ALTERNATIVE

.

.

.

Author : Ciervo Azul

Title : Alternative

Genre : Fantsy-Romance-Drama

Length : 2 of 2 / end

Cast :

.:. Luhan

.:. Sehun

.:. Boa

.:. Kangta

.:. Others

Warning :

.) AS (Age Switch as always)

.) BL (Boys Love)

.) Beberapa hal ga masuk akal(?)

Summary :

Luhan, vampire mungil yang baru duduk di level tujuh –atau sederajad dengan Junior High School tingkat pertama di bumi– diasingkan dengan satu misi oleh sang ayah yang merupakan salah satu bangsawan bangsa vampire karena kesalah yang ia perbuat. Di malam sunyi saat ia lapar, ia mencoba mengigit seorang namja –Oh Sehun– yang tinggal di sebuah mansion. Namun, naas ia gagal dan tak bisa keluar dari mansion tersebut.

.

.

.

Mata rusa itu menatap kejantanan sang dominan dengan takjub membuat sang pemilik mengembangkan smirk andalannya. Disobeknya sebuah benda familiar berbahan elastis yang ia siapkan beberapa saat sebelumnya lalu dimasukkannya penis tegang itu kedalam alat kontrasepsi tersebut.

"Itu 'kan… Balon Kai hyung." gumam Luhan menyadari sesuatu. Merasa cukup untuk menunggu, tangan besar milik Sehun mulai membuka lebar kedua belah paha mulus milik namja mungil di hadapannya tanpa ragu. Luhan mengangkang lebar di bawahnya tanpa ada penolakan. Kaki-kaki mungil itu bergerak membuka dan menutup pahanya seolah sedang mempermainkan Sehun di atasnya. Dengan sebuah gerakan tegas Sehun menahan kaki Luhan agar tetap terbuka hingga sekarang Sehun bisa sepuasnya menatap lubang merah jambu yang belum tersentuh milik Luhan.

"Hyungie, jangan terlalu lebar. Itu sakit." cicit si mungil saat Sehun tak melepaskan pahanya dan terus memaksanya terbuka lebar, perlahan dilepasnya paha mulus milik si mungil lalu mengecup ringan bagian dalamnya agar sang submisif lebih tenang.

"Mianhae, Lu." Luhan yang masih menggeliat kegelian di bawahnya tak menghiraukan permintaan maafnya. Tak mau berlarut dalam penyesalan Sehun akhirnya mengocok little Lu dengan tangan kanannya pelan. Remas lembut. Kecup ringan. Dan hasilnya desahan kenikmatan milik Luhan yang menggema di seluruh sudut kamar megah milik seorang Oh Sehun. Kaki mungil itu mulai terkulai lemas, napas sang vampire kecil masih terengah-engah dan mata rusanya yang terbuka dengan sayu merupakan keindahan yang Sehun dapatkan. Bibir mungil yang terbuka milik Luhan seolah memanggil bibir tipis Sehun untuk berkelana ke arena dalam. Setelah dirasa napas si mungil mulai teratur Sehunpun segera meraup bibir cherry itu. Lembut dan manis, kedua hal itulah yang ia rasakan. Digigitnya bibir bawah Luhan sehingga terbukalah akses masuk untuk lidah Sehun menginflasi isi dari mulut mungil itu. Telapak tangan lebarnya tak dibiarkan menganggur, tangan kirinya kembali meremas kemaluan milik Luhan sementara tangan kanannya meremas gemas bokong kenyal si mungil. Luhan yang terbawa suasana hanya mengikuti nalurinya untuk mengalungkan sepasang lengan kecilnya pada leher Sehun, sementara lidahnya yang mulai membalas tautan milik namja di atasnya walau masih terkesan amatir tapi Sehun menyukainya karena itu Luhan. Sesekali leguhan mengalun indah di pendengaran Sehun, tanda Luhan menikmati aktivitas mereka saat ini.

Tak lama kemudian Luhan mendapatkan pelepasan pertamanya, Sehun menatap Luhan penuh cinta. Membiarkan si mungil merasakan orgasme pertamanya tanpa mempedulikan bagian selatannya yang sudah sekeras batang pohon. Luhan mengerjap dengan mata sayunya yang cantik, bibir mungilnya yang bengkak dan basah akibat ulah Sehun menjadi pemancing terbaik untuk napsunya. Lelaki berdarah setengah vampire itu melesakkan kepalanya di antara kedua paha dalam Luhan. Dikecupnya kedua sisi paha mungil itu dengan lembut, lalu mulutnya beralih pada lubang merah jambu yang terlihat sangat sempit di depannya. Dikeluarkannya daging tak bertulang itu dari mulutnya guna mengoda setiap sisi pintu hole sempit milik si mungil. Dengan sekali luncur, lidahnya langsung menerobos lubang ketat itu.

