Love Letter

Chapter 1

Silent Letter

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku

Rated : T

Naruto's POV

"Oi…! Teme, lu bawa penggaris gak?" Tanyaku pada sosok berambut pantat ayam yang sekarang tengah serius dalam mengerjakan tugas menggambar yang di kasih oleh sensei didepan. Namanya? Gue udah lupa.

Oh, ya. Kenalin, gue Naruto, Uzumaki Naruto. Gue sekarang sekolah di SMA Konohagakure II. Yah…! Karena SMA ku nomer dua, jadi kualitasnya juga kalah dari nomor satu. Kupikir disini aku bisa dengan leluasa melalaikan tugas tanpa masalah apapun, tetapi ternyata sekolah disini sangat serius.

Yang tidak bisa kubayangkan sekarang adalah, bagaimana nasib kawanku yang masuk SMA Konohagakure I? Masuk pagi, pulang lebih pagi lagi. Di rumah cuman numpang tidur dan ngerjain tugas doang. Hidup yang menyusahkan bukan?

"Masih kupake" Kata cowok tersebut. Dia adalah temen masa kecilku, Sasuke, Uchiha Sasuke. Karena dia adalah temen masa kecilku, maka aku tahu banyak tentang dia.

Yang paling mengejutkan adalah, dia masuk kedalam SMA Konohagakure II, dengan nilai yang mampu mengungguli anak SMA Konohagakure I. Ini adalah kartu as sekolah kami, dan dia adalah teman masa kecilku.

"Yah…!" Gue pun mendengus kesal sambil mencari-cari dimana ada penggaris yang kebetulan nganggur dan tidak terpakai. Pandangan gue terbentur pada seonggok penggaris ditangan seorang cewek berambut pink di depan bangku gue (saat itu gue duduk di bangku paling belakang) yang sedang memperhatikan sensei didepan.

"Eh…!" Niat mau memanggil cewek itu, tapi apa daya, gue lupa siapa namanya. Gue memang gak pernah deket sama cewek sih, jadi selama sebulan masuk kelas 11 ini gue belum punya kenalan cewek satupun dikelas ini.

Tapi, ajaibnya, hanya dengan kalimat 'eh' itu dia langsung menoleh kebelakang dan….

Oh…! Sialan…! Gue gak peduli bagaimana diri gue mengutuk SMA Konohagakure I karena nilai gue rendah, gue gak peduli kenapa gue bisa terdampar di kelas 11 bersama dengan kartu as SMA tetapi tidak jadi genius. Yang gue peduliin sekarang adalah, satu bulan waktu gue terbuang percuma dikelas sebelas ini, karena gue menyia-nyiakan temen gue yang satu ini.

Dia CAKEP banget….!

"Eh…! Ajarin caranya buat gambar itu dong" Kata cewek itu. Buset dah…! Ternyata dia menengok ke cowok dibelakangnya. Jadi, gue itu berada dipojok belakang, sementara cewek itu berada di deret tengah. Gue pun menyikut Sasuke untuk minta bantuannya.

"Oi…! Teme, bantuin gue dong" Tanpa bisa mengalihkan pandangan gue dari cewek pink itu gue bicara sama Sasuke.

"Dobe, kalo nyikut itu liat-liat dong. Kan gambar gue jadi kecoret" Sontak gue pun menoleh kearah Sasuke dimana dia sedang meratapi gambarnya yang tercoret secara tidak sengaja. Gue cuman bisa nyengir sambil memasang muka innocent.

"Eh….! SI pinky itu namanya siapa sih?" Tanpa menghiraukan tatapan mirisnya itu, gue langsung saja tanya pada Sasuke tentang cewek cakep rambut pink tersebut. Sasuke pun mengangkat sebelah alisnya, sesuatu yang gak bisa gue lakuin seumur hidup.

"Kau sekolah disini udah berapa lama, kok belum kenal" Kata Sasuke dengan ekspresi heran. Huh…! Kupikir dia bakalan curiga kalo aku suka sama dia atau gimana, ternyata isi otak Sasuke tidak ada yang namanya suka cewek. Eh…! Masa dia suka cowok sih? Masa bodoh deh.

"Kan cuman sebulan" Gue pun mencoba untuk berasalan.

"Panggil aja Sakura" Kata Sasuke cuek. Oh…! Namanya Sakura yah…! Gue pun berbalik dan berniat memanggilnya, tapi….

"Panggilin dong" Kayaknya gue masih malu tiba-tiba memanggil dia dengan nama 'Sakura'. Gue gak tau itu nama depan atau nama marga. Kan gue baru kenal dia tapi tiba-tiba manggil nama depan, gak asik ah jadinya.

"Panggil aja napa" Kata Sasuke dengan nada cuek sambil tetap melanjutkan gambarannya.

"Ayolah, Teme. Lu pinjamkan penggaris nganggur miliknya itu, nanti gue gak bisa gambar nih" Gue pun mengutarakan niat gue pada Sasuke. Dan…. Sesuai dugaan gue, dia berhenti dari aktifitas menggambarnya dan menoleh kearahku.

"Lu suka sama dia?" Katanya dengan nada datar. Eh…! Kok tiba-tiba dia ngomong gitu yah? Dia tau darimana coba?

"Enggak kok, siapa bilang? Gue cuman mau minjem penggarisnya aja" Gue mencoba untuk berkilah dari pertanyaan yang diajukan oleh Sasuke. Kupikir dia akan menyerah dan memanggilnya, tetapi…..

"Gak usah boong deh. Biasanya kalo lu mau minjem penggaris, ballpoint dan sebagainya, lu gak pernah memanggil namanya tuh. Lu pasti bilang, 'kamu, pinjem penggarisnya dong'. Jadi, kenapa lu pengen tau namanya?" Sanggah Sasuke. Aduh…! Tampaknya gue udah salah perhitungan nih untuk berdebat sama bocah ayam ini. Tapi, gak papalah, dia itu gak tertarik dengan pacaran, jadi mana mungkin dia mau bilang-bilang sama orang lain.

"Kalo iya, kenapa? Suka-suka gue dong" Gue pun belagak tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Sasuke. Sasuke hanya memutar bola matanya mendengar ucapan gue tersebut. Beberapa saat kemudian dia menyerahkan penggaris milik dia kearahku.

