Sosok berjubah hitam mengangkat tangan mungilnya di hadapan pintu besar nan megah berdaun dua. Dia mengambil nafas untuk menenangkan diri sebelum mengetukkan jemarinya pada pintu yang akan mengantarkannya ke dalam ruangan di mana orang paling penting di istana itu berada. Terdengar jawaban yang mempersilakannya masuk, dan barulah sosok itu membuka pintu perlahan-lahan.

Seseorang tengah duduk pada singgasana mewah di tengah ruangan lengang tersebut, kedua kakinya menyilang dengan elegan. Tatapannya datar seperti biasa, miskin emosi. Wajahnya kian mengerikan karena di dalam kegelapan ruangan, hanya cahaya bulan yang menyinari wajahnya dari belakang. Maka, tak ingin membuat orang penting di atas singgasana itu menunggu lebih lama, sang sosok berjubah hitam berjalan cepat sepanjang karpet merah yang digelar dari ujung pintu hingga ujung ruangan lainnya di mana singgasana berada.

Sang jubah hitam berlutut dengan hormat. Dia tak berani menaikkan kepalanya, tahu bahwa dia akan bertemu dengan pandangan mengerikan dari orang penting di hadapannya yang menatapnya dengan teliti, menerobos segala macam dinding yang menutupi pikiran dan hati. Orang penting itu adalah tuannya. Rajanya. Sementara dirinya sendiri tak lebih dari salah satu pelayannya, petugas yang membawakan pesan ke hadapannya.

"Yang Mulia," Sang pembawa pesan berkata dengan tegas. "Saya datang untuk membawakan pesan penting kepada Anda."

Yang Mulia tak menjawab selama beberapa saat. Pembawa pesan berjubah tersebut merasakan tatapan meneliti pada sekujur tubuhnya. Sosok tuannya tersebut seolah sedang mencoba membaca isi pikirannya.

Dan dia meyakini, tuannya tersebut memang telah mengetahui pesan yang akan disampaikannya. Meski begitu, Yang Mulia tetap memberikan perintah untuk menjalankan tugasnya menyampaikan pesan.

"Sampaikan padaku," perintahnya dengan tenang. Sang pembawa pesan mengangguk, mendorong jauh-jauh rasa gentar menghadapi Yang Mulia untuk memenuhi perintahnya.

"Spirit terkutuk—'Ou-sama' berhasil lepas dari segel Anda."

Yang Mulia menggumam tertarik. "Dan bagaimana dia bisa bebas dengan begitu mudah?"

"Seorang manusia bernama Hinata Shouyou membebaskannya."

Untuk beberapa waktu lamanya, Yang Mulia kembali bungkam, tak ada suara apapun yang lepas dari tenggorokannya. Kali ini dia terdiam lebih lama dari sebelumnya, hingga sang pembawa pesan memberanikan diri untuk mengintip ekspresi tuannya. Betapa kagetnya dia saat itu.

Tuannya sedang menyeringai.

Saat itu juga, ketika kedua matanya mendarat pada wajah gelap Yang Mulia, dia merasakan ketakutan besar yang menancap di dalam hatinya yang paling dalam. Keringat dingin perlahan mengucur dari dahi, menurun melewati wajahnya. Waktu terasa terhenti begitu saja, segala sesuatu di dalam dirinya membeku. Suasana seisi ruangan berubah total. Aura yang semula sarat akan kewibawaan seorang bangsawan kini dicopot begitu saja, digantikan oleh aura predator yang sedang haus mangsa.

Seharusnya, dia telah terbiasa dengan hal ini. Seharusnya, dia adalah salah satu pihak yang paling hafal akan wajah haus darah Yang Mulia, bak hewan buas yang tengah mengincar mangsanya, menunggu waktu yang tepat untuk memberinya penyiksaan yang paling besar.

Namun, seberapa banyak dia dipaksa untuk menatap wajah mengerikan itu secara langsung, dia tidak akan pernah terbiasa. Dia tidak akan pernah berhasil membuang ketakutannya, lalu melambaikan tangan dan berkata, "Ah, Yang Mulia sudah biasa begini."

"Kau bisa kembali keluar sekarang," ucap Yang Mulia dengan nada rendah yang membawa berbagai macam emosi mengerikan di dalamnya. Sang pembawa pesan sekali lagi bergidik ngeri. "Aku telah mengetahui semua informasi yang akan kaubawakan, jadi tak ada gunanya kau berada di sini lebih lama lagi. Sejauh ini, aku hanya memastikan dugaanku. Shinsu Kageyama yang tiba-tiba muncul, kemunculan manusia Esper yang menolongnya… aku bisa menebaknya dari dulu."

"Ba-Baik, Yang Mulia," Sang pembawa pesan mengangguk sekali lagi dalam hormat, lalu dengan patuh beringsut keluar dari ruangan secepat yang dia bisa, agar dia segera lepas dari udara mengerikan di dalam ruangan Yang Mulia yang terasa mencekik lehernya.

Pintu besar tertutup perlahan. Di tengah keheningan yang tercipta untuk sementara waktu, terdengar suara sepatu berbahan bagus yang memijak lantai porselen ruangan dengan langkah lambat dan penuh perkiraan, disusul oleh suara tepuk tangan yang datang dari belakang singgasana.

"Wah, wah. Mengerikan seperti biasa, kau ini."

Yang Mulia melirik sosok baru di belakangnya. Seringainya yang tadi tiba-tiba menghilang, bibirnya kembali membentuk sebuah garis datar. "Kau… Sejak kapan kau pulang kemari?"

"Sejak kapan, ya?" Sosok yang berbalut kegelapan malam tersebut melengkungkan bibirnya membentuk senyuman licik. Cahaya rembulan hanya dapat menerpa sebagian rambutnya. "Bukankah itu tidak penting? Seharusnya kau lebih khawatir akan dirimu sendiri. Setelah ini, akan ada banyak rumor buruk mengenai dirimu!"

Yang Mulia tidak menjawab. Dia masih menyandarkan kepalanya pada tangannya yang terkepal.

"Aku benar, kan? Setelah 'bocah' itu bebas dari segelmu, pasti kau akan jadi bahan pembicaraan terbesar. Ada yang bicara 'Yang Mulia semakin melemah'. Ada pula yang berkomentar 'Ternyata, kekuatan mutlak milik Yang Mulia hanya omong kosong'. Ah, mungkin ada juga yang membelamu dengan 'Yang Mulia tidak mungkin membiarkan segelnya dibatalkan manusia biasa, pasti dia merencanakan sesuatu'."

Sosok itu berjalan mengelilingi singgasana Yang Mulia. Senyumannya yang terlihat menawan dan tidak berdosa sebenarnya menyimpan seribu arti gelap dan mematikan. Tidak kalah mengerikan dengan seringai Yang Mulia. "Habisnya… Yang Mulia dan kekuatannya adalah mutlak. Tidak akan ada yang pernah mengalahkanmu. Benar begitu, bukan?"

"Tutup mulutmu, Incubus sialan," kata Yang Mulia. Namun, di balik nadanya yang ketus dan tegas, dia tengah memakai seringai itu lagi. Pandangannya terarah ke depan, menerawang. "Mereka tidak mengerti apa-apa. Biarkan mereka bersenang-senang selama mereka bisa."

Sosok yang disebut oleh Yang Mulia sebagai Incubus tersebut balas menyeringai. "Oh, aku sangat menantikan berjalannya rencanamu, Yang Mulia."

Kombinasi ekspresi licik dari dua sosok tersebut merupakan pertanda buruk.


EDGE

KageHina

Haikyuu! © Furudate Haruichi

.

.

Chapter 2: Feeding

.

.


"Hei, Kageyama~! Kita mau ke mana?"

Hinata bertanya untuk kesekian kalinya. Dan sama seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, dia hanya dijawab dengan decakan lidah dan bukan kata-kata yang bisa mencerahkan rasa penasarannya. Dengan memanyunkan bibirnya, Hinata akhirnya memilih untuk bungkam sambil sesekali meluncurkan omelan kepada sang spirit yang sedari tadi mendiamkannya. Kini, dia lebih memilih untuk mengamati tempat di sekitar mereka.

Kedua matanya sedikit melebar senang, dia mengenali tempat itu. "Ooh, ini kan jalan yang kuambil kalau aku mau beli bakpao daging di tokonya Ukai-san!"

Setiap sore, Hinata selalu pulang dari sekolah dan latihan voli dengan energi terkuras dan perut keroncongan. Karenanya, dia menyempatkan diri untuk mampir membeli bakpao daging di Toko Sakanoshita, yang tidak lain adalah milik seorang pria sangar bernama Ukai Keishin. Lama-lama, dia memutuskan bahwa dirinya menyukai rasa bakpao daging dari toko tersebut di lidahnya, dan tanpa disadari, muncul kebiasaan untuk mampir di toko kecil itu setiap sore.

Makanya, dia tak asing dengan jalan yang saat ini mereka lalui.

"Memang toko itu yang jadi tujuan kita," Suara Kageyama membuyarkan lamunannya. Kepala hitamnya menoleh ke belakang untuk menatap Hinata dengan jengkel.

"E-Eh!? Serius?" Hinata membuka mulutnya lebar-lebar, lalu melompat ke hadapan Kageyama. "Untuk apa kau di sana? Mau beli bakpao daging? Belikan aku juga!" Hinata meminta sambil terus berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kageyama. Dengan kondisi perut keroncongan dan tubuh lemas, dia sangat tergiur akan bayangan bakpao daging dan aromanya yang lezat.

Kageyama membuat wajah tidak suka. Terlalu dekat. Perempatan imajiner muncul pada sudut dahinya. Dia mengambil satu langkah mundur dan mendorong wajah Hinata dengan telapak tangannya yang besar. "Bukan! Toko itu sudah tutup kalau malam!"

Hinata mengerang sebal sebelum menyingkirkan tangan Kageyama dari wajahnya. "Kalau sudah tutup, kenapa kau mau ke sana?"

Tidak begitu masalah bagi Hinata jika memang tujuan mereka adalah tempat itu, berhubung dia cukup mengenal pemilik tokonya sendiri, tetapi dia tidak mengerti alasan Kageyama—seorang spirit—pergi ke Toko Sakanoshita. Melihat Toko Sakanoshita yang hanya menyediakan barang-barang berupa kebutuhan manusia, dia sangat meragukan Kageyama akan membutuhkan sesuatu di sana sebagai pembeli.

