What's Mine Is Mine!
"Hoseok, berhentilah bertingkah kekanakan."
Hoseok mengerucutkan bibirnya mendengar penuturan Yoongi. Ia dengan wajah sok imutnya itu menatap Yoongi seperti anak anjing yang minta di pungut.
Omong-omong, sekarang mereka sedang berada di ruang tengah dorm mereka. Dengan Yoongi yang duduk manis di pangkuan Hoseok ㅡitu pun harus dipaksa dulu. Member yang lain sedang berbelanja keluar, dan Hoseok memakai kesempatan ini untuk berduaan dengan Yoongi.
Sungguh ide yang Briliant!
Hoseok masih merenggut, kedua tangannya yang melingkar di pinggang kecil Yoongi mulai mengeratkan pelukannya. "kenapa? Memangnya kalau aku cemburu itu termasuk kekanakan?"
Yoongi memutar bola matanya. "kalau kau percaya padaku, harusnya kau tidak perlu cemburu. Apalagi dengan Jimin, astaga. Jimin itu sudah seperㅡ"
CUP
"berhenti hyung, kau selalu berkata seperti itu. Tapi kau tahu aku yang seperti ini mana mungkin bisa tenang jika kekasihku terlalu sering bersama orang lain. Walaupun kau selalu bilang jika Jimin itu sudah seperti adikmu sendiri."
Yoongi membulatkan matanya. Wajahnya mulai memerah, dan jantungnya mulai berdetak dengan cepat setelah melihat perubahan raut wajah Hoseok yang tiba-tiba menjadi serius seperti itu.
Ugh, Jung Hoseok itu menyebalkan.
"h-hey, bodoh! Jangan memotong pembicaraanku!"
Hoseok tersenyum jahil lalu ia mulai menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher Yoongi. Menghirup aroma Yoongi yang manis juga menyejukkan.
"dengar hyung, kau itu milikku dan aku milikmu, kita saling memiliki. Kau mempunyaiku, jadi jangan terlalu sering bersama Jimin lagi, ya?"
Yoongi hanya bisa terdiam dengan kelakukan kekasih idiotnya itu. Dan sekarang si idiot ini mulai mencium lehernya dengan gemas, membuat Yoongi meremas kedua bahu Hoseok.
"ugh, dasar bodoh. Aku tidak mudah berpaling 'kok."
Hoseok terkekeh lalu ia menjauhkan wajahnya dari leher putih Yoongi. Hoseok dengan cepat mengecup bibir pink Yoongi yang manis itu dan kembali menatap tepat di matanya. Sedangkan Yoongi hanya bisa terdiam sambil mengontrol detak jantungnya itu.
"yaah, kalau pun kau berpaling dariku, aku akan membuatmu kembali padaku. Sekalipun aku memakai cara yang kasar,"
Hoseok menyeringai lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Yoongi. "aku akan membuatmu melayang." lalu dengan lembut mengelus paha dalam Yoongi.
Yoongi membulatkan matanya, lalu dengan pergerakan yang cepat ia menjitak kepala Hoseok dan berdiri dari pangkuan Hoseok.
"DA-DASAR BODOH! IDIOT! MENJAUH DARIKU SEKARANG!"
Dan jangan lupakan wajah Yoongi yang memerah dan Hoseok yang meringis.
Grocery Shopping
Yoongi makin menurunkan topinya sampai sebatas matanya. Ia sedang berada di Supermarket sekarang, membeli bahan makanan yang sudah habis. Sebenarnya berdiri di depan rak yang penuh dengan sayuran seperti sekarang ini bukan kemauannya. Ia kalah dalam permainan dan sebagai hukumannya ia harus berbelanja membeli bahan-bahan makanan yang sudah habis.
'terkutuk kalian bocah-bocah sialan!'
Yoongi makin meremas kertas yang berada di tangannya, lalu setelah itu menghela nafas panjang. Lebih baik ia segera selesaikan acara berbelanja ini lalu kembali ke dorm dan tidur dengan nyenyak.
Ya, itu lebih baik.
"susu strawberry?" Yoongi mengerutkan keningnya bingung, ia tidak pernah tau ada yang menyukai susu strawberry. Yoongi menyipitkan matanya ketika melihat tulisan kecil di sampingnya.
'untuk Jungkook, karena ia masih dalam masa pertumbuhan ^^'
Yoongi memutar bola matanya. Ia hapal betul tulisan tangan itu, siapa lagi kalau bukan Kim Seokjin.