"Pake punya gue aja. Kalo lu pengen jadian dalam waktu singkat, tanpa perlu banyak PDKT, temuin gue di kantin sepulang sekolah" Katanya sambil berdiri dari tempat duduknya.

Heh…? Emang dia tahu apa soal cewek?

-0-

"Oi…! Naruto, lu gak mau ikut ngopi bareng?" Tanya seorang cowok dengan rambut jabrik dan tato taring merah di kedua pipinya. Namanya adalah Kiba, Inuzuka Kiba. Dia adalah cowok berisik dan playboy cap kelinci. Aku bahkan gak bisa menghitung berapa jumlah mantannya karena saking banyaknya.

Eh…! Tunggu dulu…! Jika seperti itu, berarti dia ahli dong dalam masalah cewek? Gimana kalo aku minta saran aja sama dia, daripada dengan Sasuke yang gak punya pengalaman sama sekali? Tapi, kenapa gak bandingin aja saran dua-duanya.

"Wew…! Gue lagi mau ke kantin nih. Tapi, gue ada pertanyaan sama lu" Satu lagi hal yang baik dari gue. Gue itu orangnya blak-blakan, suka berterus terang dan bukan orang bermuka dua. Kiba pun menoleh kearahku dengan tatapan heran.

"Gimana cara lu buat PDKT?" Gue langsung aja menuju intinya. Nampaknya raut muka Kiba menjadi tambah heran setelah mendengar penuturan dari gue. Dan… beberapa saat kemudian, dia pun tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk tengkuk gue.

"Udah segede ini lu masih bingung cara PDKT? C'mon man, lu tinggal dimana sih waktu SMP? Di Greenland?" Ledek Kiba. Kalo saja gue lagi gak butuh sama jawaban dia, pasti tato taring dipipinya udah terbalik sehabis gue tonjok hidungnya.

"Jawab aja napa" Gue makin sewot aja diledekin begitu sama bocah anjing ini. Setelah beberapa saat, tawa Kiba pun terhenti. Entah karena ucapan gue atau perut dia mulai kram karena kebanyakan tawa, yang penting dia berhenti.

"Nih…! Gue kasih tips doang ya. PDKT itu jangan lama-lama, tapi juga jangan sebentar doang" Kata Kiba.

"Batasnya?" Gue pun bertanya dan hanya dijawab dengan garukan kepala oleh bocah berambut coklat ini.

"Yah…! Gue sih gatau berapa batas tepatnya. Intinya PDKT itu cuman supaya dia tertarik sama lu, jadi gunakan aja segala cara supaya dia nempel sama lu. Lu baik-baikin kek, traktir minuman, beliin hadiah de el el. Terus, ketika dia udah ada respect gitu, barulah lu tembak. Palingan dua tiga minggu, kalo lu rutin PDKTnya" Jelas Kiba panjang lebar. Gue cuman manggut-manggut doang mendengar nasehat panjang dari Kiba tersebut.

"Oh…! Begitu yah, thanks atas tipsnya" Gue pun nyengir kearah bocah anjing tersebut sebelum akhirnya gue turun dari kelas dan berjalan tergesa-gesa ke kantin. Ucapan Kiba tadi ada benernya juga ya.

Eh…Tapi, dia kan anaknya orang tajir. Pastilah dia gak mengalami kesulitan saat nraktir cewek, atau beli hadiah, lah gue? Dikasih uang saku tiap hari aja udah beruntung banget gue. Kalo gue paksain mau nraktir Sakura, bisa-bisa puasa nabi daud nantinya.

"Yo" Gue pun melambaikan tangan kearah bocah emo yang sedang dengan asyiknya meminum jus tomat sambil sesekali memperhatikan layar laptop yang ada didepannya. Mata onyxnya pun sedikit mengerling kearahku sebelum akhirnya kembali ke layar laptopnya.

"Telat, baka" Sungut Sasuke dengan nada datar. Gue cuman bisa menyunggingkan seulas cengiran innocent. Langsung gue Tarik kursi yang berada di hadapan Sasuke dan duduk dengan tenang.

"Jadi, lu mau kasih saran apa?" Gue pun memulai pembicaraan masalah 'itu'. Sasuke cuman sedikit melirik dengan pandangan malas.

"Lu serius? Soalnya kemungkinan besar, bila ini berhasil, lu mungkin saja bakal pacaran berbulan-bulan dengan Sakura, yah…! Mungkin bertahun-tahun" Wew…! Kenapa dia yakin sekali rencana ini akan bekerja? Kenapa rencana seperti itu tidak digunakan sendiri aja, kan Sasuke juga gak punya cewek?

"Udahlah, bilang aja" Gue pun memaksa Sasuke untuk terus bilang rencananya. Gue lihat sekarang dia sudah mulai teralihkan pandangannya dari layar laptop dan nampaknya dia akan semakin serius dalam memasuki percakapan 'penting' ini.

"Denger, dobe. Gue bukan mak comblang, gue gak bakalan menarik-narik Sakura untuk mendekat sama lu. Gue cuman kasih saran, dan lu yang harus…."

"Dan bla…! Bla…! Bla…! Kasih tau aja napa" Sasuke tampak asem mukanya mendengar ucapan di ague potong secara tidak elit di tengah perjalanan.

"Baiklah, ayo" Kata Sasuke sambil berdiri dan merapikan laptop diatas mejanya sambil meneguk habis jus tomat yang masih tersisa setengah gelas tersebut. Heh…! Gue kan baru nyampe? Mau diajak kemana lagi gue ini?

"Kemana?" Insting terus terang gue muncul deh.

"Udahlah, ikut aja" Kata Sasuke sambil menarik tanganku dan berjalan keluar dari gerbang. Kalo melihat dari arah yang dituju Sasuke sih, dia pastinya ingin pergi ke gerbang.

"Eh…!" Gumamku secara gak sadar begitu melihat Sasuke langsung berbelok ke ruang media. Aku pun mengikutinya dan masuk kedalam ruangan media.

