pundaknya ditepuk pelan oleh orang yang berdiri dari duduknya.
"Masih memikirkan perkataan nya yang tadi malam ya?" tanya Ino yang menjadi pelaku penepukan barusan. Namun bukannya membalas, malah sang Namikaze masih terdiam dengan pandangannya yang mengarah pada kekasih Ponytailnya itu.
"Sudahlah, cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya sebelum takdir itu di mulai. Jadi hilangkan raut menyebalkanmu itu Anata." Karena tidak mendapat sebuah jawaban dari pertanyaannya tadi, ia pun berinisiatif untuk kembali mengeluarkan suaranya, dan intonasi suaranya barusan terdengan memohon pada sang kekasih yang saat ini masih menatapnya.
"Hahhh.." Ino menarik sudut bibirnya kala Naruto akhirnya menghela Nafas. "Baiklah-baiklah, semoga saja apa yang kau ucapkan benar Ino," kata Naruto akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Nah begitu dong, sekarang Anata mandi gih. Sebentar lagi kata masuk lho." Naruto pun mengangguk dan berdiri dari duduknya, namun niatnya untuk melangkah kekamar mandi terhenti karena dicegat oleh Ino yang entah kenapa saat ini kedua pipinya mengeluarkan semburat merah.
"Umm, apa kau tidak melupakan sesuatu Anata?" tanya Ino yang entah kenapa bertingkah malu-malu dengan semburat yang kian menebal.
Cup!
Naruto yang memang sudah hapal betul dengan semua tingkah kekasihnya. Dan ketika mendengar dan melihat tingkah Ino sekarang dan mengerti apa yang gadis itu inginkan, langsung saja membuat Naruto tak segan-segan menyambar bibir tipis kekasihnya itu.
Dan yah, sekarang terjadilah apa yang benar-benar namanya silat lidah. Naruto dengan ganasnya mengobrak-abrik seluruh inci bagian mulut Ino dan membuat Ino kewalahan melawannya. Selama beberapa menit Ino tidak bisa mengambil tahta dominasi karena saking ganas dan panasnya serangan-serangan Naruto pada mulutnya. Hingga akhirnya pagutan mesra mereka terlepas karena kebutuhan akan Oksigen.
Beberapa tetas Salvia meleleh dan meluber ke dagu Ino yang saat ini sudah seperti kepiting yang sudah goreng lalu direbus. Naruto sendiri hanya tersenyum tipis, lalu menepuk pantat berisi milik Ino sebelum akhirnya dia pergi kekamar mandi meninggalkan Ino yang masih bengong dengan wajah yang sungguh sangat merah.
"Itu adalah ciuman yang paling panas yang Anata berikan padaku.." gumam Ino dengan sorot mata yang masih memandang kosong kedepan. Disekanya lelehan salvia yang meleleh kedagunya dengan jari telunjuk kemudian ia memasukkan telunjuknya kedalam mulutnya sendiri karena tak rela kehilangan sedikitpun salvia manis kekasihnya yang sudah bercampur dengan salvianya sendiri.
Terlihat jorok memang, namun Ino tidak peduli dengan itu karena ia sudah tercandu dengan rasa Salvia milik kekasihnya. Selama beberapa saat, akhirnya ia beranjak dari tempatnya berdiri dan mulai merias wajahnya didepan cermin rias miliknya.
Rias Gremory, itulah nama gadis berrambut merah yang tengah berdiri di belakang jendela yang menghadap ke arah lapangan luas ditengah-tengah bangunan Kuoh Akademi ini. Saat ini pandangan sang Heiress Clan Gremory itu tengah menatap para siswa-siswi yang berlalu-lalang di lapangan luas tersebut dengan pandangan yang sulit di artikan.
Saat ini suasana hati sang Gremory dilanda oleh perasaan yang dinamakan dilema. Semua ini gara-gara orang tuanya menjodohkan dirinya dengan orang/Iblis yang tidak dicintainya. Dirinya sebenarnya ingin sekali membantah dan menolak perjohan itu mentah-mentah dihadapan orang tuanya. Namun ia tidak berani karena kalau ia melakukan itu, sama saja ia mempermalukan orang tuanya dihadapan para Iblis di dunia bawah, terutama dihadapan Keluarga Iblis yang akan berjodoh dengannya.