Tidak mau mengulur waktu, Yoongi langsung berjalan mencari susu strawberry yang entah di mana keberadaannya. Yoongi lalu membuka topinya, sekarang sebenarnya sudah hampir tengah malam, sudah pasti hanya ada beberapa orang di dalam Supermarket ini. Ia ingin sedikit bebas dari penyamarannya.
Pada akhirnya Yoongi bisa bernafas lega ketika melihat rak yang penuh dengan susu berbagai rasa. Tetapi pelipisnya kemudian berkedut ketika menemukan sekotak susu strawberry yang berada di rak paling atas. Dan Yoongi mengutuk untuk itu.
Tolong bagi siapa pun yang menaruhnya di sana, Yoongi akan menghantuimu.
"ugh, kenapa kau mempersulitku?!" Yoongi sudah berjinjit sampai ujung kakinya, tetapi tangannya masih belum mencapai kotak itu. Dan sekali lagi, Yoongi mengutuk di dalam hati.
Yoongi sempat berpikir ingin membeli susu dengan rasa yang lain. Rasa jambu misalkan, mereka mempunyai warna yang hampir sama. Tetapi Yoongi belum pernah tahu ada susu rasa jambu.
Tepat pada saat percobaan ketiga, ada sebuah tangan yang menjulur mengambil kotak itu. Yoongi terkejut lalu ia membalikan badannya dan matanya disuguhkan sebuah dada yang bidang.
"kau pemain basket 'kan? Kenapa kau tidak tinggi-tinggi, Hyung?"
Oh, Yoongi hapal betul suara siapa ini. Yoongi menaikan arah pandangannya untuk menatap wajah si pemilik suara.
Benar saja 'kan, Jung Hoseok, kekasih idiotnya itu. Dan jangan lupakan senyumannya yang berbentuk hati itu yang seakan mengejek Yoongi.
"apa yang kau lakukan di sini?" Yoongi jadi sedikit iritasi melihat wajah Hoseok.
Hoseok terkekeh. "kenapa? Memangnya kalau aku ke sini untuk menjeput kekasihku yang sedang berbelanja itu dilarang?"
Yoongi dapat merasakan kedua pipinya memanas. Tetapi ia masih profesional dalam mengontrol raut wajahnya.
"lagipula kau terlihat kesulitan, hyung. Aku datang di waktu yang tepat." Hoseok menggelengkan kepalanya, sedikit merasa bangga menjadi superhero dadakan.
"kalau begitu bawa ini ke kasir, lalu bayar pakai uangmu." Setelah memberikan Hoseok keranjang belanjaannya, Yoongi hendak pergi meninggalkan Hoseok. Tetapi kekasihnya itu menahan lengannya lalu mendekap tubuh Yoongi.
Mata Yoongi melebar, jantungnya juga berdetak dengan kencang. Sebelah tangan Hoseok melingkar di pinggangnya, sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegang keranjang belanjaannya. Ah, posisi yang sangat keren.
"beri aku tenaga dulu hyung. Di luar sangat dingin."
Yoongi terdiam beberapa detik, lalu ia menghela nafas sambil tersenyum. Yoongi balas memeluk Hoseok, melingkarkan tangannya di leher Hoseok dan sebelah tangannya mengelus rambut Hoseok.
Hoseok yang mendapat perlakuan seperti itu makin mengeratkan pelukannya. Ia sudah menaruh keranjang belanjaannya di samping kakinya. Lalu memakai kedua tangannya untuk melingkar di pinggang Yoongi. Hoseok juga makin menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Yoongi dan memberikan kecupan ringan di sana.
"uwoo! Yoongi-hyung dan Hoseok-hyung sedang ber-lovey dovey!"
Yoongi melebarkan matanya lalu ia dengan cepat mendorong tubuh Hoseok. Ia menatap tajam ke arah Taehyung, si pemilik suara.
"wah wah, ini 'kan tempat umum. Kalau dilihat anak kecil bagaimana?"
Hoseok memutar bola matanya mendengar penuturan Seokjin, tangannya merangkul bahu Yoongi. "kami hanya berpelukan, bukan berciuman ataupun make-out." Hoseok dapat merasakan Yoongi mencubit pinggangnya, tapi itu bukan apa-apa bagi Hoseok.
