Spring
[LAST NOTE FROM AUTHOR] : Helooo~ how's life? Eheh.
Akhirnya tiba dipenghujung chapter, akhir dari segala cerita fiktif yang kutulis dengan bantuan inspirasi dari novel MEGA best-seller karya Ilana Tan. Uaah, aku minta maaf loh tanpa se-izin dan dengan seenak jidatnya memakai karya novel kak Ilana Tan untuk fanfiction abal aku. habis ya bagaimana, aku nggak tahu harus minta izin via apa untuk bisa berkomunikasi dengan beliau. Hiks, so sad.
Tapi, setidaknya aku nggak 100% ngejiplak kan ya, bagaimanapun ini juga hasil pemikiranku. Eheh. Dan yah, aku juga nggak tau kenapa menjadikan chapter ini sebagai chapter akhir, padahal awalnya aku ga punya planning bakal namatin ff ini dengan 11 chapter, lol.
Tapi karena konflik keseluruhannya sudah habis, jadi ya mau apalagi, akhirnya aku nekad tamatin ffnya, uyee. Karna aku juga repot sih, nge-handle 3 ff sekaligus. Oh, ya, ending dari ff ini memang sama kok sama ending asli dari novel Spring In London.
Dan…memang di awalan tahap ending aku meniru gaya penulisan kak Ilana Tan, eheh lagi. Sorry.
LAST! TERIMAKASIH BANYAK UNTUK PARA READERS YANG SELAMA INI SUDAH MENYEMPATKAN WAKTU BERHARGANYA UNTUK SEKEDAR REVIEW/FAVS/FOLLOW FF SPRING, DAN AKU GAAKAN BISA LANJUTIN FF INI TANPA DUKUNGAN DARI KALIAN HUHU MAKASIH.
Untuk yang masih belum paham, atau bingung, atau merasa gaje dengan ending ff ini, bisa cantumkan keluh kesah kalian di kolom review dan setelah terkumpul semua saran dan kritik dari kalian, insya allah aku bakal bikin chapter khusus penjelasan. Tapi inget yaaa, pakai bahasa yang sopan dan nyantai~
Last of the last(?), Tetaplah baca karya-karya aku yang lain ya /promosi/. Apalagi buat HunHan shipper, ff Wrong Way sama TRAP pasti cocok banget buat kalian^^ h3h3.
.
.
.
Beijing, China.
"Ya, sampai jumpa!" Luhan melipat flip ponselnya kemudian menaruh benda itu kembali keatas meja, ia kembali memusatkan perhatiannya pada jalanan lengang kota Beijing diluar sana. Musim semi telah berakhir sejak lama, musim semi pergi membawa segala kenangan indah dan pahit hidup Luhan.
Kyungsoo, adalah orang yang barusan meneleponnya. Menanyakan kabar Luhan dan sedikit bertukar cerita mengenai hal-hal yang terjadi di masing-masing negara, Luhan di China dan Kyungsoo yang berada di Korea.
Luhan tersenyum, membayangkan bagaimana wajah Kyungsoo sekarang. Ia juga terpikir akan kata-kata sahabatnya itu bahwa Chanyeol sekarang sudah memiliki kekasih, yang rupanya adalah Byun Baekhyun; penyanyi yang pernah melibatkan Luhan pada video musiknya… dua tahun lalu.
Ya, dua tahun lalu. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Luhan merasa bahwa dua tahun kebelakang hidupnya seperti sebuah film pendek tanpa dialog. Penuh dengan drama, tragedi, misteri, namun nyata.
Tidak. Ia tidak pernah melupakan Sehun walau sudah dua tahun ia tak berkomunikasi dengannya. Luhan selalu mengingat lelaki itu disetiap hal yang ia lakukan, disetiap langkah kakinya yang masih memijak tanah, bayang-bayang akan indahnya masa lalu masih selalu menghantui pikiran Luhan.
Aku bukan adikku. Aku tidak akan mengkhianatimu.
Apa kau percaya padaku?
Adalah kata-kata yang paling melekat di benak Luhan hingga saat ini, baginya, omongan itu adalah sebuah pertanyaan yang belum bisa ia jawab hingga saat ini.
'Kepercayaan' maksudnya. Apa ia mempercayai Oh Sehun? Entahlah.