Dan sekarang disinilah ia, menyendiri dan merenungi nasibnya yang akan menikah dengan Iblis yang tidak diinginkannya. Sebenarnya ia bisa sedikit membuka hatinya untuk menerima perjodohan tersebut, kalau saja Iblis yang akan dijodohkan dengannya itu memiliki sifat dan karakter yang dewasa dan bisa dibilang pantas untuk menjalin hubungan dengan dirinya. Namun mengingat siapa Iblis tersebut, hatinya berteriak keras untuk menolak perjodohan tersebut.
Riser Phenex.
Mengingat Nama itu saja membuatnya mendengus penuh jijik dan rasa ketidak sukaan.
Siapa yang tidak mengenal Iblis yang menyandang nama Phenex yang berada dibelakang nama depannya itu. Jika ada orang yang bertanya pada dirinya, ia akan langsung menjawab : Dia adalah Iblis yang Sombong, tak tahu malu, tak tahu diri, Playboy kelas Anjing liar, dan tidak pantas menyandang nama Phenex dibelakang namanya!
Sebenarnya dulu saat dirinya masih kecil, ia berteman baik, bahkan bersahabat dengan Iblis Phenex tersebut bersama Sona dan juga Ravel. Saat itu sifat Riser kecil tak seperti sekarang ini, Riser kecil memiliki sifat hangat, ramah dan periang. Namun entah apa yang telah terjadi dengannya saat dirinya mulai hidup didunia atas, hingga dulu Riser yang periang itu berubah menjadi laki-laki bajingan kelas Anjing liar seperti itu.
Dan juga sebenarnya Rias tak keberatan, atau malah mau dijodohkan dengan laki-laki tersebut, jika saja sifatnya masih seperti dulu. Namun sekarang, saat melihat wajah pria itu saja membuat dirinya tiba-tiba ingin meludah sembarangan.
Tiba-tiba lamunan Gremory muda itu buyar setelah melihat dua orang berrambut blonde yang melintasi Gerbang Kuoh. Tepatnya, saat ini tatapannya mengarah kearah sosok pemuda yang diam-diam ia suka dan cintai sedang berjalan santai bersama gadis yang memiliki warna rambut yang hampir sama dengan pemuda tersebut.
Entah kenapa saat melihat pemuda itu, hatinya selalu saja menghangat dan dirinya tidak bisa untuk tidak tersenyum manis saat itu juga. Ia adalah manusia, bahkan makhluk pertama yang berhasil membuat dirinya merasakan apa itu cinta, si Namikaze muda Namikaze Naruto.
Terdengar konyol memang seorang Iblis Bangsawan seperti dirinya jatuh cinta dengan manusia yang bahkan ia belum tahu asal-usulnya itu. Bukannya apa, pernah dirinya mencari data lengkap pemuda itu dengan dibantu oleh sang ketua Osis sekaligus sahabatnya, Sona. Namun sangat minim sekali Informasi tentang pemuda tersebut, bahkan dalam data sekolahnya, pemuda itu sama sekali tidak memasukkan alamat rumahnya, ia hanya mendapatkan nama ayah serta ibu pemuda itu yang kalau tidak salah bernama Namikaze Minato dan Namikaze-Uzumaki Kushina.
Namun seakan dibutakan sendiri oleh rasa cintanya pada pemuda itu membuat dirinya tidak peduli dan bahkan persetan dengan statusnya. Ia hanya ingin menjadikan pemuda itu sebagai miliknya.
Namun, disamping rasa cintanya itu, ia juga mengalami yang namanya rasa Sakit Hati dan sedih. Sedih karena nyatanya pemuda itu telah menjadi milik orang lain yang tak lain adalah si Gadis Blonde yang sedang berjalan bersama pemuda itu saat ini, Yamanaka Ino.
Seandai—
"Buchou!"
Lamunan panjang gadis berambut merah itu seketika buyar saat itu juga saat indra pendengar miliknya menangkap gelombang suara yang berasal dari sampingnya, juga merasakan pundaknya ditepuk oleh pelaku pemanggilan barusan. Lantas ia menoleh kearah si pemanggil yang ternyata adalah gadis berrambut Dark-Blue yang menjabat sebagai Qweennya, Akeno Himejima.
