Aroma pengap karena ventilasi udara kurang, serta bau anyir darah yang mengambang dalam atmosfer sebuah ruangan itu, membuat jalur penafasan satu-satunya mahluk hidup di dalamnya mengalami gangguan.
Ruangan itu sangat gelap. Tidak ada setitikpun cahaya yang meneranginya.
Dia mengerang, meringis kesakitan saat merasakan perih dan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya. Ia tak tahu ada dimana. Ia terkekang dengan tali temali yang menjerat tubuhnya sejak beberapa jam yang lalu. Ia buta arah. Dia butuh kebebasan.
Dan satu-satunya orang yang bisa mewujudkan keinginannya adalah kekasihnya.
Kekasih vampire-nya.
.
.
.
Naruto (c) MK
Sweet Lemon Rationalization (c) SuzyOnix
Rate: M
Warning: Kekerasan, Death chara!
HANYA UNTUK DEWASA!
.
.
.
Suara gerendel pintu yang dibuka, membuat mahluk hidup dalam ruangan buta tersebut menajamkan pendengarannya. Ada suara langkah kaki yang masuk, diikuti dengan gesekan kasar antara sebuah benda dengan lantai bertekstur datar, namun keras dan padat. Itu suara barang yang diseret paksa. Sangat mengerikan.
"Hmph-" erangan itu didengarnya, penuh dengan nada takut.
Ia merasakan pandangannya buta selama beberapa saat, ketika cahaya amat menyilaukan pada akhirnya bisa merangsek masuk melalui celah pintu. Hanya beberapa detik sebelum pintu itu ditutup kembali. Bersama dengan cayaha yang menjauh pergi.
Suara langkah kaki itu terdengar semakin tajam dalam pendengarannya, serta suara mengerikan itu. Sebuah suara -klik- didengarnya, yang sedetik kemudian, untuk yang kedua kalinya, ia merasa kembali buta. Ia reflex menutup mata.
Mengerjab beberapa kali, mahluk yang terkekang dalam lilitan tali temali membuka lebar-lebar kelopak mata saljunya. Seketika, sebuah mata violet mengunci pandangannya diseberang sana. Ada sebuah serigai bangga yang menghiasi wajah tampan mahluk itu.
"Halo, Sasu-chan~" suaranya merayu, dibarengi dengan serigai yang makin lebar saat lelaki itu mengetahui dirinya membola ketakutan, terlihat amat menjijikkan dimata hitamnya. "Bukankah mainanku ini sangat cantik, hmm?"
Pemuda ringkih dalam kekangan tali itu-Uchiha Sasuke, memojokkan dirinya pada tembok dingin dibelakang punggungnya, tepat saat mata hitamnya menangkap apa yang ada dalam genggaman tangan bersurai coklat panjang itu.
Seorang wanita, dengan baju terkoyak serta luka sayatan pada tiap jengkal kulit mulusnya, terkeculai dengan wajah ayunya. Darah yang mengalir keluar, membuat wanita itu nampak tengah bermandikan darah segar.
Lakban hitam menutup hampir keseluruhan wajah wanita itu, menutup rapat celah bibirnya. Membuat sang empu hanya bisa mengerang dengan gumaman, serta menjerit dalam kebisuan.
Lelaki itu kembali menyeret tubuh wanita itu semakin mendekat pada jangkauannya.
"Benar-benar cantik, bukan? Ini adalah karya seni tinggi, kau tahu." ujar lelaki itu, setelah menghentikan langkahnya beberapa meter didepan Sasuke.
Sasuke menggelengkan kepalanya kekanan-kiri, menolak mentah-mentah apa yang diucapkan bibir merah lelaki itu.
"Hoo.. kau menolak perkataanku, hmm?" Mata violet itu meyipit tajam, membuat Sasuke semakin menciut ketakutan. Air mata tumpah ruah dari sepasang mata hitam indahnya. "Bagaimana jika mainan ini ku ubah lagi, sehingga kau mau mengakui jika karya merupakan seni yang sangat indah dan-cantik." ia membanting tubuh wanita ringkih itu dihadapannya.
"-khh-" Wanita itu mengerang kesakitan.
Sasuke meronta kuat dari kekangan temali itu. Ia berharap tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya mengendur-walau hanya sedikit saja, supaya ia bisa menggerakkan tangannya dengan bebas. Ia akan melepaskan tali yang mengekang tubuhnya, dan berlari pergi meninggalkan pria gila bermuka psikopat itu.
