Raburetā
Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei.
Raburetā milik MetamorphoQueen.
Warning : AU, OOC, Sho-Ai (BL), Typo's, alur lompat-lompat dan monoton.
Pairing : SasuNaru
Don't like, don't read. Risiko ditanggung para pembaca.
Selamat membaca ...
.
.
.
Sebutlah ini semua terlalu berlebihan, Namikaze Naruto memanglah kurang cocok bila harus disandingkan dengan yang namanya keramaian. Bagaikan sesosok makhluk asing yang tak jelas asal usul dan jenis spesiesnya, pemuda berambut pirang jabrik tersebut positif menjadi titik sorotan puluhan pasang mata yang menatapnya penuh makna.
Sebisa mungkin menepiskan rasa tidak nyaman yang bergelayut dalam dirinya, dengan gerakan seelegan mungkin sang Namikaze tengah itu menyumpitkan mie dari dalam mangkuk dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Melakukan gerakan mengunyah dan menelan—yang tanpa disadarinya sukses menuai tegukkan ludah para pemerhatinya, Naruto pun mengarahkan kedua iris mata sapphire-nya kepada salah satu siswa berseragam sama yang duduk semeja dengannya.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Bertanya dengan nada kalem, siswa kelas dua SMA itu meraih tisu yang tersedia di atas meja dan kemudian mengusap mulutnya pelan.
Seolah tersadar dari lamunan, Kiba Inuzuka—sosok pemuda berambut cokelat jabrik— yang sedari tadi terdiam dan hanya menatap pemuda yang duduk di seberangnya dengan pandangan takjub pun akhirnya membuka suara, "Astaga, Naruto ... kau yakin tidak kerasukkan, kan?"
Mengangkat naik sebelas alis pirangnya, Naruto menatap skeptis. "Apa maksudmu dengan aku kerasukkan, Kiba?"
"Tentu saja karena tingkahmu yang tak biasa dan terbilang tidak normal, Naruto," jawab Kiba tanpa segan sedikit pun. Kedua iris cokelatnya berbinar ganjil.
"Tidak normal, huh?" Naruto mendengus, senyum datar pun nampak.
Mengangguk penuh antusias, pemuda pencinta anjing itu menunjuk semangkuk mie ramen yang berada tepat di hadapan sang sahabat. "Lihatlah makanan yang kau pesan ... kau membuatku takjub. Ini kali pertamanya aku melihatmu memakan makanan berlemak seperti ini. Lagi pula, kalau memang kau bukan sedang kerasukkan, angin apa yang membuatmu hingga akhirnya menampakkan diri di kantin?"
"Apa itu artinya, aku tidak boleh ke kantin?" tanya Naruto dengan mata menyipit. Ekspresi wajah yang ditampakkannya seperti orang yang tengah dilanda rasa tersinggung.
Menggelengkan kepalanya cepat, Kiba mengibas-ngibaskan kedua tangannya, gelagapan. "Bu—bukan begitu maksudku, Naruto. Maksudku adalah ka—"
"Naruto-kun ...," Naruto mengarahkan pandangan ke arah pemuda berkulit putih pucat yang duduk tepat di sampingnya. Senyum kalem setia terkulum pada bibir pemuda pencinta seni lukis tersebut. "Kiba-kun hanya ingin tahu alasan yang membuat Naruto-kun akhirnya bersedia bergabung dengan kami di kantin. Hanya saja, Kiba-kun memang terlalu payah dalam mengungkapkan rasa penasarannya."
"Hey, kau berniat membela atau menghinaku, Sai?!" pekik Kiba, merasa tersinggung dengan penuturan sosok berkulit pucat yang sedari tadi tampak anteng menggambar harimau pada buku sketsa kesayangan bersampul hitamnya.
Tak menanggapi, Sai kembali menenggelamkan fokus dirinya pada kegiatan yang selalu disenangi dan rutin dilakukannya dalam setiap kesempatan yang ada; menggambar sketsa.
