Marry The Night

.

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPOS, DLL…

Genre : Drama, Romance, Hurt/comfort, Crime, dll...

.

# # # # #

Mimpi Buruk

.

Hinata melihat keadaan restoran keluarganya hancur.

Restoran mungil yang menjadi satu dengan rumahnya kini berantakan dengan piring pecah dimana-mana serta perabotan yang hancur bertebaran. Lavendernya dengan cepat melirik ke beberapa pria yang memakai jas berwarna hitam dan kacamata hitam sedang menodongkan pistol pada kepala kedua orangtuanya.

Apa yang terjadi?

"Ah, kau pasti Hyuuga Hinata?"

Seorang pria yang tak jauh darinya, bertanya padanya dengan ekspresi malas dan tidak tertarik untuk bertanya. Namun keterpaksaan membuat pria itu harus memastikan.

"Y-ya… ada apa ini? Siapa kalian?!"

BRAK!

Tiba-tiba saja tubuhnya didorong dengan kuat hingga menabrak dinding di belakangnya dengan sebuah tangan mencengkram kuat leher mungilnya. Dengan susah payah, Hinata berusaha untuk memberontak meskipun mustahil. Tangan pria itu sama sekali tidak bergerak dari lehernya.

Tenaga seorang wanita tidak pernah mengalahkan pria.

"Diam dan putuskan," ujar pria itu menunjuk kedua orangtuanya. "Ikut kami atau mereka mati."

Jantung Hinata seakan berhenti mendadak.

Ia harus memutuskan dua pilihan yang tidak diinginkannya. Seakan ia mengerti maksud pria berambut hitam diikat ke atas itu, bahwa ia akan menjadi tawanan pengganti orangtuanya. Tapi, apa yang terjadi?

"S-sebenarnya… ada apa ini?" tanya Hinata parau, menahan rasa sesak di dadanya

Seingatnya, mereka baik-baik saja sebelum ia berpamitan untuk pergi berbelanja bahan dapur. Tetapi saat ia pulang dan menemukan pintu restoran keluarganya rusak, ia menemukan mimpi buruk di baliknya.

"Kau tidak perlu tahu! Sekarang, putuskan sebelum aku kehilangan kesabaran!"

Lavender Hinata melirik kedua orangtuanya yang juga menatapnya dengan rasa penyesalan yang tidak dapat dikatakan. Ia memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi jika ia bisa menyelamatkan kedua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya, ia akan melakukannya.

Airmata mengalir dari matanya, berharap jika keputusannya dapat menolong kedua orangtuanya yang sudah membesarkannya dan melindunginya selama ini.

"A-aku akan ikut denganmu."

Senyuman kepuasan terpancar di wajah pria itu kemudian melepas Hinata yang jatuh terbatuk karena cengkraman pada lehernya. Ia menatap kedua orangtuanya yang masih terduduk dengan tangan diikat dan mulut disumpal.

Airmatanya semakin deras melihat hal itu. Ia tahu, ini akan menjadi menit terakhir ia melihat kedua orangtuanya.

"Berdiri," perintah pria itu lagi

"T-tunggu," Hinata berkata. "Aku ingin… mengucapkan selamat tinggal pada mereka."

Pria itu berdecak, "Cepatlah!"

Hinata langsung berlari ke tempat orangtuanya, melepaskan sumpalan di mulut mereka dan memeluk keduanya dengan airmata masih membasahi wajahnya. Ia harus mengingat harum tubuh mereka. Mengingat kehangatan dan tubuh mereka yang tidak akan pernah ia bisa rasakan lagi.

"Maafkan kami, Hinata… " bisik sang Ayah menangis

"Kami menyesal… Maafkan kami… " kali ini bisikan tersedu sang ibu

"Jaga diri kalian baik-baik… setelah ini," ujar Hinata mencium kedua pipi mereka

"Kami pasti akan menemukan cara untuk membawamu kembali," ucap sang Ayah menatap kedua lavender putrinya

Hinata mau tidak mau tersenyum,"Terima kasih. Aku pasti akan menunggu kalian… "

"Kami menyayangimu… Hinata," ujar sang ibu

Hinata mengangguk, "Aku juga sayang pada kalian."

"Waktu habis! Ikut dengan kami sekarang!"

Tanpa berbelas kasih, salah satu pria berjas hitam menyeret Hinata dari kedua orangtuanya tanpa mempedulikan gadis itu harus terbentur oleh salah satu perabotan yang rusak. Saat ia berhasil berdiri, ia menoleh pada kedua orangtuanya sekali lagi.