Masuk.

Keluar.

Masuk.

Keluar.

"Eunghh… Hyungie, gelihhh…" leguh Luhan sembari menggeliat dengan mata rusanya yang tertutup. Sehun tersenyum dalam aksinya tanpa ada niatan untuk berhenti.

"Ini belum seberapa, sayang." seringaian andalan Sehun sudah terukir di kedua belah bibirnya. Di atasnya Luhan masih disibukkan dengan desahan. Jari-jemari panjangnya beralih menguasai lubang berkerut milik si mungil. Satu jari. Dua jari. Tiga jari. Suara pekikkan Luhan menggema antara kesakitan dan kenikmatan. Tak mau menyiksa bagian selatannya lebih lama, Sehunpun memosisikan kejantanannya di antara kedua belah paha mungil lelaki cantik di bawahnya.

"Kau percaya padaku, Lu?" ujar Sehun dengan suara beratnya yang sarat akan napsu. Luhan mengangguk dengan lemah, mata rusanya menatap sang dominan dengan sayu. Cukup sudah alasan Sehun untuk bersatu dengan vampire mungil kesayangannya itu.

JLEB

Dalam sekali hentakkan penis Sehun langsung menyentak sweet spot Luhan dengan telak. Belum sempat si mungil menikmati pemasukkan milik sang dominan, Sehun sudah menemukan titik kenikmatannya.

"Hyungie, sakithhh…" lirih Luhan dengan pandangan sayunya. Bibir Sehun merapalkan kata-kata penenang di telinga vampire manis itu. Setelahnya bibir tipis itu beralih menjilati kedua puting tegang milik Luhan yang mengacung secara perlahan. Cara ini dirasa cukup untuk membuat sang submisif terbiasa dengan ukuran penisnya di dalam sana. Tanpa diduga Luhan menggerakkan tubuhnya terlebih dahulu, sejenak Sehun terpaku namun detik berikutnya napsu binatang itu mendominasi permainan. Ia bergerak cepat untuk mendapat kenikmatan lebih bagi keduanya. Masuk. Keluar. Masuk. Keluar. Suara erangan keduanya menjadi melodi indah di malam itu dengan rintik hujan sebagai pengiring.

Pagipun datang, sang dominan merasa terusik dengan suara ketukan pintu yang tidak bisa dibilang gaduh. Bantal kepala ia rapatkan ke kedua sisi telinganya guna menghalau suara bising dari balik pintu. Namun, orang di balik pintu itu nampak tak menyerah untuk membangunkan sang pemilik kamar. Dengan enggan Sehun bangkit dari ranjangnya, perubahan suhu yang menjadi lebih rendahpun langsung ia rasakan. Sontak ia manatap tubuhnya yang tak berpakaian sama sekali, kejadian semalam kembali berputar dalam ingatannya.

"Sehun, apa kau di dalam, nak?" sebuah suara membuyarkan lamunannya dan itu bukan suara ibunya. Itu suara yang beberapa tahun belakangan ia rindukan. Meskipun ia enggan untuk mengakuinya tapi ia benar-benar merindukan suara ini, suara ayahnya.

"Sehun, buka pintunya, sayang." kali ini suara ibunya. Sehun yakin tadi ia sempat berhalusinasi karena membayangkan kejadian semalam. Dengan gerakan secepat angin Sehun memunguti pakaiannya dan segera memakainya.

"Ada ap–" pria berkulit pucat itu mematung saat melihat pria dewasa di samping ibunya, ia tidak berhalusinasi.

"Lama tak berjumpa, nak. Ayah merindukanmu." sebuah pelukkan hangat Kangta berikan pada anak tunggalnya, Sehun masih membeku karena keadaan yang tidak biasa ini.

