" bounce series "

|Play;|

Kini mereka tengah syuting Real GOT7 episode sepuluh, sekalian syuting untuk MV lagu mereka yang berjudul 'Follow Me' sih.

Disini semua member bermain dengan puasnya, melupakan umur mereka yang sudah ada yang berkepala dua ataupun yang menuju kepala dua. Seakan mereka adalah anak kecil berusia dibawah sembilan tahun.

Jaebum tertawa bersama yang lain, tapi hawk eyes nya selalu melihat keadaan, terutama keadaan Jinyoung—patnernya sejak masa mereka masuk bersama ke entertainment JYP ini. Ingin sekali mencubit kedua pipi chubby milik lelaki yang tetap bersikukuh memanggilnya hyung walau umur mereka hanya berjarak beberapa bulan saja.

"Jackson-a, lihatlah Youngjae melihatmu dengan kejam," ucap Jaebum, memainkan batu-batu kecil dengan malas.

Jackson yang saat itu sedang membiarkan Bambam duduk dipangkuannya melirik sekilas, "Biarkan hyung—"

"Yugyeom memandangmu dengan cemburu," lanjut Jaebum santai, Bambam yang mendengar itu memasang wajah takutnya.

"Ja—Jaebum hyung, bagaimana dengan Mark hyung?" tanya Bambam.

"Diam saja, mengeluarkan aura suram," jawab Jaebum santai, dia tidak terlalu mempermasalahkan pertengkaran kecil antar pasangan—yang entah mengapa mereka sudah menjadi sepasang kekasih dalam waktu kurang dari setahun, eh kau juga seperti itu terhadap Jinyoung, Jaebum-ya.

"Aku tak tanggung jawab,"

Ingin sekali tertawa melihat raut muka Jackson dan Bambam yang memucat, tapi tak bisa, kini mereka harus melanjutkan syuting ketempat permainan selanjutkan.

'Sekali-kali tak apalah seperti anak kecil,' batin Jaebum mengikuti langkah Jinyoung yang entah mengapa langsung berdiri ketika take di tempat ini sudah selesai.

.

Jinyoung merengut lucu, jika tidak ada kamera ingin sekali dirinya memukul dan menendang leader nya dengan sepuas mungkin, didudukkan pantatnya itu kursi kecil kereta untuk anak kecil itu. Sambil menunggu yang lain dia melihat bosan permainan-permainan disekitar.

"Yo, Junior,"

Jinyoung tersentak kaget, dia melihat Jaebum duduk dikursi kecil tempat gerbong kereta kecil ini—sama seperti dirinya. Dilihatnya sekeliling guna meminta bantuan, tapi—

Mark sudah berada di gerbong paling depan seperti pemandu jalan, lalu Jackson dan Bambam, dan di gerbong terakhir ada Youngjae dan Yugyeom yang dua-duanya mengeluarkan aura seram.

Tidak ada pilihan lain deh, lagipula Jinyoung ingin cepat syuting ini selesai dan pulang ke dorm untuk tidur dengan nyaman.

"Hei, Junior, kau kenapa?" Jaebum bertanya ditengah-tengah syuting seperti ini?! Lagu sudah diputar, bodoh!, maki Jinyoung didalam hati.

"Tidak ada apa-apa," jawab Jinyoung ketus.

"Ada. Apa. Junior." Kembali Jaebum bertanya dengan nada serius dan penuh penekanan disetiap katanya.

"Selesai syuting," ujar Jinyoung, melanjutkan akting wajah lucunya ketika kamera menghampiri mereka.

Jaebum menyerah dan memilih melanjutkan syuting ini.

-0o0-

Kini mereka berada diluar mall tempat tadi menjalankan syuting, Jaebum terdiam, menunggu semuanya memasuki van untuk pulang ke dorm mereka. Setelah semuanya masuk, Jaebum menghela nafas, melihat ke atas langit yang gelap.

"Jaebum hyung, cepatlah!"

Teriakan Youngjae menyadarkan Jaebum, yang mau tidak mau harus masuk walau—entahlah, dia mempunyai aura tidak enak didalam sana.

.

Semuanya sudah berada dikamar, Jaebum tidak bisa tidur. Memandang pintu kamar sebrang dengan tatapan kosong. Janji yang tadi dibilang Jinyoung—tidak ditepati. Menjengkelkan memang, tapi Jaebum mencoba berpikir positif, mungkin dia kecapaian.

Tapi dia sudah terduduk lama diatas tempat tidurnya karena pikiran nya kalut oleh satu orang—Park Jinyoung, lelaki manis yang sejak awal debut sudah merangkap menjadi kekasihnya.

Dilirik roommatenya itu, Youngjae, lelaki yang memang manis dan sudah merangkap menjadi kekasih Jackson—dan Yugyeom. Ukh, Jaebum sendiri bingung mengapa tiga orang itu bisa dengan relanya berbagi, walau pada awalnya Youngjae dan Yugyeom lah yang merebut Jackson dan violaaa mereka menjadi tiga orang yang serasi.

Jaebum mendesah berat menyerah, mengalahkan ego akhirnya ia berdiri menuju kamar Jinyoung.

Krek.

"Junior,"

Hening, Jaebum sendiri bisa melihat Jinyoung sudah berbaring diatas tempat tidur dengan terbalut selimut. Tapi Jaebum tahu, Jinyoung belum tidur.