"Tsk, kau menyebalkan, Sai," Kiba menggerutu; kedua pipi digembungkan, mulut pun dikerucutkannya ke depan.
Memutar kedua bola mata, Naruto menatap pemuda berambut coklat tersebut jengah. "Berhentilah bersikap kekanakan, Kiba. Kau membuat kita semakin menjadi pusat perhatian."
"Bukan aku, tapi kau, Naruto," jelasnya memberi penekanan pada kata 'kau'. Untuk sejenak siswa itu mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan yang tampak penuh sesak tersebut. "Kau tentu tahu, kan ... kedatanganmu yang tak biasa itu, tentu saja menarik perhatian mereka semua."
"Aku merasa menjadi seperti alien saja," gumam Naruto, pelan. Meraih gelas berisi jus jeruknya, pemuda bermarga Namikaze-Uzumaki itu pun meminumnya dengan gerakan cepat, nyaris terbilang rakus.
Menggelengkan kepala ketika melihat kelakuan teman sekelas— sekaligus sahabat—nya itu yang sedang melampiskan rasa tidak nyamannya dengan menjelma seperti orang yang tengah kehausan, Kiba pun kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Mengernyitkan keningnya, pemuda itu menatap penasaran ke arah sudut kantin.
"Naruto," setengah berbisik, Kiba berhasil membuat Naruto dan Sai menatap ke arahnya, "itu beneran mantannya Gaara, kan?"
Sama-sama menengokkan kepala ke belakang, Naruto dan Sai sukses hanya bisa terdiam.
"Aku tidak menyangka, dia bisa setega itu pada Gaara," Kiba menggelengkan kepala lemah, habis pikir. Helaan napas berat pun ikut terdengar lepas dari kedua belah bibirnya. "Untunglah Gaara tidak bisa ikut karena sibuk dengan kegiatan OSIS-nya. Dia pasti sakit hati bila melihat orang yang masih sangat dicintainya tampak mengumbar kemesraan di muka umum."
"Atau ... Gaara-kun memang sengaja tidak ikut untuk menghindari keberadaan Hyuuga-san di kantin ini?" Sai menghembuskan napas berat. Senyum masam disunggingkannya. Mata menyorot kelam ke arah sosok siswa dan siswi yang tengah saling menyuapi satu sama lain di sudut kantin sana.
"Sudahlah," Kembali meluruskan pandangannya, Naruto meraih sedotan jus jeruk miliknya dan kemudian memainkannya. Senyum kecut secara samar tampak pada wajahnya. "Percayakan semuanya pada Gaara. Dia pasti akan baik-baik sa—"
Merasakan ludahnya tercekat di tenggorokan, pemuda berumur kurang dari enam belas tahun itu tertegun. Kedua matanya terarah pada sosok siswa bermata sekelam malam yang tampak menatapnya datar dari mulut pintu. Bangkit dari tempat duduknya secara tiba-tiba, kedua temannya seketika menatapnya penuh tanya.
"Ada yang harus kulakukan," Naruto meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Meletakkan di atas meja, sebuah cengiran—ganjil— dilemparkannya kepada kedua temannya. "Tolong, bayarkan. Aku pergi dulu."
Meninggalkan Kiba dan Sai dengan gerakan terburu-buru, Naruto pun akhirnya menghilang dari pandangan.
"Aku baru kali ini melihat Naruto-kun tampak begitu antusias," Sai menatap jejak kepergian sahabat pirangnya dengan tatapan yang tak terdefinisikan.
.
.
.
Menengok ke arah kiri dan kanan, pemuda itu tak kunjung mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Mengabaikan berbagai jenis tatapan mata yang ditujukan ke arahnya, siswa pirang itu dengan langkah mantap menghampiri salah seorang siswi yang tampak duduk di kursi perpustakaan.
Melemparkan seulas senyum, Naruto sukses membuat siswi tersebut terpana dan hampir menjatuhkan buku di tangannya.
"Na—Namikaze-Senpai?"