"Aku hanya akan menjelaskannya sekali dobe. Pertama kali yang harus kau lakukan saat suka pada seseorang, adalah pertemuan pertama. Buat dia sadar bahwa kau itu 'ada' didunia ini, jangan cuman menjadi pengagum rahasia atau kau akan menyesal nantinya. Oleh karena itu, kesan pertama itu penting layaknya pembukaan dalam game catur" Sasuke langsung nyerocos gak jelas ketika sampai di ruang media.

"Oi…! Oi…! Bisa pelanan dikit gak kalo njelasin. Gue gak punya…." Tanpa gue duga sebelumnya, Sasuke dengan keras langsung mendorong gue keluar dari ruangan media. Gue yang saat itu belum siap tentu saja terpelanting cukup jauh dan….

BRUK…!

Sialan…! Rasanya gue menabrak seseorang deh. Gue pun menengok kebelakang gue untuk melihat siapa yang gue tabrak dan….

"Aduh…!" Suara cewek? Berambut pink? Sialan…! Gue nabrak Sakura. Gue lihat di lantai banyak sekali buku berserakan.

"Gomen, gomen" Refleks, gue langsung mengucapkan kata maaf dan kemudian membantu Sakura untuk mengumpulkan kembali buku-buku tebal miliknya yang sedang berserakan.

"Eh…! Dobe, ngapain kau disini?" Gue pun melihat keatas dan mendapati sepasang mata onyx yang sedang menatap gue dengan tatapan datar. Pengen rasanya gue tonjok tuh muka karena sudah mendorong gue sampe bertabrakan sama Sakura tapi….

Mata onyxnya menyuruhku untuk diam saja, jadi yah…! Mau bagaimana lagi. Gue pun berdiri ketika buku milik Sakura sudah terkumpul.

"Gue perlu bantuan lu nih, ayo ikut gue" Kata Sasuke sambil menarik tangan gue.

"Gomen ya, Sakura. Aku pinjam dobe dulu" Kata Sasuke sebelum meninggalkan Sakura yang sedang membawa setumpuk buku yang lumayan berat tersebut. Cih…! Bukannya aku harus membantu Sakura? Apa sih yang dipikirkan oleh ayam gila ini? Yang lebih penting, kenapa aku menurut sama Sasuke?

"Sudah, pulang sana. Besok kau datangnya agak telatan dikit ya" Kata Sasuke ketika kami berdua sudah berada didepan gerbang. Mata gue terbelalak ketika mendengar ucapan Sasuke.

"Apa lu bilang? Telatan dikit? Besok itu Rabu, pelajaran pertama milik Anko-sensei. Dia bakalan membunuhku walau aku telat sepersekian detik saja" Semprotku pada Sasuke.

"Yah…! Yang penting jangan sampai mati aja" Kata Sasuke dengan nada cuek saja sambil berjalan pulang.

"Teme….!"

-0-

Hari Rabu…

"Kenapa kau telat, Naruto" Sesuai rencana, gue langsung berangkat telat. Tapi gak lama-lama lah, cuman lima menit kok.

"Errr….! Etto, saya bangun kesiangan" Gue coba kasih alibi yang cukup masuk akal. Tapi, tampaknya sensei berambut violet itu masih tidak mau melepaskan muridnya yang malang ini.

"Kenapa bangun kesiangan?" Tanyanya lagi. Buset dah…! Kepo banget sih.

"Kerjain tugas matematika kemaren, sensei" Gue jawab asal saja. Padahal sepulang sekolah kemaren gue langsung main PES sampai tengah malam. Jelaslah, kalo paginya gue kesiangan.

"Hooo…! Rajin sekali kamu. Berarti tugasnya sudah selesai dong" Mampus gue…!

"Kalo itu sih…." Gue cuman cengar-cengir innocent ketika ditanyai seperti itu.

"Masih buntu di soal kedua" Jawabku tanpa rasa bersalah sekalipun. Gue beritahu ya, tugas matematika dari Anko-sensei itu paling tidak memiliki 30 nomor, dan kemarin adalah versi jumbo dari soal biasanya, 50 nomor.

"Naruto….!"

Kemudian….

"Asem kamu" Umpatku pada Sasuke yang waktu itu masih duduk dengan tenang dikursinya. Pelajaran Anko-sensei sudah berakhir, dan gue harus berdiri disisa pelajarannya. Dan, jam pelajarannya itu gak tanggung-tanggung, empat jam pelajaran. Pegel deh nih dengkul.

"Sssttt…! Mumpung istirahat nih, samperin Sakura sambl bawa tugas yang tadi" Kata Sasuke sambil pura-pura sibuk negrjain sesuatu dan membuka laptopnya. Hah…! Ngapain coba? Udah deh, mikir sekeras apapun gue ga bakal bisa nebak rencana dari ayam ini. Gue pun berjalan kerah Sakura sambil membawa buku.

"Hei…! Aku minta ajarin tugas yang tadi dong" Kataku begitu deket dengan Sakura. Cewek dengan rambut pink itu pun menoleh kearah gue.

"Kan ada Sasuke" Katanya dengan wajah datar saja. Tanpa persetujuan dari cewek itu, aku pun langsung meletakkan buku tugas milikku disamping Sakura.

"Dia lagi ngerjain tugas lain" Gue pun langsung menarik kursi yang berada di dekat gue. Gue ga peduli itu kursi siapa, pokoknya gue mau duduk di kursi.

"Eh…! Kamu bukannya yang nabrak aku kemaren yah?" Kata Sakura sambil menunjuk kearah wajahku. Eh…! Aku harus bereaksi seperti apa jika ditanya seperti ini?

Hah…! Sou ka. Teme…! Bocah itu bahkan memikirkan sampai segini detailnya. Jika kemaren gue tidak menabrak Sakura dan langsung meminta Sakura untuk ngajarin gue, maka pasti tidak akan menimbulkan kesan yang mendalam pada Sakura. Tapi, kenapa dia menyuruh gue untuk datang telat hari ini?

"Hehee…! Gomen" Gue cuman nyengir innocent pada Sakura yanghanya dibalas dengan senyuman manisnya.

"Jadi, kau sudah sampai nomor berapa?" Tanya Sakura sambil melihat buku gue yang masih kosong melompong. Yah…! Yang nomoer satu itu dikerjain sama Sasuke sih buat ngajarin gue. Tapi, sumpah…! Cara milik Sasuke itu mudah banget, kelewat mudah malah, tapi tidak bakal disahkan oleh Anko-sensei.