"Sehun, apa Luhan baik-baik saja?" pertanyaan sang ibu sontak membuat Sehun sadar. Ia segera melepas pelukan sang ayah dan berjalan menuju ranjangnya dengan tergesa. Luhan tak ada di ranjangnya. Sehun beralih ke arah balkon, namun nihil. Sehun mencoba peruntungannya dengan membuka pintu kamar mandi tapi lelaki mungil pengidap acrophobia itu tetap tidak ada. Kedua orang tuanya sudah memasuki kamar sang anak dan menyaksikan kesibukkannya mencari Luhan. Boa memasang wajah cemas sementara Kangta berdiri dengan tenang.

"Dia tidak ada di mana-mana, eomma!" teriak Sehun dengan frustasi.

"Ia sudah kembali." sepasang ibu dan anak di ruangan itu menatap bingung sang sumber suara.

"Secara otomatis dia sudah berada di EXO planet, mungkin sebentar lagi ada beberapa pelayan yang akan mempersiapkannya." Sehun menyerngit.

"Persiapan macam apa yang a-appa maksud?" tanyanya dengan gugup.

"Persiapan untuk pernikahan."

"PERNIKAHAN?" pekik ibu dan anak itu bersamaan. Kangta hanya memutar matanya dengan malas.

"Iya pernikahan, kau tidak mau menikah dengan Luhan?" sontak pertanyaan Kangta membuat Boa mengingat sesuatu.

"Sehun, kau sudah melakukan itu dengan Luhan?" butuh beberapa menit bagi Sehun untuk mengartikan pertanyaan sang ibu.

"Su-sudah."

Seluruh rakyat di EXO planet sibuk menyiapkan salah satu perayaan besar di planet itu. Kabar mengenai sang putra mahkota yang akan segera datang berta pernikahan menjadi alasan kesibukkan mereka. Selama ini mereka tidak pernah melihat ratu dan putra mahkota menampakkan diri sekalipun dank arena sang pangeran telah memilih mempelainya maka sudah dipastikan mereka akan datang ke planet itu. Ini mungkin bukan kali pertama bagi sang ratu karena semua pernikahan keluarga kerajaan selalu dilakukan di EXO planet, tetapi bagi sang pangeran ini merupakan sesuatu yang berbeda.

Di dalam kastil milik keluarga bangsawan ternama di planet itu, seluruh keluarga inti sudah mengelilingi ranjang si bungsu yang masih terlelap dengan tenang. Semua yang melihatnya menggeleng dengan wajah tak percaya terlebih sang ayah.

"Bisa-bisa sang putra mahkota bernapsu pada bayi kecilku." lirih Hangeng. Ketiga kakaknya hanya mengangguk mengiyakan perkataan sang ayah.

"Apa rasanya tubuh seorang bayi semacam Luhan?" pikir Kai dalam hati sembari menyerngit heran.

"Dasar pangeran mesum!" maki Baekhyun dalam hati.

"Luluku yang manis sudah ditandai." batin Xiumin prihatin. Tubuh mungil yang sedari tadi berbaring dalam balutan piyama dan selembar selimut tebal itu sama sekali tak terganggu dengan keberadaan mereka. Ia masih sibuk dengan mimpi indahnya dan Sehun ditemani berbagai makanan dan minuman manis kesukaannya. Luhan masih saja tertidur pulas hingga tiga hari berikutnya, mautak mau rencana pernikahan itupun ditunda. Bahkan saat Sehun sudah datang menjenguknya, si mungil masih enggan membuka mata. Ada penyesalan tersendiri di diri Sehun karena terlelapnya Luhan sampai selama ini adalah akibat memuaskan napsunya.

"Appa, kenapa kau menunjuk Luhan untuk membawaku ke sini?" pertanyaan itu yang selalu ada di benak Sehun.

"Itu karena…"

"Sejak kau lahir kalian sudah dijodohkan." itu ayah Luhan. Sontak Sehun beralih menatap calon ayah mertuanya itu.

"Benarkah?"

"Ya, kalau tidak kau pasti sudah mengusirnya. Karena kalian sudah dijodohkan maka jika kalian berdekatan kalian akan saling tarik menarik satu sama lain."

"Jadi… Aku melakukannya kare–"

"Bukan… Bukan… Hal itu karena kau tidak bisa mengalahkan napsumu sendiri." Sontak ia merasa bersalah pada lelaki mungil di depannya.

"Maafkan aku, seharusnya Luhan belum mengalaminya saat…"

"Tak apa, Sehun. Sebenarnya saat itu Luhan bisa saja menolak, tapi nalurinya juga menginginkanmu karena itulah kalian bisa bersatu." jawaban dari Hangeng membuat perasaan Sehun sedikit lega.