Masih dengan senyumnya, dia mengangguk pelan. "Apa tadi ada siswa bernama Uchi—" Naruto menghentikan ucapannya secara tiba-tiba. Senyum menghilang seketika. pun dengan mata beriris sapphire-nya yang tampak menerawang untuk sejenak. "Maksudku, apa tadi Uchiha Sasuke datang ke sini?"
Tanpa menyadari pertanyaan yang dilontarkannya; telah sukses menghancurkan sejuta fantasi indah sang siswi berambut pirang pucat yang ditanyainya tersebut, siswa berpredikat idola itu dengan sabar menanti respon yang belum kunjung diterimanya.
Menundukkan wajahnya hingga kedua matanya tertutupi poni, siswi bername tag 'Shion' itu mengertakkan gigi. "Uchiha. Sasuke. Mati. Kau."
"Hah?" Merasa ragu dengan pendengarannya, Naruto mengerutkan kening. Kedua matanya menatap heran tingkah siswi tersebut. "Sumimasen, bisa kau berbicara lebih jel—"
Mengangkat wajahnya secara tiba-tiba, siswi itu sedikitnya berhasil membuat Naruto tersentak. Dia memasang senyuman manis—yang tampak dipaksakan, "Uchiha-Senpai hari ini sama sekali tidak nampak memasuki perpustakaan."
"Begi—"
"Sebaiknya Namikaze-Senpai mencari Uchiha-Senpai ke kelasnya saja," usulnya, menyela ucapan pemuda pirang tersebut.
Menganggukkan kepala, Naruto kembali mengulas senyumnya. "Hm, arigatou ..."
"Ne, Senpai ...," Siswi berwajah cantik itu sukses menghentikan pergerakan Naruto, membuat siswa kelas dua SMA tersebut kembali memperhatikannya.
"Ya?"
Mengulas senyum, dia menatap Namikaze muda tersebut dalam. "Sebaiknya Namikaze-Senpai berpikir ulang untuk menjalin hubungan dengan Uchiha-Senpai."
"Huh?" Lagi-lagi, Naruto dibuat mengerutkan kening, bingung.
"Uchiha-Senpai itu—" Siswi itu menggerakkan tangannya untuk membuat tanda kutip. "—seorang ...—"
Ngiiiiiiing ...
Dan, untuk selanjutnya Naruto seolah mendengar suara dengingan yang terasa menyakiti telinga—suci—nya.
.
.
.
"Aku mencintaimu …."
Pemuda berambut merah maroon itu menatap sayu. Ucapan yang terlontar dari kedua belah bibirnya terkesan begitu dalam. Penuh kesungguhan. Penuh kasih.
"..."
"Kau jangan diam saja," dengan nada setengah memohon, Gaara—namanya— mengulurkan tangan guna meraih tangan lain milik sosok yang berdiri di hadapannya. Akan tetapi, hanya kecewa yang diraihnya. Sosok itu menolak, dengan melebarkan jarak di antara mereka berdua.
"Setidaknya ... berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa hubungan kita memang pantas diperjuangkan."
"..."
Tak ingin putus asa terlalu cepat, Gaara mencoba mendekat. Namun, gagal. Semakin Gaara mendekat, semakin menjauh sosok itu.
"Kau tak mencintainya, kan?" Siswa kelas dua itu menatap. Sorot matanya syarat akan pengharapan. "Aku tak akan menyalahkanmu. Karena aku tahu kenapa kau melakukan semua itu padaku."
"..."
"Kau tentunya ju-"
"Aku lebih memilih Toneri daripada dirimu," Sosok itu tersenyum, namun tak sampai menyentuh mata. "Lupakan aku ... dan biarkan aku tenang dengan tunanganku, Gaara."
"..." Kini, giliran Gaara yang terdiam.
"Walaupun memang aku belum mencintainya. Tapi, aku yakin ... dia sumber kebahagiaanku. Karena itu, mengertilah ...," Matanya menatap memohon. "Menyerahlah. Kita tak akan berhasil."
"..."
