(UN)NOTICED –Sekuel– by Reisuke Celestine
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
.
Cast: NashMayu, slight NijiKuro, sibling!MayuKuro.
.
Warn: Sho-ai, AU, typo, sedikit fluffy dan humor(walau saya juga gak yakin ^^), OOC, dll.
.
.
Enjoy~
.
Mayuzumi Chihiro bukan orang yang percaya dengan firasat. Ia pilih-pilih sebenarnya. Kalau bagus, akan ia turuti, kalau buruk lebih baik tidak dipercaya. Toh selama hidupnya ini, ia tidak pernah sekalipun merasakan firasat akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya atau Kuroko sekalipun.
Hanya saja, mungkin dimulainya sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya sejak permainan bodoh yang mempermalukan diri sendiri bernama Dare or Dare dilakukannya bersama Nijimura dan bocah-bocah pelangi.
Kadang merasa tidak enak hati atau bulu kuduk meremang seperti baru saja bertemu hantu.
Hingga satu minggu setelah permainan bodoh itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya—dan membuatnya harus mengakui, kalau firasat buruknya kali ini harus ia percaya, mau tidak mau.
.
.
From: Nash
Aku akan ke Jepang minggu depan. Jadi, bersiaplah
.
.
Mayuzumi punya kebiasaan baru sekarang. Setidaknya itu diakui oleh Kuroko setelah beberapa kali pengamatan—secara diam-diam. Sepupu abu-abunya itu selalu kedapatan sedang memegang ponselnya, memandangi layarnya lama-lama lalu mendesah frustasi—sesekali kalau sedang ingin, bisa saja disertai dengan helai abu-abunya yang diacak-acak oleh si pemilik.
Sekali-dua kali, si biru muda tidak mempermasalahkannya. Toh terkadang ia dan mungkin juga orang lain pernah melakukannya. Tapi selama lima hari terakhir ini, dalam jarak waktu yang sama, si abu-abu berulang kali melakukannya.
Penasaran? Sangat. Tapi Kuroko bukan orang yang kepo, setidaknya ia tidak menunjukkan tanda-tanda itu di wajahnya yang untungnya sedatar tembok di sampingnya.
Hanya saja, kalau terlalu sering mendapati hal yang sama, rasanya benar-benar membosankan.
"Chihiro-nii, bisakah kau diam? Setidaknya, berhentilah melakukan hal yang sama selama masih ada dalam jarak pandangku."
Kuroko menatap si sepupu dengan tatapan mata datar, dibalas dengan hal yang serupa oleh Mayuzumi.
"Dari tadi aku sudah diam, kau saja yang terlalu rajin memperhatikanku terus sejak tadi. Aku tahu kalau wajahku memang tampan, tapi tidak harus sampai diperhatikan setiap saat kan?"
Sungguh. Kuroko butuh bola basket sekarang. Bukan untuk dipakai bermain, tapi untuk dilempar ke muka Mayuzumi. Sejak kapan juga, manusia yang lebih datar darinya itu punya jiwa narsis yang menyamai kenarsisan Kise? Seingatnya, bahkan kedua orang itu tidak pernah akrab satu sama lain.
.
.
H-1
Dan Mayuzumi berdiri di depan Nijimura. Menatap si kapten pelangi dengan tatapan mata tajam setelah sebelumnya menahan teman dekatnya itu untuk tidak segera pergi dari gedung olahraga.
"Apa?"
Siapapun pasti akan merasa risih kalau di depan mata ada seseorang yang tengah menatap tajam dirinya. Nijimura bahkan sampai mengingat hal apa saja yang bisa membuat si muka triplek sampai menatapnya tajam seperti itu.
Tidak, ia tidak mengapa-apakan Kuroko sejauh ini—walau kadang ia memang berniat untuk melakukannya. Hanya ciuman singkat setelah pernyataan cinta waktu itu—dan beberapa ciuman lain yang sedikit lebih lama (tentu saja si abu-abu tidak tahu, kalau tahu, mungkin bukan hanya satu bola basket yang akan dilemparnya, tapi satu karung).
Ia juga tidak mengganggu si abu-abu beberapa hari terakhir ini padahal ia punya banyak rencana nista untuknya, gara-gara Mayuzumi seperti memasang tameng bagi siapa saja yang berusaha mendekatinya.
"Aku mau menginap di rumahmu—selamanya."
"Hah?"