Tok, tok, tok…
Ketukan pintu itu membuat Luhan keluar dari lingkup masa lalu dibenaknya. Seseorang membuka kenop pintu kamarnya dan masuk kemudian duduk di tepi ranjang. Luhan menoleh,
Seorang gadis berambut hitam lurus, bermata sipit, dan memiliki lesung dikedua pipinya sekarang memandangi Luhan, menunggu lelaki itu membuka pembicaraan.
"Ada apa?" Ujar Luhan.
"Aku bertengkar lagi." Gadis itu merubah ekspresi wajahnya menjadi muram.
"Dengan pacarmu? Seingatku dua hari yang lalu juga kau bertengkar dengannya."
"Dia menyebalkan, Kak! Aku tidak mau tahu, pokoknya Kakak harus berbicara dengannya!"
"Okay, Sandy. Antar aku kerumahnya besok pagi."
.
.
.
Sehun berdiri didepan sebuah pintu, tatapannya tak lepas dari ujung sepatu yang ia kenakan. Entahlah, ia merasa gugup, takut, senang, dalam waktu yang sama. Ia gugup karena tidak tahu apa yang nantinya akan ia bicarakan, ia takut kalau nyatanya orang itu telah pindah, dan ia senang karena akhirnya bisa kembali ke Korea.
Sehun berhasil menjadi seorang manajer di kantor ayahnya, selama kurang lebih delapan bulan dirinya menetap di Swedia untuk menjalankan bisnis milik Tuan Oh yang semakin berkembang pesat ke hampir seluruh benua Eropa dan Amerika.
Ketukan ketiganya berhasil membuat pintu terbuka, menampakan seorang lelaki berdiri dibelakangnya dan menatap Sehun dengan tatapan heran. Ketika Sehun melihat sosoknya, ia bernapas lega.
"Se—sehun?"
"Ya. Ini aku. aku bersyukur kau masih tinggal disini, Kyungsoo."
"Hei, aku tak pernah melihatmu." Balas lelaki bermata lebar itu.
"Ceritanya benar-benar panjang. Aku baru mendapat libur selama seminggu dan kuputuskan untuk pulang ke Korea, hanya demi bertemu denganmu, kau tahu."
"Aku? kenapa?"
"Sebenarnya, ini soal Luhan."
Kyungsoo mengangguk-angguk, ia sudah menebak bahwa kedatangan Sehun kemari pasti tidak lepas dari persoalan Luhan. Sekarang Kyungsoo sadar, bahwa keduanya memang tengah terlibat asmara yang rumit.
Lelaki itu mempersilahkan Sehun untuk masuk, keduanya duduk di sofa ruang tv sedangkan Chanyeol kebetulan tidak ada di flat. Ia sibuk dengan pekerjaannya.
Sehun tak mau membuat kunjungannya sia-sia, dan berjalan lama, maka dengan keberanian yang ia paksakan, ia akhirnya bertanya pada Kyungsoo perihal alamat rumah Luhan di China. Tentu saja, Kyungsoo tidak akan memberikannya.
Sebelum kepergian Luhan ke China, lelaki itu berpesan pada Kyungsoo dan Chanyeol untuk tidak memberitahukan pada siapapun apalagi Sehun mengenai alamat rumahnya di China. Luhan hanya tidak mau terus menerus terjebak dalam lingkaran masa lalu dan orang-orang yang sama.
Kyungsoo menggoyangkan kakinya gusar, ia tidak tega jika harus menolak permintaan Sehun mentah-mentah dan menyuruhnya pulang begitu saja. Ingat, kedatangan Sehun ke Korea hanyalah demi mengetahui alamat rumah Luhan.
"Aku mohon, Kyungsoo. Aku tidak tahan lagi. Aku pergi ke Swedia, meninggalkan Korea dan segala kenangan yang pernah kubuat bersamanya, namun apa hasilnya? Nol. Aku memikirkannya disetiap oksigen yang ku ambil untuk bernapas, aku merasa bersalah, kehilangan, rasa rindu, semuanya tak bisa ku bendung lagi."
Lelaki albino itu menutupi kedua wajahnya dan menggeram frustasi. Kyungsoo semakin tidak tega melihatnya, namun ia juga tidak bisa melanggar janjinya pada Luhan untuk tidak memberikan alamatnya pada Sehun.
