A Naruto fanfiction,
~ONE OCTAVE~
2015 © Munya Munya
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Friendship
Rated: T
Warning: Moved fanfic from another account! Edited! AU, OOC,Hinata centric, gaje, abal, maybe typo, etc.
Don't like don't read!
Hm..para jenius memang selalu bisa lebih unggul! batin Kakashi saat melihat tim 'Sharingan' datang mendekat kearahnya. Kini guru Konoha Gakuen yang berambut perak dan bermasker itu tengah berdiri di depan gerbang masuk Suna untuk mengawasi dan mendata setiap tim yang akan menjalankan tugasnya.
Pos satu, gerbang Suna. Itu lah teritori Kakashi dalam tugasnya saat ini. Setiap guru memang sudah ditempatkan masing-masing di pos mereka yang tersebar di gurun ini.
Tim Sharingan serempak menghentikan langkahnya saat melihat Kakashi. Pastinya mereka paham akan sesuatu yang sudah lazim seperti saat ini tanpa dikomandoi sang ketua. Ya, sejak SD mereka sudah tahu jenis dan konsep 'permainan' seperti ini.
"Ah, Kakashi-sensei pasti—" baru saja Naruto angkat bicara, Kakashi sudah memotongnya.
"Wah wah.. sudah ada yang menebak teka-teki rumit ini rupanya. Aku salut pada kalian yang cepat menyadari maksud sebenarnya tugas itu."
"Baiklah. Ku jelaskan singkat saja karena sepertinya kalian sudah paham. Di gurun ini kalian akan menjalankan misi sesuai yang kalian tebak di lembaran soal itu. Tapi ada tambahan clue dariku." Tambah Kakashi.
"Apa itu?" tanya Sakura.
"Dengarkan aku baik-baik!" Kakashi berdeham pelan, "Kalian harus benar-benar mengikuti semua petunjuk yang telah dipecahkan. Bila tidak, lebih buruk dari kegagalan. Yah, selanjutnya kalian akan dipandu oleh peta ini," terang Kakashi sambil menyerahkan sebuah gulungan klasik pada Shikamaru. Shikamaru mengangguk mantap.
"Baiklah. Selamat berpetualang di gurun iblis terluas di Suna!" ujar Kakashi dengan senyum misteriusnya.
"Jangan lupa, bekerja sama lah!" lanjutnya.
HINATA'S POV
"Yosh! Semuanya ayo berjuang bersama untuk misi ini!" siapa lagi yang berseru dengan semangat berapi-api kalau bukan Naruto.
Aneh..ya. Semuanya benar-benar aneh! Sampai suasana pun jadi aneh begini. Kenapa tiba-tiba Naruto terus ada di sampingku? Dekat sekali. Aku 'kan jadi malu...
Lihat! Apa maksud tatapan mereka? Menjengkelkan sekali! Kenapa mereka yang semula berkerumun untuk melihat peta malah berbalik melihatku dan Naruto?
Hey Naruto-kun, lakukan sesuatu—maksudku menjauhlah sedikit dari ku! apa kau tidak menyadari tatapan jahil mereka pada kita?
"Ehm!"
"Uhuk.. uhuk.."
Sekarang apa? Mereka pura-pura batuk?
"Ekhm.. Naruto!"
"Uhuk uhuk.. ohok.. hoaak!"
Lama-lama aku sweatdrop. Malah batuk betulan. Rasakan. Haah.. dasar teman-teman.
Ku dapati Naruto lama-kelamaan sadar dengan situasi. Ia menyipitkan matanya dan bibir bawahnya manyun. Menatap satu persatu teman di sekitar kami.
"Maksudnya apa hah? Batuk-batuk seperti kakek-kakek saja! Cepat lihat petanya!"
Mengapa baru protes sekarang, Naruto-kun. Haah dasar lamban. Tapi biarlah. Setidaknya aku terbebas dari ketidaknyamanan ini.
Sekarang mereka sudah berhenti menggodaku dan kembali serius. Walau kudengar Kiba bersiul pelan dan tidak disadari semua orang. Aku meliriknya sejenak dengan ujung mataku, matanya terlihat sendu dan agak sinis. Nada siulannya juga terdengar sinis. Ah, apa itu hanya perasaanku saja? Jujur, aku merasa tidak enak dengan ini.
Ada apa sebenarnya antara Kiba dan Naruto? Aku semakin tak mengerti.
Shikamaru membuka petanya. Semua berkumpul membentuk lingkaran. Petanya kuno.. ada gambar-gambar. Sepertinya itu ilustasi tempat atau pos-pos. Seperti petanya Dora. Hahaha.
Ah, itu! Gambar peti harta karun di ujung itu! Seperti dugaan kami, tujuan akhirnya memang untuk mendapatkan harta karun. Tapi.. tidak ada tulisan selain nama-nama tempat yang digambar di sini: Titik Berdiri, Gunung Pasir, Labirin Pasangan, Oasis Abadi.
"Yang jelas, sekarang kita berada di titik berdiri." Ujar Sasuke tenang.
"Membingungkan! Uuh... aku ingin cepat-cepat ke Tokyo!" keluh Tenten sambil menggerak-gerakkan tangannya frustasi.
Tiba-tiba Naruto menepis tangannya. Sontak Tenten naik pitam.
"Hey, bisa diam tidak sih? Shikamaru sedang berpikir! Asal kau tahu, strategi dia sangat penting untuk nasib tim Sharingan!" kata Naruto.
Sebenarnya aku ingin melerai, tapi sepertinya percuma karena aku tahu Tenten, dan semua tahu Naruto seperti apa jika dalam mode bertengkar. Bisa-bisa Kyuubi-nya keluar—eh salah, Hinata! beda dunia ingat ini bukan cerita canon!