Mungkin… satu-satunya kemungkinan adalah dia mempunyai urusan dengan Ukai.

Lantas, urusan apa?

"…Kau akan tahu setelah sampai," Kageyama mengeluarkan jawaban yang sangat tidak membantu, membuat rengutan Hinata semakin dalam. Pada akhirnya, dia memilih untuk diam dan menurut. Percuma saja terus bersuara jika Kageyama mendiamkannya. Di hari lain, mungkin dia masih akan mau berbicara, tapi hari ini energinya terkuras habis setelah pertarungan tadi.

Padahal baru sekitar tiga puluh menit dari kejadian antara hidup dan matinya itu, tapi Hinata masih tidak dapat mempercayai bahwa semuanya—peristiwa dikejar-kejar Faul, pertarungan bersama Kageyama—adalah nyata. Otak Hinata masih menolak untuk mengakui bahwa dia benar-benar selamat dan hidup, dia benar-benar melawan Faul dan menang darinya.

Tentu saja, semua berkat Kageyama.

Meski jika dipikir-pikir, agak tidak rela rasanya untuk mengucapkan terima kasih jika Kageyama terus-terusan bersikap menyebalkan dan kejam seperti itu. Toh, untuk urusan mengucapkan terima kasih, dia akan memikirkannya nanti karena mereka sudah sampai pada tempat tujuan. Untuk seseorang yang cerewet dan suka berbicara sepertinya, pasti tidak sulit untuk sekadar mengatakan terima kasih, bukan?

Di hadapan Hinata, Kageyama menghentikan kedua kaki tanpa alasnya di depan sebuah toko minimalis dengan plat besar di atas bangunan toko yang bertuliskan "Sakanoshita", dicetak dengan huruf berukuran besar agar mudah terlihat. Bagian depan toko yang biasanya menampakkan pintu kaca kini tak nampak, ditutupi oleh tirai besi yang dipasang demi keamanan isi toko.

Tanpa berkata apapun, Kageyama memberi isyarat untuk mengajak Hinata yang tengah terbengong-bengong agar mengikutinya. Suara-suara heran Hinata yang semula sempat lenyap kembali terdengar dan Kageyama hanya bisa menahan diri untuk tidak mendamprat sang pemuda. Beruntung, sebelum dia sempat melakukannya, dia telah menemukan sebuah pintu kecil di belakang toko yang dicarinya.

Hinata memandang Kageyama dan pintu itu secara bergantian. "Kau kenal dengan Ukai-san, Kageyama?"

"Mungkin," jawab Kageyama seadanya. Mengabaikan gerutuan Hinata yang lagi-lagi dijawab tidak jelas olehnya, Kageyama memandang pintu itu dengan penuh keyakinan dan mengambil nafas sebelum mengangkat tangannya untuk menekan bel kecil yang terletak pada sisi kanan daun pintu.

Mereka menunggu beberapa saat dalam diam—bahkan Hinata yang cerewet tiba-tiba terdiam—dengan Kageyama yang mulai tanpa sadar memelototi daun pintu seolah dia akan menelannya hidup-hidup kalau pemilik rumah tak kunjung menjawab. Akhirnya, tak sampai satu menit kemudian, pintu besi yang polos itu terbuka dan menampakkan sosok pria berambut pirang jabrik dengan bandana yang menambah gaul rambutnya.

Kageyama mengangguk hormat. "Selamat malam, Ukai-san."

"…Kau kan..." Ukai memandangi Kageyama dengan kedua mata melebar. Perhatiannya lalu tersita oleh teriakan melengking yang hampir setiap sore dia dengar di dalam tokonya.

Ya, dari Hinata.

"Ukai-san!" Menyaksikan sosok yang dikenalnya—yang berkali-kali terasa jauh lebih ramah jika dibandingkan dengan Kageyama—Hinata melompat girang pada tempatnya. Akhirnya, dia bersorak di dalam hati, ada sosok yang lebih suka berbicara dibanding Kageyama.

"Hinata?" Ukai berkedip, wajahnya yang semula kaget kini berganti menjadi bingung. Tatapannya tinggal pada Hinata cukup lama, sebelum akhirnya teralih kembali pada Kageyama. "Kenapa dia juga ada di sini, Kageyama?"

"Itu…" Kageyama menggantungkan kalimatnya, mencoba untuk mengeluarkan beberapa kata yang tepat. Iris biru terpaku pada bola matahari dalam bentuk manusia berusia lima belas tahun di sampingnya yang menelengkan kepalanya dengan polos—benar, karena memang sepolos itulah sifatnya, dan karena saat ini dirinya menjadi seseorang yang tidak mengerti apa-apa di antara tiga orang itu.

"Jangan bilang," Ukai menggaruk kepalanya. "kau melibatkan dia?"

Kageyama terdiam lama, wajahnya menunjukkan ekspresi bersalah—dan dia tetap menunjukkannya, walau sebenarnya dia memiliki harga diri untuk tidak merasa bersalah terhadap orang yang dianggapnya idiot seperti Hinata—sebelum perlahan mengangguk. "Seperti itulah."

Ukai menghela nafas. "Jelaskan padaku keadaannya. Masuklah ke dalam, Kageyama," ucapnya dengan ketus, meski tidak ada tanda-tanda amarah di dalam nada suaranya. Kedua matanya berpindah pada Hinata yang merengut kebingungan. "Kau juga, Hinata."

Baru setelah Ukai melenggang masuk kembali, Kageyama mendongakkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, Hinata mendekat—melompat—pada Kageyama hingga sang spirit goyah ke samping dan hampir terjatuh kalau saja dia tidak memiliki refleks yang sangat terlatih.

"Bodoh, kau ini—"

"Kau kenal Ukai-san!" Seperti kebal terhadap tatapan mematikan Kageyama hanya dalam waktu singkat, Hinata tak lekas menutup mulutnya. "Kau lebih mengenalnya dariku, ya! Jangan-jangan kalian bekerja sama di dunia bawah tanah atau—!"

"Berisik," Kageyama mendorong Hinata menjauh tanpa menunjukkan wajah bercanda sama sekali, "Nanti kau juga tahu sendiri."

Hinata mengerucutkan bibirnya, tidak terlalu puas dengan jawaban singkat Kageyama. Memutuskan bahwa tak ada gunanya bertanya jika yang didapatnya hanyalah jawaban pendek yang semakin membingungkan, Hinata menutup mulut dan mengikuti Kageyama masuk ke dalam bagian belakang toko Ukai.

Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang tak dapat Hinata tebak isinya karena lampu yang masih padam. Beruntung, Ukai tak berniat membiarkannya berlama-lama tenggelam dalam penasaran dan segera memencet tombol lampu dengan cepat dan keras. Lampu kecil di atap ruangan berkedip sebentar dengan cahaya yang lemah sebelum akhirnya benar-benar menyala, menerangi seisi ruangan.

Saat itu, sebagian rasa ingin tahu Hinata terbebaskan. Kedua mata berwarna cokelat terbuka lebar, mulutnya ternganga, dan sorakan kagum keluar begitu saja.

"U-Uwaaa…!"

Selama dia mengunjungi toko turun temurun keluarga Ukai ini, Hinata sama sekali belum pernah menginjak bagian belakang toko. Jangankan menginjak, mengintip saja dia belum pernah. Pak tua—yah, sebenarnya tidak terlalu tua, dia masih tergolong om-om—bernama Ukai Keishin itu, calon penerus dan pengambil alih Toko Sakanoshita, selalu menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah tiap kali dirinya mampir.

Bukan semacam mengusir, tetapi lebih ke menasihati. Khawatir malah, karena dia selalu menganjurkan kepada Hinata: "Makan sayur dan daging yang banyak, jangan bakpao terus!" atau "Jangan kelelahan saat ekskul, nanti nilaimu jauh lebih bobrok!" dan yang terakhir "Jangan pulang terlalu malam, berbahaya, bocah!"

Rasanya, Ukai sudah seperti bapaknya yang nomor dua. Atau, kalau Ukai sendiri tidak terima dianggap bapak Hinata, dia masih bisa menjadi omnya Hinata.

Makanya, ketika Hinata pertama kali memasuki bagian belakang toko, dia tidak pernah mengira bahwa terdapat toko kecil lagi di sana. Benar, toko kecil yang keberadaannya disamarkan dari para pembeli biasa. Ruangan tempat Hinata berada saat itu membuktikannya. Terdapat rak-rak berisi benda-benda aneh yang tidak pernah Hinata kenali sebelumnya, setiap dari mereka memiliki label harga.

Hinata mendekati salah satu rak, mengamati sebuah barang berupa semprotan. Dia lalu mengambilnya dan menelitinya lebih lanjut. Pada label namanya, tercantum 'Parfum Anti-Spirit' dengan harga sebesar 700 yen. Pemuda berkepala oranye itu melipat keningnya, tidak mengerti untuk apa barang seperti itu dijual, lantas berpindah pada barang lain, yang sejujurnya tidak kalah aneh dari barang pertama yang dipegangnya.

Peluru anti-Faul, kacamata pendeteksi Faul, armor pelindung spirit… bahkan ada pil pemulih shinsu.

Hinata langsung menyadari sesuatu.

"Ah!" teriak Hinata, melepas perhatiannya dari rak-rak di hadapannya, dan menoleh pada Kageyama dengan wajah cerah yang menunjukkan bahwa kebingungannya yang membuatnya terasa berada di kegelapan tak berujung itu sedikit menguap. Dia baru menemukan sesuatu. "Ini… toko untuk Esper dan spirit?"

Hinata mengira sang spirit akan sekadar mengiyakan, atau mungkin memuji dugaannya yang tepat kalau Kageyama sedang merasa baik. Namun, yah, yang namanya Kageyama Tobio bukanlah spirit yang baik dan lembut. Hinata tidak benar-benar heran ketika Kageyama melemparinya dengan tatapan sinis seolah Hinata adalah orang terbodoh sedunia.

Rasanya dia sudah mulai terbiasa dengan sifat Kageyama.