Ia menghela napas, "Aku tahu, aku paham apa yang kau rasakan. Tapi, aku—tidak bisa."
Sehun mencibir, ia sudah tahu apa jawaban Kyungsoo bahkan sebelum dirinya terbang ke Korea. Lelaki ini pasti tak akan pernah memberinya alamat rumah Luhan. Sebenci itukah Luhan padanya sehingga ia merahasiakan semuanya?
Sehun bahkan telah memaafkan segala perilaku Luhan dimasalalu, padahal orang yang Luhan lukai adalah Soojung, adiknya sendiri. Namun, apa daya, cinta telah membutakan semuanya. Tapi kenapa sekarang malah Luhan yang seolah takut pada Sehun?
Sekali lagi, ia tak mau menjadikan kedatangannya ke Korea sia-sia. Maka, Sehun menghela napasnya kemudian menatap Kyungsoo, serius.
"Dengar. Kau bekerja di restauran milik keluargaku. Dan kau tidak akan pernah bisa melihat cumi-cumi dan bumbu-bumbu itu lagi, jika kau tidak memberikan apa yang aku mau."
"Hei, apa-apaan kau?"
"Aku bisa menghubungi pihak restauran untuk menendangmu, kapan saja."
.
.
.
Sehun duduk rileks disamping jendela, bibirnya tak henti-henti melukiskan sebuah senyuman dan pandangannya tak lepas dari layar ponsel yang ber-wallpaper foto Luhan itu. Ia sudah tak peduli dengan suara-suara dari para pramugari yang menginterupsi penumpang agar bersiap.
Kenapa Sehun perlu repot-repot berkeluh kesah didepan Kyungsoo jika rupanya untuk meruntuhkan pendirian lelaki itu hanya butuh sedikit ancaman saja?
Sehun tahu ia berlebihan. Kyungsoo mungkin membencinya. Tapi, Sehun janji ia akan kembali lagi ke Korea suatu saat dan meminta maaf pada lelaki itu. Lagipula, Sehun juga tidak akan berani memecat Kyungsoo begitu saja dari restauran.
Perlahan, pesawat yang ia tumpangi terangkat, menandakan bahwa benda itu siap membawa Sehun terbang menembus awan malam menuju ke tempat yang ia dambakan sejak dulu. Membawanya ke tempat dimana ia bisa bertemu dengan orang yang selama ini telah membawa separuh hatinya pergi.
Luhan…
Sehun tak henti menggumamkan nama itu, bahkan sampai ia jatuh tertidur ditengah perjalanan panjang nya.
.
.
.
Kota Beijing.
Lagi-lagi Sehun mengembangkan senyumannya ketika ia bisa melihat ornamen-ornamen naga yang menghiasi tiap ruas jalan di kota ramai ini. Langkah yang harus ia lakukan selanjutnya adalah; mencari alamat rumah Luhan.
Tanpa membuang waktu lagi, ia memberhentikan sebuah taksi yang melintas dihadapannya. Sehun duduk di kursi penumpang, menyerahkan kertas alamat lusuh itu pada sang supir yang siap membawanya menuju kerumah Luhan.
"Tuan? Tuan? Kita sudah sampai."
"Ah—" Sehun mengerjapkan matanya ketika sang supir memanggil-manggil dirinya dengan menggunakan bahasa Inggris berlogat China. Rupanya Sehun tertidur dari tadi.
Sehun menatap keluar jendela taksi, dilihatnya sebuah rumah bercat biru muda berdiri beberapa meter dari taksi terparkir. Sehun tak bisa membendung rasa bahagianya, dengan segera, ia membuka pintu mobil tersebut dan—
Aktivitasnya berhenti ketika ia melihat orang itu dari kejauhan. Pintu rumah biru itu terbuka, dua orang keluar dari dalam sana dengan tertawa-tawa, sambil bergandengan. Ya, Sehun yakin penglihatannya tidak salah.
Matanya masih normal hingga sekarang, dan ia bisa melihat dengan jelas bahwa lelaki yang tengah berjalan bersama seorang gadis cantik berambut hitam lurus itu adalah Luhan. Ya, itu Luhan.