Sebelum pintu restoran yang sudah rusak itu tertutup dan membawanya pada sebuah mobil berwarna hitam yang tidak ia ketahui.

.

"Aku membawanya."

Safir itu menoleh saat menyadari seorang pria membawa karung besar di sampingnya. Ia tahu apa isi karung itu, membuatnya tersenyum dan meletakkan pistol yang sedang ia bersihkan dengan teliti.

"Bagaimana suasananya?" tanyanya

Pria berambut hitam dikuncir itu menghela nafas,"Kacau. Merepotkan sekali, terlebih dengan semua drama itu."

"Bukankah menyenangkan melihat drama secara langsung?" ujar pria bermata safir itu terkikik

Srek srek srek

Keduanya melirik karung besar yang bergerak-gerak di lantai, seolah meminta untuk diperhatikan. Pria bermata safir itu berjalan mendekati karung itu dan berjongkok disampingnya sebelum ia melepaskan ikatan pada karung tersebut.

Rambut biru gelap lah yang pertama ia lihat muncul dari karung tersebut, membuatnya merasa penasaran dan mengangkat kepala sang pemilik rambut biru gelap itu.

"Aaah, benar. Dia cantik sekali."

Hinata membulatkan lavendernya saat melihat seorang pria bermata safir dan berambut pirang sedang tersenyum melihatnya. Bahkan yang lebih ia cemaskan adalah, dimana dia saat ini?

Seingatnya, setelah masuk ke dalam mobil asing dengan pria berkuncir tadi, tiba-tiba saja mulutnya disumpal dengan kaki dan tangan diikat kemudian dimasukkan ke dalam karung besar.

Pria bermata safir itu mengambil sumpalan di mulut Hinata,"Aku Uzumaki Naruto. Kau Hyuuga Hinata, putri si brengsek yang sudah meminjam uangku tapi tidak dikembalikan, bukan?"

Lavender Hinata membulat lagi.

Orangtuanya meminjam uang pada mereka? Dan tidak dikembalikan?

"Melihat ekspresimu… sepertinya kau tidak tahu?"

Hinata mengangguk,"Y-ya… aku tidak tahu tentang itu… "

Naruto mangut-mangut mengerti,"Baiklah baiklah. Soal itu sudah lewat. Aku akan mendapatkan uangku kembali."

"B-bagaimana kau mendapatkan-"

"Dengan menjualmu tentu saja!" potong Naruto kemudian memicingkan mata. "Kau masih perawan, bukan?"

Mendengar pertanyaan yang sangat pribadi, wajah Hinata memerah. "A-apa?"

Naruto mengangkat alisnya,"Yap. Sudah pasti kau masih perawan. Aku yakin uangku akan kembali-"

"T-tunggu!" Hinata berkata dengan panik. "Bagaimana kalau aku membayarnya dengan bekerja? Kau tidak perlu menjualku seperti ini!"

Suara tawa terdengar dari sisi Hinata, membuat gadis itu menoleh. Pria yang membawa paksa dirinya sedang menertawakannya!

"Hahaha, kau lucu sekali. Enam ratus juta yen bisa kau kembalikan dengan dengan bekerja biasa? Bahkan sampai seumur hidup sekalipun tidak akan."

Jantung Hinata berhenti berdetak selama sedetik saat mendengar angka yang disebutkan oleh pria itu. Enam ratus juta yen?! Untuk apa orangtuanya meminjam uang hingga ratusan juta?

Tubuh Hinata bergetar ketakutan.

Pria itu benar, ia tidak akan bisa mengembalikannya dengan bekerja biasa. Ia pasti akan dijual oleh seseorang yang akan menjadikannya mayat atau budak. Seperti yang biasa ia dengar dari berita atau drama, keadaan seperti itulah yang sedang terjadi padanya.

"Kau jahil sekali, Shikamaru. Tidak perlu disebutkan angkanya karena aku akan menjual gadis ini dua kali lipat," ujar Naruto

"Ya, hitung-hitung agar gadis ini mengerti."

Ia sudah mengerti sekarang. Dan ia ingin bunuh diri karenanya.

Safir Naruto melirik Hinata yang masih berada di dalam karung, terduduk lemas dengan ekspresi kosong. Wajar saja, gadis itu masih berumur dua pulh tahun dan hanya dalam satu jam kehidupan normalnya direngut.