Genap dua minggu Sehun menjagai Luhan di kamar tidurnya. Namun tak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa ia akan bagun. Para orang tua juga tidak terlalu mengambil pusing dan hal itu yang membuat Sehun semakin khawatir. Ia tidak mau menikahi orang lain dan tidak akan.

"Sehun, mandilah dulu. Biarkan eomma yang menjaga Luhan." Sehun menatap jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding kamar Luhan. Sudah sore, sang ibu ada benarnya. Tanpa bantahan iapun mengambil pakaiannya yang sudah dipindahkan beberapa di lemari Luhan dan langsung melesat ke kamar mandi.

"Jadi karena Luhan masih di bawah umur dia tertidur seperti sekarang?" sang raja mengangguk sebagai jawaban.

"Malam itu sebenarnya bukan saat yang tepat untuk mereka. Tapi Luhan bisa menerimanya, mungkin sedikit lagi dia ak–" kalimat Kangta terpotong oleh suara teriakan sang istri dari kamar atas.

"Sepertinya sudah terjadi." gumaman Kangta tak ditanggapi oleh Hangeng karena ia lebih khawatir akan teriakan Boa yang tadi berkata akan naik ke kamar Luhan. Sehun yang baru setengah berpakaian keluar kamar mandi saat mendengar teriakan ibunya.

"Ada apa, eomma?" tanyanya khawatir. Boa menunjuk ranjang Luhan dengan tangan gemetar.

"Lu-Luhan… Tubu-Tubuhnya…" rasa penasaran Sehun semakin menjadi akibat keterbataan sang ibu. Di dekatinya ranjang Luhan. Matanya membelalak kala ia mendapati piyama Luhan telah sobek dan tubuh seorang lelaki terbaring di ranjang itu. Wajahnya feminism, bibirnya berwarna secerah buah cherry yang sudah masak, bulu matanya lentik, hidungnya bangir, tubuhnya mungil. Seketika lelaki manis itu membawa kepalan jemari lentik itu ke kelopak matanya. Lalu kedua bola mata bening serupa mata rusa itu menatapnya dengan pancaran kerinduan, seperti seseorang.

"Jangan bilang ka–"

BRAK

Pintu kamar itu terbuka dengan paksa membuat enam pasang mata di dalam ruangan itu mengalihkan atensi pada mereka.

"PAPA!" pekik Luhan kegirangan, baru saja ia ingin beranjak dari ranjangnya tangan lebar Sehun menahannya. Ada perasaan tak rela saat ia melihat kedua bongkahan bulat di bagian belakang Luhan yang jika tak ada ketiga orang tua mereka akan dengan senang hati Sehun remas atau bahkan akan ia tampar hingga warna putihnya berubah menjadi kemerahan.

"Benarkan, dia membesar." ujar Kangta dengan tenang. Luhan yang tertahan oleh tangan itu langsung menatap sang pelaku yang dalam keadaan topless. Sontak ia menunduk malu bersamaan dengan timbulnya rona merah di kedua pipinya.

"Apa ini selalu terjadi pada vampire yang masih di bawah umur?" tanya Boa penasaran. Hangeng sudah mengambil tempat di sisi kiri Luhan karena sisi kiri telah ditempati sang putra mahkota, sementara di saat bersamaan Kangta mengangguk sebegai jawaban.

"Selalu seperti itu. Karena mereka harus mengimbangi si dominan dalam kasus ini Sehunlah sang dominan." semua orang mengangguk kecuali Luhan yang tidak mengerti, ia hanya mengerjapkan mata rusanya berkali-kali. Sekuat tenaga Sehun menahan dirinya untuk tidak mengubah sorot mata polos itu dengan sayu yang menggoda.

"Jadi kapan mereka akan menikah?" tanya Boa dengan girang.

"Kapanpun. Jika mereka sudah siap." Hangeng berkata sembari mengindikkan bahu. Ia sibuk mengusak rambut coklat madu sang anak yang masih terlihat menggemaskan walau tubuhnya bertambah besar.

"Sehun?" Kangta membuyarkan bayangan mesum sang anak untuk malam pertamanya.

"Besok." semua pasang mata menatapnya dengan terkejut.

"Maksudku… Kapanpun Luhan siap." Luhan mengerjapkan matanya sembari menatap Sehun.