"Baru sadar sekarang? Siapapun akan langsung mengerti setelah melihat isi ruangan yang seperti ini," dengus Kageyama. Hinata balas menatapnya dengan tak kalah sinis, menjulurkan lidah padanya, mengisyaratkan kalimat 'peduli amat'.

"Kalian berdua, berhenti bertingkah seperti anak kecil! Kalau kalian berisik, kaa-chan akan bangun."

Ukai yang selama beberapa saat menghilang pun kembali ke dalam ruangan. Hal pertama yang dia katakan adalah omelan khas bapak-bapak yang kewalahan mengurusi anaknya yang nakal. Kedua tangannya membawa nampan berisi tiga gelas teh panas dengan asap masih mengepul. Dia meletakkan nampan beserta gelas-gelas tersebut di atas meja pada tengah ruangan, menyuruh Kageyama dan Hinata duduk di sana.

"Eh? Ukai-obaa-chan tidak tahu kalau Ukai-san membuka toko…" Hinata memikirkan sejenak sebutan untuk toko aneh itu, dahinya mengerut tanda dia konsentrasi. "…engg, toko Esper ini?"

"Tidak. Aku meneruskan toko ini dari mendiang tou-chan, jadi hanya dia yang tahu," Pria itu mengambil tempat duduk di seberang duo manusia-spirit yang terlihat tak akur tersebut. "Ada sebuah mantra ilusi pada ruangan ini. Semua orang selain Esper tidak akan melihat ruangan ini sebagai Toko Esper. Tapi, suara apapun yang berasal dari sini akan terdengar. Makanya," Dia menatap duo yang berpotensi menjadi pembawa masalah di hadapannya dengan kesal dan lelah. "Aku minta kalian jangan berisik. Terutama kau, Kageyama, pelanggan setiaku."

Hinata melirik Kageyama dari sudut matanya dengan sebal, lalu meletakkan kedua tangannya yang terkepal di atas pangkuannya. "Yah… untuk kali ini saja, aku akan mengabaikan kalimat-kalimat bodoh Kageyama."

"Biasanya, hanya orang bodoh yang memanggil siapapun di sekitarnya bodoh."

"Apa katamu, Kageyama? Mau berantem?" Hinata memasang kuda-kuda anehnya, merasakan tangan laknat Kageyama bergerak ke depan, bersiap untuk mendarat di atas helai-helai oranye dan meremasnya kuat.

"Aku beri sepuluh detik bagi kalian berdua untuk menutup mulut," sela Ukai dengan nada mengerikan. "Atau Kageyama, aku akan menutup telingaku dari segala permintaan tolongmu, lalu menendangmu keluar dari sini selamanya dan memblokirmu dari daftar pelanggan."

Kageyama menelan ludah, terkesiap. Dia langsung duduk manis dengan kedua tangan terlipat di atas meja, posisinya seperti seorang murid yang dimarahi gurunya karena ramai sendiri di dalam kelas. Hinata tak bisa menahan dirinya untuk terkikik geli melihat Kageyama ketakutan, tetapi ketika pandangan mengerikan Ukai ganti mendarat padanya, dia juga mengalami horor yang dirasakan Kageyama dan cepat-cepat menutup mulut.

Hening sejenak.

"A-Ano," Hinata memberanikan diri untuk mengangkat suara sambil takut-takut mengintip Ukai dari balik poninya. "Ukai-san itu… sebenarnya apa?" Apakah dia seorang Esper petarung, setidaknya di masa lalu? Atau manusia biasa yang sebatas memiliki kemampuan melihat spirit? Atau malah dia adalah spirit? Sebelum hal-hal lainnya, itulah pertanyaan pertama yang mendatangi kepala Hinata.

Sejujurnya, dia cukup terkejut ketika menemukan bahwa Ukai adalah penjual barang-barang spirit, dan itu berarti dia bukan sekadar orang awam yang meneruskan nenek moyangnya memegang Toko Sakanoshita. Ukai pasti tahu betul segala sesuatu mengenai spirit, lebih dari Hinata.

Rupanya, orang terdekat Hinata adalah seorang ahli-spirit—entah dia adalah Esper profesional atau bukan—tanpa disadarinya. Masih banyak hal yang belum Hinata ketahui. Buktinya, dia bahkan tidak bisa merasakan bahwa seseorang bisa melihat spirit. Selama ini, dia menganggap Ukai adalah pria penjaga toko biasa.

"Yah… aku sama sepertimu," Ukai menggaruk belakang kepalanya. Antara tidak ingin terlalu membeberkan masalahnya dan merasa bersalah karena tak memberitahu Hinata lebih awal. "Esper. Bedanya, aku punya lisensi resmi. Itu sudah dulu sekali, jadi tidak usah dipikir. Sekarang, aku hanya menjadi penjual kecil-kecilan seperti ini."

Hinata mengeluarkan gumaman tanda dia mengerti. Sedikit terkejut dan minder karena bahkan Ukai lebih dahulu mengetahui kemampuan Esper-nya tanpa dia beritahu sebelumnya.

Ketika Hinata memutuskan untuk menyimpan pertanyaannya hingga nanti, keheningan menghinggapi seisi ruangan sekali lagi. Ukai meletakkan pandangannya pada Kageyama dan Hinata secara bergantian.

"Jadi… siapa yang akan menjelaskan semuanya kepadaku?" Tidak ada yang menjawab. Hinata karena tidak tahu apa yang harus dijelaskannya pada Ukai. Kageyama karena… entahlah. Hinata tidak dapat menebak. Wajahnya seketika berubah suram, seperti ketika Hinata pertama kali melihatnya terperangkap di dalam segel, di dalam sebuah kristal.

Ekspresi itu menyiratkan penderitaan dan trauma yang selama ini Kageyama pendam. Hinata memang masih amatir dalam banyak hal, tapi setidaknya dia bukanlah orang bodoh yang tidak peka mengenai hal semacam itu.

"Kau bisa menebaknya sendiri, Ukai-san," bisik Kageyama. Hinata yang semakin tak mengerti hanya bisa menatap Ukai dan Kageyama secara bergantian sambil mengedip sesekali.

"Kageyama," Ukai menghembuskan nafas panjang. "Aku memang tahu bahwa kau telah bebas dari segel yang mengurungmu selama dua puluh tahun lamanya… Wujudmu yang berada di hadapanku adalah bukti bahwa kau bisa bebas setelah sekian tahun." Sang pria menyisirkan jemari pada rambut pirangnya. Tatapannya menerawang. "Jujur saja, aku kaget sampai-sampai jantungku terasa ingin meledak. Jika membayangkan 'sosok itu', aku tidak akan pernah menyangka ada yang bisa menggagalkan mantranya. Ditambah lagi, itu bukanlah segel biasa. Itu adalah segel yang dibuat khusus untuk menyegelmu. Segel tersebut dibuat oleh 'sosok itu' untuk memerangkap dirimu di dalam sebuah kuil ilusi, yang tak bisa dilihat oleh manusia biasa."

Hinata manggut-manggut. Pantas saja tidak ada penghuni di dalam kuil.

Sementara itu, Ukai memancangkan pandangannya pada Hinata selama beberapa saat, tetapi pikirannya menerawang jauh, mencoba menebak-nebak alasan di balik kehadiran pemuda ceria yang hanya dianggapnya sebagai pelanggan bakpaonya tersebut.

"Mengapa Hinata bersamamu?" Ukai memindahkan kedua mata pengamatnya pada Kageyama. "Apa yang terjadi, Kageyama?"

Kageyama terdiam sejenak, mengambil nafas dalam. "Seperti yang kau lihat. Aku ada di sini," Pandangannya terfokus pada permukaan teh yang memantulkan wajahnya. "Dan itu berarti, aku telah bebas dari segel yang dibuat oleh—"

"Sosok itu," Ukai menyela. "Siapa yang tidak mengenal sosok yang membuat para Esper kewalahan itu?"

Hinata menelengkan kepalanya tidak mengerti. Tidak enak memang, menjadi satu-satunya orang yang tidak mengerti apapun. "Sosok itu… maksudnya siapa?"

"Maou*," jawab Kageyama singkat. Dilihat dari wajah murungnya, dia memiliki banyak pengalaman buruk dengan sosok hebat yang berhasil memenjarakannya di sebuah kuil dua puluh tahun yang lalu. "Dia adalah raja dari segala Faul. Semua jenis Faul yang menginjakkan kaki di dunia ini, Maou itulah yang mengatur mereka—memerintah mereka."

Hinata yang sedari tadi diam menyimak memutuskan untuk bertanya, "Kau mengenalnya, Kageyama?"

Sang spirit tak langsung menjawab. Dia masih memusatkan pandangannya ke bawah, pada permukaan air teh di hadapannya. Sebentar kemudian, dia menghela nafas, lalu mengangguk tanpa suara.

Hinata balas mengangguk. Jika Kageyama memang tidak ingin menceritakannya lebih lanjut, apa boleh buat.

"Maou adalah sosok yang menyegel Kageyama," Kali ini, Ukai turun tangan dalam menjelaskan. "Kageyama pernah melakukan… suatu kesalahan yang membuat Maou marah. Karena itulah, dia membekukan Kageyama di dalam kristal dan meletakkannya di bagian terdalam dari kuil yang tak pernah dijamah orang."

"Jadi, sebenarnya… Maou itu adalah Faul?" Hinata bertanya lagi. "Tadi, Kageyama berkata bahwa Faul adalah spirit yang jatuh dalam kegelapan… Karena kegelapan benar-benar menguasai jiwa mereka, aku mengerti bahwa mereka sama sekali tidak punya akal dan mereka tidak mau bertindak atas keinginan sendiri. Padahal, Maou ini kelihatannya sangat pintar dan kuat, jika mendengar cerita kalian."

"Di antara semua Faul, terdapat pembagian kelas dari yang terkuat hingga terlemah. Faul yang kau kalahkan bersama Kageyama merupakan kelas bawah, Hinata. Jika diibaratkan dengan sesuatu di dunia ini, pembagian Faul kelas tinggi dengan rendah bagaikan manusia dan hewan. Pokoknya, semakin tinggi kelasnya, semakin tajam pikiran dan kemampuan mereka," terang Ukai sambil sesekali menyeruput tehnya di antara penjelasan.