Sekarang Namjoon yang memutar bola matanya. Lalu sebagai seorang pemimpin yang baik, ia mengambil keranjang belanjanya dan tanpa suara berlalu untuk segera membayar di kasir.
"ah, Monster yang sangat baik hati." Seokjin berpura-pura menghapus air mata invisiblenya. Jungkook yang melihat kelakuan hyung tertuanya itu hanya menatapnya dengan matanya yang sedikit membesar.
"lho? Yoongi-hyung dan Hoseok-hyung kemana?"
Semua member yang berada di sana mulai celingak celinguk mendengar pertanyaan Jimin. Mencari keberadaan Hoseok dan Yoongi. Setelah itu Jimin dapat melihat seorang Jung Hoseok dan Min Yoongi yang berjalan keluar dari supermarket bersama dengan seorang Kim Namjoon.
"yak! Kalian! Tunggu kami!"
Worries
Hoseok menatap jam dinding yang berada di ruang tengah dorm bangtan. Jarum pendek menunjuk angka 11 dan jarum panjang menunjuk angka 6. Hoseok menghembuskan nafasnya dengan frustasi. Sudah hampir tengah malam, tetapi Yoongi belum juga kembali dari gedung BigHit. Hoseok tahu Yoongi sedang sibuk menyiapkan lagu untuk album mereka yang akan datang, tapi setidaknya ia perhatikan keadaannya juga.
Yoongi itu keras kepala, dan itu membuat Hoseok khawatir.
Hoseok mengusak rambutnya lalu ia berlari ke kamarnya untuk mengambil hoodie-nya, beserta selimut kecil yang sering Yoongi bawa jika ia akan menginap di studio.
Hoseok merapatkan Hoodie-nya ketika angin malam berhembus melalui tubuhnya. Ugh, jika bukan demi Yoongi, Hoseok lebih memilih kembali ke dorm mereka yang hangat itu.
Tetapi ini untuk Yoongi. Untuk kekasihnya.
Tepat setelah Hoseok membuka pintu studio, ia dapat melihat Yoongi yang tertidur di mejanya. Dengan kepalanya yang menelungkup di antara kedua lengannya. Hoseok menghela nafasnya. Benar 'kan pemikirannya, Yoongi pasti tertidur.
Hoseok mendekati Yoongi dengan perlahan. Ia tersenyum saat melihat wajah damai Yoongi saat tertidur. Kepalanya menoleh kesamping dan Mulutnya sedikit terbuka karena pipinya tertekan lengannya sendiri.
Benar-benar manusia ini. Kenapa manis sekali?
Dengan hati-hati, Hoseok mengangkat Yoongi dengan gaya bridal. Yoongi bergerak tidak nyaman setelah Hoseok berhasil mengangkat tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali, Hoseok hanya memperhatikannya. Mata Yoongi sudah terbuka sepenuhnya, ia melihat sekelilingnya dengan bingung. Setelah itu ia melihat kebawah, baru menyadari tubuhnya yang melayang di gendongan Hoseok.
"Hoseokie, turunkan aku~" suara Yoongi masih terdengar serak, dan jangan lupakan rengekkannya yang terdengar menggemaskan itu.
Hoseok terkekeh lalu melanjutkan langkahnya menuju sofa yang berada di sana. Mendudukan dirinya dengan Yoongi yang masih di gendongannya. Yoongi menyamankan dirinya di pelukan Hoseok, mengalungkan lengannya di leher Hoseok dan dengan manja mengusap sebelah pipinya di dada Hoseok.
"kau mau tidur lagi, hyung?" Hoseok menurunkan sedikit kepalanya untuk menatap Yoongi yang kembali menutup matanya. Yoongi mengangguk sambil bergumam pelan sebagai jawabannya.
"mau kembali ke drom? Kau bisa tidur bersamaku." Hoseok menaikan sebelah sudut bibirnya menampilkan seringaian jahilnya. Dan Hoseok dapat merasakan Yoongi mencubit perutnya.
"diamlah, aku mengantuk. Lagi pula diluar dingin tahu. Kau mau aku sakit?" Yoongi merasakan Hoseok menggeleng kepalanya. "ya sudah, kita bermalam saja di sini. Aku malas kembali ke drom." Yoongi kembali menyamankan dirinya.
Hoseok tersenyum, ia kembali menurunkan wajahnya dan dengan lembut mempertemukan kedua bibir mereka. Yoongi membuka matanya lalu menjauhkan wajahnya. Mata sayunya menatap Hoseok yang hanya tersenyum lebar ke arahnya. Bibirnya mengerucut lucu.