Sejenak aku menghela napas, Tenten baru saja akan meledak kalau tidak terpotong ucapan Shikamaru. "Ini tidak terlalu sulit, kita hanya perlu mengikuti peta merepotkan ini sampai akhir."
"Bodoh, gurun ini 'kan luas! Tidak ada jalannya pula, bagaimana kita bisa menemukan tempat-tempatnya?" Temari memprotes pada teman-tapi-mesranya itu.
Shikamaru bergumam pelan.
"Di peta ada jalan yang berkelok-kelok sedangkan di kenyataan hanya terhampar padang pasir luas. Tapi sepertinya aku menyadari suatu petunjuk. Lihat ini!" Neji-nii san menjelaskan sambil menunjuk gambar bebatuan dan pohon kelapa di peta tanpa sengaja bersamaan dengan jari Tenten. Wajah Tenten memerah saat jari mereka bersentuhan. Hm, aku rasa mereka makin dekat saja. Jangan-jangan teman sebangkuku itu nantinya akan jadi kakak iparku! Hahaha lucu membayangkannya.
Aku memindahkan pandangan mataku bergantian antara peta dan hamparan gurun di depan mataku. Gambar bebatuan kecil dan pohon kelapa itu terletak di tiap tikungan jalan. Aku tersentak, tersadar.
"Kita hanya perlu mencocokkan arah pada peta lalu berbelok setiap ada bebatuan dan pohon kelapa," Nii-san mengakhiri penjelasannya.
"Nii-san benar, itu seperti petunjuk arah jalannya," ujarku.
"Baiklaah ayo jalaaan!" seru Naruto bersemangat. Hm, dia memang selalu bersemangat.
Kami, err...tim Sharingan—untuk kesekian kalinya aku berpikir ini nama yang aneh. Apa itu Sharingan? Memangnya ini jaman ninja? Eh, ninja? Aku juga tak tahu mengapa bisa berpikir kesana. Aku sendiri tidak tahu Sharingan itu apa— pun memulai petualangan kami.
"Naruto-kun, apa kau tahu nama apa itu Sharingan?" Karena penasaran dan bosan dengan pemandangan monoton gurun ini, keluarlah pertanyaan tak direncanakan dari mulutku ini pada orang terdekat. Apa boleh buat yang paling dekat untuk ditanyai hanya Naruto. Sebelumnya Shikamaru memerintahkan setiap laki-laki dalam tim menjaga murid perempuan satu persatu. Mengantisipasi bahaya. Dan berakhir aku 'dikawal' Naruto.
"Hm.. mungkin sejenis alat untuk membuat es jeruk." Jawab Naruto asal sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala. Aku terkikik pelan mendengarnya. Ayolah selera humor orang ini rendah sekali!
Panasnya cuaca gurun kami hadapi, langkah demi langkah meninggalkan jejak-jejak kaki di atas hamparan pasir yang luas. Yah, aku tahu gurun pasir di Jepang ini tentu tidak seluas dan 'separah' gurun-gurun pasir di Mesir sana. Tapi...ya Tuhan, tempat ini menyiksa sekali! Untung saja kami sudah siap dengan segala jenis krim anti matahari dan minuman yang banyak.
Kami sampai di gunung pasir yang sangat besar, pos pertama di peta. Sebenarnya lebih pantas disebut bukit, karena jika melihat gunung yang sebenarnya punya ketinggian ribuan kilometer, bukit ini hanya setinggi sekolah kami.
Jelas saja kami berhasil sampai karena kami telah mengikuti semua tatacara dari soal bagian kedua itu kecuali poin terakhir. Menemukan petunjuk, lalu melakukan 3T kurasa sudah. Gambar bebatuan yang menunjukan jalan lah petunjuknya. Lalu... walaupun sejak tadi tidak terlihat tim lain ataupun bahaya, kami sudah waspada. Ya, cukup.
Tidak mudah mendaki gunung ini. Sampai di atas, kami melihat beberapa kelompok lain mulai bergerak dari kejauhan. Hah, semoga saja mereka tidak melihat kami! Bisa-bisa jejak kami diikuti. Langsung saja kami bergegas turun.
Saat hendak turun, tiba-tiba pasir terasa tidak sepadat sebelumnya. Pasir-pasir bergerak turun seperti air terjun. Tak cukup sampai di situ, lintasan pun sangat curam!
"KYAAAA!" Kami terperosok layaknya sedang meluncur di perosotan air kolam renang. Tanpa sadar kami para gadis saling berpegangan satu sama lain dengan 'pengawal' kami masing-masing.
Sampai akhirnya kami mendesah lega saat mendapati gerakan pasir terjun sudah berakhir dan kaki kami sudah kembali berpijak. Aku melepas genggaman tanganku pada Naruto. Yaampun apa sejak tadi aku menggenggamnya seerat itu? Naruto hanya cengengesan melihatku menunduk malu dengan wajah memerah. Oh Tuhan aku benar-benar malu! Namun aku tidak bisa berlama-lama tenggelam dalam rasa malu saat peristiwa mengejutkan tiba-tiba terjadi di depan mataku.
Di bawah kaki gunung, saat Naruto mulai melangkah, pijakannya tiba-tiba amblas. Tubuhnya terhuyung, ia berteriak panik saat kakinya terbenam sampai batas mata kaki. Bukannya menolong, Sasuke malah mengejeknya ceroboh. Keributan pun terjadi.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Aku heran memandangi padang pasir di dekat kami berpijak—atau lebih tepatnya di depan tempat Naruto berpijak tadi. Pasir-pasirnya seakan tersapu angin. Membentuk ruas jalan.
Baru saja aku akan membuka mulut akan hal ini, ada yang memotongku. "Hey, Naruto! Coba hentakkan kakimu lagi!"
Sepertinya ketua tim Sharingan berambut nanas itu berpikiran sama denganku.