Langkah pria itu mendekat, lalu berjongkok tepat didepannya. Ia tersenyum, namun Sasuke tahu jika senyuman itu tidak sampai ke mata. Imaji belaka. Sasuke semakin meronta, membuatnya kembali merasakan perih di beberapa kulitnya yang memerah karena tergesek tali bertekstur kasar. "Mau kabur, hmm? Tak akan bisa, sayangku. Sampai kau melahirkan keturunanku, aku tak akan pernah membiarkanmu kabur begitu saja. Jikapun itu telah terjadi, aku tak akan segan membunuhmu, sayang."
Pria itu berkata, yang sama sekali tidak dimengerti oleh Sasuke. Ia memang ingin kabur, tapi apa hubungannya dengan melahirkan keturuannya? Pria itu tidak buta bukan. Walau tubuhnya kecil menyerupai seorang gadis perawan, Sasuke itu laki-laki perj-oh, lupakan itu. Sasuke sudah tidak perjaka.
"Hmph!" Sasuke mengerang keras, berharap dengan begitu pria itu berbaik hati melepas lakban yang membungkam celah bibirnya.
Dan berhasil. Pria itu bergerak melepas lakban hitam, dengan kehati-hatian tinggi.
"Ku-kumohon.. lepaskan aku." rintih Sasuke dengan suara tercekat.
Pria itu berserigai, lalu tertawa keras hingga terbahak. Suaranya yang berat menggema dalam ruangan kedap suara tersebut. Jemari besar itu mencengkeram dagunya, lalu memajukan wajahnya hingga kedua mata mereka bertatap dalam jarak tidak lebih dari satu per sepuluh meter. "Melepaskanmu, ya?" tawa itu terhenti, terganti dengan serigai merendahkan. "Nanti saja, ya. Setelah kau melahirkan ketujuh anakku."
"A-aku bukan gadis. Nikahi saja wanita lain dan buat anak sebanyak yang kau mau." suaranya menyerupai cicitan binatang yang terbuang.
"Hmm?" Alis coklat pria itu terangkat naik. "Kau itu istimewa." katanya.
"Ti-tidak."
"Ya, Sasuke. Kaulah satu-satunya. Turuti keinginanku, dan aku akan berbaik hati melepaskanmu-jika urusanku sudah selesai. Sekarang mari kita melakukan ritualnya." Dia mendekat, menjilat penuh hasrat leher jenjang Sasuke.
"Ti-tidak-ah, nghh.. Aku adalah ..ng-ah, a-aku. Dan sampai matipun, a-aku tak akan pernah menuruti keinginanmu. Hhh.. ah-!" Sasuke berujar terbata, mencoba untuk tak gentar.
Lidah panas itu berhenti menjilat dan menyedot lehernya. "Jadi kau lebih ingin mati daripada kusetubuhi?"
"Mati saja, sana!" Sasuke mendorong pria itu dengan lutut kakinya yang terikat tali. Pria itu tak siap, kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk dari posisi jongkoknya. Itu tidak sakit, sungguh.
Tapi pria itu merasa sangat marah. "Sialan, kau, dasar jalang." Ia mengumpat kasar dan bangkit berdiri. Mata violet itu menatap dingin pada Sasuke dibawahnya.
Pria itu ingin sekali mengoyak tubuh ringkih pemuda itu. Mengoyak daging lezat dengan gigi taring tajamnya, menguyah bagaikan buah stroberry segar kesukaan teman seksnya tiap waktu. Tapi itu sangat mustahil-untuk saat ini. Tubuh pemuda itu terlalu penting, untuk mengandung dan melahirkan keturunannya nanti. Bayi-bayi yang nanti akan memiliki keistimewaan sama dengan pengandungnya. Sempurna luar biasa.
Pria itu tidak boleh menyia-nyiakan barang istimewa itu, apalagi merusaknya.
"Tch!"
Pria itu mundur, menghampiri tubuh ringkih wanita itu. Ia Berjongkok dibelakangnya dan menjambak rambutnya dengan sangat kasar. "Jika mati adalah pilihanmu, Sasuke sayang~ aku akan dengan senang hati menunjukkan kematian yang sempurna-dengan tubuh wanita ini sebagai peraganya."
Deg!
Jantung Sasuke terasa berhenti berdetak saat kalimat itu terrucap. Manik hitamnya membola, "A-a..", dan ia tak sanggup hanya untuk mengeluarkan sepatah kata.