Bahkan cara ia tertawa masih sama, tinggi badannya masih sama, bahkan tatapan mata rusa itupun masih sama seperti apa yang Sehun lihat dua tahun yang lalu. Tidak salah lagi, itu Luhan.
Sehun tidak tahu kenapa, seharusnya ia merasa senang dan bahagia ketika ia melihat kondisi Luhan yang baik-baik saja dan terlihat begitu bahagia. Namun yang Sehun rasakan sekarang justru malah sesak dan matanya memanas.
Sesempurna apakah gadis itu sehingga bisa membuat Luhan tertawa ceria seperti sekarang? Siapa gadis itu? Secepat itukah Luhan melupakan dirinya, dan mencari pendamping lain? Semudah itukah Luhan menghapus setiap inchi memori yang telah ia ukir bersama Sehun?
Sehun meremas dada kirinya diatas permukaan baju yang ia kenakan, memalingkan wajahnya dari pemandangan menjijikan diluar sana dan menginterupsi sang supir agar kembali membawa Sehun ke bandara.
Setidaknya, Luhan bahagia.
Dan itu cukup bagi Sehun.
Walau Sehun mungkin bukanlah penyebab kebahagiaan dalam hidup Luhan.
.
.
.
Seoul, Korea Selatan. 1 minggu kemudian.
Byun Baekhyun, telah resmi merilis sebuah produk perdana-nya, produk jaket dan sweater untuk musim dingin yang ia rancang bersama beberapa temannya. Setelah kesuksesannya menjadi seorang penyanyi solo, sekarang ia tengah mencoba untuk menjadi seorang designer.
Ia terduduk diruangannya, dengan setumpuk berkas dan kertas-kertas gambar yang berserakan diatas mejanya. Lelaki itu terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya, dan ketika ia menemukan apa yang ia cari, ia menekan tombol hijau dan mulai menempelkan benda itu ke telingannya.
Nada sambung yang terdengar cukup lama, Baekhyun menggoyangkan kakinya gusar. Berharap orang di seberang sana akan mengangkat teleponnya kali ini. Ayolah, Baekhyun sudah susah payah mengotak-atik ponsel Chanyeol ketika ia mandi hanya demi mencari nomor telepon Luhan.
Baekhyun tahu semua masalah yang terjadi beberapa tahun ini, Sehun tentunya selalu bercerita padanya, dan Chanyeol yang sesekali keceplosan berbicara soal Luhan dan keberadaannya. Walaupun begitu, mau Chanyeol atau Kyungsoo, keduanya benar-benar pelit jika dimintai keterangan mengenai Luhan.
"Halo?"
"Luhan?"
"Baek—baekhyun?"
"…."
"Apa? Baekhyun, entahlah."
"…."
"Akan.. akan kupikirkan,"
"…."
"Ya, tapi aku tidak bisa berjanji."
Baekhyun menutup teleponnya. Ia tersenyum sumringah ketika mendapat 'sedikit' persetujuan dari Luhan atas permintaannya. Walaupun lelaki itu bilang bahwa ia tidak bisa berjanji, Baekhyun yakin ia akan mengusahakannya.
Luhan bukan tipe orang pemalas, bukan? apalagi dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan seperti ini.
Ya, Baekhyun menghubunginya untuk kembali memintanya agar menjadi model dalam iklan produk baru Baekhyun. Karena Baekhyun rasa, Luhan adalah model yang sempurna dan profesional.
Sekarang, yang ia harus lakukan adalah menghubungi kembali Sutradara Kim. Ya, Junmyeon. Masih ingat dengan lelaki kurus ber-otak jenius itu? Sudah hampir setahun Baekhyun hilang kontak dengannya.
Karena, terakhir mereka bertemu adalah setelah perilisan video musik milik Baekhyun dan Junmyeon bilang kalau ia akan pergi ke Selandia Baru dan menetap disana untuk beberapa waktu.
Baekhyun hampir saja kehilangan keseimbangannya ketika seseorang membuka pintu ruangannya tanpa izin, ia memegangi dada kirinya.
"Kau gila." Baekhyun menatap sinis kearah orang yang sekarang berdiri di ambang pintu itu.
"Ketuk pintunya dulu, bisa? Mau membuatku jantungan?" Lanjutnya lagi. Walaupun sekarang Baekhyun tengah marah, namun orang itu hanya cuek dan melangkah masuk kemudian duduk dikursi hadapan Baekhyun.
