Plis, tolong abaikan OST geje yang jadi pelengkap fic ini di akhir. Emang agak aneh—emang aneh sih, bukan 'agak' lagi, but... there's no point if i dont include that song :') enjoy. Nggak sempat dibetain.

.

Story 2 : Rindu

"Malam dingin. Rinai hujan mengguyur semesta. Berdiam diri di kamar" Inilah kisah tentang Kagami Taiga yang sedang merindukan pacarnya.

.

Kagami menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Memandang rinai hujan yang berderai membasahi tanah, mengguyur semesta, membuat udara lebih dingin dari biasanya. Kalau sudah begini, Kagami jadi membayangkan, betapa sempurnanya hidup ketika Aomine ada disampingnya. Di ruangan ini, saling bercerita seru tentang basket atau apapun, sambil meminum secangkir teh hangat berdua.

Kagami tidak akan mengakui ini pada siapapun sih... tapi dia sedang merindukan si kunyuk satu itu. Bagaimana Kagami tidak kangen kalau sudah satu minggu tidak bertemu?

Dan jangan bilang pada Kagami kalau satu minggu itu baru sebentar!

Kagami sudah menghabiskan waktu satu tahun berhubungan jarak jauh dengan Aomine. Jaman-jaman di saat mereka hanya bisa bertengkar di telepon tanpa bisa menjotosnya secara langsung ketika lagi kesal itu... semuanya sudah berlalu. Sekarang sudah bukan jamannya lagi bersusah-susah karena jarak yang membentang. Sudah lima bulan sejak mereka say good-bye pada Long Distance Relationship. Tepatnya sejak Aomine diterima di salah satu Universitas di Tokyo dan tinggal di kota yang sama dengan Kagami.

Tapi...

Justru di situ letak ujian barunya!

Siapa yang mengira kalau hubungan jarak dekat itu menyimpan lebih banyak polemik daripada hubungan jarak jauh?

Contoh... Kagami baru tahu, menghabiskan waktu lebih banyak dengan Aomine akan membuatnya jauh lebih kangen dengan si kunyuk itu. Jadi ketika Aomine baru pamit pulang dari apartemennya, Kagami biasanya sudah langsung kangen. Kemudian dia jadi menyesali kenapa sebelum itu tidak sempat mesra-mesraan dengan Aomine dan malah main PS sampai malam. Atau one-on-one sampai malam.

Atau ketika Aomine tidak kunjung membalas text nya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Kagami. Yang Aomine sudah bosan padanya lah, yang Aomine sudah tidak peduli padanya lah, yang Aomine malas menjawab text nya lah... pokoknya macam-macam.

Kagami sampai stres. Karena itu artinya... dia sudah sukses menjelma menjadi gadis abege yang menye-menye.

Padahal dia cowok!

Cowok harusnya tidak berpikiran soal hal-hal semacam itu! Cowok harusnya berpikir soal basket! Soal sepatu sport! Soal PS! Soal cewek—well, yang itu enggak juga sih, soalnya Kagami gay.

Pokoknya, yang jelas tidak sampai membuat Kagami segalau ini lah. Apa banget gitu loh, terpaku melihat rintik hujan di jendela ketika malam sambil berharap pacar menemani disampingnya.

Hoek.

Kagami pura-pura muntah. Tapi ketika matanya tak sengaja melihat hujan, dia kembali menerawang.

Mungkin seumur hidupnya, dia hanya akan mengakui hal ini pada dirinya sendiri. Dia memang merindukan Aomine. Bukan hanya karena Aomine itu pacarnya—bukan! Bukan status sebagai pacar yang membuatnya kangen. Tapi simply karena dia membutuhkan keberadaan Aomine disampingnya. Karena Aomine itu seperti...

...uhm... apa ya kata yang cocok?

Separuh jiwanya?

Pelabuhan hatinya?

Kagami menjambak rambutnya. Ada tidak sih kata yang lebih tidak menjijikkan untuk menggambarkan siapa Aomine dalam hatinya?

"Awas lo, Aomine!" Kagami berdesis penuh dendam sambil melihat layar ponselnya yang sama sekali tidak ada pesan baru dari siapapun.

Sepuluh detik berpandang-pandangan sengit dengan ponselnya, akhirnya Kagami menyerah. Diangkatlah ponsel itu kemudian diketiklah sebuah kalimat yang singkat, padat dan jelas.

Hujan nih... ngeteh berdua kayaknya enak. Kangen oi.

Kagami langsung mengirimnya sebelum dia sempat mengubah pendiriannya. Tapi ketika ponselnya bergetar tepat ketika Kagami memencet tombol 'send' ... Kagami tidak bisa menahan mulutnya untuk nyengir lebar.