"Siap untuk apa, hyungie?" pose bertanya Luhan dengan memiringkan kepalanya ke salah satu sisi membuat Sehun berfantasi liar dengan objek leher mulusnya.

"Siap untuk menikah, rusa kecil." Hangeng mengusap rambut sang anak dengan wajah sendu dan itu tak luput dari pandangan Sehun.

"Menikah?"

"Iya, kau menikah denganku. Kita menjadi sepasang suami istri seperti papa dan mama-mu, appa dan eomma-ku." mendengar penjelasan Sehun, mata rusanya langsung berbinar.

"MAU! LULU MENIKAH SEKARANG DENGAN SEHUN HYUNG!" beruntung Sehun sudah duduk di samping ranjangnya saat Luhan menerjang Sehun karena kesenangan sehingga selimut yang hampir tersikap dan menampilkan tubuh mulus Luhan langsung ia halau dengan kecepatan tangannya yang berhasil menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil itu hingga pundak. Sehun itu posesif, anginpun tahu itu.

Setelah berhasil membujuk Luhan untuk menikah keesokkan harinya, Sehun merutuki dirinya. Kini keduanya tengah berbaring dengan Luhan yang lebih memilih memakai selimut dibanding memakai baju kebesaran Sehun. Jangan lupakan posisinnya yang memeluk erat Sehun seolah seseorang bisa mengambil Sehun kapan saja selagi ia lengah. Sebenarnya Sehun akan dengan senang hati memasuki Luhan dan si mungilpun kelihatan tak keberatan akan hal itu karena dua jam yang lalu bayi rusa itu meminta hal itu dengan cara manjanya yang menyiksa Sehun. Tapi itu tak bisa dibenarkan karena sebelum Luhan memberinya lampu hijau, sang ibu sudah memperingatinya.

"Kau ingat 'kan Luhan baru sadar seminggu setelah kalian melakukan itu, jadi eomma harap kau lebih bijak dalam mengontrol hormonmu."

Waktu-waktu berat itu berlalu, sekarang mereka sedang dalam upacara pernikahan. Pandangan bahagia meliputi acara mereka. Sampai ritual wajib mereka datang. Seorang tetua kerajaan berdiri di hadapan keduanya.

"Ini adalah ritual terakhir yang harus kalian lalui sebelum menjadi pasangan suami-istri. Kalian harus mengungkapkan semua hal yang mengganjal di hati kalian, entah itu pada pasangan maupun keluarga atau kerabat." keduanya mengangguk, lalu Sehun terlebih dahulu memulai.

"Appa, kenapa kau pergi meninggalkan kami dan tidak pernah menampakkan wajah di dunia?" Boa dan Kangta saling berpandangan seolah berkomunikasi melalui tatapan. Para tetua, bangsawan dan tamu mulai berbisik. Akhirnya Kangta berdeham membuat suasana kembali kondusif sebelum menjawab.

"Itu… Sebenarnya, sebulan setelah appa pergi, appa sudah meminta maaf pada eomma-mu dan setiap malam appa ada di kamar kami." Sehun menatap kedua orang tuanya tak percaya.

"Lalu kenapa kau tidak menemuiku?" sebisa mungkin Sehun menahan intonasi bicaranya.

"Bukankah kau… Tidak mau bertemu appa?" cicit Kangta. Ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah. Sehun mengusap wajah tampannya dengan kasar, Luhan hanya bisa menonton ketegangan keluarga kerajaan ini.

"Aku justru selalu menunggumu datang." gumam Sehun yang masih bisa didengar baik oleh yang lain.

"Benarkah? Tapi kau selalu berkata tidak membutuhkanku… Jadi kupikir…"

"Aku hanya mencoba kuat tanpa dirimu, jadi aku selalu mengatakan itu pada eomma." Kangta langsung memeluk sang anak penuh kerinduan. Melihat itu, semua tamu tersenyum haru sebagian bertepuk tangan, yang lain mulai mengeluarkan sapu tangannya untuk menyeka air mata, selebihnya sibuk mengabadikan kejadian ini seperti lelaki manis bermarga Byun.

"Ck… Dasar pangeran tsundere." cibir Baekhyun sembari mengabadikan pernikahan Sehun dan Luhan.

"Luhan…" Sehun mempersilakan Luhan setelah ia terlepas dari pelukkan haru berdurasi lima belas detik karena jika lebih si pria pucat itu akan mempermalukan dirinya sendiri dengan menangis dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak di hari pernikahannya.