Hinata menyimak dalam diam, lalu kembali mengangguk setelah beberapa saat berpikir untuk menelaah penjelasan Ukai. Ukai sendiri melihat tak ada tanda-tanda Hinata akan menyela dan melanjutkan, "Dan Maou ini dikenal sebagai Faul terkuat. Kekuatan dan kecerdasannya melebihi siapapun. Mantra-mantra yang dibuatnya dikenal absolut. Mutlak, tak bisa dihilangkan. Tapi," Ukai menoleh pada Kageyama, membuat pemilik surai hitam itu mendongak perlahan. "Ada satu hal yang tidak kumengerti. Kenapa segel Maou yang terkenal sangat kuat itu bisa lepas begitu saja?"

Mata Ukai sesekali melirik Hinata, mengerti bahwa pelajar SMA tersebut ada hubungannya dengan semua ini. Melihat sifat Hinata, mungkin semuanya berawal dari keteledoran manusia berusia lima belas tahun itu.

"Hinata," Kata tersebut keluar dari mulut sang spirit dengan begitu enteng. Hinata memandangnya heran, mengira Kageyama baru saja memanggilnya. Tetapi tidak, itu adalah bagian dari penjelasannya. "Kalau kau bertanya mengapa, jawabannya adalah Hinata. Dia yang memecahkan kristal yang mengurungku."

"Serius?" Ukai membelalakkan matanya dengan rahang merosot. "Tapi, jika bicara tentang Hinata," Pria bersurai pirang itu mengibaskan tangannya di depan wajah, "dia pasti sedang terjebak dalam suatu masalah karena kecerobohannya sendiri, lalu dia tidak sengaja bertemu denganmu… Pasti begitu, kan?"

"Tepat sekali," Kageyama mengeluarkan dengusan meremehkan. Kalau saja suasana sedang tak serius, Hinata pasti telah mencubit lengan sang spirit sekeras mungkin.

"Bukan salahku, tahu!" Hinata berusaha membela diri. "Aku terpaksa pulang malam hari ini dan tiba-tiba monster itu… Faul… Makhluk mengerikan itu tiba-tiba muncul dari semak-semak. Badannya besar sekali dan cakarnya tajam-tajam. Mengerikan!" Sang pemuda memeluk dirinya sendiri dengan wajah pucat mengingat-ingat kejadian yang belum lama dialaminya. "Apalagi, kau tahu tidak? Dia datang membawa sepotong tangan! Coba bayangkan betapa mengerikannya situasi yang kualami!"

"Astaga, bocah ini," Ukai mendecakkan lidah sambil membenamkan wajah pada tangannya. "Sudah kubilang agar kau tidak pulang terlalu malam, bocah penggila voli! Aku tahu olahraga voli memang kesukaanmu, tapi jangan sampai kau pulang malam karenanya. Berapa kali aku harus mengatakannya?"

"Ta-Tapi… Rantai sepedaku copot, jadi bukan salahku…"

"Kalau saja kau pulang satu jam lebih awal, semuanya dapat diatasi, bukan?"

Hinata menyusut, kalah telak berdebat dengan Ukai, lantas takut-takut menggumamkan 'maaf' sambil menunduk penuh penyesalan. Berkat omelan Ukai baru saja, suasana menjadi sedikit canggung, menciptakan kesunyian yang cukup lama.

Kageyama adalah yang pertama memecahkannya dengan suara tenang.

"Hinata memiliki shinsu yang sangat kuat." Serentak dua kepala cerah tetapi berbeda warna memusatkan perhatiannya pada Kageyama. "Karena shinsu yang kuat itulah, banyak Faul yang tertarik untuk memangsanya. Tindakan Hinata malam ini adalah usaha untuk bunuh diri."

Hinata mengedip pelan, masih dengan wajah bersalahnya.

"Dirimu yang sekarang belum bisa mengontrol shinsu kuatmu itu, dan malah akan menarik lebih banyak Faul. Mengerti sekarang? Jangan lakukan itu lagi," Kageyama dijawab dengan anggukan pelan. Iris biru mendarat pada kepala oranye yang tertunduk dalam. Hinata menggigit bibir bawahnya tanpa berkata-kata. Rasanya aneh juga melihat Hinata yang sesaat lalu tak bisa berhenti bertanya menjadi diam seperti ini. Sangat aneh, sampai-sampai Kageyama melipat kulit di sekitar hidungnya.

"Melanjutkan cerita tadi," sambung Kageyama setelah dia mengalihkan pandangannya dari Hinata dan mengambil nafas dalam. "Dia melarikan diri hingga dirinya tiba pada sebuah kuil."

Ukai memberinya tatapan menyelidik. "Kuil itu, jangan-jangan…"

"Benar," Kageyama mengangguk. "Kuil tempat diriku disegel. Singkat kata, dia tanpa sengaja menemukan ruangan tempatku berada. Lalu, dengan sedikit… provokasi, aku berbicara di dalam kepalanya agar dia mengeluarkan shinsu-nya. Hinata menunjukkan shinsu kuatnya untuk pertama kali. Begitu kuatnya hingga kristal yang menjebakku pecah. Saat itu juga, aku bebas."

Kageyama melirik Hinata dan menemukan pemuda itu memandanginya dengan tatapan terharu. Wajahnya mengatakan 'akhirnya aku dapat bagian keren'.

"Be… Benarkah? Tapi itu… terlalu…" Ukai terbata-bata, tersandung-sandung dengan perkataannya. Jika Kageyama berada di posisi Ukai, dia juga tidak akan kalah terkejut. Bagaimanapun juga, ini adalah Maou yang mereka bicarakan. Sosok sekuat dia… mana mungkin membiarkan Kageyama lolos begitu saja, apalagi di tangan seorang bocah.

Pasti ada sesuatu yang direncanakannya. Karena Maou tak mungkin dengan mudah membiarkan mantranya kalah.

"Semudah itu kau bebas?" Ukai berhasil membuat kalimat tanya setelah terdiam cukup lama.

"Tidak. Masih belum," Kageyama melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku memang keluar dari kristal abadi buatan Maou. Tapi aku tidak benar-benar bebas. Masih ada rantai yang menjagaku untuk tidak keluar dari kuil." Dia berhenti sejenak, lalu menyeruput teh yang selama ini tak disentuhnya. Matanya melirik pada gelas di hadapan Hinata. Kondisinya sama—tidak tersentuh hingga airnya mendingin. Seserius itukah dia mendengar cerita mereka?

"Habiskan teh itu. Kalau tidak, nanti kuminum," ucap Kageyama ketus. Hinata langsung melemparkan kedua tangannya pada gelas di depannya, dengan protektif memegangnya seraya menatap Kageyama tajam.

"Jangan sentuh tehku!" sergah Hinata, kedua pipinya digembungkan tanda dia kesal.

"Kemudian…" Kageyama menyambung ceritanya sambil mengabaikan Hinata, "Satu hari sebelum menyegelku, Maou mengatakan sesuatu padaku," Sang spirit menunduk dan menekan bibirnya hingga membentuk garis lurus. "Bahwa satu-satunya cara untuk bebas adalah… membuat kontrak dengan seorang manusia."

"Kau bohong!" Ukai melebarkan kedua matanya dengan tidak percaya. Tangannya yang baru akan menghidupkan puntung rokok yang tersemat di antara dua jarinya terhenti. "Maou yang seperti itu… memberitahu caramu untuk lolos dari segelnya!?"

Kageyama mengiyakan dan membuang mukanya ke samping dengan wajah pahit. "Saat itu aku juga merasakan ada sesuatu yang salah dengan Maou. Dia seperti sedang merencanakan sesuatu. Maou yang kukenal…"

"Dia tidak akan pernah membiarkan mantra-mantranya dibatalkan oleh siapapun, bukan?" tebak Ukai. Sekali lagi, dia menjawab dengan benar dan tepat.

"Maou itu…" Hinata yang sedari tadi diam dan tenang mendengarkan mulai berani mengangkat suara. "Dia sangat mengerikan, ya? Maksudku, selama menceritakannya, kalian yang kuanggap hebat—minus Kageyama—terlihat sangat takut."

"Tunggu, apa maksudnya minus diriku, Hinata-boke!?" Kageyama menjitak kepala oranye milik sang pemuda. Hinata mengaduh keras seraya memegangi bagian kepalanya yang diperlakukan semena-mena.

"Daripada itu," ujar Ukai, mencoba mengembalikan topik. "Bukankah kau tidak bisa berkontrak dengan manusia, Kageyama? Lalu, kenapa kau bisa bebas…" Pria berambut pirang tersebut tak meneruskan kalimatnya ketika pandangannya jatuh pada sosok Hinata yang balas memandangnya dengan wajah tidak berdosa.

Dia menutup mulutnya cukup lama. Barulah setelah itu, semuanya terasa masuk akal di dalam kepalanya.

"Kageyama, dia—" Ukai tiba-tiba berdiri, jarinya menuding Hinata. "Jangan bilang alasanmu datang bersama Hinata kemari…!?"

Satu butir keringat menuruni wajah Kageyama, lalu menetes dari ujung dagu ketika kepalanya bergerak untuk mengangguk membenarkan.

"Seperti yang kau lihat. Hinata," Kageyama memejamkan kedua matanya. Kerutan di dahinya menunjukkan betapa banyaknya pikiran berat yang bertumpuk dalam kepalanya. "Dia adalah Master-ku. Kami telah membuat kontrak. Dia yang telah bersedia berkontrak denganku, dan… tak peduli berapa kali aku menolak mengakui kenyataan, tapi dia tetaplah orang yang membebaskanku."

"Ka-Kageyama…" Hinata memandang Kageyama dengan tidak percaya, sama sekali tak menyangka bahwa Kageyama yang kejam itu akan membelanya sedemikian rupa. Yah, beruntung atau tidak, memang Hinata lah sosok yang berhasil membebaskan dirinya. Namun, Hinata berpikir, justru dialah yang berhak berterima kasih pada Kageyama. Jika dia tak bertemu Kageyama, dia tidak akan hidup sampai sekarang.

Pemuda bersurai oranye itu membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu—mungkin terima kasih, atau bisa saja sanggahan yang menjelaskan bahwa dirinya hanya beruntung dan semuanya karena Kageyama ada di sana—tetapi sebelum sedikit suara pun keluar dari pita suaranya, dia disela oleh meja yang digebrak keras.