Dengan ragu dan ekspresi takut, Naruto menghentakkan kakinya perlahan. Sambil memberikan Shikamaru tatapan 'Kalau-aku-sampai-terperosok-masuk-ke-pijakan-amblas-ini-gantikan-nyawaku!'
Semua memperhatikan cowok berambut durian itu. Aku sedikit khawatir. Yang lain pun menampakkan wajah khawatirnya.
Ajaib! Semakin dihentakkan, semakin amblas, semakin terlihat wujud jalannya. Akhirnya semua paham dan ikut menginjak-injak pijakan berbentuk persegi panjang itu. Dan.. fuala! terciptalah jalan lurus. Wow, persis seperti di peta. Pantas saja awalnya kami dibuat kebingungan karena jalan yang ditunjukkan peta tidak tampak di aslinya.
Kami pun mengikuti jalan itu, sampai tiba di suatu tempat di belahan gurun ini. Tempatnya mempunyai hawa yang sedikit sejuk, setidaknya tidak sepanas padang gurun tadi. Beberapa pohon kelapa tumbuh rimbun, walau belum bisa disebut oasis. Hmm... itu berarti, ini bukan Oasis Abadi seperti yang di peta. Sayang sekali, padahal aku sempat berharap begitu.
Terlihat reruntuhan bangunan kuno yang sudah hancur tak berbentuk. Kata Shikamaru, dilihat sekilas reruntuhan ini diperkirakan adalah sebuah desa kecil yang sudah kosong sejak puluhan tahun lalu. Tepat di ujung jalan yang kami ikuti tadi, terdapat sebuah bangunan yang keadaannya tidak sehancur bangunan lainnya. Bagian depan bangunan besar itu terdapat sebuah dinding yang entah mengapa terlihat kokoh dengan 6 pintu berjejer di depannya. Ada sekat pembatas berupa tembok bata setengah betis yang sudah runtuh di sela tiap depan pintu. Bangunannya klasik dan artistik sampai menarik atensi kami semua. Dinding itu bercat kuning gading dengan pintu-pintu kayu cokelat berukiran sulur tanaman kecil terletak samar di tiap sudut pintu.
Cat-cat di bangunan, atau lebih tepat dibilang tembok tua itu telah luntur dan kotor. Pilar-pilar yang rubuh pun berserakan bersama puing-puing bangunan di sekitarnya. Orang akan mengira rusaknya bangunan itu karena faktor usia yang sepertinya saat masih baru tampak indah layaknya kuil-kuil megah di Yunani, bukan karena gempa bumi atau perang. Setidaknya itu lah pikiranku.
Akhirnya Sharingan mendekat ke satu-satunya bangunan yang masih lumayan utuh itu. Walau sekilas tempat ini tidak seperti tempat-tempat yang ditunjukkan peta, entah mengapa tempat ini seakan mempunyai magnet yang menarik kami untuk berjalan mendekat. Padahal menurut jawaban soal bagian kedua, kami diharuskan mengikuti petunjuk, dalam hal ini peta.
Dalam diam, walaupun tadinya terdengar beberapa ungkapan kekaguman dan bisik-bisik lainnya mengenai tempat ini, tim Sharingan melangkah perlahan. Entah mendapat keyakinan dari mana, tapi kami semua kompak mendekati bangunan mencolok itu.
Kami berdiri berjajar menghadap tembok bangunan itu. Kini tinggal selangkah lagi bagi kami untuk memasuki pintu kayu ini. Tanganku seakan memiliki rasa penasaran yang besar untuk membuka pintu misterius di depanku ini. Apa yang lain juga sama sepertiku?
Kulirik ke sebelah kiri, di pintu pertama paling ujung kiri ada Sasuke dan Sora, lalu Kiba dan nii-san di pintu kedua, selanjutnya ada Tenten dan Sakura, lalu Temari dan Shino di pintu keempat berada persis di sebelahku yang berada di pintu kelima ini.
Setelah itu, kugerakkan bola mataku ke kanan. Ada Tamaki yang satu sekat pintu denganku, lalu di sebelahku ada Naruto di pintu selanjutnya bersama Shikamaru sang kapten Sharingan. Aku sudah bilang 'kan setiap pintu itu bersekat? Karena sekat pintunya sempit, satu pintu hanya muat untuk dua orang.
Sepertinya mereka semua berpikiran sama denganku. Aku menengok menatap Tamaki, ia mengangguk mantap tanda mengerti dan yakin. Tanganku yang telah menyentuh gagang pintu yang berdebu itu perlahan bergerak menekannya.
"Bersama-sama!" komando Shikamaru.
Ugh, sebenarnya aku agak sedikit takut...
"Ayo Hinata! Jangan ragu!"
Ah? Naruto menyemangatiku? Baiklah, aku takkan ragu!
Tim Sharingan serempak bergerak.
KREKK
"Uuh.. susah sekali," ujarku yang kesulitan membuka pintunya. Semuanya berusaha keras membuka pintunya, tapi hasilnya nihil.
Sesaat pandanganku menangkap deretan huruf kanji kuno terukir indah di tengah-tengah pintu kayu di depanku ini. Ku singkirkan debu yang menutupi rentetan tulisan itu, ku dekatkan mataku ke ukiran itu dan ku baca di dalam hati. Sontak Tamaki pun mengikuti aktivitasku itu lalu membacanya pelan.
"Berpasanganlah di pintu labirin ini," ejanya pelan.
Detik itu juga, seluruh anggota Sharingan menengok kearahku dan Tamaki. Aku pun menjelaskan temuanku itu. Apakah itu petunjuk?
"Coba lihat!" kata Naruto setelah penjelasanku. Ia melompati sekat antara pintu keenam dan kelima lalu 'menyingkirkan' Tamaki dari depan tulisan itu. Seketika Tamaki mendelik kesal karena 'disingkirkan' Naruto tanpa aba-aba dan melancarkan tinjuan maut ke wajah Naruto.
