"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Kuroko POV.

Aku terbangun ketika jam pengganggu itu berdering. Jam yang dipasang secara paksa oleh Okaa-san agar aku bisa bangun pagi. Tapi tetap saja, mataku seperti diberi perekat setiap benda rusuh itu berbunyi. Kadang timbul pertanyaan, kenapa pagi datang secepat ini? Ya Tuhan, tempat tidurku begitu nyaman. Ijinkan waktu berhenti 2 jam saja. Tak tahukah kalau ranjang itu ibarat surga dipagi hari? Terlalu sayang kalau cepat untuk ditinggalkan.

Sekarang akan ku hitung sampai 3 dan akan terdengar bunyi 'nada dering' yang selalu sama beberapa hari ini. Bunyi yang enggan membuatku membuka mataku. Satu, dua, ti-

"Tet-chan, bangun sayang. Sudah pagi. Sei-chan sudah datang!" Tuh kan. Aku heran, kenapa Okaa-san bisa mengulang kata yang sama setiap harinya. Lagipula apa orang yang bernama Sei-chan itu tidak punya kesibukan? Pagi-pagi sudah rusuh dirumah orang. Oke, sebenarnya err.. Ini sedikit memalukan. Sei-chan yang dimaksud Okaa-san disini adalah Akashi-kun. Calon suamiku. Tunanganku sejak beberapa hari yang lalu. Aku laki-laki yang harus menikah dengan laki- laki .

Tidak, kalian tidak salah dengar. Aku memang laki-laki. Normal kalo perlu ku tambahkan. Aku masih suka perempuan, meskipun tidak perlu oppai besar seperti Momoi-san atau Alex- san yang setiap hari memelukku hingga tidak bisa bernafas dan hampir membuatku mati. What the hell! Kalau aku bukan anak yang sopan dan rajin menabung, pasti sumpah serapah serta nama penghuni kebun binatang sudah ku sebut semua. Lagipula, apa aku tidak ada tampan-tampannya dan tidak mampu menaklukkan makhluk berisik suka main peluk bernama perempuan (pengecualian Kise-kun yang laki-laki) sampai orangtua ku menjodohkanku dengan makhluk bersurai merah itu?

"Tet-chan.." Okaa-san memanggil lagi. Ah bodo amat, sekali-kali jadi anak bandel deh. Maafin Tetsuya, Okaa-san. Tambahku dalam hati.

Aku mendengar pintu kamarku dibuka. Oh my, aku lupa kalau tadi malam aku sangat mengantuk setelah bermain kartu Gundam dengan Ogiwara-kun.

Cklekk. Kemudian bunyi langkah kaki yang mendekati ranjangku. Perlahan ku rasakan sisi ranjangku yang terasa di duduki. Aku semakin menenggelamkan diri dalam selimut. Ku rasakan sesosok manusia yang entah siapa menarik selimutku. Aku tetap berpura-pura tidur unyu. Bisa kurasakan ada nafas seseorang di sekitar leherku. Mint. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa Okaa-san makan permen mint dipagi hari. Sebenarnya aku punya firasat tidak enak. Ku rasakan bulu kuduk di leherku berdiri. Basah. Hangat. Geli. Apa itu? Langsung ku buka mataku dan melihat pemandangan yang err.. Seorang bersurai merah, laki-laki, sedang berada diatas tubuhku, wajahnya ditenggelamkan di ceruk leherku. Sedikit ku rasakan gigitan dan..

Normal POV

"Aaaaaarrrgh, apa yang kau lakukan, Akashi-kun." Teriak Kuroko, kalau bisa dibilang teriak karena intonasi suara yang datar.

"Membangunkan tunanganku." Jawab Akashi santai seraya menyeringai

"Aku bukan tunangan Akashi-kun."

"Lalu yang ditanganmu itu apa, Tetsuya? Cincin kita sama. Aku masih ingat loh ketika memakaikan cincin itu ditanganmu, lalu kau gantian memakaikannya ditanganku setelah itu kita berciu-"

"Hentikan. Itu- pokoknya Akashi-kun tidak sopan. Itu namanya pelecehan seksual, Akashi-kun."

"Itu bukan pelecehan seksual, Tetsuya. Kalau kau mau akan ku tunjukkan pelecehan seksual yang sebenarnya."

Kuroko bergidik mendengar ucapan Akashi. Dengan perlahan dia menjauhkan diri dari Akashi yang duduk disampingnya.

"Akashi-kun, ku mohon keluar dulu. Aku mau mandi."

"Aku tidak keberatan kita mandi bersama Tetsuya."

"Baknya tidak cukup, Akashi-kun."

"Tidak masalah, kau bisa masuk duluan dan aku akan menindihmu."