"Ada apa Akeno?" tanya Rias pelan.
"Ara.. hanya ingin mengajakmu ke kelas saja," kata Akeno dengan senyum yang biasa ia tunjukkan, namun seketika ia terdiam melihat Rias yang kembali menolehkan kepala serta melepas pandangannya kearah luar jendela didekatnya. Merasa penasaran dengan apa yang menjadi objek pandang Kingnya ini, Akeno diam-diam mengikuti pandangan Buchounya. Seketika gadis itu menyeringai tipis ketika sudah mengerti dan tahu apa yang Kingnya lihat saat ini.
"Ara.. jadi kau melamunkan Namikaze-san lagi nee Buchou, ufufufuu.."
Rias mendengus mendengar godaan Qweennya itu. Namun beberapa saat setelahnya, sebuah ide tiba-tiba muncul begitu saja di kepala merahnya. Lantas ia tersenyum tipis karena ide yang terlintas dikepalanya ini mungkin bisa bermanfaat nantinya. Kemudian ia pun beranjak dari tempatnya meninggalkan Akeno yang mengerutkan keningnya melihat kelakuan Kingnya, serentak saja ia berjalan menyusul Rias yang sudah keluar dari ruangan itu.
Kembali ke Naruto dan Ino. Saat ini kelas mereka sedang dalam jam belajar. Suasana kelas ini sekarang sangatlah tenang karena Guru yang kebetulan mengajar di pagi hari yang indah ini adalah Guru yang masuk kedalam kategori Most Dangerous Teacher of Kuoh Academy.
Namun agaknya Tittle Guru tersebut tidak berpengaruh terhadap sang Namikaze, dimana saat ini ia tengah menikmati tidur cantik di bangkunya. Berbanding terbalik dengan Ino yang sepertinya sedang serius memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan sana.
Sepanjang pelajaran, kelas tersebut berlangsung dengan tenang, dan anehnya Guru yang mengajar tersebut sama sekali tidak menegur Naruto. Sampai tibalah saatnya bidang mata pelajaran itu selesai dan dilanjutkan dengan waktu istirahat.
Ajaibnya, saat para murid itu berlarian keluar kelas untuk tidak menyia-nyiakan waktu mereka, Naruto terbangun dari tidur cantiknya dan mendapati kelasnya telah kosong. Tidak benar-benar kosong sih, karena saat ini yang tersisa dikelas itu hanya dirinya dan gadis berrambut merah Crimson yang saat ini duduk didepan dirinya sambil tersenyum manis kearahnya.
"Kemana perginya Ino, Gremory-san."
Agaknya Rias sedikit kecewa dengan laki-laki didepannya. Bukannya menyapa dirinya yang jelas-jelas berada didepan pemuda itu, malah dia menanyakan gadis pirang Ponytail yang sebangku dengan Namikaze muda itu. Namun Rias harus memaklumi pemuda ini, bagaimanapun gadis yang ditanyakan oleh pemuda didepannya adalah kekasih pemuda itu sendiri. Dan meskipun dalam hatinya ia sangat ingin diperhatikan oleh pemuda itu, ia tidak boleh menunjukkannya langsung dan menutupinya dengan senyum manis yang sekarang bertengger di wajahnya.
"Ino-san tadi keluar umm Naruto...kun."
Naruto yang mendengar embel-embel dibelakang namanya barusan langsung mengalihkan pandangannya kearah gadis itu yang sebelumnya pandangannya beredar diruang kelasnya.
"Kun? Bukankah selama ini kita tidak dekat Gremory-san. Kurasa Suffix yang kau gunakan itu sedikit berlebihan," beo Naruto dengan melepas senyum tipis agar gadis didepannya tidak tersinggung.
Rias yang mendengar ungkapan Naruto barusan menundukkan sedikit kepalanya dengan pandangan yang mengarah ke meja milik Naruto. "Umm, kalau begitu apakah kita bisa menjadi teman dekat supaya aku bisa memanggilmu seperti itu?"
Naruto menghilangkan senyum tipisnya ketika mendengar perkataan Rias barusan. Kemudian ia memikirkan dan menimang-nimang pertanyaan yang sebenarnya berisi permintaan tidak langsung gadis didepannya itu. Pandangannya beralih kearah surai merah Crimson panjang milik gadis itu dengan seksama.
