Draco, in!

Authors Note : Hamba hanya ingin menyampaikan beberapa kata yang singkat, dan juga menghanturkan kata terimakasih atas dukungan positifnya dan selalu setia menunggu kelanjutan Fic yang satu ini.

Pertama, hamba ingin mengucapkan beribu maaf kepada para readers yang menunggu selama hampir satu tahun belakangan ini dan terus review di tiap Fic untuk mengetahui kelanjutannya. Dan sekarang baru hamba tulis, gomenasai…

Warning : Naruto dan Cataclysm adalah orang yang sama. Jadi jangan sampai bingung ketika hamba menulisnya nanti.

Death Wing's no Cataclysm :: Draco

.

.

Warning :

Godlike!Naru, Smart!Naru, Dragon!Naru, etc

Mungkin aneh, Mungkin Jelek, Mungkin OOC

.

.

Peringatan keras!

-Apa yang tertulis di sini adalah Karangan Author sendiri, mungkin akan melenceng dari alurnya-

-Jika ada perbedaan ataupun kesalahpahaman, itu hanyalah ungkapan Author semata-

.

.

Genre :

Adventure

.

.

Rating :

M

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung.

'Blablabla' = perkataan dalam hati.

[Blablabla] = perkataan yang diucapkan hewan kuchiyose

Desclaimer : (This is pure fiction, if there is a similarity maybe it is a concidence). Naruto belong to Masashi Kishimoto. Highschool DxD belong to Ichiei Ishibumi.

.

~Kedamaian melalui Kehancuran~

Chapter 9

.

.

Start!


Sebelumnya dalam Cataclysm:

"Tak apa, saat ini kita hanya perlu bermain-main."

Vali yang mendengar itu pun menyeringai ketika melihat Cataclysm mengangkat satu tangannya, menggerakkan naga yang tadinya berhenti… mendapatkan perintah dari atasan membuat naga-naga tersebut mengaum yang membuyarkan lamunan para Fraksi terhadapnya.

BUMM!

Pergerakan naga itu berhenti seketika saat sebuah serangan yang bersifat destructif itu menghantam naga bayangan dari [Annihilation Maker] milik Cataclysm, menghentikan pergerakan mereka hanya untuk melihat pelaku dari serangan tersebut.

Cataclysm menghela nafas berat ketika melihat sosok tersebut, begitu pula dengan Ophis yang langsung menyenderkan tubuh ke arahnya. Vali yang melihat itu pun membelalakan matanya ketika melihat pelaku tersebut, mengetahui siapakah sang pelaku, ia hanya bisa menunjuk dengan tangan gemetar…

.

"K-kau…!"

Chapter 9

"Kedamaian melalui Kehancuran"


"…Rizevim Livan Lucifer, Lilith, Azi Dahaka, Apophis"

Cataclysm tahu bahwa aksi mereka yang datang secara tiba-tiba itu pasti akan membuat masalah, tapi apa mau dikata? Misi utama mereka adalah Trihexa yang kini berada di belakangnya. Ketika dirinya telah memotong jalur dari misi mereka, Cataclysm tersadar kalau tindakannya itu yang membuat mereka mengambil langkah drastis.

Hanya saja, Cataclysm sedikit melebarkan matanya ketika melihat sebuah benda yang melayang di punggung Rizevim dan benda yang berada di tangannya. Aura yang dipancarkan oleh kedua benda itu terlihat membungkus seluruh tubuhnya dan mungkin itulah penyebab kenapa Iblis itu mampu memasuki [Dimension Lost] yang ia buat. Akan tetapi, baru saja Cataclysm ingin melabrak langsung mereka, matanya melirik sebuah lingkaran sihir yang tiba-tiba tercipta di sampingnya, sebelum lingkaran itu memunculkan dua ekor Naga yang eksistensinya seharusnya tidak muncul.

"Fafnir dan Crom Cruach… reuni yang menarik, bukan begitu?"

Kedua Naga itu pun mengambil pose siap menyerang ketika melihat monster yang berdiri di hadapan mereka, Trihexa.

Sang Naga yang mampu membunuh jiwa eksistensi ciptaan Tuhan melalui kutukan mimpinya itu mulai terbang mendekat, Fafnir langsung saja merubah tubuhnya menjadi seorang perempuan dan berjalan kearah Cataclysm yang tengah duduk dengan tenang.

"Jadi…" Fafnir buka suara sambil memperhatikan bagaimana Cataclysm memberikan tubuh gadis kecil bersurai pirang itu kepada Ophis. "Apa yang telah kau lakukan setelah sekian lama menghilang, Cataclysm?"

Cataclysm menaruh sebelah tangannya di pipi dan merenggangkan otot tangannya, melempar jubahnya tepat ke samping hingga kini ia hanya tinggal mengenakan celana panjang hitamnya, menampilkan otot-otot dan lekukan tubuh yang sempurna serta beberapa simbol yang terukir di beberapa bagian. "Hanya menjalankan Kedamaian melalui Kehancuran."