"Masih nomer dua ya?" Kata Sakura sambil terkikik geli melihat buku gue.

"Tadi kan dihukum, jadi ga sempet ngerjain" Gue pun mencoba untuk mencari alasan.

Setelah itu, gue belajar bareng Sakura. Yah…! Sambil sekali-kali bercanda gitu. Dan, lu tau apa, Sakura itu malah lebih cakep kalo dia ketawa.

-0-

"Dengan perkembangan seperti ini, mungkin Minggu lu udah bisa jadian" Apa? Sabtu? Oi…! Oi…! Oi…! Sekarang hari Rabu bang, berarti tinggal sekitar tiga hari lagi dong. Masa bisa kita berkembang seperti itu? Kata Kiba itu butuh waktu sekitar dua tiga minggu kalo gue rutin beri dia hadiah.

"Terusin seperti ini besok. Dan…." Sasuke tampak berpikir sejenak.

"Gue kira lu bisa pulang bareng dia. Tapi, usahain agar lu punya topic yang sama-sama dia suka. Pokoknya gue gam au tahu rencana lu apaan" Kata Sasuke sambil ngeloyor keluar dari kelas. Heh…! Pulang bareng ya? Liat aja besok deh.

-0-

Hari Kamis….

"Wah…! Kau sudah ngerjain lebih dari separuhnya yah? Sugoiiiii….!" Kata Sakura ketika gue meminta dia untuk ngerjain soal selanjutnya. Yap…! Ini juga merupakan ide dari Sasuke. Kemaren dia main ke rumah gue sambil membawa catatan bertumpuk dan njelasin macam-macam hal tentang matematika pada gue.

"Kan udah diajarin kemaren" Gue cuman cengar-cengir innocent dipuji kaya gitu. Saat ini adalah jam istirahat dan gue mau nyelesain tugas matematika ini secepat mungkin. Setelah itu, gue mesti cari cara agar gue bisa pulang bareng Sakura nanti.

"Baiklah, Naruto. Kita bakalan ke tingkat yang lebih tinggi lagi kali ini" Kata Sakura sambil menyiapkan sebatang pulpen miliknya. Dia pun menjelaskan soal selanjutnya dengan pelan. Tapi, kesemangatan masih membara di kedua mata emerald yang indah tersebut.

Huh…! Beda banget dengan Sasuke. Dia ngajarinnya cepet, tapi onyxnya dingin, tanpa ada semangat untuk belajar. Karena itulah, aku lebih nyantol kalo di ajarin oleh Sakura daripada Sasuke. Gimana kalo nanti aku ngajak pulang bareng sekalian kerja kelompok gitu yah? Ah…! Itu terlalu modus.

Hmm…! Apakah ada cara untuk pulang bareng Sakura? Eh…! Buku yang kemaren?

Gue ga inget dia kemaren bawa buku berjudul apa, tapi gue cuman inget sampulnya doang. Sampul bergambar sebuah fotografi yang sangat keren yang menggambarkan sebuah keadaan di rawa. Hmmm…! Kayaknya itu novel, dan kalo memang sampulnya memiliki background seperti itu dan tulisan yang tidak mudah diingat berarti….

"Kamu suka baca novel juga ya?" Tanyaku tiba-tiba. Gue heran sama diri gue. Kenapa kalo menyangkut masalah dengan Sakura otak gue bisa langsung on, mikirnya jadi lebih banyak. Tapi, waktu pelajaran yang membosankan itu, mau dihidupin kayak apapun tetep aja gamau on.

"Heh….! Kok kamu tahu sih" Kata Sakura dengan nada yang agak terkejut. Haha…! Gue gitu loh…!

"Ya, nebak aja sih" Kataku sambil nyengir kearah Sakura.

"Kamu juga suka novel? Berapa novel yang sudah kamu baca? Suka yang genre apa aja?" Pertanyaan demi pertanyaan langsung keluar dari mulut Sakura. Gue ga pernah baca novel sih, orang kebanyakan buku di rumah adalah manga. Gue paling eneg kalo liat buku itu isinya tulisan doang.

"Yah…! Lumayan banyak sih, tapi aku suka baca yang romance" Bualku. Kaa-chan juga merupakan seorang penggila novel romance, jadi yah…! Kalo Sakura mau pinjem tinggal ambilin aja.

"Yang khas remaja gitu? Bahasanya awut-awutan?" Tanya Sakura lagi. Gue cuman diem sambil mengingat Kaa-chan punya novel apa aja.

"Bukan, bukan. Aku lebih suka novel yang menyentuh hati, bukan novel dengan bahasa awut-awutan gitu" Ucapan gue langsung dijawab dengan mata berbinar oleh Sakura.

"He…! Benarkah?" Gue cuman mengangguk pelan.

"Kalo mau, aku bisa tunjukkan koleksiku. Tapi, barter ya?" Sakura pun langsung mengangguk dan tersenyum manis.

"Baiklah, akan kutunjukkan koleksi terbaikku" Katanya. Haha….! Gue memang hebat.

Pulang sekolah….

"Yo…!" Gue menyapa seorang cewek yang sedang asyik membaca sebuah buku sambil jalan. Dia pun mengalihkan perhatiannya dari buku berukuran sedang tersebut dan berhenti sambil tersenyum kecil.

"Ngapain kamu disitu" Tanyanya sambil sedikit terkikik geli. Yah…! Sekarang aku lagi duduk-duduk di sebuah halte sambil membaca sebuah novel. Yah…! Bukan membaca sih sebenernya, cuman bergaya doang.

"Nungguin temen" Gue cuman menjawab singkat sambil nyengir lebar dan menutup novel yang gue baca, setelah gue tandain tentunya.

"Eh…! Itu novel apaan?" Tanya cewek berambut pink tersebut. Yups…! Dia Sakura.

"Sherlock Holmes" Gue milih Sherlock Holmes karena gue udah liat series sama filmnya sih, jadi kalo ditanyain bisa nyambung gitu.

"Ho….! Suka novel misteri ya?" Tanya Sakura.