Naruto meringis kesakitan dan kembali ke tempatnya sambil merutuki Tamaki pelan.
"Bilang saja mau dekat-dekat Hinata dan merepotkanku!" ujar Tamaki pelan dengan nada kesal. Eh, apa? Dekat-dekat aku?
M-memang sih, sejak tadi Naruto dekat-dekat denganku terus. Entah sengaja atau tidak. Jadi sedikit err.. risih. Ku sadari wajahku memerah di saat seperti itu. Uh kenapa aku ini?
"Cih, baka Dobe Tunggu apa lagi, itu petunjuk 'kan?" tiba-tiba Sasuke di ujung sana membuka suara setelah melihat tingkah konyol Naruto dan Tamaki.
"Ya. kalian mengerti 'kan?" kata Shikamaru sambil berjalan melewati bagian pintu kelima.
Melihat Shikamaru, aku pun paham. Semua paham. Pasti ia beranjak ke tempat Temari, ingin berpasangan dengannya.
Benar saja. Semua pun terlihat bingung dan canggung mencari pasangan. Saling melirik antara laki-laki dan perempuan. Aku pun bingung dan terdiam.
Tiba-tiba lantai bangunan yang kami pijak bergetar. Apa ini? gempa?
Semua panik. Tunggu, ini gempa, tapi bangunan sama sekali tidak runtuh. Memang gempanya kecil, tapi logikanya, pasti ada bagian bangunan yang runtuh 'kan? Ah, biarkan saja. Toh keanehan ini malah menguntungkan kami.
Untuk langkah penyelamatan diri, ku rapatkan tubuhku ke pintu dan tanpa melihat, ku tarik lengan baju Tamaki di sebelahku agar ia juga merapat di pintu kelima ini. Untung saja aku pernah mempelajari cara-cara penyelamatan diri dari bencana.
"Bagaimana ini, gempa semakin besar!" Terdengar teriakkan Tamaki dilatarbelakangi suara gemuruh gempa yang tidak begitu ekstrim namun tetap saja membuatku takut. Tapi.. kenapa suara Tamaki terdengar jauh? Aku yang tadinya menutup mata karena takut segera membukanya dan membelalakkan mataku karena Tamaki yang seharusnya ada di sebelahku ternyata ada di pintu ke enam tempat Naruto berada sebelumnya.
I-itu berarti.. di sampingku..
"Na-Naruto-kun? K-kenapa ada di-di sini?" tanyaku gagap. Ingin rasanya aku berteriak, namun seperti tertahan dalam keadaan gawat ini. Oh Tuhan, jarak kami dekat sekali! Naruto mendekapku dari belakang dan kami merapat di pintu bersama
Ku akui wajahku memanas, dan aku sembunyikan itu. Naruto hanya nyengir saat ku tanyai.
Tiba-tiba Shikamaru berteriak. "Sepertinya tempat ini menuntut kita untuk cepat. Segera berpasangan pada tiap pintu dan masuk bersama-sama!"
"Ehehe.. Aku sudah menyadari itu sejak tadi jadi aku mengambil tempat di sebelahmu. Eng... sebenarnya tadi aku terhuyung karena gempa lalu kau menarikku 'kan?" kata-kata Naruto sungguh tepat sasaran sehingga membuatku merona malu karena perbuatanku sendiri yang ceroboh. Dia ini, curi-curi kesempatan saja. Eh! Apa? Mencuri kesempatan? Hinata sadarlah jangan berpikir seperti itu!
NORMAL POV
Anggota tim Sharingan lainnya juga mulai beraksi. Shikamaru tiba-tiba menghampiri Temari yang hampir jatuh terhuyung dan menangkap tubuhnya. Mereka kemudian berpegangan pada gagang pintu keempat. Ekspresi mereka tetap datar, tapi naif.
Shino yang merasa harus pindah karena tempatnya diambil Shikamaru segera menengok ke kanan-kiri sembari berjalan tertatih menahan goncangan gempa.
Di sisi lain, Sasuke telah berjalan ke pintu tempat Sakura berada dan meninggalkan Sora sendirian di pintu satu. Sebelumnya Sasuke dan Sakura sudah bertatapan penuh arti.
Lalu bagaimana dengan Tenten yang tadinya bersama Sakura? Jangan tanya. Sebelum dikomandoi pun, ia sudah bersama Neji di pintu kedua. Otomatis menggeser Kiba yang segera mengengok ke arah Hinata berniat menghampirinya. Namun ia harus menelan kekecewaan mendapati gadis pujaannya sudah berpasangan dengan Naruto. Bahkan sempat-sempatnya rahangnya mengeras meleihat posisi Naruto yang tampak seperti sedang memeluk Hinata. Sial! kenapa Naruto selalu mendahuluiku? batin Kiba jengkel.
Sepersekian detik kemudian, tatapannya beralih ke belakang Hinata. Terlihat Tamaki yang melambai-lambaikan tangannya dan berujar, "Ke sini Kiba!"
Di tengah gempa yang frekuensinya kian menyusut, ia menuju ke tempat Tamaki di pintu paling ujung. Tepat saat ia sampai, Shikamaru kembali berujar.
"Apa semua sudah siap?"
"Belum. Apa kalian melupakanku?"
Hening.
Gempa seakan-akan berhenti sejenak saat Shino berujar dingin. Aura suram menyergapi seluruh anggota tim saat mendegar Shino berujar. Hanya tersisa dua laki-laki yang tidak mendapat pasangan dan hanya satu pintu tersisa. Sora tampak terdiam dengan wajah datar di pintunya hanya menanti siapa saja yang mau berpasangan dengannya. Sementara Shino yang sudah melihat Sora enggan melangkah ke sana.
Semuanya berpikir keras. Kalau yang disebut pasangan itu laki-laki dan perempuan, lantas bagaimana nasib Shino dan Sora yang tersisa?
Apa yang harus dilakukan tim Sharingan?