"Gaara ..."
Tersenyum getir. Gaara menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Apa benar sudah tidak ada kesempatan lagi untukku?" Pemuda itu bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
"..."
Hening. Tak ada jawaban. Seolah bisu, sosok bermata bulan itu hanya menatap Gaara dalam diam.
"Baiklah," Siswa berpenampilan eksentrik tersebut mengangguk. Senyum—kecut— tersungging pada wajahnya. "Mulai sekarang ... kau bebas," ada kegetiran dalam pengucapannya, "aku menyerah sampai di sini. Hubungan kita benar-benar berakhir sampai di sana."
Berbalik. Gaara dengan langkah cepat berlalu pergi. Tanpa tahu sama sekali; bahwa sosok gadis berambut panjang di belakangnya menatap pilu ke arah punggung tegapnya.
.
Naruto sangat jelas tahu, ada yang salah di antara hubungan sahabat bersurai merahnya dengan gadis cantik bermarga Hyuuga—yang kini tampak terdiam di tempatnya— itu. Mereka berdua jelas-jelas saling mencintai dan saling mengharapkan antara satu sama lain. Namun, seakan hubungan mereka tak memungkinkan, gadis itu memilih pergi dan memutuskan hubungan yang baru saja terajut di antara mereka berdua; secara sepihak.
Ada beberapa hal yang Naruto—sampai kini— tak pernah bisa tahu jawabannya; kenapa harus ada orang yang mau—bahkan nekat— untuk menjalani kisah cinta yang tidak mengenakkan? Cenderung menyiksa diri, orang itu memilih untuk melepaskan perasaan yang seharusnya masih mungkin untuk diraih.
Apakah cinta itu memang cenderung rumit?
Menghela napas, siswa bermata biru itu pun kembali melanjutkan langkahnya. Kini, bukan saatnya untuk memikirkan tentang kandasnya hubungan antara Gaara dan Hinata. Ada hal yang dua kali jauh lebih penting. Bukankah Naruto sedang dalam perjalanan menuju kelas siswa bermarga Uchiha itu? Tetapi setelah dipikir-pikir, apa tidak terkesan aneh dan berlebihan bila dirinya tiba-tiba menghampiri sosok pemuda berpredikat jenius tersebut?
"Ha-ah …." Lagi. Naruto menghela napas. Kenapa pula dirinya jadi merasa ragu-ragu begini? Dia punya alasan kuat untuk menemui pemuda itu. Iya, 'kan?
.
.
.
'Abaikan ... abaikan ... abaikan ….'
Mengucapkan satu kata yang sama di dalam hatinya, Naruto seolah tengah merapalkan mantra. Tersenyum kikuk, pemuda bersurai pirang itu menghentikan langkahnya tepat di depan bangku yang pemiliknya tampak serius membaca buku.
Berdehem pelan, Naruto harus menahan kecewa ketika tak langsung berhasil menarik atensi sosok berambut raven dengan style unik tersebut. Tak ingin bertingkah konyol, dia pun berpura-pura bebal dengan tatapan penuh tanya dan arti yang ditunjukkan oleh seisi ruang kelas tersebut kepada dirinya, abaikan Uchiha Sasuke yang sepertinya sama sekali tak menyadari keberadaannya.
"Ehem …."
Kembali berdehem, kali ini lebih keras. Namun, nihil. Siswa berpredikat jenius itu tetap sama sekali tak menotice dirinya sedikit pun.
Hell no ...
Tidak mungkin kalau suara dehemannya tak terdengar sama sekali.
Naruto menyipitkan mata, curiga. Tampaknya ada yang tengah mengajaknya bermain-main di sini. Menyeringai sinis, dia pun mendekatkan wajahnya ke arah sosok berambut raven tersebut. Mata mereka saling beradu. Dan, sukses. Buku yang tersimpan di atas meja pun akhirnya terabaikan.
