LESSON
Chap 2
Assassination Classroom © Yuusei Matsui
Arisa-Amori27
Hurt/Comfort,Romance, Drama
Aneh, Gaje, Abal, Typo(s) everywhere,EYD hancur
Karma x Nagisa
.
.
.
Bau antiseptik yang menusuk penciuman. Suara langkah menderu-deru. Lantai yang licin berdecit-decit. Langit mendung disertai gemuruh guntur, siap memainkan orkestranya. Karma menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tak tahu harus berbuat apa di dalam ruangan bernomor 111 ini. Awalnya ingin menjenguk si surai biru muda, tapi apakah rasanya… sesesak ini ?
"Selamat datang" Suara bak melodi mengalun lembut menerobos pendengaran Karma. Ia mengalihkan pandangannya, menatap tembok berwarna krem yang nampaknya lebih asyik dipandang. Lidahnya mendadak kelu untuk mengucapkan sepatah kata. Otak encernya seketika berhenti bekerja mencari untaian kalimat.
"Kau membawa sesuatu ?" Suara bagai sutera itu kembali bernyanyi.
"Muffin" Karma menjawab singkat, rahangnya menguat.
Karma memberanikan diri menatap pemuda yang duduk di atas ranjang. Setelah itu Karma menyesalinya karena hatinya semakin tersayat. Lihatlah, tubuh mungil yang hanya tinggal tulang dibalut kulit. Wajah manisnya makin tirus dan pucat pasi. Mata yang selalu memancarkan kehangatan kini meredup seakan tak ada kehidupan di dalamnya. Surainya yang digerai berwarna biru langit menjadi biru muda pucat. Ah, hati Karma mencelos.
"Kau benar – benar orang yang aneh. Kau datang ke rumah sakit untuk menjengukku sembari membawa Muffin, tapi daritadi kau hanya diam saja" Nagisa berucap, terselip nada ketus di dalamnya.
"Tidak… Aku hanya… hanya…" Karma kehabisan kata-kata.
"Kau pasti mencemaskanku. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya" Ujar Nagisa yang bergetar di akhir kalimat.
Karma membelalak, "Tapi, kau baik-baik saja kan, Nagisa-kun ?" Karma bertanya memastikan. Nagisa memaksakan seulas senyum manis yang terlihat pahit bagi Karma.
"Maaf, sebenarnya… Dari awal kita bertemu, aku tak pernah baik-baik saja" Ucap Nagisa bergetar, bibirnya bergemelutuk, menahan mati-matian kristal bening yang siap terjun kapan saja.
Karma menggertakan giginya, tak tahan akan pemandangan yang di depannya. Lantas, ia menghampiri pemuda itu lalu merengkuhnya. Nagisa terhenyak, rasa sesak di dadanya semakin membara. Akhirnya pertahanannya runtuh, perlahan-lahan air mata membanjiri pelupuknya lalu setetes demi setetes menuruni pipi tirusnya. Isakannya mulai terdengar, namun teredam di dada bidang Karma. Tangannya menjambaki baju belakang Karma.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, Nagisa-kun" Karma berujar lirih sembari mengusap surai kepucatan Nagisa.
"Aku takut kehilanganmu, Nagisa-kun"
LESSON 4 : Fear. Completed.
Karma berlari sekuat tenaga, melawan hujan lebat dan angin yang menghalau langkahnya. Tak mempedulikan nafasnya hampir putus atau jantungnya seakan ingin copot, bahkan kausnya yang basah kuyup tak menarik perhatiannya. Tujuan utamanya adalah rumah sakit Kunugigaoka yang letaknya dua stasiun dari rumahnya. Sialnya, cuaca yang buruk membuatnya harus berlari menerjang hujan. Sekitar dua jam yang lalu, ia mendapat E-mail dari Isogai, bahwasanya keadaan Nagisa kian memburuk. Tertampar realita, ia mengabaikan teriakan sang ibunda yang melarangnya keluar. Karma mendecak kesal, merutuki sang hujan. Kakinya mulai lelah melangkah, namun tekadnya bertemu Nagisa tak terkikis hujan deras.
Kedua matanya bersinar, kala rumah sakit Kunugigaoka sudah berada di depan mata. Ia berjalan memasuki rumah sakit, tak mengacuhkan pandangan orang-orang di sekitarnya yang menatap heran. Irisnya menelusuri setiap nomor ruangan, hingga berhenti di kamar nomor seratus sebelas. Sebelah alis Karma terangkat, mendapati sekumpulan orang tak asing yang berdiri di depan kamar inap Nagisa. Sekumpulan orang tersebut merupakan all members kelas 3-E. Mereka serentak menoleh ke arah Karma, pandangan mereka rancu, tak terbaca, antara senang dan sedih.
"Masuklah, tinggal kau saja yang belum menemui Nagisa" Isogai berucap, mempersilahkan Karma.
Karma beranjak dari tempatnya berdiri, mendekat ke arah pintu, berhenti sejenak, mengambil nafas lalu menghempaskannya. Tangannya menyentuh gagang pintu, setelah itu mendorongnya.