"Hmm… Ini te-tentang…" Luhan nampak gugup dengan hal yang mengganjal dalam hatinya. Sehun mengusap pundaknya untuk menyalurkan ketenangan. Luhan menatap sang putra mahkota sejenak lalu mata rusanya mencari seseorang yang bersangkutan.

"Kai hyung…" sontak kedua lelaki di samping kiri dan kanan Kai menatapnya penuh selidik. Baekhyun mengarahkan kameranya pada Kai dan secara otomatis kamera itu diarahkan ke hidung minimalis sang lelaki yang sedang membelalakkan matanya sembari menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya. Sementara itu Xiumin sudah menatapnya tajam sarat akan keinginan untuk membasmi. Jangan lupakan ratusan pasang mata para undangan yang menatapnya penuh tanya.

"Lulu minta maaf, balon kondom hyung sudah dipakai Sehun hyung. Tapi tenang, balonnya belum pecah, hyungie. Hanya penuh dengan air dari belalai Sehun hyung saja." Luhan berkata dengan nada persuasifnya. Sebagian dari tamu mengerti dengan balon kondom yang Luhan maksud. Bahkan sangat mengerti. Dan itu membuat mereka sekuat tenaga menahan tawa. Sementara sebagian lagi –teman sekolah Luhan– hanya menganggap itu hal sepeleh tentang perebutan mainan antara kakak dan adik. Baekhyun dan Xiumin baru saja ingin mengirim Kai keluar dari galaxy bima sakti tapi sebelum itu terjadi lelaki berkulit gelap itu telah menghilang dari pandangan mereka.

"KIM KAI!" seru Baekhyun, Xiumin dan Hangeng. Sehun sibuk menahan malu ditemani tawa para undangan yang tak bisa ditahan lagi.

.

.

.

.

.

.

.

FIN

OMAKE

Sepasang manusia berbeda usia itu menatap layar tv empat puluh dua inch itu dengan serius, sampai Luhan mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya yang berakhir dengan tawa tak tertahankan dari keduanya. Krystal menggelengkan kepalanya sembari meredakan tawanya. Sementara kakeknya Sooman mencoba meraih air mineral di dekatnya karena tawanya kini sudah berubah menjadi batuk kering.

"Hahh untung saja ByunBaek bisa diajak bekerja sama. Kalau tidak entah bagaimana kita menyaksikan siaran langsung pernikahan si datar itu." keluh Krystal akan keadaannya.

"Mau bagaimana lagi? Kita 'kan hanya manusia biasa." ujar Sooman dengan bijak sembari mengusap rambut cucu angkatnya. Tak ada yang tahu bahwa ayah Krystal adalah anak angkat, hanya keluarga inti saja yang mengetahuinya karena semua sudah dipikirkan secara matang sejak putri tunggal Sooman diperistri oleh raja vampire. Mau tak mau ia harus mencari penerus yang bisa ia percaya dan pilihannya jatuh pada ayah Krystal.

"Ck… Kalau begitu aku ingin digigit Luhan saja agar bisa ke EXO planet." gumam Krystal.

"Kenapa tidak minta pada Sehun saja?" tanya Sooman heran.

"Shireo! Dia itu sudah tua, giginya pasti tajam. Aku lebih sudi digigit Luhan yang masih bergigi susu." Sooman memutar bola matanya.

"Luhan 'kan sudah besar juga sekarang." sontak Krystal menepuk dahinya lalu tertawa.

"Aku lupa. Dia selalu terlihat seperti bayi di mataku, sekalipun tubuhnya bertambah besar."

=REAL END=

:: A/N ::

/deep bow

Mohon maaf buat yg merasa sudah diberi harapan palsu. Ini udah gua kasih hadiah tahun baru cina ;(

*telat elah zul*

Maapkan bagian nc-nya yg ga kerasa, sumpah itu gua ga nge-feel banget nulisnya TT-TT *backsound TT bagian reff*

Buat yang kecewa gua pindah ke wp/yg gabisa main wp/yg lebih suka di ffn, sesuai permintaan beberapa orang; gua bakal tamatin ff-ff lama di ffn juga, kecuali bimil dan ff baru lainnya. Itu di wp saja.

Yodahlah, sampai ketemu di last part ff lainnya

Vomment / review juseyo~

Tangerang, 31/01/17

10:57 p.m.