"Kau pikir, aku tidak tahu?" Naruto mendelik. Sementara, pemuda bermarga Uchiha—yang tadinya sempat tersentak— itu menatapnya datar. "Kau semenjak awal pun sudah tahu, kan?"
"..." Pemuda itu hanya menatapnya dalam diam. Jarak wajah mereka begitu dekat dan rapat.
"Kau berniat mempermainkanku," Kakak dari seorang bintang itu bukan bertanya, tapi mengutarakan pemikirannya.
"Apa maumu?"
Terkesan tak acuh, Uchiha Sasuke pun membuka suara. Iris onyx-nya yang semula datar, kini tampak berkilat; menatap Naruto penuh perhitungan.
Memundurkan wajah. Naruto kembali menegakkan tubuhnya. Sebuah senyum puas terukir dengan bibirnya. "Kita perlu bicara."
"Hn?"
"Sepulang sekolah nanti, aku akan kembali mendatangi kelasmu."
"Hn?"
"Tsk ...," Pemuda itu berdecak pelan. Matanya menatap sinis. "Cerewet, kau tunggu saja sampai aku datang. Paling lama, setengah jam."
"h—"
"Tidak perlu bertanya apa-apa lagi," Naruto menyela. Sasuke mengangkat alis. "Akan kujelaskan nanti ... dan jangan berpikir ini tidak penting. Kita harus meluruskan segala permasalahan di antara kita."
"Stop!"
Setengah berteriak, keturunan Namikaze dan Uzumaki itu memicingkan matanya setajam mungkin. Sasuke yang baru saja hendak membuka mulut pun seketika mengatupkan mulutnya rapat. Iris onyx-nya mendelik.
"Sudah kubilang, tidak perlu berkata apa-apa lagi," Naruto berbalik, "dasar payah," desisnya sinis, dan kemudian berlalu begitu saja; meninggalkan Sasuke dan seluruh pasang mata yang tampak terpaku.
.
"Di—dia ...," Pemuda yang duduk tepat di samping bangku Sasuke menatap jeri, "bagaimana bisa mengerti gumaman tidak jelasmu itu, Sasuke? Dan ... kau tadi ... dibilang pa—payah?"
"Urusai, Suigetsu," Sasuke mendesis tajam, kemudian mengarahkan tatapan matanya ke seluruh penjuru kelas. "Dan kalian ... berhenti menatapku."
Seolah mendapat pesan kematian, ruang kelas itu seketika dipenuhi hawa mencekam. Mengangguk patah-patah, seluruh pemilik pasang mata pun akhirnya mengalihkan fokus mereka, dan berpura-pura tidak pernah menyaksikan kejadian anatara dua idola sekolah tersebut.
.
.
.
Mereka berpapasan.
Sakura dengan buku dalam pelukan tampak terkesiap. Kekagetan tak sempat disembunyikan gadis berambut senada dengan bunga musim semi tersebut.
Mengulum senyum simpul, Naruto hendak melambaikan tangannya untuk menyapa. Namun, senyum pun dengan perlahan memudar. Seolah orang asing, gadis bermarga Haruno itu melengos begitu saja.
Tersenyum getir, Naruto merasakan sesak di dalam dada. Adakah rasa yang lebih menyakitkan dari ini semua? Naruto positif mulai merasa frustasi. Persahabatan di antara mereka, akankah benar-benar hancur pada nantinya?
Tidak.
Menggeleng, pemuda itu membalikkan badannya. Secepat mungkin menggerakkan kakinya, Naruto menahan pergerakan sahabat.
"Kau tunggulah," Naruto menatap Sakura yang tersentak dengan tatapan penuh arti. Tangannya tanpa disadarinya mencengkram erat pergelangan tangan berkulit putih milik sahabatnya. "Aku berjanji, akan memperbaiki semuanya. Uchiha Sasuke itu ... dia pasti akan menjadi kekasihmu."
"Na—"
Pergi.
Tak membiarkan sama sekali Sakura untuk menyelesaikan kata-katanya, Naruto berbalik dan berlalu pergi. Dengan cepat siswa berparas rupawan itu menghilang di balik tikungan. Meninggalkan Sakura yang menatap kosong pergelangan tangannya yang tampak memerah.