"jangan menciumku, aku mengantuk."
"kalau begitu jangan mengerucutkan bibirmu, aku tergoda."
Yoongi dengan cepat menatap Hoseok tajam. Sedangkan yang ditatap hanya bisa terkekeh melihat wajah kekasihnya yang lucu itu.
"bodoh! Pergi jauh-jauh sana!"
Yoongi sudah mendorong dada Hoseok, tapi Hoseok malah makin memeluknya. Ia mengusapkan pipinya di rambut halus Yoongi sambil tertawa kecil, membuat Yoongi enggan untuk lepas dari pelukan Hoseok.
Mereka terdiam dalam posisi itu untuk beberapa menit. Yoongi sudah menutup matanya, ia memang sangat berniat untuk tidur kembali. Karena pelukan hangat Hoseok sangat membuat kedua matanya terus turun ke bawah. Belum lagi tangannya yang mengelus punggung Yoongi dengan perlahan dan lembut.
"hyung?" Hoseok menatap Yoongi. Setelah itu Hoseok menghela nafasnya. Yoongi benar-benar tertidur kembali.
Hoseok berusaha menyamankan duduknya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Sebenarnya badannya sudah pegal dengan posisi seperti ini. Tetapi di satu sisi ia juga merasa sangat nyaman memeluk Yoongi seperti ini. Hoseok tersenyum kecil lalu kembali mengelus punggung Yoongi dengan lembut. Matanya juga perlahan mulai berat.
"hyung, apa kau tahu? Kau itu sungguh keras kepala,"
Hoseok mencium puncak kepala Yoongi dengan sayang.
"kau selalu membuatku khawatir,"
Lalu mulai turun untuk mengecup kening Yoongi.
"tapi sepertinya kau suka sekali membuatku khawatir, ya?" Hoseok terkekeh sendiri sambil menyikap poni Yoongi yang menutupi matanya yang terpejam.
"mungkin dengan cara ini kau akan tahu jika aku sangat menyanyangimu, mencintaimu." Hoseok mencium kedua pipi Yoongi cukup lama.
"tapi kau terlalu keras kepala, kau bahkan tidak memperhatikan dirimu sendiri, hyung." Hoseok kembali menegakkan tubuhnya, menempelkan pipinya di atas kepala Yoongi.
"aku hanya takut kau kenapa-napa, hyung."
Mata Hoseok perlahan mulai terpejam. Ia juga sudah menguap.
"karena aku sangat mencintaimu."
Dan dengan perkakataan finalnya, Hoseok ikut terlelap. Dan di saat yang sama, kedua sudut bibir Yoongi tertarik ke atas. Tersenyum dalam tidurnya.
Work Can Wait
fem!Yoongi
"aku lapar~"
Yoongi mengerucutkan bibirnya lalu kepalanya mendongak di sandaran sofa. Sambil menatap langit-langit ruang tengah rumahnya, tangan Yoongi menarik-narik kaus suaminya yang kebetulan sedang duduk di sampingnya.
"Hoseok, aku lapar. Kami lapar~" Yoongi sekarang menatap ke suaminya yang bernama Hoseok itu sambil mengelus perutnya yang buncit.
Hoseok sebelumnya sedang mengerjakan sesuatu di laptop. Dan Yoongi sangat membencinya jika Hoseok sudah berkutat dengan perkerjaannya. Yoongi jadi merasa diabaikan, apalagi ia sedang memgandung sekarang. Harusnya Hoseok lebih memperhatikan dirinya dan juga buah hati mereka.
"Hoseok, bisakah kau membuatkanku makanan? Aku sangat lapar dan kakiku tidak kuat berdiri terlalu lama." Yoongi menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Hoseok. Menatap kesal ke arah Hoseok yang masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
"nanti saja, ya. Aku masih bekerja, sayang." Hoseok bahkan tidak memalingkan wajahnya ke arah Yoongi dan hal itu sangat membuat Yoongi kesal.
"ugh! Hoseok! Demi apa pun, aku bersumpah akan membakar laptop itu!"
Hoseok berjengit kaget mendengarnya. Ia segera memberikan perhatian penuh ke arah Yoongi yang merenggut. Kedua tangannya menyilang di atas perut buncitnya.