"Sudahlah Shino. Yang penting dua orang di satu pintu. Lagipula sejak awal sekolah tidak menetapkan jumlah laki-laki dan perempuan yang sama dalam satu tim kan?" Shikamaru berujar bijak. Tidak ada pilihan lain. Mereka harus cepat sebelum gempa ini semakin memburuk.
Dengan berat hati dan perasaaan tidak dianggap, akhirnya Shino melangkah ke pintu Sora. Setetes keringat dingin menetes dari pelipis Sora.
"Apa yang harus kita lakukan Shikamaru?" teriak Sakura yang mencoba menahan gemetar panik di tubuhnya. Sasuke yang mengetahui itu merangkul pundak Sakura seolah menjaganya agar gadis itu tidak jatuh dan berbisik di telinga Sakura, "Tenanglah Sakura."
Temari menatap penuh tanya Shikamaru di sampingnya.
"Setelah berpikir tadi, ku kira inilah Labirin Pasangan itu. Kita harus masuk. Dalam hitungan ketiga kita buka pintunya bersama!" ujar Shikamaru tegas.
Setiap pasangan memegang gagang pintu masing-masing. Mempersiapkan diri mereka pada apa yang akan dihadapi selanjutnya. Begitu pula Naruto dan Hinata, Hinata memejamkan mata takut-takut. Naruto yang menyadari itu lalu menyemangati Hinata.
"Jangan takut Hinata, nanti 'kan kita bersama-sama! Tidak akan ada hantu, kalau ada pun mungkin aku akan kabur!" ujar Naruto berlagak berani diiringi gelak tawanya.
"I-iya," cicit Hinata pelan.
Setelah itu terdengar suara Shikamaru "1.. 2.. 3.. buka!"
KREEK
SET
Semua pintu pun terbuka. Seluruh tim Sharingan masuk ke dalam pintu masing-masing.
Hinata dan Naruto melangkahkan kakinya ke dalam namun pijakan mereka amblas, mereka jatuh terperosok ke dalam lubang. Spontan mereka berteriak kaget karena mereka terus meluncur berkelok-kelok seperti di dalam terowongan luncur atau yang mereka tahu rasanya seperti sedang meluncur di water boom.
"Kyaa!" jerit Hinata yang tanpa terasa dirinya sudah berada di pangkuan Naruto, meluncur bersama. Naruto pun tak kalah berisik berteriak kaget. Beberapa detik kemudian terowongan itu sudah berakhir dan mereka jatuh tersungkur di lantai tanah yang dingin.
Kini, Naruto dan Hinata—juga anggota tim Sharingan lain yang tidak terlihat oleh Naruto dan Hinata—berada di ruang bawah tanah yang gelap. Mereka semua saling tidak mengetahui di mana dan bagaimana nasib teman-teman mereka.
Tidak ada yang bisa Hinata lihat kecuali Naruto yang berada di sebelahnya. Ruangan ini gelap, namun ada obor di suatu sudut tak jauh dari mereka.
"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto sambil membersihkan bajunya yang terkena pasir.
"Tak apa," jawab Hinata pelan.
"Sekarang sebaiknya kita kemana, Naruto-kun?" ucap Hinata lagi.
"Entahlah. Lihat itu! Ada cahaya. Ayo kita kesana!" seru Naruto.
Hinata mengangguk. Mereka pun berjalan perlahan dalam diam. Refleks Naruto dan Hinata saling mendekat. Kali ini Hinata tidak merasakan perasaan gugup atau canggung seperti saat pertama berjalan berdua dengan Naruto.
"I-inikah labirin pasangan itu?" ujar Hinata saat melihat apa yang ada di bawah nyala obor. Ada tulisan-tulisan yang menyatakan bahawa inilah labirin pasangan. Naruto mendongak menatap dinding-dinding yang menjulang di depannya. Benar, labirin. Dinding-dindingnya yang berwarna cokelat keemasan sudah kotor dan berlumut. Tampak sebuah pintu masuk ke labirin itu. Diatasnya terdapat tulisan berupa ukiran kayu dengan huruf kanji: Hitotsu.
Naruto dan Hinata saling bertatapan bingung. Mungkin yang ada di pikiran mereka adalah memasuki labirin itu untuk melanjutkan perjalanan mereka dan...
"Naruto-kun, apa kita tidak sebaiknya mengetahui di mana anggota lain?" ujar Hinata pelan sembari mengeluarkan ponsel putih dari saku celananya.
"Benar juga. Baiklah, aku SMS Teme dulu," kata Naruto. Dengan cepat ia mengetik sesuatu di ponselnya.
"N-Naruto-kun, memangnya di sini ada sinyal? kirim e-mail saja," kata Hinata menyarankan. Ia pun mengirimkan e-mail kepada teman-teman perempuannya.
"Ehehe. Iya juga ya. Baiklah," kata Naruto dengan tampang bodohnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hinata geleng-geleng kepala. Namun bodohnya Hinata, ia tidak menyadari seharusnya di bawah tanah ini tak ada sinyal internet juga. Memang tak ada, tapi tanpa mereka ketahui ada Wifi yang dipasang di sini oleh pihak sekolah yang telah menyiapakan rintangan ini tentunya. Untungnya juga ponsel mereka sudah dinyalakan secara otomatis penangkap sinyal wifi nya.
Ada juga sepasang mata yang tengah mengawasi tim Sharingan dari sudut ruangan ini. Tentunya mereka tidak menyadari orang itu. Seseorang bertubuh tinggi besar berjenggot dengan rokok yang ia hisap. "Tim pertama sampai, tim Sharingan," ucap orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Asuma-sensei yang mengawasi perjalanan siswa-siswi di pos labirin ini.
Beberapa detik setelahnya, e-mail balasan datang dari anggota tim Sharingan lain. Hinata membacanya satu per satu dan mengabarkannya pada Naruto.