"Cih, tingkah keren macam apa itu?" kata Trihexa kepada Cataclysm. Nada menyindir jelas sekali terdengar dari kata-katanya. Dua naga yang baru datang itu tidak memberikan respon apapun atas pernyataan itu. Cataclysm terlihat cuek seperti biasa, sedangkan Great Red mengambil langkah mendekat.

Sementara menunggu para Naga itu merubah fisiknya menjadi manusia, Rizevim tetap diam sembari mengangkat Holy Grail setinggi dadanya di ikuti oleh Buah Kehidupan yang ia curi dari surga. Pandangannya tak lepas dari sosok Cataclysm yang masih diam di tempatnya, tidak memberikan reaksi apapun. Bagaimanapun juga Rizevim agaknya 'ngeri' pada Dragon King terkuat dari yang terkuat itu. Siapapun yang berhadapan dengannya, maka sudah dipastikan akan dengan cepat menunggu ajalnya. Catacylsm adalah salah satu Naga termuda dibandingkan dengan yang lainnya namun juga sangat dihormati oleh bangsa naga. Apalagi statusnya yang menghentikan Great War, mungkin Rizevim harus memanggil ribuan naga untuk menandingi kekuatan penuh Naga itu.

"Jika dia memiliki Holy Grail dan Buah Kehidupan, bukankah dia mampu menghidupkan Naga yang telah mati?" Ophis berujar kepada Cataclysm.

Cataclysm mengangguk pelan.

Kemudian Ophis kembali bertanya. "Tapi, apakah tidak ada efek samping dalam pelanggaran hukum dunia karena telah menghidupkan sesuatu yang mati?"

"Tentu saja tidak, karena itulah dia memiliki Buah Kehidupan. Dia mampu menghidupkan Spesies Naga dengan mudah, namun setahuku dia harus memiliki sedikit gen ataupun bagian tubuh dari Naga itu sendiri. Yah mungkin?" Cataclysm mengangkat bahunya tak tahu. "Lagipula, aku tak begitu tertarik dengan hal semacam itu."

Trihexa menyipitkan matanya sambil mendesah pelan. "Ya iyalah, kau bisa melakukannya tanpa bantuan alat."

"Tapi bukan berarti aku akan menggunakannya sesuai dengan keputusan pribadiku sendiri, Great Red pun memiliki hak untuk menghidupkan spesies yang mati dan menjadi bagian dari dirinya."

"Oh, tentu saja aku takkan pernah melakukan itu," Great Red menyahut cepat. "Semua darah dagingku tidak akan pernah kuberikan kepada siapapun. Dan mengingat jumlah kekuatan yang kau ambil pada saat itu, bisa-bisa aku kalah dengan Trihexa"

Cataclysm mengangguk. "Karena itulah kita para bangsa Naga takkan pernah beraliansi dengan Fraksi, karena kami tahu kalau pada akhirnya kami hanya akan menjadi alat oleh mereka," kemudian tatapannya beralih kepada Naga Jahat Apophis dan Azi Dahaka yang berada di sisi Lilith. "Sebagai pemimpin, aku tak bisa membiarkan pengkhianat seperti kalian hidup lebih lama."

…dan seketika waktu terasa berhenti. Pergerakan iris jam emas pada mata itu mulai menghentikan detiknya, membuat semua yang berada di tempat ini tidak bergerak. Hanya mampu melebarkan matanya karena keterkejutan yang melanda, bahkan Trihexa, Great Red dan Ophis tak mampu bergerak karena hal itu.

Cataclysm terbang mendekat kearah Rizevim dan mengambil Holy Grail serta Buah Kehidupan yang berada di tangannya, namun Cataclysm langsung mengambil gerak cepat ketika Lilith berhasil melepaskan diri dari kemampuannya. Walau Cataclysm akhirnya berhasil mengambil kembali Holy Grail dan Buah Kehidupan dari tangan Rizevim, Lilith tetap berada di sisi Rizevim sebagai penjaga.

"Mah, aku tak begitu tertarik melawanmu Lili-chan."

"Lilith, kuat… sangat kuat," dia kemudian mengangkat kepalan tangan mungilnya untuk bertarung, meskipun begitu dia masih terlihat seperti sosok yang imut, namun Cataclysm tahu kalau kekuatan pukulan yang datang darinya akan menjadi luar biasa.

Cataclysm mendesah pelan. "Baiklah-baiklah aku tak mungkin melawan seorang perempuan… bagaimana kalau kau ikut denganku? Kita akan berkeliling Atlantis untuk mengambil semua permen disana."

Begitu mendengar kata 'permen', matanya berubah. Sama seperti Ophis yang tampaknya lemah terhadap permen juga, bukti yang kuat adalah Ophis tengah menggenggam pergelangan tangannya dengan mata berbinar. Tak ayal Cataclysm menganggap kalau Ophis adalah Lilith yang lain.

"Lilith mau permen… tapi Cata-kun tidak boleh melukai Rizevim."