"Kau yang memanggilku kesini."
"Ya, aku tahu! Tapi—"
"Ayolah, langsung ke inti saja. Aku tak punya banyak waktu."
Baekhyun berdecak, ia paham pasti keadaan mood Sehun tengah buruk hari ini. Dan penyebabnya tak jauh pasti mengenai pekerjaannya atau tentang Luhan. Selalu seperti itu.
"Kau akan kembali ke Swedia?" Tanya Baekhyun pelan, berharap agar Sehun tidak kehabisan kesabaran dan meninju wajahnya sekarang juga.
Lega, Sehun tidak membentak sedikitpun. Ia hanya mengangguk tanpa menatapnya. Kedua mata Sehun hanya terfokus pada hal tak jelas di bawah sana; menatap kearah ubin. Tatapannya kosong.
Baekhyun mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan Sehun kali ini. Ia tak mungkin menyuruh Sehun ini-itu disaat kondisinya lemah dan frustasi begini. Baekhyun juga dapat merasakan apa yang tengah sahabatnya rasakan.
"Tadinya… aku mau minta bantuanmu. Tapi kurasa—"
"Tak apa. Jadwal pulangku ke Swedia masih lima hari kedepan. Jika kau butuh bantuanku, bicara saja."
"Kau yakin?"
"Ya."
.
.
.
Luhan menghembuskan napasnya, kemudian bibir kanannya sedikit terangkat keatas. Ia tersenyum. Walau senyuman tersebut tidaklah sepenuhnya sebagai penunjuk rasa bahagia.
Senyuman tipis Luhan mengandung banyak sekali arti, sebuah senyuman menggambarkan campur aduknya perasaan Luhan sekarang. Ia bahagia karena bisa sampai disini dengan selamat, ia bahagia karena bisa berkunjung lagi kemari setelah bertahun-tahun, dan—
Ia juga terluka ketika mengingat betapa banyak kenangan yang telah ia torehkan di kota ini. Mulai dari kenangan kecil bersama sahabat-sahabatnya, teman-temannya, teman lamanya, bahkan musuhnya, dan tentunya—dia. Orang yang berhasil—membuatnya merasakan suatu getaran aneh di hatinya setelah sekian lama rasa itu mati.
Luhan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang ia gendong di punggungnya,
"Halo? Ya. Aku sudah sampai. Baiklah, tunggu aku disana."
.
Sehun tengah bercengkrama dengan sutradara Kim sambil tertawa-tawa, saling bertukar cerita tentang hal-hal yang mereka lalui selama ini ketika akhirnya Baekhyun datang dan berkata bahwa ia ingin memulai syutingnya lebih cepat.
"Bukannya kita sedang menunggu model yang satunya?" Tanya Junmyeon.
"Modelnya sudah ada di lokasi. Dari tadi."
Mereka bertiga keluar dari kafetaria, menyebrangi jalan untuk sampai ke sebuah studio yang akan dipakai untuk iklan produk barunya Byun Baekhyun. Alat-alat syuting sudah tertata rapi disana, mulai dari kamera, sampai para penata rias.
Dan seseorang berambut cokelat keemasan yang duduk membelakangi pintu masuk itu berhasil menarik perhatian Sehun. Apakah itu yang Baekhyun sebut sebagai 'model yang satunya' sedari tadi?
"Hei, Luhan? Oh, astaga. Dirimu rupanya! Masih ingat denganku? Hey, Sehun, rupanya ada Luhan juga disini. Kau masih ingat dia, kan?"
Deg.
Sehun mematung ditempatnya, mengabaikan lambaian tangan dan teriakan dari mulut Junmyeon. Ya, ia tahu itu Luhan! Bahkan sekarang Sehun dapat melihat lelaki itu datang kearahnya, berdiri tepat dihadapannya.
Perlahan, tatapan Sehun beralih, yang awalnya hanya menatap kosong kearah ubin, kini perlahan bergerak dan menatap wajah Luhan. Walau tatapan itu masih terlihat kosong. Setidaknya, ia telah berhasil menatap Luhan sekarang.