"Naruto-kun, ano... kata Sakura, ia dan Sasuke ada di tempat yang sama seperti tempat ini, kejadian yang mereka alami pun sama dengan kita tadi, tapi tulisan di atas pintunya 'futatsu'..lalu—"
"Eh, ada e-mail dari Shikamaru," potong Naruto.
"Iya, aku juga dapat," kata Hinata. Ia membuka e-mail dari Shikamaru dan membaca isinya dalam hati.
"Shikamaru dan Temari ada di tempat yang sama seperti kita juga, tapi pintunya bertuliskan 'mittsu'! Lalu katanya semua pasangan telah ia kirimi e-mail dan berada di depan labirin sama seperti kita!" Naruto membacanya kencang.
"Kata Shikamaru, bisa disimpulkan labirin ini berbentuk segi enam. Kita di pintu pertama 'hitotsu', Sakura-Sasuke di pintu kedua 'futatsu', Shikamaru-Temari di pintu ketiga 'mittsu', Tamaki-Kiba di pintu keempat 'yottsu', lalu..." Hinata berhenti sejenak untuk mengambil napas.
Naruto pun melanjutkan. "Di pintu kelima 'itsutsu' ada Shino-Sora, dan terakhir 'muttsu' di pintu keenam ada Tenten dan kakakmu itu."
"Ya. Menurut Shikamaru, ki-kita semua akan bertemu di pertengahan labirin, kalau kita masuk bersama-sama." Ujar Hinata.
"Ah, ini! kata Shikamaru, sekarang kita semua masuk bersama-sama. Ayo Hinata!" ajak Naruto.
Saat melangkah, tanpa sadar tangan Naruto bergerak ingin menggandeng tangan gadis bermata amethyst di sebelahnya ini. Namun dengan satu gerakan refleks, Hinata menghindar.
"Maaf," kata Naruto. Hinata hanya menundukkan kepalanya, melihat ke arah lain. Tanda menolak.
"Ehm, ladies first," kata Naruto gugup mempersilahkan masuk ke dalam pintu terlebih dahulu sembari mengambil senter di dalam tas nya, yang juga dilakukan Hinata.
Hinata pun langsung melenggang masuk labirin diikuti Naruto, partnernya. Baru tiga langkah ke dalam labirin, Hinata berhenti dan membuat Naruto yang ada di belakangnya heran. Naruto berbelok. Kini ia berada di sebelah Hinata.
Baru saja Naruto akan bertanya, Hinata sudah lebih dulu menunjukan jawabannya. Sebuah buku dikeluarkannya dari dalam tas dan disobeknya selembar kertas.
"Ini. Kau pegang satu. Disobek kecil-kecil lalu dijatuhkan setiap kita melangkah. Agar kita tidak tersesat." Ujar Hinata sambil tersenyum manis.
Sesaat jantung Naruto berdegup kencang melihat pemandangan indah ini. Walau hanya diterangi cahaya lampu tempel yang berjejer jarang-jarang di dinding labirin yang beratapkan permukaan tanah ini, senyum Hinata terlihat sangat manis sampai menyentuh dasar hatinya. Wajah tan nya yang sedikit pink tersamarkan oleh intensitas cahaya yang memang minim di bawah tanah. Menguntungkan dirinya, setidaknya Hinata tidak menyadari hal ini.
Kalau iya, apa kata dunia? Hei tunggu. Apa artinya ini?
Naruto sendiri merasa masih belum bisa seratus persen move on dari bayang-bayang Shion, mantan kekasihnya. Ditambah lagi dirinya yang sejak dulu mengagumi Sakura, walaupun ia sadari ia tidak serius pada Sakura dan hanya senang menggodanya saja. Sakura dan Naruto itu sahabat sejati selama-lamanya. Selamanya, sampai dunia runtuh pun hanya sahabat saja. Yeah, ini pengakuan si rambut durian pada hatinya sendiri.
Lagipula bagaiamana ia mau serius dengan Sakura jika ia tahu sahabat sekaligus rivalnya, Sasuke akhir-akhir ini sedang dekat dengan gadis musim semi itu. Gadis cantik dengan mata indah yang memancarkan kecerdasan dirinya dan rambut pink nya yang lembut serta tubuh semampai. Membuat si primadona Uchiha Sasuke rajin curi-curi kesempatan dekat-dekat dengan Sakura setelah kurang lebih dua bulan putus dengan Ino.
Walaupun sebenarnya awal mula Naruto menyukai Sakura dulu sekali adalah karena waktu kecil Sakura menyukai Sasuke dan Naruto ingin bersaing dengan Sasuke dalam hal apapun.
Tapi toh Naruto tidak terlalu cinta pada Sakura. Ia justru mendukung bila Sasuke dan Sakura bersama. Sehingga tidak heran hal seperti ini terjadi. Sepertinya pemuda bermata safir ini mulai tertarik pada kepolosan dan kecantikan alami gadis pemalu di depannya yang kini sedang mengibaskan selembar kertas di depan wajah Naruto karena pemuda itu belum juga menerima kertas yang disodorkan Hinata.
Hinata sendiri heran, bukannya langsung mengambil kertas putih itu dari tangannya, Naruto malah melamun. Ia khawatir, jangan-jangan ada setan di labirin ini yang merasuki Naruto.
Tapi Naruto seakan menepis bayangan Hinata dengan buru-buru mengambil kertas itu sambil nyengir lebar khas dirinya dan menggumamkan "Baiklah"' sekenanya.
Mereka melanjutkan perjalanan sambil saling berbalas e-mail dengan pasangan lain untuk berdiskusi. Ralat, bukan mereka tapi hanya Hinata yang kontak dengan pasangan lain.
Sedangkan tugas Naruto adalah berjaga dan menerangi jalan dengan senter yang dipegangnya. Keduanya sama-sama menyobek kertas untuk menandai jalan yang sudah dilewati.