"Kau bercanda!" desis Ukai dengan wajah pucat. Hinata terlonjak kaget. Dia memandangi Ukai dengan takut. Anehnya, bukan kemarahan yang terpantul pada kedua mata Ukai, melainkan… rasa takut.

Saat itu juga, sang pemuda merasa ada yang tidak beres. Mengapa reaksi Ukai sedemikian berlebihan?

"Kau tidak bisa… tidak boleh membuat kontrak dengan manusia. Bukankah kau tahu sendiri apa akibat bagi manusia yang berkontrak denganmu, Kageyama?"

Hinata menampakkan wajah bingung. "Kageyama… tidak bisa berkontrak dengan manusia?" Kepala oranye itu menunduk, jemarinya meraba tanda kontrak yang berada pada punggung tangannya. Bukankah tanda itu adalah bukti bahwa Kageyama bisa melakukan kontrak dengan baik-baik saja?

Sebenarnya, rahasia apa mengenai Kageyama yang tidak diketahuinya?

Pandangan cemas Ukai bertemu dengan kedua mata cokelat yang melambangkan keheranan dan ketidaktahuan. Pria itu menggigit bibir bawahnya, menunduk sebentar. Berpikir keras dan menimbang banyak hal di dalam kepalanya. Setelah cukup lama, barulah dia menatap Kageyama dengan serius.

"Kageyama," Ukai mencengkeram ujung meja di bawah kedua tangannya. "Kau harus memberitahu Hinata sekarang—"

"Tidak," jawab Kageyama singkat. Jemarinya memijat batang hidung dan kedua matanya terpejam. Suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. Begitu Kageyama membuka kedua matanya, yang dapat Hinata lihat adalah iris biru yang dingin. "Aku tidak bisa melakukannya."

"Nyawa Hinata menjadi taruhannya di sini, Kageyama," Ukai mengucapkan dengan perlahan, seolah dengan mengatakannya demikian Kageyama akan berubah pikiran. Hinata hanya bisa menyimak tanpa harus mengerti apa yang dilakukan. Ukai terlalu serius dan mengerikan untuk diajak bicara saat ini—Kageyama apalagi.

"Harapanku datang ke sini adalah agar kau membantuku terlindungi dari pengawasan Maou, agar aku bisa benar-benar bebas seperti sedia kala, Ukai-san," Kageyama masih menatap Ukai lurus dan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedari tadi. "Bukan untuk membuang waktuku untuk berdebat sia-sia."

Kalau saja suasana tak semengerikan ini, Hinata pasti sudah mencoba mencairkan suasana dengan tawa atau pertanyaan bodohnya sedari tadi. Sekarang, dia hanya bisa diam sambil merasakan keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Ketegangan di dalam ruangan itu semakin kental, hingga untuk bernafas seperti biasa saja rasanya sulit.

"Kau lupa, Kageyama? Dia yang membebaskanmu," Ukai menatap Kageyama lamat-lamat. "Mana rasa terima kasihmu? Ini demi keselamatannya, Kageyama. Mungkin kau tidak peduli, tapi aku, sebagai pihak yang sering membantumu, peduli dengan Hinata. Cepat putuskan kontrak kalian."

"Apa?"

Hinata melebarkan kedua matanya. Memutuskan… kontrak?

Tapi tadi, bukankah Kageyama bilang bahwa kontrak hanya bisa diputus jika salah satu dari manusia atau spirit mati?

Tidak mungkin Kageyama berbohong… kan?

"Mungkin kau yang lupa, Ukai-san," Kageyama kembali melipat kedua tangannya di depan dada, menimbulkan kesan angkuh. "Kontrak dengan manusia adalah syarat agar aku bisa bebas dari segel Maou. Jika aku memutuskan kontrak dengannya, bisa-bisa segel itu memburuku kembali, membawaku ke tempat itu lagi dan mengurungku selamanya."

"Tapi…" Ukai tidak melanjutkan perkatannya, dalam diam mengakui bahwa perkataan Kageyama ada benarnya. Dia mengerutkan dahinya, berpikir kembali, tetapi tidak berkata apa-apa. Hinata tahu, Ukai juga tak ingin menyalahkan Kageyama yang berhak untuk bebas dari segel. Siapapun juga pasti menolak untuk dikurung seperti itu.

Hinata mengambil nafas, memandangi kedua tangan di atas pangkuannya. Panas api dari shinsu-nya masih dapat terasa pada ujung kulitnya. Situasi genting saat dia melarikan diri dari Faul tadi masih berselang sebentar dari waktu sekarang. Badan Hinata akan bergetar ketika dia mengingat pertarungan menegangkan dengan Faul tadi.

Itu semua… Perasaan yang dirasakan hatinya dan dialami tubuhnya membuktikan bahwa dia masih hidup. Semua itu tidak akan pernah terjadi jika dia tak bertemu dengan Kageyama.

Kalau tidak ada Kageyama, entah sudah jadi apa dirinya saat ini. Hinata bergidik ngeri dan memutuskan untuk tak membayangkannya.

"Ano," Hinata berusaha memulai kembali perbincangan dengan canggung. Kepalanya perlahan mendongak dengan mata yang menyorotkan keyakinan. "Aku… tidak begitu mengerti apa yang kalian bicarakan. Tapi, aku baru saja berpikir…" Pandangannya berpindah kepada Kageyama yang balas menatapnya dengan… antara takut dan khawatir. Dilihat dari wajahnya saja, dia bisa mengerti bahwa sang spirit tidak yakin apakah dia masih bisa bebas berkeliaran hingga esok hari.

"Apapun masalah yang kuterima, kalau itu demi Kageyama, aku tidak keberatan. Habisnya…" Hinata menekan kedua belah bibirnya, api di dalam kedua matanya menari-nari. Sang pemuda menelan ludah sebelum melanjutkan, "Yang membuatku bertahan hidup hingga sekarang adalah Kageyama."

Kalimat demi kalimatnya disambut dengan keheningan. Ukai memberinya tatapan terkejut setengah mati, seperti seorang ayah yang baru saja mendengar bahwa anaknya yang bekerja sebagai tentara akan terjun ke medan perang selama beberapa tahun. Meski begitu, Hinata tak gentar. Dia balas menatap Ukai dengan tatapan tak kalah kuat.

Dia ingin membuktikan kalau di sini, dirinya bukanlah sekadar bocah SMA ingusan yang lemah dan tidak tahu apa-apa mengenai spirit.

Ketika Hinata memutuskan untuk menolehkan kepalanya kepada Kageyama, dia tidak bisa menahan diri untuk membulatkan kedua matanya.

Kageyama, yang biasanya selalu menatap apapun dengan sorot dingin dan acuh tak acuh itu, kini memandang Hinata melalui manik birunya yang melebar, dan dengan warna yang sedikit cerah. Ada semacam bintang-bintang yang menari-nari di kedua matanya, menunjukkan kilatan… entah apa itu—senang, terkejut, dan bahkan harapan.

Melihat kedinginan yang biasanya mendekam di dalam mata biru Kageyama sedikit menghilang, Hinata tak bisa menahan dirinya untuk turut merasa senang. Dan, ya, dia mengakui bahwa dirinya lebih menyukai ekspresi Kageyama yang terkejut—tapi terkejut dengan senang—daripada wajah kesakitannya tiap kali topik pembicaraan menyinggung dirinya sendiri.

"Hinata, kau…" Ukai mengerjapkan matanya, memulai kalimatnya dengan tersendat-sendat.

Hinata mengangguk mantap. "Aku tidak tahu spirit macam apa Kageyama itu…" Iris cokelat madu melirik Kageyama yang belum pulih dari kekagetannya. "Mungkin dia mengerikan. Mungkin, diam-diam dia adalah spirit pemakan manusia. Dia jahat, tidak jujur, cuek, dan dia mengejekku terus! Tapi… meski begitu," Hinata mengulum senyuman tulus, senyuman secerah matahari. "Kenyataannya, dialah yang membuatku selamat dari Faul tadi. Kageyama telah menyelamatkan hidupku. Kalau aku tidak bertemu dengannya, aku tidak akan berada di sini sekarang. Jadi, yah… apapun yang terjadi, aku rasa aku tidak akan keberatan jika itu demi membalas hutang budi kepadanya."

"Kau yakin?" tanya Ukai dengan suara menyerupai bisikan.

Hinata mengiyakan tanpa ragu.

Ukai menatapnya lamat-lamat selama beberapa saat, lalu menghembuskan nafas panjang. Dia kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi sambil menempelkan tangan pada keningnya. "Kalau memang itu maumu, aku tidak bisa melarangmu. Dengar itu, Kageyama? Hinata sudah mau berbaik hati demi dirimu, jadi jangan—"

Bruk.

Sontak, kepala oranye menoleh ke arah sumber suara—yang kemungkinan besar berasal dari sesuatu yang menghantam meja dengan keras. Awalnya, dia mengira itu adalah Ukai atau Kageyama yang menggebrak meja, tetapi bukan.

Sesuatu tersebut ternyata adalah kepala Kageyama. Nafas Hinata langsung berhenti ketika dia melihat kepala Kageyama tergeletak begitu saja di atas meja. Tubuhnya terkulai lemas, dan kulitnya terlihat memucat.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Rasanya tidak mungkin spirit kuat seperti Kageyama tumbang begitu saja.

"Kageyama!" Hinata berteriak khawatir. Jemarinya mengguncang bahu sang spirit pelan, tapi tidak ada respon sama sekali. Kesadaran Kageyama benar-benar hilang. Dia tidak tahu apa yang terjadi, dan ini membuatnya semakin cemas. Setahunya, Kageyama tidak mendapat luka apapun selama pertarungan.

Apa karena… segel dari Maou yang katanya hebat itu?

Ukai dengan sigap beranjak, menghampiri Kageyama dan memeriksanya. Dia menempelkan tangannya pada dahi Kageyama, lalu pada denyut nadi di sekitar leher. Kesunyian ketika Ukai fokus memeriksa sang spirit membuat Hinata menggigit bibir bawahnya dengan cemas.

"Tch, gawat. Dia kehabisan energi."