Hal pertama yang ia lihat adalah Nagisa yang duduk di bangsalnya sembari menatap hujan lebat lewat jendela. Selang intravenous-nya tak lagi menusuk kulit porselen milik Nagisa, serta alat bantu pernafasan sudah tak nampak. Karma menutup pintu, menyebabkan bunyi yang dapat membuat Nagisa mengalihkan atensinya.
"Hai, Apa yang membuatmu kesini Karma-kun ?" Tanya Nagisa.
"Bukannya keadaanmu memburuk ?" Karma bertanya balik.
"Eh ? Kata siapa ? Aku baik-baik saja" Nagisa berucap sembari beranjak dari bangsalnya. Kakinya menyentuh lantai yang dingin, lalu menegakkan tubuhnya. Iris pucat Karma sukses membola.
"Lihatkan ? Aku masih bisa berdi- WHOAA !" Tubuh Nagisa oleng dan hampir saja terhempas ke lantai kalau saja Karma tak menangkap dan merengkuhnya.
"Ahahaha, ketahuan yah ~" Nagisa tertawa miris.
"Kau tak pandai berbohong" Ucap Karma sarkatik. Nagisa terkekeh.
"Tapi, berada di pelukan Karma-kun sangat nyaman. Aku ingin selamanya seperti ini" Nagisa berandai-andai, bermimpi jika ia bisa hidup lebih lama lagi.
Karma tertohok. Hatinya yang entah bagian mana, merasakan akan ada hal di kehidupannya yang dicabut paksa.
"Aku bahagia bertemu Karma-kun. Pada saat itu aku tak tahu kalau….." Nagisa berceloteh, sisanya tak didengar Karma.
Waktu terus menggulir detik yang takkan pernah kembali. Masa terajut sempurna, bentangan jarak siap terurai. Adakah yang menyadarinya ?
Akan ada penghabisan disetiap kalimat. Ada ujung untuk setiap jalan.
Nagisa masih asyik bercerita dengan nada riang yang dipaksakan. Sedangkan Karma berperang dengan rasa takut yang menjalari setiap inchi tubuhnya. Gelisah merasakan pemuda yang berada dalam rengkuhannya mulai tersengal-sengal.
"Nagisa-kun, kau harus istirahat" Pinta Karma.
"Tak perlu Karma-kun, waktuku tak lama lagi"
'Kumohon, jangan katakan itu'
Nagisa berusaha menyentuh wajah Karma, jemarinya menelusuri paras tampan milik Karma. Di pandangnya lekat-lekat, agar selalu terpatri dalam ingatannya.
Perpisahan makin dekat, tak mau diajak bernego. Hanya memberinya sedikit kesempatan untuk tersenyum. Hanya seulas senyum. Sebuah senyuman terakhir seorang Shiota Nagisa yang akan terukir abadi dalam benak Karma dan sekaligus sebagai mimpi buruk yang menemaninya disetiap malam.
Tatapan Nagisa mulai meredup, menjelaskan bahwa sudah waktunya.
"Mengantuk yah, Nagisa-kun ?" Karma bertanya, suaranya bergetar.
Nagisa mengangguk lembut.
"Tidurlah, aku yang akan menjagamu" Pintanya.
Perlahan tapi pasti, iris Aqua Nagisa lambat laun terhalangi kelopak matanya, seakan sang kelopak mata melarang iris Aqua untuk kembali terlihat. Jemarinya yang awalnya menjamah wajah Karma, kini terkulai tak berdaya.
Shiota Nagisa telah pergi.
Berulang-ulang kalimat tersebut mampir di otak Karma. Menyadari bahwa sang mahakarya telah meninggalkannya bersama memori kenangan dengannya. Karma terisak.
"Selamat tinggal, Nagisa-kun"
Tanggal 30 Mei. Pukul 5 sore. Mulai detik ini dan seterusnya, seorang Shiota Nagisa hanya akan hidup dalam kenangan dan ingatan bagi orang-orang yang menyayanginya.
LESSON 5 : 'Good bye'. Completed.
Karma memandang datar gundukan tanah di depannya. Setelah itu, Karma berjongkok menghadap ke arah nisan yang bertuliskan nama Nagisa. Karma meletakkan sebuket bunga forget-me-not di depan nisan.
Karma mengatupkan kedua tangannya. Melafalkan doa dalam hatinya untuk Nagisa seorang. Selesai, pemuda tersebut berdiam diri sesaat. Empat bulan setelah kepergian Nagisa, namu rasa sayang Karma pada Nagisa tak pernah sedikitpun terkikis oleh sang waktu.
"Hai, Nagisa-kun"
"Sudah makan ? Bagaimana disana ? Menyenangkan ? atau kau malah kesepian ?"
Aha. Retoris.
Karma menertawai dirinya sendiri. Berbicara dengan nisan yang jelas tak mungkin terjawab.
Ah, Karma mungkin mulai gila.
Mau bagaimana lagi ? Karma sangat merindukan Nagisa, rindu kebaikannya, rindu pada pancaran sinar matanya yang meneduhkan, rindu akan kelembutan surainya, semuanya, semua yang melekat pada pemuda itu Karma rindukan. Ia ingin sekali lagi merengkuh tubuh mungil milik Nagisa. Orang yang secara implisit memberinya banyak hikmah yang dapat di ambil.