Ia dapat melihat tangan berbalut kemeja putih polos milik pria itu merogoh saku belakang celana panjang yang dikenakannya. Dari sana, sebuah benda logam yang berkilat karena cahaya, digenggam erat hingga buku-bukunya yang mengandung darah panas memutih.
Satu kali goresan dalam, logam tajam yang dinamai-belati, hampir menyembelih mati.
Mata wanita itu membesar, seakan ingin meloncat keluar. Ia melengguh seperti sapi kurban, diatas altar dengan leher putus berlumur darah segar. Jika saja lakban hitam yang menutup mulutnya tidak ada, pasti ada lidah berbintil yang terjulur dicelah bibirnya.
Darah segar muncrat seperti air terjun dari kerongkongannya, mengotori lantai marmer putih deras hingga sebagian memercik ke wajah Sasuke.
Perut Sasuke bergejolak hebat, seolah ada tali besar tak kasat mata yang melilit perut datarnya. Ia memejamkan matanya erat, berharap pemandangan itu tidak pernah dilihatnya. Ia berharap bisa melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Melihat bagaimana seorang manusia yang disembelih secara keji. Sungguh tidak manusiawi.
Dan berapa kalipun Sasuke mencoba menutup matanya, ia tetap tak bisa.
Tangan besar yang berlumur darah pria itu dibawa menuju mulutnya sendiri, yang kemudian dijilat intens oleh sang empu. "Hmm.." ia mendesah nikmat, meresapi bagaimana darah segar itu memanja indera perasanya. "-nikmat."
Bleh.
Tak tanggung, Sasuke tak lagi kuat. Cairan lambungnya mendesak keluar melihat tindakan pria itu. Cairan bening yang kental, keluar begitu saja. Membasahi kain pakaiannya.
Cairan meleleh melewati dagu Sasuke, disertai dengan pandangan sayu minta di-anu.
Pria bersurai coklat dan bermanik violet menjilat bibir bawahnya, merasa sangat lapar. Ia ingin menafsui Sasuke saat ini juga. Tak tahan melihat wajah cantik sempurna milik Sasuke, pria itu melompat maju. "Oh, aku ingin menusukmu saat ini juga, Sasuke sayang~" Seketika telah menubrukkan bibirnya yang berlumur darah pada bibir mungil Sasuke yang berlumur saliva kental. Gigi taring milik pria itu membentur bibir Sasuke, membuat bibirnya terkoyak dan berdarah.
Tangannya terikat, tak bisa menghindar dari sergapan sang predator buas. Sasuke mengerang kesakitan.
Namun, tindakannya yang membuka bibir hendak berteriak adalah satu langkah salah. Karena pada detik selanjutnya lidah panas pria itu membobol maju, mengobrak-abrik rongga mulutnya hingga ia merasa perutnya kembali melilit sakit.
Sasuke mengerang jijik diantara tangisnya.
Bleh.
Sekali lagi, cairan lambungnya keluar dengan derasnya. Dirasakannya pria itu memutuskan cumbuannya lalu berdecih kesal.
Namun tampaknya, hal itu sama sekali tidak mengurangi intensitas keinginan pria itu untuk menafsui tubuhnya. Sasuke bisa mengetahuinya karena pria itu melepaskan cumbuannya, hanya untuk merendahkan kepala dan bergantian mencumbu leher dan bahunya.
Gigitan-gigitan kecil-yang pastinya meninggalkan bekas kemerahan nantinya, diberikan oleh pria itu membuat Sasuke mendesah tanpa sadar. Sasuke sungguh merasa jijik ada dirinya sendiri.
Air mata semakin tumpah ruah dari manik indahnya. Dalam batinnya ia bertanya-tanya. Kenapa hidup ini begitu kejam? Sejak kecil ia dijauhi teman karena ia buruk rupa. Sering ditinggal sendirian oleh kesibukan anggota keluarganya masing-masing. Sasuke merasa kesepian. Baru beberapa waktu yang lalu ia sempat merasa senang oleh kehadiran Naruto-walau ia sedikit berbeda, atau jauh berbeda, mungkin? Kini semuanya direnggut oleh pria gila yang tidak dikenalnya. Menggembar-gemborkan tentang keistimewaannya serta keturunan pria itu yang akan dikandung dan dilahirkannya. Dan sekarang, pria itu berkata ingin menyodoknya.
Apa salahnya?
Srak.
Suara robekan kain itu membuat Sasuke tersentak dari fikirannya. Ia melotot pada pria itu yang dengan kejinya merobek baju pemberian dari Naruto.