"baiklah, baiklah aku akan membuatkanmu makanan. Tunggu di sini, oke?"
"tidak jadi, aku mau makan Jjamppong saja. Cepat pesan sana."
Hoseok yang sudah berdiri itu menatap istrinya dengan pandangan datar. Tadi minta dimasakin, sekarang dia ingin memesan Jjamppong.
Ugh, bikin Hoseok gemas saja.
.
.
"tidak boleh! Kau tidak boleh pergi kemana-mana!"
Hoseok mengusap wajahnya. Mereka baru saja selesai memakan Jjamppong dan Hoseok baru teringat akan tugasnya yang mengharuskan pergi ke Jeju minggu depan. Dan setelah membicarakannya, begitulah reaksi Yoongi.
"memangnya kenapa? Aku di sana untuk bekerja, Yoongi."
Kedua pelipis Yoongi berkedut. "Hoseok! Sekarang aku sedang mengandung! Dan jika kau pergi ke Jeju, siapa yang akan mengurusku?" rasanya Yoongi sangat ingin memakan Hoseok hidup-hidup.
"aku akan memanggil eomma untuk tinggal seminggu di sini." Hoseok menjawabnya dengan santai yang malah membuat Yoongi semakin emosi.
"tidak mau! Aku maunya kau yang menjagaku. Lagi pula kenapa kau tega sekali meninggalkanku sendiri, hah? Demi Tuhan Hoseok, Apa kau tidak bisa menunda pekerjaanmu untukku? Untuk anak kita?!"
Hoseok melebarkan kedua matanya ketika melihat mata Yoongi yang berkaca-kaca. Baru saja Hoseok ingin menggapai lengan Yoongi, ia sudah lebih dulu pergi meninggalkan ruang makan dengan air mata yang menetes.
"pergi saja sana! Aku tidak peduli."
Dan di ikuti dengan pintu yang ditutup dengan kencang.
.
.
Di saat seperti ini, Hoseok tidak tahu harus melalakukan apa. Hoseok berdiri di depan kamar mereka tetapi belum masuk ke dalamnya. Padahal ia tahu pasti Yoongi tidak akan mengunci pintunya. Tetapi Hoseok masih memikirkan cara agar istrinya kembali dengan mood baiknya. Dan harusnya Hoseok tahu, kalau orang hamil pasti mengalami mood-swing itu.
Sampai ketika telepon rumah berdering dengan nyaring membuat Hoseok hidup kembali. Ia segera berjalan ke ruang tengah dan mengangkat teleponnya.
"Halo? Yoongi?"
Oh, ternyata ibunya.
"ini aku, eomma."
"lho? Yoongi mana? Aku ingin berbicara dengannya."
Hoseok menimbang-nimbang. Apa ia harus beri tahu ibunya tentang kejadian ini?
"eung, eomma?"
"hm? Kenapa?"
"sebenarnya, uhㅡ Yoongi sedang menangis di dalam kamar.. Begitu."
Hening beberapa detik.
"JUNG HOSEOK! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIMU, HAH?! DASAR BODOH! DIA SEDANG MENGANDUNG! APANYA YANG 'BEGITU'!"
Kebiasaan, selalu diam dulu baru berteriak. Pikir Hoseok. "aku harus bekerja ke Jeju dalam seminggu, tapi Yoongi melarangku."
Terdengar hembusan nafas dari ibunya. "demi Tuhan, siapa yang membesarkanmu sampai jadi bodoh begini."
"eomma! Kenapa bicara begitu pada anakmu sendiri?!"
"karena kau memang bodoh! Argh! Kenapa kau bodoh sekali, sih?"
Ibunya menghembuskan nafas lagi. "Yoongi sedang mengandung anakmu, Hoseok. Di saat seperti itu dia butuh orang yang selalu berada di sampingnya. Dan tentu saja orangnya itu kau, anakku yang bodoh."
Hoseok tidak menjawab, mencerna perkataan ibunya dengan baik-baik.
"lalu kau mau pergi begitu saja? Seminggu? Astaga, keturunan siapa kau sampai menjadi work-a-holic begini."
"Hoseok, pekerjaan bisa menunggu. Kebersamaanmu bersama Yoongi dan calon buah hati kalian itu lebih perting."
Hoseok mengusak rambutnya. Astaga, ia baru menyadari kesalahannya. Memang benar-benar bodoh sekali.