Tiba-tiba, jalan berbelok dan Hinata yang sedang melihat layar ponsel menabrak dinding di depannya. Hinata mengaduh sambil memegang kepalanya yang lumayan sakit. Dalam hati ia merutuki kecerobohannya.
"Daijoubu ka, Hinata?" Naruto memegangi pundak Hinata membantu menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit limbung. Hinata hanya mengangguk pelan. Ia memindai apakah ada yang terluka dari tubuh gadis itu kemudian matanya berhenti saat dilihatnya ada sarang laba-laba yang menempel di rambut Hinata.
Hinata yang menyadari arah pandang Naruto langsung mengarahkan tangannya membersihkan sarang laba-laba besar yang melingkupi setengah kepalanya. Lama-lama ia kepayahan membersihkan sarang laba-laba itu sendiri dan tiba-tiba Naruto membantunya menyingkirkan jaring laba-laba itu dari helaian rambutnya. "Makanya hati-hati," gumam Naruto lembut. Hinata terdiam membeku menerima perlakuan manis Naruto. Rona pink samar pun tercetak di pipinya.
Sementara itu, pasangan lain juga sedang sibuk melewati labirin ini. Tapi beberapa diantara mereka malah memanfaatkan situasi.
Seperti Tenten yang pura-pura takut agar bisa menempel dengan Neji, Sasuke yang tersandung lalu terluka dan diobati Sakura di tengah minimnya cahaya, Shikamaru dan Temari yang masih saja gengsi satu sama lain, padahal tangan mereka saling menggenggam, serta Kiba dan Tamaki yang sejak tadi seru sekali mengobrol tentang tentang hewan peliharaan mereka masing-masing, padahal Kiba pecinta anjing dan Tamaki penyayang kucing.
Di sisi lain Shino dan Sora terjebak dalam keheningan. Mereka hanya serius memikirkan jalan keluar. Dalam hati Sora menggerutu kesal mengapa partnernya sangat kaku dan tidak ada asyik-asyiknya sama sekali. Membuat petualangan yang seharusnya seru menjadi datar. Krik sekali.
Walau tim Sharingan berada di belahan labirin yang berbeda, tidak tahu di mana dan kapan mereka akan bertemu dan seringkali berhadapan dengan tikungan atau pilihan jalan di labirin ini, mereka tidak perlu pusing dan khawatir akan salah jalan. Karena mereka yakin akan bertemu di satu titik.
Yang tidak bisa dipungkiri adalah kelompok Sharingan ini adalah kumpulan jenius. Mereka bisa mengatasi ini dengan kepintaran dan keahlian mereka memanfaatkan teknologi.
Sasuke menggunakan suatu aplikasi GPS khusus yang berguna untuk situasi genting seperti di daerah terpencil ini (berbeda dari GPS sederhana yang mudah diaplikasikan orang awam) di gadgetnya yang canggih dan super mahal itu untuk mendeteksi di mana teman-temannya berada. Hinata menganalisa keadaan tempat ini dengan hipotesisnya dan data-data dari Sasuke. Neji dan Tamaki membantu mencari petunjuk. Shino menghitung jarak koordinat titik pertemuan mereka—yang Shikamaru duga adalah pusat dari labirin ini. Ya, terakhir Shikamaru lah yang mengolah semua informasi menjadi 'jalan keluar' mereka. Kerjasama yang bagus!
Mata Hinata masih serius menatap layar poselnya. Naruto di sebelahnya hanya menatap ke depan bosan karena sedari tadi hanya berjalan dalam diam menuruti instruksi yang diberikan Hinata.
DEG
Entah itu hanya perasaan Naruto, kesalahan penglihatan, atau memang benar, ada suatu bayangan putih terlintas jauh di persimpangan lorong di depan Naruto. Pemuda itu menelan ludahnya. Ia mulai gemetar. Bulir keringatnya menetes semakin banyak. Bahkan untuk memanggil Hinata saja rasanya susah sekali.
"Selanjutnya belok sini Naru—"
"Huaaaa... cepat lari Hinata!"
Instruksi Hinata dipotong oleh teriakan lantang Naruto. Cukup keras untuk bisa didengar anggota tim Sharingan lain yang kini terpisah. Tidak, bukan hanya teriakan, tapi gerakan kilat Naruto pun tak bisa dihindari oleh Hinata sehingga lekas saja ia ditarik pergi ke arah yang berlawanan 90 derajat dari yang diinstruksikannya tadi.
Naruto berlari secepat kilat. Rupanya ia tak mau kalah dengan Eyeshield 21 atau Konoha Yellow Flash. Hinata yang tidak tahu menahu, terpaksa ikut berlari. Sampai akhirnya...
BRUAKK
Terjadilah insiden itu. Menyimpangnya rute Naruto dan Hinata malah mempertemukan mereka dengan seseorang. Bukan bertemu, lebih tepatnya menabrak.
Hinata yang berlari di sebelah kiri Naruto menabrak seseorang di depannya sehingga benda di tangan orang itu terlempar. Buruknya, benda itu tepat mengenai kepala Naruto. Dan bukan kabar baik, benda itu adalah sebuah senter.
Yah, sebuah senter yang cukup berat untuk membuat kepala Naruto benjol besar. Ia meringis kesakitan.
Gelap memang perlu disalahkan dalam kejadian ini. Hinata lalu mengambil senter dan menyorotnya ke seseorang di depannya.
Rambut cokelat ikal. Tatoo segitiga merah di pipi. Sepertinya laki-laki.
Naruto pun ikut melihat siapa pembawa sial yang melempar senter nista itu. Hinata menyorot lagi senternya ke depan. Ada satu orang lagi, mereka adalah..
"Ki-Kiba? Tamaki?!" kata Hinata saat melihat wajah orang itu.
"Ah, Hinata!" sapa Kiba sumringah.