"Carilah orang yang itu sebelum semuanya dimulai Uzumaki. Orang itu memiliki sesuatu berwarna Crimson dan mengalir darah iblis di tubuhnya, setidaknya itulah ciri-ciri yang telah disebutkan."
Tanpa sadar, Naruto kembali mengingat perkataan Pria berrambut hitam yang tadi malam datang padanya ketika ia melihat warna Crimson dari Rambut Rias. 'Apa mungkin gadis ini yang telah disebutkan itu?' batin Naruto sambil menatap dalam warna Rambut gadis tersebut.
Dilain pihak, Rias yang tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi kembali mengangkat kepalanya dan menatap bingung Naruto yang saat ini tengah mengarahkan tatapannya kearah rambutnya. 'Ada apa dengan Naruto-kun? Kenapa ia melihat rambutku dengan tatapan seperti itu,' batin Rias heran karena Naruto yang saat ini masih saja menatap rambutnya dengan tatapan yang sulit ia artikan, kadang-kadang terlihat kosong, kadang-kadang terlihat fokus pula.
"Naruto-kun." Naruto sedikit tersentak karena panggilan barusan, lantas ia mengalihkan pandangannya kearah wajah gadis tersebut. "Jadi bagaimana Naruto-kun? Apa kau mau?" sambung Rias kembali memberi pertanyaan.
Naruto berdehem sejenak untuk menghilangkan fikirannya mengenai ucapan Pria semalam, kemudian ia kembali menarik senyum tipisnya. "Apa kau yakin ingin berteman dekat denganku? Aku merasa tidak pantas berdekatan dengan gadis cantik dan terkenal sepertimu Gremory-san, kau dan aku mempunyai tingkat perbedaan yang sangat jauh." ungkap Naruto tanpa melepas senyum tipisnya.
"Aku tidak peduli dengan perbedaan yang kau maksudkan itu Naruto-kun. Aku hanya ingin dekat denganmu, itu saja." tegas Rias setelah mengira kalau perbedaan yang Naruto sebutkan tadi adalah tingkat kekayaan atau hal yang sejenisnya. Betapa salahnya kau Rias.
Naruto terdiam, namun kemudian dia berdiri dari tempat duduknya membuat Rias mendongak menatap wajah pemuda itu. "Hahhh, terserah kau saja Gremory-san. Aku harap kau tidak akan menyesal nanti," kata Naruto sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju pintu kelasnya.
Rias tidak bisa untuk tidak tersenyum senang, karena tahap pertama yang ia lakukan untuk mendapatkan si pirang itu berhasil. Walaupun ia sedikit bingung mendengar kalimat Terakhir pemuda tadi. Namun persetan dengan semua itu, yang penting kini dia harus melanjutkan ketahap berikutnya untuk mendapatkan pirang jabrik itu, fikirnya.
Baru saja Rias membalikkan badannya dan kembali ingin mengeluarkan suaranya, Rias langsung terdiam dan suara yang ingin ia keluarkan barusan terhenti di tenggorokannya ketika melihat saat ini Naruto sudah berada didekat pintu. Niatnya bukan terhenti dengan pemuda itu, namun dengan Gadis berrambut Pirang Ponytail yang entah sudah sejak kapan berdiri ditengah-tengah pintu kelasnya.
Setelah melihat Ino menarik tangan Naruto dan mereka keluar dari kelas itu, Rias menghela nafas panjang. Sekarang ia sepertinya tersadar, ada halangan terbesar untuk membuat Namikaze itu menjadi miliknya, halangan terbesar itu nyatanya adalah kekasih pemuda itu sendiri. Namun bukan Rias namanya kalau ia menyerah begitu saja biarpun Gadis itu akan menghalanginya nanti. Apapun yang sudah menjadi keinginannya, bagaimanapun ia harus mendapatkannya.
Egois? Bukankah memang itu salah satu sifat kaumnya?
Beralih kearah Naruto dan Ino yang saat ini sudah berada di atap sekolah. Ino sedang duduk di bangku panjang yang tersedia ditempat itu dengan naruto yang rebahan dan menjadikan paha gadis itu sebagai bantalnya.