Nijimura mengerutkan kedua alisnya. Hampir saja ia ingin mengorek isi telinganya—mungkin saja ia salah dengar tadi kan?
Kalimat pertama tidak ada yang aneh. Toh, ia juga pernah menginap di tempat Mayuzumi kemarin-kemarin—dengan niat ingin mengapa-apakan sang kekasih, tapi apa daya, si (calon) saudara iparnya terus menghalangi, seolah si muka tembok itu bisa membaca isi pikirannya. Hanya saja, satu kata di ujung membuatnya selintas ada niat untuk memeriksa indera pendengarannya di rumah sakit.
Selamanya?
Maksudnya?
"Kau sedang tidak kerasukan roh gadis yang jadi penggemarku dan malah ingin jadi stalker seumur hidupku kan?"
Mayuzumi menatap sang sahabat dengan tatapan datar, seolah Nijimura adalah spesies baru dari makhluk hidup berjuluk homo sapiens.
"Kau ingin kulempar dengan bola basket lebih sering lagi, Shuuzou?"
"Chihiro-nii galau gara-gara besok kan?"
Deg.
Nijimura berusaha untuk tidak meloncat kaget. Dua minggu punya kekasih yang hawa keberadaannya sebelas dua belas dengan sahabat (tidak) dekatnya, masih belum juga membuatnya terbiasa dengan kemunculan mendadak Kuroko. Bahkan kemunculan Mayuzumi saja masih terbilang normal dibandingkan sepupu biru mudanya. Tambahan lagi, ia tidak punya kemampuan semacam Emperor Eye, Eagle Eye, Hawk Eye atau mata-mata lainnya yang dimiliki anggota-anggota yang lebih muda darinya untuk menyadari keberadaan orang yang sulit dideteksi seperti ini.
Tapi. Tunggu.
"Besok?"
Nijimura menoleh ke arah Kuroko yang berdiri di sampingnya. Sementara si surai abu-abu menatap garang si sepupu—dengan masih mempertahankan wajah datarnya. Dari mana juga Kuroko tahu soal kejadian besok. Seingatnya ia tidak sekalipun mengatakan hal itu padanya—atau pada siapapun.
Tapi, bahkan tatapan Mayuzumi yang dimaksudkan untuk mengancam si sepupu tidak digubris sama sekali. Bagi Kuroko, untuk apa takut, toh Akashi jauh lebih menakutkan dan ia sudah terbiasa dengan hal itu.
"Senpai, menunduklah sedikit. Senpai tahu kan kalau aku ini kurang tinggi."
"Pft—"
Hampir saja tawa nista keluar dari bibir Nijimura—kalau tidak ingat Kuroko mudah sekali tersinggung ketika terlibat dalam pembicaraan mengenai tinggi badan. Sekarang saja bibirnya sedikit mengerucut sebal. Kalau tidak ada Mayuzumi, mungkin ia akan memojokkan si biru muda ke tembok terdekat dan melumat bibirnya—mumpung gedung olahraga sedang sepi.
"Akan kuberitahukan sesuatu." Kuroko menarik ujung jaket Nijimura. Sedikit berjinjit dan Nijimura pun sedikit menundukkan badannya. Pemilik surai biru muda itu membisikkan sesuatu pada Nijimura, mengabaikan si surai abu-abu yang memberi deathglare padanya.
Nijimura mengerutkan alisnya, sebelum kemudian menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai menyebalkan—bagi Mayuzumi. Firasatnya buruk, dan untuk kali ini ia tidak akan lagi mengabaikannya.
"Chihiro~"
Dari nada suaranya saja, Mayuzumi yakin kalau bukan hal bagus yang akan keluar dari bibir si pelangi.
Nijimura merangkul leher Kuroko dengan sebelah tangannya, masih dengan seringai di wajahnya—dan masih tetap dianggap menyebalkan oleh Mayuzumi.
"Aku pinjam sepupumu untuk satu hari besok ya.Jaa~"
"Ap—Hah!?"
Mayuzumi membulatkan kedua matanya, tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Nijimura sudah pergi menarik Kuroko bersamanya.
.
.
Ting Tong.
Suara bel terdengar berulang kali, awalnya pelan lama-kelamaan semakin cepat, kentara sekali si tamu sedang tidak sabar. Mayuzumi menyeret tubuhnya dengan malas. Ini hari libur, dan ia kurang tidur semalam gara-gara meneror Nijimura yang benar-benar menculik Kuroko ke rumahnya. Bukannya protektif atau apa, tapi itu untuk keselamatan Kuroko, mengingat ia sudah tahu bagaimana pervertnya si pelangi kalau punya kekasih.