"Hey," Naruto kembali berjongkok. "Aku memang bukan orang yang baik, tapi juga bukan orang yang kejam."

Hinata menoleh tidak mengerti.

"Jadi aku memberimu pilihan."

"Bos?" Shikamaru berkata dengan firasat buruk

Tangan Naruto bergerak menuju dagu Hinata, memaksanya untuk menatap lurus pada kedua safirnya. "Aku hanya memberimu sekali kesempatan. Jadi terserah kau mau memilih yang mana."

Hinata menelan ludah.

"Pilihannya… Kau kujual pada pria hidung belang diluar sana melalui perlelangan bawah tanahku atau kau menjadi milikku dan tidak pernah melihat dunia. Pilih salah satu."

Dijual atau dimiliki.

Dalam satu hari, ia harus memilih diantara dua pilihan sulit yang tidak akan bisa ia bayangkan. Pertama ia harus melindungi orangtuanya dan sekarang ia harus melindungi dirinya dari pria lain. Tapi yang manapun pilihan itu, ia tetap harus dimiliki.

Hanya saja, dijual pada pria yang mungkin lebih parah atau pria yang merengut kehidupannya yang akan ia pilih?

"Waktumu lima detik," ujar Naruto kemudian mulai menghitung

"Satu… "

Hinata memutar matanya berpikir.

"Dua… "

Ia tidak ingin dijual. Jika dijual, bagaimana orangtuanya menemukannya?

"Tiga… "

Dan jika ia dimiliki oleh pria ini, orangtuanya pasti tahu tempat pria bernama Naruto ini.

"Empat… "

Ya, ia tahu pilihannya. Meski pengorbanan untuk itu besar.

"Lima. Jadi, apa pilihanmu?"

Lavender Hinata membalas safir di depannya. Ia sudah memantapkan pilihannya. Dan ia tidak akan menyesal akan itu.

"Aku memilih… menjadi milikmu."

# # # # #

Disinilah ia berada.

Setelah menetapkan pilihannya, pria bermata bagaikan laut itu langsung tersenyum padanya kemudian mengirimkannya pada sebuah kamar yang dua kali lipat besarnya dari kamar di rumahnya. Bahkan kemewahan yang dimiliki kamar tersebut sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Tempat tidur Queen size dengan tirai, dua lemari besar dengan ukiran, kamar mandi besar dengan jacuzzi dan meja rias yang indah besar. Bukan hanya itu, kamarnya memiliki dua jendela besar yang terhubung ke sebuah balkon.

Wanita mana yang tidak memimpikan kamar seperti itu?

"Kau suka?"

Hinata langsung berbalik mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Naruto berdiri di belakangnya dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Kemeja putih, rompi hitam bergaris dan celana hitam.

Bukan hanya itu, ada dua pistol yang tergantung dengan sebuah sabuk khusus di sisi tubuhnya, seakan-akan benda itu tidak pernah lepas darinya.

"Y-ya. Ini… terlalu mewah untukku," jawab Hinata

"Hey. Hey. Simpananku harus mempunyai hidup mewah karena tubuhnya bernilai enam ratus juta yen!"

Wajah Hinata memerah karena marah. Ia tidak pernah ingin hidup sebagai seorang simpanan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal selain namanya. Dan sebagai wanita, ia benci disebut sebagai simpanan.

"Ehm… aku harus memanggilmu apa?" tanya Hinata

"Naruto saja," jawabnya duduk di kasur

"Jadi… apa saja yang harus kulakukan disini?" tanyanya lagi

"Ah, benar. Aku datang kemari untuk membahasnya," ujar Naruto menarik tangan Hinata. "Duduk."

Hinata menuruti perintah Naruto untuk duduk di sebelahnya. Jantungnya berdetak keras karena ia akan mendengar apa yang harus ia lakukan disini. Mungkin inilah harga dari pengorbanannya untuk menunggu kedua orangtuanya yang berjanji akan membawanya kembali.

"Pertama, kau tidak boleh berbicara dengan siapapun kecuali aku dan Shikamaru."

Hanya tidak berbicara pada siapapun, itu tidak masalah karena ia tidak mengenal siapapun disini. Ia mengangguk mengerti.

"Kedua, kau tidak boleh keluar dari kamarmu tanpa perintahku."

Ya, baginya ini adalah penjara. Jadi tidak masalah. Ia sudah memperhitungkannya.