Karena Aomine mengiriminya pesan tepat ketika Kagami mengirim miliknya.

Gue ada welcome party di kamps, masa. Bosen. Pengen ke Apartemen lo.

Kagami segera membalasnya.

Ciye, barengan ngirim pesannya. Ciye, jodoh. Anw, pulang malem?

Tapi yang Kagami dapat malah sunyi sampai setengah jam kedepan. Kagami ingin mengelus dada. Di saat dia kangen dengan si kunyuk itu, ternyata dia malah ada welcome party entah apalah itu. Sedangkan Kagami di sini sendiri, tidak melakukan apapun sambil menatap rintik hujan yang kini berangsur reda.

Kagami kemudian menyibukkan dirinya dengan berbagai hal. Menonton video di youtube misalnya, atau main game, atau memasak, pokoknya semua hal yang membuatnya tidak membuang-buang waktunya.

Karena dia tahu, berdiam diri sambil menatap layar ponselnya tidak akan menghasilkan apapun. Aomine tidak akan tiba-tiba datang mengetuk pintu apartemennya karena Aomine punya acaranya sendiri.

Mereka pacaran, tapi tidak lantas mereka harus berbagi setiap detik untuk bersama. Karena bukan seperti itu hidup yang Kagami mau.

Drrrrt.

Ponsel Kagai bergetar. Kagami melirik sekilas, kemudian membukanya.

Ah, bete. Gue kangen. Pengen pulang ke Apartemen lo. Pengen maen PS bareng. Tapi belom boleh pulang sama senior.

Dari Aomine. Sukses membuat Kagami nyengir.

Yaudah sana have fun! Dinikmati lah, nggak usah ngeluh!

Setengah jam tanpa balasan lagi. Kemudian sebuah pesan singkat berbunyi 'gak bisa bales sering-sering. Banyak temen ngajakin ngobrol.' dari Aomine muncul di layar ponselnya. Tapi itu tidak membuat Kagami kesal. Karena dia tahu, sesibuk apapun Aomine di luar sana, Aomine sempat memikirkannya.

Tapi bukan berarti itu membuat rasa kangen Kagami sirna. Karena walau dia tahu Aomine memikirkannya, dia tetap ingin Aomine di sini. Dia merindukan saat-saat ketika dia dan Aomine kesambet setan dan berhenti bertengkar untuk mesra-mesraan sejenak. Dia merindukan saat-saat bisa memeluk Aomine dalam rengkuhannya dan mengecup bibir Aomine lembut. Dia merindukan saat Aomine tertawa renyah lalu mengecup keningnya sayang.

Saat-saat itulah yang dinamakan Kagami sebagai saat-saat kesambet setan. Tidak sering mereka lakukan, tapi cukup untuk meyakinkan mereka kalau perasaan mereka sama.

Tapi apa boleh buat, malam ini bukan waktunya untuk itu. Aomine sibuk dengan acara kampusnya. Jadi mau bagaimana lagi, Kagami hanya bisa menahan rindunya untuk malam ini.

Ketika Kagami sudah akan tidur, dia menyempatkan mengirim pesan berbunyi...

Gue kangen.

pada Aomine. Sebelum kemudian Kagami merebahkan dirinya di kasur dan siap untuk mengarungi mimpi. Tapi bunyi suara getar ponselnya mencegah Kagami. Aomine mengiriminya sebuah pesan suara.

Kagami mengangkat alisnya. Kemudian membukanya...

Terdengar keriuhan dan suara sorak sorai tak jelas dari pesan suara yang di kirim Aomine. Kagami mengernyitkan keningnya, mencoba berkonsentrasi tentang apa yang Aomine ingin Kagami dengar. Lalu terdengarlah sebuah lagu... dimainkan oleh seseorang di kejauhan... seperti band yang di sewa untuk pesta yang di hadiri oleh Aomine.

Sebuah lagu dengan lirik yang membuat Kagami tidak mampu menghentikan senyumannya sampai ia jatuh tertidur.

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku, akupun rindu kamu. Kuakan pulang. Melepas semua kerinduan. Yang terpendam.

Bukan diucapkan oleh Aomine langsung, tapi Kagami tahu apa maksudnya. Dan malam itu, Kagami memimpikan Aomine.

Mimpi yang sangat indah.

.

END

.

Wkwkwk. Udah selesai nulis ngebutnya :') Dear You, jangan jadi bang toyib. Semoga jadi Mabanya nggak lama-lama. Biar nggak sibuk-sibuk banget. Biar cepet pulang. LOL.

PS. buat pembaca yang gak sengaja baca, astaga so sori ya aku ngerandom malam-malam. Bye.