Karma tersenyum.
"Terima kasih atas segalanya, Nagisa-kun"
LESSON 6 : 'Thank you'. Completed.
Setelah melayat ke makam Nagisa, Karma memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sembari melepas penat karena jenuh.
Kelas 3-E berjalan seperti biasanya, yah, masih berusaha membunuh Koro-sensei, belajar giat untuk mengalahkan kelas A dan lain-lain, yang berubah hanyalah ketidakhadiran Nagisa di tengah-tengah kelas.
Karma duduk di salah satu bangku taman. Ia merogoh sakunya, menarik keluar surat yang betah berada di dalam saku. Selama empat bulan, Karma tak berani membukanya, takut jika hatinya makin tersayat. Surat dari Nagisa yang dititipkan pada Kayano.
Karma menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Jemarinya membuka amplop berwarna biru muda bermotif awan putih itu. Menarik kertas didalamnya.
Kepada,
Akabane Karma-kun
Rasanya sangat aneh menulis surat kepada seseorang yang menghabiskan waktunya bersamaku.
Kau tahu ? Pertama kali aku mengenalmu pada saat aku tak sengaja melihatmu berkelahi dengan senior, saat upacara pembukaan di mulai . Kupikir kau anak yang jahat waktu itu, tapi setelah mendengar percakapanmu dengan senior, aku jadi mengerti mengapa kau berkelahi.
Kau hanya ingin membela senior yang di-bully. Pada saat itu aku kagum kepadamu. Tapi, setelah itu kau semakin tak beraturan. Dasar orang menyedihkan.
Ketika aku tahu kalau kita satu kelas, aku sangat senang sekali. Bagaimana cara agar aku bisa mengenalimu lebih dekat ? Apa dengan membelikan makanan untukmu setiap hari ?
Namun pada akhirnya, aku hanya bisa menatap punggungmu dari kejauhan. Hingga, aku tak sengaja menumpahkan sebotol air mineral ke arahmu. Haha, aku sungguh minta maaf karena itu.
Yah, karena hal itu, kita menjadi teman.
Dari kecil memang tubuhku sangat lemah, pada saat kelas tujuh aku diopname karena pingsan, aku mulai sering masuk daripada keluar. Ke sekolahpun terasa berat bagiku.
Aku tahu kondisiku tidak begitu baik.
Aku menyadari, waktuku tak banyak. Maka, aku tak menahan diriku lagi. Aku berlari, mengejar anganku, walau aku tahu itu takkan pernah tercapai.
Keadaanku yang tak memungkinkan, membawaku ke kelas 3-E. Yah, aku memang tak bisa berbuat banyak.
Tapi, melihatmu berdiri di lapangan kelas 3-E, tak dapat dipungkiri aku sangat senang.
Karma terkekeh.
'Padahal waktu itu kau mengatakan padaku bahwa aku tak sopan'
Ketika kau terjun, aku benar-benar takut, hingga aku ingin mengikutimu dan jatuh bersamamu.
Masih ingatkah bunga sakura yang berguguran itu ? Kupikir itu sangat indah.
Lalu, hujan deras yang menjebak kita berdua, sangat sejuk, kan ?
Bau Antiseptik yang bercampur dengan aromamu, membuat jantungku berpacu.
Bukankah lucu jika hal yang tak terlupakan merupakan kejadian sederhana ?
Bagaimana menurutmu ?
'Tidak juga'
Apakah aku bisa hidup di hati seseorang ?
'Ya, kau bisa'
Apakah aku akan berada di dalam hatimu ?
'Kau bahkan sudah menduduki tahta ratu dihatiku'
Apa kau akan mengingatku meski sedikit ?
'Jika aku tak mengingatmu, kau pasti datang menghantuiku'
Jangan lupakan aku ya ?
'Mana bisa'
Janji ya ?
'Ya'
Aku bersyukur orang itu adalah kau.
Hey, Akabane Karma-kun….
Aku mencintaimu…
Aku mencintaimu….
Aku mencintaimu…
Maaf, aku baru mengungkapkannya …
Maaf, tingkahku kekanak-kanakkan…
Maaf, aku pernah memakimu…
Maaf, maaf,maaf ya…..
Terima kasih..
Tertanda,
Shiota Nagisa
Karma menitikkan air matanya. Lalu menengadah, menatap horizon kemerahan.
'Kau selalu seenaknya, meninggalkanku sendiri disini. Tapi….'
'Aku juga mencintaimu…..'
LAST LESSON : 'I love you'. Completed.
.
.
.
.
.
END
Krik... krik...krik...
Oke, endingnya gak banget…
Pake nyomot dari Your lie in April lagi…
Yah, fakta kalau Arisa gak bisa move on dari pairing Kousei-Kaori, tak terbantahkan…
Jadi mohon maaf kalau tidak puas….
Dan terima kasih sudah mendukung ^^
Terima kritik dan saran..
But, no for FLAME.. (Hati itu setipis kain)
Unterzeichnet,
Arisa-Amori27