Dan tiba-tiba ia merasa dadanya bergemuruh. Matanya memanas dan rahangnya mengeras. Ia bisa melihat bibir Luhan yang sekarang terangkat perlahan, membentuk sebuah senyuman.
Oh, demi tuhan! Sehun rasanya ingin sekali memeluk tubuh lelaki ini sekarang juga, mendekapnya erat dan membisiki kata-kata untuk melarangnya pergi lagi. Namun, ia tidak bisa. Badannya hanya terlalu kaku untuk melakukan semua hal yang ia ekspetasikan itu.
"Hai, apa kabar?"
"Apa kabar?"
Mereka berdua mengatakannya bersama dan rasanya aneh. Luhan tidak tahu kenapa mereka jadi berubah seperti ini. Sejak kapan mereka berdua bersikap saling canggung? Sejak kapan Sehun jadi pendiam dan kaku? Apakah dua tahun memang sudah terlalu lama? Apakah semuanya memang telah berubah?
"Aku baik-baik saja." Luhan tersenyum, berusaha menghilangkan rasa canggung yang menyelimuti dirinya.
"Dan kau?" tanyanya lagi.
"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Kurasa kita harus bersiap, Baekhyun sudah tak sabaran."
Luhan tersentak kaget ketika mendengar respon yang keluar dari mulut Sehun, dan lelaki itu malah berjalan melewati bahu nya untuk mengambil kostum apa yang harus ia pakai. Luhan berpikir, kemudian menggelengkan kepalanya sendiri dan berlari menemui Sehun lagi.
"Apakah hanya itu yang ingin kau katakan padaku?" Luhan berseru.
Sehun mengalihkan pandangannya dari deretan baju-baju baru di rak sana, "Hanya itu? Tentu tidak. Terlalu banyak yang harus ku katakan padamu sehingga aku tidak tahu harus memulainya darimana."
"Aku bisa menunggu selagi kau berpikir."
Sehun mengacak rambutnya kemudian memijat keningnya dan membuang napas dengan kasar. Ia bahkan tak mau menatap mata Luhan lagi sekarang. "Lupakan saja."
"Kenapa kau jadi begini? Kenap—"
"Aku baik-baik saja, Luhan. Aku senang melihatmu senang, dan aku bahagia melihatmu bahagia bersama—orang yang kau cintai. Dan ya, aku rindu padamu. Namun aku canggung. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!"
Luhan terdiam, ia bahkan tak berkedip selama Sehun berbicara secepat dan senafsu itu. Entah kenapa, hatinya merasa terluka mendengar nada bicara Sehun yang terdengar begitu frustasi dan kacau. Apakah dirinyalah penyebab dari semua ke-frustasian Sehun?
Sedangkan semua orang yang ada disekitar mereka juga ikut terdiam. Tak ada yang berani membuka mulut walaupun rasanya ingin sekali mereka semua bertanya sebenarnya apa yang terjadi diantara Sehun dan Luhan.
"Orang yang kucintai? Apa? Siapa?" Luhan meninggikan nada bicaranya, kata-kata random yang Sehun ucapkan berhasil membuat kekesalannya tumbuh.
Sehun tidak menjawab.
"Kenapa kau marah-marah? Siapa orang yang kucintai? Tahu apa kau soal hal itu?" Emosi Luhan kembali meluap.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Lu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Apa aku perlu menceritakan detailnya supaya kau paham?"
"Ya!" bentaknya. "Karena aku tak mengerti apa yang kau ocehkan!"
"Minggu lalu, aku pergi ke Beijing. Untuk mencarimu, tentunya." Kata Sehun. "Dan ketika aku tiba didepan rumahmu, aku melihatmu bersama seorang wanita, dan kalian…."
"Kau datang kerumahku? Di Beijing? Tunggu, darimana kau tahu alamat rumahku?"
"Kyungsoo. Tapi bukan itu intinya, aku melihatmu bersama wanita itu, dan kalian berdua terlihat, yah, akrab."
Luhan mengernyitkan dahinya, "Wanita? Aku tidak pernah keluar dengan wanita manapun kecuali—oh… astaga. .paham."
Sehun tersenyum sinis kemudian mengibaskan tangannya, "Sudahlah. Aku bahagia melihatmu bahagia, Lu."
"Oh Sehun dia bukan—"
"Selamat. Tidak salah kau pulang ke China dua tahun lalu."