Mendengar itu, Kuroko langsung berlari menuju kamar mandi dan langsung menguncinya.

"Akashi-kun mesuum!" Teriak Kuroko dari dalam kamar mandi.

Beberapa saat kemudian..

"Ano, Akashi-kun bisakah kau ambilkan handuk dan baju seragamku yang sudah ku siapkan?"

"Kau menggodaku, Tetsuya? Apa kau ingin aku masuk ke kamar mandi?"

"Letakkan saja baju ku di depan pintu kamar mandi, Akashi-kun."

"Aku tidak mau kalau tidak masuk ke kamar mandi, Tetsuya."

"Aku akan berteriak kalau Akashi-kun akan memperkosaku."

"Tidak masalah. Dengan itu, kita akan segera menikah."

"Akashi-kun, aku serius."

"Aku juga tidak main-main, Tetsuya."

"Akashi-kun, ini tidak lucu."

"Aku juga sedang tidak melucu, Tetsuya."

"Akashi-kun, aku kedinginan."

"Mau ku hangatkan?"

"Akashi-kun…"

"Hai-hai, suatu saat aku juga akan mendengar kau berteriak mendesah dibawahku." Kata Akashi sambil menaruh seragam Kuroko di depan pintu kamar mandi.

Setelah selesai memakai seragamnya, Kuroko pun keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih terlihat basah dan wangi vanilla yang selama ini menjadi trademark nya semakin terasa. Dan itu membuat sang seme ngiler.

"Tetsuya, aku yakin bahwa kau sengaja mau menggodaku."

"Darimana Akashi-kun mengambil kesimpulan seperti itu?"

"Rambutmu basah, terlihat seksi, bibir mu merah minta dikecup, dan wangi tubuhmu membuat sesak cel-"

"Akashi-kun, kita perlu bicara."

"Heh? Boleh. Diranjang, Tetsuya?" Kuroko mendelikkan matanya mendengar pertanyaan Akashi.

"Apa maksudmu, Akashi-kun?"

"Katanya kau ingin berbicara denganku, Tetsuya. Baiklah akan ku penuhi. Bagaimana kalau kita berbicara diatas ranjang sambil bermain dengan permainan yang hanya bisa kau dan aku bayangkan?"

"Tidak perlu, Akashi-kun. Pembicaraan ini tidak akan lama."

"Jadi kau suka yang tergesa-gesa, Tetsuya? Tak masalah aku bisa bergerak lebih cepat."

"Hentikan ucapan Akashi-kun yang ambigu."

"Aku tak menyangka Tetsuya punya pikiran seperti itu."

"Akashi-kun..!"

"Baik-baik, Sekarang apa yang mau kau bicarakan, Tetsuya?"

"Akashi-kun..-"

"Tet-chan , buruan sarapan sayang, nanti terlambat!" Teriak ibu Kuroko dari bawah.

"Oke. Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti, Akashi-kun."

"Tergantung pembicaraan ini di ranjang atau tidak."

"Cukup! Yang pasti aku butuh bicara dengan Akashi-kun."

"Bilang saja kau ingin selalu bertemu denganku."

"Terserah Akashi-kun." Ujar Kuroko sambil menuju pintu keluar kamarnya.

GREEP. Sepasang lengan kekar melingkar di tubuh mungilnya. Akashi memeluk Kuroko dari belakang. Di endusnya leher putih Kuroko dengan hidungnya.

"Aku suka vanilla. Kau memabukkan, Tetsuya."

"Apa yang Akashi-kun lakukan?" Lirih Kuroko yang merasakan bulu kuduknya berdiri akibat ulah Akashi.

"Apapun alasan perjodohan ini, aku mencintai Tetsuya." Lidah Akashi mulai bergerilya. Hingga meninggalkan ruam merah di leher Kuroko.

"Tetsuya indah." Satu tangan Akashi meraih tangan Kuroko, dan mencium jemari Kuroko

"Akashi-kun.."

"Tetsuya baik." Kuroko hampir luluh dengan ucapan Akashi sebelum Akashi berkata "Dan mungil seperti perempuan." Akashi melepaskan pelukannya. Mengecup pipi Kuroko singkat dan berlari keluar kamar.

"Akashi-kun no bakaa!" Teriak Kuroko sambil menuruni tangga menuju ruang makan

"Tet-chan pagi-pagi sudah semangat sekali. Aah, pasti gara-gara Sei-chan ya?" Ujar ibu Kuroko yang sedang menata makanan

'Semangat? What the hell.' Umpat Kuroko dalam hati

"Tetsuya semakin manis tante."

"Iya? Tentu saja, Tet-chan ku memang paling manis."

"Okaa-san, Tetsuya ini tampan. Dan masih suka perempuan." Ujar Kuroko sambil melirik tajam Akashi.