Kringgg…!

"Ups…! Bentar yah" Gue pun merogoh saku gue dan kemudian mengeluarkan hape wana biru milik gue.

"Asem…! Sudah lama menunggu, ditinggal lagi. Dasar, teme…!" Gue mengumpat pelan sambil berdiri. Sakura cuman menatap wajahku dengan tatapan heran.

"Katanya nungguin seseorang?" Tanyanya sambil beberapa kali mengedipkan sepasang biji emerald tersebut.

"Aku kan nungguin kamu" Gue pun mencoba sedikit 'ngegombal' sama cewek berambut pink itu. Beberapa saat kemudian, wajahnya tampak asem, entah menyembunyikan rasa malunya atau memang asem.

"Hehe…! Tadi, teme SMS kalo dia pulang duluan" Gue pun menjelaskan situasinya sebelum gue ditonjok oleh Sakura.

"Oh…! Teme itu siapa sih?" Tanyanya dengan raut wajah penasaran. Gue cuman menatap Sakura dengan tatapan heran, dia gak tahu Teme? Oh..! Iya, namanya kan Sasuke.

"Sasuke itu loh. Dia kan temen masa kecilku. Aku biasa memanggilnya Teme" Gue pun menjelaskan.

"Sou ka. Hmmm…! Mau pulang nih?" Tanya Sakura.

"Iya. Mau bareng? Rumahmu dimana sih?" Gue pun mulai mencoba untuk jalan bareng sama Sakura.

"Di real estate itu loh, gak jauh kan dari sini" Ups…! Kebetulan banget nih. Kita kan searah.

"Bareng aja yuk…! Aku juga lewat sana kok, tapi masih terus" Gue cuman nyengir. Sakura tampak menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. Ya elah…! Apaan sih yang perlu ditimbang?

"Ya udah deh" Katanya sambil menutup novel yang dibacanya dan kemudian memasukkannya kedalam tas. Setelah itu, dia pun berjalan dengan santai di sebelahku.

"Kenapa dimasukin?" Gue membuka pertanyaan.

"Yah…! Supaya kamu ga merasa dicuekin" Katanya dengan nada datar saja. Kelihatannya dia sedikit gugup. Tapi, aku gak bisa menyalahkannya sih, soalnya aku juga gugup.

"Emang novelnya ga menarik apa?" Gue pun membalas jawabannya dengan sebuah pertanyaan sambil memandangnya dengan tatapan heran.

"Yah…! Nampaknya sudah mulai klimaks" Katanya sambil mendesah pelan.

"Ngapain ditutup coba, kan jadi gak seru? Novel apa sih?" Gue pun mulai tertarik sama tuh novel. Sakura tampak memandangku dengan tatapan heran.

"Kalo udah baca novel aku suka lupa diri, jadi bahaya kalo di jalan ntar" Katanya.

"Kan ada aku. Itulah kenapa aku menemani kamu pulang" Sakura tampak memandang gue dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Hehe…! Gue memang hebat kan?

-0-

Hari Jumat….

"Hmmm….! Lu udah dapet nomernya kan? Mungkin sekarang saatnya lu bertindak dengan keromantisan" Kata Sasuke begitu gue baru aja cerita soal Sakura. Yah…! Lu mah telat, Teme.

Sehabis gue pulang bareng Sakura kemarin, gue langsung SMS-an sama dia. Yah…! Kayanya gue mengidap syndrome textovert deh. Kalo SMS mah, gue lancer banget, tapi kalo disuruh ngomong langsung, ampun deh…!

"Lu ajak ngomong dah soal apa yang dia suka. Kebetulan sekali hari ini gada tugas, jadi dia bakalan berpikir kalo lu mau ngajakin dia ngomong, bukan nyuruh ajarin" Kata Sasuke.

"Yah…! Semua tugas lu dah" Kata Sasuke cuek aja. Gue sih, cuman manggut-manggut doang. Kayanya gue udah bisa berjalan sendiri deh, ga perlu dituntun-tuntun sama ayam itu.

"Yosh…! Istirahat nanti"

Waktu Istirahat….

"Yo…!" Gue pun langsung berjalan menuju Sakura yang kayanya sedang membuka buku yang kemaren. Cewek berambut pink itu pun menoleh kearah gue dan kemudian tersenyum manis.

"Mau minta ajarin lagi?" Tanyanya ketika gue udah sampai di sampingnya.

"Ho…! Bukan, bukan. Aku udah lumayan bisa kok sampai yang kamu jelasin kemaren" Gue cuman geleng-geleng kepala sambil menarik sebuah kursi disamping meja Sakura.

"Sou ka. Bagus deh kalo begitu. Sering-seringlah latihan, soalnya matematika itu tidak hanya sekedar teori doang. Kalo kamu ingin bisa mengerjakan soal, kamu harus sering-sering latihan" Nasehat Sakura.

"Hai…! Hai…! Sensei" Gue pun mencoba sedikit bercanda agar tidak terlampau serius.

"Ih…! Apaan sih" Kata Sakura sambil menggembungkan pipinya, sebuah ekspresi yang menunjukkan kalo dia kesal. Tapi, beberapa detik kemudian dia tersenyum.

"Ne, ne, aku dapet novel keren nih. Mau baca gak?" Tanya Sakura sambil membuka tasnya dan kemudian mengeluarkan sebuah buku yang bergambar sebuah fotografi rawa dengan aura mistis.

"Coba liat. Apa nih genre nya?" Gue pun sok-sokan nanya genre segala, padahal gue juga baru tahu arti genre itu tadi malem.

"Fantasy" Kata Sakura sambil membuka buku yang kemaren. Gue pun membuka novel tersebut dan berpura-pura serius sambil membuka-buka halamannya.

Gue ga baca sih, soalnya buku itu hurufnya kecil, paragrafnya panjang terus rapet. Mirip sama Koran gitu lah. Tapi, actingnya gitu.

"Eh…! Kayanya bagus nih, aku boleh pinjem…." Begitu gue mau mengangkat kepala gue, sepasang emerald menyambut mata biru safir milik gue. Eh…! Bukannya tadi dia lagi baca ya?

"Oh…! Boleh kok" Kata Sakura sambil memalingkan wajahnya kearah buku yang di pegangnya tadi.