"DIA BUKAN PACARKU! DIA SANDY DAN DIA ADIK PEREMPUANKU!" Luhan berteriak sekencangnya, tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar yang semakin menatap takut kearah mereka berdua.
Ia bahkan mengatur napasnya yang tersengal sekarang, ia marah, nafsu, emosi, kesal, dan itu semua terjadi karena ulah Sehun! Bagaimana lelaki itu bisa sebodoh ini?
Sehun terperanjat, "A-adik.."
"Ya, adik! Dan aku yakin aku pernah menceritakannya padamu!"
"Kupikir.."
"Kau tidak berpikir." Cetus Luhan.
"Lalu, kenapa menurutmu aku kembali ke Korea ketika aku tahu bahwa negara ini adalah tempat dimana kau tinggal? Dan kenapa menurutmu, aku menyetujui kontrak dengan Baekhyun, sementara aku tahu bahwa Baekhyun adalah sahabatmu?" Luhan mendengus, kemudian berjalan melewati bahu Sehun.
Namun Sehun menangkap pergelangan tangannya, "Jadi.. kau datang kemari juga untuk mencariku? Kenapa?"
Luhan menoleh, mendongak untuk menatap lelaki itu. "Kau pergi ke Beijing untuk mencariku, kenapa?" tanyanya balik.
Sehun menatap dalam kemata Luhan. Ia berpikir sejenak apakah kata-kata yang ia akan ucapkan setelah ini akan beresiko atau tidak? Namun, ia mencoba untuk memantapkan dirinya sendiri.
"Karena aku merindukanmu. Karena aku membutuhkanmu, karena aku ingin kau tahu bahwa perasaanku sekarang masih sama seperti dulu. Dan aku hanya ingin tahu apakah kau sudah percaya padaku, walau hanya sedikit."
Sehun terdiam, memberikan ruang untuk Luhan agar menjawab namun lelaki itu tetap bergeming. Luhan kelihatan larut dalam pikirannya sendiri, namun Sehun yakin lelaki itu paham apa yang Sehun ucapkan.
"Aku hanya ingin kau percaya padaku bahwa aku tidak akan menghakimimu atas apa yang pernah kau lakukan. Kalau perlu, aku akan menemanimu di penjara apabila memang keluargaku belum memaafkanmu, asal kau tetap berada di sisiku. Aku…" Sehun berhenti sejenak, menarik napas dan memastikan bahwa ia berani untuk mengucapkan kata-kata ini.
"Aku mencintaimu dan aku tak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Dan diatas segalanya, aku ingin kau percaya bahwa aku mencintaimu."
Luhan bisa merasakan jantungnya berhenti berdebar sesaat setelah Sehun selesai mengucapkan kata-kata itu. Otaknya kosong dan ia menolak untuk berpikir. Ia juga tidak tahu sejak kapan, tetesan airmata sudah membanjiri pipinya.
Dan pipi Baekhyun. Dan pelupuk mata Junmyeon. Dan pipi dari setiap orang yang menyaksikan 'drama' kehidupan secara Cuma-Cuma ini.
"Itulah hal yang ingin ku katakan padamu. Semuanya."
Sehun melepas genggaman tangannya pada pergelangan tangan Luhan, lelaki itu kemudian berjalan menjauh, berusaha menutupi wajahnya yang sudah memerah dan berkeringat. Namun, seruan Luhan menghentikan langkahnya.
"Sehun.."
Lelaki itu menghampiri Sehun lagi, kali ini berdiri dihadapannya, sangat dekat. Bahkan Sehun dapat merasakan hembusan napas Luhan menerpa dagunya. Lelaki itu mendongak, dengan tatapan sayu, perlahan mengalungkan kedua tangannya dileher Sehun, kemudian mendekap lelaki itu.
Erat. Sangat erat. Seakan Sehun akan terbang jika Luhan tak mendekapnya erat seperti ini.
"Aku.."
"Percaya padamu. Dan aku… tidak bisa menyangkal fakta bahwa.." Luhan berhenti sebentar. Membiarkan sebutir arimata lainnya lolos dari matanya kemudian ia menghirup oksigen,
"Bahwa aku mencintaimu."
.
.
.
END.
END.
END.