"Junior-ie,"

Masih tidak menjawab.

"Aku tahu kau belum tidur, Junior,"

Jaebum sepertinya memaksa untuk menanyakan masalah yang orang jenius seperti dirinya saja tidak tahu. Jikalau kau ingin tahu, Jinyoung kadang orang yang tidak mudah ditebak.

"Berhenti disana kakek-kakek, cukup kau berdiri didepan pintu,"

Perkataan Jinyoung yang ditambah suara serak berhasil membuat Jaebum yang awalnya ingin menghampiri Jinyoung tidak jadi.

Tapi, Jaebum menyadari ada sesuatu yang aneh dengan suara Jinyoung selain masalah serak.

"Kau habis menangis, Junior?" tanya Jaebum, berjalan amat pelan menuju Jinyoung.

"Tidak,"

Justru dengan jawaban itu Jaebum langsung mengetahui jawabannya. Menghela nafas, Jaebum menghampiri Jinyoung yang masih berselimut.

"Ada masalah apa lagi, Junior," tanya Jaebum, tersenyum tipis sembari mengelus rambut lurus milik rekannya yang menemaninya sejak masa audisi itu.

Jinyoung menggeleng, mencoba melepaskan tangan Jaebum dari kepalanya, "Ak—aku bilang tidak apa-apa, kakek-kakek!" cibir Jinyoung, Jaebum bisa melihat Jinyoung menggigit bibirnya dengan kuat, menahan isak tangis yang entah sejak kapan itu.

"Tell me,"

"No,"

"Why,"

"'Cause…" Jinyoung terdiam sesaat, "kau memang tidak perlu tahu sama sekali, hyung…"

Menahan senyum lebarnya itu, Jaebum memilih ikut berbaring disamping Jinyoung, "Oh, uri Junior mulai berani merahasiakan sesuatu dariku rupanya—"

"Tidak!"

Jaebum menahan tawanya, "Jangan berteriak Junior, kau bisa menganggu member lain,"

"Aku tak peduli!"

Jinyoung tak sadar bahwa dirinya sudah berhadapan dengan Jaebum sambil mengembungkan pipinya, ukh—imut. Tapi matanya yang memerah sehabis menangis itu membuat Jaebum menahan tangannya yang seakan reflek mencubit pipi Jinyoung jika melakukan hal imut.

"Kau habis menangis, Junior,"

"Kau sudah melihatnya sendiri, leader,"

Suara Jinyoung bergetar, seakan ingin menangis lagi.

"What wrong Junior? For this time, tell me," tanya Jaebum, mengusap pipi Jinyoung berusaha menenangkan.

"Aku…" Jinyoung menatap langsung mata Jaebum, "kau tahu hyung, jika aku memberi tahu hal ini kepada mu, kau akan berpikir lagi bahwa aku masih anak kecil," gerutu Jinyoung.

"Aku tak peduli kau seperti apa, kau tetaplah Park Jinyoung—Junior, dan aku mencintaimu Junior," ujar Jaebum.

Jinyoung menghela nafas menyerah, "Okey, aku…" Jinyoung menggigit bibirnya, "cemburu, sangat."

"Karena itu saja?" Jaebum hampir saja tertawa, namun langsung saja ditahan tepat dipangkal lidah, "karena Youngjae?" tebak Jaebum.

Jinyoung tidak menjawab.

"Yang menentukan pembagian kamar adalah saat kita undi, bukan?" Jaebum tersenyum tipis melihat tingkah childish Jinyoung-nya, "tapi itu hanya untuk publik, untuk kehidupan pribadi kita bisa bertukar kamar semaunya, kau lupa itu Junior?"

Jinyoung membuang muka, "Tentu saja tidak, tapi—aku masih tidak habis pikir mengapa hyung mau-mau nya saja berbagi kamar—bahkan satu kasur dengan Youngjae!"

"Bahkan Youngjae lebih sering tidur dengan Jackson," Jaebum menaikkan alisnya bingung, "tidak perlu dipikirkan sejauh itu Junior, bahkan aku sangat khawatir karena kau tidur sendiri,"

"Sudah kubilang hyung tidak mengerti," ternyata Jinyoung masih tetap dengan pendiriannya, seakan dirinya lah yang benar.

Jaebum menghela nafas, tidak ada cara lain selain cara ini.

"Junior,"—Jaebum.

"Sudah hyung, aku mau tidur," lengannya mengusap matanya, "keluar."

Jaebum menggeleng, dia masih berusaha sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan Park Jinyoung ini. Namun detik selanjutnya, bibir tebal itu menyeringai.

"Bagaimana jika malam ini aku berada di atas mu, Jinyoungie~"

"TIDAK AKAN!"

Lalu Jackson yang baru saja keluar dari dapur melihat Jaebum terlempar tidak elit dari kamar Jinyoung.

|1107words|

APA INI YATUHAN QAQ

Maaf karena lama, 4 bounce series yang kemarin itu dibuat tahun 2014, jadi intinya mah udah lama dan sekarang baru dilanjutin -,-

Ini Short-Fic ter-amburadul -,- but, thanks for ur review reader!

Do you want to review this story? Keep calm and waiting for next story!