Cataclysm tiba-tiba mendengus pelan ketika Trihexa menertawai panggilan Lilith kepadanya. Namun pandangannya bergeser kearah dua Naga Jahat yang tetap diam namun tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Oke, oke. Aku tidak akan melukainya, tapi bolehkah aku membawa mereka berdua?"

"Baiklah, tapi Lilith mau permen…" Lilith pun mengangguk tanpa mempedulikan kedua Naga Jahat yang mendelik kearahnya.

"Akan kuberikan itu nanti, tapi bisakah kau kemari?" ketika Lilith mendekat kearahnya, Rizevim memberontak dan menciptakan demonic power dengan kekuatan besar di sebelah tangannya. Cataclysm dapat melihat sebuah aura yang berbahaya dan sangat menakutkan yang telah dilepaskan dari tangan itu.

Dan bayangan tiba-tiba muncul dibawah kaki Rizevim.

Begitu pula dengan Lilith yang tiba-tiba saja menghilang dari tempatnya dan berdiri di bawah Rizevim, lalu membuat sebuah barisan lapisan pelindung. Fafnir yang rupanya berniat untuk menyerang Rizevim pun terpental ketika tinjunya tidak mampu mengoyak lapisan pelindung milik Lilith. Menggertakkan giginya kuat-kuat, Fafnir yang saat ini dalam wujud perempuannya pun mengambil langkah mundur.

"Pelindung itu, mungkinkah…" Fafnir mengalihkan pandangannya kearah Ophis yang masih berada di samping Cataclysm. "Ophis, kau-"

"Hahahaha, kau benar! Lilith tercipta dari kumpulan ular milik Ophis yang kami curi, mengambil satu per satu dan mengumpulkannya hingga membentuk kekuatan yang sama dengannya," potong Rizevim dengan tertawa keras. Melihat Fafnir tidak menjawab, ia melanjutkan. "Tapi kau tidak perlu sungkan untuk melawannya, kekuatannya saat ini hanya sebatas kekuatan penuh dua naga surgawi."

"Sialan…!"

Melihat Fafnir yang menerjang kearahnya dan kembali di halangi oleh Lilith, Rizevim merapal sebuah mantera sihir untuk menyerang Fafnir. Membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk menyelesaikan mantera, kemudian Rizevim mengarahkan telapak tangannya ke arah Fafnir. Baru saja ia ingin menyebutkan kemampuannya-dan tiba-tiba sebuah cahaya berwarna putih melesat kearahnya… dalam penglihatan semuanya, Rizevim terhempas dan memuntahkan darah segar ketika laser cahaya itu mengenai perutnya dengan telak.

"Ukh, sialan!" Rizevim marah besar… dan beranjak berdiri. Ketika matanya menatap kearah asal laser cahaya tersebut, matanya dipaksa melebar ketika melihat kearah kumpulan Fraksi yang berbondong-bondong datang kearah mereka. Dari sana, ia melihat Michael bersama dengan archangel lainnya, Semhazai dengan ratusan anak buahnya, Sirzech dengan beberapa pasukannya dan Odin membawa beberapa Dewa Utara bersamanya.

Namun, seakan tidak peduli dengan itu semua, Rizevim mengangkat kedua tangannya sebatas dada, yang kemudian secara singkat intensitas sihirnya meningkat- terus menerus dan bahkan sampai dimensi ini berguncang karenanya. Hanya satu yang di ucapkan Rizevim…

"Hell Roar!"

Meskipun jumlah mereka yang terbilang sangat banyak, itu tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa dari mereka memiliki kekuatan yang lemah. Itu membuat keseluruhan pasukan Fraksi musnah seketika, kecuali beberapa di antara mereka yang merupakan para petinggi.

BUMM!

Ledakan besar tersebut pun meluluhlantahkan kota yang berada di seberang, yang merupakan replika dari kota harashibara di dunia nyata. Kota yang merupakan tempat terselenggaranya festival Kanya setiap tahunnya itu pun hancur dalam seketika, hanya menyisakan puing-puing yang berjatuhan dari langit.

Para bangsa naga yang masih berada di tempatnya pun hanya diam sambil memandang kearah Rizevim dengan tatapan datar, sebelum mereka membulatkan mata ketika melihat sesosok laki-laki yang berada di depan anggota Fraksi.

"Cataclysm?!"

Cataclysm hanya terbatuk darah ketika dirinya menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai, mungkin ia berpikir kalau bertingkah sebagai tameng adalah hal yang menarik. Tapi Cataclysm tahu kalau para Fraksi ada di belakangnya, jadi membiarkan mereka menghadapi serangan kuat Rizevim secara langsung bukanlah sebuah pilihan, dan ia lebih memilih untuk menjadikan dirinya sebagai tameng.

Tubuhnya berasap, hampir sekujur tubuhnya telah dibakar oleh sihir Rizevim. Menerima satu tembakan dengan kekuatan penuh, sebagian besar orang akan tewas. Meskipun dia seekor Raja Naga yang kuat-Cataclysm tetap terbang di udara meskipun keadaannya terlihat tidak begitu memungkinkan.