Pria itu membalas dengan serigai keji.
Ia kembali menunduk hendak mengecap kulit lembut Sasuke di bagian perut, namun terhalang kerena kedua tangan Sasuke diikat satu didepan perutnya.
Lagi, pria itu mengumpat kesal.
.
.
.
.
.
.
Naruto berdecih kesal saat para binatang itu menyerangnya dari segala sisi.
Menghindar, melompat lalu menyayat.
Hal yang dilakukannya kepada shapeshifter dengan bentuk serigala mereka.
Mereka telah dibunuh Naruto tanpa terkecuali. Akan tetapi banyaknya para mahluk Shapshifter itu sedikit menyulitkan Naruto dalam bergerak bebas. Mereka banyak, menerjang dari segala sisi tubuhnya.
Ini tidak akan ada habisnya. Batin Naruto gamang. Jika hal ini tetap dibiarkan, Sasuke bisa dimakan habis oleh si brengsek Hyuuga Neji yang merupakan bos dari para shapeshifter yang saat ini dilawannya. Bos shapeshifter dengan bentuk serigala. Dan pada akhirnya, Sasuke tidak akan pernah menjadi miliknya seutuhnya.
"Yo, Naruto!" seruan dari baritone yang sangat familiar ditelinga Naruto, membuatnya menoleh menuju sumber suara.
Naruto mendesah lega saat dilihatnya dua sosok keluarganya bergerak cepat menuju kearahnya. "Kyuubi, Itachi."
Namikaze Kyuubi, seorang pemuda tampan dengan bersurai merah dan bermanik merah, merupakan kakak kandungnya. Sedangkan disisinya, Uchiha Itachi-atau mungkin telah berganti menjadi Namikaze Itachi, seorang pemuda manis bersurai dan bermanik hitam, dengan postur tubuh tinggi, namun memiliki tubuh kecil proporsional-seksi istilahnya, merupakan mates dari kakaknya. Mereka berdua sama seperti Naruto-yaitu vampire, tentu saja.
"Dimana adikku, Naruto?" tanya Itachi dengan raut wajah khawatir.
"Aku belum menemukannya." Naruto menggertakkan giginya. "Bedebah ini menghalangi jalanku-Minggir saja, sialan!" Kakinya dengan cekatan menendang serigala besar yang hendak menerjang dirinya dari arah samping. "Sasuke dalam bahaya."
Rahang Kyuubi dan Itachi mengeras. "Jika begitu, serahkan mereka pada kami. Kau carilah dan selamatkan Sasuke." kata Kyuubi geram. Ia melampiaskan kemarahannya dengan mencakar perut salah satu serigala yang menyerangnya hingga isi perutnya disertai darah segar muncrat mengotori pakaian dan tubuhnya.
Memandang mereka selama bebera detik, mau tak mau Naruto menggaguk cepat. "Baiklah, kuserahkan mereka kepada kalian." Ujar Naruto, yang sedetik kemudian menghilang dengan sekelebat bayangan hitam.
Bangunan itu begitu besar, dengan banyak lorong bercabang. Naruto mengikuti instingnya , mengikuti kemanapun aroma tubuh Sasuke-nya. "Kau ada dimana, sayang?" bisik Sasuke.
Disaat manik merahnya tertuju pada darah bercecer dilantai, Naruto mempunyai firasat tentang ini. Dengan gerakan cepat, Naruto mengikuti kemana darah itu bertuju.
Semakin ia melangkah, Naruto bisa dengan mudah membau aroma manis Sasuke-nya. Maka ketika dirinya sampai disebuah pintu besi yang dikunci dari dalam, Naruto sungguh tidak tahan untuk tidak membiarkan tubuh kerasnya mengancurnya besi beton itu.
Brak!
Ruangan itu sungguh terang, berbau pengap kurang udara, aroma darah yang bercecer dimana-mana, ditambah bau seks, serta beraroma manis Sasuke-nya. A-apa? Kenapa aku membau aroma seks?
Mata biru Naruto bergerak liar kesana-kemari, mencari sosok yang dicari.
Naruto menahan nafas-walau vampire tidak seharusnya membutuhkan nafas, saat manik merahnya mendapati pemandangan di depan sana.
Seks, itu memang benar. Naruto tidak salah. Yang dibauinya adalah sperma, tapi milik Sasuke-nya seorang. Tidak ada aroma precum ataupun sperma dari laki-laki lain.