Hinata masih belum dapat melepas kedua matanya dari sosok Kageyama. Dengan ragu, setelah mendengar perkataan Ukai, dia memindah perhatiannya kepada pria berambut pirang itu.

"…Kehabisan energi?" ulang Hinata tidak mengerti.

"Dia sama sekali belum makan selama dua puluh tahun ini… Seharusnya aku tahu dia tidak punya banyak energi yang tersisa, apalagi setelah dia menggunakannya untuk bertarung bersamamu tadi," Ukai menggigit ujung kukunya. "Bodoh sekali, seharusnya aku langsung menyuruhnya makan tadi!"

"Ma… Makan?" Hinata masih khawatir, tetapi sekarang wajahnya berubah menjadi bingung. Dia baru mengerti bahwa makanan bagi spirit sama krusialnya dengan makanan bagi manusia. Mereka akan sama-sama roboh ketika lama tak mendapat makanan. Di saat yang bersamaan, dia merasa lega karena kasusnya tidak seserius gambaran dalam kepalanya. "Apa yang dia makan?"

"Darah manusia," jawab Ukai singkat. Keringat dingin bercucuran di sekitar wajahnya, tetapi mimiknya masih berhasil membawa sedikit ketenangan.

Hinata menelan ludah. Selama ini, Kageyama makan darah manusia? Seperti… vampir? "Ja-Jadi…?" Suara yang berhasil keluar dari pita suaranya sangatlah kecil, tetapi cukup keras untuk dapat didengar oleh Ukai.

Pria yang bersangkutan tidak menjawab, tetapi pandangannya berpindah dari Kageyama kepada Hinata. Matanya memandang Hinata dengan saksama, meneliti ekspresi wajah sang pemuda, lalu membuka mulut dan berkata dengan tempo yang sangat pelan, menekankan setiap kata. "Hinata. Ini saatmu bertindak."

Hinata menaikkan sebelah alis, tidak mengerti. "Bertindak apa?"

"Apa lagi?" Ukai memberinya tatapan serius. "Kau akan memberikan darahmu pada Kageyama."

Hinata mengedip pelan.

Dia tidak begitu paham, tetapi sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa tindakan yang akan dilakukannya tidak seenteng perkataan Ukai.

XOXO

Jika manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk hidup, maka spirit juga.

Spirit memang tidak memakan sesuatu yang sama dengan manusia. Walaupun mereka bisa saja memakan makanan yang biasanya dimakan manusia, tetapi hal itu tidak akan memberikan efek apapun pada tubuh mereka. Ketika sedang membicarakan spirit, yang merupakan makhluk berwujud halus, maka jika dinalar, makanan mereka harus berwujud halus pula.

Ada dua jenis kebutuhan yang harus dipenuhi spirit. Pertama adalah kebutuhan makanan. Seperti manusia, mereka tidak akan memiliki tenaga untuk menggerakkan satu jari pun jika mereka tak mendapat makanan. Dalam kasus ini, makanan yang dapat dimakan oleh tiap spirit berbeda. Ada yang memakan darah. Ada pula yang memakan jiwa manusia, contohnya Faul.

Sementara kebutuhan krusial nomor dua adalah shinsu. Sebagian besar tubuh spirit terdiri dari shinsu, sehingga shinsu menjadi salah satu kebutuhan penting bagi mereka. Sama dengan penggunaan energi dalam tubuh manusia, shinsu akan habis jika mereka terus menggunakannya, entah dalam pertarungan ataupun hal lain. Jika semua shinsu sirna dari tubuh mereka, mereka tak dapat bertahan hidup.

Dengan kata lain, keberadaan mereka akan menghilang begitu saja.

Karenanya, mereka harus sering memperbarui shinsu dalam tubuh mereka. Jika sekadar untuk bertahan hidup, mereka dapat menghisap shinsu jumlah kecil yang melayang-layang di udara. Jika mereka menginginkan shinsu yang dapat menghasilkan kekuatan bagi tubuh mereka, para spirit harus menghisap shinsu berskala besar, yang salah satunya bisa mereka dapat dari seorang Master. Cara setiap spirit untuk menghisap shinsu dari Master yang terikat dengan mereka pun berbeda-beda, tergantung kelas mereka.

Hal terpenting yang Kageyama butuhkan saat ini adalah yang pertama—makanan.

Menurut penjelasan Ukai, makanan Kageyama adalah darah manusia. Entah bagaimana cara dia mendapatkannya selama ini—bisa saja dengan menghisap manusia seperti vampir, bisa saja dengan cara lain yang lebih tidak mengerikan—tapi yang jelas, Ukai menyatakan bahwa Kageyama memiliki harga diri yang cukup tinggi untuk tidak menyerang orang-orang biasa dan mengambil darahnya.

Harga diri itulah yang menyebabkannya pingsan kekurangan energi seperti ini.

Dan Hinata diam-diam menumbuhkan rasa kagum kepada Kageyama karena dia tak sejahat yang Hinata kira. Pasti jarang sekali ada spirit yang mau repot-repot mempertimbangkan tindakan mereka kepada manusia. Kebanyakan pasti tidak akan merasa sungkan untuk 'sedikit' melukai manusia, toh mereka pikir, yang penting manusia yang bersangkutan tidak terbunuh.

Namun Kageyama, dia bahkan menahan diri untuk membekaskan jemarinya pada manusia—yang merupakan sumber makanannya. Hinata berani bertaruh, Kageyama pasti telah merasa lemas luar biasa sejak pertarungan tadi, tetapi dia menahannya. Dia bahkan tidak meminta darah Hinata dan memilih untuk mementingkan keselamatannya lebih dari apapun.

Mungkin ini adalah bentuk hutang budinya, tapi tetap saja… Hinata pikir, tindakan seperti ini terlalu berlebihan dan tidak sebanding untuk sebuah hutang budi.

Sambil memikirkan hal itu berulang kali, di sinilah Hinata berada. Duduk di samping Kageyama yang tengah terbaring tanpa sadar di atas futon, tak bisa melakukan apapun selain berharap dan berharap Kageyama akan membuka matanya sesegera mungkin. Jika hal itu terjadi—jika Kageyama sadar, Hinata akan langsung mengatainya bodoh habis-habisan.

"Dasar," Hinata menggumam di tengah keheningan ruangan. "Padahal kau tinggal meminta sedikit darahku. Aku pasti sudah mau memberikannya padamu sejak tadi." Kageyama tentu saja tak menjawab. "Bodoh. Setinggi itukah harga dirimu? Spirit bodoh…"

Mereka telah berada di dalam kediaman Hinata, di dalam kamar Hinata sendiri. Sebelumnya, Ukai menerangkan bahwa proses 'memakan' Kageyama lebih baik dilakukan di rumah Hinata sendiri—atau tempat lain yang kosong, jika dia bisa menemukannya—karena Ukai sendiri tak tahu apa yang akan terjadi.

"Tidak sedikit jumlah spirit yang lepas kendali saat proses kontrak dan memakan." Begitulah perkataan Ukai tadi. "Karena itu, sebisa mungkin cari tempat yang sepi. Spirit yang lepas kendali akan melepas shinsu dalam jumlah besar. Maksudnya, jika itu terjadi di rumahku, apa yang akan terjadi pada kaa-chan? Pokoknya, aku akan mengantar kalian setelah aku memberi Kageyama sebuah shoutai."

Ukai memaparkan bahwa kehadiran Kageyama di tokonya kemungkinan besar adalah untuk membeli sebuah shoutai—yaitu sebuah tubuh manusia buatan yang khusus digunakan para spirit yang benar-benar ingin melebur di dunia manusia. Spirit yang ingin menggunakan shoutai tinggal masuk ke dalam shoutai—cara memakai shoutai sama dengan cara manusia memakai kostum binatang atau pakaian badut—lalu secara otomatis, tubuh manusia sintetis yang semula polos itu akan berubah mengikuti wujud asli spirit yang menggunakan shoutai.

Singkatnya, shoutai adalah tubuh manusia kosong yang siap digunakan oleh spirit untuk 'menjelma' menjadi manusia.

Dengan shoutai, spirit dapat menampakkan dirinya secara utuh sebagai manusia biasa. Tentu saja, kemampuan mereka di dalam sebuah tubuh shoutai menjadi terbatas—lebih tepatnya selevel dengan batas kemampuan maksimal manusia—sehingga mereka tidak akan dapat melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia—misalnya melompat setinggi tiang listrik. Meski begitu, shoutai banyak digunakan para spirit karena mereka dapat melakukan kamuflase di antara manusia lainnya. Pengguna shoutai kebanyakan datang dari spirit yang ingin bergaul dengan manusia.

Dan Kageyama tidak terlihat seperti seorang tipe yang… suka bergaul, jadi Hinata tidak terlalu mengerti alasan Kageyama menginginkan sebuah shoutai. Ketika dia menanyakannya pada Ukai, sang pria malah membalasnya dengan kedikan bahu. "Dari dulu dia selalu membeli shoutai di sini, entah karena apa," Ukai mengaku ketika dia berusaha memakaikan shoutai pada Kageyama.

Usai semuanya beres dan Kageyama telah benar-benar berada di dalam shoutai—wujud manusianya—serta mengganti penampilan sang spirit agar lebih menyerupai manusia, yaitu dalam balutan kaos biru muda dan celana panjang hitam, Ukai memutuskan untuk mengantarkan Hinata pulang ke rumahnya, tentu saja bersama Kageyama.

Beruntung, kediaman Hinata benar-benar kosong malam itu. Awalnya, Hinata tak dapat membuka pintu dan dia merasa panik, tapi dia lalu teringat bahwa keluarganya memiliki kebiasaan untuk meninggalkan kunci rumah di balik pot tanaman hias di depan rumah.

Hinata menghela nafas lega ketika dia berhasil masuk. Pada meja makan, dia menemukan secarik kertas di atas meja makan yang meninggalkan pesan bahwa neneknya sakit dan kedua orangtuanya beserta Natsu harus segera pergi ke sana, terpaksa meninggalkan Hinata karena sang pemuda tak kunjung pulang. Hinata sungguh merasa lega. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada keluarganya ketika membawa seorang pemuda—spirit yang tak sadarkan diri ke rumahnya.