"Ukh…" Cataclysm memuntahkan darah dari mulutnya, menatap kearah Rizevim yang hanya diam di tempatnya dengan ekspresi sama terkejutnya dengan yang lain. "Ini adalah pertarungan 'Qlippoth' dengan Bangsa Naga, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan ini, Putra Bintang Fajar."

Menyaksikan kejadian ini, Rizevim malah tertawa keras yang tidak terkontrol.

"Hm hahahahaha! Sungguh patut di hormati! Demi melindungi harga diri, Raja Naga yang terkuat itu tidak mempedulikan dirinya sendiri! Tapi-tapi, hanya karena aku melihat ini itu tidak berarti aku akan melunak! Nyatanya ini sungguh menarik jadi Aku akan menyerang lebih kuat lagi! Dan bukan hanya bangsa naga saja, tetapi Fraksi juga!"

Kekuatan iblis Rizevim kembali meningkat, kekuatan penuh untuk yang kedua kalinya kembali Rizevim keluarkan.

"Hell-"

Senyuman yang tersungging di bibirnya tiba-tiba menukik ke bawah ketika hembusan angin menyapu lembut kulit wajahnya yang keriput. Ia terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Perlahan matanya bergerak ke samping dengan lambat-lambat- sangat lambat sampai bayangan terbentuk darisana. Entah berapa kali sudah dalam hidupnya ia melihat itu, semuanya bergulir begitu cepat, tergesak bak kilat yang menyambar. Bahkan detik demi detik pun tak pernah lagi di hitungnya.

Tubuhnya menegang, ekspresi tanpa perlawanan dan penuh kepasrahan terpasang di wajah Rizevim. Paling tidak itulah yang sedikit mampu menjadikannya seperti tidak berkutik saat ini. Meski sangat jelas, tak akan mampu menandingi iris matanya yang bergetar ke segala arah. Iris matanya menatap ke arah dimana Cataclysm yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.

"Kakek… apa yang bangsa naga lawan bukanlah Fraksi, tetapi para Dewa."

Tanpa berbalik pun ia tahu siapa yang mengatakan itu. Ia menoleh dari balik pundak. Vali, cucunya telah berdiri di bawah sana, memakai pakaian bermotif sama seperti Sacred Gearnya.

"Aku tahu apa yang kau lakukan selama ini, Rize."

Cataclysm melangkah di udara dalam sunyi, mengikuti angin yang berhembus menerpa wajahnya dengan langkah-langkah tanpa keraguan. Rambut peraknya bergelayut manja, menyisir poni yang menutupi mata sebelah kanannya, menampakkan iris jam emas yang berputar disana. Dibelakangnya, Great Red-Trihexa-Ophis yang sudah dalam wujud naganya pun menapakkan kaki di permukaan tanah, membuat pemandangan yang membuat Rizevim tertegun tadi sedikit memudar.

"Kau adalah putra Satan, dan jika tidak melakukan hal ini maka kau akan dianggap palsu, bukan?" melihat Rizevim diam, Cataclysm melanjutkan. "Tapi ketahuilah Rize, meskipun Satan sudah jatuh… dia tetap setia kepada-Nya."

"Omong kosong!" Rizevim kembali menembakkan peluru dengan kekuatan penuhnya kearah Cataclysm… hanya untuk kembali dikejutkan ketika menyaksikan bahwa serangan yang ia lemparkan itu tiba-tiba saja terhenti. Namun insting iblis milik Rizevim pun menyala pada saat itu juga ketika merasakan bahaya yang mendekat, tanpa membuang waktu lagi, ia menghilang dari tempatnya dan muncul kembali hanya untuk di perlihatkan bahwa serangan yang baru saja ia lemparkan tadi di pantulkan oleh Cataclysm hanya dengan satu tangan.

"Tidak ada yang omong kosong di dunia ini, Rize. Semuanya adalah kebenaran, hanya saja kau tidak tahu kejadiannya," Cataclysm menapakkan kedua kakinya di permukaan tanah. "Ayahmu, meskipun dia mencoba untuk membunuh-Nya… tapi dia tetap setia kepada-Nya."

Tiba-tiba Rizevim menatap kedepan dengan mata yang kosong, pikirannya kembali terulang semenjak kejadian Great War pada saat itu.

Rizevim yang tidak tahu harus berkata apa hanya mencengkeram kepalanya dengan erat, ucapan Cataclysm… membuat kepalanya sangat pusing. Ayahnya yang seorang iblis, setia kepada-Nya? Jangan bercanda!

'Ayahmu, tetap setia kepada-Nya.'

Ayahmu, tetap setia kepada-Nya.

ayahmu, tetap setia kepada-Nya

Kata-kata itu terus terulang di telinganya, terus terulang hingga berdengung dan menjadi satu dengan pikirannya saat ini. Sebelum pada akhirnya, Rizevim kembali tertawa dengan keras.