"Rupanya kau yang melempar senter ini, Kiba!" seru Naruto kesal.
"Hinata! aku tidak betah sekali disini," kata Tamaki yang muncul dari belakang Kiba.
"Salah siapa yang menabrak duluan? Kau Naruto!" bela Kiba pada dirinya sendiri.
"Go-gomen.. ini salahku." Kata Hinata sambil membungkukkan badannya. Naruto dan Kiba sontak menggeleng.
"Harusnya aku yang meminta maaf, Hinata!" sanggah Naruto.
"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, mengapa kau membawaku lari tiba-tiba?" tanya Hinata.
"I-itu.. sebenarnya.. aduh, tadi kau tidak melihat sih. Aku langsung menarikmu karena... ADA HANTU!" ujar Naruto sambil melihat ke sekeliling dan gemetar. Ia masih panik akan penglihatannya yang belum tentu benar itu.
"KYAAA! Mana hantu?" Hinata langsung panik dan refleks memeluk Tamaki di depannya. Kenapa tidak memelukku saja sih, batin Kiba dan Naruto iri bersamaan.
"Telat, Hinata.." kata Naruto sweatdrop.
"Tidak ada hantu kok, Hinata." Kata Tamaki sambil melepas pelukan Hinata.
"Eh.. maaf," ujar Hinata malu.
"Tapi gara-gara itu kita jadi bertemu ya. Kebetulan sekali," celetuk Kiba.
"Jadi, sekarang kita ke mana? Apa sudah sampai di tengah labirin?" ujar Naruto.
"Lihat itu! sepertinya sedikit lagi sampai!" seru Tamaki dengan wajah berseri-seri sambil menunjuk ke suatu arah.
Ada cahaya terang terlihat menjalar keluar seperti lidah api dari suatu tempat yang tertutup potongan dinding-dinding labirin yang membentuk jalan.
Mereka berempat langsung bersemangat lari. Sudah tidak tahan berada di sini dan tidak sabar ingin cepat-cepat meraih tujuan akhir mereka. Mereka lelah, juga khawatir dengan teman-teman lainnya.
Dan.. di sini lah mereka. Cengiran lebar maupun tipis, bagi sebagian orang terpampang di wajah. Cahaya-cahaya lilin yang klasik nan mewah menghiasi ruangan eksotis itu.
Hinata, Tamaki, Naruto dan Kiba sampai di pusat labirin yang sesuai dengan perkiraan mereka. Seperti mimpi. Teman-temannya pun berangsur-angsur datang tidak lama setelah mereka. Senyum kelegaan dan senang terpancar dari wajah tim Sharingan saat mereka berkumpul kembali.
Sebuah tangga spiral yang ber-cat emas kini nyata di depan mereka. Seakan-akan menghipnotis mereka untuk naik keatas dan membuka pintu kayu di langit-langit labirin, dan melihat apa yang ada disana.
Yakin dengan pemikiran mereka bahwa tujuan akhir mereka semakin dekat, mereka pun naik ke tangga itu dan membuka pintunya perlahan.
Dan betapa senangnya Hinata, cahaya mentari sudah mendekati matanya lagi setelah sebelumnya gelap yang didapat. Ia mengerjapkan matanya yang belum terbiasa dengan sinar terang di gurun ini. Tunggu, bukan gurun lagi sepertinya, tapi hutan!
Ya, hutan. Atau oasis? Mereka tidak peduli apa namanya. Yang mereka tahu, Pohon-pohon tumbuh menghijau di sini juga sungai biru mengkilap jernih mengalir deras menambah sejuk suasana. Mereka sangat bersyukur saat ini karena kejamnya gurun sudah tak ada lagi.
Mereka saling bertatapan senang dan melirik-lirik sungai tanda ingin segera menceburkan diri beramai-ramai kesana.
Hampir saja Sakura dan para gadis lainnya tancap gas berlari ke sungai, Hinata mencegahnya cepat.
"T-tunggu Sakura-chan! Teman-teman, lihat itu!" seru Hinata sambil berjalan pelan menuju ke suatu tempat di pinggir sungai itu. Mereka semua memperhatikan Hinata heran. Pasalnya mereka tidak menemukan apa-apa selain sebuah pohon oak besar di pinggir sungai itu.
"Bagus Hinata. Sepertinya kalian lupa tujuan utama kita," ujar Sasuke pada Hinata dan tim Sharingan. Ia pun melenggang pergi dari tempatnya mengikuti Hinata yang hampir sampai. Shikamaru pun mengikuti disusul yang lain yang sepertinya baru menyadari sesuatu.
Setelah semua sampai, Hinata tersenyum bangga akan hasil temuannya. Semua anggota tim Sharingan berbinar melihat temuan Hinata.
"H-hebat sekali, Hinata!" ujar Sakura senang.
Mereka pun menyentuh hasil temuan mereka yang sangat membuat hati mereka senang itu. Sesuatu yang menakjubkan, seperti mimpi..
TBC
A/N:
Apakah benda itu? Dan apa isinya? Mengapa membuat tim Sharingan senang? Tunggu di chapter depan!
Btw, Reader-reader dulu mana suaranya ya? Apa kalian gak tau kalo One Octave pindah ke sini? munya kan bikin ini buat kalian =(
review reply corner:
Hqhqhq
Ciyee.. saya juga seneng di review terus wkwk.
Sayang sekali sepertinya cuma di bagian ini saja sci/fi nya wkwk. Sip semangat selalu! Makasih banyak yaa!
DrunKenMist99
Wah jangan pusing hehehe ok ini lanjutannya btw thanks reviewnya yaa!
diva hime-chan
ini sudah lanjut. silakan lanjut baca dan review hehe
sekian dari munya. chapter 5 on prgress. semoga bisa cepet update yaa. Kritik/saran/review tetap ditunggu ya!
Salam
Munya