"Jadi, apa pendapatmu tentang Gremory muda itu Ino? Aku yakin kau mendengar semua pembicaraan kami tadi," kata Naruto sambil menatap wajah Ino yang saat Ini sedang menatapnya.
"Kelihatannya gadis itu sudah memulai aksinya untuk mendekatimu." Naruto tersenyum tipis mendengar perkataan Ino barusan.
"Apa kau cemburu?" tanya Naruto mencoba menggoda kekasihnya itu, yang ditanya malah mendengus. Bukannya menjawab, Ino malah dengan santainya memencet hidung kekasihnya itu dengan cukup kuat hingga membuat Naruto sedikit meringis.
"Menurutku sih tak masalah kau kalau dia menjadi selirmu."
Naruto menaikkan alisnya mendengar ucapan gadis yang barusan memencet hidungnya itu. Hey! Bukankah gadis itu paling benci dan alergi dengan seseorang yang ingin mendekati dirinya. Namun apa yang gadis itu barusan sunggu— "Kalau memang dia yang telah disebutkan itu."
Meh
'Sudah kuduga,' batin Naruto sambil memasang facepalm dalam hati(?).
Ino tertawa halus ketika melihat kekasih pirangnya itu mendengus setelah melihat reaksi pemuda itu akan apa yang ia ucapkan tadi. Namun sayangnya, tawa gadis itu berhenti ketika deringan peranda jam pelajaran dimulai kembali dikumandangkan, sekarang malah giliran dia yang mendengus.
A Week Leter (Few Day After Rating Game)
[Night : Kuoh Street, 21.00]
Naruto saat ini sedang berjalan di salah satu jalan umum Kota yang katanya menjadi wilayah kekuasaan Gremory dan Sitri tersebut. Saat ini ia tengah berjalan sendirian hanya untuk menghabiskan waktu luangnya sekaligus berpatroli di sekitar tempat itu karena ia saat ini merasakan adanya aura-aura sampah di salah satu titik ditempat itu.
Ia sendiri dari tadi merasa bingung dengan makhluk-makhluk itu, selalu datang lagi ke kota ini tanpa ada habisnya. Namun karena sekarang tempat disekelilingnya masih ramai dengan mahkluk hidup (Manusia). Ia terpaksa menenangkan tangannya yang gatal untuk memusnahkan makhluk-makhluk tersebut.
Soal Ino. Meh, gadis itu entah kenapa tumben-tumbenan tidak mau ikut dengannya malam ini, entah apa alasannya. Jadi yah, sekarang Naruto seperti bujang tak laku karena berjalan sendirian di tempat yang saat ini menjadi tempat pertemuan para laki-laki dan perempuan yang ingin menikmati malam minggu ini.
"Naruto-kun!"
Naruto berhenti berjalan ketika suara barusan memasuki gendang telinganya.
Naruto membalikkan badannya dan mengaihkan pandangannya kearah asal suara tadi. Dan Naruto bisa melihat, saat ini makhluk yang memanggilnya itu tengah melangkah kearahnya dengan langkah ringan sambil memasang mimic wajah riangnya.
Rias. Yaa, gadis iblis itulah yang saat ini sedang berjalan kearahnya. Naruto hanya diam ditempatnya hanya untuk menunggu gadis itu sampai ditempatnya.
Sebenarnya Naruto sudah tahu kalau Gadis berrambut Crimson itu membuntutinya selama beberapa saat yang lalu, namun Naruto tetap berjalan dengan tenang karena ia tahu gadis itu pasti akan mendatanginya cepat atau lambat. Dan seperti yang terlihat, Gadis itu sekarang sudah berdiri didepannya dengan senyum lebar dibibirnya.
Namun Naruto bisa melihat dengan jelas kalau Senyum gadis itu kali ini terlihat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Terlihat seperti, ada suatu beban tersembunyi dibalik senyum riang gadis itu.
"Apa yang kau lakukan disini Rias? Kau tahu sendiri seorang gadis sepertimu tidak baik keluar malam-malam apalagi sendirian seperti ini," tanya Naruto sambil mengeluarkan senyum tipis.