"Ha… hahahaha! Jangan memberikanku omong kosong itu, Cataclysm!" Rizevim menatap Cataclysm di mata, memberikan sedikit tatapan remeh kearahnya. "Kau pikir, aku peduli dengan itu? Tidak! Yang kubutuhkan dari Satan hanyalah kekuatannya, aku tidak peduli dengan dia lagi karena serpihan kekuatannya sudah menjadi milikku."

"Dan sebagian besar kekuatannya diberikan kepadaku," jawab Cataclysm cepat, membuat para pasang mata terkejut ketika mendengarnya. "Kau memiliki serpihan kekuatannya karena kau adalah keturunannya, bagaimana jika aku yang merupakan saksi antara pertarungan 'mereka'?"

"K-kurang ajar! Lilith! Serang dia!"

Dengan satu kali anggukan, Lilith menyerang langsung ke wajah Cataclysm.

Melihat sang Raja Naga yang hanya diam, Lilith memperkuat pukulannya.

Wush!

Hembusan angin yang sangat kencang menerpa para Fraksi yang berada di belakang tubuh Cataclysm, bersamaan dengan suara yang keras berdengung ke seluruh penjuru langit. Tapi sang Raja Naga tidak terpengaruh, dia mengayunkan tendangan horizontal, dan mengirim Lilith terbang ke udara. Sebelum Lilith kembali bersiap-siap kembali, Cataclysm muncul di hadapan Lilith dan menciptakan sebuah bola fragment berwarna hitam di tangan kanannya lalu menghantamkannya ke perut Lilith. Lilith bergerak sedikit dan menggunakan sihirnya untuk menghindari serangan itu-tapi Raja Naga itu sudah tidak ada lagi di hadapannya, dia terbang ke atas udara. Tubuh Cataclysm yang masih dalam wujud manusianya kemudian menukik ke arah Lilith berada, dan kemudian mengarahkan tangannya ke depan.

Apa yang muncul dari tangannya-merupakan sebuah permen dengan aura yang sangat kuat. Lilith yang melihat makanan kesukaannya pun sedikit ceroboh hingga ia tanpa sadar membuka mulutnya dan membiarkan batang permen itu tersangkut di giginya.

"Sudah kubilang, aku tidak mau bertarung melawanmu. Lilith-chan."

Setelah Cataclysm mengatakan itu, Lilith terhuyung kedepan dan di tangkap oleh Ophis yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya.

"Apa yang ingin kau lakukan?"

Cataclysm melirik sesaat. "Menyelesaikan ini, Hades sudah bertindak."

"Heahahahahaha! Apa ini, mengalahkan Lilith begitu mudahnya? Ah~ membuatku begitu merasakan tekanan semacam ini!" suara Rizevim kembali terdengar, memotong pembicaraan Ophis dan Cataclysm. Kemudian ia menyadari sesuatu. "Oh~ jadi dua naga pengecut itu sudah kabur?"

"Kau tidak perlu memikirkan mereka, Rize. Urusan kita disini sekarang," Cataclysm kemudian memberikan tatapan pada Crom Cruach yang masih diam di tempatnya. "Crom, aku tahu kau pasti mengetahui dimana mereka sekarang."

"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, mereka sangat lemah." Naga Jahat terkuat itu pun membuka suaranya. "Setidaknya mereka bahkan bisa seimbang dengan Sekiryuutei itu jika dalam mode [Juggernaut Drive]."

Crom Cruach tiba-tiba menciptakan robekan dimensi di hadapannya. "Kau tidak perlu memikirkan dua naga lemah itu, pikirkan saja pertemuan kita selanjutnya Cataclysm. Apakah kau yang akan mati, atau aku.."

Setelah menghilangnya Crom Cruach, Cataclysm kembali menatap kearah Rizevim yang hanya menggertakkan giginya kuat-kuat. "Kau benar-benar brengsek, Cataclysm!"

Namun Cataclysm hanya diam dan mulai menutup matanya, tak peduli dengan ucapan halus yang terus dilancarkan Rizevim kepadanya. Sebelum Cataclysm kembali membuka matanya, Rizevim menciptakan lingkaran sihir berniat untuk kabur.

Tiba-tiba sekelebat bayangan mulai menghantui otaknya, sebuah bayangan fatamorgana yang mulai mengisi seluruh pikirannya. Yah, inilah yang disebut sebagai… kutukan Fafnir.

~•~

"Kenapa kau membiarkannya lari?"

Naruto berjalan menuju tempat Ophis berada sambil membersihkan tubuhnya yang dipenuhi debu dan beberapa bercak darah. Mengacuhkan pertanyaan Fafnir yang tertuju padanya, Naruto merentangkan kedua tangannya dan menikmati angin dalam dimensi kosong yang menyegarkan.

"Hei, kau mengacuhkanku?" tegur Fafnir sambil menarik tangan Naruto, memaksa untuk menatap kedua matanya. "Kenapa kau membiarkan musuh yang merepotkan itu pergi begitu saja?"