"Apakah ada sesuatu yang aneh diwajahku?" Gue bertanya sama Sakura. Cewek itu lalu mengangkat kepalanya dan memandangku dengan ekspresi terheran.

"Eh…! Gada tuh, kenapa emang?" Tanyanya.

"Cewek akan melihat wajah seorang cowok kalo ada sesuatu yang aneh diwajahnya" Gue mencoba berkata dengan nada sepolos mungkin. Dan, nampaknya hal itu sukses membuat Sakura tergelak pelan.

"Teori darimana itu? Teori Darwin?" Katanya disela-sela tertawanya.

"Sumber by Me. Eh…! Tapi, ada pengecualian loh dari teori itu" Gue berkata sambil nyengir. Sakura tampak mengangkat sebelah alisnya karena penasaran. Ah…! Dia juga bisa melakukan itu.

"…atau cewek itu sedang jatuh cinta padanya" Kulihat semburat warna pink telah terlihat di pipi putihnya. Hehe…! Berhasil apa gak nih?

-0-

"Bisa pulang bareng?" Gue bertanya ketika Sakura lewat didepan pintu kelas. Yah…! Jelas aja dia kaget, orang waktu dia baru aja keluar langsung dikasih pertunjukkan gitu.

"Heh…! Kenapa?" Tanyanya.

"Yah…! Penasaran ama buku yang kamu baca tadi" Gue pun menjawab sekenanya aja. Sakura tampak tersenyum sedikit sambil mengangkat buku tersebut ditangannya.

"Buku ini kan?" Tanyanya. Gue pun mengulurkan tangan gue untuk mengambil buku tersebut tapi….

"Eits…! Aku kan belum selesai baca" Katanya sambil terkikik geli. Aku pun cuman bisa berekspresi kesal ketika diperlakukan seperti itu.

"Oi…! Minggir, minggir. Jangan becanda di depan pintu napa" Kata seseorang. Gue pun menoleh dan mendapati sepasang mata dengan sinis memandangku.

"Sabar napa" Gue pun sedikit mengeluh dan kemudian bergeser sedikit menyamping dari pintu. Huh…! Seenaknya saja si Kiba itu nyuruh-nyuruh orang minggir, kan udah hampir pas banget tuh momennya.

"Kau ada acara hari ini ga, Sakura?" Tanya Kiba. Heh…! Apa-apaan dia itu? Udah maen perintah buat minggir, sekarang malah dia yang maen sama Sakura.

"Gada tuh" Jawab Sakura cuek.

"Ho…! Kebetulan sekali. Mau nongkrong di café ga? Aku yang traktir deh" Kata Kiba. Buset…! Blak-blakan banget nih bocah. Pengennya sih gue mau protes, tapi apa daya, Sakura itu bukan siapa-siapa gue.

"Boleh" Kata Sakura sambil mengembalikan novel tersebut kedalam tasnya.

"Gomen, Naruto. Next time aja deh"

-0-

"Kiba mengincar Sakura, Teme. Gue pasti akan kalah dengan orang yang sudah berpengalaman seperti dia" Gue pun mengeluh sama Sasuke tentang Kiba yang dengan seenaknya mengajak Sakura makan.

"Tenanglah, dobe. Jangan menyerah dulu. Sekarang….." Kata Sasuke tetap dengan tenang.

"Udah, cukup. Ga usah perintah-perintah aku lagi. Memangnya lu siapa sih? Tau apa soal cewek?" Amarah gue pun meledak. Kenapa gue baru sadar sekarang ya? Sasuke Teme ini mau mempermainkan gue.

Kapan dia mau berurusan sama makhluk bernama cewek? Tidak pernah. Dia hanya mengurusi masalah dirinya sendiri.

Kok gue bisa bego banget gitu ya, mau diperintah-perintah orang yang bahkan pengalamannya lebih buruk daripada gue.

"Mulai sekarang, gue akan menggunakan car ague sendiri untuk mendekati Sakura. Gak usah ikut campur" Gue pun berbalik dan kemudian berjalan menjauhi Sasuke yang sedang berdiri dengan wajah datar disana.

Kurasa sekarang gue bakalan nurut apa yang dikatakan oleh Kiba. Mustahil melakukan PDKT hanya dalam waktu lima hari. Haha…! Orang seperti Sasuke pun bisa juga memikirkan hal yang tidak logis seperti itu.

"Kau akan menyesalinya" Heh…? Gue pun menoleh kearah Sasuke yang baru saja mengatakan hal tersebut.

"Dalam hal materiil lu masih kalah sama Kiba. Gada peluang lu mau mengalahkan Kiba" Apa? Cowok pantat ayam ini benar-benar meremehkanku.

"Kecuali lu bisa menyentuh sisi emosi Sakura"

-0-

Hari Sabtu….

"Teme, ini bagaimana caranya?" Tanyaku pada Sasuke yang saat itu sedang duduk di sampingku (kita sebangku) sambil menunjukkan tugas matematika.

"Hmmmm….!" Dan, Sasuke pun menjelaskan soal tersebut secara singkat, padat, dan jelas.

"Eh…! Besok kelas kita akan menghadapi final kejuaraan futsal antar sekolah kan?" Tanya Sasuke ketika gue sedang mencoba ngerjain soal yang selanjutnya. Gue cuman mengangguk pelan.

"Besok sore"

"Hmmmm….! Nonton bareng yuk" Ajak Sasuke. Gue pun langsung mengangkat pandangan gue dan menatap Sasuke dengan heran.

Sasuke merupakan seorang yang sangat cuek. Bener…! Dia ga peduli sama yang namanya olahraga, yah…! Tapi dia ikut tim inti basket kok. Ini bener-bener sebuah keajaiban bila dia mengajak gue nonton bareng pertandingan futsal.

"Tumben, bisanya cuek aja" Sindirku.

"Yah….! Pengen aja" Kata Sasuke. Gue pun mengangguk pelan sambil nyengir. Kulirikkan mataku sebentar pada Sakura yang duduk di belakangku. Kan, ini ceritanya aku lagi berhadapan sama Teme nih, jadi posisi Sakura sekarang itu ada di hadapanku.