"Aku tak tertarik padamu," Sasuke memainkan sejumput helai rambut sang gadis musim semi yang kini tampak membeku di tempatnya berdiri. "Karena ak—"
"Tidak!"
Menjerit, gadis itu menggelengkan kepalanya sekuat mungkin. Gemetaran. Keringat dingin mengalir begitu saja. Bayangan memori yang mampir dalam pemikirannya membuat gadis tersebut panik; hingga ingin menangis.
"Tidak boleh," Sakura meracau. "Itu tidak boleh dibiarkan. Naruto …. Pokoknya tidak boleh."
.
.
.
Uchiha Sasuke.
Adalah bungsu dari dua bersaudara. Putera dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Adik dari Uchiha Itachi. Adalah seorang siswa andalan guru-guru, sang juara pararel dan si murid jenius berkemampuan photographic memory. Berwajah rupawan. Tubuh tinggi dan atletis bak model. Sungguh merupakan idaman wanita.
Mendesah. Naruto menatap nanar secarik kertas berisi informasi yang berhasil didapatkannya dari sumber terpercaya. Sebut saja Mawar, sosok samar nan mencurigakan yang Naruto ketahui dari salah satu situs tak resmi yang ada di sekolahnya.
Mendengus. Pemuda itu tak habis pikir, bisa-bisanya otak berbalut kepala pirangnya memikirkan hal absurd tersebut. Menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pemikirannya yang tercemar pikiran tidak penting, dia pun melipat-lipat kertas tersebut menjadi burung. Memasukkan kertas—yang telah berubah bentu— itu ke dalam tas ranselnya, Naruto pun bangkit dari tempat duduknya. Otaknya sedang tidak dalam keadaan baik untuk diajak kerjasama dalam mengolah rumus-rumus yang berseliweran di papan tulis.
"Kau merasa pusing, Naruto-kun?"
Sedikit merasa bersyukur karena telah menjadi langganan siswa yang sering meminta izin untuk meninggalkan kelas lebih awal, Naruto mengangguk. Ekspresi wajah lesu khas orang sakit pun dipasangnya seapik mungkin.
"Begitulah, Sensei ...," Naruto meringis pelan. "Sepertinya anemia-ku ... ugh …."
Mendapati tatapan khawatir dari guru dan seluruh teman sekelasnya, Naruto sengaja menggerakkan tangan kanannya untuk memijat ujung pangkal hidung.
"Pusing ...," Siswa bersurai pirang itu meringis.
"Sai-kun, bisa kau antarkan Naruto-kun ke UKS?"
Mengangguk, Sai dengan sigap bangkit dari tempat duduknya, dan tanpa sepatah kata apa pun segera menghampiri sahabat pirangnya.
"Sini tasnya," Sai menadahkan tangannya. Senyum kalem dikulumnya. "Ayo, aku papah."
Menggeleng, pemuda bermata biru langit itu menolak. "Tidak usah. Aku akan ke UKS sendiri," Naruto mengulum senyum. "Tolong bantu aku dengan tetap berada di dalam kelas. Aku akan sangat berterimakasih bila kau mau membantuku belajar nanti."
"Tapi, Na—"
"Sensei ...," tak membiarkan Sai berkata lebih jauh lagi, Naruto menatap gurunya; meminta pemakluman dan juga izin. "Bolehkah?"
"Kau yakin, Naruto-kun?"
Mengangguk, siswa SMA itu tersenyum ke arah sosok wanita bername tag 'Guren' tersebut.
"Baiklah," jawabnya setengah hati.
Tak ingin gurunya berubah pikiran, Naruto pun membungkukkan setengah badannya, dan kemudian segera berlalu dari ruangan kelas tersebut.