"Aku tidak memiliki alasan untuk melawan iblis yang sudah terkena kutukanmu," suara yang terdengar pelan namun penuh dengan wibawa itu membuat Fafnir melepaskan genggamannya. "Lagipula, aku juga tidak berniat untuk melawannya. Tujuanku kesini hanyalah membatalkan ulah Hades yang berniat untuk menggunakan samael agar bisa mencuri kekuatan penuh Ophis dan membuat Lilith setara dengan dewa."

Kemudian Naruto mengalihkan pandangannya kearah Issei yang masih pingsan dalam pelukan Rias. "Kembalilah Fafnir, kau sudah tidak memiliki urusan disini."

"Cih, kau masih sama seperti dulu." Fafnir memutar bola matanya bosan, pandangannya tertuju pada apa yang saat ini ditatap oleh Naruto. "Aku penasaran, apa yang membuatmu memiliki urusan selain membawa kehancuran."

Yang ditanya hanya diam sambil menggendong Lilith di pundaknya, membiarkan pertanyaan itu berlalu tanpa jawaban. Tentu saja, karena Naruto tahu bahwa Fafnir tidak akan percaya hanya dengan kata-kata. Toh, lagipula dia juga nanti akan datang dengan sendirinya.

"…semuanya, kita pergi!"


Naruto berdiri di dalam ruangan, dengan lima buah permen lolipop di tangan. Matanya menatap kearah gadis kecil berpakaian hitam yang menatap kearah tangannya dengan berbinar-binar. Naruto yang melihat itu hanya terkekeh sambil menggerakkan permennya ke atas, ke bawah, ke kiri, dan ke kanan, dan garis penglihatan Lilith mengikutinya. Dia terlihat sangat tertarik dengan apa yang Naruto pegang di tangannya.

Naruto mengulas seringaian diwajahnya. "Kau menginginkannya? Rasanya enak dan manis lho…"

Di depan godaan, Lilith terlihat dilema di wajah tanpa ekspresinya, menelan ludah.

"Lilith… mau permen."

Naruto kemudian merasa kalau dia mengerikan atas apa yang dia lakukan. Menghela nafas sesaat, ia kemudian menyodorkan permennya. "…Jangan melihatku dengan mata seperti itu. Iya. Iya. Aku akan memberikannya kepadamu."

Kemudian Lilith mengambil permen tersebut dan memakannya dalam diam.

"Jadi… apa yang kalian lakukan di rumahku?" Naruto berkata. Bibirnya membentuk garis lurus dalam kekehan kecil. "Aku tidak memiliki alasan lain untuk meladeni kalian."

Naruto mengangkat Lilith ke punggungnya, membiarkan gadis mungil itu bergelayutan di tubuhnya. Wajahnya mengulas senyuman tipis ketika melihat bagaimana Ophis yang menggembungkan pipinya tidak suka.

"Tidak ada alasan khusus, kami hanya ingin berterimakasih atas apa yang telah kau lakukan." Sirzech menatap tak berkedip.

"Itu hanya ungkapan sederhana, Maou." Naruto menjawab dengan gaya khas membosankannya. "Menjadikan diriku sebagai tameng hanya untuk melindung kalian, lantas kalau kalian benar-benar mati, siapa yang akan menuntaskan hasrat menghancurkan milikku?"

"Pada akhirnya, kau selalu mengalihkan pembicaraan, Cataclysm." Fafnir mulai angkat bicara, matanya menatap lurus tepat kearah iris jam emas itu. "Kami tahu-tidak, tapi hanya aku yang tahu kalau kau benar-benar menyembunyikan sesuatu dari kami."

"Hm?" Naruto mengerutkan alisnya dalam.

Fafnir melotot. "Jika benar tidak ada apa-apa, mengapa kau tidak tidur selama beberapa hari ini?!" Suara Fafnir tiba-tiba naik, jari telunjuknya mengacung tepat di wajah Naruto. "K-kau! Kau pasti sudah merencanakan semua ini bukan? Kau tidak tidur karena kau sadar bahwa mimpi milikmu akan terbaca olehku."

"Tidak juga," Naruto menjawab pendek, menurunkan Lilith dari punggungnya dan mendudukkannya di pangkuannya. "Memang benar kalau aku tidak tidur karena aku menyadari bahwa eksistensimu akan muncul, tapi aku tidak merencanakan apapun. Hanya sedikit pemikiran untuk melakukan sesuatu."

"Sesuatu?" Fafnir menaikkan sebelah alisnya.

"Ragnarok…"

"A-pa, a-pa-apaan?!"

Terlihat sekali bagaimana ekspresi wajah makhluk di dalam ruangan ini berubah.

"Aku berniat untuk mengawali Ragnarok, karena aku tahu bahwa apa yang telah para Dewa lakukan sudah melewati batas." Naruto berkata pelan, menyenderkan Lilith di dadanya. "Kita memang tidak akan pernah tahu… tidak akan pernah bisa menebak, menduga… tetapi suatu hari nanti, para Dewa yang sudah di berikan perintah untuk mematuhi aturan akan mulai membangkang. Siap atau tidak, suka atau tidak… aku berniat untuk menghancurkan mereka semua."