Hinata memandangi Kageyama yang terlelap sekali lagi. Ditelusurinya wajah sang spirit dengan mata cokelatnya, dari kening tanpa kerutan-kerutan yang biasa muncul, lalu bulu mata yang ternyata cukup panjang, kemudian pada bibir pucat yang membentuk garis datar.

Hinata tahu, melihat bagaimana ekspresi wajah Kageyama seringkali menggelap ketika mereka membicarakan spirit, dia pasti memiliki banyak pengalaman buruk di masa lalunya. Namun, saat kesadarannya menghilang seperti ini, Kageyama terlihat jauh lebih tentram, seperti semua masalahnya hanyalah halusinasi dan mimpi belaka.

Mengambil nafas dalam-dalam, Hinata mengangguk yakin. Dia meraih pisau yang telah disiapkan dan diambilnya dari dapur, kemudian mendekatkan dirinya pada tubuh Kageyama, dan meletakkan satu tangannya tepat di atas mulut Kageyama. Digenggamnya pisau tersebut erat dengan sebelah tangan dan didekatkannya benda tersebut pada kulit di sekitar pergelangan pada tangannya yang melayang di atas mulut Kageyama.

"Dengar, Hinata. Hal pertama yang harus kaulakukan setelah tiba di rumah adalah meminumkan darahmu pada Kageyama. Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya, tapi itu adalah langkah terpenting untuk mengembalikan kesadaran Kageyama."—Kurang lebih begitu penjelasan Ukai tadi.

Hinata memandangi tangannya sedetik lebih lama, mencoba meyakinkan diri. Tak apa-apa, ini demi Kageyama. Dia pasti bisa melakukannya.

Hinata lantas menggoreskan ujung pisau yang tajam pada kulit tangannya. Darah segera menetes perlahan dari sana, mengalir turun dan masuk pada mulut Kageyama yang sedikit terbuka. Hinata memastikan darah yang diberikannya memenuhi. Sesekali dia melirik kedua mata Kageyama, mencari dan mengharapkan tanda-tanda sadarnya sang spirit.

Kumohon, Kageyama… sadarlah, dia memohon di dalam hatinya. Masih ada banyak hal yang ingin dibicarakannya dengan Kageyama. Tapi itu bisa dipikirkannya nanti, sekarang, dia hanya ingin agar Kageyama selamat dan sadar.

Rupanya, harapannya terkabul dengan cepat.

Sekujur tubuh Kageyama tiba-tiba terlonjak begitu saja, seperti orang tersengat listrik bertegangan tinggi. Dan untuk sesaat, dia terdiam tanpa membuka mata. Hinata menelan ludahnya, khawatir kalau-kalau dia salah melakukan prosedur.

"Kageyama!" Dia menggucang bahu Kageyama dengan keras. "Kageyama! Kau mendengarku?"

Kageyama tak menggerakkan sedikit pun bagian tubuhnya. Ketika Hinata berpikir bahwa Kageyama tidak akan membuka matanya, dia dikejutkan oleh kedua lengan yang mendorongnya ke belakang, membuatnya terjembab ke belakang dengan kepala terbentur cukup keras.

"Sakit—" Hinata meringis merasakan sakit pada kepalanya. Kedua matanya yang sempat tertutup perlahan terbuka, dan pandangannya segera terhalang oleh iris biru gelap yang tertutup oleh bayang-bayang akibat helai-helai rambut yang menjuntai ke bawah. Tanpa dapat berkata apapun, Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kage… yama?"

Benar, Kageyama sadar. Dia ada di hadapannya dengan kedua mata terbuka. Dia bisa melihat warna biru matanya lagi.

Namun, Hinata mencegah dirinya untuk bersorak lega. Tunggu dulu, Kageyama sangat terlihat aneh saat itu. Aura yang dikeluarkannya juga tidak wajar. Sang pemuda lantas mendongak, menatap lurus Kageyama, dan dia menemukan dirinya sendiri terkejut ketika iris biru yang biasanya indah berubah menjadi berkali-kali lebih gelap.

"Kageyama…?" bisik Hinata dengan takut. Raut wajah Kageyama saat itu begitu mengerikan. Wajah penuh kerutannya yang biasa memang pada dasarnya mengerikan, tetapi kali ini lebih mengerikan.

Kageyama tampak seperti… seekor predator.

Gumaman kaget keluar begitu saja dari mulutnya ketika sang spirit membenamkan wajahnya pada ceruk leher Hinata, dan detik berikutnya dia menanamkan gigi-giginya di sana tanpa ragu-ragu.

"Ah!" Hinata tak dapat menahan erangan kesakitannya. Dia merasakan Kageyama menghisap darah yang keluar dari tubuhnya dengan kasar. Bekas gigitannya masih terasa sakit, dan Hinata mencoba memberontak, tetapi percuma. Kageyama yang sekarang tak dapat mendengarkan apapun yang dikatakannya. Dia terus menenggak dan menelan sebanyak-banyaknya darah yang bisa didapatkannya. Sesekali, dia menyapu luka yang masih segar tersebut dengan lidahnya, tak ingin melewatkan setetes darah pun.

Hinata membiarkan tubuhnya bergetar aneh ketika lidah sang spirit bertemu dengan kulitnya.

Percuma. Dia tidak akan berhenti, pikir Hinata sambil menangis pasrah di dalam hatinya. Tapi, sudah lama dia tak makan apapun… Tentu saja dia akan begini lapar.

Kedua tangannya yang mencoba mendorong Kageyama pun menyerah, dan justru mendaratkan diri di atas helai-helai hitam miliknya. Sang Master kemudian menjulurkan lehernya agar Kageyama lebih leluasa meminum darahnya, lalu menghembuskan nafas. Untuk saat ini, dia biarkan Kageyama menghisap darahnya—sebanyak apapun, sekasar apapun, dia tidak peduli.

Toh, seluruh darah di dalam tubuhnya tak akan mampu meringankan beban berat yang Kageyama pikul. Ini adalah satu-satunya hal kecil yang dapat dilakukannya untuk Kageyama. Sebagai Master Kageyama yang layak.

Namun, entah mengapa dan bagaimana, kedua tangan Kageyama telah bergerak di atas kaos putihnya. Kemudian—

Srek.

"Nnh?" Hinata membelalakkan matanya ketika kedua tangan Kageyama merobek kaos yang tengah Hinata kenakan. Manik berwarna cokelat hangat membulat penuh, wajahnya bertambah merah setiap detik berlalu. Apa yang Kageyama lakukan, teriak Hinata di dalam hatinya. Otaknya segera mengirimkan alarm peringatan kepada seluruh tubuhnya.

Dia memang telah menyiapkan diri ketika Ukai berkata bahwa Kageyama akan lepas kendali, tapi dia tidak menyangka akan begini jadinya. Yang dibayangkannya ketika itu adalah shinsu yang meledak-ledak, dan menurutnya itu tidak masalah, karena Hinata pasti dapat mengatasinya entah bagaimana dengan shinsu-nya sendiri yang kuat.

Tapi, ini… apa yang Kageyama lakukan terlalu aneh dan sugestif.

Hinata memindahkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya—biasanya dia tidak akan malu ketika mengekspos tubuhnya kepada teman laki-lakinya, ambil contoh ketika dia berganti baju bersama senpai-nya, tetapi kali ini pandangan Kageyama terasa… um, bahaya? Pokoknya, Hinata tidak bisa membuat wajah datar tanpa rona merah ketika Kageyama memandangnya seperti itu.

"Nn—ahn! Kageyama!?"

Hinata berjengit kaget ketika Kageyama menjelajahi rahangnya dengan mulut lembutnya, meninggalkan ciuman-ciuman lembut di sana yang sempat membuat Hinata kaget—karena bukankah Kageyama seharusnya menghisap darahnya? Apa yang dia lakukan seperti seorang kekasih saja…

Kekasih? Hinata membelalakkan matanya sekali lagi. Jangan bilang Kageyama akan—

Mulut Kageyama telah mendarat pada bagian belakang telinga Hinata, dan tidak sekadar ciuman, dia menjulurkan lidahnya sekali lagi untuk menggoda kulit Hinata yang semakin memerah karena distimulasi. Parahnya, bagian belakang telinga kebetulan adalah kelemahan Hinata.

"Haa… ahhn! Mmh! Ka-Kageee… yamaahhh."

Hinata tidak bisa mengontrol suara macam apa yang keluar dari pita suaranya. Yang hanya dapat dirasakannya adalah betapa lembutnya mulut Kageyama di balik tampang seramnya, lalu kedua tangan rampingnya yang sedang menelusuri bagian samping tubuhnya yang terekspos.

Tidak sampai situ. Kedua tangan tersebut perlahan naik, merasakan tulang dada Hinata di balik kulit dan dagingnya, dan akhirnya pada—

"Aah! Hnn—Hentikan!"

Pada bagian tubuh yang paling menonjol dan terlarang dari dadanya. Kulit tangan Kageyama yang bergesekan ringan—seringan kapas—terasa seperti api yang sangat panas di atas kulitnya. Hinata lagi-lagi tak bisa menahan suara desahannya—ya benar, suara aneh itu adalah desahan, memang apa lagi?—karena dia sudah terlebih dulu dibuat lemas tatkala Kageyama memutuskan untuk menekankan jemarinya pada tonjolan dadanya.

Hinata bahkan tak dapat menggerakkan tubuhnya untuk memberontak. Apa yang terjadi dengan seluruh ototnya yang tiba-tiba terasa selemas jelly?

Seperti menyadari bahwa perhatian Hinata telah teralihkan, Kageyama dengan cepat memindahkan mulutnya pada dada kiri Hinata, tepat di mana jantungnya yang berdegup semakin kencang berada. Kageyama menghujamkan gigi-giginya di sana, dan seperti tadi mulai menghisap darah Hinata dengan tak kalah kuat.

Seiring dengan itu, Hinata mulai merasakan sensasi asing yang menghinggapi sekujur tubuhnya. Nafasnya yang terengah tidak lagi diakibatkan oleh panik, tetapi karena sekujur tubuhnya yang mulai merasa luar biasa panas. Tanpa sadar, dia melengkungkan kedua tumitnya ketika Kageyama menghisap keras, lalu mendaratkan lidahnya sekali lagi pada kulitnya untuk menyapu darah yang hampir tumpah.