Mayuzumi memutar kunci, membuka pintu dan kedua matanya sontak membulat mendapati seseorang di depan pintu menyeringai ke arahnya.
Ia lupa.
Gara-gara sibuk dengan Nijimura semalam, ia lupa kalau ini harinya.
Tadinya, ia ingin langsung menutup pintu dan menguncinya, lalu mengurung diri seharian di apartemennya tanpa ada niat untuk membukakan pintu bagi siapapun—kecuali kalau yang datang itu Kuroko. Tapi gerakannya kalah cepat, dan begitu sadar ia sudah dipojokkan di tembok, dengan sebelah tangan yang digenggam erat dan pelukan di pinggangnya.
"Nash…"
Pemuda yang lebih tinggi darinya itu masih diam—walau seringainya masih belum juga ia buang.
"Kau ingin aku menendangmu di selangkangan lagi seperti tiga bulan yang lalu?"
Pemuda bersurai pirang dengan tato yang terlihat di leher kirinya itu hanya terkekeh mendapati sambutan yang tidak ramah itu. Ia tidak tersinggung, sudah biasa. Makanya, sekalipun itu memang ancaman yang serius, ia tidak melepaskan pelukannya.
"Itu sambutanmu untukku? Padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari."
Mayuzumi masih menatap datar pemuda bersurai pirang itu. "Yang tadi itu termasuk sambutan kan? Jangan protes. Salahmu sendiri, tidak ada yang menyuruhmu untuk datang kemari."
Nash menyeringai. Dan Mayuzumi merasakan firasat buruk yang jauh lebih parah dibandingkan kemarin-kemarin.
"Setidaknya, berikan ciuman selamat datang. Bukannya kau merindukanku sampai menghubungiku dua minggu yang lalu dan mengatakan kalau kau… mencintaiku."
Si surai abu-abu membulatkan kedua matanya, dengan rona merah di wajah yang jelas terlihat—salahkan kulitnya yang putih. Lain kali, kalau bocah-bocah pelangi itu mengajaknya bermain Dare or Dare lagi, ia akan dengan senang hati menolaknya.
Tapi, yang dikatakan orang ini ada benarnya juga—walau ia tidak akan mau mengakui hal itu.
"Tch."
Mayuzumi menarik nafasnya. Melakukan hal ini memang memalukan, dan jelas itu sama sekali bukan dirinya. Ia menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh Nash, membuat jarak mereka berdekatan. Remaja bersurai abu-abu itu kemudian menempelkan bibirnya pada bibir milik pasangannya dan menciumnya singkat.
"…selamat datang…"
Dan Nash, tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lembut pada sang kekasih.
.
.
"Bagaimana?" Remaja bersurai hitam bertanya pada remaja lain yang lebih pendek darinya. Keduanya bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari pintu apartemen Mayuzumi.
"Aku sudah merekamnya."
Kuroko memberikan ponsel Nijimura pada pemiliknya, disambut seringai puas dari si kapten pelangi. Lumayan juga, setidaknya video mereka sedang berpelukan seperti itu bisa dipakainya untuk mengancam si surai abu-abu kapan-kapan.
"Nah," Nijimura memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu memeluk Kuroko, "berhubung si abu-abu itu pasti akan sibuk seharian ini, bagaimana kalau kita kencan?"
"Ini masih terlalu pagi, Shuuzou-senpai."
"Atau," sudut bibir Nijimura kembali tertarik, "kau ingin ke rumahku lagi, dan melanjutkan kegiatan kita semalam?"
Blush.
Kuroko tidak bisa menyembunyikan ataupun mencegah rona merah yang keluar dari wajahnya—sekalipun wajahnya masih sedatar tembok.
"Senpai pervert."
"Terima kasih."
Nijimura menarik Kuroko semakin mendekat ke arahnya, lalu mencium bibirnya. Dan tentu saja dibalas Kuroko, sambil memeluk leher sang kekasih—mengabaikan kalau mereka masih berada di lorong apartemen.
—Yah, asal Mayuzumi tidak tahu sih, tidak masalah.
.
.
END
.
.
a/n sekuel dari yang kemarin. Gara-gara ada yang bilang pengen ada NashMayu jadinya malah kepikiran. Ini lebih pendek dari yang kemarin. ^^
RnR? ^^