Senyap. Ruangan di rumah itu hening. Hanya menyisakan kecapan lidah Lilith yang sedang mengemut permen. Meski lelah, Sirzech tidak bisa tidur. Juga Michael dan Semhaza. Lantas menatap wajah-wajah kaum Naga yang berada di hadapan mereka. Gugup. Mendengarkan seksama.

"Lihatlah… Golongan Qlippoth sekarang sudah bergerak… begitu juga dengan Dewa Jahat. Karena mereka sudah lelah dengan apa yang namanya menunggu. Keberadaanku yang merupakan ancaman adalah masalah terbesar yang tidak pernah dibayangkan mereka. Ragnarok adalah cara terbaik untuk membantai mereka, menghabiskan sampai ke akarnya sekalipun."

Sirzech dan Michael menahan nafas. Tertunduk. Mereka tahu apa yang di katakan Naruto. Tapi kalimat-kalimat itu menusuk. Mereka yang lain juga merasakan betapa mengerikannya kata-kata itu ketika di lontarkan.

"Tapi… kenapa harus Ragnarok?"

"Konsekuensi.." Naruto bisa melihat tatapan tidak mengerti dari orang di sekitarnya. "Mereka yang memulai…"

Sirzech tidak bergerak mendengar itu, namun memberikan Naruto tatapan tajam. "Tapi Ragnarok merupakan tindakan yang berlebihan dan.. gegabah. Sedikit saja pertarungan dimulai, maka dunia ini akan hancur."

"Dan kau pikir aku peduli dengan itu?" Naruto memotong dengan dingin. tatapannya seperti terpaku pada Sirzech, seluruh makhluk di dalam ruangan bisa merasakan kekuatan Naruto yang semakin meningkat di setiap detiknya. "Aku… Cataclysm no Ragnarok. Dan akhir dunia adalah julukanku."

Merasakan ketegangan yang terjadi, Great Red menghela nafas pelan. "Kalian para Fraksi tidak usah ikut campur dalam masalah ini, Ragnarok hanyalah sebutan untuk pertarungan yang di pimpin Cataclysm. Dan ini hanya berlaku pada bangsa Naga dan para Dewa."

"Tapi, bagaimana dengan perdamaian?"

"Tidak ada perdamaian di dunia ini," tukas Naruto, tapi ketegasan yang terdengar dalam suaranya menghilang. Bahkan seandainya Ragnarok tidak terjadi, Azazel tetap benar. Karena dunia yang sudah rapuh ini seharusnya berada dalam perdamaian. "Perdamaian atau kenyamanan hidup yang kalian katakan hanyalah semu, semuanya itu hanya berupa kata-kata dan tidak ada yang mampu memberikan fakta jelas atas hal itu."

Tapi Azazel menggeleng. "Tidak, itu tidak benar."

Dan sebelum Naruto membalas, Azazel lebih dulu berdiri. "Perdamaian itu ada… dan akan selalu ada dalam hati kami."

"Kau bocah yang lucu, Azazel." Naruto tertawa pelan yang terdengar seperti deheman. "Kalian hanyalah makhluk naif, di ciptakan dengan atas perintah Tuhan. Tapi bangsa naga berbeda… kami hidup sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan. Karena itulah alasan kenapa Naga merupakan eksistensi terkuat saat ini," Naruto membawa pandangannya ke arah Fafnir. "Kalian bisa menyebut Fafnir sebagai Naga yang bergerak dalam mimpi, itu karena dia tercipta dari mimpi jutaan makhluk. Kau bisa menyebut Trihexa sebagai Hewan Kiamat, karena dia kumpulan dari kebencian kalian."

Angin berhembus, dinginnya menusuk hingga tulang. Tapi tidak bagi mereka yang memiliki fisik melebihi rata-rata, mereka hanya diam di tempatnya dengan wajah datar.

"Cataclysm," Odin yang sedari tadi diam di tempatnya kini angkat suara. Matanya menatap Naruto dengan datar, namun ada keingintahuan mengenai apa yang di inginkan oleh dirinya. "Mengingat statusmu sebagai pembawa Ragnarok, aku takkan membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Mungkin kau hanya bertarung dengan mereka yang membangkang, tapi bagaimana dengan kami-maksudku seluruh makhluk selain mereka? Aku yakin kau takkan berniat membunuh manusia tak berdosa yang akan menjadi pertarungan kalian."

"Kalau aku mau, aku bisa membunuh mereka semua." Naruto membalas dengan sebelah tangan terangkat. Langsung ke titik permasalahan. "Aku tidak membutuhkan manusia, karena harga mereka itu tak sebanding dengan nyawa para pahlawan yang telah gugur. Manusia tak ada bedanya dengan mainan kalian, dimana para manusia akan kalian jadikan batu loncatan untuk kepentingan Fraksi kalian sendiri."