"Aah! Ngg, Kageya… ma—ahh!"

Rasanya seolah air liur Kageyama memiliki efek aphrodisiac—efek obat yang terlarang yang biasanya digunakan untuk memicu keinginan melakukan hal-hal rated-M. Hinata tidak ingin menjelaskannya, tidak ingin mengingat obat macam apa itu sebenarnya, dan dia sangat ingin keberadaan sesuatu bernama aphrodisiac itu menghilang saat ini juga.

Dan sungguh, Hinata sama sekali tidak memiliki sedikit pun niat untuk mengeluarkan suara seperti itu. Dia merasakan panas merambat pada pipinya, kali ini karena malu luar biasa.

Kageyama sendiri tidak mendengarkan. Dia terus melanjutkan perbuatannya tanpa sedikitpun berniat untuk berhenti sesegera mungkin. Gigitan-gigitannya turun pada bagian di sekitar tulang dada Hinata, kemudian sekitar perut, pada lengan atas, sikunya, kemudian pada pergelangan tangan di mana denyut nadi Hinata dapat terasa jelas. Setelah semua bagian tubuh atas dia jelajahi, Kageyama berpindah, menarik dirinya untuk sedikit mundur lalu mendekatkan wajahnya pada lutut Hinata.

"Ah, tung—Kageyama!"

Sang pemuda melebarkan kedua matanya. Kalau Kageyama terus melanjutkannya, hal yang Hinata takutkan kemungkinan akan terjadi. Kageyama mungkin akan… mencapai bagian bahaya dari tubuhnya—bagian privatnya. Hinata merasakan wajahnya semakin memanas. Pikiran yang tidak-tidak mulai memasuki otaknya.

Jangan-jangan, Kageyama benar-benar akan—

"Gyaaaaa! Hentikan! Hentikan, Kageyamaaaa!"

Menjerit panik, karena dia masih ingin menjadi polos, kedua tangan Hinata lekas mendorong kepala hitam Kageyama sekuat tenaga.

Tentu saja, Kageyama bersikeras untuk tidak menjauh dari tubuh sang pemuda. Hinata berjengit pelan ketika gigi-gigi itu kembali menancap, kali ini pada bagian betisnya. "Hhng! Kageyama… Mmn, hentikan! Hentikaaan!"

Dan Hinata kembali merasakan panas yang aneh itu lagi. Suaranya menjadi labil, berganti-ganti antara teriakan protes dan desahan pasrah.

Hinata kembali melakukan berbagai upaya, mulai dari mengayun-ayunkan kakinya, menjambak-jambak surai Kageyama, hingga mencoba menendang perutnya—tapi semua itu gagal. Jemari panjang nan halus merambat pada kaki bagian atas, memasuki celana hitam pendek yang digunakannya untuk berlatih voli dan menggulungya ke atas hingga nampak kulit kaki Hinata secara keseluruhan. Kageyama semakin mendekati bagian paling berbahaya, dan Hinata memutuskan untuk menutup mata dengan pasrah ketika spirit-nya itu menghisap darah dari kulit pahanya.

Dia tidak bisa membayangkan ketika Kageyama sampai pada bagian paling berbahayanya.

"Ha—aahn! Nnh!"

Suaranya terdengar begitu memalukan saat itu, sangat tidak inosen—tidak seperti sifat aslinya. Tak sanggup menanggung semua rasa malunya, Hinata meletakkan lengannya di atas kedua mata, menutupi penglihatannya dari pemandangan ambigu Kageyama yang berada di antara kedua kakinya. Dia memejamkan mata dengan lemas. Mungkin kepolosannya akan berakhir hari ini juga, terima kasih pada Kageyama.

Dan besoknya, seluruh tubuhnya pasti akan dipenuhi bekas-bekas gigitan yang aneh. Dan ambigu. Mungkin juga dia benar-benar tidak dapat melihat wajah Kageyama secara langsung. Tidak setelah apa yang terjadi malam ini.

Hinata tidak peduli lagi. Apa yang terjadi, terjadilah. Yang penting semuanya segera berakhir. Tangannya kembali melemas, dan jatuh pada surai hitam Kageyama. "Hngg! Hah… Ahhn!" Hinata refleks meremas rambut Kageyama ketika sang spirit menggigit kulit pahanya lagi—kali ini bagian dalam, dan pada kaki bagian atas, sehingga itu berarti dia semakin dekat dengan 'bagian berbahaya'. Hinata memejamkan matanya lagi.

Oh, benar juga. Fokus ke rambut Kageyama, fokus! Dia berharap dengan cara itu, dia dapat menghidarkan tubuhnya untuk bereaksi terhadap perlakuan Kageyama.

"Haaa—nnh!"

Ternyata tidak.

Kageyama tiba-tiba menghisap bekas gigitannya kuat-kuat, lalu mengigit-gigit kulit di sekitarnya. Butuh waktu cukup lama baginya—karena dia harus membuka mulutnya lebar-lebar, sambil berusaha mengontrol suaranya, menggigit bibir bawah, lalu membuka mulutnya lagi, terus seperi itu—sebelum akhirnya dia menyadari bahwa Kageyama sedang mencoba memberikan tanda pada kulitnya.

"Tunggu! Jangan—" Hinata menelan ludah. "Celana olahragaku pendek! Nanti mereka bisa melihat—"

Kageyama menggigit kulinya lagi. Hinata diabaikan. Akhirnya, sang pemuda memilih untuk benar-benar pasrah, masa bodoh dengan tanda-tanda aneh yang akan muncul pada tubuhnya. Dia lelah. Dia ingin beristirahat.

Di luar dugaannya, Kageyama memberi hisapan kuat terakhir untuk kulit kakinya—yang besoknya pasti akan berubah menjadi tanda ungu ambigu—lalu melepaskan mulutnya dari tubuh Hinata, seuntai benang saliva terbentuk sebelum akhirnya putus. Hinata berpikir bahwa dia akan memindahkan mulutnya itu di suatu tempat lain di bagian tubuhnya, tetapi sebelum hal itu terjadi, dia dapat merasakan beban berat yang tiba-tiba menimpanya dari atas.

"Ap—Apa!?" Hinata buru-buru membuka tirai matanya. Dia melihat Kageyama terbujur lemas di atas tubuh mungilnya—teganya kau, Kageyama, kau berat—dengan kedua mata kembali tertutup. Sang pemuda hanya bisa mengedip. Apa yang baru saja terjadi?

Hinata perlahan menududukkan dirinya seraya mengatur nafas dan menormalkan kembali detak jantungnya. Dia menempelkan telapak tangan pada dadanya, menghela nafas lega. Beruntung, Kageyama telah lebih dahulu tepar sebelum dia sempat sampai pada bagian berbahaya dari tubuh Hinata.

Tangannya meraih dahi Kageyama, menyibak helai-helai hitam yang menutupi wajahnya. Terdapat bekas darah di sudut-sudut mulutnya—cara makannya berantakan seperti anak kecil yang baru belajar makan. Namun, wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya. Hinata ikut tersenyum melihat hal itu.

"Kageyama bodoh," Hinata memukul pelan bahu Kageyama. "Jangan langsung tidur setelah melakukan hal seperti itu padaku."

Hinata, tanpa sedikitpun menyadari kalimatnya yang juga ambigu, lantas beranjak dan menarik tubuh Kageyama kembali ke atas futon. Dia memastikan selimut telah terbentang rapi di atas tubuh Kageyama agar tubuh shoutai sang spirit terlindung dari dinginnya malam. Setelah itu, Hinata mengambil kaos baru dari lemarinya, lalu merangkak ke dalam tempat tidurnya sendiri di ujung lain kamar.

Sang pemuda baru dapat tidur satu jam kemudian, karena dia tak bisa mengenyahkan sensasi-sensasi yang masih tersisa pada tiap jengkal kulitnya, di mana mulut Kageyama tadi berada.

Tapi, aku tidak menyesal, pikir Hinata sebelum dia terlelap. Setidaknya, aku bisa melakukan sesuatu untuknya. Aku tidak menyesal, ulangnya berkali-kali.

TO BE CONTINUED


Maou = Demon Lord

Erm. Chapter ini agak ecchi, ya? Ahaha… *lihat rating naik*

Btw, Yang Mulia sama Incubus yang ada di prolog chapter 2 ini… mereka karakter terkenal di Haikyuu, loh. Tapi, tunggu aja debut mereka kalau mau tahu sosok mereka sebenarnya.

Dan Ukai di sini umurnya lebih tua dari usia Canon. Mungkin jadi 35 atau mungkin 40 tahunan? Awalnya, bisnis toko spirit itu dimulai dari ayahnya, dan dia ketemu Kageyama ketika dia masih kecil. Setelah ayahnya meninggal, dia mengambil alih bisnis itu, dan terus melayani Kageyama yang jadi pelanggan toko itu. Sesuai kata Ukai, tiap ke sana, Kageyama selalu pesen shoutai. Wk. Terus beberapa saat kemudian, Kageyama tiba-tiba ngilang. Pas itu dia udah disegel sama Maou, dan mereka baru ketemu dua puluh tahun kemudian, di chapter ini.

Dan… Hinata bener-bener penasaran, sebenarnya Kageyama itu kelas apa, sih? Di chapter 1 juga udah dijelaskan sekilas kalau cara menghisap shinsu dan cara makan beda-beda tergantung kelas. Ada yang penasaran juga Kageyama tuh kelas apa? Pertanyaan itu akan dijawab… emm, tiga chapter ke depan. Mungkin. /ngajak tavvuran

Oh ya, FYI, perasaan Hinata di chapter ini mash platonic loh. Dia emang digituin sama Kageyama, tapi Kageyama sendiri aja ga sadarkan diri (dijelaskan di chapter depan), dan semuanya dilandaskan rasa lapar bukan tjinta. :v

Anyway, setelah sekian lama, akhirnya saya sempat update. Fyuh. Update selanjutnya, seperti biasa, tidak dapat diprediksi. /plak

Mungkin itu aja dulu dari saya, bingung mau ngomong apa.

Terima kasih banyak untuk kalian yang telah membaca, review, fav, dan follow fic ini. See you in the next chapter!