"Tampan? Tetsuya kan sering dikira perempuan."

"Aku bukan transgender, Akashi-kun."

"Aku tidak bilang kau transgender, Tetsuya. Aku suka Tetsuya apa adanya."

"Berhenti berbicara ngawur, Akashi-kun."

"Aaaah, Sei-chan romantic sekali. Tante yakin, Tet-chan akan bahagia dengan Sei-chan."

"Tentu saja tante. Tetsuya juga tidak akan menyesal. Iya kan, Tetsuya sayang?"

'Aku akan menyesal seumur hidupku' Batin Kuroko kesal.

"Ano, lihat saja nanti, Akashi-kun."

"Aku tidak sabar menunggu kita lulus, Tetsuya."

"Itu masih lama, Akashi-kun. Lagipula, kenapa Akashi-kun tidak di Kyoto? Malah di Tokyo, apa tidak masalah dengan sekolah Akashi-kun?"

"Calon 'istri'ku memang perhatian . Tak salah aku memilihmu Tetsuya."

Kuroko makin kesal beradu argument dengan Akashi. Semakin dia menolak, sang surai merah selalu menemukan jawaban yang membuat Kuroko makin dongkol. Melihat sang ibu sudah beranjak dari tempat makan, Kuroko menjawab dengan frontal walau tidak gagah berani.

"Aku bukannya perhatian, Akashi-kun. Tapi pengusiran secara halus. Akashi-kun tau sarkasme bukan?"

"Heh? Tapi mulutmu terlalu manis untuk sarkasme, Tetsuya. Bibirmu harusnya di kecup di cium dan di lum-"

"Stop stop stop, oke? Kita mulai pembicaraan kita, Akashi-kun."

"Tidak di ranjang?"

"Diranjang ataupun disini sama saja, Akashi-kun."

"Berbeda. Diranjang kita bisa ber-"

"Kenapa Akashi-kun selalu berbicara tentang ranjang?"

"Sebenarnya aku benci kau memotong pembicaraanku ,Tetsuya."

"Itu karena Akashi-kun berbicara yang ambigu."

"Bisa kau contohkan?"

"Tidak sekarang, Akashi-kun."

"Wah wah wah. Berarti nanti kau mau mempraktekannya bersamaku?"

"Terserah Akashi-kun. Sekarang kita kembali ke inti pembicaraan."

"Kita sudah berbicara dari tadi. Kau sendiri yang tidak focus karena ketampanan mutlakku."

Kuroko memutar bola mata karena tingkah Akashi.

"Baiklah. Akashi-kun, Akashi-kun kan tampan. Kenapa tidak mencari wanita cantik? Atau pemuda yang lebih tampan dariku?"

"Wanita cantik bersanding dengan orang tampan mutlak seperti aku terlalu mainstream Tetsuya. Dan lagi, aku suka laki-laki manis. Bukan tampan"

"Aku tidak akan mengakui bahwa aku manis, Akashi-kun. Tapi laki-laki yang lebih manis dari ku banyak."

"Tapi aku hanya mau Tetsuya."

Check mate.

"Tapi Akashi-kun, kita tidak saling mengenal. Kita baru kenal seminggu, dan bertunangan sehari setelahnya. Lalu kau melamarku 3 hari kemudian. Apa tidak terlalu cepat?"

"Kita bisa saling mengenal lebih dalam Tetsuya. Kau beri kesempatan aku untuk membawamu di ranjang. Kita saling mengenal disana disertai dengan jeritan serta desah-"

"Aku serius, Akashi-kun."

"Aku juga serius, Tetsuya."

"Tapi Akashi-kun seperti main-main."

"Aku selalu serius dengan Tetsuya."

"Akashi-kun juga tidak tau sisi burukku."

"Tidak masalah. Aku akan menutupi keburukanmu dengan kesempurnaanku, Tetsuya. Seperti aku menutupi tubuh telan-"

"Akashi-kun, berhenti bicara vulgar."

"Bukannya kau bilang suka pembicaraan yang terbuka, Tetsuya ?"

"Terbuka Akashi-kun, bukan vulgar."

"Bukannya vulgar itu terbuka, Tetsuya?"

"Tapi vulgar itu berarti menjurus ke.."

"Kemana Tetsuya? Bisa tunjukkan padaku?" Ujar Akashi sambil menoel dagu Kuroko.

"Akashi-kun mesuuum !"

TBC.

Author's Note :

Setelah saya baca sendiri, ternyata tulisan saya sangat menyakitkan mata, hahaha. Jadi, saya tulis ulang ff ini dengan tanda baca yang sudah saya perbaiki. Tapi, saya nggak menjamin ini bebas dari typo ataupun tanda baca yang keliru.

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.