"Yups…! Ayo"

-0-

Hari Minggu….

"Baiklah…! Lu sekarang harus nembak Sakura. Sekarang, gue jelasin nih. Entar lu habis pertandingan futsal, tunggu di sebelah sini, terus…." Gue ga begitu ndengerin apa yang Sasuke omongin. Yang gue perhatiin waktu itu adalah cara Sasuke dalam njelasin sesuatu.

Singkat, padat, tanpa tanda baca, tak peduli gue ngerti apa enggak, yang penting dia maju terus. Eh…! Tunggu dulu, darimana dia tahu informasi sebegitu detilnya soal Sakura?

"Ngerti kan?" Tanyanya tiba-tiba. Gue yang waktu itu sedang ngelamun tentu saja langsung gelagapan, dan tanpa sadar gue langsung menganggukan.

Gampang, tinggal pergi ke lokasi dan dorr…! Gitu doang kan?

-0-

"Sialan…! Gue terlalu gugup" Gumam gue sambil mondar-mandir ditempat yang udah ditentuin oleh Sasuke. Gue ga peduli tim futsal sekolah gue menang ato kalah, yang penting gue bakalan nyegat Sakura disini, jadi gue tinggal aja tuh.

"Aduh…! Udaranya dingin banget lagi" Gue cuman bisa mengeluh doang. Yah…! Hari sudah beranjak malam sih, jadi wajar kalo udara udah mulai dingin.

Kresek…!

Nah…! Ini dia yang gue tunggu. Gue pun berdiri dari posisi gue yang waktu itu duduk dibawah pohon. Tanpa keluar dari tempat persembunyian gue, gue mengintip ke balik pohon tersebut dan melihat sosok dengan rambut pink yang berjalan dengan tenang.

Sialan…! Gue gugup banget nih…! Apa yang harus gue katakan nih? Lutut gue terasa lemes.

"Hupss…!" Gue pun menarik nafas pelan. Gue pun keluar dari persembunyian gue dan….

"Oh…!" Sepasang biji emerald menangkap mataku dengan tatapan yang….

Sulit dijelaskan. Gue kemudian menunduk, tak mampu menahan tatapan tersebut. Gue pun memegang erat kertas beraroma wangi yang gue pegang waktu itu. Begitu eratnya, sampai-sampai kertas itu lecek oleh keringat.

Yap…! Aku mau menembak dia dengan kertas. Ga gentle? Biarin.

Iya, biarin. Lu mau ngejek gue pengecut, ga gentle, banci, terserah lu deh. Tapi….

Bakalan beda rasanya kalo Sakura yang ngejek gue. Gue cuman jalan terus, dengan wajah menunduk, tanpa melihat kearah Sakura dan mencoba untuk 'melindungi' surat tersebut dari pandangan Sakura.

Gue baru bisa mengangkat wajah gue begitu Sakura udah lewat di belakangku.

"Huft…! Sorry, Teme. Gue ga bisa" Gue cuman bisa bergumam dibelakang Sakura sambil mengenggam erat surat yang gue bawa tadi.

Eh…! Kok sekarang ga begitu lembab ya tanganku…? Jangan-jangan….!

Mata gue langsung melotot, hidung gue mengempis, mulut gue menganga, liur gue hampir menetes. Pokoknya segala ekspresi terburuk yang lo bayangkan sudah terjadi sama gue.

Surat gue jatuh entah dimana. Dan mengingat kalo gue baru aja bawa tuh surat ketika gue lewat didepan Sakura, artinya….

"Naruto…." Gue pun membalikkan badan gue dan melihat Sakura sudah berdiri disana dengan ekspresi datar dan….

Membawa surat.

Mati deh gue. Kalo dari ekspresinya, itu artinya gue ditolak. Adeh…! Sialan, Teme. Rencana sempurna apaan, gue malah ditolak dengan dingin oleh Sakura.

Langsung gue rebut surat yang ada di tangan Sakura dan kemudian lari dari sana. Tadi lu udah bayangin ekspresi muka paling jelek kan? Nah…! Gue lebih jelek lagi sekarang.

Dari dulu gue mengutuk orang yang patah hati, ga bisa move on, nembak ditolak langsung ga pernah deket. Kali ini gue merasakan, kalo gue ga bakal bisa deket lagi sama Sakura. Dia tahu kalo aku suka sama dia, dan gue tahu kalo dia ga suka sama gue.

Yups….! Gue ga bakal ngomong sama Sakura lagi.

-0-

"Astaga…! Ngapain sih lu nembak pake surat segala" Sungut Sasuke ketika di ague kabarin cerita gue barusan. Sekarang, muka gue udah ga jelek lagi. Sekeras apapun beban yang di angkat oleh seorang laki-laki, dia akan selalu pasang muka datar ketika bertemu dengan laki-laki lain.

"Yah…! Salah gue juga sih ga nyuruh lu untuk nembak langsung" Kata Sasuke. Dan ternyata, teknik itu ga berlaku buat Sasuke. Dia tau suasana hati gue sekarang. Yah…! Gue cuman perlu nenangin dia aja agar dia gak terlalu merasa bersalah dengan kegagalan gue.

"Yah…! Gapapa deh. Cari cewe laen aja" Gue pun berkata sambil nyengir kearah Sasuke. Mata onyxnya melirik gue sebentar sebelum akhirnya kembali menerawang jauh ke depan.

"Yah…! Lu sudah menghancurkan satu-satunya kesempatan lu, jadi, terserah lu deh" Katanya sambil menghela nafas. Dan beberapa saat kemudian dia langsung menyahut sebuah kertas yang lecek yang berada diatas mejanya.

"Gue penasaran sama kata-kata lu" Katanya sambil membuka kertas yang berisi surat cinta tersebut.

"Tumben tulisan lu bagus, lu nyewa notaris?" Gue sedikit terheran mendengar ucapan Sasuke.

"Tulisan? Maksud lu gambar?"

End of Naruto's POV

-0-

Sakura's POV

Halo…! Namaku Sakura, Haruno Sakura. Rambutku warnanya pink, wajahku manis dan imut serta mataku berwarna emerald. Alamat? Gak usah deh, aku takut dirampok. Telepon? Ntar diteror lagi.