"baiklah eomma, aku mengerti. Terima kasih sudah menyadarkan anakmu yang benar-benar bodoh ini."
Ibunya tertawa di sebrang sana. "sama-sama, sayang. Kalau begitu aku tutup teleponnya, ya. Kau baik-baik dengan Yoongi."
"siap eomma!"
Setelah mengucapkan kata perpisahan, Hoseok menutup teleponnya. Ia segera berlari menuju kamarnya dan tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam. Hoseok dapat melihat Yoongi yang sedang terduduk di sisi ranjang sambil mengelus perutnya.
Yoongi mengangkat kepalanya saat mendengar suara derap langkah kaki dan pintu yang dibuka. Wanita itu langsung berdiri dari duduknya dan tanpa Hoseok duga ia berjalan mendekati Hoseok.
"Yoonㅡ"
"Hoseok, maafkan aku."
Tunggu, kenapa jadi Yoongi yang minta maaf.
Yoongi menundukkan kepalanya. "aku benar-benar egois. Maafkan aku." dan suara isakan tangis di akhir kalimatnya.
Ugh, mood-swing lagi, ya.
Hoseok segera memeluk Yoongi. Ia mengusap punggung Yoongi dengan lembut. Mengecup pelipisnya beberapa kali.
"tidak Yoongi, aku yang minta maaf." Hoseok melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Yoongi, menghapus air matanya yang turun.
"maafkan aku karena kelakuanku tadi. Kau tidak egois, aku memang harus selalu berada di sampingmu." Hoseok mengecup kedua mata Yoongi yang terpejam.
"dan aku benar-benar bodoh karena hanya mementingkan pekerjaanku. Maafkan aku, aku akan segera membatalkan semua pekerjaanku." lalu turun untuk mengecup bibir tipis Yoongi.
Yoongi segera membalas ciuman Hoseok, ia melingkarkan kedua lengannya di leher Hoseok lalu sebelah tangannya mengusap belakang leher Hoseok.
Setelah beberapa menit, Yoongi memutuskan ciumannya. Ia mentap Hoseok sesaat, lalu setelahnya tersenyum manis.
"kau memang tidak pernah berubah, Jung Bodoh."
Hoseok tertawa, tangannya terlulur ke atas untuk mengacak rambut Yoongi dengan gemas.
"aku sudah resmi bodoh." sekarang Yoongi yang tertawa.
"apa-apaan itu." tangan Yoongi mengelus pipi Hoseok.
Hoseok mendekatkan wajahnya ke arah Yoongi. Menaikkan sedikit wajahnya lalu mengecup kening Yoongi cukup lama.
"jadi, kau memaafkanku?" ucapnya setelah mencium kening Yoongi.
"eum," Istrinya terlihat berpikir. Ia melepaskan pelukannya dengan Hoseok lalu menyilangkan tangannya di atas perut buncitnya.
"sepertinya Hoseok appa harus meminta maaf pada bayi kita."
Hoseok yang mendengar itu terkekeh. Ia berlutut di depan perut Yoongi lalu menciumnya. Sedangkan Yoongi hanya mengelus kepala Hoseok.
"baby~ maafkan appa-mu yang bodoh ini, ya~" ia menempelkan telinganya di perut Yoongi. Mencoba untuk mendengarkan suara anaknya.
"wah! Katanya ia akan memaafkanku kalau memberinya adik di dalam sini!"
Yoongi memudarkan senyumannya, tangannya juga tidak lagi mengelus kepala Hoseok. Tetapi pria itu masih menempelkan telinganya di perut Yoongi.
"katanya dia sangat kesepian berada di dalam sana sendirian, ia ingin mempunyai teman!"
Tangan Yoongi mengepal. Bersiap menjitak kepala suaminya.
"dan eomma harus mau!" Hoseok masih mengoceh.
TAK!
"DASAR BODOH! KELUAR KAU DARI KAMAR!"
END
masih mungkin nih ya '-' ada kemungkinan aku bakal lanjutin nih collection
sesuai judulnya, ini koleksi aku dengan pairing HopeGa saat aku lagi bosen gatau pengen ngapain
muehehehe~
udah gitu aja '-' yang cerita terakhir itu panjang banget ya ._.
tapi aku seneng nulisnya hahaha sambil dengerin lagu outronya bts yang propose (terus?)
iya gitu...
udah yaa~ aku nunggun review dari kalian muahahaha~
With Love,
WithYoongi
muah~