Para Fraksi langsung diam sambil mendengarkan apa yang Raja Naga ini katakan. Karena Naruto tahu kalau akan seperti ini jadinya jika manusia tetap hidup, dia mengerti akan tatapan mereka. Ia kecewa pada mereka yang hanya menjadikan manusia sebagai batu loncatan, jika manusia mengetahui apa yang terjadi pada diri mereka sendiri, mereka akan kecewa akan harga diri itu, tapi apakah manusia akan mengerti akan dirinya? Pernahkan mereka merasa bahwa ada mata di balik layar kehidupan yang mereka jalani?

Naruto tidak butuh ungkapan kasihan mereka, karena makhluk yang mereka kasihani itu sesungguhnya adalah permainan mereka sendiri. Tidak ada satu makhluk pun yang akan kasihan akan mainan mereka, karena… mainan dibutuhkan hanya untuk pemuas belaka.

Walau malaikat sekalipun!

"Aku sudah tidak peduli dengan dunia ini, walaupun kalian selalu mengatakan perdamaian dan menjadikannya alasan untuk hidup. Seharusnya kalian sudah tahu dari awal, dunia ini sudah tidak bisa berkembang lagi, kalian sudah lari dari suatu hal. Lari dari suatu kebenaran dan fakta…" Naruto berhenti sejenak. "…Dengan melihat apa yang terjadi barusan, kalian tidak tahu apa yang harus kalian lakukan. Ini bukan soal bagaimana mencari jawaban atas kesalahanmu di masa lampau, tetapi bagaimana kau bisa menangani apa yang telah terjadi di saat ini."

"Tapi tetap saja, itu tidak mengubah pandanganmu tentang Ragnarok," Odin menutup matanya sesaat, sebelum membukanya lagi dengan mulut yang membentuk garis lurus. "Ini pertama kalinya aku berbicara dengan makhluk sepertimu."

"Hmm.. apa kau tersinggung?" Naruto bertanya dengan memiringkan kepalanya. satu tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengusap kepala Lilith yang sudah menghabiskan permen ke-empatnya. "Aku tidak akan pernah mengubah pandanganku tentang apa yang telah kulihat, tidak peduli berbagai macam alasan yang kau berikan, aku tetap tidak akan mengubah hal itu."

"Kalau begitu, kau sama saja berniat untuk berperang dengan kami semua… bukan begitu?"

Ucapan yang membuat alis Naruto tertekuk sesaat. Tanpa sadar tawa halus keluar dari sela kedua bibirnya, membuat Odin yang awalnya mulai serius hanya bisa menatapnya dengan tatapan datar. "Kalau itu yang kau mau, aku bisa saja membunuh kalian semua disini…"

"Kau…benar." Jawab Odin dengan tangan terkepal. Kakek tua itu kemudian membuka matanya sesaat, dan menatap Naruto dengan netral. "Tapi aku juga tidak akan mengubah pandanganku, Ragnarok yang kau buat akan memicu semua Fraksi untuk ikut andil dalam pertarunganmu."

"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak peduli dengan semua hal itu. Kalian ikut andil dalam Ragnarok bukan semata-mata kalian merupakan korban, kalian ikut karena kalian ingin. Membalaskan dendam atas apa yang Fraksi lain buat terhadap kalian dan menuntaskannya dengan tangan kalian sendiri," Naruto menangkap jelas akan ekspresi apa yang di munculkan. "Aku tidak bodoh untuk mengetahui apa yang kalian lakukan di belakangku selama ini…"

"Kalau begitu… kami memiliki satu permintaan untukmu." Odin kemudian berubah serius dalam waktu sesaat, ia dengan cermat memperhatikan sosok di depannya. Yang pada saat ini tidak memancarkan emosi apapun, sangat sulit untuk membaca apa yang dipikirkan oleh Raja Naga terkuat yang menjadi lawan bicaranya ini.

"Permintaan?" Naruto menaikkan satu alisnya.

Odin mengangguk bersamaan dengan Pemimpin Fraksi yang bangun dari tempat duduknya.

.

.

.

"…Kami yang akan menyelesaikan masalah Golongan Qlippoth dan para Dewa Jahat."

.

.

.

To be Continued~

Yo, maaf kalau baru update. Hamba hanya sedang mencari hal-hal yang berbeda, tentunya itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oke, dalam chapter ini hamba menyajikan dimana Lilith tercipta bukan dari Samael… tetapi dari ular-ular yang Ophis berikan kepada anak buahnya. Entah terlihat aneh atau tidak jelas, hamba membuatnya seperti itu. Pokoknya, kalau di setiap Fic hamba ada yang melenceng atau berubah, anggap saja itu karangan hamba sendiri. Mengingat hamba tidak pernah membaca Light Novelnya, tentu hamba tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Pairing… Entah hamba akan membuatnya sama Kaguya, Ophis atau lainnya.

Thanks for Review


Draco, out!