Hobi? Membaca. Hal yang istimewa? Banyak banget. Aku bisa mempelajari banyak hal, matematika, biologi, fisika dengan cepat, tepat dan akurat. Membaca novel dengan sangat lancar dan menyebutkan sinopsisnya hanya dengan sekali baca. Memiliki pengetahuan luas tentang sastra, baik yang zaman dahulu, maupun zaman sekarang.

Tapi….

Apa gunanya hal-hal tersebut? Aku selalu dikucilkan oleh semua temanku. Mereka tidak mau minta ajarkan apapun padaku karena aku terlalu cepat belajar. Mereka tidak mau berdiskusi soal novel denganku karena seleraku terlalu tinggi.

Bahkan dalam club sastra, jika aku yang presentasi tentang apa yang baru saja kubaca, semua orang langsung diam. Entah meraka kagum atau bosan.

Pernah merasakan bakat yang kau miliki tidak pernah diakui oleh orang lain? Yups…! Seperti itulah yang kurasakan sekarang.

Pernah bertemu dengan seseorang yang mengakui bakatmu setelah sekian lama terpendam? Bagaimana perasaanmu?

Senang, semangat, dan tak pernah ingin ditinggalkan oleh orang tersebut. Seperti itulah….

Perasaanku sekarang. Tapi….

Kenapa dia tiba-tiba begitu frustasi? Aku hanya menyerahkan sebuah surat dan cuma berdiri di belakangnya ketika dia tidak menyapaku. Kenapa dia begitu frustasi.

Aku berdiri dibawah keremangan taman belakang sekolah tersebut dengan wajah lesu. Kenapa? Kenapa ketika aku telah menemukan seseorang yang mengakui bakatku, dia langsung menghilang dalam waktu singkat?

Kenapa?

"Eh…!" Gumamku begitu mataku terpaku pada sebuah kertas yang terlihat lecek dibawahku. Aku pun membungkuk untuk mengambilnya. Bau yang begitu maskulin langsung menyerbu hidungku. Agak sedikit mencolok sih.

Aku pun membukanya dan kemudian….

"Astaga…! Gambar siapa ini?" Gumamku. Kertas itu dipenuhi dengan gambar seseorang (kalo kau bisa menyebutnya orang sih) yang biasa disebut dengan stick figure yang sedang berpose macam-macam. Sebuah gambar yang tidak menarik bukan, tetapi akan jadi menarik apabila ada tulisan dengan huruf cukup besar dibawahnya.

From : Naruto

"Sandi boneka menari ya?" Gumamku sambil sedikit terkikik geli. Si bocah duren itu bisa aja sih, aku tau kalo dia itu penggemar Sherlock Holmes, tapi kan ga gini juga.

Eh…! Aneh…! Kesedihanku tadi pergi kemana ya? Masa bodoh deh. Aku mau nerjemahin ini dulu.

Aku pun duduk dan kemudian berpikir tentang sandi tersebut. Hm…! Ada tiga blok. Blok pertama terdiri dari satu gambar, blok kedua terdiri dari tiga gambar, sementara blok ketiga terdiri dari empat gambar.

Dari tiga blok tersebut, pasti ada stick figure yang menghadap ke kiri. Artinya, kiri itu berarti huruf vocal. Jadi, urutannya V KVV KVKK

Sekarang untuk yang blok pertama, kata apa yang hanya terdiri dari satu huruf vocal dan memiliki arti?

"I …." Wajahku sedikit memerah memikirkan kata selanjutnya. Tapi, cuman tiga huruf kan? Ga mungkin lah.

"Kenapa sih kau harus mengirimkan pesan pake sandi, Naruto" Gumamku entah pada siapa.

"Mau kubantu?" Aku pun langsung menolehkan kepalaku begitu mendengar suara misterius tersebut dan kemudian sepasang mata safir langsung menyambut emerald milikku. Aku cuman bisa terdiam melihat mata cerah tersebut.

Jarak kami terlalu dekat, aku bahkan bisa merasakan desahan nafasnya yang bener-bener ngos-ngosan. Bahkan aroma sitrus dari nafasnya pun tercium oleh hidungku.

"Nih"

"Are?" Aku pun tersadar dari keadaanku sekarang begitu Naruto sudah menyerahkan lembar surat miliknya tadi kepadaku.

"I, SEE, TELL" Kataku tak mengerti begitu membaca terjemahan yang diberikan oleh Naruto tersebut. Sebuah tangan menyentuh daguku dan kemudian mengangkatnya. Sepasang mata safir kembali menyambut emerald milikku.

Bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman yang ceria, senyum yang selama ini dia tunjukkan kepadaku ketika meminta pengajaran. Senyuman yang dia tunjukkan ketika membicarakan novel bersama denganku. Senyuman yang dia tunjukkan ketika dia melakukan hal bodoh. Senyum ceria yang selalu menghiasi wajahnya.

"Aishiteru, Sakura-chan" Katanya. Hah…! Aku sedikit tercekat mendengar suaranya tersebut.

Memang sih, aku juga mencintainya. Aku mengirimkannya surat cinta karena dia mulai cuek padaku setelah apa yang dia lakukan sebelumnya. Aku tidak mau kehilangan dia. Meskipun aku harus mati sekalipun, dia takkan kulepaskan.

"I Love You Too, Naruto-kun"

FIN?

Diatas atap tampak sebuah bayangan seseroang dengan rambut model emo sedang melihat kearah dua remaja yang sedang memadu kasih dibawah tersebut. Cahaya bulan meneranginya dari arah belakangnya sehingga wajahnya tak terlalu terlihat.

Giginya yang putih tampak menyala ketika bibirnya tersebut menyeringai seram. Matanya menyala dengan warna merah dan pupilnya membentuk pola tiga buah air.

"Congratulation, Dobe"

-0-

Hehe…! Ini One-shot pertama saya. Gomen kalo agak terburu-buru alurnya. Author bakalan mengupdate lagi seri Love in 5 days ini dengan pair yang beda. Tapi…. Author minta saran nih.

Enak jadi one shot gini atau jadiin multichip 5 chapter (tiap hari satu chapter)?

Hehe…! Ditunggu lho, jawabannya.

Happy Read