"Umm.." Rias terlihat sedikit gelagapan dengan pertanyaan barusan, tak lupa pipinya yang sedikit memerah saat melihat Naruto memberikan senyum tipis padanya. "A-aku hanya ingin jalan-jalan saja Naruto-kun. Dan Naruto-kun tidak usah khawatir, aku bisa jaga diri kok," jawab Rias yang masih dengan senyum riangnya.
Naruto mengangguk mendengar jawaban masuk akal gadis didepannya itu. "Dan kebetulan sekali kita bertemu disini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Naruto-kun." Rias kembali mengeluarkan suaranya.
Naruto memasang ekspresi bingung dan penasaran, setidaknya itu yang dilihat oleh Rias saat ini. "Memang ada hal apa yang ingin kau bicarakan denganku Rias?" tanya Naruto.
"Sesuatu yang bisa dibilang sangat penting." Naruto kembali menaikkan sebelah alis matanya, sedangkan Rias sendiri hanya tersenyum seperti biasa. Rias mengalihkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, sedangkan Naruto masih diam dan menunggu apa akan gadis itu bicarakan.
"Dan kita akan bicarakan itu ditempatku."
Itulah kalimat terakhir yang Naruto dengar dari bibir peach gadis itu sebelum dirinya lenyap bersama gadis itu dalam lingkaran sihir berwarna Crismon yang dikeluarkan oleh Rias sesaat setelah gadis itu menyentuh pundak Namikaze itu dengan tangannya.
Brukk!
Mereka berdua muncul di kamar gadis Crimson tersebut, juga gadis itu langsung mendorong tubuh tegap Namikaze muda itu hingga jatuh keatas ranjang yang ada dibelakang pemuda itu tanpa mempedulikan raut wajah terkejut pemuda itu.
Pluk~
Selanjutnya yang terjadi adalah, Rias menduduki perut pemuda tersebut dengan kedua tangan miliknya mengunci kedua tangan Naruto, juga sambil ia sedikit mencondongkan tubuh atasnya kearah Naruto.
"A-apa yang t-terjadi barusan? D-dan apa yang k-kau lakukan Ri-rias." Naruto berbicara dengan terbata-bata, pesis seperti orang yang sangat syok di mata gadis Gremory tersebut.
"Diam!" kata Rias dengan Nada tegas sambil menatap Naruto dengan tatapan serius dan sedikit menajam. Itu membuat Naruto mau tidak mau terdiam setelah mendengar mendengar perkataan gadis itu, juga membiarkan posisi keduanya tetap seperti itu.
Tatapan Rias langsung berubah kala Naruto menutup mulutnya rapat-rapat.
"Aku, Rias Gremory yang kau kenal selama ini bukanlah manusia seperti dirimu Naruto-kun. Melainkan seorang Iblis yang pergi dari Dunia Bawah untuk menjalani hidupku didunia manusia ini." Naruto kembali memasang raut wajah terkejutnya (Setidaknya itu yang Rias lihat (lagi))
Naruto hanya diam dan memandang Rias dengan Tatapan yang sulit diartikan, bahkan saat gadis itu menggerakkan tangan kanannya yang saat ini mengeluarkan cahaya Merah Crimson di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Aku ingin kau tahu tentang siapa aku, apa alasanku membawamu kemari, dan juga.. tentang perasaan yang aku rasakan padamu Naruto-kun," setelah kembali mengeluarkan suaranya, Rias meletakkan kedua jarinya yang bercahaya itu tepat di kening Naruto.
Naruto yang saat ini sedang menerima ingatan-ingatan gadis yang menindihnya itu hanya terdiam, namun kali ini ia sungguh-sungguh terkejut mengetahui beberapa fakta tentang gadis tersebut. 'T-tidak mungkin,' batinnya tak percaya.
Setelah semuanya selesai, Rias kembali menarik kedua jarinya yang telah kehilangan cahayanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari pemuda yang ditindihnya.
"Itulah Naruto-kun. K-kau mungkin sulit untuk me-mempercayai jika I-ibis sepertiku ini sangat me-mencintai manusia sepertimu," kata Rias dengan mata yang tengah berkaca-kaca, Naruto masih terdiam dan hanyut dalam fikirannya sendiri.
"D-dan kumohon Naruto-kun. I-izinkan aku me-memberikan Mahkota Hidupku untukmu se-sebelum aku.. hiks.. hiks.. d-dinikahi o-ole—Hmmphh!"