"Ketiga, kau harus tidur denganku kapanpun kuinginkan."

Tubuh Hinata menegang saat mendengar perintah yang ia pikir tidak akan dikeluarkan oleh pria itu. Ternyata ia salah. Meskipun ia sudah mempersiapkan mental untuk sebuah pengorbanan, tapi tetap saja mendengar dirinya akan tidur dengan seseorang yang menghancurkan hidupnya terasa sangat menyakitkan.

Naruto memperhatikan Hinata yang tidak menjawabnya, bahkan wajah cantik gadis itu memucat dengan mata kosong karena pernyataannya. Hal itu tidak membuatnya khawatir atau cemas.

Malah, ia merasa ini semua akan menarik.

"Kenapa? Bukankah menyenangkan tidur dengan pria sepertiku daripada pria yang akan menggunakanmu sebagai mainannya dengan obat-obatan?"

Hinata menoleh kaku, "A-apa maksudnya…?"

Naruto melebarkan senyumnya saat mendekatkan wajahnya pada Hinata, "Kau beruntung memilih untuk menjadi milikku. Aku tahu para pria tua brengsek yang akan membelimu dengan harga tinggi pasti akan menggunakan obat-obatan untuk mendapatkan kepuasan. Kau mengerti maksudku, hm?"

Suara Naruto sangat tenang saat mengatakannya, seakan yang ia katakan adalah sebuah nasehat untuk menyemangati seseorang yang rapuh. Namun kenyataannya, pria itu mengatakan jika dirinya harus merasa beruntung karena memilih pilihan yang tepat.

"K-kenapa… sebenarnya, siapa kau… Uzumaki Naruto?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

Hinata menatap sepasang safir yang bersinar di depannya,"K-kumohon… "

Tangan Naruto terangkat untuk menyentuh dagu Hinata,"Hmm… aku suka caramu memohon. Lakukan itu lagi."

"K-kumohon… katakan, siapa… sebenarnya kau?" tanyanya dengan suara bergetar

"Lagi."

"Siapa-"

"Mana kata memohonnya?" potong Naruto

Hinata menelan ludah, tidak sanggup untuk membalas tatapan sepasang safir di depan matanya. Bahkan ia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri di ruangan tersebut, seakan suara jantungnya berdetak bagaikan drum.

"K-kumohon… siapa sebenarnya kau, Naruto?" entah bagaimana Hinata berhasil mengeluarkan suaranya

Dan tiba-tiba saja, tubuh Hinata sudah tidak lagi dalam posisi duduk. Naruto mendorongnya dengan cepat dan mengubah posisi mereka menjadi pria itu berada di atas tubuhnya, menekan dengan kedua kakinya agar ia berada di tempat dengan salah satu tangannya menahan tangan Hinata dan tangan lainnya menahan dagunya.

Wajah Hinata memerah, ia tidak pernah berada pada posisi seperti sekarang ini. Bahkan dengan seorang pria yang pernah menjadi kekasihnya pun, ia tidak pernah seperti sekarang ini.

Dengan cepat, Hinata membuang muka dari Naruto. Ia tidak ingin memandang wajah tampan di depannya yang tersenyum seolah mempermainkan sekaligus mengejek dirinya.

Menyedihkan sekali.

"Hey," Naruto menyentuh pipi Hinata dengan lembut. "Kemana kau melihat, hm?"

Hinata tidak menjawab. Ia tidak ingin menjawab pria itu.

"Oh, tadi kau bertanya siapa aku, bukan?"

Lavender Hinata melirik dari sudut mata, menunggu jawaban dari pria itu. Namun senyuman lebarlah yang menyambutnya seiring dengan kekuatan tangan yang merebut dagunya dengan paksa untuk kembali pada posisi semula.

Kepala Naruto merendah hingga berada di sisi leher Hinata, yang bisa ia rasakan dengan hembusan nafas dari pria tersebut.

"Aku Uzumaki Naruto. Ketua mafia rubah kuning. Senang berkenalan denganmu, Hyuuga Hinata," bisik Naruto di telinga Hinata

Deg!

Pria ini… mafia?

# # # # #

Ehem.

Tema baru, pair baru dan suasana hati baruuu *banzai*

Omong-omong. Karena masih baru dengan pair ini termasuk mendalami dunia mafia lebih jauh –untuk cerita ke depan-, Risa minta saran dari kalian semua para fans NaruHina yaa!

Mind to RnR?