Tapi, bukan itu yang membuatnya menahas nafas. Ini lebih mengerikan;
Ia melihat bagaimana sosok Sasuke yang sebenarnya. Mahluk langka yang seharusnya telah punah bertahun-tahun lalu.
Dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, tubuh bermandikan darah Sasuke-nya, tengah duduk bersimpuh disebelah tubuh tak utuh yang berlumur darah milik Hyuga Neji. Pria itu telah mati.
Di kedua tangan Sasuke, ia menggenggam erat sebuah belati tajam. Tangannya terayun ke atas dan kebawah, menusuk tubuh kaku berlumur darah milik Hyuga Neji menggunakan belati itu.
Manik yang seharusnya hitam itu kini sewarna merah darah-sama seperti miliknya saat ini, tangah menatap penuh benci pada tubuh yang tak lagi utuh milik Hyuga Neji. Alat geraknya bahkan tak lagi menempel dari badan utama. Serta isi perut yang telah berhamburan dengan usus yang menjulur keluar. Organ dalamnya terpecah belah. Menjijikkan.
"Sasuke,"
Sasuke terperanjat berdiri, melepaskan belati dalam genggamannya secara refleks. Terdengar suara -prang- keras saat logam penuh darah itu membentur permukaan lantai marmer.
Manik yang telah kembali berwarna hitam menatap manik merah Naruto didepan sana. "Na-naru-" Ia melangkah mundur hingga punggungnya berbentur dengan tembok dingin.
Ia merosot, dan Sasuke jatuh terduduk.
Ia menatap nanar pada kedua tangannya serta tubuhnya yang berlumur darah segar. Lalu bergantian menatap manik merah merah Naruto-nya. "Na-naru.. a-a-aku.." tubuhnya bergetar hebat, maniknya kembali menumpahkan cairan hangat. Sasuke sungguh tidak percaya jika dirinya telah melakukan tindakan keji macam ini. "..-bunuh. A-aku pembu-nuh..?"
Tidak tega dengan apa yang dialami oleh pengantinnya, Naruto dengan gerakan cahaya berlari memeluk tubuh ringkihnya. Menenggelamkan tubuh polos berlumur darah itu kedalam pelukannya.
"Shh-tenanglah Sasuke. Semuanya pasti akan baik-baik saja." ujar Naruto, berusaha menenangkannya.
Dan Sasuke hanya bisa menangis keras, meraung dalam dekapan aman pengantinnya.
Benar-benar, mahluk berperasaan tidak stabil, bukan?
Dialah seorang-Beast. Satu-satunya mahluk langka yang masih ada.
.
.
.
-tbc.
.
.
.
WTH?! Apa yang sudah saya tulis ini?!
.
Maafkan saya karena sudah lama tidak update!
Saya bukan tidak mau lanjut, tapi karena feel menulisnya belum dapat.
Ini nulisnya hanya butuh waktu kurang dari sehari, sih, sebenarnya. Maaf jika tidak panjang. Dan feel-nya kurang.
Saya ingin ini cepat selesai, dimana dua atau tiga chapter lagi, fic ini akan tamat, kok. Hehe #nyengirkuda
.
.
.
Note1
Pembagian mahluk hidup, menurut tingkatnya;
1. Vampire, terbagi menjadi dua yaitu vampire bangsawan dan vampire rendahan.
2. Shapeshifter, ada banyak bentuknya(menyerupai hewan), misal; serigala, ular, dan lain-lain.
3. Moonoe(mahluk suci)
4. Beast, mahluk berperasaan tidak stabil, dimana ia memiliki perasaan yang sensitive, tapi pada dasarnya, beast hanyalah mahluk lemah. Memiliki keistimewaan berupa kesempurnaan, serta kekuatan magis berupa; dapat berinteraksi dengan alam(hewan maupun tumbuhan).
Untuk lebih jelasnya akan dijabarkan di chpater depan.
5. Manusia.
.
.
.
Note2
Saya suka Itachi uke, apalagi jika semenya Kyuubi. Happy KyuIta!
.
.
.
Note3
Saya menggarap fic baru, judulnya: Breakdown.
Summ; Sasuke itu omega sempurna. Dan dia adalah seorang calon pendamping raja.
Seperti saya yang biasa, rate-m, dengan pair NaruSasu(always). Bedanya, kali ini saya tambah dengan genre Fantasy, dan dengan setting Alpha/Beta/Omega, AU! Saya mau buat suasana baru.
Mpreg pastinya.
.
.
21 September 2015
Mind to review, please?