Tidak ada yang tahu, bila penyakit anemia yang Naruto miliki, seringkali dipersalahgunakan oleh anak tengah keluarga besar Namikaze tersebut. Ditambah dengan kemampuan akting yang Naruto kuasai dengan baik, semakin menunjang dirinya untuk tampil begitu meyakinkan. Sedikitnya, kakak dari Kurama Uzumaki itu merasa bersyukur, karena berkat itu semua; pemuda bermarga Namikaze-Uzumaki itu dapat melarikan diri dari pelajaran pada saat tertentu. Terlebih, kemampuan otaknya yang lebih dari cukup di atas kata lumayan, menjadikan dirinya tak pernah merasa kesulitan untuk mengejar pelajaran.
Melangkahkan kedua kakinya ke tempat langganannya, pemuda itu berencana untuk mempersiapkan dirinya terlebih dahulu. Naruto harus tampil prima. Jangan sampai dirinya melakukan sedikitpun kesalahan. Dan, untuk pertama kali dalam hidupnya, pemuda beriris sapphire itu merasa perlu untuk menghindari kemungkinan terburuk.
Dengan mempertaruhkan perasaan sahabat kesayangannya, Naruto harus berhasil menjalankan rencananya. Bila pertemuan mereka berdua nanti gagal medapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan dan harapannya, maka itu pertanda dirinya harus maju ke tahap selanjutnya.
Dan, Naruto benci dengan prediksinya yang seringkali tepat sasaran.
'Ini tak akan semudah dan sesederhana keinginanku.'
Mencoba mengenyahkan pemikiran negatifnya, dia terus berjalan menelusuri lorong sekolah. Bedoa. Pemuda itu berharap untuk bisa segera menuntaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Sakura. Dia tak ingin hubungan mereka terus berjalan buruk.
Terpikir akan alasan yang melatarbelakangi ketidakmampuannya untuk terlalu lama berjauhan dengan sahabat merah mudanya, Naruto tersenyum miris.
"Kenapa rasanya sesakit ini?"
Menggumam pelan, langkahnya terhenti. Menatap sepatu yang dikenakannya, suara desahan pun lolos dari kedua belah bibirnya.
"Kekasih, ya?" tanyanya, pahit. Mata menerawang jauh.
Sesak itu ... kembali menyerang.
.
.
.
To be-bersambung ...
A/N.
Pendek? Memang. Gomen, minna-san. Ini diketik seadanya, sebelum akhirnya Meta bergalau ria. Alasannya? Khufufu ... biasa, remaja baru puber.
.
Balasan untuk yang tidak log. In.
[ Sayuri : Trims. Sudah dilanjut. Maaf pendek dan lama update. blair chan : Yang dibisikin, ya? Masih rahasia. Tapi, isinya berhubungan dengan Naruto. Maaf lama update. | Yuzuru : Iya, cute. Chap depan, ya? Ehehe ... sekarang semuanya seucrit dulu. | lemonade : hmph ... sedikitnya tertulis di atas, sisanya masih rahasia. Bukan, tapi Hinata. Jelasnya akan dijelaskan chap depan. Iya, diusahakan OS ItaKyuu akan di-publish setelah fict ini tamat. | Guest : Bagusnya side story atau OS, ya? Ultimate Uke? Ugh, jadi pengen ketawa. Meta mau bilang iya, tapi nanti Naru-chan ngamuk. Maaf banget, lama update. | Suke : Bisa jadi, bisa jadi. Tapi, jelasnya akan mulai terkuak di chap depan. Arigatou. Percaya atau nggak, itu terinspirasi dari hubunganku dengan kakakku, khufufu …. Tapi, sayangnya Amah Shasa lebih banyak nyebelin daripada kerennya. | Yang kelewat, mohon maaf, ya. ]
Buat yang log. In, akan Meta balas review via PM, ya.
Terima kasih untuk baca, review, fav dan foll-nya. Maaf lama dan pendek.
Oke, minna. Sampai jumpa chap depan, diusahakan akan diperbanyak scene-nya.
.
Salam santun,
MetamorphoQueen
Kamar baru seminggu, 05 Juli 2015