Rias melebarkan matanya kala pemuda itu menarik belakang kepalanya dengan tangan yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang kepalanya, serta pemuda itu langsung meraup bibirnya dengan ganas dan melumat serta mengobrak abrik isi mulutnya dengan liar.
Untuk beberapa saat, Rias masih dengan ketidak percayaannya dengan apa yang pemuda itu lakukan pada dirinya, hingga didetik berikutnya ia mulai membalas ciuman pemuda yang menjadi pelaku pencurian ciuman pertamanya itu.
Selama beberapa menit, keduanya larut dalam permainan mulut dan lidah yang mereka lakukan. Lumatan, hisapan, kecapan, bertukar dan menengguk salvia lawan masing-masing, semuanya mereka lakukan tanpa mempedulikan apapun selain apa yang mereka lakukan saat ini.
Sampai tiba saatnya mereka memisahkan bibir mereka masing-masing, namun keduanya masih terhubung dengan benang salvia yang masih menghubungkan bibir keduanya. Kedua tangan Naruto menangkup pipi Rias yang saat ini sudah sedikit berjarak. Naruto bahkan bisa melihat, kedua mata gadis itu masih berkaca-kaca menatap dirinya, dan itu membuat dirinya menyungging senyum tipisnya.
"Lakukan.." Rias tersentak dan terkejut dengan apa yang pemuda itu katakan barusan, Naruto masih dengan senyumnya. "Lakukanlah jika kau memang menginginkannya Rias..chan," lanjutnya.
TBC
Author Note's :
2 bulan yaa.. nggak kerasa udah lama saya ninggalin fic ini. Saya benar-benar minta maaf teman-teman. Dan sepertinya ada penurunan kualitas dalam style penulisan serta alur cerita chapter ini, setelah saya membaca ulang sebelum saya publish, namun ide dalam kepala saya sudah mentok karena terpengaruh oleh permasalahan saya didunia nyata dan tidak punya waktu untuk kembali merenovasi chapter ini. Jadi saya harap teman-teman bisa memakluminya.
Baiklah, saya tidak bisa bicara banyak untuk chapter ini selain permintaan maaf saya. Jadi langsung saja kita ke pojok Review chapter kemarin yang saya rangkum menjadi beberapa paragrap, silahkan disimak :
Masalah Pair, saya sudah putuskan pairnya 2on1 (Ino + Rias x Naruto). Maaf kalau ada yang kecewa, tapi inilah hasil dari otak saya. Tapi sungguh, disini Rias punya peran yang saya buat sangat penting. Soal awal mula hubungan Naru-Ino akan tayang lewat media Flashback, namun tidak dalam waktu dekat ini.
Siapa yang muncul dbelakang rumah Naruto? Hmm,, saya yakin teman-teman sudah tau dari ciri-cirinya, siapa lagi kalau bukan Madara. Tapi tidak saya tulis scane apa yang mereka bicarakan, kecuali penggalan perkataan madara.
Soal Tsubasa, hanya menjadi tambahan scane untuk sekarang, namun kedepannya akan cukup penting. Mungkin nanti saya buat sedikit konflik dengan kelompok Sitri karena perubahan Tsubasa.
Lemon asem? Ahh, gak nyangka ada yang nunggu buat scane begituan dari kemarin. Tenang, Lemon bakalan ada di chap besok, ufufu.
Soal, sifat dan peran madara disini sudah jelas mengarah kemana, apakah Anta atau Prota.
Fic lainnya akan menyusul. Dan semua fic di profil saya tak ada yang Diss, semuanya lanjut. Namun semuanya hanya masalah waktu melanjutkan dan updatenya. Saya harap ada yang mau menunggu, terutama fic Berzerker yang lahir dari pemikiran liar saya, hehe.
Dan itulah rangkuman jawaban review kemarin. Dan untuk chapter ini, saya harap teman-teman semua sekiranya sudi untuk mengeluarkan pendapat maupun pertanyaan yang ada dibenak kalian untuk fic ini.
Positive or Negative Review, you can gimme all of 'em. Positive Rev, I'll glad and proud it. Negative Rev, That's will make me gotta learn more.
By the Damn way, I Gotta go now. See yaa in the next episode!
[Rule Breaker!]